Cerpen

Man Like You, Man For Others

April 07, 2017


Pengakuan dosa sebenarnya tidak jauh berbeda dengan dating bersama dengan sang kekasih. Ketika kau pernah mencintainya, maka kau akan merindukannya. Ketika kau dengan sengaja melupakannya, ia akan terus ada dalam kenangan. Karena sejatinya sang kekasih sendiri mengajarkan di setiap percobaan untuk melupakan adalah cara lain untuk mengingat. Begitu pun dalam Pengakuan Dosa, ketika kau sudah intens melakukannya dalam rutinitas keimananmu, maka kau akan merasa kurang ketika tidak melakukannya.

Memang sih, mengakukan sebuah dosa, meruntuhkan ego-ego dalam bilik pengakuan tidak akan memberikan kemapanan ekonomis secara langsung, namun ia memperkaya keimananmu. Dia tidak menghujat kekayaan, namun dia memberikan makna agar bagaimana diri ini mampu bersikap atas kekayaan. Materi tentunya dibutuhkan dalam menyambung hidup, namun untuk merayakan hidup – diperlukan sikap hidup yang baru, dengan meninggalkan dosa-dosa di masa lalu adalah sebuah pencapaian atas kesiapan diri menjalani hidup baru. Ada sebuah cerita pendek, bertemakan sakramen tobat dan hidup selibat. Mungkin kisah dalam cerita pendek ini juga mewakili pengalaman beberapa orang, atau setidaknya juga menyadarkan banyak orang tentang bagaimana pentingnya sebuah pengakuan dosa untuk meringankan beberapa beban yang mungkin mengganjal dalam hidup.

***
Sebuah kapel di stasi paroki yang terletak di pedalaman Waghette, secara rutin mengadakan Pengakuan Dosa yang dilaksanakan setiap Jumat seusai jalan salib. Banyak sekali umat dari berbagai kalangan datang ketempat ini. Namun dari sekian banyak yang kuamati, rupa-rupanya sedikit sekali sebagai pendatang, mungkin aku hanya satu-satunya. Kedatanganku ketempat ini bukan tanpa sengaja, tugas-tugas kemanusiaan yang pada akhirnya memberiku kesempatan untuk merayakan perayaan Paskah kali pertama disini, beberapa hari lagi. Minimnya pelayanan pastoral serta kerinduan akan ekaristi ditengah kekosongan santapan rohani, akhirnya membawaku secara rutin mengikuti perayaan ekaristi setiap diadakan di stasi – tidak juga rutin setiap minggunya. Bahkan, saat ritual masa pra-Paskah, termasuk jalan salib dan pengakuan dosa juga tak pernah alpa kuikuti. Apa yang membuatku hingga persisten seperti ini?
Udara di bilik kecil berukuran tak lebih dari dua meter persegi itu terasa seperti jarum. Kecil dan menusuk, menyakiti permukaan kulit yang lemah dan mudah tersayat. Berkali, rintihan kecil bergema dalam hati, ia menangis diam-diam sebelum akhirnya seseorang yang panas dikening namun dingin dikenang masuk ke dalam bilik yang tepat berada di sebelah bilikku.



Detak jantung semakin berdebar tak karuan, telapak tangan juga basah karena keringat – dan gugup. Dalam bilik ini aku harus kuat, selain mempersiapkan hati, juga rasa-rasanya lutut ini semakin terasa kram, serasa tak sanggup menopang tubuhku yang mulai limbung. Cepat kuusap air mata yang sudah terlanjur menetes tipis.


“Bisa kita mulai?” Suara bass-nya kembali mengawali pertemuan kami entah kali keberapa. Pria di bilik sebelah memecah keheningan. Kedua bilik kami hanya dipisahkan sebuah sekat, dan terhubung oleh jendela kassa dan lubang kecil yang memungkinkan suara lirihku terdengar olehnya.

“Iya, RD” Jawabku setengah berbisik. Rasa sesak kembali merambat tiap kali mengucap panggilan itu dalam bibir. RD, Reverendus Dominus – panggilan untuk seorang imam diosesan.

“Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.”

Prosesi Pengakuan Dosa dibuka dengan tanda salib. Kugerakkan jemariku seturut perkataannya. Ke dahi, berlanjut ke dada dan berakhir di kedua bahu. Seusainya, kembali kueratkan jejemariku di atas tumpuan tangan sekat kayu. Seketika itu, rasanya ingin lari dan tenggelam dalam dosa ini lebih lama tanpa perlu mengakuinya. Gemuruh seakan memenuhi dada dan kepala. Tapi aku ingin konsisten, sekaranglah saatnya. Melepaskan segala kegetiran yang telah lama bersarang. Waktu terus berjalan, ia tak dapat melarutkan perasaan berdosa ini.

“Bapa, berkatilah saya orang berdosa,” aku berkata lirih. Pria itu mulai mengucapkan berkatnya, yang tentu ia hafal di luar kepala.

“Sekarang, akuilah dosa anda.”

Kalimat itu begitu mudah saja meluncur dari mulutnya. Tentu aku tahu, apa yang harus kulakukan setelah ini, mengaku. Namun mulut ini tiba-tiba saja terkunci. Semacam ada tenaga dari dalam jiwa yang memaksa logika untuk berhenti saja disini. Maafkan aku Tuhan, perasaan ini terlampau kuat dan ini sesungguhnya menyakitkan.

Beruntung sore itu, umat tidak banyak yang mengaku dosa. Mungkin karena hujan. Menit-menit berlalu tanpa ada suara yang keluar dari bibirku. Desau napas memenuhi udara, dan pria di balik bilik ini masih menunggu dengan tenang. Usia berbanding terbalik dengan pengalaman yang matang, mungkin menjadi alasan kenapa ia mampu bersabar menanggapi keluh-kesah umat, yang barangkali absurd sepertiku.

Waktu terus berjalan, detik berlalu tanpa henti. Dan aku masih saja bungkam. Dalam hati masih memberontak, pergumulan belum usai meski sudah berada di posisi-siap-mengaku seperti ini, dan semakin mengutuki kelemahan diri sendiri.

“Jika kamu belum siap mengaku, tidak apa-apa. Kamu bisa kembali lagi besok.”

Aku terkesiap. Besok? Bagaimana ceritanya. Tentu akan lebih rumit, karena besok tidak ada jadwal pengakuan. Yang berarti harus membuat janji. Apa aku sanggup kembali ke bilik ini besok, atau hanya untuk mengulang perasaan menyiksa yang sama seperti ini lagi? Dadaku semakin berdebar tak karuan, sebelum akhirnya kutemukan kesadaranku lagi.

“Bagaimana?” lanjut pemilik suara bass itu, ia kembali bertanya, atau sekedar memastikan. Aku menelan ludah, keringat semakin mengucur di pelipis dan ubun-ubun. Rambut panjang yang tergerai asal-asalan, terasa semakin lepek.

Aku merasa semakin gugup. Hari esok masih ada, dan waktu masih memperbolehkanku untuk berdosa lebih lama bersamaan dengan perasaan ini, yang terus akan tumbuh hingga menutupi keinginan untuk bertobat. Aku memang harus melakukan ini, sekarang.

Berdehem, dan menelan ludah. Hatiku masih ada sedikit usaha untuk berhenti, namun logika kembali mengambil kendali. “S-saya... saya akan mengaku sekarang”



Pria itu tidak lagi berkata-kata, ia kembali tenang dalam keheningan. memberi ruang untuk diri ini mengaku. Entah sudah kali berapa aku kembali menelan ludah, berusaha untuk menenangkan hatiku yang kini tersumpal dan siap dicacah.

“Pengakuan dosa terakhir saya....” diam sebentar, coba mengingat kapan terakhir kali berada dalam ruang pengakuan dengan perasaan yang jauh berbeda dengan sekarang. Karena dulu dosaku hanyalah dosa-dosa minor yang mungkin sering kulakukan dalam keseharian. “Setahun yang lalu, saat masa pra-Paskah.”

“S-saya.... ingin mengakui dosa saya, sejak saat itu....”Lagi, terdiam. Namun suara hati kembali berkata. Beranikan dirimu, Sukma. Katakan sekarang.

“Bapa, saya tahu.... ini konyol.. umur saya masih muda, jalan 23 tahun. Masih pantas dipanggil gadis, atau anak muda. Masih menikmati cinta yang menggebu. Namun pada kenyataannya, usia saya ini tidak selaras dengan jiwa yang ada dalam diri saya.” Aku kembali meremas tanganku semakin erat, hingga kuku-kuku membekas di kulit. “Terlahir dari keluarga broken, dan tidak memiliki saudara kandung membuat hidup saya kesepian.. papa dan mama dengan kesibukannya masing-masing, teman banyak namun silih berganti, datang dan pergi. Membuat saya mencari sosok pelindung, laki-laki yang mampu memberikan perhatian tulus dan rasa nyaman. Hal yang tak pernah saya dapatkan sepanjang hidup saya.”

“Beberapa kali saya pernah dekat dengan laki-laki, rata-rata usianya lebih tua beberapa tahun dari saya. Kami hanya sebatas dekat, dan tidak lebih. Mereka tidak pernah benar-benar mampu menyentuh hati saya, karena sesungguhnya saya hanyalah tempat pelarian sementara. Karena mereka hanya memandang sebatas hal-hal yang ternilai secara fisik dan material. Saya sadar, bukan itu yang sebenarnya saya butuhkan, saya langsung memutuskan hubungan saat mereka mulai minta yang macam-macam. Untuk sekian lama saya masih mencari, sampai lelah dan pasrah dengan keadaan. Atau mungkin memang takdir membuat saya untuk mampu berdiri sendiri. Hingga saya akhirnya menemukan sosok yang saya damba, itu....” Aku menahan napas, menggigit bibir. Rasa-rasanya tak ingin lagi kulanjutkan. “....Ada pada diri seorang imam yang sekarang berada di hadapan saya.”

Udara dalam bilik rasa-rasanya semakin pengap. Dada semakin terasa sesak. Aku tahu pria ini mungkin juga merasakan hal yang sama, usai mendengar pengakuanku itu. Namun karena belum selesai, pria itu tidak mengatakan apapun untuk menyela. Ia masih setia.

“Setelah pergumulan yang panjang, menentang kata hati. Menyalahkan diri sendiri, namun perasaan tetap tak mampu disangkal. S-saya.... saya jatuh hati pada imam itu, Bapa. Bagi saya ini lebih menyakitkan daripada sekedar jatuh cinta..”



Dalam prosesi ini aku mengaku pada Tuhan, berbicara padaNya di tempat ini. Pria itu bukanlah orang yang akan mengampuniku, karena ia hanyalah perantara yang Tuhan tunjuk sebagai tempat kami mengaku. “Bapa, maafkan dosa saya ini. Saya tahu, ini tidak wajar..”

Tangisku ingin kembali pecah, air mata ini sudah menggenang di pelupuk. Dengan berbicara lebih lama lagi, aku tahu kalau pengakuan ini akan berakhir menjadi tangis sesenggukkan. Namun sebenarnya aku masih belum selesai, dan aku tahu kalau dia – si pria itu ingin mendengar pengakuanku lebih banyak lagi.

Kami saling mengenal, sekitar satu setengah yang lalu. Studi di kampus yang sama, dengan jurusan berbeda. Seringkali berjumpa dalam kegiatan kemahasiswaan. Jika tidak mengenakan jubah, ia tidak terlihat sebagai imam kebanyakan. Usianya yang masih belia untuk ukuran imam muda, baru akan memasuki 27, dengan tampilan seperti para urban-millenial. Baru setelah mereka tahu bahwa sosok itu adalah imam, dan lalu banyak yang menyayangkan atas pilihan hidup untuk mengabdi kepada Tuhan. Imam ini benar-benar seorang imam, karena ia tidak memiliki keinginan apapun selain kecintaan terhadap Tuhan dan ekaristi, ia tidak hanya dimiliki oleh gereja, namun juga banyak orang, para umat. Hingga kesempatan membawa kami lagi, secara tidak sengaja bertugas di pedalaman. Selama beberapa minggu. Aku merasakan wajahku menghangat, air mata meleleh. Mengingat bagaimana sosok pria itu kembali membuat berdebar dalam benakku. Telah lama kusimpan perasaan ini seorang diri, hingga akhirnya aku berani membuat pengakuan. Justru pengakuan langsung dengan-Nya, yang terjadi diluar rutinitas kami.

“Tapi yang membuat saya jatuh hati padanya, bukan karena apa yang telihat oleh mata pada sosoknya. Melainkan, karena hatinya yang penuh belas kasih pada-Mu, yang membuat perasaan ini semakin terasa tak wajar. Saya paham, segala kebaikan yang dia berikan pada umatnya, terutama saya - hanyalah semata-mata pelayanan, tanggung jawabnya sebagai imam. Namun afeksinya, bagaimana cara dia berbicara pada saya, bagaimana dia memperlakukan saya, seolah-olah saya adalah manusia yang bernilai, memiliki arti. Segala bentuk perhatiannya, baik yang tersentuh secara fisik maupun tidak. Dan semuanya.... adalah hal yang saya dambakan selama ini”

Dan lalu, tangis itu telah benar-benar pecah “Bapa.. maafkan saya atas perasaan ini. Saya telah berharap terlalu banyak pada sosok yang seharusnya tidak boleh saya inginkan. Saya berdosa, Bapa.. Sungguh berdosa. S-saya…. Saya ingin menuntaskan perasaan saya, ampuni saya, Bapa.” Tangisan kembali menguasai, tak dapat lagi dibendung. Hingga akhirnya aku menutup pengakuan ini dengan suara terbata-bata.

“Bapa.. saya menyesali, semua dosa-dosa saya. Dengan hormat, saya mohon ampun dan penintensi yang setimpal..”

Cukup lama, tak ada lagi suara dalam bilik ini. hanya sisa suara sesenggukan tangisku. Pria itu juga tak bersuara, hingga tangisku sedikit mereda. Ia mulai berbicara, kata-kata yang muncul benar-benar di luar dugaanku. “Sukma…” ia menyebut namaku. “Mencintai bukanlah sebuah dosa. Pada siapapun cinta itu berlabuh, dalam bentuk apapun cinta itu ditunjukkan, dan bagaimana cinta itu tercipta. Cinta tak pernah berdosa.” Pria di balik bilik itu, mengulurkan tangannya dari sela sekat kayu, tanpa suara – memintaku untuk menyambutnya. Dan aku melakukannya apa yang ia minta, tanpa berpikir dua kali.

“Terimakasih telah mencintai saya, Sukma” Pria itu menggenggam tangaku erat, sangat erat namun hangat. Tak ada nada risih, antipati ataupun marah. Justru aku menemukan adanya pengertian dan kenyamanan yang tak pernah kubayangkan, sebelumnya.

“Sukma, saya juga mengasihimu, mencintaimu. Karena saya selalu mengagungkan cinta sebagai sesuatu yang berharga.” Hatiku dipenuhi rasa bahagia, aku tahu cinta yang dia maksudkan bukanlah perasaan yang sama seperti yang aku rasakan. Mendengarkan ia berkata seperti itu, membuat perasaan ini jauh lebih baik.


“Saya tahu ini akan berat untukmu, tapi jangan buang cintamu pada saya. Karena saya tidak ingin dibenci oleh umat saya sendiri.” Pria dibalik bilik itu seperti tertawa kecil. Tawa kecilnya berhasil memaksakan sebuah senyuman yang menyungging di wajahku. “Pandanglah cinta yang kamu berikan pada saya dengan cara yang berbeda, itu saja sudah lebih dari cukup. Terkadang, cinta hanyalah sebuah teori yang masing-masing manusia mencoba untuk mendefinisikannya sendiri, dan kemudian ia terjebak dalam pengertian itu. Cinta bukanlah hanya tentang definisi atau semata ungkapan, namun juga dapat berupa tindakan. Cinta bisa berarti banyak hal, yang kamu sendiri tidak akan pernah tahu, ia berasal dari mana dan akan menciptakan kondisi yang seperti apa. Maka, Sukma.. penuhilah dirimu dengan cinta, dan rasakan seluruh dunia menjadi jauh lebih baik karena cinta yang berbeda-beda akan datang silih berganti untuk memenuhi dirimu.”

Hening meraba suasana, namun genggaman tangan pria itu masih erat kurasakan; mengingatkanku bahwa aku masih harus mendengarkan kata-katanya, “Sekali lagi, terimakasih, Sukma. Terimakasih telah mencintai saya. Tetaplah berpegang teguh pada Tuhan, karena masa depan itu misteri. Jangan berusaha meramal, ataupun mereka-reka. Biarlah hidup penuh dengan petualangan, tetaplah hadapi dengan senyuman dan nikmati hidup ini. Sukma, saya tahu ini tidak mudah bagimu, namun kamu juga harus memiliki keyakinan, dan percayalah karena Ia telah menyiapkan partner seimbang bagimu. Dan saat kau telah menemukannya, tetaplah mengucap syukur dan ingatlah hari ini, saat ini..”

Setelah berkata demikian, Pria itu melepas genggaman tangannya. Lalu menutup prosesi dengan tanda salib tanpa memberikan penitensi apapun padaku. Ia belum keluar dari bilik, masih menungguiku yang kembali menangis. Namun kali ini, aku menangis bukan lagi karena merasa begitu berdosa. Namun aku menangis karena aku merasa begitu dikasihi, dicintai oleh sosok yang aku tahu, ia tak sanggup dimiliki. Mengetahui bahwa aku juga dicintai, itu sudah lebih dari cukup. Mempunyai cinta, tak berarti memiliki yang dicintai.
***

Kerangka cerita pendek ini saya tulis dalam kereta saat perjalanan, waktu itu tujuan saya ke Bandung tahun 2016 untuk merayakan Paskah bersama dengan seorang suster – beliau paruh baya, yang sudah seperti ibu sendiri. Cerita yang masih belum tuntas, belum ada alur dan dialog lengkapnya. Kemudian setelah dibiarkan agak lama, saya menyelesaikan usai berdiskusi bersama beberapa kawan yang pernah menulis paper dan mendalami tentang konsep dan nilai-nilai dalam Sakramen Tobat, dan juga terselip inspirasi kisah dari beberapa kawan karib. Mengambil sudut pandang orang pertama, untuk semakin mendekatkan secara emosional antara pembaca dengan si tokoh utama, bagaimana pergumulan Sukma. Dari yang ragu untuk melakukan pengakuan hingga menjadi yakin untuk tidak membawa bebannya seorang diri serta mau berpasrah kepada Tuhan. Ini adalah kisah fiksi yang menyoroti tentang pupusnya kisah cinta seorang gadis karena seringkali ditinggalkan, dipandang sebelah mata, hingga akhirnya menemukan sosok yang tepat - namun sayangnya justru hal tersebut ada dalam diri kaum selibat. Jelas-jelas hal itu mustahil untuk dimilikinnya, karena selibat berarti tidak menikah. Bukan ide cerita yang baru, terkesan klasik malah. Namun yang menjadi menarik adalah, usai pencariannya yang cukup lama kenapa Sukma justru jatuh hati pada seorang imam? Tidak adakah awam yang mampu menyentuh inti jiwanya? 

Selama ini sebagai awam kita seringkali melihat selibat hanya dari cangkang luar, tanpa tau apa yang sebenarnya menjadi tujuan mereka menjalani hidup religius. Menjadi selibat dalam tradisi gereja, adalah mereka yang menerima sakramen imamat yang berarti tidak menikah dan juga tidak melakukan prokreasi dalam kehidupan. Dalam gereja Katolik Roma, sebenarnya peraturan tentang kaum selibat (terutama tentang kaul kemurnian – tidak menikah) bukanlah dogma yang tak bisa diubah, hanya saja ini merupakan sebuah tradisi yang sudah lebih dari belasan abad. 



Dalam beberapa dekade terakhir, telah banyak tekanan pada Vatikan untuk lebih dinamis dan memperbolehkan para imam untuk menikah (selibat opsional). Dengan adanya pilihan itu, diklaim juga akan bisa menambah jumlah panggilan untuk menjadi imam di banyak wilayah, terutama yang kekurangan pemimpin umat lantaran enggan menjadi imam sebab tidak diperkenankan menikah dan larangan untuk berhubungan seksual. Disini, Paus Fransiskus mampu mengambil sikap. Dengan adanya berbagai tekanan yang terjadi, terutama tekanan untuk memperbolehkan imam menikah; Vatikan dengan tegas menolak aksi ini dengan alasan bahwa, selibat adalah anugerah bagi gereja. Sebuah hadiah, keistimewaan. Dalam ajaran katolik, gereja mengajarkan bahwa seorang imam harus mendedikasikan dirinya secara total untuk panggilannya, dan mengambil gereja sebagai istri untuk memenuhi misi sebagai imam. Menjadi selibat adalah pilihan, dan bukan keharusan – oleh karenanya, frustasi seksual yang menjadi inti dari banyaknya skandal yang dilakukan oleh kaum selibat, bukanlah alasan yang kuat untuk menjadikan selibat opsional. Karena hal tersebut adalah masalah psikologis pribadi, akibat pengolahan emosional yang kurang matang. Karenanya, para imam katolik yang memilih hidup selibat harus mentaati aturan hidup sebagai religius meskipun (mungkin) pintu perubahan dapat terbuka kapan saja. 

Dan saya sebenarnya sepakat, dengan ketegasan Vatikan. Karena bukan tidak mungkin ketika para imam memiliki keluarga, ia bukanlah lagi bagian dari selibat murni. Kerahasiaan dosa yang dikeluhkan oleh umat tidak lagi terjaga dengan baik. Sesungguhnya para imam yang memilih selibat, berkarisma dan menarik – karena terikat. Segala sesuatu yang terikat umumnya memang terlihat menarik, sebab ia menjadi tak mudah untuk dimiliki. Biar bagaimanapun, imam juga manusia. Pada saat-saat tertentu mereka juga bisa merasa kesepian, membutuhkan belaian kasih sayang. Sebagaimana yang pernah dilakukan seorang ibu kepada anaknya. Biasanya para imam ini melakukan sublimasi sebagai pengganti kerinduan mereka akan hal-hal yang dirasa wajar jika dilakukan oleh kaum awam. Bagaimana caranya? Ya dengan mencintai gadis-gadis tanpa harus menyentuh secara fisik apalagi memiliki #Eaaa.

Kalau saja selibat opsional benar-benar dilegalkan, ada kemungkinan semakin sedikit umat yang secara sadar melakukan Pengakuan Dosa. Jelas, rasa percaya dan rasa aman terhadap imam berkurang. Jika imam diperbolehkan menikah, keluh-kesah umat yang mengakukan dosanya juga (pasti) akan dibagikan dalam internal keluarga. Tidak ada lagi kerahasiaan dan nilai kesakralan jelas berkurang. Bukan tak mungkin umat gereja Katolik enggan melakukan prosesi pengakuan dosa karena adanya pandangan subjektif tentang citra imam yang memilih untuk selibat opsional karena perilaku yang kurang baik.

Perlu adanya upaya lebih untuk menanamkan nilai-nilai kepercayaan oleh gereja, terhadap umatnya agar tetap memelihara iman dan tidak meninggalkan tradisi Pertobatan, ya dengan tidak melegalkan selibat opsional. Sementara, bagi umat - untuk menyingkirkan apriori tentang kaum selibat yang diluar ekspektasi sehingga membuat enggan melakukan Pengakuan Dosa, tentu diperlukan juga kedewasaan iman agar tidak meninggalkan nilai-nilai esensi dalam pertobatan yang mestinya tetap dilakukan, dengan rutin melakukan pengakuan dosa itu sendiri. Karena sejatinya mengaku dosa adalah salah satu cara untuk meninggalkan beban masa lalu. Tentang bagaimana menaruh kepercayaan terhadap Tuhan melalui janji kemurnian seorang imam, yang memiliki hak untuk memberikan indulgensi dan memberikan penintensi serta menyimpan berbagai kisah pengakuan dari umatnya seorang diri. 


Saat-saat dimana para imam mampu dengan berbesar hati, mencintai tanpa harus memiliki sesungguhnya yang mereka lakukan bukanlah wasting time atau wacana tanpa aksi. Karena  mencintai sendiri adalah sebuah aksi. Lagipula, kekasih bayangan para imam ini tidaklah materialistis. Bagaimana tidak, sudah syukur masih diperhatikan, diberi cinta oleh mereka, mau minta yang lain lagi? Juga, para perempuan yang mendamba belaian kasih para selibat, umumnya mereka sudah selesai dengan diri sendiri sehingga tidak mengharap apa-apa lagi, selain kemurnian hati.


***

Hapuskan semua khayalan
Lenyapkan satu harapan
Kemana lagi harus mencari
...
Kini hanya rasa rindu
Merasuk di dada
Serasa sukma melayang pergi
Terbawa arus kasih membara

(Anggun - Mimpi)