Cerita Buku

Mengenal Tuhan yang Feminin dalam "By The River Piedra I Sat Down and Wept"

October 26, 2018

Sejauh ini ada salah satu buku yang tidak pernah bosan untuk dibaca berulang-ulang. Alasan kenapa saya sangat menyukai sebuah buku tersebut; pertama tentang isu kesetaraan gender yang diangkat, kedua adalah tentang bagaimana sudut pandang tokoh utama dalam membuat perubahan baru ditengah cara hidup yang lama, dan ketiga tentang keberanian untuk menjalani pilihan-pilihan yang tak biasa. Coelho memang pandai saat menceritakan konflik yang terjadi, juga tidak lupa bagaimana cara ia bertutur dan dikemas dalam sebuah buku. “Cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya” begitulah Coelho membuka kisah dalam buku By the River Piedra I Sat Down and Wept. Perjalanan selama enam hari mampu menuangkan kisah menarik dalam sebuah perjalanan spiritual.
The old book in English version

***

Awal kisah, Coelho menggambarkan tokoh Pilar – sebagai seseorang yang sangat berhati-hati dalam setiap langkah yang diambil dalam hidupnya. Hal itu pula yang rupanya menyebabkan ia mengalihan pembicaraan ketika si lelaki hendak menyatakan cinta, saat mereka masih kanak-kanak dulu. Cinta terpendam yang akhirnya membuat lelakinya penasaran dan terbawa hingga dewasa. Bahkan sampai sang lelaki menjalani pendidikan di seminari, dan ia masih belum tuntas dengan perasaannya sendiri.


Pitiful is the peson who is afraid of taking risk *noted!*
Saat kembali bertemu usai 11 tahun terpisah, Pilar masih belum mengerti dengan siapa dirinya terlibat. Karena yang ia tahu, bahwa lelaki itu adalah teman masa kecilnya dulu. Lelaki yang mampu mematahkan pertahanannya sebagai wanita yang enggan keluar dari zona nyaman. Dalam perjalanan mereka selama enam hari, Pilar akhirnya dibuat jatuh cinta – hanya dalam waktu singkat. Lebih tepatnya, menghidupkan kembali cinta yang telah lama padam. Bahkan keimanannya terhadap Tuhan yang selama ini telah ia tinggalkan kembali diperoleh. Meski tujuan lelaki itu sengaja menemui Pilar hanyalah untuk mengenyahkan keraguan dalam hati sebelum secara resmi ditahbiskan menjadi imam. Bukannya semakin mantap, akan tetapi setelah bertemu dengan Pilar, cintanya semakin kuat dan yakin untuk melepas ke-Imamatannya. Bukan tanpa alasan, Coelho memiliki tujuan tersendiri saat memilih akhir kisahnya, Coelho berusaha menepis anggapan umum yang sering menganggap tentang perempuan penggoda. Justru sebaliknya, Coelho mengangkat sosok perempuan secara berbeda, yaitu perempuan penyelamat. Seperti yang dituturkan oleh lelaki itu kepada Pilar, “Cintamu telah menyelamatkan aku dan mengembalikan mimpiku”. Dan begitulah sosok wanita dalam tokoh Pilar digambarkan.

Pilar – mungkin saja menjadi simbolis, sebuah sosok perempuan yang mewakili banyak orang-orang yang terlalu takut untuk berjudi dengan kehidupan. Karenanya, Coelho seringkali menampilkan monolog antara Pilar dengan Yang Lain. Sepemahaman saya, sosok Yang Lain ini adalah bagian dari diri manusia yang lain, yang seringkali berpura-pura, tidak mendengar kata hatinya sendiri serta melakukan pengelakkan terhadap hal yang benar-benar diinginkan. Sepanjang kisah ini, pergulatan antara Pilar dengan sosok Yang Lain cukup banyak, dan menarik untuk dicermati.

***

“Pecahkan gelasnya. Sejak kecil kita selalu dididik untuk berhati-hati pada tubuh dan gelas yang kita miliki. Padahal setelah ia pecah maka akan kita tahu bahwa itu bukan sesuatu yang serius. Pecahkan gelasnya, dan bebaskan kita dari semua peraturan keparat ini.” ini adalah bagian dialog dimana ketika Pilar dan lelakinya sedang makan malam, dan ia berusaha meluapkan emosinya ketika berada disini. Secara tersirat, Coelho benar-benar menaruh kepercayaan yang besar pada diri kita sendiri. Seringkali manusia takut melampaui batas, hanya karena enggan menerima resiko. Coelho mampu menginspirasi kita untuk dapat mengejar mimpi-mimpi, sekalipun dengan jalan yang tak biasa. “Saat magis mengantar kita mencari mimpi-mimpi kita. Benar, kita akan menderita, kita akan menghadapi masa-masa sulit, dan kita akan mengalami kekecewaan--namun semua ini hanya sementara; tidak akan meninggalkan bekas yang kekal. Dan suatu hari kelak kita akan menoleh, dan memandang perjalanan yang telah kita tempuh itu dengan penuh kebanggaan dan keyakinan.” Melalui tokoh Pilar, Coelho berusaha menjawab saat magis adalah momen ketika sebuah ya dan tidak dapat mengubah hidup seseorang untuk selamanya. Saya mencoba memikirkan ‘saat magis’ ini, mungkinkan sama dengan Kairos?

***

Pesan penting yang secara implisit dikisahkan oleh Coelho adalah tentang kesetaraan gender. Melalui ajaran yang tengah disebarkan oleh si Pria (yang hingga akhir kisah tak pernah disebutkan namanya), dia mengenalkan kepercayaan akan sisi feminin Tuhan melalui Maria yang Dikandung Tanpa Noda. “Ia menarik napas dalam-dalam dan mengajakku ke sudut ruangan. ‘Semua kepercayaan besar – Yahudi, Katolik dan Muslim – bersifat maskulin. Para pria lah yang mengendalikan dogma, mereka menciptakan hukum dan peraturan, dan biasanya semua imamnya laki-laki’. ‘Itukah yang dimaksud wanita tadi?’. Setelah ragu sejenak ia menjawab, ‘Ya. Aku memiliki pandangan berbeda : aku percaya sisi feminin Tuhan”. Di halaman yang berbeda, Coelho kembali menjelaskan tentang air yang menjadi lambang feminin Allah, “Bunda Ilahi biasanya memilih air untuk memanifestasikan diri-Nya. Mungkin karena Dia adalah sumber kehidupan. Kita diciptakan di dalam air, dan selama Sembilan bulan kita hidup didalamnya. Air adalah lambang kekuatan wanita, kekuatan yang tak dapat dimengerti oleh seorang laki-laki pun, tak peduli seberapa sempurna dan bijaksananya laki-laki itu”. Konsep femininitas tentang rupa Allah tentu merupakan hal baru, karena yang kita tahu dalam sejarah Kristianitas dijejali dengan dengan konsep Allah yang begitu maskulin. Ada pula pemakluman, bukankah tradisi kekristenan terutama dalam Katolik Roma juga memberi tempat bagi Maria, Bunda Ilahi dengan femininitas-Nya. Memang benar, namun disini Coelho kembali memaparkan dengan mempesona tentang dogma Perawan Maria, “Ia memang wanita biasa. Ia mempunyai anak-anak lain. Alkitab mengatakan Yesus mempunyai dua saudara laki-laki. Kalau sehubungan dengan Yesus, keperawanan didasarkan pada hal lain: Maria memprakarsai generasi rahmat yang baru. Zaman yang baru telah dimulai. Ia adalah mempelai kosmik, sang Bumi, yang membukakan diri kepada surga dan mengizinkan dirinya dibuahi”. Maria adalah wajah feminin Allah karena dia memiliki ke-Ilahiannya sendiri.

***

Perlu beberapa kali membaca hingga benar-benar paham. Saya akui, kisah ini merupakan kisah yang sangat romantis tanpa menghilangkan tipikal penulisan Coelho yang sarat pesan-pesan kehidupan. Membacanya seperti menempuh sebuah perjalanan spiritual. Tidak hanya gairah cinta yang indah, namun juga refleksi akan pencarian diri yang tak pernah berhenti, serta pertanyaan-pertanyaan tentang Dia yang rupanya mengendap dalam ketidak-sadaran diri selama ini. “Setelah makan malam bersama pemilik rumah – restoran juga tutup selama musim gugur dan musim dingin – ia meminta sebotol anggur, berjanji akan menggantinya esok. Kami mengenakan mantel, meminjam dua gelas, lalu keluar. ‘Ayo duduk di bibir sumur’ ia mengusulkan. Kami pun duduk di sana, meneguk anggur untuk mengusir dingin dan ketegangan” Coelho dengan cerdas menganalogikan reka adegan tersebut dan menuangkan ke dalam tulisan. Maksud ini bahkan baru saya tangkap usai membaca kesekian kalinya. Sumur, dianalogikan sebagai kedalaman perasaan, seolah tahu konflik batin yang juga dalam antara Pilar dan lelakinya. Coelho sengaja menuliskan setting tempat bagi Pilar dan kekasihnya untuk bercakap-cakap sembari menyesap Anggur ditengah udara yang dingin di tepi sumur, di hari ketiga perjalanan mereka. Kala itu Pilar mulai bimbang dengan perasaannya, ia mulai mencintai lelakinya – dengan diam dan dalam. Pilar tahu lelakinya memiliki karunia yang dibutuhkan banyak orang, bahkan jauh sebelum Pilar yakin dengan perasaannya sendiri. Namun, lelaki itu telah mencintai Pilar; hanya saja kecintaan dengan Sang Bunda Ilahi juga sama besarnya. Hal itu juga yang membuat si Pria ini terkesan tarik-ulur perasaannya dengan Pilar.

Diantara karya Coelho yang pernah saya baca sebelumnya, buku ini yang paling sulit membuat move-on. Saya tidak bosan meski membacanya berulang-ulang. Coelho berhasil membangun imajinasi tentang keindahan rumah-rumah abad pertengahan di wilayah Saint-Savin (yang sudah memasuki wilayah Prancis), bagaimana mereka menikmati perjalanan antara Madrid-Bilbao-Saint Savin dan berakhir di Biara Piedra yang terletak di Soria – banyak diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing, di malam hari selagi keduanya berpelukan di bawah kaki sang perawan dalam sebuah Katedral untuk saling memberi kekuatan, serta sisi romantis yang dibangun ketika mereka bercakap sewaktu makan hingga menghabiskan malam dengan meminum anggur di tepi sumur.

***

Bagaimana Coelho mengakhiri kisahnya? Isi dalam buku tidak semata-mata tentang perjalanan sepasang kekasih yang sedang kasmaran, seperti pada novel-novel roman picisan secara umum. Namun Coelho mampu mengemas kisah cinta yang berada dalam tataran spiritual. Melalui cinta lelaki itu, Pilar bisa kembali kepada imannya, juga mengalami perjumpaan dengan-Nya, Pilar bahkan mampu meninggalkan Yang Lain – yang justru menjauhkan dirinya dari pengalaman religius. Lelaki itu juga mengalami hal yang sama, berkat cinta Pilar. Seperti yang tertuang dalam satu fragmen, ada banyak jalan untuk melayani Tuhan. Hingga pada akhirnya si lelaki memang meninggalkan imamat-nya untuk mencapai impian lain : menjalani hidup bersama kekasih dari masa kecil. Perjalanan serta konflik batin yang terjadi antara Pilar dan lelakinya, untuk sampai pada keputusan itu, memang pelik. Dan sungai Piedra adalah sebuah awal dan akhir kisah Pilar dan sang kekasih. Karena di tepi Sungai Piedra, mereka dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan terpenting yang bisa disodorkan kehidupan. Di tepi Sungai Piedra pula mereka menjawab dengan memulai sebuah babak baru kehidupan. Selain menyentuh, saya juga turut mengamini apa yang dikatakan oleh Coelho pada bagian-bagian akhir : “Semakin kita mencinta, semakin kita dekat pada pengalaman spiritual. Orang-orang yang mencintai akan menaklukkan dunia dan tidak takut kehilangan”.

When we doesn't need to discuss about love, sometimes It could be absurd. I've proved.

Dogmate

Washington

October 09, 2018


Washingston waktu usia 1,5 bulan - si gemes. Liat matanya, bikin kesel yakan. 😝
(Picture by : Yerinta)
Pertemuan dengannya tidak pernah direncanakan
Bahkan kelahirannya juga dirahasiakan
Kedatangannya diluar rencana


Namun sudah pasti menjadi bagian dari kami

Sekalipun masih ada yang belum sepenuhnya menerima
Luka yang dialami
Ternyata itulah yang membuat hidupnya berubah
Awal mula ingin diselamatkan, justru yang lain pergi meninggalkan
Kematian tidak bisa lagi dihindari

Bergumul dengan takdir
Menata kembali hidup yang baru
Doaku, semoga bisa saling menyayagi satu sama lain
Karena kelahiran dan pertemuan adalah keinginan semesta

Maka, Washington.
Teruslah berjuang hidup, berjuang menjadi baik
Seperti hooman yang berjuang juga untukmu