Cerita Buku

Mengobati Rindu ke Bali dengan Membaca Tarian Bumi

March 10, 2016

Cover buku Tarian Bumi versi lama. Suka!
(Picture by : Yerinta)
Ketiadaan akan buku yang saya cari justru membawa saya pada ketidak-sengajaan menemukan buku ini. Kadang-kadang yang tidak direncanakan justru menjadi jodoh. Siapa sangka, berawal dari Tarian Bumi membawa saya kepada karya-karya sastranya yang lain.

***


Adalah Oka Rusmini, seorang perempuan Bali yang ikut meramaikan dunia kesusastraan Indonesia. Ragam tema yang diangkat tidak jauh-jauh dari lingkaran feminisme. Salah satu tujuan dari pengangkatan tema feminisme adalah ingin menyetarakan kedudukan perempuan dengan laki-laki. Selama ini, budaya patriarki yang masih kental, membuat kedudukan laki-laki dipandang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Dalam budaya patriarki juga, terdapat nilai-nilai perempuan sebagai sosok yang lemah dan memerlukan perlindungan laki-laki. Padahal yang dibutuhkan adalah laki-laki untuk menjadi partner setara dengan perempuan, bukan yang meng-ungguli. Kini sudah banyak penggiat sastra perempuan bahkan para feminis tidak ingin hal itu terjadi terus-menerus, karena hal itu sama halnya dengan pengekangan terhadap perempuan. Tema feminisme memang sepantasnya diangkat karena para perempuan juga memiliki kebebasan personal secara politis, dan tidak hanya dipandang dari segi seksisme semata.

Dengan mengambil latar belakang budaya Bali, tentu akan menambah animo bagi pembaca yang fanatik dengan hal-hal yang berbau Bali. Karena selama ini, Bali lebih dikenal dengan eksotisme pantai dan tariannya yang kerap ditonjolkan oleh media. Namun, adakah kita mencari tahu lebih dalam tentang kehidupan masyarakatnya?

Dalam novel Tarian Bumi, Oka Rusmini berani menyuguhkan sebuah realita Bali yang jauh dari kesan estetik, seperti orang-orang yang biasa melihat kemasan luarnya, sebagaimana Bali dikenal. Konten dalam novel sendiri juga berusaha menjabarkan kalau sebenarnya Bali juga memendam luka yang teramat dalam bagi para penghuninya. Daya pikat dalam novel ini bukan hanya dari segi gaya bahasa yang padat, indah dan mengalir – namun juga dari kisah yang diceritakan dalam novel ini, yaitu bercerita tentang perjuangan wanita Bali dalam mencapai kebahagiaan serta bagaimana menghadapi realitas sosial budaya di sekelilingnya.

***

Novel Tarian Bumi mencoba untuk menggambarkan keadaan masyarakat Bali dengan berbagai problematika sosial serta aturan adat yang harus dipatuhi. Tokoh utama dalam novel juga mengupas kehidupan perempuan Bali yang notabene jarang dijumpai dalam karya sastra yang sudah ada. Sedari awal, Tarian Bumi sudah bercerita tentang pemberontakan terhadap adat yang dipandang sebagai ketidakadilan sistem oleh para tokoh wanita di dalamnya. Tidak tinggal diam, mereka – para tokoh wanita – mencoba memperjuangkan nasib dengan menentang adat.

Berkisah tentang tiga tokoh sentral, yang ketiganya adalah perempuan. Ida Ayu Telaga Pidada – seorang putri Brahmana, kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali, yang hidup di antara dua perempuan beda generasi dan kasta. Telaga merupakan anak dari Luh Sekar – seorang perempuan sudra yang naik kasta karena menikah dengan kasta Brahmana, yang mana adalah anak dari Ida Ayu Sagra Pidada, seorang bangsawan murni yang mengagungkan nilai cinta dan status sosial. Juga yang membuat novel Tarian Bumi menarik adalah pilihan diksi yang luas dan tidak terpaku pada ketiga tokoh sentral. Karena ada juga perempuan lain dengan berbagai karakteristik sendiri yang juga dibahas dalam novel ini. 

Sebagian besar konflik para perempuan Bali terpicu karena masyarakatnya selalu menilai dan menentukan segala sesuatu berdasarkan kasta. Dan yang paling menonjol di sini adalah pernikahan. Mereka, baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan memilih pasangan hidup yang sederajat. Ketika itu dilanggar, maka pihak perempuanlah yang paling dirugikan. Mereka harus merasakan jauh dari keluarga kandungnya, tapi tak pernah dihargai oleh keluarga baru mereka. 

Selain kasta, perilaku kaum laki-laki pun tak kalah meresahkannya bagi perempuan. Geli juga, karena saat membaca saya merasa kalau si penulis memang terkesan tidak adil. Hampir seluruh laki-laki dalam novel ini digambarkan sebagai sosok yang tak bertanggung jawab. Mereka hanya pandai menakar tubuh perempuan demi memuaskan nafsunya. Bahkan, mereka sengaja menikahi perempuan yang mandiri dan dapat menghasilkan uang agar bisa bersantai. Tak sedikit perempuan yang bernasib buruk karena ulah lelaki. Menilik pada fakta tersebut, maka wajar jika beberapa tokoh perempuan di sini sangat membenci laki-laki, lalu memutuskan untuk tidak menikah, dan lebih menyukai sesama perempuan. Saya kira, alasan Oka Rusmini untuk memilih peran buruk bagi laki-laki sebagai kritik atas yang seringkali terjadi dalam realitas. Sekalipun tidak secara keseluruhan, tapi dengan begitu diharapkan akan ada perubahan setelahnya.

Dengan ketebalan 174 halaman, rasanya tidak terlalu menghabiskan banyak waktu untuk melahap habis novel ini dalam tempo singkat. Biar begitu, secara keseluruhan, novel ini sangat kaya. Selain tentang konflik perempuan yang beberapa sudah dijabarkan, masih banyak lagi gambaran tentang praktik budaya yang tidak manusiawi dan lebih banyak meberatkan kaum perempuan. Maka tidaklah heran jika Tarian Bumi menjadi fenomenal sekaligus kontroversial, karena Oka Rusmini berani mengkritik kebudayaannya sendiri. Ada banyak makna tersirat yang disampaikan penulis, membuat saya harus benar-benar memahami apa yang dimaksudkan. Selain itu banyaknya pergolakan batin, membuat saya bisa ikut merasakan emosi, luka, amarah yang dipendam oleh masing-masing tokoh.

***

Dilematis memang, saat perempuan Bali ingin melepaskan diri dari adat-istiadat yang telah diberlakukan secara turun-temurun, namun mereka juga tetap ingin menjaga kemurnian kultur di tanah kelahiran mereka. Mereka – para perempuan, berusaha memberontak karena merasa berhak memilih jalan hidupnya sendiri, bukan hanya diatur oleh sistem. Meski pada akhirnya, mau tidak mau, suka tidak suka, mereka tetap tunduk pada adat dan menjalani tradisi yang ada. Kenyataan tak bisa ditampik, karena tak ada pilihan yang tak beresiko. Mematuhi ataupun melanggar adat, keduanya sama-sama harus dibayar mahal.

Bagi yang ingin mengenal lebih jauh tentang kedalaman masyarakat serta budaya Bali, novel ini sangatlah highly recommended. Cerita mengalir, ringan namun berbobot. Hanya saja, memang ada beberapa bagian di masing-masing bab yang terdapat muatan dewasa, maka saya menyarankan hanya untuk usia 21+

Kadang-kadang ketidak-sengajaan membawa kita kepada kesenangan. Kali ini, ketidak-sengajaan saya menemukan Tarian Bumi - yang waktu itu tersembunyi dan tinggal satu, membawa saya untuk membaca seri feminis yang lain, semacam trilogi atau mungkin tiga dara : Sagra - Kenanga - Tempurung.

***

“Manusia hidup memiliki keinginan, memiliki mimpi. Itulah yang menandakan manusia hidup. Batu juga memiliki keinginan. Dalam kediamannya dia mengandung seluruh rahasia kehidupan ini.” (Tarian Bumi, hal. 85)