Poem

Hening

February 25, 2017

(Picture by : Pinterest)


Senja memudar.

Heningmu menginfeksi semesta, dan membuat enggan bercerita.
Jiwamu sengaja kau ulur, menjauh tanpa tau untuk merengkuh siapa.
Sekalipun ragamu masih bisa kurengkuh.
Aku paham.
Tidak apa-apa.

Kau lamat-lamat menyimpan dukamu, membungkusnya dengan ayu.

Bukan aku tidak mau tahu.
Hanya saja, kau tidak pernah tahu, kalau aku selalu menahan rindu.

Bukan berarti aku tidak membutuhkanmu, hanya terngiang pesan terakhirmu.

Aku paham.
Kegetiran yang selalu membuatmu kembali
Ke pelukan ibu tempat kau merasa nyaman
Tanpa ada yang mengganggu barang satu.
Padahal kau hanya perlu sadar.

Masih ada mereka untukmu.
Masih ada aku jika kau perlu.
Dan sepertinya, kau masih nyaman dengan sendirimu itu.

Heningmu meruntuhkan tembok pertahananku.
Dengan atau tanpa suara, pun.
Sebenarnya aku sudah tau.
Kau bukan tak mampu, hanya tak mau.
Hingga akhirnya aku terbungkus rasa hampa.
Tiada yang dapat merubah heningmu.

Tanpa kau suarakan, sebenarnya aku sudah tau.
Ada pilu.
Aku mendengar keluhmu, kesalmu.
Dalam heningmu.
Dan yang terakhir, adalah bisikan sendu.
Namun kau masih saja berkeras, mempertahankan heningmu.
Tergambar sempurna, sekalipun tak pernah kau jabarkan.

Bagaimana mungkin kau jadikan ragamu sebagai batas dari lahirnya rasa?
Bukankah rasa adalah embrio bagi lahirnya sebuah jiwa?
Tanpa kau tahu.
Dalam heningmu, aku mendengar banyak bisikan.
Heningmu bersuara.
Tidak jelas, tapi jelas-jelas aku merasa.

Kalutmu yang samar meruntuhkan ruang rindu.
Tanpa perlu banyak waktu, serta memberitahuku dengan caranya sendiri.

Kemarilah.
Mari kuuraikan satu-satu.
Menghilangkan rona sendu itu.
Kuusap hangat jemarimu yang mulai membeku.
Kueratkan dalam sandaran pundakku.

Kemarilah.
Tanpa perlu kau hitung waktu, hingga kau dan aku bersama menghembuskan nafas, lega.
Bukan lagi hampa.
Telan dalam-dalam hampa itu.
Simpan rapat-rapat, kemudian hanyutkan dalam erat.

Sekalipun hening tak pernah bisa kau runtuhkan dengan apa.

Kemarilah, jangan berpaling, dan jangan diam saja.
Sadarlah.
Dan tertawalah.

Karena suatu saat nanti kau akan tersadar.
Bahwa kau adalah alasan, mengapa tawa mereka tetap ada.


(2013)

Life

Merajut Mimpi

February 24, 2017

Adakah kesadaran kalau setiap kita sebenarnya dimampukan untuk dapat belajar dari hal-hal kecil, bahkan dari sesuatu yang terkadang kita anggap remeh. Percaya? Di jaman serba canggih, serba cepat dan serba modern ini; omong kosong sekali kalau kebanyakan orang lebih mementingkan Emotional Quotient (kecerdasan secara emosi yang lebih sering disingkat EQ) dibandingkan Intelligence Quotient (kecerdasan secara intelektual yang lebih sering disingkat IQ). Mereka yang memiliki IQ dibawah standar bakalan jauh tertinggal, atau bahkan ditinggal. Padahal banyak dari mereka yang memiliki EQ tinggi, adalah yang dapat merubah dunia menjadi lebih ramah.

***

Cerita ini berawal dari percakapan suatu pagi antara saya dan ibu. Ketika itu kami sedang menonton acara berita di salah satu stasiun swasta yang sedang melaporkan berita mudik. Kemudian, saya berceletuk, "Asik kali ya jadi reporter... Atau wartawan? Ngomong-ngomong lebih cocok mana, reporter atau wartawan?". Pertanyaan saya sebenarnya hanya untuk main-main, tidak untuk serius. Tapi ternyata saya mendapat jawaban yang cukup menohok di siang harinya. Waktu itu saya sedang membaca buku di ruang tamu, lalu ibu mendekati saya yang sedang larut dalam membaca. Tanpa basa-basi, dia langsung bertanya, "Sebenarnya cita-cita kamu itu jadi apa sih?"

Pertanyaan simpel namun tak sesimpel jawabannya. Ibu saya bukan tipikal orang yang bisa diberikan jawaban main-main. Waktu itu saya hanya diam. Kalau dibilang tidak punya cita-cita, ya memang saat itu masih meraba-raba. Bukan juga artinya tidak memiliki, lebih tepatnya belum memiliki. Saya sekarang tidak se-optimis waktu kecil dulu, yang memandang dunia tidak dengan kerumitan di belakangnya. Dulu sekali sewaktu kecil, setiap ditanya apa cita-cita saya dengan ringan saya menjawab "Ingin jadi Bos!". Naif memang, anak umur 3 tahun tahu apa soal Bos. Lucu juga sih. Mulai beranjak masuk sekolah, cita-cita saya berubah menjadi Diplomat. Dan terus bertahan hingga masa SMA. Saya yang dulu masih dibalut dengan konsep idealis, yang perlahan bergeser dengan dinamika kehidupan yang membuat saya menjadi manusia lebih menerima, dan menjalani konsep Let It flow

Kembali ke pertanyaan Ibu, bisa saja saya hanya bilang, ingin kerja di organisasi dunia tapi sebagai volunteer, atau bekerja di suatu Non-Government Organization milik asing. Lemme explain little bit, seiring bertambahnya usia tentu ada banyak perubahan yang terjadi dalam hidup seseorang. Kebetulan saya tumbuh di lingkungan pekerja tetap, dengan jenis pekerjaan pasti. Dalam keluarga besar saya, semisal ada yang sudah bekerja di sebuah NGO dan sekalipun orang tersebut sudah memiliki tabungan yang mencukupi, pekerjaan tersebut masih dianggap belum mapan bagi sebagian orangnya. Dan sekalipun pekerjaan-pekerjaan tersebut justru banyak menyentuh hal-hal yang krusial dalam hidup dan juga membawa perubahan bagi kaum minoritas, namun tetap saja kesannya tidak banyak menghasilkan. Sebaliknya, banyak yang meremehkan, bahkan menentang. 

Padahal, apa ada yang salah? Bekerja tidak hanya sekedar memasukkan lamaran, interview, diterima dan mendapat gaji untuk melanjutkan kewajiban dalam hidup. Lebih dari itu, bekerja adalah panggilan hidup kita untuk ingin seperti apa. Bagus kalau masih bisa bekerja sesuai dengan hobi dan passion, tapi hanya sedikit orang yang beruntung seperti itu. Bekerja dalam kultur masyarakat di Indonesia juga menentukan status sosial seseorang. Mereka menjadi terseok saat dunia menganggap pekerjaannya dalam kasta rendah. Padahal bagi saya selama itu baik dan tidak membebani orang lain, apa salahnya?

Sejak kaum materialis berkuasa; pekerjaan, gaya hidup, prestise, dan nilai, kini menjadi nomor satu bagi setiap orang. Bahkan karena terlena dengan gaya hidup, mereka akan berusaha mengambil hak yang bukan seharusnya. Bisa dikatakan sedikit angkuh, memang benar. Setiap orang pasti memiliki cita-cita yang baik, dan saya termasuk di salah satunya. Sebagai anak satu-satunya dan menjadi tumpuan hidup keluarga kedepannya, tentu angan itu selalu saya ukir dalam-dalam di setiap doa dan tekad. Namun disisi lain saya juga tidak mau gegabah untuk menjadi ini, atau harus menjadi itu. Saya hanya tidak mau berharap lebih, tidak mau bermimpi terlalu tinggi yang saat sudah terlalu optimis kemudian gagal karena terbuai dengan mimpi. Dan saya tidak mau itu terjadi (lagi).

***

Bagi saya, cukup bersyukur untuk dapat mengenyam pendidikan secara layak di salah satu universitas favorit, sekalipun banyak rintangan dan hambatan untuk mencapai satu tujuan. Saya masih punya keinginan, masih ingin lulus dengan hasil yang maksimal. Setelah itu? Banyak konsep-konsep masa depan yang mengantri, mulai dari melanjutkan pendidikan master (yang entah dimana), menjadi bagian sebuah Non-Government Organization di Ubud yang bergerak dalam bidang teknologi, menjadi pengajar muda (yang bukan Indonesia Mengajar ðŸ˜œ), memiliki sebuah kedai kopi yang menjadi wadah diskusi- pertunjukan seni- atau co-working space, atau harus hidup monoton bekerja di kantor yang jarang diberi kebebasan mengekslorasi? Entahlah. Saya cuma tidak ingin di monopoli dengan waktu lagi, apalagi terbuai dengan tawaran-tawaran duniawi, seperti konsep Hidup untuk bekerja, bukan bekerja untuk hidup. Tidak perlu melimpah, yang penting cukup. Be a good woman, for the others. Dream, try, pray, believe, and make It happen.

(Picture by : Pinterest)

Ps. Tulisan tahun 2013, kemudian dilengkapi sebagian diakhir.

Birthday Greeting

Janji Allah Kepada Nabi Elia

February 13, 2017

Menarik saat membaca kisah para nabi dalam Alkitab. Selain imajinasi menjadi lebih kreatif karena berusaha memvisualkan apa yang tertulis, kita juga semakin kritis atas banyaknya tafsiran yang mungkin memiliki banyak arti yang berbeda. Kisah saat Nabi Elia berdoa sehingga turun hujan merupakan salah satu mukjizat besar yang ditulis dalam kisah-kisah nabi di Alkitab. Saya bukanlah penafsir Kitab Suci yang baik, belajar secara khusus saja belum pernah kok. Namun saya suka membaca kisah-kisah dan mukjizat yang terselenggara atas kehendak Ilahi. Seperti yang kita tahu, Elia yang seorang nabi juga adalah manusia biasa, sama seperti kita pada umumnya. Lalu, jika hanya manusia biasa bagaimana mungkin ada mukjizat yang mampu dilakukannya? Adakah yang dirahasiakan oleh nabi Elia kala itu?

Jika dicermati, kisah hidup Elia bisa dibilang menyedihkan. Dia diberikan tugas mulia oleh Tuhan, bukannya semakin mudah; justru tugas tersebut membawanya terbelenggu dalam pelarian dari Raja Ahab yang (waktu itu diceritakan) sangat jahat. Oleh karena itu, keselamatan hidup Elia benar-benar hanya bergantung sepenuhnya pada perlindungan Tuhan. Hal inilah yang mendasari Elia untuk terus berjalan dalam ketaatan.

***

Tidak hanya saat meminta hujan turun, Nabi Elia juga pernah memohon api yang diturunkan dari surga. Pada jaman itu, tanda jika persembahan diterima oleh Tuhan adalah dengan terbakarnya persembahan di atas mezbah. Meskipun mungkin ada kegetiran dalam hatinya, namun ia tanpa ragu dan berani untuk berdoa agar korban yang dipersembahkan diterima oleh Tuhan.

“Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: ‘Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini’. Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya.” - 1 Raja-raja 18: 36 & 38

Bukan tanpa resiko, Nabi Elia melakukan hal tersebut dengan ancaman akan dihabisi oleh Raja Ahab. Tanpa gentar, Elia dengan gagah berani menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya.

(Picture by : jw.org)


Nabi Elia juga berani menantang Raja Ahab untuk mengumpulkan semua nabi-nabi Baal di Gunung Karmel. Bukan rasa takut yang datang, justru dengan penuh keberanian, Nabi Elia membuktikan kuasa Tuhan melalui persembahan korban bakaran di atas dua belas batu yang disusunnya. Kepercayaan serta ketaatan Nabi Elia akan kebesaran Tuhan yang membuat doanya dikabulkan. Mukjizat itu juga dipakai olehnya untuk memberitakan kebesaran Tuhan, sekaligus mempermalukan nabi-nabi Baal dan Raja Ahab.

***

Seorang insinyur bangunan pernah berseloroh, “Akan lebih mudah membangun baru daripada merenovasi bangunan yang sudah banyak kerusakan”. Jika insinyur hanya terpaku dalam satu objek yaitu bangunan, bagaimana dengan objek yang lebih banyak lagi, dunia misalnya? Membangun baru sebuah dunia akan lebih mudah dibandingkan dengan membenahi dunia yang sudah banyak kerusakan. Namun, Elia toh nyatanya mampu mengembalikan dunia kepada Tuhan. Dalam doa yang dipanjatkan, Elia memanggil api dari surga untuk menyambar habis korban bakaran yang dipersembahkan bagi Allah. Hal itu pun bisa menjadi bukti bahwa tidak ada Tuhan lain yang lebih besar dari Allah yang ia imani. Doa Elia yang berbuah mukjizat ini hanyala salah satu dari rencana Tuhan untuk mengembalikan dunia (melalui Elia) ke dalam kedaulatan-Nya.

***

Manusiawi memang ketika menginginkan sesuatu dan dalam penantian tak segera menemukan tanda-tanda baik, kemudian menyerah. Namun hal tersebut tak berlaku bagi Elia. Dia berdoa supaya kekeringan terjadi, dan hal itupun terjadi. Tidak berhenti sampai situ, Elia harus kembali mengakhiri kekeringan dengan mendatangkan hujan. Berkali-kali Elia berdoa agar Tuhan mendatangkan hujan, namun berkali-kali pula Tuhan belum menjawab. Doa yang belum terjawab itu tidak juga membuatnya jadi putus asa, karena Elia terus meminta hingga mendapatkan jawaban pada doa yang ke tujuh kalinya. Apakah jawaban yang diberikan Tuhan sesuai dengan ekspektasinya? Ternyata jawaban Tuhan atas doa Elia tidak serta-merta langsung menurunkan hujan sesuai dengan keinginannya. Elia tidak kecewa, justru sebaliknya. Dia meyakini bahwa awan-awan kecil di langit merupakan tanda bahwa Tuhan Allah mulai menjawab doa-nya secara perlahan-lahan. Hingga tidak lama kemudian, Allah menggenapi doa Elia dengan mengirimkan hujan untuk membasahi seluruh tanah kering itu.

***

Tindakan doa dari Nabi Elia ini, menjadikan pelajaran bahwa ketika sebagai manusia biasa – dan kita berdoa untuk menyampaikan semua keinginan dan pergumulan dengan setia, maka Tuhan pun akan menepati janjiNya. Sebagai manusia biasa, sebenarnya Elia bisa saja mendesak Tuhan untuk sesegera mungkin menjawab doa-doanya sesegera mungkin. Namun dia tidak melakukan hal gegabah itu. Tindakan Elia dalam berdoa semakin mengenalkan manusia biasa terhadap karakter Tuhan yang sesungguhnya.

***

“Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.” – Yakobus 5: 17-18


Patung Nabi Elia di Muharaqa, Gunung Karmel, Israel
(Picture by : Pinterest)
Rencana Tuhan memang seringkali penuh misteri. Kita tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya menjadi kehendakNya. Rasa kecewa demi kecewa seringkali membuat saya skeptis akan kekuasaanNya. Tapi hal ini tidak berlaku baginya, karena dia menekuni teladan Nabi Elia dengan baik dan bersungguh-sunguh. Sesuai doa yang diberikan saat dia lahir ke dunia : Ellijah sesuai dengan nama yang diberikan kepadanya : Eliyeda - Albertus Eliyeda. 

Karena barang bisa lenyap oleh waktu, namun tulisan akan tetap selalu. Ayah, Selamat Ulang Tahun. Juga selamat menikmati waktu untuk beberapa hari ini di tempat favoritmu, Pulau Dewata.