Journey

Prelude Ende, Incognito Mataloko

November 02, 2016

Rumah Pengasingan Bung Karno, kini menjadi museum
(Picture by : Yerinta)
Teringat dengan buku Bung Karno Ata Ende yang pernah saya baca sekitar tahun 2014, untuk keperluan literatur terkait riset tentang Filsafat Ekonomi dan Pancasila, saya membayangkan betapa Bung Karno memiliki keterikatan dengan kota Ende, 4 tahun bukanlah waktu yang singkat. Apalagi waktu itu komunikasi dan informasi tidak secanggih sekarang. Tumbuh dan berkembang dalam moment dimana alat komunikasi sangat minim, rasa-rasanya lebih sarat makna. Maka apa yang dilakukan pada jaman dulu hingga meninggalkan jejak sejarah, pastilah begitu mendalam.

Ketidak-sengajaan saya membaca buku kala itu semacam pertanda (atau bukan) suatu hari nanti akan bisa napak tilas secara langsung. Siapa pula yang menyangka jika hari ini saya menuju Ende dengan penerbangan dari Denpasar. Bukan sekedar liburan (berharapnya, sih), tapi ada beberapa pekerjaan dan yang utama menyisihkan waktu mengunjungi ayah yang sedang bertugas di Mataloko. Iya, Mataloko, yang dibilang Alpen-nya Flores.

***

Ende adalah sebuah kota kecil di dekat laut. Meski begitu, kota Ende tidaklah datar. Banyak naikan-dan turunan yang menemani sepanjang jalan. Terik. Begitulah kesan pertama saat menginjakkan kaki di Bandara Hasan Aroeboesman. Meski dekat dengan banyak peristiwa sejarah, juga banyak peninggalan bersejarah; rasanya ingin cepat-cepat menyudahi tugas-tugas di Ende. Panas membuat imajinasi saya berhenti, dan otak hanya berpikir bagaimana menurunkan suhu dalam tubuh. Beruntung, pekerjaan selesai dalam waktu sesingkat mungkin. Usai dari Percetakan Arnoldus – nanti akan dituliskan secara khusus tentang megahnya percetakan ini – segera saya menuju mobil yang mengantarkan ke Mataloko. Here I Come!
***

Perjalanan dari Ende ke Mataloko dengan jalan darat menggunakan mobil memakan waktu kurang lebih 3 jam, kecepatan normal. Melalui jalur selatan, via jalan Trans Flores. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki ke Flores, sendirian pula. Hanya bertemu dengan beberapa kolega di Ende yang memandu saat di percetakan, dan setelah itu kembali sendiri melanjutkan perjalanan.

Bagaimana Mataloko? Hingga ½ perjalanan menuju kesana, saya masih belum ada bayangan selain yang katanya dingin dan berkabut. Rasa-rasanya lama sekali menunggu sampai, jalanan yang sepi penuh kelok, udara bersih dan bus kayu (truk sebenarnya, tapi penduduk sekitar menyebutnya bus kayu karena sebagai moda transportasi utama) seringkali berpapasan dengan anak-anak yang naik di atasnya. Kali pertama saya melihat, agak heran campur ngeri. Jalanan di Flores banyak yang berkelok, dan beberapa langsung jurang. Melihat keanehan dalam mimik saya, dan lalu pak supir tertawa “Disini biasa begitu nona. Nanti ada banyak lagi.” dan memang benar sih, sepanjang jalan bukan hanya satu dua, tapi beberapa. Lama-kelamaan saya terbiasa juga.

On The Way Mataloko, mulai kabut.
(Picture by : Yerinta)
Udara dingin mulai terasa (mungkin karena mulai sore) saat mobil memasuki wilayah Malanusa. Biasanya di Jawa, saya seringkali menutup kaca mobil saat perjalanan jarak jauh. Namun disini, mulai dari keluar kota Ende menuju Nangaroro hingga Mataloko, kaca mobil sengaja dibiarkan terbuka. Udara memang masih bersih dan sejuk. Dan saya sangat menikmati.

Sepanjang perjalanan, ada beberapa hal yang unik, dan baru pertama saya jumpai. Kepercayaan dan kekeluargaan disini terlihat masih sangat kental, mobil ini sempat berhenti – entah didaerah mana – dan pak supir meghampiri seorang remaja yang sudah duduk di undakan batu untuk mengambil barang, katanya untuk diantarkan. Tanpa alamat juga tanpa resi atau barcode untuk melacak barang. Gimana ceritanya engga nyasar? Kalau di Jawa sepertinya hal-hal begini sudah hilang sebelum sampai. Ada juga, ketika di dekat pasar (mungkin masih di wilayah Boawae?) ada dua perempuan paruh baya (disini biasa dipanggil mama) menunggu di pinggir jalan untuk menumpang, seperti menunggu colt kalau di kota-kota. Tapi pak supir ini tak mau dibayar, katanya karena sejalan, jadi tidak rugi juga. Wah hebat.
***
Ini kabut di Mataloko, bukan lokasi main Baseball Edward cs di Twillight 😝
(Picture by : Yerinta)
Memasuki daerah Todabelu yang semakin dekat dengan tujuan - Kemah Tabor Mataloko, langit mulai gelap. Tidak ada aktivitas di jalan-jalan, rumah warga yang terlihat berjauhan juga terlihat tidak banyak ada aktivitas. Udara semakin dingin, beruntungnya tidak ada kabut yang menghalangi jalan. Sekitar pukul 19.30 malam, mobil sampai di tempat tujuan. Memasuki halaman yang disambut dengan cemara tinggi-tinggi dan bulat, ikon khas Kemah Tabor. Cahaya temaram, sunyi, langit bertabur bintang. Malam itu saya tidak takut gelap. Usai berterimakasih dengan pak supir, kaki berjalan masuk, masih asing karena tidak tahu harus ke arah mana. Hingga akhirnya ada seorang bruder yang bertugas jaga dan memberikan kunci serta mengantarkan ke koridor tempat tinggal ayah. Saya disediakan kamar, persis sebelah kamar tugas ayah. Setelah itu baru Pater, pengelola Kemah Tabor datang menyambut untuk bergabung makan malam.

Tak butuh waktu lama. Detik itu saya tahu – kali ini saya telah jatuh cinta. Bukan dengan orang, tapi dengan suasana dan tak harus kota. Lalu, ada kejutan apa lagi setelah ini?

Journey

Mendadak Tamasya ke Toya Devasya

November 01, 2016

Demi menjaga kewarasan usai festival literasi yang menyita banyak pikiran dan tenaga, diri ini mengendapkan kebisingan dengan menepi ke sebuah kedai kopi. Bernama Seniman Coffee yang berada di Jalan Sriwedari, Ubud. Kafe ini sering dijadikan tempat kongkow bagi anak-anak festival, begitu kami menyebut. Hari itu saya bersama seorang kawan – yang panggilan kami bagai pinang dibelah dua. Janji sudah dibuat jam 9 pagi tadi, untuk menyelesaikan beberapa tugas dan pekerjaan. Celah waktu yang singkat saya enggan terlambat. Seniman Coffe ini bukan tempat pertama, sebelumnya kami sempat sarapan Nasi Campur di Babi Guling Gung Chung dilanjutkan dengan beberapa desert di Kakiang Bakery. Baru kemudian saat ingin ngopi, kami berpindah ke Seniman Coffee. Sudah tempat ketiga, dan pekerjaan belum juga selesai. Maksud hati menepi sejenak berubah jadi menumpuk penat. Lalu kawan saya spontan bilang, “Kalo siang gak beres-beres juga, ntar ke Kintamani aja yuk, ke air panas.” Saya masih dengan laptop, masih tak juga bergeming, kawan saya itu suka bercanda. Kemudian dia langsung menutup laptop dan mengambil kunci. “Ini seriusan? Belum kelar ini,” saya ragu. “Besok kan kamu sudah harus berangkat ke Bajawa. Habis nganter ke bandara paling besok aku hidden di kantor, nyelesaikan sisa kerjaan ini” balasnya lagi.

***

Dan memang kepergian tanpa rencana itu seringkali benar-benar terwujud tanpa wacana semata. Usai singgah sebentar ke homestay untuk mengambil beberapa keperluan saya, dan tempat tinggalnya untuk keperluan dia, kami nekat berangkat. Ini juga salah satu keuntungan tinggal di Bali, saat penat karena pekerjaan dan ingin menepi barang sejenak, banyak tempat-tempat menarik yang masih alami, seperti ke pantai, air terjun, perkebunan sayur atau bunga, danau, berendam air panas bahkan sekedar ke bukit-bukit menuju Pura. Objek-objek ini dikelola dengan baik, ditambah atmosfir yang mendukung. Maka tidak heran kalau saya masih percaya, the Island of God – ya karena hampir semua tempat, sesederhana apapun tetap indah, seperti diberkati Tuhan. Untuk menuju ke permandian air panas ini tidaklah terlalu jauh, kurang lebih 45 menit perjalanan santai. Masih banyak pepohonan rindang disepanjang jalan yang berkelok-kelok, menemani perjalanan kami menuju kesana. Hingga akhirnya terdapat petunjuk arah yang menunjukkan tempat tujuan.

***

Orang-orang biasa menyebutnya Toya Devasya. Berdekatan dengan si pionir, Toya Bungkah. Letaknya berada di dekat kaki Gunung Batur, atau berada di sebelah barat Danau Batur. Lokasi ini strategis, karena memang berada di bagian tengah Pulau Bali yang sebagian besar berupa dataran tinggi. Pilihan kabur ini tidak salah, karena secara kebetulan tempat ini memang pas untuk melepas lelah, sekedar bersantai sembari berendam di air panas alami ditengah sejuknya udara khas pegunungan Batur. Beruntung, hari itu bukan saat high-season atau weekend, even everyday is a holiday in Bali, tapi setidaknya suasana yang tidak begitu ramai membuat kami lebih bisa menikmati sensasi berendam dalam air panas. Sejauh mata memandang dari kolam, pemandian ini memberikan kenyamanan bagi para pengunjung untuk melakukan aktivitas berendam di kolam air panas. Ada banyak pilihan beragam jenis kolam dan ukuran, kali ini kami memilih kolam yang menghadap ke Danau Batur. Tak heran sih, kolam ini lebih banyak menjadi pilihan, karena dekat dengan kafe – akan memudahkan mereka yang ingin berendam sembari memesan minuman. Saya tipikal orang yang tidak bisa membawa makanan atau minuman dalam air, menikmati hangatnya air satu-satunya yang bisa dilakukan, dan lalu tercenung agak lama, sampai kawan saya bertanya, “Pernah dengar cerita tentang Kebo Iwa?”

***

Sambil menatap danau, kawan saya mulai bercerita. “Legenda Danau Batur tak lepas dari cerita tentang raksasa rakus yang bernama Kebo Iwa. Dulunya, Kebo Iwa ini baik, dia suka menolong penduduk desa dalam membangun rumah, mengangkat batu-batu yang besar, bahkan hingga menggali sumur. Tenaganya sangat besar, begitu pula porsi makannya. Sebagai imbalan, penduduk setempat secara rutin menyiapkan makanan karena Kebo Iwa memang suka makan banyak. Lama kelamaan, penduduk tidak bisa menyediakan makanan karena porsi yang semakin banyak. Maka mengamuklah Kebo Iwa, ia kemudian merusak apa saja yang ditemui, termasuk rumah penduduk, kebun hingga sawah. Hingga tibalah musim kemarau dan panen gagal. Penduduk semakin susah untuk mendapatkan makanan. Tentu berdampak kepada Kebo Iwa yang juga kelaparan. Lalu ia semakin merusak apa saja, termasuk Pura tempat ibadah. Tidak berhenti disitu, Kebo Iwa juga mengejar dan membunuh warga. Penduduk yang diliputi rasa takut kemudian muncul ide bagaimana caranya membunuh Kebo Iwa.

Penduduk yang dipimpin Kepala Desa mengadakan kesepakatan dengan Kebo Iwa. Isi kesepakatannya adalah apabila Kebo Iwa bisa memperbaiki rumah-rumah yang dirusak, maka akan disediakan makanan. Tak hanya rumah, tetapi jika Kebo Iwa bisa membuat sumur maka ia akan diberikan makanan dengan kuantitas yang lebih banyak lagi.

Mendengar hal tersebut, tentu saja Kebo Iwa setuju. Ia kemudian mulai menggali sumur besar. Sementara Kebo Iwa menggali, penduduk mengumpulkan batu kapur di pinggiran sumur. Meskipun Kebo Iwa sempat curiga soal batu-batu kapur itu, namun ia kembali fokus dengan yang dikerjakannya karena dijanjikan makanan yang lebih banyak. Kebo Iwa tetap menggali sumur sampai airnya keluar dan membanjiri tanah sekitarnya. Setelah pekerjaannya dirasa cukup banyak, Kebo Iwa istirahat dan menyantap makanan yang telah disediakan hingga mengantuk dan tertidur. Pada saat itulah, penduduk melemparkan batu-batu kapur ke arah Kebo Iwa yang terlelap, namun Kebo Iwa baru sadar saat air sudah tinggi. Kebo Iwa mati tenggelam, dan air itu akhirnya menjadi Danau Batur”.

***

Kawan saya selesai bercerita, dan saya baru dengar legenda itu. “Percaya dengan legenda itu?” ia meringis. “Keindahannya tak seperti yang kau khayalkan” Sambungnya lagi.

Kami memandang danau. Namun saya merasa menyatu dengan Danau Batur. Terlepas dari benar atau tidaknya, ada kisah dibalik keindahan Danau Batur. Ada nilai yang tidak sekedar tentang indahnya panorama serta ragam kuliner sekitar. Daya magis Danau Batur yang dikelilingi Gunung Batur dan Gunung Agung semakin menambah betah untuk berlama-lama berendam di Toya Devasya. Overjoyed. Secara teori, air hangat atau air panas lebih tahan dalam menyimpan kandungan padat dan tidak melarutkan. Tidak heran kalau sumber air panas, menyimpan berbagai kandungan mineral yang baik untuk kesehatan, terutama untuk kesehatan kulit. Masyarakat rupanya pandai melihat peluang, maka dibuatlah permandian air panas ini yang bertujuan untuk bisa mengembalikan tenaga para pendaki gunung manakala habis digunakan untuk trekking.

Keberuntungan semakin ditambah dengan langit biru yang cerah namun tidak terik, melembutkan hati untuk senantiasa bersyukur atas alam ciptaanNya sembari melihat jernihnya air danau. Tak lama saya terhenyak, dan menunjuk ke arah timur laut dari permandian. “Bagaimana caranya bisa kesana?” Ujaran yang akhirnya memecah lamunnya.

***

Itu Desa Trunyan. Kebanyakan wisatawan mengunjungi Desa Trunyan, sekedar ingin melihat mayat yang digeletakkan di bawah anyaman bambu dan ditaruh di bawah Pohon Taru Menyan. Tak ayal, pengunjung yang mendatangi Trunyan ini seringkali mendapatkan sensasi ngeri-ngeri-sedap saat melihat tengkorak berserakan di sekitar kuburan. Uniknya, jasad yang ditaruh di bawah pohon-pohon itu tidak mengeluarkan bau tak sedap. Padahal, sesungguhnya keunikan yang dimiliki oleh Trunyan karena masyarakat yang tinggal di sana adalah rumpun suku Bali Aga – subsuku yang menganggap diri mereka sebagai penduduk Bali yang asli. Karena di Bali ini ada dua suku, yaitu Bali Aga dan Bali Majapahit. Ia menceritakan lengkap dalam penjelasan sesingkat mungkin. Pemahaman khas anak desain, tidak bertele-tele, penuh visual, namun mampu terdeskripsi dengan baik. Nah, tentang ragam per-Bali-an dan suku-sukunya, akan saya kisahkan di lain post. Kenapa harus di lain post? Ya biar ber-series aja, kaya drakor 😛

Nampaknya si kawan ini bisa membaca raut wajah saya yang ingin bertualang kesana. Tanpa saya bercakap, dia kembali menjawab. “Iya deh, kedatanganmu kali lain kita pergi ke Desa Trunyan, ya.” Janji itu bak gayung bersambut. Saya suka jalan-jalan, begitupun dia – dan tentunya tawaran tidak akan ditolak. Hanya saja seringkali keinginan terkadang berbenturan dengan waktu, kesempatan juga biaya. Kalau saja tiket pesawat belum dipesan dan sewa tempat tinggal sudah diperpanjang, mungkin akan lebih mudah mendatangi Desa Trunyan entah besok atau lusa. Kalau saja kawan saya bisa membolos tanpa banyak ditanyai alasannya mungkin ia akan lebih banyak waktu yang meluang. Tapi pekerjaan, tidak bisa lagi ditunda. Unfortunately, later means never. Meski semesta enggan mewujudkan seperti keinginan. Komitmen bukan untuk main-main rupanya, meski janji terkadang mudah untuk diingkari. Karena setelah beberapa bulan usai keberangkatan saya dari Bali, ia pindah kerja di Ibukota.

Well, ada baiknya, manusia tidak berharap banyak. Sekalipun hanya tentang sebuah perjalanan.



Ps. Catatan perjalanan singkat ini sebelumnya baru tersimpan di agenda, sebelum akhirnya saya tuliskan dalam website.

Cerita Buku

Cara Mencintai dari yang Maya

April 21, 2016

Saat tahun-tahun awal kuliah, saya menghindari membaca hal-hal yang berat diluar kebutuhan akademis di kampus, karena bacaan untuk sehari-hari demi memenuhi tugas-tugas kuliah saja sudah amat berat. Karya-karya dari Ayu Utami, adalah termasuk list bacaan berat versi saya kala itu. Bahkan, yang pernah saya baca sebatas tulisan lepas yang banyak menyangkut soal spiritualitas dan juga beberapa buku yang tidak berseri seperti Simple Miracle. Pernah saat sebelum kuliah saya diberi hadiah buku oleh Kakung Yu (adiknya Alm. Eyang Kakung) yang memiliki hobi membaca. Waktu itu yang diberi adalah buku Ayu Utami dengan judul Lalita. Saya hanya membaca sekilas dan tidak lagi tertarik. Hanya itu, dan tidak lebih. Tetap saya membaca buku dengan genre sastra, tap dari penulis lain yang tidak terlalu berat. 

Waktu berjalan pada akhirnya, di tahun 2016 saya mendapatkan masalah yang cukup berat, hingga membuat nurani saya menggunggat tentang definisi keadilan. Pembicaraan yang mendalam dengan seorang kawan karib yang telah seperti saudara sendiri, Meike – yang pada akhirnya mengenalkan saya untuk perlahan-lahan memahami gaya penulisan Ayu Utami. Petualangan perdana dimulai dari buku Eks Parasit Lajang dan Maya (yang ternyata menjadi bagian dari Seri Bilangan Fu). Tidak seberat yang saya kira dan orang-orang pikir tentang buku-buku Ayu Utami, terutama yang termasuk Seri Bilangan Fu, yang ternyata setelah membaca Maya, saya tidak sabar untuk melahap habis membaca seri-seri yang lain juga. Namun diantara keseluruham karya Ayu Utami, hingga beberapa waktu kemudian, saya masih terlalu jatuh hati dengan kisah dalam novel Maya. 
***

Saat membaca Maya untuk kali pertama, saya menggambarkannya sebagai kisah tentang kesedihan. Kesedihan Yasmin yang kehilangan kekasih. Kesedihan Saman yang telah memilih salib yang salah bagi Upi yang dikasihinya. Kesedihan Maya, wanita mulia yang terjebak dalam raga buruk rupa. Hingga kesedihan negeri yang berlarut-larut dicengkeram oleh tirani. 
Dibandingkan karya-karya Ayu Utami yang lain, Maya menyeret lebih jauh pada rasa melankoli hingga halaman-halaman selanjutnya. Rasa penasaran saya terhadap Novel Maya ini juga terjawab setelah ia menjadi jembatan kisah yang menghubungkan antara Seri Bilangan Fu dengan Dwlogi Saman-Larung. 

Novel Maya, mencoba menyembuhkan luka atas rindu Yasmin pada Saman. Didorong oleh rasa cinta pada kekasihnya – yang ia sebut sebagai cinta seorang wanita pada lelaki yang terluka, Yasmin yang tidak dapat mengurai teka-teki surat tersebut memutuskan untuk berkonsultasi pada seorang guru kebatinan, yakni Suhubudi. Ia lakukan dengan agak terpaksa sebab sesungguhnya ia seorang yang sangat rasional. 

Barangkali semakin ia meragu ketika tiba di padepokan Suhubudi, sebuah komplek pemukiman, yang baginya terasa aneh. Pada bagian terdalamnya, orang tidak boleh bercakap-cakap dengan suara, ia hanya bisa berkata-kata dengan tulisan pada secarik kertas yang dibakar setelah usai perbincangan. Di bagian lain kompleks tersebut, Yasmin merasa berada pada suatu ruang dengan dimensi waktu yang beririsan dan berkelindan; kini dan lampau. Semakin janggal lagi saat ia disuguhi sebuah pertunjukan tari bayang-bayang yang sesungguhnya indah dan mengharukan, tapi membuat ketegangan dan rasa mual akibat jeri tertahan di balik pusar setelah ia tahu para penari yang mementaskannya: segerombol makhluk cebol menjijikkan, manusia berkulit sisik, raksasa-raksasi poleng, serta sosok-sosok dengan rupa mengerikan lainnya. Tidakkah ia telah masuk ke sebuah kerajaan siluman? 

Namun, kesedihan dan keputusasaan akan nasib sang kekasih telah meneguhkan hatinya. Bukankah dulu Saman pun pernah bertandang ke situ untuk belajar spiritualitas pertanian -kelak ia menjalani hidup bersama kaum petani karet, sebuah momen yang mengubah hidupnya. 

Yasmin dalam perjalanannya samar-samar ia terbukakan kepada sesuatu yang lain, yaitu cinta. Ia mulai merasakan cinta dalam bentuk yang lain terhadap Saman yang mengejawentah secara indah melalui rasa yang manunggal; ia dan Saman. Rasa tersebut menumbuhkan pula cintanya pada Maya, makhluk cebol albino yang menarikan Sita dalam sendratari Ramayan prakarsa Suhubudi. Sita dalam ideal keindahan yang sama sekali berbeda, namun berhasil dibawakan begitu indah sebab Maya menarikannya sebagai jiwa yang mengatasi raga. 

Setelah lewat masa ngerinya, Yasmin mulai dapat merasakan kasih yang mengharukan bagi Maya, yaitu kaum yang tersisih oleh ketidakadilan. Ia mencintai Maya seperti Saman mencintai Upi, gadis gila berwajah ikan yang Saman coba ringankan penderitaannya. Gadis yang membuatnya gigih memberdayakan petani karet di sebuah kota kecil di pedalaman Sumatera. Gadis yang baginya ia ingin berbuat baik tapi itu pun masih salah. 

Memang bahwa Yasmin dan Saman bisa digantikan oleh tokoh yang sama sekali baru. Tapi pada akhir cerita ketika sang maya mengungkapkan wujudnya, takdir Yasmin yang pada dasarnya juga tak lebih dan tak kurang dari maya itu tidak bisa dianggap pilihan sepele. Kita tak bisa membungkam, bahwa pahit dan manis itu dalam bayang-bayang semu itu diam-diam melahirkan seorang Samantha. 

Keterkaitan antara semua teka-teki itu, berangkat dari surat yang juga berisikan sebuah batu – verbal yang kemudian menjelma concise, namun pada saat yang sama, verbal itu juga digantungi tanda tanya, sementara yang concise justru menjadi retoris, dan lagi-lagi, Maya. Tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa yang dimunculkan dalam novel ini pun mengandung mayanya sendiri: tokoh-tokoh dengan tinggi badan tidak genap, ibu yang putih tanpa suara, wayang manusia, Lara Jonggrang, termasuk batu supersemar yang bergerak di pasaran diam-diam. Akhirnya maya harus bertemu nyata untuk menjadi lengkap, namun bukan seperti ketidaktahuan yang akhirnya harus menuju pada ke-mengetahui-an, Maya tak harus menjelnya Nyata. Maya adalah dalam dirinya sendiri sempurna berdampingan dengan nyata. 
*** 

Ayu Utami memang membangun melankoli melalui kisah-kisah yang ditautkan dengan kondisi bangsa pada masa itu : Yasmin berpisah dengan Saman karena kekasihnya tertangkap aparat hendak membantu pelarian tiga aktivis mahasiswa yang dianggap kiri karena menyuarakan keadilan bagi rakyat kecil; tuduhan komunis selalu jadi andalan rezim untuk membungkam sesiapa yang dianggap melawannya. Saman harus berpisah dengan Upi sebab gadis itu terkurung dalam “sangkar emas”-nya saat perkampungan petani karet tempatnya tinggal dibakar oleh oknum yang ingin memapras perkebunan karet dan menggantinya dengan kelapa sawit yang lebih laku di pasaran; demi kemajuan ekonomi dan pembangunan. Parang Jati harus merasakan pedih manakala menyaksikan Paklik Bandowo, pesuruh ayahnya yang setia, dipenggal tangan kanannya atas tuduhan membangkang terhadap program swasembada pangan yang digagas pemerintah. Padahal ia hanya seorang abdi yang ingin menunjukkan bakti terhadap ndoro-nya dengan turut menanam padi purba dari jaman Majapahit, bukannya padi hibrida lekas panen seperti yang diinstruksikan pemerintah. Tuyul dan gerombolan manusia aneh lain yang dipelihara Suhubudi di padepokannya merasa sedih sebab mereka telah dikalahkan. Saluran benih mereka telah dimatikan melalui vasektomi agar tidak berbuah. Waktu itu, pemerintah gencar mempromosikan program Keluarga Berencana (KB). Segerombolan manusia siluman tentu tidak masuk dalam apa yang direncanakan tersebut, maka harus disingkirkan, atau paling tidak dicegah supaya tidak beranak-pinak lebih banyak lagi. Biar populasi mereka hilang dengan sendirinya. 

Sejarah dan spiritualitas kritis telah menjadi pilihan Ayu Utami dalam menggarap seri Bilangan Fu. Orde Baru masih menjadi garapan Ayu yang mengajak pembaca lagi-lagi untuk tidak gampang terpesona oleh lupa. Bersama dengan itu, kelupaan dijajarkan dengan ketidaktahuan, dan keduanya tak sama, tidak pernah sama. Maya adalah sebuah novel yang menyorot satu sisi penting, jangan lupa dan bernostalgia dengan romansa dan hadapilah. 

Perhatikan cara Ayu Utami berkisah sekaligus mengkritisi. Menghibur sekaligus memperkaya. Lebih penting lagi, ia tahu betul bagaimana menggulirkan cerita dengan baik sehingga pembaca tinggal hanyut saja bersama jalinan kisah yang ia rangkai. Tuturan yang apik menurut ukuran saya memang adalah kekuatan utama Ayu Utami. Dalam setiap bukunya, Ayu Utami selalu memadukan ramuan cerita yang berbobot dan tema beragam dengan diksi yang menarik serta penuturan yang runtut dan jernih. Tema-tema yang berat seperti politik, sejarah, spiritualitas, seksualitas, dan lain sebagainya – ia kemas dengan manis dalam cerita fiksi romantis. Itulah yang membuat saya jatuh cinta dengan penulis satu ini. Saya memang tak pernah suka bacaan yang terlalu kaku dan ruwet, tapi kali ini adalah pengecualian. 

Cara Ayu Utami yang memilih ending yang legawa, menentramkan terasa sangat berbeda dengan Bilangan Fu yang muncul di tengah kelompok radikal atas nama agama yang membuatnya tetap relevan. Tapi lagi-lagi buku Ayu Utami memang bukan untuk dibaca sebagai kesimpulan. Novel-novel Ayu Utami selalu tentang proses dan menghidupinya agar tak jatuh di jurang yang sama, untuk itu Maya berhasil meringkus dengan cermat. 

Sekalipun, bagi saya pribadi Maya tetap menyisakan ketidakpuasan. Lebih tepatnya rasa penasaran pada sejumput teka-teki yang masih belum terang pada akhir cerita. Biar bagaimanapun, toh semua karya Ayu Utami selalu terikat dengan benang merah tema yang sama: kemanusiaan dan keluasan pikiran.

Episteme

Bisma dan Kisah Cintanya yang Rumit

April 07, 2016

Menjelang semester-semester akhir masa perkuliahan, saya masih mengambil beberapa mata kuliah untuk hiburan. Mungkin terdengar tidak biasa. Buat apa? Kredit SKS sudah mencukupi; dan saya juga sudah memasuki tahap pertengahan skripsi. Mengambil mata kuliah sudah tidak lagi penting. Apalagi mata kuliah yang saya ambil ini sebenarnya lintas fokus - Religi dan Budaya. Tidak wajib. Sementara fokus saya sendiri adalah IPTEK. Tapi sejujurnya, saya suka mengambil mata kuliah dimana saya bisa belajar banyak disana, bukan yang melulu berpikir. Filsafat Wayang, itu nama mata kuliahnya.

Dunia pewayangan memang dekat dengan sejarah lampau dan masa kini Indonesia, lebih lagi bagi masyarakat Jawa dan Bali. Tidak hanya menyajikan kisah yang menarik, ada banyak ajaran tentang kehidupan. Di sisi lain, pertunjukan Wayang juga tidak bisa dianggap angin lalu karena di dalam pementasan banyak terdapat nilai-nilai estetika yang tinggi dalam sebuah lakon drama; kesenian yang tertuang dalam sastra, suara, karawitan hingga seni rupa. Sangat disayangkan, kekayaan filsafat yang ada di dalam Wayang ini belum ada yang secara sistematis mampu dibedah secara substansial. Akibatnya, sebagian besar dunia akademisi seolah memandang sebelah mata filsafat yang terkandung dalam wayang. Kearifan lokal nusantara yang kalah dengan hegemoni filsafat barat yang telah lama diajarkan dalam bangku kuliah.

Apa yang akan saya pelajari dalam mata kuliah ini? Apakah saya akan diajari mendalang? Haha tentu saja tidak! Dalam bahasa Jawa, kata Wayang berarti Bayangan. Sementara ditinjau dari aspek filosofis, Wayang dapat diartikan sebagai bayangan atau cerminan seluruh sifat-sifat yang ada dalam diri manusia. Kebacikan dan kebathilan. Seperti Mahabarata misalnya; terdapat dua versi kisah. Mahabarata versi India dengan Mahabarat versi Jawa. Keduanya terdapat lakon yang hampir sebagian besar sama, sekalipun nantinya akan terdapat beberapa perbedaan kisah karena penyesuaian dengan kultur masing-masing.

Dari sekian banyak ilmu dan penuturan kisah tentang Wayang saat kuliah, ada satu cerita menarik tentang hidup selibat yang diambil dari Mahabarata. Kisah ini jarang sekali menjadi tema pementasan wayang di nusantara. Baiklah kukisahkan ulang kepadamu tentang Resi Bisma, sebagaimana yang tertulis dalam Kitab Bhismaparva.

***

Sebelum menjadi Bisma ia masih bernama Dewabrata, memiliki arti keturunan Barata yang luhur. Bisma merupakan putra dari Raja Hastina yang saat itu dipimpin oleh Prabu Santanu, ia merupakan buah cinta sang raja dengan Dewi Gangga. Dikisahkan saat lahir, sang ibu moksa ke alam baka meninggalkan Dewabrata yang masih bayi. Hal ini terjadi karena Prabu Santanu melanggar janji kepada Gangga. Mulanya, Gangga meminta agar apapun yang dia lakukan kepada anaknya kelak, Prabu Santanu tidak boleh melarang. Saat Gangga melahirkan anak pertama hingga ketujuh, ia langsung membunuhnya di sungai. Hingga akhirnya saat anak kedelapan lahir – si Dewabrata, Prabu Santanu melarang Gangga membunuh Dewabrata. Gangga tidak pernah mengungkapkan alasannya membunuh ketujuh anaknya, hingga akhirnya ia menjelaskan alasannya ia membunuh ketujuh anaknya sebagai penebusan terhadap kutukan Resi WasisthaHanya saja Gangga baru memberi penjelasan usai Prabu Santanu melarangnya. Teringat akan janjinya yang dulu, dan ia merasa Prabu Santanu tidak bisa menepati janji; maka ia pergi meninggalkan sang Raja beserta Dewabrata kecil.

Tak bisa lama-lama ditinggal, akhirnya Prabu Santanu mencari wanita yang mau diperistri dan bersedia menyusui Dewabrata. Pencariannya berakhir hingga ia pergi ke Negara Wirata, dan bertemu dengan Dewi Setyawati. Sang Prabu ingin mengambil Setyawati sebagai permaisuri, sekalipun ia telah bersuamikan Parasara serta telah memiliki satu anak, Resi Byasa. Hanya saja, untuk dipersunting; Setyawati mengajukan persyaratan bahwa kelak anak-anaknya yang berhak untuk menjadi raja di Hastina. Awalnya, Prabu Santanu jelas menolak, karena ia telah menetapkan bahwa titisan raja akan diberikan kepada Dewabrata, sang putra mahkota. Namun sepanjang perjalanan ia terus teringat Setyawati dan akhirnya menjadi sakit. Prabu Santanu kembali bertemu dengan Setyawati. Juga karena Dewabrata yang tidak tega melihat sang ayah jatuh sakit, Dewabrata meminta ayahnya untuk segera mempersunting Setyawati. Tak lama setelah itu, Setyawati melahirkan Citrānggada dan Wicitrawirya yang menjadi saudara tiri dari Dewabrata.

Sebagai penerus tahta, Prabu Santanu menaruh harapan banyak kepada puteranya. Maka ketika masih muda, Dewabrata dikirim untuk berguru pada ksatria-ksatria dan resi-resi ternama untuk belajar ilmu ketatanegaraan, rohani, militer dan kanuragan. Dia berguru pada Resi Bhraspati. Resi Sukra, Resi Markandya, dan Resi Wasista. Dewabrata pun tumbuh menjadi seorang lelaki yang sakti dan berilmu tinggi.

***

Hingga pada suatu hari, tibalah waktu dimana Dewabrata akan diangkat menjadi Raja Hastina menggantikan sang ayah Prabu Santanu. Setyawati yang mengetahui rencana tersebut, kemudian membawa serta Citrānggada dan Wicitrawirya dan berbicara pada Prabu Santanu. “Prabu, ingatkah dulu siapa yang menolongmu saat terluka di hutan? Akulah orangnya” belum sempat Prabu Santanu menjawab, istrinya kembali menyambung, “Dan anak yang kubawa ini adalah putramu. Bukankah dulu engkau pernah berkata, ‘mintalah apapun, pasti akan kupenuhi’.”. “Lalu sekarang apa pintamu?” balas Prabu Santanu. “Pintaku, jadikan dia Raja Hastina” Setyawati membalas dengan pasti, dan setengah memaksa.
***

Samar-samar Dewabrata mendengar percakapan itu. Ia sadar bahwa Ayahnya tidak dapat memungkiri janjinya. Maka dengan lapang dada, Dewabrata menyerahkan takhta Hastina pada adik tirinya. Belum puas sampai disitu, Setyawati berkata lagi “Aku mempercayai ketulusan Dewabrata untuk memberikan takhta Hastina kepada puteraku, namun bagaimana dengan keturunannya nanti? Akankah anak-anaknya akan menjadi Raja juga?” (pertanyaan Setyawati yang lebih mirip pernyataan memang membuat gemas siapapun yang membaca). Ia bertanya dihadapan sang raja dan Dewabrata.

***

Sebagai seorang anak yang berbakti, Dewabrata telah bersedia melepaskan mahkota kerajaan untuk adiknya. Tetapi Prabu Santanu juga mengkhawatirkan akan terjadi pertentangan antara keturunan Dewabrata dengan keturunan adiknya yang kelak menjadi raja. Kebijaksanaan melingkupi Dewabrata kala itu. Karena cintanya kepada kerajaan dan sang Ayah, Dewabrata bersumpah untuk tidak menikah hingga akhir hayatnya mati. Sumpah yang dikenal Brahmacarin. Melihat ketulusan Dewabrata, sang ayah menganugerahinya suatu mantra Aji Swacandomarono, yaitu suatu aji-aji dimana ia hanya bisa mati atas kemauannya sendiri serta bisa memilih hari kematiannya. Juga dengan kesaktian yang dimiliki, banyak yang akan bertekuk lutut kepadanya. Sumpah yang dengan berani diucapkan Dewabrata itu tentu membuat gempar kerajaan hingga menyebar dengan cepat sampai luar Kerajaan Hastina. Dan sejak saat itu ia dikenal dengan nama Bisma yang berarti menggemparkan. Kelak, sumpah itu pula yang akan disesalinya kemudian. Karena bukan hanya karena selibat seumur hidup saja, namun justru karena keturunan Dewi Setyawati lah yang menyeret Hastina pada suatu perang saudara yang besar, Bharatayuda.

***

Waktu berlalu, hingga pada suatu hari ada sayembara di Kerajaan Kasi untuk mendapatkan tiga putri dari kerajaan. Sudah menjadi tradisi, bahwa kerajaan Kasi akan memberikan putrinya kepada pangeran keturunan Kuru. Namun, saat Wicitrawirya mewarisi takhta Hastinapura, tradisi itu tidak dilaksanakan. Hingga kemudian raja dari Kerajaan Kasi mengadakan sayembara dan yang berhasil memenangkan sayembara tersebut kelak akan berjodoh dengan ketiga puterinya. Siapa yang tidak tergiur dengan sayembara tersebut, tentu ada banyak yang mengikuti, namun banyak juga yang gagal akibat sulitnya memenangkan sayembara. Bisma mendengar sayembara itu dan tergeraklah hatinya. Ia percaya diri dengan kekuatan juga kesaktian yang dimiliki. Sebenarnya tujuan Bisma adalah untuk membawa ketiga puteri itu untuk diperistri sang adik yang telah menjadi Raja Hastina. Perkiraanya tidak meleset, Bisma berhasil mengalahkan semua peserta yang ada, termasuk Raja Salwa; yang sebenarnya sudah dipilih Amba untuk menjadi suaminya. Namun hal itu tidak diketahui Bisma, dan Amba pun tidak berani untuk mengatakannya. 

Bisma membawa Amba, beserta dengan kedua adiknya Ambika dan Ambalika untuk dibawa ke Hastinapura dan menikah dengan sang Raja. Ambika menikah dengan Citrānggada dan Ambalika akhirnya menikah dengan Wicitrawirya, namun tidak dengan Amba. Hatinya sudah tertambat kepada Salwa, dan ia pun mejelaskan bahwa sebenarnya ia sudah memilih Salwa untuk menjadi suaminya. Sementara sang adik yang telah menjadi raja, merasa bahwa tidak baik menikah dengan wanita yang sudah terlanjur mencintai orang lain, hingga akhirnya ia mengizinkan Amba untuk pergi menghadap Salwa. Merasa lega, Amba kemudian pergi menghadap Salwa. Namun apa yang ia dapatkan ternyata tidak sama dengan yang menjadi harapannya. Salwa menolak Amba. Ia enggan menikahi wanita yang telah direbut darinya, bahkan Salwa merasa justru Bisma yang pantas menikah dengan Amba, karena Bisma yang berhasil mengalahkan dirinya. 

Dengan rasa malu dan kecewa, Amba kembali ke Hastinapura untuk minta dinikahkan dengan Bisma. Sayang seribu sayang Bisma juga menolak. Bukan tanpa alasan, janji untuk selibat tidak menikah seumur hidup membuat dia harus menolak Amba. Bukan main betapa hancur perasaan Amba kala itu. Amarah dan kecewa bercampur menjadi satu, hingga tangisnya pecah.

***

Bisma menenangkan gadis yang menangis dihadapannya ini dengan penuh kelembutan. Ia sayang pada Amba, juga kasihan padanya. Namun ia juga tidak bisa berkata apa-apa. Air mata Amba telah membuatnya menangis, namun air mata yang ia tangiskan sendiri tidak keluar karena terdapat dalam hatinya. Ia menyesal karena kehidupan wanita ini telah hancur karena dirinya. Ia berkata lembut Amba “Aku turut bersedih atas semua yang telah terjadi. Aku tidak bisa menikahimu. Kau tahu bahwa aku telah bersumpah untuk menjadi seorang brahmacarin sepanjang hidupku. Bagaimana aku bisa menikahimu? Tolong hilangkan pikiran itu dari pikiranmu. Itu tidak mungkin. Seandainya engkau memberitahu aku, bahwa kau telah memilih suamimu – si Salwa, hal ini tidak akan terjadi. Tetapi seseorang tidak bisa mengendalikan nasib. Kau tidak pernah bisa menjadi pengantin wanitaku. Aku tidak bisa membantumu mengatasi keadaan yang sulit ini. Aku pasti akan menikahimu, jika segalanya berbeda. Tetapi sekarang, aku terikat sumpahku. Aku tidak bisa membantumu seperti yang engkau inginkan.” dan Bisma pergi dari hadapannya. Usai Bisma pergi, Amba merasa hidupnya tidak lagi berarti. Perlahan muncul kebencian terhadap Bisma. Batas yang tipis antara benci, kecewa dan patah hati. Rasa cinta Amba yang sebenarnya terpendam yang tak mampu tersalurkan karena luapan amarah yang begitu besar.

***

Amba memutuskan untuk melakukan pengembaraan. Ia pergi ke lembah, gunung, hingga ke hutan-hutan.
 Ketika berada di dalam hutan, Amba bertemu dengan Resi Hotrawahana, kakeknya. Amba bercerita apa yang terjadi pada dirinya. Setelah mendengar masalah sang cucu, resi Hotrawahana meminta bantuan Rama Bargawa, guru Bisma untuk membujuk Bisma agar menikah dengan Amba. Namun, bujukan Parasurama juga terus ditolak oleh Bisma, hingga sang guru marah dan menantang untuk bertarung. Pertarungan antara guru dan murid itu berlangsung sengit, dan baru diakhiri setelah para dewa menengahi permasalah tersebut.

Tidak menemukan titik terang, Amba kembali pergi berkelana dan bertapa. Ia memuja para dewa, memohon agar bisa melihat Bisma mati. Melihat ketekunannya, Sangmuka muncul dan memberi kalung bunga kepada Amba. Putera Dewa Sangkara itu berkata, bahwa orang yang memakai kalung bunga tersebut yang akan menjadi pembunuh Bisma. Setelah mendapat kalung bunga dari Sangmuka, Amba berkelana mencari ksatria yang bersedia memakai kalung bunganya. Tidak ada seorang pun yang mau memakai kalung bunga itu, sekalipun pemberian dewa. Mereka tahu, bahwa yang dihadapi adalah Bisma. Hingga sampailah Amba di Kerajaan Panchala, ia bertemu dengan sang raja yang bernama Drupada. Rupanya Drupada juga takut jika harus melawan Bisma. Tidak tahan lagi, Amba mencapai puncak amarahnya dan melemparkan kalung bunga itu ke tiang balai pertemuan Raja Drupada.
Ada dua versi kematian Amba. Pertama, karena panah Bisma. Kedua, karena ia membakar diri.
(Picture by : google.com)
Dengan penuh rasa kebencian terhadap Bisma, Amba kembali melakukan tapa. Dalam pikirannya, Amba hanya ingin melihat Bisma mati. Seperti tak pernah lelah, Amba selalu memohon tanpa henti. Sang Dewa melihat kegigihan Amba, Dewa Sangkara kembali muncul dan berkata bahwa Amba akan reinkarnasi sebagai pembunuh Bisma nantinya. Usai mendengar pemberitahuan itu, Amba membuat api unggun, lalu membakar dirinya sendiri. Amba menjemput kematiannya sendiri untuk dapat terlahir kembali. 

***

Kabar kematian Amba sampai juga di telinga Bisma. Semakin bertambah kalut perasaan Bisma mengetahui Amba yang ia cintai telah tiada. Bisma diselimuti perasaan bersalah karena telah memberikan harapan palsu pada Amba dan membuat seumur hidupnya menjadi kacau hingga kematiannya. Namun apalah daya seorang Bisma, sekalipun ia kuat dan sakti; namun ia tetaplah ksatria yang harus setia dengan sumpahnya. Sementara Prabu Santanu turun tahta sebagai raja, ia memutuskan menjadi pertapa dan tahta digantikan oleh anaknya. Sayangnya kedua anak Prabu Santanu kemudian meninggal secara berurutan, sehingga tahta kerajaan Hastina dan Ambika serta Ambalika (janda dari Citrānggada dan Wicitrawirya) diserahkan pada Byasa, putra Setyawati dari suami pertama. Byasa-lah yang kemudian menurunkan Pandu dan Drestarata, orangtua Pandawa dan Korawa.

Seperti janji Dewa kepadanya, roh Amba menitis kepada Srikandi. Ia terlahir kembali sebagai anak Raja Drupada dari kerajaan Panchala. Kelak dialah yang akan membunuh Bisma dalam perang Bharatayuda. Di masa kelahirannya yang baru Srikandi adalah istri Arjuna, penengah Pandawa. Meskipun ia seorang wanita tetapi ia terampil dalam ilmu keprajuritan terutama ilmu memanah yang diajarkan Arjuna kepadanya. Srikandi-lah yang bersedia mengambil dan memakai kalung bunga Dewa Sangkara, dan itu berarti dia juga yang akan menjadi penyebab gugurnya Bisma.

***

Demi tanggung jawab untuk membela Hastina, Bisma tampil saat perang Bharatayuda. Ia menepati janjinya untuk melindungi Kerajaan Hastina, terlepas dari siapa yang menjadi rajanya. Bahkan saat perang, Bisma menjadi panglima Kurawa, walau di dalam hatinya Bisma tidak pernah setuju pada perbuatan dan tindakan para Kurawa. Bisma yang semakin menua namun kesaktiannya tak terkalahkan. Semua panah, pedang hingga tombak tidak ada yang mampu menembus tubuhnya. Senjata-senjata itu rontok seperti rambut yang berjatuhan. Bahkan dengan mudah, ia berhasil mengalahkan Seta ditepi Sungai Gangga, serta mengangkat dan melempar tubuh Drestajumna keluar dari pagar garis medan pertempuran.

Pada Malam harinya, Kresna yang sudah kehabisan akal mengajak Arjuna mengunjungi tenda Resi Bisma. Berkat Aji Halimunan yang juga dimiliki oleh Arjuna, keduanya berhasil memasuki tenda Resi Bisma tanpa diketahui oleh para pengawal Kurawa. Kresna membujuk Bisma untuk mengalah, namun Bisma hanya tersenyum. Walaupun sebenarnya Bisma menyadari bahwa jika Hastina dibawah kepemimpinan Pandawa dan penerusnya, maka Kerajaan Hastina akan mendapat kejayaan. Bisma juga mengakui Laksmana Mandarakomara, anak dari Suyudana, sebagai seorang yang tidak pantas menjadi raja. Bisma yang sadar akan kesaktiannya, juga menyadari bahwa dia jugalah yang menjadi hambatan besar bagi Pandawa untuk meraih kemenangan.

Kedatangan Kresna dan Arjuna malam itu tampaknya membuat Bisma tersentuh. Pernyataan Kresna yang menyatakan selama ini Bisma tidak adil, karena hanya menjadi pelindung para Kurawa dan melalaikan para Pandawa. Bisma juga dinilai tidak membela sama sekali saat Pandawa terusir dari negerinya, juga saat Drupadi, istri Yudistira mendapat penghinaan dari orang-orang Kurawa. Meskipun terus mengelak, sebenarnya dalam hati Bisma mengakui bahwa dia telah menelantarkan para Pandawa. Akhirnya, Bisma memberi petunjuk bahwa dia pantang menyerang seorang perempuan. Jadi, lanjut Bisma lagi, tampilkanlah seorang perempuan untuk melawan dan menjadi perisai bagi Arjuna.

Keesokan hari, memasuki hari ke-10 Perang Bharatayuda. Kresna menampilkan Srikandi, istri Arjuna. Srikandi bertugas untuk mendampingi sang suami menghadapi Bisma. Pertimbangannya, karena Srikandi telah mahir menggunakan panah. Kutukan Amba akhirnya memang menjadi kenyataan. Saat perang akbar di Kurusetra, Srikandi turut terjun ke medan laga. Ia berhadapan dengan Bisma, itulah kali pertama Srikandi berhadapan dengan sangat dekat dengan Bisma, yang sudah terlihat menua. Srikandi berkali-kali dipukul oleh Bisma, namun tidak membalas sedikitpun. Srikandi merasa seperti pernah mengenal Bisma. Disaat yang bersamaan, saat memandang Srikandi yang masih muda, dirinya merasa seperti berhadapan dengan Amba. Ia kembali mendekat, dan terkejut saat menyadari sepenuhnya, Srikandi adalah titisan Amba. Dalam pandangannya, sekejap yang terlihat dalam Srikandi adalah wajah Amba seutuhnya. 

Bisma kemudian teringat pada saat memberitahu Kresna dan Arjuna semalam, namun ia tidak menyangka bahwa yang akan tampil adalah seorang titisan Amba. Bisma melihat jiwa Amba berada pada raga Srikandi, pada saat itulah ia menyadari bahwa waktunya telah tiba, Amba telah datang menjemputnya. Dalam hatinya ia terus bertanya dengan kalut, masih dengan perasaan bersalahnya “Ambaa... kekasihku, engkaukah itu?”. Bisma berdiam diri, lama teringat dalam lamunannya di masa lalu, saat Amba dengan manja memeluk dan memohon kepada Bisma. Keelokan Amba yang masih terasa mempesona baginya.

Melihat Bisma sedang tidak dalam situasi kondusif, Kresna langsung memerintahkan Srikandi untuk memanah Bisma. Dengan berkalung bunga yang dulu diberikan oleh Dewa, segera Srikandi meluncurkan panah kepada Bisma. Anak panah yang melesat dengan kekuatan tinggi dengan cepat langsung mengenai dada Bisma. Setelahnya dengan cepat Arjuna membantu Srikandi melayangkan serbuan anak panah yang lain hingga Bisma terjatuh ke bumi, di Tegal Kurusetra. Jatuhnya Bisma seolah pertanda bahwa sumpahnya telah tercabut. Bisma merasakan bahwa inilah saatnya ia terlepas dari tanggung jawab sumpahnya sendiri, dan ia bisa menjalin kisah kasih yang sempat tertunda di kehidupan selanjutnya.

Sekalipun tubuh Bisma dipenuhi oleh panah-panah yang menancap, ia tidak segera mati. Dengan Aji Swacandomarono yang dimiliki, Bisma masih mempunyai kesaktian untuk menentukan kapan kematiannya. Para Pandawa, Kurawa serta para pini sepuh mendatangi Bisma, ia berkata butuh bantal untuk menyangga kepalanya; Suyudana segera menyuruh para Kurawa mengambil bantal yang empuk dan indah, berupa tilam bersulam emas dari Istana Hastina. Tapi Bisma menolaknya seraya memanggil Arjuna, tentu Arjuna mengerti apa yang diinginkan Bisma. Arjuna segera melepaskan tiga buah anak panah yang menancap di tanah sedemikian rupa yang membentuk penyangga kepala bagi Bisma. Sedangkan Werkudara memberikan perisai-perisai perajurit yang telah gugur untuk menyelimuti Bisma. Pandawa juga membuatkan penutup kelambu untuk menghormati Bisma. Lagi, Bisma kemudian meminta minum, Suyudana segera menyuruh para Kurawa menyediakan minuman dari buah-buahan yang lezat. Namun Bisma kembali menolak, dan meminta Arjuna menyediakan minuman baginya; lagi, Arjuna paham apa yang diinginkan Bisma, maka ia mengambil satu anak panah lagi dan dengan mantranya panah itu dilepas ke tanah, hingga dari tempat panah yang menancap itu muncul semburan air yang menyiram wajah Bisma. Usai terpuaskan dahaganya, semburan air itu pun berhenti. Bisma kembali berkata bahwa ia ingin menyaksikan Bharatayuda hingga akhir. Medan pertempuran pun digeser agar tidak mengganggu Bisma. Perang Bharatayuda dilanjutkan.

***

Delapan hari berselang usai Bisma tumbang, Perang Bharatayuda dinyatakan usai, di hari ke-18. Pandawa muncul sebagai pemenang. Para Pandawa kembali mengunjungi Bisma. Di saat-saat terakhir, Bisma bahkan sempat berpesan kepada Yudistira untuk tidak mengesampingkan kepentingan negara demi kepentingan lainnya. Sekalipun itu demi kepentingan suatu sumpah yang suci.

Di akhir perang Bharatayuda, Srikandi dibunuh oleh Aswatama yang diam-diam menyusup saat ia tertidur lelap di tenda peristirahatan. Roh Srikandi kembali dalam wujud Amba yang telah menanti Bisma. Sesaat setelah Srikandi meninggal dan rohnya kembali bereinkarnasi menjadi Amba, sesaat itu pula Bisma tiada. Bisma telah menuntaskan pertandingan dengan baik, dan ia menghembuskan napas terakhirnya saat Uttarayana.

Perang Baratayudha
(Picture by : Wikipedia)
Dukacita sekejap menjelma jadi sukacita, Bisma meninggalkan raga dengan tersenyum. Bisma dan Amba bersama-sama menuju kehidupan selanjutnya. Mereka bahagia meski tak lagi berada di dunia, roh keduanya pergi dengan damai. Selama masa hidupnya Bisma bergelar resi, ia ahli dalam segala modus peperangan hingga disegani oleh Pandawa dan Korawa. Sekalipun tahta sebagai raja tidak disandangnya, namun Bisma totalitas sebagai penjaga bagi Hastina. Kerajaan yang sempat mengalami masa kelam karena dipimpin oleh para raja yang gila kekuasaan, dapat diselamatkan oleh Bisma. Hingga Kerajaan Hastina disegani oleh negara lain karena kecakapannya dalam berperang. Bisma gugur tanpa mengingkari sumpah sebagai ksatria sejati.

***

Tidak seperti roman yang terdapat dalam epos pewayangan secara umum, Rama-Shinta yang terkenal dalam kisah Ramayan misalnya – kisah kasih tak biasa antara Bisma dan Amba ini sebetulnya menarik. Ada beberapa kajian yang dalam. Bisma terlahir sebagai seorang laki-laki, pada masa itu – mampu meruntuhkan ego-nya untuk tidak gila kekuasaan dan perempuan demi kedamaian keluarga, dan terutama demi kebaikan sang ayah. Dalam kondisi genting, bisa saja dia menarik kembali sumpahnya. Untuk dapat hidup seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa. Tidak perlu juga mempersulit keadaan dengan menyiksa perasaan Amba. Melihat dari kegalauan yang dirasakan Bisma, sebenarnya di lubuk hati terdalam; Bisma tidak punya alasan untuk tidak mencintai Amba. Seorang putri raja yang cantik, anggun, setia, konsisten, segalanya. Namun sebagai kesatria yang telah terikat sumpah, Bisma juga harus memenuhi dharmanya untuk tidak melanggar sumpah. Cinta yang universal memang seringkali sulit diterapkan. Ada banyak bentuk cinta yang bisa dipelajari. Cinta kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada keluarga, kepada sahabat, kepada pasangan. Sekarang tinggal bagaimana meletakkan semua cinta tersebut dalam urutan yang tepat sesuai dengan peran dan kehidupan.

Rupanya hal cinta ini bukan persoalan yang remeh-temeh dan menye-menye. Ini krusial, kalau saja disadari. Sebab cinta dan benci bisa menjadi energi yang luar biasa untuk mewujudkan sebuah keinginan. Seperti keinginan Amba untuk membunuh Bisma, karena luapan cinta yang terlalu penuh dan akhirnya berubah menjadi benci. Amba bisa bersikap seperti itu karena keinginannya yang begitu besar untuk balas dendam, akibat perbuatan Bisma yang terikat sumpah sehingga tidak bisa menikahinya. Tapi juga bisa diartikan karena cintanya yang begitu besar kepada Bisma sehingga dia ingin sekali menjadi orang yang bisa membebaskan Bisma dari hukuman kehidupan dunia sehingga bisa kembali ke asalnya sebagai Vasu. Batas tipis di antara cinta dan benci membuat keduanya sesuatu yang hampir sama, something in between, hanya soal sudut pandang saja.

Perkara cinta itu rumit, dia bagian dari rasa yang tidak bisa tersentuh secara ragawi. Rasa, tak terlihat, namun berimplikasi. Rasa, ia terus tumbuh, dan membahayakan. Seandainya tanpa rasa cinta, Amba tak perlu kabur kesana-kemari hingga mengembara kemana-mana. Juga Bisma tak perlu menyesali dirinya atas sumpah Brahmacarin yang berlaku seumur hidup. Cinta adalah sesuatu yang tidak sistematis. Idealnya ia bebas, tidak terikat sistem. Manusia-lah yang membuat cinta menjadi rumit. Ia berjalan diluar rencana, tanpa prediksi. Muncul begitu saja, dan terasa sulit untuk dikendalikan. Ia berjalan tanpa pedoman, sesuka hati. Diantara segala kerumitannya, dunia tanpa cinta juga terasa hampa. Karena ia indah, membawa bahagia (meski terkadang malapetaka), dan penuh warna.

***

Belajar filsafat wayang sebahagia itu rupanya. 
Meski untuk paham lebih dalam tentang elegi antara Bisma dan Amba semenyedihkan itu pula.




Ps. Mungkin kisah Bisma ini baik dipentaskan pada Pesta Tahbisan seorang imam. Ups!

Cerita Buku

Mengobati Rindu ke Bali dengan Membaca Tarian Bumi

March 10, 2016

Cover buku Tarian Bumi versi lama. Suka!
(Picture by : Yerinta)
Ketiadaan akan buku yang saya cari justru membawa saya pada ketidak-sengajaan menemukan buku ini. Kadang-kadang yang tidak direncanakan justru menjadi jodoh. Siapa sangka, berawal dari Tarian Bumi membawa saya kepada karya-karya sastranya yang lain.

***


Adalah Oka Rusmini, seorang perempuan Bali yang ikut meramaikan dunia kesusastraan Indonesia. Ragam tema yang diangkat tidak jauh-jauh dari lingkaran feminisme. Salah satu tujuan dari pengangkatan tema feminisme adalah ingin menyetarakan kedudukan perempuan dengan laki-laki. Selama ini, budaya patriarki yang masih kental, membuat kedudukan laki-laki dipandang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Dalam budaya patriarki juga, terdapat nilai-nilai perempuan sebagai sosok yang lemah dan memerlukan perlindungan laki-laki. Padahal yang dibutuhkan adalah laki-laki untuk menjadi partner setara dengan perempuan, bukan yang meng-ungguli. Kini sudah banyak penggiat sastra perempuan bahkan para feminis tidak ingin hal itu terjadi terus-menerus, karena hal itu sama halnya dengan pengekangan terhadap perempuan. Tema feminisme memang sepantasnya diangkat karena para perempuan juga memiliki kebebasan personal secara politis, dan tidak hanya dipandang dari segi seksisme semata.

Dengan mengambil latar belakang budaya Bali, tentu akan menambah animo bagi pembaca yang fanatik dengan hal-hal yang berbau Bali. Karena selama ini, Bali lebih dikenal dengan eksotisme pantai dan tariannya yang kerap ditonjolkan oleh media. Namun, adakah kita mencari tahu lebih dalam tentang kehidupan masyarakatnya?

Dalam novel Tarian Bumi, Oka Rusmini berani menyuguhkan sebuah realita Bali yang jauh dari kesan estetik, seperti orang-orang yang biasa melihat kemasan luarnya, sebagaimana Bali dikenal. Konten dalam novel sendiri juga berusaha menjabarkan kalau sebenarnya Bali juga memendam luka yang teramat dalam bagi para penghuninya. Daya pikat dalam novel ini bukan hanya dari segi gaya bahasa yang padat, indah dan mengalir – namun juga dari kisah yang diceritakan dalam novel ini, yaitu bercerita tentang perjuangan wanita Bali dalam mencapai kebahagiaan serta bagaimana menghadapi realitas sosial budaya di sekelilingnya.

***

Novel Tarian Bumi mencoba untuk menggambarkan keadaan masyarakat Bali dengan berbagai problematika sosial serta aturan adat yang harus dipatuhi. Tokoh utama dalam novel juga mengupas kehidupan perempuan Bali yang notabene jarang dijumpai dalam karya sastra yang sudah ada. Sedari awal, Tarian Bumi sudah bercerita tentang pemberontakan terhadap adat yang dipandang sebagai ketidakadilan sistem oleh para tokoh wanita di dalamnya. Tidak tinggal diam, mereka – para tokoh wanita – mencoba memperjuangkan nasib dengan menentang adat.

Berkisah tentang tiga tokoh sentral, yang ketiganya adalah perempuan. Ida Ayu Telaga Pidada – seorang putri Brahmana, kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali, yang hidup di antara dua perempuan beda generasi dan kasta. Telaga merupakan anak dari Luh Sekar – seorang perempuan sudra yang naik kasta karena menikah dengan kasta Brahmana, yang mana adalah anak dari Ida Ayu Sagra Pidada, seorang bangsawan murni yang mengagungkan nilai cinta dan status sosial. Juga yang membuat novel Tarian Bumi menarik adalah pilihan diksi yang luas dan tidak terpaku pada ketiga tokoh sentral. Karena ada juga perempuan lain dengan berbagai karakteristik sendiri yang juga dibahas dalam novel ini. 

Sebagian besar konflik para perempuan Bali terpicu karena masyarakatnya selalu menilai dan menentukan segala sesuatu berdasarkan kasta. Dan yang paling menonjol di sini adalah pernikahan. Mereka, baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan memilih pasangan hidup yang sederajat. Ketika itu dilanggar, maka pihak perempuanlah yang paling dirugikan. Mereka harus merasakan jauh dari keluarga kandungnya, tapi tak pernah dihargai oleh keluarga baru mereka. 

Selain kasta, perilaku kaum laki-laki pun tak kalah meresahkannya bagi perempuan. Geli juga, karena saat membaca saya merasa kalau si penulis memang terkesan tidak adil. Hampir seluruh laki-laki dalam novel ini digambarkan sebagai sosok yang tak bertanggung jawab. Mereka hanya pandai menakar tubuh perempuan demi memuaskan nafsunya. Bahkan, mereka sengaja menikahi perempuan yang mandiri dan dapat menghasilkan uang agar bisa bersantai. Tak sedikit perempuan yang bernasib buruk karena ulah lelaki. Menilik pada fakta tersebut, maka wajar jika beberapa tokoh perempuan di sini sangat membenci laki-laki, lalu memutuskan untuk tidak menikah, dan lebih menyukai sesama perempuan. Saya kira, alasan Oka Rusmini untuk memilih peran buruk bagi laki-laki sebagai kritik atas yang seringkali terjadi dalam realitas. Sekalipun tidak secara keseluruhan, tapi dengan begitu diharapkan akan ada perubahan setelahnya.

Dengan ketebalan 174 halaman, rasanya tidak terlalu menghabiskan banyak waktu untuk melahap habis novel ini dalam tempo singkat. Biar begitu, secara keseluruhan, novel ini sangat kaya. Selain tentang konflik perempuan yang beberapa sudah dijabarkan, masih banyak lagi gambaran tentang praktik budaya yang tidak manusiawi dan lebih banyak meberatkan kaum perempuan. Maka tidaklah heran jika Tarian Bumi menjadi fenomenal sekaligus kontroversial, karena Oka Rusmini berani mengkritik kebudayaannya sendiri. Ada banyak makna tersirat yang disampaikan penulis, membuat saya harus benar-benar memahami apa yang dimaksudkan. Selain itu banyaknya pergolakan batin, membuat saya bisa ikut merasakan emosi, luka, amarah yang dipendam oleh masing-masing tokoh.

***

Dilematis memang, saat perempuan Bali ingin melepaskan diri dari adat-istiadat yang telah diberlakukan secara turun-temurun, namun mereka juga tetap ingin menjaga kemurnian kultur di tanah kelahiran mereka. Mereka – para perempuan, berusaha memberontak karena merasa berhak memilih jalan hidupnya sendiri, bukan hanya diatur oleh sistem. Meski pada akhirnya, mau tidak mau, suka tidak suka, mereka tetap tunduk pada adat dan menjalani tradisi yang ada. Kenyataan tak bisa ditampik, karena tak ada pilihan yang tak beresiko. Mematuhi ataupun melanggar adat, keduanya sama-sama harus dibayar mahal.

Bagi yang ingin mengenal lebih jauh tentang kedalaman masyarakat serta budaya Bali, novel ini sangatlah highly recommended. Cerita mengalir, ringan namun berbobot. Hanya saja, memang ada beberapa bagian di masing-masing bab yang terdapat muatan dewasa, maka saya menyarankan hanya untuk usia 21+

Kadang-kadang ketidak-sengajaan membawa kita kepada kesenangan. Kali ini, ketidak-sengajaan saya menemukan Tarian Bumi - yang waktu itu tersembunyi dan tinggal satu, membawa saya untuk membaca seri feminis yang lain, semacam trilogi atau mungkin tiga dara : Sagra - Kenanga - Tempurung.

***

“Manusia hidup memiliki keinginan, memiliki mimpi. Itulah yang menandakan manusia hidup. Batu juga memiliki keinginan. Dalam kediamannya dia mengandung seluruh rahasia kehidupan ini.” (Tarian Bumi, hal. 85) 

Kata-kata

Préambul

February 03, 2016

Kata Preambul lebih sering disalah-eja-kan menjadi Preambule. Kolonial yang bertalian dengan Nusantara di masa lampau ini juga berpengaruh terhadap banyaknya kata serapan yang diadaptasi dari Bahasa Belanda, termasuk juga Preambul salah satunya. Jika diartikan, Preambul juga adalah Pembukaan. Sementara dalam sebuah buku, Preambul juga menjadi bagian dari Pendahuluan atau Kata Pengantar. Judul yang saya ambil dari kata serapan ini, memiliki harapan agar apa yang sudah dimulai dalam tulisan tidak berakhir dengan sia-sia dan memiliki nilai.

(Picture by : Pinterest)

Ada sebuah adagium Latin yang berbunyi : “Scripta Manent Verba Volant” yang kira-kira memiliki arti : yang terucap akan sirna, namun yang tertulis akan abadi. Adagium tersebut diucapkan oleh salah satu Senat Romawi pada sebuah orasi, Senat yang bernama Caius Titus. Tampaknya saya sependapat dengan Titus, si Senat Romawi itu. Adagium itu benar adanya, karena hal tersebut terbukti dengan jejak sejarah berupa batu-batu prasasti kuno, tulisan di lontar, tulisan dalam gua dan masih banyak lagi. Kita bisa menjadi tahu adanya kehidupan di masa lalu dengan arsip tulisan yang menjadi jejak sejarah. Tidak hanya itu saja, dengan adanya tulisan maka kita juga bisa mempelajari hingga menafsir Kitab Suci yang ditulis pada waktu lampau. Teori-teori besar yang mampu merubah dunia, hingga bagaimana republik ini dibangun melalui surat-surat perjanjian yang masih tersimpan dengan baik di museum; menjadi bukti bahwa pentingnya sebuah tulisan dan bagaimana jejak itu menjadi abadi. Sungguh, memang benar warisan terbesar dari masa lampau bukanlah harta karun beserta kotak Pandora, namun peninggalan arsip, pemikiran dan kebijaksanaan yang tertuang dalam tulisan.

Saya sendiri tidak pernah akan tahu sampai usia berapa saya akan hidup. Sudah berapa banyak harta yang bisa saya wariskan nanti. Bagaimana saya nanti akan dikenang. Tapi sebelum segalanya jadi rumit, baiklah saya mewariskan cerita terlebih dulu. Ada banyak sekali kisah-kisah, ide, pengalaman, refleksi hingga gagasan yang terlewatkan begitu saja tanpa ada dokumentasi dengan baik. Setidaknya, walaupun nilainya tidak bisa disamakan dengan logam mulia, masih ada kisah-kisah berharga yang nantinya memiliki tempat di setiap relung-relung hati para pembaca. Oleh karena itu, saya mencoba untuk kembali konsisten menulis. Jika belum mampu menulis untuk orang lain, setidaknya untuk diri sendiri dulu.

Mungkin nantinya akan banyak kisah yang tertuang disini. Kalian bisa membaca secara random, tidak ada aturan khusus harus mana dulu yang dibaca. Tapi ada baiknya kalau kalian membaca secara perlahan-lahan, karena membaca cepat dan perlahan-lahan toh sama-sama akan selesai kok. Tidak perlu juga terburu-buru melahap habis semua kisah disini, perlahan-lahan saja. Bukankah semua yang melewati proses itu memiliki makna dan arti?



Enjoy the story,

-y-