Sore tadi, saya menonton film terbaru dari Disney yang diangkat dari cerita dongeng sepanjang masa, Beauty and The Beast. Beberapa waktu terakhir, Disney nampaknya mulai aktif untuk me-remake dongeng-dongen klasik dalam bentuk live-action. Sebelumnya sudah ada Maleficent dan Cinderella. Mungkin setelah Beauty and The Beast ini akan banyak dongeng Disney lain yang akan diangkat ke layar lebar, kita tunggu saja. Layaknya dongeng Disney dengan akhir cerita bahagia, film ini pun begitu. Bahkan jauh sebelum menonton, saya sudah menebak akhir dari cerita ini. Lalu, apa yang membuat saya penasaran hingga akhirnya keluar studio dengan decak kagum?
***
Mengambil setting tempat di Prancis, kisah Beauty and The Beast ini diawali dengan kisah Pangeran yang mengusir seorang wanita paruh baya yang meminta tolong untuk singgah di istana dengan memberikan setangkai mawar merah sebagai imbalan. Namun sang pangeran menolak dan membuat wanita paruh baya (yang ternyata penyihir) itu geram. Sang pangeran dikutuk menjadi buruk rupa oleh wanita itu. Habis sih penyihirnya perempuan, kan perempuan mudah dendam. Terkutuk, deh 😆 Tidak lupa para pelayan juga terkena kutukan dan ditambah lagi ingatan masyarakat yang mulai dihilangkan, membuat eksistensi pangeran dan kerajaan nan megah ikut menghilang. Sama seperti kisah aslinya, kutukan ini memiliki batas waktu dalam bentuk kelopak bunga mawar yang disimpan di tempat khusus. Kutukan itu akan hilang jika pangeran menemukan cinta sejatinya sebelum kelopak mawar terakhir terjatuh. Namun jika tidak, maka pangeran dan para pelayan akan menjadi makhluk buruk rupa serta seisi istana akan menjadi kelam selama-lamanya. Rasanya, kalau bukan dongeng, menemukan perempuan yang mencintai si buruk rupa dengan tulus terdengar mustahil, ya?
Jauh dari istana, di sebuah desa hiduplah Belle. Perempuan cantik, baik hati, cerdas, namun banyak dijauhi oleh orang-orang sekitar. Karena apa? Karena dia lain daripada yang lain. Karena dia cerdas. Dan juga karena dia dinilai berbahaya (akan dibahas setelah ini). Ibunya telah lama meninggal, sehingga kesehariannya diisi dengan membaca buku, serta mengurus keperluan harian antara dia dan Maurice, ayahnya. Sebagai seorang inventor, Maurice setiap hari harus pergi ke pasar yang terletak di kota untuk menjual barang-barang temuannya. Hingga suatu ketika ketika ingin kembali ke rumah, ia tersesat di hutan. Ada badai besar yang terjadi di Bulan Juni. Rasa-rasanya aneh karena biasanya tidak pernah ada badai pada pertengahan musim panas.
Karena badai terlalu besar, jelas hal itu tidak memungkinkannya untuk kembali ke rumah secepat mungkin. Bersama dengan kudanya, Phillipe – Maurice memberanikan diri untuk masuk dan menghangatkan tubuhnya di sebuah bangunan, yang ia sendiri tidak tahu kalau itu istana. Semakin ia berjalan ke dalam, semakin ia tak menemukan siapapun kecuali benda-benda mati yang aneh karena dapat berbicara. Maurice mengurungkan niatnya untuk bermalam, ia memutuskan untuk pulang. Ketika akan berkuda untuk pulang, ia melihat pohon mawar merah dengan kuntum yang banyak. Ia akhirnya teringat dengan keinginan Belle yang ingin sekuntum mawar merah. Sang puteri jarang meminta, ada baiknya permintaan kali ini aku penuhi, toh hanya setangkai bunga mawar, batinnya.
Rupanya justru setangkai mawar itu awal dari petaka bagi Maurice. Sosok Beast kemudian datang dan menyerang Maurice hingga tak sadar diri. Melihat keadaan semakin genting, sang kuda, Phillipe bergegas pulang ke desa untuk memberitahu Belle tentang kejadian yang menimpa Maurice. Dengan cepat Belle bergegas ke istana untuk menjemput Maurice. Sesampainya di istana, Belle mencari Maurice yang dikurung dalam penjara istana oleh Beast. Mendengar ada suara asing, Beast menghampiri Belle dan Maurice. Ketika Beast mendekat, Belle sempat terkejut, namun ia melawan ketakutannya kepada Beast dan meminta agar ia dapat menggantikan posisi ayahnya yang dikurung.
Berhasil bebas, Maurice bergegas menuju desa dan meminta bantuan Gaston (yang notabene naksir berat dengan Belle karena kecantikannya). Gaston yang licik, awalnya tidak percaya dengan cerita Maurice karena menganggap Istana Beast hanyalah mitos belaka. Namun karena ingin mengambil hati Maurice, ia mengabulkan permohonan itu. Rupanya, jalan menuju istana tidak seperti apa yang dibayangkan. Gaston menganggap cerita Maurice bohong, dan tanpa basa-basi ia meninggalkan Maurice di dalam hutan.
Hari demi hari berlalu. Belle mulai beradaptasi dengan kehidupannya yang baru. Ia yang tengah berada dalam penjara, dibantu oleh lilin yang bernama Lumiere dan jam yang bernama Cogsworth untuk keluar dari sel penjara dan tidur di kamar tamu. Lumiere, Cogsworth bersama dengan Mrs. Potts, Chip dan penghuni istana lainnya merasa yakin bahwa Belle adalah sosok cinta sejati yang dicari oleh Beast selama ini. Mereka pun melakukan berbagai cara untuk mendekatkan keduanya. Usaha mereka membuahkan hasil, sikap Beast kepada Belle kian melunak, begitu pula sebaliknya. Keduanya semakin dekat dan menemukan kecocokan karena Beast dan Belle sama-sama memiliki hobi yang sama, membaca buku. Belle pun terpukau dengan perpustakaan dengan buku yang lengkap berada di istana, juga dengan kecerdasan yang dimiliki Beast. Emang dimana-mana lelaki cerdas bikin melting, sih. Hingga akhirnya ia menemukan jawaban, penyebab kematian sang ibu karena wabah penyakit.
Suatu hari Belle mendapat kabar bahwa ayahnya jatuh sakit, salah satu penyebabnya karena disiksa oleh Gaston dan kawanannya karena dianggap berbohong. Meski dalam hatinya tidak ingin pergi dari istana, karena ia mulai jatuh hati dengan Beast. Namun Belle terpaksa harus pergi menjenguk sang ayah, dan Beast memberikan izin; dengan satu syarat Belle harus kembali. Belle pun menyanggupi keinginan Beast.
Kekacauan dimulai. Gaston yang mengetahui bahwa peluangnya untuk mendapatkan Belle semakin tipis, mulai menghasut warga desa untuk membakar istana Beast. Dia menyebarkan isu, kalau Beast berbahaya jika tidak segera dihabisi. Warga desa yang mudah dihasut dengan menerima berita bohong, langsung setuju tanpa mengetahui kebenarannya. Suasana semakin genting karena nyawa Beast terancam, sementara bunga mawar merah yang menjadi indikator kutukan tinggal kuntum terakhir.
***
Ada banyak hal menarik yang dicermati dalam film ini, terlepas dari isu LGBT yang masih banyak mengundang perdebatan. I don’t care, because LGBT is personal option on their mind. Sementara saya lebih concern dengan korelasi antara Belle dengan pandangan komunal masyarakat desa dalam menilai Beast.
Banyak dari kita yang tidak sadar kalau terkadang dalam hidup sehari-hari pun, apa yang kita alami ternyata tidak jauh-jauh dari dongeng, dalam case ini Beauty and The Beast. Sosok Belle dengan anugerah kecantikan serta tubuh yang proposional, tentu menjadi daya tarik tersendiri. Ia sudah masuk standart kecantikan pada umumnya. Tidak heran banyak yang tergila-gila pada Belle, termasuk Gaston. Namun, selain banyak disukai oleh lelaki di desa dengan penilaian cangkang luarnya saja, sosok Belle rupanya juga banyak dihindari. Karena Belle lain. Kebanyakan gadis-gadis remaja seusia Belle pada masa itu, hanya memperhatikan luarnya saja. Mereka sibuk memikat hati pada lelaki hanya dengan kecantikan yang tampak. Sementara Belle, selain sempurna secara fisik; ia juga cerdas. Belle suka membaca, ia tidak mudah terpengaruh, kritis terhadap hal-hal yang kurang baik disekitarnya, ia terbiasa untuk mandiri dan juga memiliki pendirian. Serta upaya-upaya Belle untuk membawa perubahan (terbukti ia mulai menciptakan mesin cuci sederhana untuk mempermudah keseharian para perempuan, dan mengajari anak-anak untuk bisa membaca), rupanya banyak ditentang oleh sebagian masyarakat karena dinilai membahayakan. Jaman itu, patriarki masih sangat kental. Sebenarnya juga hingga sekarang sih. Sehingga ketika ada sosok perempuan seperti Belle, rasa-rasanya cukup membuat khawatir kaum laki-laki yang mendominasi di kawasan desa tersebut.
Tanpa sadar, kita pun sebenarnya juga hidup secara komunal dalam lingkaran masyarakat dengan pola pikir yang sempit. Ada pula yang terbiasa hidup secara homogen sehingga dengan mudah mengkotak-kotakkan kaum lain yang berbeda dengan dirinya. Sebagian besar dari mereka bukan bodoh, hanya saja kurang humanis, dan tentunya tidak realistis. Banyak diantara mereka yang masih belum siap dengan perubahan dan perbedaan. Ada pula yang dengan ketakutan tersendiri, sehingga menghasut yang lain agar seragam. Agar pola pikirnya yang kerdil tidak hanya dimiliki seorang diri.
Dalam film juga diceritakan sosok Beast yang buruk rupa. We see about nowadays and future, not about Beast’s past. Masyarakat yang belum mengenal secara intensif siapa Beast sebenarnya sudah memberi label bahwa dia adalah sosok yang membahayakan. Padahal bertemu saja belum pernah, lalu bagaimana bisa mereka men-judge? Rupa-rupanya, konsep bahwa Beast berbahaya itulah yang ditanamkan oleh Gaston kepada mereka untuk memudahkan aksi-nya menyingkirkan Beast demi mendapatkan Belle. Hadeuw. Masyarakat desa yang mudah terhasut, dengan beringas ingin memusnahkan Beast, tanpa tau dia siapa dan alasannya mengapa. The power of communal still exist – yang masih mirip dengan sebuah dalil : Kebohongan yang terus menerus dikatakan, maka lama-kelamaan akan menjadi sebuah kebenaran. Hal ini ternyata sudah pernah terjadi di beberapa negara besar. Sementara dalam kehidupan sehari-hari, kita juga banyak dihadapkan pada kasus penghakiman terhadap Beast.
Seringkali kita menilai segala sesuatu hanya dari katanya, kelihatannya, dan kayaknya. Misalnya seperti ini, ada orang-tua yang melarang anaknya untuk berteman dengan kaum tertentu, ketika si anak bertanya kepada orang-tua alasannya apa, jawabannya tidak jelas dan spesifik. Masih ngambang, dengan alasan bertubi-tubi : katanya dan kelihatannya. Padahal sebenarnya yang terjadi lebih luas dari yang katanya dan kelihatannya. Itu hanya sebagian contoh kecil saja, bagaimana dengan hal-hal yang mayor? Bahkan fenomena yang lebih krusial? Dalam bidang politik misalnya? Alangkah berbahaya-nya jika pola pikir masyarakat terus kerdil, mengesampingkan nalar kritis serta hati nurani.
Dan, hanya orang-orang seperti Belle yang mampu melihat sisi lain yang istimewa dari sebuah fenomena dalam hidup. Seperti melihat sisi lain dari Beast. Karena pada dasarnya memang sulit untuk merubah pola pikir manusia yang terbiasa hidup dalam zona-nyaman, serta hidup secara homogen. Dan apa perlunya untuk merubah? Ya agar nantinya tidak lagi menilai dari kelihatannya dan katanya. Jika dicermati, film ini bukan hanya melulu tentang kisah cinta antara Belle dan Beast, namun juga mengajarkan tentang kepekaan nurani, penerimaan diri, ketulusan serta nalar secara kritis untuk dapat melihat serta menilai sesuatu bukan hanya dari cangkang luarnya saja, namun juga apa yang tersimpan di dalamnya.
***
Tentu film ini memiliki akhir yang tidak berbeda dengan yang asli. Belle kembali ke istana, ia meneteskan air mata bagi Beast yang sudah sekarat. Tepat saat kelopak bunga mawar terakhir terjatuh. Kutukan berakhir. Beast kembali menjadi pangeran tampan. Perkakas yang dapat berbicara di istana kembali menjadi manusia. Pernikahan berlangsung dengan meriah, dan Belle diangkat menjadi permaisuri. Mereka tinggal di istana. And of course, they life happily ever after, seperti dongeng-dongeng yang sering kita dengar.
Karena happily ever after hanya ada dalam kisah dongeng semata.
