Cerita Film

Dilema Ave Maryam : Menahan Sesak di Hati atau Bertahan Pada Janji

April 11, 2019



Kenapa Ave Maryam? Sementara yang selama ini awam didengar adalah Ave Maria. Karena ini bukanlah film biografi tentang Bunda Maria, namun film drama fiksi yang mengisahkan seorang biarawati bernama Maryam. Dengan setting tempat sebuah Biara di Semarang pada tahun 1998 dan mengangkat isu sensitif di Indonesia kedalam sebuah film tidaklah mudah. Robby Ertanto Soedikam sebagai sutradara nampaknya sengaja membuat film yang mengajak penonton untuk berpikir. Dilihat dari judul saja, ada hal yang tampak tak biasa. Dalam agama Katolik, Ave Maria sering dilantunkan sebagai sebuah lagu pujian, namun dalam film ini sebutan Maria diganti dengan Maryam - nama yang tak asing lagi bagi kaum muslim. Film Ave Maryam ini memilih lokasi syuting bertema vintage dengan banyaknya unsur arsitektur gaya Art-Deco yang sangat estetik. Cerita dimulai dengan menggambarkan kehidupan Suster Maryam (Maudy Koesnaedy) yang mengabadikan diri untuk mengurus biarawati lansia. Menjadi seorang biarawati merupakan sebuah janji atas kaul ketaatan dan kesucian. Begitupun dengan Suster Maryam, ia berusaha menepati semuanya. Namun pertemuan tidak sengaja dengan Romo Yosef awal mula segala pergumulan itu muncul.


Sosok Suster Maryam yang cenderung pendiam digambarkan sebagai seorang yang sesungguhnya berpikir bebas dan mencari arti kebahagiaan dalam hidupnya. Hal ini digambarkan melalui adegan Suster Maryam yang hobi membaca juga menyimpan sebuah buku dengan judul dan gambar sampul yang tidak biasa. Keseharian Suster Maryam yang positif seperti memandikan lansia, beribadah di gereja, membuat penonton menanti konflik yang akan dihadapinya. Kita dibuat menganalisa pesan yang disampaikan melalui permainan mimik wajah yang sangat kuat. 



Rutinitas Suster Maryam yang terasa datar berubah ketika Romo Yosef (Chicco Jerikho) hadir bersama Suster Monic (Tutie Kirana) – seorang suster sepuh yang berjasa dalam membesarkan Romo Yosef. Dengan kedatangan Suster Monik di biara – dan dalam keadaan sakit, tentu membuat hidup Suster Maryam tidak mudah. Apalagi tanggung-jawabnya besar dalam mengurus segala keperluan Suster Monik. Merasa bertanggung jawab, Romo Yosef yang memiliki karisma tidak tinggal diam. Sebagai seorang imam katolik, sosok Romo Yosef tidak seperti orang-orang yang menyandang status pastor yang pernah Suster Maryam kenal. Romo Yosef memiliki sisi-sisi kehidupan yang tak pernah ia temukan sebelumnya. Kepiawaian dalam bermain musik, hanyalah salah satu hal yang mengejutkan Suster Maryam tentang Romo Yosef. Selanjutnya, muncul pertanyaan-pertanyaan kecil nan esensial yang terlintas dalam pikiran Suster Maryam. Mungkinkah dirinya sedang jatuh hati?

***

Kehadiran Romo Yosef di biara, tentu membuat perubahan pula pada Suster Maryam. Ia seringkali lalai dalam menyelesaikan tugas-tugas utama. Melihat adanya perubahan yang tidak biasa di biara, Suster Monik yang rapuh namun berpengalaman itu, mencoba menasehati Romo Yosef. Sedih. Sebagai pengayom yang lebih senior, Suster Monik juga bukan malaikat, ia pun tak sanggup mencegah apa yang seharusnya tidak terjadi dalam tradisi biara. Keliaran perasaan antara Suster Maryam dan Romo Yosef mulai diuji, karena ternyata mereka bukan semata sebagai pelayan Tuhan, namun juga sebagai manusia. Ada deviasi dari akar pemahaman publik mengenai pelayan Tuhan yang selama ini dikenal suci. Dan fakta itu entah sebuah pembenaran atau sebuah excuse, bahwa biarawan-biarawati juga manusia?

Konflik klimaks terjadi saat Suster Maryam dan Romo Yosef terlibat cinta terlarang. Sutradara menyorot pintu mobil tempat Maryam duduk dibiarkan terbuka, seolah menandakan penyerahan diri atau terbukanya hati Maryam kepada pria yang dicintai. Tanda pintu mobil terbuka sebagai simbol memang menimbulkan interpretasi yang berbeda bagi masing-masing penonton. Juga kepiawaian sang sutradara yang tidak secara gamblang menampakkan adegan erotis secara visual, justru semakin bermakna karena cukup bermain dengan simbol. Beberapa adegan bahkan berhasil memberi sugesti kepada penonton kalau scene itu memiliki makna erotis, yang bagi saya justru terasa lebih elegan dan mendalam, tidak picisan. Misalnya, saat disorot buku yang dibaca Maryam dengan sampul bergambar bagian bawah tubuh perempuan telanjang - scene yang memberi kesan sensual muncul pada awal film dimulai. Juga Chicco Jerikho dalam memerankan tokoh Romo Yosef penuh totalitas. Penampilannya sengaja dibuat penuh pesona. Dalam film ini, karakter yang diperankan Chicco Jerikho muncul disaat derasnya hujan turun dengan baju basah. Ditambah lagi Romo Yosef ini punya skill bermusik yang tinggi dan berwajah tampan. Ketika sedang latihan bermusik, ia lebih sering terlihat berkeringat. Pria terlihat seksi saat sedang bergairah dan berkeringat, dan film Ave Maryam mampu menangkap simbol maskulinitas Romo Yosef dalam adegan itu.

Pergulatan batin antara prinsip yang harus dipegang dan mengikuti kata hati untuk kebahagiaan juga terbalut dengan baik saat bagian mereka pergi ke pantai. Setelahnya, baik Suster Maryam maupun Romo Yosef merasa kacau usai apa yang telah mereka lakukan berdua. Bagaimanapun juga mereka masih terikat kaul. Taat pada aturan, nyatanya adalah hal yang paling berat untuk dilakukan. Ini berlaku bagi siapa pun juga, termasuk bagi para selibat yang sedang bertugas. Ada janji-janji pada Tuhan yang harus dijaga dan tepati. Namun, tak semuanya bisa diselami oleh hati dan pikiran masing-masing.

Film Ave Maryam dinilai cukup kontroversi bukan karena adanya adegan seks vulgar yang diterka beberapa orang. Justru film ini tidak menayangkan secara gamblang adegan mainstream semacam itu. Kontroversi ini justru datang dari tema film, kisah cinta pastor dan suster yang sering terjadi dalam kehidupan namun tidak sampai diangkat menjadi sebuah cerita. Tema yang sangat langka untuk difilmkan, mungkin malah agak tabu. Meski ceritanya penuh resiko, pesan film ini membuka mata kita sebagai manusia yang memang tidak luput dari dosa, tapi juga punya rasa cinta dan kasih sayang.

Pemandangan kreatif – interaksi antara Maryam-Yosef, turut memperlihatkan bagaimana film acap kali dapat bertindak sebagai media ekspresi perasaan yang sukar diutarakan. Sayangnya dinamika itu berakhir dini, tepat saat situasi makin menarik dan intensitas emosional mencapai titik tertinggi. Intensitas pertemuan keduanya dapat tampil dengan apik lewat beberapa kencan kucing-kucingan yang tak jarang menggelitik karena kecanggungan mereka. Ini juga berkulminasi dengan adegan yang saya yakin tak muncul saat tayang di bioskop secara komersil. Sangatlah disayangkan ketika scene yang cukup penting di pantai disensor oleh LSF. Padahal, menurut subyektif saya, scene tersebut justru menjadi klimaks cerita dalam film Ave Maryam.

***

Tak seperti drama fiksi yang menampilkan kisah cinta, dalam Ave Maryam terbalut kisah romansa yang tidak picisan. Butuh waktu sampai Ave Maryam benar-benar menemukan pijakan, tepatnya saat romansa Suster Maryam dan Romo Yosef mulai bersemi. Kehadiran Romo Yosef yang dengan berani mengajak Suster Maryam melihat hal baru hingga menyentuh inti hati. Status sebagai kaum selibat membuat keduanya hanya sanggup bermain-main dengan perasaan. Janjinya kepada Tuhan masih lebih berat untuk diingkari. Dilema Suster Maryam tersampaikan berkat kepiawaian Maudy berekspresi ketika tuturan verbal ditekan seminimal mungkin. Aksi Chicco pun asyik disimak sebagai sosok Romo Yosef yang aktif nan bersahabat hingga sanggup menembus benteng hati Suster Maryam.

Dialog serta backsound yang minim dalam film ini, seperti ciri khas film festival pada umumnya. Namun penonton dibuat menikmati dengan detail suara langkah kaki, derit pintu yang dibuka hingga suara yang dihasilkan dari objek yang ada. Dialog film Ave Maryam yang begitu baku dan terkesan kaku tak terlalu mengganggu untuk dinikmati. Sekalinya para aktor dalam film berlakon, tak ada kata mubazir yang keluar, bernas – sedikit bicara tapi penuh makna. Pengambilan gambar yang apik dengan tone film yang memberi kesan klasik begitu terasa.

Film dengan durasi awal 85 menit (yang kemudian dipangkas 12 menit, hingga hanya tersisa 73 menit) menghabiskan mayoritas paruh pertama membagi fokus ruang personal tokoh utama dengan hal lain. Termasuk paparan tentang seorang biarawati senior – Suster Monic, yang memiliki intensitas relasi dengan Romo Yosef, di mana paparan ini nyaris terasa sebagai Red Herring. Tema Ave Maryam ini juga mengangkat tokoh utama sebagai sosok religius yang mengambil sumpah suci – kaul, namun nyatanya tokoh itu tidak semurni yang diharapkan. Tentulah para penonton, khususnya yang mengidolakan sosok biarawati – ingin melihat perjuangan Suster Maryam, dengan segala kesulitan yang dialami dalam upaya menekan banyak godaan duniawi yang lambat-laun menghilangkan nilai kesucian itu. Penangkalan akan godaan, hanya muncul satu adegan singkat kala Suster Maryam membaca buku dengan cover erotis – tanpa menampakkan bagaimana proses pikir juga proses rasa yang dialami oleh Suster Maryam. Serta bagaimana tahapan stimulus-respon yang dilaluinya. Karena buku hanya dibaca sebentar, ditutup dan lalu rutinitas biasa berlanjut. Demikian juga Romo Yosef yang sempat dideskripsikan ingin menghadirkan perubahan. Kita melihatnya menyetel musik, mengajar orkestra dan menari bersama para biarawati, tapi tidak dengan pemikiran dan ideologinya. Serupa Maryam, cuma terselip sebuah momen pendek jelang akhir tatkala ia mempertanyakan konsep dosa. 

Penyelesaian sengaja dibuat open-ending setelah pengakuan dosa suster Maryam yang menangis tersedu-sedu di ruang pengakuan dosa di gereja, dia siap dihukum. Uniknya, pastor yang bertugas memberi pengakuan kepada Suster Maryam adalah Romo Yosef sendiri. Konyol, kan? Sebuah satire yang elok. Akhirnya suster Maryam dihadapkan oleh dua pilihan : bertahan pada kaul-nya atau memilih Romo Yosef. Jika lebih berat pada pilihan kedua, berarti Suster Maryam dan Romo Yosef harus melepaskan status selibat-nya dengan mengundurkan diri sebagai biarawati dan biarawan.

***

Sedari awal pembuatan film pada 2016 lalu, film ini memang fokus kepada festival film dan bukan untuk tujuan komersial. Setelah bertualang di beberapa festival film seperti Hanoi International Film Festival 2018, Hong Kong Asian Film Festival 2018, The Cape Town International Film Market and Festival 2018, Jogja-Netpac Asia Film Festival ke-13 dan Netpac-Geber Awards, untuk memenuhi animo dan rasa penasaran publik – Ave Maryam akhirnya tayang secara komersil di bioskop pada April 2019. Ditayangkan dalam masa pra-Paskah, ada banyak pertimbangan yang pada akhirnya membuat tim sepakat merilis di moment ini. Tentu juga sudah siap dengan segala konsekuensi, terutama film bernuansa religius tayang di saat tahun panas politik (padahal jelas-jelas tidak ada korelasinya, bagi yang paham aja sih ðŸ˜…). Ave Maryam tak diragukan adalah suguhan dalam negeri tercantik yang saya tonton setahun belakangan ini. Pemakaian static shot memberi kesempatan bersinar untuk desain artistik buatan Allan Sebastian, color grading menawan, sampai sinematografi Ical Tanjung yang jeli memainkan pencahayaan plus memilih sudut cantik dibantu mise-en-scène presisi. Pun para penonton, punya waktu lebih untuk menyerap pencapaian elemen-elemen artistik dalam film. Ave Maryam mungkin belum menghadirkan kedalaman eksplorasi berani, tapi setidaknya tampak segar ketimbang banyak film lokal lain seperti yang diharapkan. 

***

Penuh pesan yang terselip melalui berbagai adegan dan dialog pemerannya, Ave Maryam memiliki aktor yang dapat menyampaikan emosinya secara total dengan pengambilan gambar yang epik. Terlepas dari kontroversial kisah yang diangkat, film Ave Maryam ingin mengajarkan kita tentang cinta, kejujuran, toleransi dan pengabdian pada kemanusiaan.

Banyak sekali kiasan yang khas akan teman katolisitas dalam film ini, yang bukan hanya sebatas indah namun juga sarat makna. Seperti ungkapan Suster Maryam “Aku ingin melihat lautan tapi tidak mau terperangkap dalam ombak”, menunjukkan bahwa dalam kesetiaan dan ketaatan dalam kaul, namun hati kecilnya sesekali juga ingin lepas. Ave Maryam juga menyampaikan berbagai pesan yang sangat menyentil melalui dialog para pemain yang bak pantun berbalas melalui kalimat bijak. Salah satu kalimat yang terngiang-ngiang adalah saat Suster Monic mengatakan, “Jika surga belum pasti untuk saya, untuk apa aku mengurusi nerakamu?” juga kalimat “Rahasiakan ibadahmu sebagaimana kamu merahasiakan aib-aibmu”. Karena sesungguhnya pergumulan hidup, hanya diri kita dan Tuhan yang tahu.

***
Dan tiba-tiba saja nyanyian itu kembali terngiang  ...aku masih disini untuk setia...

Poem

Kopi Ini Tak Seperti Biasa

April 11, 2019

(Picture by : Pinterest)

kalau saja aroma kopi ini
bisa kukirimkan sesegera padamu
bersama dengan kisah lampau yang enggan berlalu

tak perlu kumenunggu waktu lagi
untuk berbagi kisah tentang
hidup yang tak seindah kopi pagi

andai kau mengerti
rumah yang selalu merindu
akan hadir dan kembalimu

selalu


(2019)

Life

Semper Ridens

April 02, 2019

Baru-baru ini, di Yogyakarta situasi intoleransi sedang memanas. Hal ini bermula dari kasus ditolaknya seorang warga non-muslim yang menempati rumah kontrakan di Dusun Karet, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul. Usai kasusnya menjadi viral, tentu problematika ini kian menjadi sorotan, khususnya tentang toleransi umat beragama di Yogyakarta yang kembali dipertanyakan. Semacam hukum alam, yang lemah akan kalah. Keputusan membuat dia harus angkat kaki dari tempat tinggalnya. Para pemegang kekuasaan banyak yang tak mau campur tangan. Seperti biasa, cari aman. Dan itulah yang akhirnya terjadi. Dengan dalil kesepakatan bersama, mereka pun bersama-sama cuci tangan terhadap kotoran yang mereka buat sendiri. Manusia yang berbahaya, manusia yang bertindak tanpa nurani dan logika. Mementingkan ego semata. Kasus intoleransi ini semakin memanas di tahun politik, terlebih jumlah rasio masyarakat yang close-minded dengan yang open-minded masih belum sebanding. Banyak orang yang masih suka mencari aman, dan menutup mata terhadap kaum-kaum minoritas. Dan rasa-rasanya ini mengingatkan saya terhadap salah satu kisah seorang Santo, yang jarang mendapat sorotan namun teladannya meninggalkan laku hidup yang manis untuk dikenang.

***

Orang kudus dari Belgia ini pernah mengatakan, “Jika aku tidak menjadi kudus ketika aku masih muda, maka aku tidak akan pernah menjadi kudus.” Kata-kata itu terinspirasi saat membaca kisah hidup Aloysius; yang kemudian sungguh-sungguh terjadi dalam hidupnya. Sebab ia meninggal pada usia yang masih muda, dan ia berhasil mencapai harapannya untuk menjadi seorang yang kudus.

Yohanes Berchmans lahir di kota Diest, Belgia Tengah pada tanggal 13 Maret 1599. Sebagai seorang anak laki-laki, ia amat dekat dengan sang ibunda. Namun sama dengan anak seusianya yang juga suka bergabung dengan teman-teman sebaya untuk memainkan kisah-kisah dari Kitab Suci. Berchmans kecil sangat pandai memainkan adegan Daniel membela Susanna yang tidak berdosa. Ketika memasuki usia tiga-belas tahun, ia ingin bersekolah menjadi seorang imam. 

Hanya saja keinginannya berbenturan dengan kondisi keluarganya, kala itu sang ayah – yang seorang tukang sepatu – membutuhkan bantuannya untuk ikut menunjang kebutuhan ekonomi keluarga. Selain itu, ayah Berchmans bercita-cita anak sulungnya kelak menjadi orang yang berpangkat tinggi dan masyhur namanya. 

Mendengar keputusan ayahnya, ia diam tertegun sambil merenungkan nasibnya di kemudian hari. Dalam sikapnya yang tenang laksana air jernih tak beriak, Berchmans tetap memiliki cita-cita untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Berchmans lalu memutuskan untuk melanjutkan studinya atas tanggungan pribadi dan berjanji untuk makan roti kering saja dan hidup sederhana, asal cita-citanya tercapai. Lambat laun ayah Berchmans mulai menerima. Bak gayung bersambut, sembari mengikuti pelajaran di sebuah kolese umum, Berchmans juga bekerja sebagai pelayan di Gereja Katedral untuk memperoleh nafkah. Di gereja itu, Pater Emerich sering mengajak Berchmans ke biara juga pastoran; sesekali Pater Emerich mengajarinya Bahasa Latin. Berkat kecerdasan serta kemauannya yang keras, Berchmans selalu lulus dalam ujian dengan nilai yang gemilang, ia bahkan selalu menjadi juara kelas. Teman-temannya sangat baik dan sayang padanya karena tabiatnya yang tenang dan periang. Sampai-sampai Berchmans mendapat julukan Frater Hilaris – frater yang ceria. Oleh karenanya, Berchmans memiliki motto : Semper Ridens – senantiasa tersenyum, tentulah cocok dengan sifatnya yang periang.

Tiga tahun kemudian, Berchmans muda bergabung dengan Serikat Yesus. Ia berdoa, belajar dengan tekun dan dengan bersemangat memainkan peran-peran dalam drama religius. Sebagai novis, Berchmans juga sangat mengagumkan. Hidup asketik dan tulisan-tulisan rohaninya sangat mendalam, sempurna. Meskipun semasa hidupnya Berchmans tidak pernah melakukan perbuatan-perbuatan besar yang mengagumkan, namun ia melakukan semua pekerjaan-pekerjaan kecil dengan baik, mulai dari melayani makan hingga menyalin catatam pelajaran. Oleh karenanya, Berchmans mempunyai semboyan “Berilah perhatian besar pada hal-hal kecil”. Hingga menginjak tahun terakhir studi – tahun retorika – Berchmans pindah ke Kolese Yesuit di Malines pada tahun 1615. Salah satu hal yang menarik bagi Berchmans hingga ke Malines adalah semangat perjuangan serta kemartiran para Misionaris Yesuit di Inggris. Setahun kemudian ia kembali dikirim ke Roma untuk melanjutkan studi di sana. Hingga kemudian ia mulai menulis surat untuk dikirimkan kepada orang tuanya. “Dengan rendah hati, aku berdoa untuk ayah dan ibu. Dan dengan segenap kasih-sayangku dan cintaku.” Dan lalu ditutup dengan “Saya ucapkan selamat datang dan selamat tinggal kepada kalian, karena kalian mempersembahkan kembali aku – puteramu, kepada Tuhan. Dia yang telah memberikan aku kepada kalian”. Bukan tanpa alasan, ia menulis surat saat mulai jatuh sakit. Ketika itu tidak ada dokter yang dapat menemukan penyakit yang dideritanya. Berchmans yang kala itu msih berusia 22 tahun, tahu bahwa ia akan segera meninggal. Tetapi Berchmans tetap riang gembira seperti sediakala. Bahkan saat dokter memerintahkan agar keningnya dikompres dengan anggur, Berchmans masih sempat berkelakar: “Untung saja penyakit yang begitu mahal ini tidak akan berlangsung lama.” Dan Tuhan memberinya waktu tiga tahun untuk mencapai apa yang diidamkannya, hidup menjadi calon misionaris – sekalipun tidak berlangsung lama. Dua hari sebelum pesta Santa Maria diangkat ke Surga – yang jatuh di setiap 15 Agustus – pada tanggal 13 Agustus 1621, Berchmans meninggal dunia dalam usia 22 tahun. 

Yohanes Berchmans tidak tercatat memiliki prestasi yang luar biasa. Selama hidupnya juga tidak ditemukan jejak dalam membuat mukjizat yang mencolok. Anehnya, mukjizat-mukjizatnya justru terjadi setelah kematiannya. Dia hanya membuat kebaikan semata, namun kesopanan, dan kesetiaan yang merupakan bagian penting dari kekudusan-Nya. 

Meskipun Berchmans meninggal dalam usia yang begitu muda, namun ia dinyatakan kudus oleh Gereja karena ia menyempurnakan diri dengan melaksanakan tugas-tugas harian dengan sangat baik. Berchmans berhasil mencapai cita-citanya: menjadi seorang biarawan yang tekun melaksanakan tugas-tugas yang sederhana dengan sempurna penuh tanggung jawab, riang dan senang hati demi cinta akan Tuhan. Melalui laku hidup serta mukjizat yang banyak terjadi usai ia meninggal, Berchmans menjadi contoh teladan dan pelindung para pelajar.

Prayer Card of St. John Berchmans
(Picture by : Pinterest )

Setelah meneliti beberapa mukjizat yang terjadi dengan perantaraan Yohanes Berchmans; dua setengah abad kemudian Yohanes Berchmans dinyatakan sebagai yang terberkati (Beato) oleh Paus Pius IX pada tanggal 28 Mei 1865; dan dinyatakan Kudus pada tanggal 15 January 1888 oleh paus Leo XIII.

***

Yohanes Berchmans, sebagai seorang Jesuit seringkali disandingkan dengan kedua Jesuit lain yang juga menjadi teladan dan meninggal di usia yang muda – Stanislaus Kostka dan Aloysius Gonzaga. Sementara, bagi saya pribadi, Yohanes Berchmans ini agak berbeda dengan kedua Jesuit itu. Kenapa?

Pertama, tentang latar belakang keluarga. Seperti yang kita ketahui, bahwa Berchmans hidup ditengah-tengah keluarga yang sangat sederhana. Bahkan untuk bertahan hidup, ia pun sempat mengorbankan keinginannya. Sulung dari lima bersaudara ini hanyalah anak seorang tukang sepatu, yang kala itu termasuk sebagai pekerjaan buruh kasar. Namun penyelenggaraan Ilahi untuk memanggilnya menjadi seorang misionaris tidak berhenti sampai disitu walaupun banyak rintangan pada awalnya. Berkat kemampuan serta kemauan yang keras, Berchmans mampu membuktikan bahwa tidak ada hal yang mustahil. Bahwa dengan hal-hal yang kecil, nyatanya juga bisa menjadi besar. Jika dibandingkan dengan Stanislaus Kostka dengan semboyan andalannya, Ad Maiora Natus Sum – aku lahir untuk hal-hal yang luhur, atau Aloysius Gonzaga dengan prinsip It’s better to be child of God than King of the world. Prinsip hidup yang dianut tentu tidak salah, karena dipengaruhi oleh lingkungan serta masa lalu. Keduanya sama-sama terlahir sebagai bangsawan dan prajurit, walaupun pada akhirnya memutuskan menjadi selibat dengan mengikrarkan diri sebagai Jesuit, namun sisa-sisa arogansi nampaknya masih terasa dalam diri Kostka maupun Gonzaga.

Kedua, tujuan hidup. Sebenarnya ini bukan kapasitas saya untuk memberikan penilaian siapa yang lebih baik dan siapa yang lebih buruk diantara ketiganya. Hanya saja disini saya ingin memperlihatkan betapa berbedanya Berchmans. Sekalipun ia seorang Jesuit, nama Yohanes Berchmans jarang digunakan sebagai identitas Jesuit. Tidak seperti ikon Jesuit yang lain - Ignatius Loyola, Stanislaus Kostka, Aloysius Gonzaga, Petrus Kanisius hingga Robertus Bellarminus; yang namanya seringkali sebagai identitas peninggalan besar karya Jesuit di seluruh dunia (terutama Indonesia). Sejauh yang saya ketahui, penggunaan Yohanes Berchmans sebagai pelindung digunakan sebagai nama salah satu PDKK di Jakarta dan salah satu kapel kecil dalam wilayah Paroki Keluarga Kudus Banteng – Yogyakarta. Satu-satunya penggunaan nama Yohanes Berchmans di Indonesia sebagai pelindung lembaga Katolik yang cukup besar, baru digunakan oleh Seminari menengah di Mataloko, Flores. Dengan teladan dan semboyan hidup yang dimiliki, rasa-rasanya kita perlu banyak belajar dari Berchmans untuk tetap memberi perhatian besar pada hal-hal kecil namun dengan tetap senantiasa tersenyum. Semper Ridens. Seperti moto yang terus melekat pada dirinya, tujuan Berchmans untuk menjadi Jesuit bukan untuk menjadi besar atau agung. Namun untuk senantiasa peduli terhadap hal-hal yang minor, dan meneladani nilai-nilai hidup Berchmans rasa-rasanya sangatlah penting terutama dalam banyak hal kontekstual yang terjadi dewasa ini.

***

Kembali kepada fenomena intoleransi yang baru saja terjadi, kalau saja mayoritas masyarakat memiliki pola pikir yang terbuka, multikulturalis serta sekularis – mungkin permasalahan sepele, hingga melibatkan para stakeholder pun tak perlu terjadi. Toh dengan keterlibatan banyak pihak, nyatanya tidak menyelesaikan problem. Seperti benang kusut, belum ada titik temu. Hidup ini sebenarnya mudah, jikalau kita mampu berserah. Kadang-kadang manusia sendiri yang membuatnya menjadi rumit, hingga akhirnya mempersulit keadaan dan diri sendiri. Bermuram menjadi pilihan, dan bersyukur lebih banyak ditinggalkan.

Cobalah sesekali, lebih banyak mengucap syukur, dan tersenyum hingga akhirnya kau bisa merenungkan. Sudah seberapa Semper Ridens-kah kau dalam hidup?

***

Semper ridens, semper splendidus, semper amans – for those who happen not to be latin scholar let me translate : always smiling, always sparkling, always loving.