Mendadak Tamasya ke Toya Devasya
November 01, 2016
Demi menjaga kewarasan usai festival literasi yang menyita banyak pikiran dan tenaga, diri ini mengendapkan kebisingan dengan menepi ke sebuah kedai kopi. Bernama Seniman Coffee yang berada di Jalan Sriwedari, Ubud. Kafe ini sering dijadikan tempat kongkow bagi anak-anak festival, begitu kami menyebut. Hari itu saya bersama seorang kawan – yang panggilan kami bagai pinang dibelah dua. Janji sudah dibuat jam 9 pagi tadi, untuk menyelesaikan beberapa tugas dan pekerjaan. Celah waktu yang singkat saya enggan terlambat. Seniman Coffe ini bukan tempat pertama, sebelumnya kami sempat sarapan Nasi Campur di Babi Guling Gung Chung dilanjutkan dengan beberapa desert di Kakiang Bakery. Baru kemudian saat ingin ngopi, kami berpindah ke Seniman Coffee. Sudah tempat ketiga, dan pekerjaan belum juga selesai. Maksud hati menepi sejenak berubah jadi menumpuk penat. Lalu kawan saya spontan bilang, “Kalo siang gak beres-beres juga, ntar ke Kintamani aja yuk, ke air panas.” Saya masih dengan laptop, masih tak juga bergeming, kawan saya itu suka bercanda. Kemudian dia langsung menutup laptop dan mengambil kunci. “Ini seriusan? Belum kelar ini,” saya ragu. “Besok kan kamu sudah harus berangkat ke Bajawa. Habis nganter ke bandara paling besok aku hidden di kantor, nyelesaikan sisa kerjaan ini” balasnya lagi.
***
Dan memang kepergian tanpa rencana itu seringkali benar-benar terwujud tanpa wacana semata. Usai singgah sebentar ke homestay untuk mengambil beberapa keperluan saya, dan tempat tinggalnya untuk keperluan dia, kami nekat berangkat. Ini juga salah satu keuntungan tinggal di Bali, saat penat karena pekerjaan dan ingin menepi barang sejenak, banyak tempat-tempat menarik yang masih alami, seperti ke pantai, air terjun, perkebunan sayur atau bunga, danau, berendam air panas bahkan sekedar ke bukit-bukit menuju Pura. Objek-objek ini dikelola dengan baik, ditambah atmosfir yang mendukung. Maka tidak heran kalau saya masih percaya, the Island of God – ya karena hampir semua tempat, sesederhana apapun tetap indah, seperti diberkati Tuhan. Untuk menuju ke permandian air panas ini tidaklah terlalu jauh, kurang lebih 45 menit perjalanan santai. Masih banyak pepohonan rindang disepanjang jalan yang berkelok-kelok, menemani perjalanan kami menuju kesana. Hingga akhirnya terdapat petunjuk arah yang menunjukkan tempat tujuan.
***
Orang-orang biasa menyebutnya Toya Devasya. Berdekatan dengan si pionir, Toya Bungkah. Letaknya berada di dekat kaki Gunung Batur, atau berada di sebelah barat Danau Batur. Lokasi ini strategis, karena memang berada di bagian tengah Pulau Bali yang sebagian besar berupa dataran tinggi. Pilihan kabur ini tidak salah, karena secara kebetulan tempat ini memang pas untuk melepas lelah, sekedar bersantai sembari berendam di air panas alami ditengah sejuknya udara khas pegunungan Batur. Beruntung, hari itu bukan saat high-season atau weekend, even everyday is a holiday in Bali, tapi setidaknya suasana yang tidak begitu ramai membuat kami lebih bisa menikmati sensasi berendam dalam air panas. Sejauh mata memandang dari kolam, pemandian ini memberikan kenyamanan bagi para pengunjung untuk melakukan aktivitas berendam di kolam air panas. Ada banyak pilihan beragam jenis kolam dan ukuran, kali ini kami memilih kolam yang menghadap ke Danau Batur. Tak heran sih, kolam ini lebih banyak menjadi pilihan, karena dekat dengan kafe – akan memudahkan mereka yang ingin berendam sembari memesan minuman. Saya tipikal orang yang tidak bisa membawa makanan atau minuman dalam air, menikmati hangatnya air satu-satunya yang bisa dilakukan, dan lalu tercenung agak lama, sampai kawan saya bertanya, “Pernah dengar cerita tentang Kebo Iwa?”
***
Sambil menatap danau, kawan saya mulai bercerita. “Legenda Danau Batur tak lepas dari cerita tentang raksasa rakus yang bernama Kebo Iwa. Dulunya, Kebo Iwa ini baik, dia suka menolong penduduk desa dalam membangun rumah, mengangkat batu-batu yang besar, bahkan hingga menggali sumur. Tenaganya sangat besar, begitu pula porsi makannya. Sebagai imbalan, penduduk setempat secara rutin menyiapkan makanan karena Kebo Iwa memang suka makan banyak. Lama kelamaan, penduduk tidak bisa menyediakan makanan karena porsi yang semakin banyak. Maka mengamuklah Kebo Iwa, ia kemudian merusak apa saja yang ditemui, termasuk rumah penduduk, kebun hingga sawah. Hingga tibalah musim kemarau dan panen gagal. Penduduk semakin susah untuk mendapatkan makanan. Tentu berdampak kepada Kebo Iwa yang juga kelaparan. Lalu ia semakin merusak apa saja, termasuk Pura tempat ibadah. Tidak berhenti disitu, Kebo Iwa juga mengejar dan membunuh warga. Penduduk yang diliputi rasa takut kemudian muncul ide bagaimana caranya membunuh Kebo Iwa.
Penduduk yang dipimpin Kepala Desa mengadakan kesepakatan dengan Kebo Iwa. Isi kesepakatannya adalah apabila Kebo Iwa bisa memperbaiki rumah-rumah yang dirusak, maka akan disediakan makanan. Tak hanya rumah, tetapi jika Kebo Iwa bisa membuat sumur maka ia akan diberikan makanan dengan kuantitas yang lebih banyak lagi.
Mendengar hal tersebut, tentu saja Kebo Iwa setuju. Ia kemudian mulai menggali sumur besar. Sementara Kebo Iwa menggali, penduduk mengumpulkan batu kapur di pinggiran sumur. Meskipun Kebo Iwa sempat curiga soal batu-batu kapur itu, namun ia kembali fokus dengan yang dikerjakannya karena dijanjikan makanan yang lebih banyak. Kebo Iwa tetap menggali sumur sampai airnya keluar dan membanjiri tanah sekitarnya. Setelah pekerjaannya dirasa cukup banyak, Kebo Iwa istirahat dan menyantap makanan yang telah disediakan hingga mengantuk dan tertidur. Pada saat itulah, penduduk melemparkan batu-batu kapur ke arah Kebo Iwa yang terlelap, namun Kebo Iwa baru sadar saat air sudah tinggi. Kebo Iwa mati tenggelam, dan air itu akhirnya menjadi Danau Batur”.
***
Kawan saya selesai bercerita, dan saya baru dengar legenda itu. “Percaya dengan legenda itu?” ia meringis. “Keindahannya tak seperti yang kau khayalkan” Sambungnya lagi.
Kami memandang danau. Namun saya merasa menyatu dengan Danau Batur. Terlepas dari benar atau tidaknya, ada kisah dibalik keindahan Danau Batur. Ada nilai yang tidak sekedar tentang indahnya panorama serta ragam kuliner sekitar. Daya magis Danau Batur yang dikelilingi Gunung Batur dan Gunung Agung semakin menambah betah untuk berlama-lama berendam di Toya Devasya. Overjoyed. Secara teori, air hangat atau air panas lebih tahan dalam menyimpan kandungan padat dan tidak melarutkan. Tidak heran kalau sumber air panas, menyimpan berbagai kandungan mineral yang baik untuk kesehatan, terutama untuk kesehatan kulit. Masyarakat rupanya pandai melihat peluang, maka dibuatlah permandian air panas ini yang bertujuan untuk bisa mengembalikan tenaga para pendaki gunung manakala habis digunakan untuk trekking.
Keberuntungan semakin ditambah dengan langit biru yang cerah namun tidak terik, melembutkan hati untuk senantiasa bersyukur atas alam ciptaanNya sembari melihat jernihnya air danau. Tak lama saya terhenyak, dan menunjuk ke arah timur laut dari permandian. “Bagaimana caranya bisa kesana?” Ujaran yang akhirnya memecah lamunnya.
***
Itu Desa Trunyan. Kebanyakan wisatawan mengunjungi Desa Trunyan, sekedar ingin melihat mayat yang digeletakkan di bawah anyaman bambu dan ditaruh di bawah Pohon Taru Menyan. Tak ayal, pengunjung yang mendatangi Trunyan ini seringkali mendapatkan sensasi ngeri-ngeri-sedap saat melihat tengkorak berserakan di sekitar kuburan. Uniknya, jasad yang ditaruh di bawah pohon-pohon itu tidak mengeluarkan bau tak sedap. Padahal, sesungguhnya keunikan yang dimiliki oleh Trunyan karena masyarakat yang tinggal di sana adalah rumpun suku Bali Aga – subsuku yang menganggap diri mereka sebagai penduduk Bali yang asli. Karena di Bali ini ada dua suku, yaitu Bali Aga dan Bali Majapahit. Ia menceritakan lengkap dalam penjelasan sesingkat mungkin. Pemahaman khas anak desain, tidak bertele-tele, penuh visual, namun mampu terdeskripsi dengan baik. Nah, tentang ragam per-Bali-an dan suku-sukunya, akan saya kisahkan di lain post. Kenapa harus di lain post? Ya biar ber-series aja, kaya drakor 😛
Nampaknya si kawan ini bisa membaca raut wajah saya yang ingin bertualang kesana. Tanpa saya bercakap, dia kembali menjawab. “Iya deh, kedatanganmu kali lain kita pergi ke Desa Trunyan, ya.” Janji itu bak gayung bersambut. Saya suka jalan-jalan, begitupun dia – dan tentunya tawaran tidak akan ditolak. Hanya saja seringkali keinginan terkadang berbenturan dengan waktu, kesempatan juga biaya. Kalau saja tiket pesawat belum dipesan dan sewa tempat tinggal sudah diperpanjang, mungkin akan lebih mudah mendatangi Desa Trunyan entah besok atau lusa. Kalau saja kawan saya bisa membolos tanpa banyak ditanyai alasannya mungkin ia akan lebih banyak waktu yang meluang. Tapi pekerjaan, tidak bisa lagi ditunda. Unfortunately, later means never. Meski semesta enggan mewujudkan seperti keinginan. Komitmen bukan untuk main-main rupanya, meski janji terkadang mudah untuk diingkari. Karena setelah beberapa bulan usai keberangkatan saya dari Bali, ia pindah kerja di Ibukota.
Well, ada baiknya, manusia tidak berharap banyak. Sekalipun hanya tentang sebuah perjalanan.
Ps. Catatan perjalanan singkat ini sebelumnya baru tersimpan di agenda, sebelum akhirnya saya tuliskan dalam website.


0 comments