Life

Selalu Ada Celah, Untuk Menjadi Salah

November 17, 2022

Scene dalam film Gone Girl

Media sosial yang berkembang dengan begitu masif belakangan ini, membuat kita terhanyut oleh berita-berita yang hanya digiring sepihak. Akan selalu ada kontra dalam setiap fenomena yang terjadi. Sementara, citra bisa saja menjadi hancur hanya karena bualan omong kosong lawan yang tidak sepadan, hanya karena memiliki banyak massa yang semu. Potongan kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan itu, mengingatkan pada sebuah perbincangan bersama salah satu kawan, premisnya membuka obrolan sederhana kala itu, “Mengapa muda-mudi itu masih tetap bertahan pada sebuah relasi yang toksik, apakah tidak memiliki opsi untuk keluar dari kubangan?”

Selayaknya Manusia, Tumbuh dan Berkembang, bukan Berkubang

Seperti biasa, ia dengan seksama menjelaskan. Bahwa, terkadang seseorang yang tetap tinggal dalam sebuah relasi tidak sehat, memiliki alasan yang tidak bisa ditemui oleh mereka yang tak pernah mengalaminya. Ada ragam alasan, mulai yang sepele, hingga yang rumit; bahkan mungkin lebih dari sekedar rasa kasihan – bukan kasih – karena, bukan seperti itu cara kasih bekerja. Perkara relasi yang berjalan dengan toksik dan melanggengkan ketimpangan, memang tidak bisa dijawab hanya dengan satu jawaban kemudian berhenti. Mengapa ada yang tetap tinggal dalam relasi yang tidak menyenangkan, yang bahkan kita juga tidak pernah tahu, keberpihakan dimulai dari mana.

Bagi kebanyakan orang yang pernah atau sedang dalam hubungan yang toksik, mereka hidup dalam kondisi di mana tidak memiliki akses pengetahuan terhadap bagaimana relasi yang egaliter. Coping memory terkait relasi yang sehat tidak pernah ada. Atau, jika pun ada, hanyalah sebatas ide, dan tidak dalam implementasi nyata. Ilusi yang juga kerap kali membuat mabuk dengan ide kepemilikan : aku milikmu, kamu milikku. Hanya seputar kepemilikan, dan tidak ada hal lain lagi yang perlu diejawantahkan. Ini terdengar indah, tapi salah.

Pentingnya relasi yang setara, bukan sekedar wacana yang digaungkan oleh kaum feminis. Namun, perilaku sesederhana seperti : kesadaran dalam laku tindakan. Dalam ketimpangan di sebuah relasi, perempuan seringkali menjadi korban. Sementara, ketika kesalahan ada pada pihak perempuan, maka yang terjadi adalah pembalikkan fakta, oleh oknum yang menjadikan konsep feminis menjadi salah arah. Saat seseorang memperlakukan pasangannya seperti benda, maka ia akan cenderung jadi sangat posesif, protektif, dan destruktif. Seperti anak kecil yang marah saat mainannya dirampas atau dimainkan orang lain, begitu pula ketika ia akan merusak mainannya jika sudah bosan dan serta tidak menyenangkan lagi baginya.

Konsep feminisme yang sering digaungkan mengenai kesetaraan, bahkan dalam sebuah relasi yang intim, kini menjadi berubah nilainya. Oknum feminis menyalah-gunakan makna sebuah gerakan kesetaraan. Mereka yang membuat nilai-nilai dalam feminis, seharusnya setara; justru menjadi dominan. Gerakan feminis, berangkat dari ketertindasan atas patriarki yang merajalela, bahkan hingga subordinat terkecil : relasi romantis. Akan tetapi, pemaknaan akan feminis yang salah, mengaburkan nilai-nilai yang semestinya membuat dunia yang seharusnya jauh lebih baik, dan justru yang terjadi adalah kebalikannya. Berlindung dalam konsep feminisme, hanya agar mendapat perlindungan, dan legitimasi bahwa apa yang dilakukan atas keberdayaan dirinya sendiri. Hal yang berlanjut pada pasangan yang bisa menjadi korban atas ego pribadi. Lantas, pasangan juga bisa jadi korban bukan karena ia ingin, tapi karena tak punya pilihan, karena justru pasangannya adalah pihak yang dominan yang menutup segala akses hidup, pekerjaan, keluarga, dan membuat satu pihak bergantung pada yang lain.

Banyak kasus bak gunung es, dimana pasangan memiliki relasi yang timpang. Salah satunya dominasi, dan pasangannya dibuat tunduk. Bahwa ancaman muncul karena rasa sayang, dan kekacauan sikap yang terjadi akibat fluktuasi rasa peduli. Ilusi atas konsep cinta, akhirnya membelenggu relasi yang semestinya bisa bertumbuh. Kekerasan secara psikis seolah-olah dianggap menjadi satu-satunya hal yang dimiliki, karena masih ada seseorang yang peduli. Ketidakmampuan untuk melepas, serta ketidakmauan untuk sendiri, seakan menjadi pembenaran bahwa kekerasan psikis bukanlah hal yang sehat. Relasi ini menempatkan satu pihak sebagai subordinat, sementara yang lain sebagai patron. Jelas tidak seimbang, ketika yang satu pihak dieksploitasi sementara yang lain memonopoli. Rasa bersalah dan tak berdaya kerap kali dimaknai sebagai rasa sayang dan cinta.

Kita perlu menyadari bahwa masyarakat Indonesia memiliki kesadaran yang rendah akan relasi kuasa, ini semakin diperparah dengan kondisi masyarakat yang menguntungkan satu pihak saja. Dalam sebuah relasi, korban seringkali diasosiasikan dengan perempuan, karena dianggap lemah. Namun bagaimana jika perempuan tersebut ternyata adalah pihak dominan yang gemar melakukan playing victim, seperti dalam film Gone Girl? Bukan main-main, dalam film tersebut; Amy (pemeran utama film) tanpa sadar menderita Munchausen Syndrome, yaitu sebuah gangguan langka dimana seseorang berpura-pura sakit untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya, seperti haus akan atensi. Seorang pengidap sindrom ini bahkan rela menyakiti dirinya sendiri untuk meyakinkan hasil pemeriksaan medis. Kalau sudah begitu, biasanya kekerasan dalam kerap kali terkubur, ini jarang untuk digali lebih dalam lagi. Banyak yang mengira masalah dalam relasi yang masih sebatas pacar adalah hal biasa, terlebih ketika kekerasan yang dilakukan adalah kekerasan psikis. 

Bagaimana Itu Bermula?

Intimasi atau kedekatan dalam relasi romantis, adalah sesuatu yang semakin dinormalisasikan dalam kehidupan masyarakat modern. Pemaknaan atas cinta yang konservatif dan sebatas dalamnya perasaan kian ditinggalkan; klasik sekaligus tidak menarik, katanya. Sementara, kedalaman makna cinta sesungguhnya bukan sekedar sentuhan fisik belaka. Dalam negara konservatif dan moderat, sudah hilang anggapan bahwa relasi romantis (pacaran) adalah sesuatu yang hanya boleh dilakukan pasangan yang memiliki tujuan untuk menikah, bahkan intimasi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, dimana jumlah pasangan tidak menikah dan hidup bersama, meningkat drastis dalam negara moderat (Kiernan, 2004). Menyadari narasi tersebut, seringkali terlalu mudah memaknai bahwa intimasi dalam relasi bukan hanya bersumber dari motivasi, dukungan, dan utama – cinta, akan tetapi juga dapat berisi dominasi, ketimpangan, dan yang paling berbahaya : kekerasan (Graf, 2019). Kekerasan disini bukan hanya kekerasan secara fisik yang terlihat oleh pandangan visual, jika kemudian terjadi pelanggaran, maka dapat dikasuskan. Kekerasan juga bisa berarti tekanan yang mengikat secara psikis dan berdampak pada relasi yang toksik.

Ada satu kutipan dari Alkitab tentang kasih, yang indah; namun sulit untuk dipahami. Mengapa? Karena jika manusia dengan segala kesalahannya, rasa-rasanya tidak mungkin untuk bisa dengan sempurna melakukannya.

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (Korintus, 13: 4-7)

Lantas, bagaimana relasi dapat terbangun jika tidak berawal dari kasih? Tentu ada hal lain yang tentunya melegitimasi, hingga sebuah relasi tersebut bisa berjalan, entah berapa lama. Ilusi tentang sosok yang dibangun, dan implisitas akan kepentingan yang berada di bawah alam sadar masing-masing diri mereka. Relasi yang berjalan atas dasar kepentingan, layaknya lintah yang menghisap darah. Ia akan terus menempel pada tubuh yang memiliki kandungan apa yang bisa dimakan, dan memenuhi kepentingannya; kemudian mengembang sendiri hingga lima kali berat tubuh, dan setelah kenyang ia akan dengan sendirinya jatuh dari tubuh yang dihisap. Sampai merasa cukup, baru kemudian mencari mangsa baru. Begitulah manipulator bekerja. 

Ketergantungan dalam sebuah relasi, melahirkan ketidakberdayaan. Baik itu perempuan, maupun laki-laki. Dalam budaya kita, yang seringkali melabeli laki-laki dengan posisi yang dominan, akan berangkat dari persepsi bahwa hubungan yang toksik akan merugikan perempuan. Namun, bagaimana jika yang terjadi sebaliknya? Stines menegaskan, bahwa ketika berada cukup lama dalam suatu relasi yang toksik, umumnya rasa percaya terhadap diri sendiri perlahan bisa hilang. Ada banyak tindakan manipulasi emosional juga melibatkan praktik gaslighting. Sebuah situasi seseorang membuat pasangannya merasa rendah diri, mempertanyakan keabsahan pendapat dan perasaannya sendiri, serta membuatnya terus menerus merasa bersalah. Lantas bagaimana caranya? Seorang manipulator bisa selalu memutarbalikkan fakta, atau apa pun yang dikatakan, akan menggunakannya untuk menyerang balik. Selain itu, perilaku pasif-agresif dan metode tarik-ulur juga bisa menjadi  senjata di dalam hubungan yang tidak sehat. Tapi jangan lupa, mereka bisa pula melakukannya dengan memberikan love-bombing, guna melunakkan hati. Cara mana pun yang mereka pilih, tujuannya sama: memperoleh kontrol total terhadap kehidupan pasangannya.

Dan, Pada Akhirnya...

Apabila mempertimbangkan fakta bahwa penyintas laki-laki masih kesulitan dan takut untuk melaporkan kekerasan yang dialaminya, maka angkanya bisa jadi dua atau tiga kali lipat lebih tinggi. Sisi terangnya, diskusi mengenai penyintas laki-laki mulai naik ke permukaan dan hangat diperbincangkan. Bungkamnya penyintas laki-laki, diakibatkan karena masyarakat masih melanggengkan stereotip dan mitos-mitos bahwa laki-laki tidak mungkin menjadi korban. Mereka menganggap, laki-laki yang dilecehkan baik secara psikis maupun fisik, harus sanggup melawan balik. Atau, laki-laki yang menjadi korban kekerasan seksual hanya terjadi pada laki-laki homoseksual saja (Chapleau et al., 2008). Di Indonesia sendiri, mitos-mitos tersebut masih mendarah daging di dalam produk legal kita. Dapat dilihat dengan jelas bagaimana hukum di Indonesia tidak mengakui adanya kemungkinan kekerasan terhadap laki-laki.

Memang, tidak semua manipulator sadar, bahwa ia sejahat itu. Ada yang tidak sadar, justru menggiring opini bahwa ia adalah korban. Saat kita sadar sebuah hubungan tidak sehat, butuh keberanian besar untuk meninggalkannya tanpa menoleh ke belakang lagi. You only lives once, and no matter If you walk alone.

Doa

Keajaiban Kecil

August 20, 2022

"Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban, untuk semuanya bertemu yang dibutuhkan cuma waktu" — Partikel (Supernova Series)


Lalu muncul sebuah pertanyaan tentang bagaimana dan mengapa yang mulai terjawab satu-persatu. Tabir yang tertutup selama sewindu mulai terbuka perlahan-lahan. Serpihan memori menguap melalui kisah yang perlahan tertuang ke langit. Mata hati telah melihat dengan sungguh-sungguh betapa kelamnya malam namun gemerlap lampu kian kerlap di pusat kota.

Aku pesimis tentang masa depan, aku tidak pernah berharap banyak lagi pada suatu hubungan, apalagi pernikahan”, ujarku membuatnya ternganga, Realistis, pragmatis sekaligus melankolis. Namun itulah kenyataannya.

Kami berkisah tentang banyak hal, apa yang menjadi mimpi, apa yang telah terjadi pada kami masing-masing di sela sewindu tanpa jeda, juga tanpa sua.

Petang itu adalah kali kesekian kami kembali bertemu. Usai satu sore ia datang setelah 8 tahun yang lalu, dan kisah-kisah elegi yang ditukarkan serta sepotong permintaan maaf yang bahkan aku tak tahu-menahu untuk apa. Maaf untuk segalanya yang telah terlewat, pintanya.

Sebagian ingatan menjadi usang seiring berjalannya waktu. Untuk beberapa saat aku mengizinkan diriku untuk memeluk diri sendiri sampai tiba saatnya kembali lega.

Ada pergumulan dan ada luka yang terobati. Ada perdamaian dan ada kehangatan yang menyelimuti hati. Manusia memiliki kemampuan untuk bergerak, dan ia juga berhak memiliki kekuatan untuk bangkit. Meski masih sulit rasanya, untuk menjadi ikhlas atas peristiwa lalu yang telah terjadi.

Perjuangan ini baru dimulai. Setiap prosesnya mengijinkan untuk bertumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang kita yakini. Namun, sesuatu hal yang dimulai dengan setulus jiwa, dan sepenuh hati, membawa kita kepada kepuasan hakiki bahwa apa yang sedang kita persiapkan, (semoga) tidak pernah sia-sia.

Tatapnya dalam, persis seperti awal kami bertemu di bawah tangga kampus. Perubahan yang tampak nyata adalah emosinya semakin teratur, namun kasihnya masih tetap sama. Dalam hati kini, kembali mengamini bahwa semoga kalimat yang terucap sebelum percakapan yang dalam tadi, dipatahkan oleh semesta.

nb.
Sebagai penanda : untukmu, si keajaiban kecil. Terima kasih telah mematahkan kesedihan dan menumbuhkan harapan baru. Semoga luka menjadi padam, dan perjalanan tak lagi kelam. Mari merajut kisah baru, bertumbuh dengan waktu, berkembang tanpa jemu.