Cerita Buku
Mengenal Tuhan yang Feminin dalam "By The River Piedra I Sat Down and Wept"
October 26, 2018
Sejauh ini ada salah satu buku yang tidak pernah bosan untuk dibaca berulang-ulang. Alasan kenapa saya sangat menyukai sebuah buku tersebut; pertama tentang isu kesetaraan gender yang diangkat, kedua adalah tentang bagaimana sudut pandang tokoh utama dalam membuat perubahan baru ditengah cara hidup yang lama, dan ketiga tentang keberanian untuk menjalani pilihan-pilihan yang tak biasa. Coelho memang pandai saat menceritakan konflik yang terjadi, juga tidak lupa bagaimana cara ia bertutur dan dikemas dalam sebuah buku. “Cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya” begitulah Coelho membuka kisah dalam buku By the River Piedra I Sat Down and Wept. Perjalanan selama enam hari mampu menuangkan kisah menarik dalam sebuah perjalanan spiritual.
![]() |
| The old book in English version |
***
Awal kisah, Coelho menggambarkan tokoh Pilar – sebagai seseorang yang sangat berhati-hati dalam setiap langkah yang diambil dalam hidupnya. Hal itu pula yang rupanya menyebabkan ia mengalihan pembicaraan ketika si lelaki hendak menyatakan cinta, saat mereka masih kanak-kanak dulu. Cinta terpendam yang akhirnya membuat lelakinya penasaran dan terbawa hingga dewasa. Bahkan sampai sang lelaki menjalani pendidikan di seminari, dan ia masih belum tuntas dengan perasaannya sendiri.
![]() |
| Pitiful is the peson who is afraid of taking risk *noted!* |
Pilar – mungkin saja menjadi simbolis, sebuah sosok perempuan yang mewakili banyak orang-orang yang terlalu takut untuk berjudi dengan kehidupan. Karenanya, Coelho seringkali menampilkan monolog antara Pilar dengan Yang Lain. Sepemahaman saya, sosok Yang Lain ini adalah bagian dari diri manusia yang lain, yang seringkali berpura-pura, tidak mendengar kata hatinya sendiri serta melakukan pengelakkan terhadap hal yang benar-benar diinginkan. Sepanjang kisah ini, pergulatan antara Pilar dengan sosok Yang Lain cukup banyak, dan menarik untuk dicermati.
***
“Pecahkan gelasnya. Sejak kecil kita selalu dididik untuk berhati-hati pada tubuh dan gelas yang kita miliki. Padahal setelah ia pecah maka akan kita tahu bahwa itu bukan sesuatu yang serius. Pecahkan gelasnya, dan bebaskan kita dari semua peraturan keparat ini.” ini adalah bagian dialog dimana ketika Pilar dan lelakinya sedang makan malam, dan ia berusaha meluapkan emosinya ketika berada disini. Secara tersirat, Coelho benar-benar menaruh kepercayaan yang besar pada diri kita sendiri. Seringkali manusia takut melampaui batas, hanya karena enggan menerima resiko. Coelho mampu menginspirasi kita untuk dapat mengejar mimpi-mimpi, sekalipun dengan jalan yang tak biasa. “Saat magis mengantar kita mencari mimpi-mimpi kita. Benar, kita akan menderita, kita akan menghadapi masa-masa sulit, dan kita akan mengalami kekecewaan--namun semua ini hanya sementara; tidak akan meninggalkan bekas yang kekal. Dan suatu hari kelak kita akan menoleh, dan memandang perjalanan yang telah kita tempuh itu dengan penuh kebanggaan dan keyakinan.” Melalui tokoh Pilar, Coelho berusaha menjawab saat magis adalah momen ketika sebuah ya dan tidak dapat mengubah hidup seseorang untuk selamanya. Saya mencoba memikirkan ‘saat magis’ ini, mungkinkan sama dengan Kairos?
***
Pesan penting yang secara implisit dikisahkan oleh Coelho adalah tentang kesetaraan gender. Melalui ajaran yang tengah disebarkan oleh si Pria (yang hingga akhir kisah tak pernah disebutkan namanya), dia mengenalkan kepercayaan akan sisi feminin Tuhan melalui Maria yang Dikandung Tanpa Noda. “Ia menarik napas dalam-dalam dan mengajakku ke sudut ruangan. ‘Semua kepercayaan besar – Yahudi, Katolik dan Muslim – bersifat maskulin. Para pria lah yang mengendalikan dogma, mereka menciptakan hukum dan peraturan, dan biasanya semua imamnya laki-laki’. ‘Itukah yang dimaksud wanita tadi?’. Setelah ragu sejenak ia menjawab, ‘Ya. Aku memiliki pandangan berbeda : aku percaya sisi feminin Tuhan”. Di halaman yang berbeda, Coelho kembali menjelaskan tentang air yang menjadi lambang feminin Allah, “Bunda Ilahi biasanya memilih air untuk memanifestasikan diri-Nya. Mungkin karena Dia adalah sumber kehidupan. Kita diciptakan di dalam air, dan selama Sembilan bulan kita hidup didalamnya. Air adalah lambang kekuatan wanita, kekuatan yang tak dapat dimengerti oleh seorang laki-laki pun, tak peduli seberapa sempurna dan bijaksananya laki-laki itu”. Konsep femininitas tentang rupa Allah tentu merupakan hal baru, karena yang kita tahu dalam sejarah Kristianitas dijejali dengan dengan konsep Allah yang begitu maskulin. Ada pula pemakluman, bukankah tradisi kekristenan terutama dalam Katolik Roma juga memberi tempat bagi Maria, Bunda Ilahi dengan femininitas-Nya. Memang benar, namun disini Coelho kembali memaparkan dengan mempesona tentang dogma Perawan Maria, “Ia memang wanita biasa. Ia mempunyai anak-anak lain. Alkitab mengatakan Yesus mempunyai dua saudara laki-laki. Kalau sehubungan dengan Yesus, keperawanan didasarkan pada hal lain: Maria memprakarsai generasi rahmat yang baru. Zaman yang baru telah dimulai. Ia adalah mempelai kosmik, sang Bumi, yang membukakan diri kepada surga dan mengizinkan dirinya dibuahi”. Maria adalah wajah feminin Allah karena dia memiliki ke-Ilahiannya sendiri.
***
Perlu beberapa kali membaca hingga benar-benar paham. Saya akui, kisah ini merupakan kisah yang sangat romantis tanpa menghilangkan tipikal penulisan Coelho yang sarat pesan-pesan kehidupan. Membacanya seperti menempuh sebuah perjalanan spiritual. Tidak hanya gairah cinta yang indah, namun juga refleksi akan pencarian diri yang tak pernah berhenti, serta pertanyaan-pertanyaan tentang Dia yang rupanya mengendap dalam ketidak-sadaran diri selama ini. “Setelah makan malam bersama pemilik rumah – restoran juga tutup selama musim gugur dan musim dingin – ia meminta sebotol anggur, berjanji akan menggantinya esok. Kami mengenakan mantel, meminjam dua gelas, lalu keluar. ‘Ayo duduk di bibir sumur’ ia mengusulkan. Kami pun duduk di sana, meneguk anggur untuk mengusir dingin dan ketegangan” Coelho dengan cerdas menganalogikan reka adegan tersebut dan menuangkan ke dalam tulisan. Maksud ini bahkan baru saya tangkap usai membaca kesekian kalinya. Sumur, dianalogikan sebagai kedalaman perasaan, seolah tahu konflik batin yang juga dalam antara Pilar dan lelakinya. Coelho sengaja menuliskan setting tempat bagi Pilar dan kekasihnya untuk bercakap-cakap sembari menyesap Anggur ditengah udara yang dingin di tepi sumur, di hari ketiga perjalanan mereka. Kala itu Pilar mulai bimbang dengan perasaannya, ia mulai mencintai lelakinya – dengan diam dan dalam. Pilar tahu lelakinya memiliki karunia yang dibutuhkan banyak orang, bahkan jauh sebelum Pilar yakin dengan perasaannya sendiri. Namun, lelaki itu telah mencintai Pilar; hanya saja kecintaan dengan Sang Bunda Ilahi juga sama besarnya. Hal itu juga yang membuat si Pria ini terkesan tarik-ulur perasaannya dengan Pilar.
Diantara karya Coelho yang pernah saya baca sebelumnya, buku ini yang paling sulit membuat move-on. Saya tidak bosan meski membacanya berulang-ulang. Coelho berhasil membangun imajinasi tentang keindahan rumah-rumah abad pertengahan di wilayah Saint-Savin (yang sudah memasuki wilayah Prancis), bagaimana mereka menikmati perjalanan antara Madrid-Bilbao-Saint Savin dan berakhir di Biara Piedra yang terletak di Soria – banyak diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing, di malam hari selagi keduanya berpelukan di bawah kaki sang perawan dalam sebuah Katedral untuk saling memberi kekuatan, serta sisi romantis yang dibangun ketika mereka bercakap sewaktu makan hingga menghabiskan malam dengan meminum anggur di tepi sumur.
***
Bagaimana Coelho mengakhiri kisahnya? Isi dalam buku tidak semata-mata tentang perjalanan sepasang kekasih yang sedang kasmaran, seperti pada novel-novel roman picisan secara umum. Namun Coelho mampu mengemas kisah cinta yang berada dalam tataran spiritual. Melalui cinta lelaki itu, Pilar bisa kembali kepada imannya, juga mengalami perjumpaan dengan-Nya, Pilar bahkan mampu meninggalkan Yang Lain – yang justru menjauhkan dirinya dari pengalaman religius. Lelaki itu juga mengalami hal yang sama, berkat cinta Pilar. Seperti yang tertuang dalam satu fragmen, ada banyak jalan untuk melayani Tuhan. Hingga pada akhirnya si lelaki memang meninggalkan imamat-nya untuk mencapai impian lain : menjalani hidup bersama kekasih dari masa kecil. Perjalanan serta konflik batin yang terjadi antara Pilar dan lelakinya, untuk sampai pada keputusan itu, memang pelik. Dan sungai Piedra adalah sebuah awal dan akhir kisah Pilar dan sang kekasih. Karena di tepi Sungai Piedra, mereka dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan terpenting yang bisa disodorkan kehidupan. Di tepi Sungai Piedra pula mereka menjawab dengan memulai sebuah babak baru kehidupan. Selain menyentuh, saya juga turut mengamini apa yang dikatakan oleh Coelho pada bagian-bagian akhir : “Semakin kita mencinta, semakin kita dekat pada pengalaman spiritual. Orang-orang yang mencintai akan menaklukkan dunia dan tidak takut kehilangan”.
![]() |
| When we doesn't need to discuss about love, sometimes It could be absurd. I've proved. |
![]() |
| Washingston waktu usia 1,5 bulan - si gemes. Liat matanya, bikin kesel yakan. 😝 (Picture by : Yerinta) |
Bahkan kelahirannya juga dirahasiakan
Kedatangannya diluar rencana
Namun sudah pasti menjadi bagian dari kami
Sekalipun masih ada yang belum sepenuhnya menerima
Luka yang dialami
Luka yang dialami
Ternyata itulah yang membuat hidupnya berubah
Awal mula ingin diselamatkan, justru yang lain pergi meninggalkan
Kematian tidak bisa lagi dihindari
Bergumul dengan takdir
Menata kembali hidup yang baru
Doaku, semoga bisa saling menyayagi satu sama lain
Karena kelahiran dan pertemuan adalah keinginan semesta
Maka, Washington.
Kematian tidak bisa lagi dihindari
Bergumul dengan takdir
Menata kembali hidup yang baru
Doaku, semoga bisa saling menyayagi satu sama lain
Karena kelahiran dan pertemuan adalah keinginan semesta
Maka, Washington.
Teruslah berjuang hidup, berjuang menjadi baik
Seperti hooman yang berjuang juga untukmu
Seperti hooman yang berjuang juga untukmu
Rasanya teduh sekali saat memasuki halaman rumah dengan gaya kolonial yang terletak di Jl. Hegarmanah no. 52 Bandung. Baca, Dengar, Tonton. Tiga kata yang melekat erat dengan tempat yang satu ini, Kineruku. Sang empunya – yang seorang arsitek dan seniman – bercerita, dulunya tempat ini disebut Rumah Buku Kineruku, namun sejak tahun 2012 namanya berubah menjadi Kineruku. Berlama-lama di tempat ini tidak akan membuat para pengunjung bosan. Selain karena koleksi buku-buku yang lengkap, mulai dari sastra, arsitektur, budaya, resep, seni, desain, fiksi, filsafat (ini yang penting!) dan beberapa ada buku anak. Kineruku juga menyediakan beragam menu makanan dan minuman, mulai dari snack ringan hingga makanan berat. Ada juga rak yang berisi CD dan film yang bisa disewa atau beberapa bisa dibeli, dan juga beberapa aksesoris hand-made yang dijual dekat dengan rak kaset. Bisa dibilang Kineruku adalah sebuah perpustakaan plus-plus yang dibuka untuk umum, terbuka bagi siapa saja. Namun untuk menjadi member harus berdomisili di Bandung.
Jika dilihat sekilas dari depan, siapa yang menyangka bahwa rumah tua bercat putih gading adalah surga penuh buku (dan juga ada beberapa barang vintage di toko sebelahnya – Garasi Opa). Begitu masuk dan menyelesaikan urusan per-loker-an dan per-administrasi-an, saya menuju kursi yang berada di beranda belakang. Sembari membaca buku The Consolation of Philosophy - Alain de Botton, diselingi dengan buku kumpulan resep masakan Indonesia dalam Mustikarasa, tak lama kemudian seorang lelaki membawakan pesanan – secangkir hangat Cappuccino. Teman yang pas untuk membaca buku, menjelang sore yang teduh di bawah langit kota Bandung. Seperti berada di rumah sendiri, hangat dan homey. Setiap perjalanan tentu memiliki tujuan yang berbeda, bagi orang luar kota Bandung, perpustakaan atau taman bacaan mungkin bukan tempat yang menyenangkan untuk dituju. Apalagi jauh-jauh ke Bandung hanya untuk pergi ke perpustakaan. Ikon produk dari hedonisme yang telah melekat di kota ini seakan-akan membuat mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu di kawasan Dago dengan deretan kafe yang menyuguhkan keunikannya masing-masing, atau berbelanja di factory outlet yang banyak di kawasan Cihampelas. Namun diri ini rasanya berbeda, setiap pergi ke Bandung, termasuk kali ini – yang saya cari adalah moment. Dan moment itu sulit didapatkan di kawasan hiruk-pikuk, namun Kineruku dengan segala keteduhannya dapat memberikan itu.
![]() |
| (Picture by : Mery, my-partner-in-crime) |
Bagi saya, ada lagi nilai plus bagi Kineruku yang mungkin tidak dimiliki oleh tempat lain. Atmosfer. Berlokasi di kota dengan posisi agak-atas, dengan banyaknya pepohonan besar sepanjang jalan menuju Kineruku membuat suasana disini adem dan asri. Ditambah lagi bangunan yang sederhana nan hangat, dan juga kebun belakang yang tenang. Interior yang apa-adanya tetapi apik dan artistik semakin membuat siapapun betah berlama-lama di Kineruku, saya salah satunya.
Biasanya di Kineruku sering menjadi tempat untuk diskusi buku, live music hingga peluncuran album indie. Bandung memang surganya kreativitas musik indie, sayangnya hari itu saya kurang beruntung. Ada pepatah bilang, kalau kau pergi ke suatu tempat dan belum banyak hal yang kau alami, maka kau memiliki alasan untuk kembali lagi. Saya percaya, sih! Mungkin, jika ingin melarikan diri suatu hari nanti, saya tahu kemana akan pergi. Karena menghabiskan hampir setengah hari rasanya belumlah cukup. Kalau bukan karena waktu, saya masih ingin berlama-lama disini. See you very soon, Kineruku. Terimakasih untuk hari yang menyenangkan!
Setiap kali pergi ke suatu tempat, baik itu kota besar maupun kota kecil, saya selalu mencari pasar. Bagi saya, pasar adalah identitas bagaimana suatu tempat itu dapat terlihat; baik dari ragam hasil bahan baku, jenis jajanan, makanan khas, hingga bahasa.
Kedatangan kali kesekian di Bandung pada hari ini, saat waktu sudah sore dan tidak sempat melihat aktivitas pasar layaknya pagi hari. Usai mengurai kemacetan yang seakan tidak ada habisnya, ditambah banyak jalan searah yang bikin pusing karena belum juga terbiasa, kendaraan terparkir dengan aman di Braga Citywalk. Hujan cukup deras, dan cerdasnya tak satupun dari kami suka memakai payung. Beruntung saat hujan deras kami pas berada di depan Toko Kopi Djawa, yang letaknya tidak jauh dari Braga City Walk. Berdiskusi singkat, tak butuh waktu lama kami memutuskan untuk masuk ke dalam. Tempatnya kecil, namun hangat. Saya menyukai atmosfirnya, kuno, klasik namun elegant. Ketidak-sengajaan mencicipi kopi dan beberapa potong snack, membuat kami bersyukur bahwa toh hujan tadi seperti menyuruh kami untuk sejenak beristirahat sebelum melangkahkan kaki ke tujuan semula, Pasar Cikapundung.
***
Saya selalu menyukai Kota Tua, dan Braga dapat menyediakan semuanya. Kawasan Braga ini merupakan saksi bisu dimana Bandung pernah menjadi simbol perjuangan Bangsa pada masa lalu. Kini bangunan yang dulunya fungsional, sebagian telah ditinggalkan. Sebagian dimanfaatkan sebagai Bank, Hotel, atau Toko. Sisanya adalah warisan keluarga yang seringkali menjadi warung makan, atau dibiarkan tanpa penghuni. Bangunan Tua seakan memiliki sihir magis bagi saya yang selalu penasaran, bagaimana dulu cerita berjalan? Apakah sesuai dengan sejarah yang diceritakan, ataukah banyak yang belum juga tersibak.
Di setiap kaki melangkah, seakan tak pernah puas dan enggan berhenti untuk mencari jalan keluar dari kawasan ini. Jiwa saya seakan déjà-vu, terkenang betapa rumitnya sejarah dapat terbentuk serta manusia yang menjadi saksi hidup perjalanan waktu.
***
Pasar Cikapundung merupakan tujuan kami pertama saat tiba di Kota Bandung, bukan tanpa alasan. Saya dan kawan saya memiliki satu kesamaan, antik - dan juga hobi yang sama, menyukai barang-barang klasik. Selera kami bertaut saat bercerita dengan sejarah ataupun hal-hal seputaran musik, seperti jazz, keroncong, barang-barang antik dan banyak lagi. Sehingga, saat mengunjungi Bandung, rasanya belum lega kalau belum menjajakkan kaki di Pasar ini yang telah eksis sejak tahun 1987.
Dulunya, sebelum di restorasi pada tahun sekitar 2014, Pasar Cikapundung masih kurang tertata serta belum kondusif bagi pelancong, apalagi yang tidak paham dengan bahasa daerah. Itu adalah masa lalu, dan pasar ini terus berbenah. Suasana telah berbeda saat saya pertama kali menjejakkan kaki disana. Pemerintah Kota seakan tahu potensi yang tersimpan pada pasar ini, karenanya lokasi di Pasar Cikapundung telah dikenal sebagai tempat berkumpulnya para Kolektor, Komunitas Barang Antik, Pedagang hingga Penikmat barang-barang klasik-vintage. Saat saya berbincang sedikit dengan beberapa penjual, mereka juga bercerita kalau saat ini semakin kentara konsumen yang datang ke Pasar Cikapundung juga tidak hanya datang dari Bandung dan sekitarnya, namun ada juga yang sengaja datang dari Luar Kota, bahkan dari Luar Negeri.
Pasar Cikapundung terdiri dari tiga lantai. Saat kami mulai memasuki Pasar, saya dan kawan saya langsung menuju ke lantai paling atas. Karena menurut informasi, akan menemukan sentra barang antik di lantai tersebut. Beruntung di saat kami datang, waktu hampir menjelang sore. Sesaat setelah hujan deras yang mengguyur. Tak berapa lama muncul cahaya matahari senja yang masuk melalui sela-sela kaca etalase. Bias cahaya itu menghasilkan pemandangan cantik, yang layak diabadikan melalui tangkapan lensa kamera. Lagi-lagi, sayangnya di saat itu saya masih dalam proses upgrade kamera lawas ke yang baru, sehingga tidak banyak momen yang tertangkap dengan baik karena hanya menggunakan ponsel.
Aneka barang sarat nilai sejarah juga bisa ditemukan di sini. Mulai dari benda pusaka peninggalan kerajaan Nusantara, keramik dari zaman dinasti Tiongkok, bahkan hingga artefak dari masa pemerintahan kolonial. Belum lagi barang-barang antik yang masih belum terdeteksi darimana sesungguhnya ia berasal.
Semakin tua dan langka, maka nilai dari barang-barang tersebut akan semakin tinggi. Tentunya nilai harga yang tinggi bukan masalah bagi para kolektor, sekalipun hal itu sudah tentu menjadi masalah bagi kami yang sangat mupeng sore itu. Kawan saya adalah seorang Cellist, ia terbiasa memainkan Cello untuk pementasan Keroncong di samping waktunya bekerja. Sehingga, kedatangannya kesini juga sekaligus ingin melihat-lihat perintilan yang berhubungan dengan Cello. Sayangnya, hingga kami berkeliling di setiap lantai, hingga menjelang senja - masih juga belum menemukan apa yang ia cari.
Semakin kami mencari, semakin kami tak ingin pergi. Mata seakan dimanjakan oleh ragam sajian suasana lawas, seakan-akan kami masuk kedalam lorong waktu. Kiri dan kanan terdapat kios-kios sederhana dengan isi yang luar biasa. Unik, dan cantik.
Pasalnya, baru menysuri satu lantai di lantai tertinggi saja, sudah bermacam-macam los barang antik yang mencuri pandangan. Salah satu contohnya seperti di Artic Room. Kios ini pada bagian dalam terdapat sejumlah peralatan kuno yang hebatnya masih berfungsi dengan baik - salah satunya adalah grinder buatan tahun 1930-an dari Eropa. Melangkah ke ruangan yang lebih dalam lagi, masih tersisa beberapa peninggalan sisa dari Perang Dunia II (entah bagaimana si empunya mendapatkannya) seperti pelindung kepala dan tutup botol minuman milik salah satu tentara Panzergrenadier, yang mana merupakan salah satu divisi elit Jerman pada zamannya.
Tidak berhenti di satu kios saja, usai banyak bercerita dengan si empunya, kami kembali menyusuri los lain yang tak jauh. Mata saya kemudian tak lepas dari salah satu kios dengan etalase Kamera Analog. Tempat ini, sunguh-wajib-dikunjungi bagi yang menyukai soal fotorafi. Ada beragam model kamera lawas, sebagian masih berfungsi, sebagian lagi ada yang hanya sebagai pajangan.
***
Saat sebelum matahari benar-benar telah tenggelam sempurna, kami menyudahi petualangan singkat ke lorong waktu. Masih ada cahaya sore yang menemani langkah-langkah kecil kami, untuk menikmati sisa sore yang teduh di depan Gedung Asia Afrika, berbincang seru dengan seniman jalanan yang ternyata berasal dari Yogyakarta. Lucu rupanya, jauh-jauh ke Bandung bertemunya dengan yang dari kota sendiri.
Kembali memandangi bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kokoh menjadi saksi bisu sejarah bangsa, seakan ingin menghentikan waktu dan kembali ke masa lalu. Namun keinginan itu terlalu mustahil karena kita hidup dalam dunia yang nyata, bukan sekedar maya. Sore seakan tak pernah selesai. Lelah atas perjalanan panjang tanpa tidur yang cukup nyatanya tak lagi terasa. Mata ini juga terasa segar, raga tak merasa lelah, karena mungkin jiwa kami tengah bersukacita. Kami menutup hari itu dengan menyantap Nasi Tutug Oncon di sebuah Kedai yang masih berada di kawasan Braga, sebelum akhirnya bertolak ke dormitory-house tepat di seberang Unika Parhyangan.
Beruntung karena kami mendapatkannya saat baru saja memasuki kota tadi pagi melalui aplikasi booking. Bangunannya unik, sangat dingin karena letaknya yang agak keatas, namun memiliki atmosfir yang bersih dan hangat.
Sebelum benar-benar terlelap dan masuk ke kamar masing-masing, telinga kami dimanjakan dengan latihan Paduan Suara yang menggemakan lagu-lagu gregorian nan indah, mengantarkan istirahat malam dengan syahdu.
Beruntung karena kami mendapatkannya saat baru saja memasuki kota tadi pagi melalui aplikasi booking. Bangunannya unik, sangat dingin karena letaknya yang agak keatas, namun memiliki atmosfir yang bersih dan hangat.
Sebelum benar-benar terlelap dan masuk ke kamar masing-masing, telinga kami dimanjakan dengan latihan Paduan Suara yang menggemakan lagu-lagu gregorian nan indah, mengantarkan istirahat malam dengan syahdu.
Pesawat yang saya tumpangi baru saja mendarat dengan sempurna di Bandara Adi Sumarmo, Solo. Sarana yang mengantarkan saya untuk kembali pulang kerumah setelah perjalanan singkat yang cukup menguras psikis (dan fisik pastinya) untuk mengantarkan Bue menuju peristirahatan yang terakhir. Bue adalah sebutan untuk Kakek dalam Bahasa Dayak Ngaju. Kepergiannya begitu indah, disaat secara tidak sengaja semua anggota keluarga lain berkumpul untuk merayakan pernikahan salah seorang cucunya, disaat yang sama ia menghembuskan nafasnya untuk terakhir kali. Bue meninggal di usianya yang ke 91, serta 18 tahun berselang setelah kematian Tambi pada tahun 2000. Saat Bue berpulang, seakan semua keluarga lebih ikhlas untuk melepaskan, disamping karena usia yang sudah memang saatnya, kematian Bue seakan menjadi paripurna karena tugasnya sebagai manusia telah tuntas.
Selama hidup tanpa Tambi, saya akui kemandirian Bue dalam mengurus banyak hal sangat hebat. Masalah seakan tak berhenti singgah di usianya yang tidak lagi muda, namun Bue senantiasa percaya bahwa semua akan ada jalan keluar, bahwa masalah tak pernah lebih besar dari kekuatan. Setelah hidup sendiri juga, Bue telah beberapa kali berkunjung ke rumah tempat kami tinggal di Yogyakarta, tepatnya pada tahun 2008. Tanpa terasa 10 tahun telah berlalu, dan kini Beliau telah benar-benar beristirahat dalam kedamaian kekal bersama Bapa.
Saat itu saya sedang merevisi beberapa artikel, dan Ibu yang pertama kali memberi tahu kalau Bue telah meninggal. Setelah sebelumnya kami memang bercerita soal kondisi Bue yang telah kritis. Kebetulan Ayah dan Ibu waktu itu sedang di Palangkaraya, dan saya masih di Yogyakarta karena masih ada beberapa pekerjaan. Dari awal, saya memang tidak berniat untuk hadir pada acara pernikahan keluarga, karena... ya, memang tidak ingin saja.
Kepergian Bue tentu menyisakan kesedihan yang mendalam kepada saya, sebab diantara banyaknya cucu Bue, hanya saya yang paling jauh, paling jarang bertemu dan paling jarang bercerita. Tidak sanggup rasanya melihat Bue saat terakhir kali, telah terbujur kaku dalam peti. Jauh sebelum Bue meninggal, ia telah memesan satu liang, yang bersebelahan dengan milik Tambi. Saat itu pemakanan telah padat, dan ternyata Bue telah mempersiapkan dengan baik dimana raganya akan beristirahat, selama-lamanya.
Kedukaan selalu menyisakan tangis, membekas pada mata yang kian sembab. Sesaat setelah memasuki pintu kedatangan penumpang, saya menuju toilet. Mencuci muka, sedikit membersihkan badan dan berganti pakaian yang lebih hangat. Perjalanan menyelesaikan kedukaan memang baru saja selesai, namun petualangan yang sesungguhnya baru akan dimulai.
***
A short-getaway ini, memang telah direncanakan jauh-jauh hari sebelum berita duka disampaikan beberapa hari yang lalu. Agak menjadi kebetulan, karena sewaktu muda dulu Bue menyelesaikan pendidikan di Bandung, dan tepat sesaat setelah Bue meninggal, saya pergi ke Bandung. Padahal bisa saja, perjalanan saya ke Surabaya, Jakarta, Semarang atau kemana saja selain Bandung. Kebetulan yang agak aneh.
Kawan seperjalanan saya kali ini mulai meyakinkan bahwa tidak apa-apa kalau perjalanan kali ini dilakukan di lain waktu, saat situasi telah mulai kondusif. Namun saya kembali berpikir, setelah ini mungkin tidak akan ada waktu dan kesempatan lagi, mengingat yang lalu-lalu, ketika telah banyak rencana yang batal karena terlalu banyak pertimbangan. Akhirnya sesaat sebelum saya bertolak menuju Solo, saya kembali memberitahu kawan saya bahwa tidak apa-apa untuk meneruskan rencana yang sudah matang, toh saat ini memang waktunya sedang pas, dan kedukaan telah berlalu.
Beruntungnya lagi karena pesan Bue dulu, saat ia meninggal kelak, tidak ingin acara berhari-hari sebagaimana orang Dayak pada umumnya. Sehingga tidak perlu juga saya berlama-lama berada di Palagkaraya dan berbasa-basi dengan banyak orang yang sedikit saya kenal. Tidak lama setelah saya keluar dari pintu kedatangan Bandara, tak lama kemudian ia datang menjemput.
***
Perjalanan kali ini benar-benar sunyi karena hanya ada saya dan dia (karena biasanya kami berberapa orang). Sebelum-sebelumnya juga kami telah terbiasa terlibat dalam “tugas jalan-jalan” berdua. Saya menyebutnya sebagai tugas jalan-jalan, karena bukan sepenuhnya jalan-jalan dan tidak melulu dalam bentuk tugas. Bahkan ada yang menjuluki saya dan dia seperti Pilot dan Co-Pilot yang saling melengkapi. Karena ia memegang kendali, sementara saya yang mengatur kendali.
Kawan saya ini adalah orang yang liar, namun juga cerdas. Berani namun penuh perhitungan. Hampir semuanya bisa ia kerjakan, kecuali mengajari berhitung aljabar. Selagi bepergian dengannya, saya tidak pernah merasa cemas, ataupun takut. Optimisme serta kenekatannya dalam menaklukan jalanan, membuat saya yakin bahwa perjalanan ini akan baik-baik saja, sampai tujuan akhir.
Waktu kami hanya sebentar, perjalanan dimulai hari Senin malam, dan harus kembali pulang Kamis pagi. Malam harinya mulai memasuki ritual Tri Hari Suci, tidak ada kompromi lagi. Ia memiliki kewajiban lagi setelah ini. Kalau ditotal, perjalanan ini hanya kurang dari 3 hari termasuk waktu tempuh pulang pergi. Kuantitas waktu yang minim, jelas kurang namun kami cukup senang.
***
Perjalanan dimulai melewati jalur selatan. Kendali kemudi sepenuhnya ada pada kawan saya, sesekali saya tertidur dengan pulas mengingat hari-hari terakhir sangat kurang istirahat. Dalam tempo beberapa jam sekali kami berhenti, sekedar meluruskan badan sembari membeli kopi atau serta persediaan kebutuhan kecil yang lain selama dalam perjalanan.
Kendaraan mulai memasuki Nagrek saat menjelang subuh. Suara Adzan mengiringi, hampir terdengar di sebagian besar jalan saat kami melintas. Meski kami tidak mengikuti ritual ibadah pagi, namun kami meyakini segala doa baik juga turut menyertai bagi siapapun yang melewati waktu itu dalam perjalanan. Perkiraan memasuki Kota sebelum siang hari, secepat yang kami bisa agar dapat merasakan pagi yang berbeda dengan segala keriuhannya. Walakin, rencana meleset, jalanan macet di sekitaran Buah Batu. Pergerakan terhenti hampir 3 jam lamanya. Meskipun tidak sedang mengejar sesuatu karena perjalanan ini memiliki jadwal yang fleksibel, namun akhirnya kami hanya bisa pasrah jam berapa akan benar-benar tiba.
Mendengarkan lagu dari Jonas Blue ini memang membuat semangat jadi naik. Sebelum melihat langsung video klip-nya via Youtube, saya sempat membayangkan rasa-rasanya lagu ini cocok untuk playlist berlibur dengan ada nuansa-nuansa lautnya. Eh, rupanya bayangan saya tidak jauh-jauh juga dari video klip yang menarik dan tidak monoton. Memang, apa sih makna dari lagu ini?
***
Tafsiran setiap orang pasti berbeda, namun sebelum mulai membahas, pernahkah dalam hidupmu bertemu dengan seseorang yang baru saja kenal namun langsung merasa cocok? Entah bertemu secara tidak sengaja ketika mengikuti sebuah acara, atau sekedar bertemu di stasiun, shelter atau bandara sebelum kamu menunggu akomodasi yang mengantarkan ke tempat tujuan. Bukan seperti dejavu; kamu memang belum pernah mengenal dia, tapi sekali bertemu obrolan apapun selalu nyambung hingga lupa waktu. If that’s true, It’s perfectly your Perfect Strangers!
Well, Perfect Strangers bisa memiliki dua arti; makna tersurat yaitu orang yang benar-benar asing, dan makna tersiratnya seperti yang akan saya bahas nanti. Dan, saya percaya sih kalau pasti akan ada satu hingga dua orang dalam siklus kehidupanmu yang menjadi Perfect Strangers itu sendiri. Isn't it amazing how a person who once just stranger, suddenly meant the world to you?
***
Pertemuan dengannya tidak pernah kamu rencanakan dan kedatangannya tidak kamu sangka, hingga semesta mempertemukan kalian. Ketika bertemu dengan your Perfect Strangers, tentu menjadi anugerah yang sangat-sangat disyukuri. Semesta memang tidak pernah sengaja mengatur segalanya. Pernah kah kamu terpikir, dari ribuan bahkan hingga jutaan orang yang berada di sekitarmu, kenapa harus dia? Kadangkala, kamu sendiri tidak akan menyadari sampai akhirnya waktu nanti yang memberikan jawaban.
Dia mungkin bukan orang yang pertama yang melihat masa-masa remajamu, bukan pula yang menemani hari-hari saat mulai pms kali pertama. Dia bukan orang yang pertama mendengar kisah first crush-mu, atau menghiburmu saat nilai-nilai rapor tidak sesuai dengan ekspektasi. Dia tidak dalam circle pertemananmu saat masih memakai seragam putih-abu-abu, atau menjadi kawan ospek saat mulai memasuki bangku kuliah. Dia tidak ada dalam setiap perayaan ulang tahun-mu, atau menjadi partner dalam segala kebimbanganmu.
Namun, dia adalah orang yang benar-benar tidak kamu sangka akan datang dalam hidupmu, entah untuk menetap atau sekedar singgah. Kehadirannya yang tiba-tiba, benar-benar memberikan arti dalam hidup. Dia yang secara kuantitas belum terukur namun bisa memberikan kualitas setara dengan banyaknya tahun-tahun yang telah kamu lewati. Hingga pada akhirnya, kamu bisa melakukan banyak hal-hal menakjubkan bersama-sama.
***
Like Jonas Blue ft JP. Cooper said in their song “Maybe we're perfect strangers, Maybe it's not forever, Maybe the night will change us, Maybe we'll stay together, Maybe we'll walk away, Maybe we'll realize, We're only human, Maybe we don't need no reason why”. Karena ada baiknya sesekali kamu membuka hati, kamu mengizinkan orang asing itu menjadi bagian dalam kehidupanmu. Usah resah tentang seberapa lama kalian mampu bertahan dan warna apa yang akan terbentuk. Don’t be scared to fully open up yourself to them. Because having someone who fights and enjoy moment with you makes every trial in life worth conquering.









