Birthday Greeting

25

December 13, 2019

Seorang penulis Amerika bernama Ralph Waldo Emerson pernah menulis "It's not the lenght of life but the depth of life", yang berarti hidup ini bukan persoalan seberapa lama, tetapi seberapa dalam. Kata-kata itu memang sungguh memiliki arti yang mendalam, kedalamam hidup itu mampu terwujud ketika hidup kita dapat memberikan kontribusi bagi kehidupan, minimal sekeliling kita. 

Dalam hidup juga, pertama-tama kita tumbuh. Saat proses bertumbuh, tentu kita butuh diberi pupuk, dipelihara. Setelah bertumbuh dengan baik, pertumbuhan itu membuahkan bunga yang telah berkembang, dan disanalah ia menjadi indah. Mewangi dan disukai. Perkembangan seperti ini tentu saja merupakan rahmat dari Tuhan. Namun bagaimana saat segalanya telah berjalan diluar jalur? Sementara hidup terus berjalan, tahun akan tetap bertambah dan pengartian akan sesuatu juga berubah seiring bertambahnya pengetahuan serta banyaknya pengalaman. 
*** 

Dan tidak terasa, telah satu hari ini tepat seperempat abad menjalani perjalanan di dunia. Bagaimana kini kau merawat kebahagiaan, setelah bertahun-tahun merasakan kebas yang amat-sangat?

Ketika mendapatkan ucapan pada hari ulang tahun, terbersit pikiran dalam diri sebuah makna usia, bahwa hari demi hari, waktu kita berlari tanpa henti. Bahkan, tanpa kompromi meninggalkan kita. Tempus fugit. Bagaimana kau merayakan pertambahan usiamu? 

Setiap orang akan memperingati hari kelahirannya dengan cara yang berbeda. Ada yang melakukannya dengan diam-diam, ada yang merayakan dengan sederhana, bahkan ada pula yang merayakan dalam hiruk-pikuk pesta. Dalam artikel Birthday Traditions from Around the World yang dimuat dalam northseattle.edu dikatakan bahwa tradisi pesta ulang tahun dilakukan pertama kali oleh orang-orang Eropa. Tujuan perayaan ketika itu adalah untuk melindungi orang yang berulang tahun dari ancaman roh-roh jahat. 
Masyarakat Eropa percaya bahwa roh-roh jahat sangat senang dan tertarik pada orang yang sedang berulang tahun. Sehingga untuk melindungi mereka dari bahaya, orang yang berulang tahun akan mengundang teman-teman, keluarga dan kerabat terdekat untuk memberikan doa yang baik serta ucapan kepada orang yang berulang tahun. Pergeseran budaya tersebut semakin meluas ke banyak negara, dari yang awalnya hanya dilakukan untuk raja untuk menangkal kemalangan yang akan terjadi, menjadi pesta yang dirayakan oleh berbagai kalangan dengan lintas usia. 

Seiring dengan berkembangnya zaman, perayaan ulang tahun juga banyak mengalami perubahan makna. Seperti kue ulang tahun yang dulunya selalu ada di setiap perayaan pesta ulang tahun kemudian digantikan dengan makanan atau hal lainnya yang disesuaikan dengan budaya di setiap negara, di Indonesia misalnya - dalam kebiasaan masyarakat Jawa, kue seringkali digantikan dengan tumpeng nasi kuning atau tumpeng gethuk.
Bagaimana keluarga kami merayakan anggota keluarga yang sedang berulang-tahun? Saya termasuk anak hibrida yang bertumbuh dalam lingkungan heterogen. Ayah seorang Dayak asli, sementara Ibu seorang Jawa namun tumbuh dan besar di Kalimantan. Sementara keduanya kemudian bertemu di Yogyakarta, menikah dan menetap di kota ini, hingga saya lahir. Tidak pernah ada perayaan khusus dalam unsur kultur tertentu, baik ayah dan ibu mendidik dengan cara yang nonpartisan, tidak cenderung ke siapa-siapa. Sekalipun pada penerapannya, seringkali terjadi over-parenting yang menyebabkan pribadi ini menjadi terlalu hati-hati.

Ketika angka kian bertambah, bagi saya perayaan tidak lagi menjadi hal yang menyenangkan saat memasuki usia yang baru. Rasa-rasa penasaran tentang siapa yang akan memberikan hadiah atau ucapan seperti tidak lagi menjadi kejutan. Entah kenapa dalam kurun beberapa tahun terakhir, moment pertambahan usia tidak lagi terasa istimewa. Tidak banyak yang saya harapkan terlebih ketika mulai memasuki masa life-quarter crisis, karena telah banyak kepahitan yang kemudian membuat perasaan-perasaan itu menjadi perlahan-lahan hambar. 
*** 

Sedikit bercerita kembali dengan angka. Terlahir dan bertumbuh dalam kebudayaan Jawa yang kental sedari kecil, mau tidak mau turut serta memahami istilah bahasa di kota Yogyakarta yang masih sarat dengan ragam filosofisnya. Dalam Bahasa Jawa saja misalnya, angka kepala dua menggunakan istilah Likur. Semisal Selikur (21), Rolikur (22), Telulikur (23), dan seterusnya hingga angka Tiga Puluh. Namun, saat jatuh pada angka 25, penyebutannya tak lantas menjadi Limolikur. Melainkan, Selawe.

Konon, penyebutan Selawe tersebut memiliki makna tersendiri. Selawe diartikan sebagai Seneng-senenge Lanang lan Wedok, atau dalam Bahasa Indonesiannya : Sedang suka-sukanya seorang laki-laki dan perempuan. Benarkah begitu? 

Bisa jadi. Filosofi yang tersimpan di dalamnya sesungguhnya (hanya) tentang pernikahan. Umumnya, seorang laki-laki atau perempuan Jawa akan melangsungkan pernikahan saat berumur 25 tahun. Karena pada saat usia inilah seorang Jawa dinilai sudah matang dan siap untuk membina Rumah Tangga. Namun bagaimana jika tidak terkait dengan hal pernikahan, apakah usia dapat menjadi titik tolak kematangan emosi seseorang? 
*** 

Lantas apa saja yang telah kuperbuat selama 25 tahun ini? Entah. Saya sendiri tidak yakin apakah selama ini saya telah hidup dalam kesadaran yang utuh.

Benar bahwa kehidupan adalah proses pencarian dan idealnya manusia menemukan kedamaian dengan hatinya sendiri. Tetapi dalam proses mencapai hal itu, kita masih perlu memilih dan memilah, kapan saat yang tepat mendengarkan suara dari dalam diri dan kapan saat yang tepat mengikuti pendapat orang lain. Dalam hidup yang semakin rumit ini, kita membutuhkan keseimbangan. Sangat disayangkan saat keseimbangan itu telah hilang dari sosok diri seseorang. Bahwa ternyata masih ada banyak hal yang sesungguhnya belum kita ketahui, hingga orang lain yang menjadi cermin. Karena saat melihat kedalam cermin, rupanya bukan hanya tentang hal-hal yang baik dan menarik, namun juga mampu melihat keropeng-keropeng yang melekat dalam segala keindahan itu.

Keseimbangan. Itu yang telah lama hilang, hingga hidup ini rasanya semakin timpang, sering oleng dan kurang sadar. Terlalu sibuk merenung, tidak terasa waktu telah bergeser 18 menit sejak memasuki tanggal 13. Satu pesan masuk, pesan pertama. Kata demi kata yang terangkai dengan amat sederhana, namun mampu mengukir senyum hingga tak mampu lagi mengucap, antara ingin menangis sekaligus terlalu bahagia. Happy birthday, Vivas ad multos annos, ad summam senectutem. Dominus Vobiscum. Pembicaraan setelahnya tidak jauh-jauh tentang lagu Coldplay yang baru saja rilis dan cerita ringan lainnya.

Keinginan paling sederhana sekalipun, jika semesta belum menghendaki rasanya akan sulit untuk terwujud. Biar bagaimana juga, hidup terus berjalan, sesuai atau tidak dengan yang kita harapkan. Untuk itulah, saya juga ingin mengucap syukur atas anugerah di petualangan hidup yang baru ini.
Terimakasih untuk masih ada dalam ingatan. Terimakasih untuk membuat jiwa ini kembali tumbuh perlahan-lahan. Terimakasih pula untuk terus saling mendaraskan dalam doa. Terimakasih telah membuat 25 ini menjadi indah. Dan, terimakasih untuk pernah ada.


nb. si jubilaris mendapatkan hadiahnya : jalan-jalan. hanya hal sesederhana itu untuk membuatnya bahagia.

Kata-kata

(bukan) Lelakiku

December 13, 2019

Picture by : Pinterest

Lelakiku sangat mencintai-Mu, 
Lantas apa yang harus kutakuti? 
'Pun tiada yang perlu kucemaskan. 
Seperti Engkau, 
aku paham lelakiku tahu; apa yang mesti ia lakukan.

Lelakiku sangat mencintai-Mu. 
Elegi ini hanya sementara, 
Karena sukacita sungguh akan selalu ada

Cerita Lagu

Everyday Life - Little Things in Between Jordania and Another Tour Around Asia

November 22, 2019

Hari itu, saya mendapatkan jadwal masuk kantor pagi (fyi, saya bekerja di sektor public-service, sehingga ada sistem shift dalam jadwal masuk), dan saat pulang di sore hari, saya tidak pulang sendiri seperti biasa, karena teman saya berjanji untuk menjemput sekaligus ingin mengambil beberapa barangnya yang tertinggal di rumah beberapa hari yang lalu.

Beruntung, sore itu cerah. Seakan langit mampu membaca isi hati saat itu, hahaha. Sebelum menuju rumah, ia sempat menawarkan untuk mampir makan dulu di kedai makan langganan dekat kantor kami masing-masing. “Tumben, ngajakin mampir sini dulu” saya nyeletuk sambil meniup-niup teh panas agar segera dapat diminum, “Agar tidak kelaparan dan merepotkanmu sesampai di rumah nanti” Katanya. “Baiklah” jawab saya singkat, tanpa basa-basi dan langsung menyantap hidangan makanan di depan, yang tidak ringan tidak juga berat. Usai makan, dan menaiki kendaraan, ia sempat nyeletuk “Kamu tau gak, tadi ini aku habis dari Jordania....” katanya dengan semangat ’45. Saya hanya menanggapnya bercanda, dan kemudian melanjutkan perjalanan pulang. “Beneraaaaan..... kamu gak percaya banget sih sama aku” sambungnya lagi. 

Siapa yang menyangka, sesampainya di rumah, sore itu pertama kalinya kami bersama-sama menonton live-streaming band favorit kami, Coldplay. 
*** 

Masih terpukau dan diluar bayangan bahwa band sekelas Coldplay akan menggelar konser live-streaming perdana di tempat yang tidak pernah banyak orang bayangkan – Amman, Jordania. Pemilihan lokasi itu bukan tanpa alasan, Coldplay memilih situs bersejarah Citadel sebagai saksi perjalanan karier bermusik, karena mereka beranggapan bahwa tempat itu memiliki nilai-nilai seni dan budaya yang kental. 

Ada satu pendapat salah satu personil Coldplay yang menurut saya “I Couldn’t asking for more”-lah ya istilahnya. Saat itu Chris Martin, sang vokalis bertutur bahwasannya saat ini senjata perang tidak lagi melulu menggunakan senapan atau alat peledak lainnya, namun juga bisa menggunakan musik. What. Wagelaseeeeh, kalo ini! Pernyataannya, meskipun tetap membuat saya overwhelmed, tapi saya tidak kaget-kaget amat, pasalnya usai berpisah dari Gwyneth, Chris ini memang sering menggunakan musik sebagai senjata untuk memerangi kesedihan akibat perpisahannya itu.

Di konser perdana virtualnya ini, Coldplay berkolaborasi dengan YouTube Originals, untuk menyuguhkan dua pertunjukan. Dan hari ini (Jumat, 22 November 2019) — adalah hari dimana mereka secara resmi merilis si album terbaru, Everyday Life.
Untuk penampilan pertama mereka di Yordania, Coldplay  menggambarkan album baru mereka dengan konser Sunrise yang dimulai pukul 04:00 GMT (11:00 WIB) dan disusul konser Sunset pada 14:00 GMT (21:00 WIB). Dalam penampilannya, Coldplay membagi peluncuran album kedelapannya tersebut menjadi dua sesi, yakni sesi Sunrise dan Sunset, yang mana album tersebut memang terbagi menjadi dua bagian.
Pemilihan waktu yang juga menjadi dasar pembagian side dalam satu format album, merupakan ide yang briliant. Sunrise dan Sunset adalah bagian dari satu hari yang dimana waktunya tidak berdurasi panjang, seperti Siang dan Malam. Namun, Sunrise dan Sunset mengantarkan keindahan yang singkat, juga sebagai penanda waktu yang mengantarkan kita untuk masuk dalam tahap selanjutnya. Sebagaimana Sunrise datang mengawali sepanjang siang hingga mengantarkan kepada Sunset yang menyiapkan kita untuk bertemu malam yang kelam. 

Kita dapat menikmati konser Live-Streaming itu langsung di You Tube, seperti yang pernah mereka katakan saat menggelar Press-Conference yang juga digelar dengan ide yang unik. “Dua siaran langsung ini adalah impian kami sejak kami pertama kali mulai mengerjakan album ini,” jelas Coldplay dalam rilisan pers. “Ini agak mustahil dan sedikit menakutkan, seperti semua impian terbaik yang ada. YouTube adalah tempat yang sempurna untuk itu.” 
***

Saya pribadi seperti bisa membaca keinginan Coldplay yang ingin menunjukan kegelisahan nurani, dengan menampilkan dua sisi yang saling berbeda namun berada dalam satu poros yang sama, keindahan dan kengerian dalam satu titik kehidupan.
Jika kita telah melihat indahnya dunia dengan segala warnanya pada album “A Head Full of Dreams” pada tahun 2015. Melalui album “Everyday Life”, Coldplay akan menunjukan kita sisi kengerian dan dan keindahan dalam kehidupan melalui perpaduan simponi dan lirik pada setiap track yang bermakna. Dan saat lagu-lagu ini didengarkan dengan jeli, maka kita akan mendengar berbagai lagu yang bercerita tentang kepercayaan, isu ras, perang, bencana yang terjadi karena hubungan manusia dengan orang di sekitarnya. Serta bagaimana kita-semua seharusnya bersikap menghadapi segala perbedaan tersebut. 

Saat penampilannya di waktu subuh, Coldplay menyajikan delapan lagu untuk sesi Sunrise, di antaranya adalah “Daddy”, “Church”, “WOTW/POTP”, “Trouble in Town”, “Broken”, “Arabesque”, dan ditutup dengan “When I Need a Friend”. Sebagai track pembuka, Sunrise menyuguhkan kita sebuah instrumen orkestra yang didominasi dengan penampilan violin solo dengan nada otentik ala Timur Tengah. 

Bagian album berikutnya, “Sunset”, dibuka dengan track “Guns”. Dengan aransemen musik gitar akustik yang teknikal dan up beat, Chris Martin menyanyikan lirik yang menggambarkan obsesi orang Amerika dengan senjata api yang telah memakan banyak korban dan menimbulkan kekacauan. Tidak berselang lama, lagu dilanjutkan dengan track “Orphan” yang terinspirasi dari perang saudara di Suriah, khususnya pada peristiwa Damascus Bombing pada tahun 2018. Gaya ‘casual’ juga terdengar kembali pada track “Cry, Cry, Cry” yang berkolaborasi dengan Jacob Collier. Begitu pula pada track “Old Friends” dengan musik gitar akustik dan lirik tentang kerinduan pada teman lama. Mendekati akhir album, “Children of Adam” merupakan track instrumental yang dipadukan dengan puisi dengan judul yang serupa, karya pujangga asal Persia, Saadi Shirazi.

Konser Live-Streaming malam itu ditutup dengan lagu “Everyday Life” yang menjadi kesimpulan dari pesan yang ingin Coldplay sampaikan pada dunia melalui album mereka. Dengan konten lagu yang penuh dengan ironi dan kegetiran, Coldplay dengan mudah merangkumnya dalam sebuah aransemen musik yang ceria. Bunyi bom yang mengerikan dijadikan salah satu referensi track di album ini. Perpaduan unsur etnik dan chord-chord yang menciptakan melodi yang baru dan segar. 

Secara keseluruhan, Everyday Life merupakan konsep album yang terdengar seperti kehidupan sehari-hari. Setiap track dalam album ini menyampaikan berbagai pesan seputar kepercayaan, perang, isu rasial, dan bagaimana kita seharusnya bersikap menghadapi segala perbedaan tersebut. Dalam album ini, seakan Coldplay menyampaikan untuk kita, bahwa kita bisa mendegarkan kehidupan sehari-hari, dimana orang berdoa memuji Tuhan sesuai kepercayaan masing-masing, jalanan dengan anak-anak bermain dan berlarian, suara hujan, ocehan kebencian dan perdamaian, semuanya terasa hidup melalui lagu-lagu dengan aransemen yang otentik dan efek-efek suara dari kehidupan sehari-hari. 

Sehari sebelum mereka menggelar Konser Live-Streaming, Christ Martin mengatakan bahwa mereka belum menjadwalkan tur untuk album ini, hingga mereka meyakini bahwa konser-tur mereka bermanfaat untuk lingkungan sekitar. 
*** 

Diadakan atau tidak, tetap sama-sama tidak akan melihat live-konsernya. Khayalan untuk menonton konser Live Coldplay tidak akan pernah kesampaian.
Pertama, karena saya pasti tidak akan bisa sepenuhnya menikmati jalannya konser mengingat akan banyak sekali orang-orang yang datang memenuhi stadium. Ekspektasi saat sebelum di lokasi konser dengan setelah tiba di lokasi konser akan berbeda, karena saya pernah merasakannya, dan akan pikir-pikir lagi saat ingin menonton konser secar Live.
Kedua, kalaupun saya mampu bertahan menonton dalam kebisingan, saya tidak ingin menonton sendirian, dan pastinya teman saya yang bersama-sama menonton Live-Streaming konser saat ini, tidak bisa menemani karena keterbatasan waktu juga kesempatan.
Jadi, saya harus cukup berpuas diri untuk dapat menonton konser Coldplay sebatas Live-Streaming di channel You Tube, saat ini, bersama teman saya, sambil menikmati beberapa potong Pie Susu dan kopi panas yang kian menghangat, sembari melihat matahari di Jordania yang kembali ke peraduan, perlahan-lahan. 

Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, apakah kamu percaya bahwa itu tidak bermakna? 
*** 

Saya berani taruhan bahwa antara Coldplay dan Paus Fransiskus tidak sedang membuat janji untuk sama-sama berkunjung ke wilayah Asia dengan satu misi, kemanusiaan

Di saat Coldplay melakukan konser secara live-streaming di Amman-Jordania, tepat saat Paus Fransiskus melakukan kunjungan ke Thailand. Kedatangan Paus Fransiskus di Thailand, merupakan kunjungan ketiga di Benua Asia.
Namun selama Bapa Suci menjabat sejak 2013 silam, bisa dikatakan ini adalah kunjungan Paus pertama selama hampir 40 tahun terakhir yang mengunjungi negara Asia Tenggara (setelah Pontiff terakhir yang berkunjung adalah mendiang Paus Yohanes Paulus pada 1984). Kekaguman Paus Fransiskus mengenai negara Thailand kali ini, salah satunya adalah sebagai negara yang multietnis. Bukan tanpa makna, kedatangan Paus asal Argentina terang saja menimbulkan kegairahan secara spiritual bagi kalangan umat Katolik di Thailand, hingga mereka memadati jalanan. Sesungguhnya, baik Paus Fransiskus dan Coldplay sama-sama membawa satu misi bagi animo masyarakat yang sama, yang dalam lingkup tentang harapan dan perdamaian. 
Paus saat bertemu dengan saudara sepupunya Sr. Ana - seorang biarawati misionaris
yang mendapatkan tugas perutusan di Thailand.
(Picture by : Doc Jawa Pos)

Diantara hingar-bingar tentang kunjungan kepausan di Thailand, ada yang membuat diri ini semakin berdecak kagum tentang sosok yang brilian namun tetap rendah hati, adalah latar belakang masa kecil Paus Fransiskus. Tidak banyak yang tahu tentang masa kecilnya, dan karena saya selalu merasa tergelitik dengan masa kecil seseorang, ada beberapa artikel yang saya baca kemudian rangkum dalam sebuah catatan kecil. Salah satunya yang menarik adalah tentang relasi Paus Fransiskus dengan salah seorang saudari-sepupunya yang menjadi biarawati - bernama Ana Rosa Sivori. Suster Ana adalah seorang biarawati misionaris di Thailand yang telah bertugas selama 54 tahun silam. Pertemuan itu menjelma seperti reuni kecil sebuah keluarga yang telah lama tidak lagi berjumpa. Meskipun terpisah jarak dan kesibukan yang cukup jauh, relasi itu selalu terhubung dengan komunikasi cara lama yang masih eksis hingga saat ini - dengan berkirim surat, bukan dengan email sebagaimana umumnya orang-orang jaman sekarang berkomunikasi. Jorge, begitulah nama kecil Paus Fransiskus. Saat pertemuan di Thailand, rupanya Suster Ana juga masih menggunakan sapaan akrab disaat Paus Fransiskus baru saja turun dari pesawat, “Hola Jorge. Como estas? Que lindo que estas aqui en Tailandia!” yang berarti : Halo Jorge. Apa Kabar? Ini sangat mengagumkan bahwa sekarang kau berada di Thailand. 

Perjalanan misi dari Vatikan – dan konser perdana di Amman – kedatangan di Thailand – dan kemudian berakhir di Japan, dua sosok yang berbeda, dengan satu misi yang sama, Perdamaian – bukankah ini rangkaian dari suatu kebetulan? 
*** 

Menyenangkan bukan, saat misi-mu untuk kebaikan orang lain diterima dengan baik, serta saat kedatanganmu di tanah yang sama sekali asing disambut dengan hangat? 

Tapi ada juga baiknya, sebelum kau berbuat kebaikan untuk orang lain, berbuatlah baik setidaknya untuk dirimu sendiri. Sebelum kau menyebarkan pesan damai untuk orang lain, berdamailah terlebih dahulu dengan dirimu sendiri.

Cerita Film

Omelet di Pagi Hari dan Teman Imaji dalam Sunday at Tiffany’s

November 02, 2019

Hari itu datang juga. Di Minggu pagi yang hangat dan malas. Ada yang masih enggan beranjak dari kamar, semalam masih dipakai untuk transit sementara, sehingga sang empunya harus mengungsi. Dengan masih setengah mengantuk aku menuruni tangga perlahan-lahan sembari mengumpulkan kesadaran. Ingin membersihkan sisa pesta semalam, pesta perpisahan – pesta kepindahan. Jarak memang tidaklah jauh, namun rutinitas akan semakin menjarakkan itu. Beberapa telah kembali, seseorang masih di sini.
“Tadi mereka sudah berangkat” katanya.
Iya, ia tahu karena membuka-tutupkan pagar. Lalu kemudian berencana untuk ikut berangkat, dengan menitipkan kunci di bawah kursi. Tapi mendengar suara air di toilet lantai atas, membuatnya urung dan memilih untuk duduk, menunggu hingga seseorang lain turun.
Kaki telah menginjak anak tangga terakhir, langkah berlanjut menuju dapur. Sengaja aku tidak menoleh kepadanya, atau menahan seperti biasanya. Namun ia mampu membaca sendu.
“Aku pamit pulang, ya” ujarnya perlahan.
“Pulang, lah” kataku datar.
Ia tahu, ada yang keberatan. Meskipun dalam diamku juga tak pernah kutampakkan.
Senyumnya tipis, namun kutahu itu merekah.

Kaki melangkah pelan, masih dengan tujuan utama, menuju dapur. Membuka jendela, membiarkan udara pagi masuk. Sinar matahari juga sedang hangat.
Tidak juga kudengar suara-suara hendak beranjak. Ia masih duduk di kursi yang sama, dekat dengan ruang makan. Dari dapur, agak kukeraskan suara “Tidak jadi pulang?” aku menengok sebentar, pertanyaan sekaligus harapan yang terjadi adalah sebaliknya. Nampaknya ia tahu yang aku inginkan pagi itu. “Buatkan saya sarapan dulu, langkahnya mendekatiku”.
Aku gemas, sekaligus puas. Ia tahu yang aku mau, waktu.
Ego ini masih juga tinggi, “Buat sendiri, saya baru akan membuatkanmu setelah urusan makanan kedua anjingku selesai.”. Ia tahu sedang dikerjai dengan seseorang yang lebih muda, jiwa patriarkalnya kembali muncul. Tidak senang, namun juga menikmati. Ia membuatku geli hingga akhirnya aku mengalah dan membiarkannya kembali duduk manis di meja makan sementara aku kembali ke dapur.

Tanpa ada persiapan apapun. Stok makanan di kulkas juga menipis, kali ini harapan terakhir adalah lemari kayu penyimpan makanan kaleng. Ada tuna kaleng, beberapa gram oregano dan basil. Bingung hendak diapakan bahan-bahan setengah matang ini. Langkah kemudian kembali ke kulkas. Beruntung masih ada ada tiga butir telur dan keju mozzarela juga kentang. “Omelette saja, ya?” kataku dari dapur, meminta persetujuan kalau-kalau ia ingin yang lain. “Omellete, apa itu?”, jawabnya polos. Seketika aku ingin tertawa, nadanya sengaja dibuat seperti keponakannya yang baru saja belajar berbicara. Enggan menjelaskan, “Telur Dadar!” kataku kemudian.


Egg Omelette
( picture by : Pinterest )

***
Aroma butter mewangi ke ruang makan, sudah dengan kopi hangat yang baru saja selesai diseduh. Seperti anak kecil yang menantikan hadiah, ia tak sabar menyantap sarapan Omellete perdana-nya. Jiwa kanak-kanak kami kembali muncul. Bagaikan dua sisi mata uang, masing-masing dari kami selalu menunjukkan kemampuan dan kedewasaan saat bertemu dengan banyak orang, namun saat semesta hanya dimiliki berdua, rasa-rasanya baik aku ataupun dia lebih nyaman dengan bersikap biasa-biasa saja, layaknya anak-anak. Bagai Jane dan Michael dalam Sunday at Tiffany’s. Sebuah film dengan genre drama yang diangkat dari sebuah Novel. Bisa dibilang usia film ini telah cukup lama yang rilis di akhir tahun 2010, tentu dengan nuansa Natal yang kental.
***
Sunday at Tiffanys’s bercerita tentang kehidupan Jane Claremont (Alyssa Milano) yang tergila-gila dengan teman imajinernya. Banyak yang cemas, termasuk Ibunya Vivian Claremont (Stockard Channing). Sang ibu bahkan sering mengirim putrinya untuk terapi karena kecemasannya. ia cemas anaknya mengalami ganngguan psikis akibat perceraiannya yang pahit.  Perceraian yang merenggut semua harapan dan cinta. Sementara Jane sendiri kurang kasih sayang dari ibunya dan ia haus akan perhatian karena kesibukan Vivian sebagai produser Broadway. Lagipula, Vivian menghabiskan terlalu banyak waktu dengan pekerjaan dan kesibukan bersama dengan suami barunya.
Di sela kesepiannya, Jane bertemu dengan Michael (Eric Winter) — sang kawan imajinernyaa. Michael kecil dengan optimismenya mencoba meyakinkan Jane bahwa cinta sejati ada. Fyi, believe or not, dalam film tersebut menceritakan bahwa Michael adalah seorang teman imajiner yang secara acak ditugaskan untuk anak-anak yang merasa kesepian seperti Jane. Namun sayangnya tidak ada satupun orang dewasa yang sanggup melihat keberadaan Michael. Dan teman imajiner itu akan pergi dan menghilang setelah anak yang ia temani telah berusia sembilan tahun.
Malam Natal tiba, yang sekaligus merupakan ulang tahun Jane ke-9. Ibunya membawa Jane ke Toko Tiffany di Kota New York untuk membelikan hadiah untuk Jane. Sementara Ibunya berkeliling, Jane mencoba mengambil sebuah cincin berlian berwarna kuning, dan Michael – yang kala itu juga ikut pergi – mengatakan bahwa Jane telah beranjak dewasa karena sebentar lagi memasuki usia 9 tahun, dan ia akan meninggalkan dia pada pukul 5.15, tepat saat waktu kelahirannya. Jane yang masih belum mengerti apa-apa yang dikatakan oleh Michael, memohonnya untuk tetap tinggal bersamanya. Tetapi Michael tetap berangkat, dan Jane kecil hancur.

Scene saat Jane dan Michael masih kecil
(Picture by : IMDB)

Dua puluh tahun berselang. Jane kecil itu telah dewasa. Ia telah menjalin kasih dengan Hugh Morrison (Ivan Sergel), mereka telah bertunangan. Hugh merupakan seorang aktor televisi terkenal, egois dan juga selalu mementingkan urusan pribadi serta karir. Berbeda dengan Michael yang dulu selalu ada untuknya dan mengerti apa yang Jane inginkan. Kepergian Michael membawa luka dalam bagi Jane, sehingga ia mengikuti langkah-langkah ibunya dulu untuk menjadi manajer teater untuk membantu debut teater Hugh –tunangannya.
Suatu hari, seorang lelaki dewasa bernama Michael (kembali) muncul pada saat musim dingin, mengatakan padanya bahwa ia adalah kawan imajinernya di masa lalu. Awalnya, Jane sempat tidak percaya, dan Jane berpikir bahwa Michael dewasa ini adalah seorang penguntit dan penipu – yang mungkin menginginkan peran dalam sebuah drama yang akan ia kerjakan. Hingga kemudian Michael meyakinkan identitasnya dengan menceritakan semua hal-hal tentang masa lalu-nya. Jane akhirnya  tidak bisa memungkiri bahwa Michael adalah kawan imajinernya di masa lalu, satu yang berbeda adalah – kini Michael bisa dilihat oleh orang lain, bukan hanya oleh Jane saja.
Keduanya kembali bertukar cerita, hingga Michael terkejut karena Jane telah banyak berubah. Jane tidak lagi mengejar cita-citanya pada waktu kecil dulu – untuk menjadi seorang penulis. Namun Jane justru meyakinkan Michael bahwa ia telah dewasa dan melepaskan beberapa impiannya di masa kecil. Jane kembali sibuk dengan pekerjaannya dan proses rencana pernikahannya yang melelahkan. Dan sebagaimana Michael kecil yang selalu mendampingi Jane – Michael dewasa kini tidak bisa pergi lagi sampai ia membantu Jane dengan apa yang seharusnya Jane inginkan.
Pada suatu hari, Michael membuntuti Jane yang sedang dinner bersama Hugh. Tanpa basa-basi, Michael langsung ikut bergabung dengan Jane dan Hugh tanpa dipersilahkan. Mereka bertiga, berbincang-bincang tentang hubungan Jane dan Michael di masa kecil dulu. Tak lupa Michael menghadirkan pertanyaan-pertanyaan kecil kepada Hugh, tentang makanan favorit Jane misalnya. Pertanyaan-pertanyaan itu bagi Hugh, adalah pertanyaan bodoh dan tidak penting. Saat dimana Hugh tidak bisa menjawab, maka Michael menyimpulkan bahwa Jane dan Hugh tidak mengenal pribadi satu sama lain dengan baik, dan juga kurang serasi sebagai calon pengantin. Setelah makan malam mereka usai, Michael lagi-lagi mengikuti Jane ke rumahnya, dan ia kembali merasakan hal yang berbeda.
Jika saat mereka kecil dulu, Jane dan Michael tidur bersama – maka, sekarang Michael harus tidur di kursi sofa. Malam berikutnya, Michael ikut bergabung di pentas panggung Hugh dan Vivian. Sang Ibu – Vivian, sempat merasa ngeri, saat Michael memperkenalkan dirinya sebagai kawan imajiner Jane pada waktu kecil dulu, terlebih saat Michael juga mengatakan bahwa dia selalu berusaha untuk melindungi Jane dengan kasih sayangnya yang besar. Michael merasa bahwa Jane telah menjadi pahit atas segala apa yang menimpanya dulu. Michael pun kemudian memberikan pelukan yang tulus kepada Vivian di akhir pertemuannya.
Di luar dugaan, Jane mulai meragukan pilihannya bersama dengan Hugh, terlebih saat persiapan pernikahan, karena yang ia tahu tentang Hugh haruslah sempurna. Jane mulai bimbang, karena dalam kekalutannya Michael selalu hadir, selayaknya saat ia kecil dulu – termasuk saat Jane memilih gaun pengantin yang sempurna dengan bantuan Michael. Jane kembali dilemma, di saat itulah, Jane kemudian memberitahu Michael bahwa dirinya telah melakukan kesalahan, dan bahwa ia dan Michael tidak  akan pernah bisa menjalin relasi dalam bentuk apapun lagi, karena mereka sudah mulai asyik mengulang kejadia-kejadian semasa kecil dan telah lebih dekat kembali dari sebelumnya. Jane mengatakan kepada Michael bahwa selama ini mereka telah bersenang-senang bersama, namun Jane kini bukan lagi gadis kecil yang dulu pernah ia kenal, dan dengan berat hati Jane dan Michael harus saling pergi. Bukan tanpa alasan, permintaan Jane ini bermula ketika suatu malam Hugh memasuki apartemen Jane, dan menyela mereka saat Jane dan Michael asyik bermain perang bantal, hingga keduanya membuat Hugh cemburu. Hugh akhirnya menuntut Jane agar mengakhiri kontak dengan Michael.
Jane hidup dalam dilema, setelah kembali ke kehidupannya dengan Hugh, Jane semakin yakin bahwa dia tidak mencintai Hugh – terlebih Hugh terlalu egois dengan dirinya sendiri. Sementara Hugh pergi syuting film, di Los Angeles, Jane menghubungi Michael yang kini bekerja di sebuah restoran. Jane dan Michael menyambung relasi antara keduanya, dan menghabiskan malam pertama mereka bersama-sama dengan sangat erat. Saat Jane mengatakan ia telah kembali bahagia, Michael mengatakan bahwa ia harus pergi, lagi. Kembali patah hati, Jane meyakinkan bahwa dia tidak akan berpikir dua kali untuk mengingat kenangan bersama dengan Michael, jika saat itu Michael memang benar-benar harus pergi.


Waktu terus berjalan hingga tiba waktu dimana pesta pernikahan Jane dan Hugh dimulai. Namun siapa yang menyangka bahwa Jane memilih untuk pergi meninggalkan Hugh ditengah acara pernikahannya karena ia masih jatuh cinta dengan Michael. Waktu hampir menunjukkan pukul 5.15 saat malam Natal, dan Jane berlari ke Tiffany untuk menemukan Michael. Jane melakukan tepat pada waktunya, dan mengakui cintanya kepada Michael. Tetapi Michael justru mengatakan bahwa ia harus pergi – sungguh amat menyedihkan bagi Jane yang telah kesekian kali ditinggalkan oleh Michael.

Sampai akhirnya Jane keluar toko dengan perasaan patah hati, namun kemudian Michael kembali muncul dan mengakui cintanya untuk Jane. Michael dengan jujur berkata bahwa ia membutuhkan Jane, dan ia memberikan cincin berlian kuning impian Jane – persis seperti keinginannya saat waktu kecil dulu.
***
Mungkin akan banyak yang bingung dengan plot film Sunday at Tiffany’s yang terkesan khayal, karena menggunakan alur cerita yang seperti time-travel. Meskipun bisa dibilang ulasan itu hanyalah secuil gambaran tentang film Sunday at Tiffany’s. Sekilas, warna ceritanya mirip dengan film The Lake House. Plot cerita yang menguji logika kita dengan permainan setting waktu. Sementara Sunday at Tiffany’s ini merupakan sebuah film drama percintaan yang mungkin jarang dilihat sebelumnya.

Bermula dari novel dengan genre roman yang ditulis oleh James Patterson dan Gabrielle Charbonet ini memang terkesan klasik, dan sedikit usang. Hingga kemudian rasa kagum kian bertambah dengan kisah cintanya yang tidak biasa dan akhirnya menyukai bentuk lain kisahnya yang tertuang dalam film. Bagaimana tentang perjuangan cinta sejati dicerminkan melalui perjuangan di kedua belah pihak, Jane dan Michael – bukan hanya salah satunya saja. Bagaimana Jane rela membatalkan pernikahannya demi Michael, dan juga bagaimana Michael rela untuk tidak lagi bisa kembali ke dunia dimana ia berasal demi Jane. Tentang bagaimana mereka bedua, Jane dan Michael denga jujur dan tanpa malu bertingkah seperti layaknya anak-anak demi sebuah kebahagiaan yang hakiki. Tidak ketinggalan ada satu hal lagi, satu hal yang pernah diajarkan oleh Michael kepada Jane, tentang bagaimana peraturan dibuat hanya untuk dilanggar. Tentu masih ingat kan, hal itu dikatakan oleh Michael ketika Jane ragu untuk melakukan sesuatu yang membahagiakan, namun sekaligus juga melanggar.

Film ini terlalu keren! Kalau saja seandainya semua orang tidak perlu sok dewasa dan egois, kebahagiaan tidak akan sulit didapatkan, meski terkadang harus melanggar peraturan. Sebagai penutup, ada tambahan sebuah kutipan indah dari seorang filsuf bernama Arthur Schopenhauer, bahwa “Agar hidup bahagia, maka hiduplah seperti kanak-kanak”
***

Kami pagi itu bagaikan Jane dan Michael, yang bersukacita ketika  menemukan kebahagiaan di masa kecil. Namun saat telah mendapatkan bahagia itu juga sekaligus harus melepas dengan pergi satu sama lain.
Omelette telah hampir habis. Ia meminta nasi, masih lapar katanya. Ia mengakui perutnya sangat Indonesia sekali. Sementara pagi itu sarapan ala western. “Bukan seperti itu cara makan Omelette” kataku enggan mengambilkan nasi, “Oatmeal aja, ya”.. “Sama-sama bikin kenyang, kok”, ujarku meyakinkan.
Ia tidak menjawab, namun juga tidak menolak. Saat itu kami sama-sama kehabisan bahan pembicaraan. Aku kembali ke dapur, memasak Oatmeal, sembari menunggu matang demi memecah rasa sepi, aku menyalakan musik. Lagu Coldplay yang terbaru, mengalun pelan. Pintu belakang masih terbuka, si Putih tidak biasanya menyalak galak padanya. Bercandaan yang tidak lucu beberapa bulan lalu, rupanya masih terekam dengan jelas. Nampaknya sulit sekali menghilangkan kesalah-pahaman, antara manusia dengan hewan satu ini. Ia merasa takut sekaligus rindu, bermain-main dengan si Putih yang sesungguhnya menggemaskan, “It’s okay.. that’s okay, I’m okay....” katanya sembari mengikuti alunan lagu yang baru selesai terputar itu. Tanpa kusadari ia menggumam, “Saya tahu Putih, memang sulit rasanya tidak bisa berbicara langsung, ingin bicara tapi tak bisa...” suaranya yang biasa cenderung bass dan dominan, kini terdengar samar-samar. Saat aku memintanya untuk mengulang untuk memperjelas, ia enggan. Berbicara dengan si Putih yang aku tahu sesungguhnya itu bukan untuk si Putih.
Intimasi yang tidak intens itu pada akhirnya harus disudahi. Kesadaran akan rutinitas yang membuat masing-masing diri untuk beranjak, bahwa saat itu kami memang tidak sedang hidup dalam imajinasi. Ia sesungguhnya ada, dan nyata. Bukan hanya ada dalam imaji semata. Ia ada dan nyata, namun seringkali imaji ini sendiri yang membuat ia terasa maya.

Love Story

Sacerdos in Aeternum

October 26, 2019

Kau tahu cinta apa yang paling tulus? Cinta seorang gadis yang tak mungkin memilikimu.

Ia paham kau tak mampu digapai, ia sadar perasaannya kepadamu tidak akan tercapai. Ia sesungguhnya mau namun tak mampu.
Sekalipun kau sering melukainya, dengan tutur katamu bak seorang pujangga. Sekalipun kau tak akan pernah paham pergumulan hatinya yang terdalam.
Ia tahu cintanya kepadamu tak kan pernah berbalas, apalagi menemukan jawabnya. Dalam ketulusannya tiada lelah terus ada untukmu. Banyak kata yang terselip dalam setiap sua. Namun ia memilih untuk terus diam-diam menyayangimu dan memelukmu dalam doa-nya, di Sabtu pagi yang teduh.

Saat kau paham dia tidak lagi saling mengadu rayu, tidak berusaha mencari tahu. Tidak lagi saling sapa, saat semua hanya menjadi cerita. Sebelum sejauh matahari, kau dan dia pernah sekali sedekat nadi.
***
“... saat pernah ada yang kau genggam dengan erat... hingga satu masa kau telah kehilangan dengan cepat ...”


Picture by : Video Klip Amin Paling Serius

Anomali di Kantor Sendiri

September 09, 2019

Tidak pernah terbesit dalam pikiran saya, bahwa saat ini akan betah bekerja dalam sektor formal yang mengharuskan duduk selama kurang lebih 9 jam, belum lagi kalau harus lembur karena pekerjaan sedang overload, dan kita tidak memiliki pilihan lain karena diwajibkan overtime. Tapi, ternyata hidup secara realistis itu lebih penting dari sekedar idealis, setidaknya untuk terus bertahan hidup dalam situasi seperti ini.
Setelah pekerjaan sebelumnya banyak bergelut dalam bidang tulis-menulis dan riset hingga harus dengan ikhlas menyudahinya. Tidak ingin lama berdiam diri, akhirnya mencari peruntungan lain degan menjalani masa training di sebuah perusahaan telekomunikasi (tapi memutuskan untuk tidak lanjut karena jam kerja yang tidak sehat). Dan saat ini saya telah lolos masa probasi dan menjadi junior-staff pada perusahaan logistik asal Singapura, yang memiliki dua kantor - yang berlokasi di Jakarta sebagai Head Office dan di Yogyakarta sebagai satu-satunya Branch Office. Perusahaan ini bisa dibilang tergolong start-up, dengan kebijakan yang masih fleksibel dengan regulasi yang masih berubah-ubah.

Well, kalau boleh jujur. Ini bukanlah pekerjaan impian, bukan pula cita-cita yang tumbuh dalam angan-angan. Saat kuliah hingga lulus sebenarnya saya tidak memiliki tujuan pasti, akan kemana setelah wisuda. Tapi satu yang tak pernah berubah, saya mencintai dunia akademik. Entah apapun dan bagaimana caranya berkarya, baik itu di NGO, menjadi guru, dosen ataupun peneliti. Namun satu hal yang pasti, saya ingin sekolah lagi. Jelas, keinginan-keinginan seperti itu akan jauh sekali apabila melihat kehidupan yang sekarang saya jalani.

Ada banyak motivasi dan alasan orang untuk bekerja. Sebagian besar adalah untuk bertahan hidup. Sebagian kecil hanya untuk mengisi waktu. Saya ada diantara keduanya. Realistis saja, saya harus sudah mampu berdikari dalam sisi finansial, meskipun hidup tak melulu soal uang, namun hidup tetap butuh uang, paling minimal untuk bertahan. Entah itu menabung, hang-out sama teman-teman, berdonasi untuk hewan terlantar, jajan atau sekedar mengajak orang-tua jalan-jalan. Namun, sebenarnya saya juga bekerja hanya untuk mengisi waktu. Iya, saya tidak ingin terlalu lama bekerja, setidaknya sampai saya mendapatkan kesempatan untuk studi lagi, secepatnya pekerjaan ini saya tinggalkan. Bukan berarti tidak komitmen, namun pekerjaan ini sesungguhnya tidak menjanjikan apa-apa untuk kehidupan saya yang masih panjang di masa mendatang.

Lantas, sejauh ini, apa yang membuat saya bertahan? Pertama, lokasi kantor yang dekat dengan rumah, sehingga kalau terjadi sesuatu hal yang emergency di rumah, bisa segera mengambil tindakan dengan cepat. Kedua, lokasi kantor dekat dengan Kampus Sanata Dharma – yang memiliki Kapel, dimana saya sering mengikuti Misa; baik Misa harian, Misa Hari Minggu, atau sekedar Jalan Salib saat Jumat Pertama. Jika berjalan kaki dari kantor, hanya kurang lebih 5 menit, sudah sampai gerbang depan Kapel. Jawabannya terkesan sepele dan tidak masuk akal, ‘kan? Tapi setidaknya, untuk saat ini, kedua hal itu yang membuat saya memiliki semangat untuk tetap bekerja dan terus berjuang. Kedua hal itu pula yang hingga kini membuat diri ini tetap merasa hidup.
***

Padahal, jauh sebelum lulus kuliah, saya memiliki impian untuk bekerja di luar kota Yogyakarta. Bekerja apapun, yang penting jauh-dari-rumah. Namun, skenario Tuhan tidak ada yang pernah tahu. Pada Bulan November tahun 2017, Ayah masuk Rumah Sakit untuk yang pertama kali dengan penyakit yang cukup fatal.  Hiponatrium, yang pada akhirnya mengganggu fungsi ginjal dan Hipertensi yang berdampak gangguan pada otot jantung - hingga sempat kritis beberapa hari. Kemudian tahun berikutnya, dan kebetulan pada bulan yang sama, Ayah kembali masuk Rumah Sakit untuk kali kedua, juga sama fatalnya. Indikasi jantung yang bermasalah, ditambah diare parah yang membuat cairan dalam tubuh berkurang, dan lagi-lagi kritis. Beruntung saat itu saya masih bekerja secara freelance, sehingga bisa bolak-balik kantor-rumah-rumah sakit, dan berbagi waktu dengan Ibu untuk menjaga Ayah serta mengurus rumah. 
Belum selesai disitu, masih di tahun yang sama pula, pada akhir bulan November 2018 - saya harus mengadopsi seekor anak anjing yang hampir meregang nyawa akibat digigit kucing liar yang nakal. Waktu itu saya tidak pikir panjang, yang penting nyawa anak anjing ini tertolong, dan dia dapat terus hidup.
Tanggungan-tanggungan tanpa rencana itu pada akhirnya membuat pendek kaki ini untuk dapat melangkah ke tempat yang jauh.
***

Saat semuanya berjalan diluar kendali kita, apakah kita tetap mampu bersyukur?

Beberapa bulan awal bekerja, saya sering sekali menjadi sakit. Mungkin ini yang namanya psikosomatis, ia menyerang pikiran yang kemudian merambat ke organ tubuh yang lain. Ada yang psikosomatis, lalu menjadi obesitas, ada pula yang menjadi anorexia. Kebetulan dalam kasus saya saat ini, yang diserang adalah syaraf. Kecil, tidak kelihatan namun dampaknya besar, dan cukup fatal. Dalam satu bulan, pasti saya mau tidak mau izin sakit (meski sebenarnya tidak boleh) karena harus berobat dilanjutkan terapi ke Rumah Sakit, dan tentu harus banyak bersabar mengurus peradministrasian karena seluruh biaya ditanggung asuransi BPJS dengan pelayanan yang kurang maksimal. Penyakit-penyakit itu seputaran gangguan syaraf, seperti Vertigo, HNP (Herniated Nucleus Purposus) sampai pernah terakhir Neurpati Perifer. Aneh-aneh aja ya, penyakit yang sebelumnya tidak pernah atau jarang muncul, sekarang datang tanpa diundang.
***

Menjadi anak perempuan dan satu-satunya dalam keluarga, memaksa kita tetap mengikuti nilai-nilai sebagai perempuan, namun juga harus bertahan sekuat laki-laki. Karena mau tidak mau kita mesti berdiri diatas kaki sendiri, bukan karena memanfaatkan kesempatan atau belas kasihan orang lain. Masa-masa sekarang ini, perempuan sangatlah membutuhkan kemandirian finansial dengan bekerja, baik menjadi pekerja di sektor formal, maupun informal; seperti berdagang, membuka usaha mandiri skala rumahan, atau lainnya. Penghasilan dari pekerjaan yang dilakoni akan memberikan bekal yang dibutuhkan bagi perempuan untuk menjalani kehidupan. Namun seminim-minimnya motivasi saya untuk dapat terus bekerja, dalam hati saya menguatkan diri bahwa ini adalah salah satu cara Tuhan untuk memformasi hidup saya. Soal kemandirian finansial bagi perempuan menurut saya juga penting karena tidak ada siapapun yang tahu apakah di hari esok ketergantungan ekonomi membuat perempuan menjadi tidak dapat menghindar dari hal buruk yang akan terjadi.


Dalam hati kecil, seringkali saya menggugat, kenapa saya harus berada di sini, seperti ini dan saat ini? Tidak ada kebanggaan yang muncul saat menerima gaji pertama kali, juga tidak ada gairah saat orang-orang antusias bertanya soal pekerjaan saya. Untuk skala kota Yogyakarta, dan setingkat pekerjaan seperti ini, besaran gaji yang saya terima sebenarnya cukup besar. Namun sekali lagi, bukan tentang angka nominal yang saya terima, melainkan kepuasan batin. Dan saya tidak mendapatkan kepuasan itu.
Mereka yang bertanya dengan antusias tentu bukan pula karena prestige, karena sekedar ingin tahu dan kemudian mulai mengkomparasi. Kalau sudah begitu, seringkali saya menghindar dan malas berbasa-basi, dijelaskan toh tidak juga semua bisa paham. Bekerja seperti robot yang sama sekali tidak memiliki sisi humanis, membuat saya diam-diam semakin kritis, dan menjadi anomali di kantor sendiri.

Iya, anomali. Berbeda dari yang lain seringkali membuat kita menjadi sulit bertumbuh dan berkembang. Tentu masih bisa berbaur dan bergaul. Masih pula memiliki teman untuk bertukar cerita, meskipun tidak banyak. Jarang sekali bisa mengobrol hingga tertawa. Banyak diam meski tidak mengeluh. Entah kapan menjadi anomali ini berlalu, mungkin saat diri sendiri telah mampu menerima kenyataan, atau mungkin saat diri ini tidak lagi merasa, 
“Kenapa aku berbeda dan kenapa aku berada di sini - di tempat ini?
***

Tidak apa-apa, saat kau berada dalam sekelompok orang yang memiliki pandangan dan aliran berbeda denganmu. Karena kau tidak mampu memaksa agar semua orang menyukai kehadiranmu, hanya karena kau sedikit lain dari mereka.
Karena sesungguhnya, tidak apa-apa sesekali untuk menjadi berbeda. Dan kau akan mejadi kuat karenanya.


Ilustration of a woman with a good-relief
(Picture by : Pinterest)

Kata-kata

Kau dan Dia

July 28, 2019

Bagaimana rasanya hidup dalam permainan, atau lebih ekstrimnya, dipermainkan? Lelah. Sungguh sangat melelahkan sekali.

Pernahkah kau suatu kali berpikir tentang tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan? Banyaknya irisan persamaan dengan beberapa orang yang kau temui, dan beberapa bahkan bisa menjadi dekat dalam relasi hidup ini adalah salah satu kebetulan yang tidak pernah direncanakan. 

*** 
Sedari awal, saat kau dan dia seharusnya pertama kali bertemu, kau tidak diperkenankan menghampirinya lebih dulu. Sebaliknya, dia-lah yang pada akhirnya menghampirimu, mendatangimu meski bukan karena kehendakmu. Bukan pula karena menanggapi ajakan darimu, namun IA yang telah mengatur skenarionya. 

Sedari awal, harusnya kau juga paham, meskipun banyak pertalian yang menghubungkan masa lalu kau dan dia, sehingga terjadi banyak persamaan – sesungguhnya kau sadar bahwa kau dan dia sebenarnya sangat jauh berbeda. Kau mesti harus berjuang, sementara dia tidak, karena dirinya telah ada yang memperjuangkan. Kau harus mencari hadiah sebagai imbalan atas seluruh jerih-payahmu, sementara dia telah mendapat anugerah. Hidupnya tak perlu lagi ada kekhawatiran, yang tentu berbeda denganmu karena penuh keabu-abuan. 
*** 
Karena sesungguhnya, kau dan dia sama-sama terikat. Kau dan dia mungkin terjebak dalam sebuah irisan masa lalu yang menyenangkan, namun kau juga harus paham bahwa masa depan kau dan dia sesungguhnya amatlah berbeda. 

Karena sesungguhnya, saat kau dan dia sama-sama mencintai pengetahuan, tentu itu bukanlah hal yang buruk. Namun kau juga harus paham, bahwa dia menempuh jalan yang sekarang harus dijalani atas sebuah perintah, sebuah tanggung-jawab, keharusannya – bukan semata keinginan, atau impian. 

Karena sesungguhnya, usai kewajibannya tuntas, dia tak perlu lagi khawatir karena dunia telah memberikannya sebuah misi baru yang sudah dalam genggaman. Sementara, kau masih meraba-raba. Jadi, jangan buang-buang waktumu, mimpi-mimpimu, harapan-harapanmu, dan segala macam khayalmu – untuk suatu saat nanti berada di kampus yang sama, kota yang sama, menyelesaikan tugas akhir bersama, memakai toga di tugu alma-mater yang sama, hingga menghabiskan akhir pekan dengan mendatangi konser band favorit bersama, atau sekedar menonton pertandingan klub bola kesayangan bersama-sama. 

Karena sesungguhnya, ada beberapa orang yang dipertemukan olehNya untuk saling melengkapi hidup, saling menyempurnakan satu sama lain. Namun ada pula yang dipertemukan olehNya, dengan ketidaksengajaan yang sempurna hanya untuk melengkapi kekosongan hati – bukan raga, namun jiwa. Kau dan dia sama-sama saling mengisi, saling mengasihi, namun tidak untuk saling memiliki. 
*** 
Jadi, kau. Pandai-pandailah menjadi pemain yang handal, dalam setiap permainan yang diberikan olehNya. Karena ujian akan selalu ada, dan bukan menjadi lebih mudah. Karena kau harus bisa, berdiri diatas kakimu sendiri – bukan karena pertolongan orang lain yang merasa iba. Karena, kau harus menjadi kuat, sekalipun untuk dapat bisa melangkah tanpa tatih, meski harus meniti di atas buih.


Picture by : Pinterest

Reflection

Melihat Altar

June 08, 2019

Picture by : Pinterest

Pagi masih ranum dengan geliat. Embun menempel pada dedaunan, kabut tipis menyelimuti semesta. Memasuki musim kemarau, justru dinginnya udara saat pagi hari semakin menusuk pori-pori kulit hingga menggigil. Sabtu pertama di bulan Juni, aku pergi misa harian pagi. Pagi-pagi sekali, juga tidak dengan siapa-siapa. Bukan seperti misa besar di hari Minggu biasa. Dalam kalender liturgi, biasa dikenal dengan perayaan Sabtu Imam, atau Sabtu Pertama setelah Jumat Pertama di setiap bulannya. Biasanya, Gereja Katolik juga rutin mengadakan intensi secara khusus untuk mendoakan para selibat. Tidak banyak yang tahu, jika di Sabtu pertama ini ada sebuah Devosi Sabtu Pertama atau dikenal juga dengan Devosi Penampakan Bunda Maria di Fatima.
***
Misa hari itu ditutup dengan Imam yang mencium altar. Mencium altar adalah salah satu keindahan tradisi dalam Gereja Katolik. Tradisi ini berkembang dari kebiasaan orang-orang pada masa lampau, yang masih memandang tindakan mencium sebagai lambang hormat. Di dalamnya juga berkembang kebiasaan untuk mencium benda-benda yang mengandung makna Ilahi. Altar adalah salah satu dari benda yang mengandung makna Ilahi ini. di atas altar, Kristus dapat hadir ditengah-tengah kita dalam rupa roti dan anggur. Biasanya altar juga diberkati secara khusus oleh uskup dengan minyak suci, pada saat peresmian gereja atau kapel baru. Altar juga merupakan simbol dari Kristus sendiri, sang Batu Penjuru Gereja. Bahkan di dalam beberapa kesempatan, sebelum memberkati umat di penghujung misa, imam terlebih dahulu mencium altar. Hal ini secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa berkat yang ia berikan tidak datang dari dirinya, namun dari Kristus melalui perantaranya. Ada pula altar yang ditemukan di beberapa gereja, sebuah relikui dari orang-orang kudus, yang dimasukkan ke dalam altar tersebut. Ketika Imam mencium altar, ia juga sedang mencium relikui itu. Ritual ini, bukan berarti sebagai manusia, kita mengagungkan altar sebagai benda yang fana. Melainkan, hanya sebagai tanda hormat dan syukur kepada Kristus yang hadir di atas altar. 

Masih juga bertahan di dalam satu kapel milik kampus yang cukup tua di kota ini. Kapel kecil, namun selalu memanggilku untuk kembali. Baik perayaan besar atau sekedar Minggu biasa, saat penat di kantor atau ingin berdoa aku memilih untuk mendaraskannya disini. Halamannya rindang. Pohon yang mungkin usianya sudah puluhan atau ratusan tahun, menambah teduhnya suasana kapel. Diri ini seperti merasuk entah reinkarnasi jiwa siapa, tapi aku selalu suka memandangi interior Art-Deco, ditambah lagi jendela berhias kaca patri berwarna-warni dengan gambar Orang-orang Kudus. Dan kapel disini memiliki keseluruhan itu, paduan atmosfer yang aku suka. 

Sengaja aku datang untuk menikmati pergi ibadah tidak dengan buru-buru. Hari itu kebetulan sedang libur, juga karena ada beberapa hal yang mengganggu pikiran. Duduk diam di bangku kapel, seusai misa pagi selesai, aku menunggu semua riuh hilang. Pelan-pelan ruangan mulai lapang, satu-persatu umat mulai meninggalkan kapel, kembali melaju pada aktivitas sehari-hari. Aku merasa senang dan tenang, masih ada waktu beberapa menit sendirian. Maka, aku turun perlahan dari balkon tempatku menghabiskan sepanjang misa, kudekati altar. Kuluruskan pandangan, dan padaMu yang masih berdiam disana. Pelan dan perlahan, aku menggumamkan pertanyaan yang terus-menerus bergolak di hati dan pikiran.
***
Belakangan ini seringkali aku menguraikan konsep kedalaman juga makna sebuah rasa. Dan sepertinya aku terjebak pada kenyataan bahwa takdir hidup yang kebetulan tidaklah mudah. Karena lebih tidak mudah saat jatuh hati pada sebuah jiwa dibandingkan tubuh semata. Tidak mudah, jatuh hati pada apa yang tersimpan didalamnya. Intangible. Perkara jatuh hati pada sebuah jiwa adalah hal yang sulit kuhindari. Dan ketika sudah menyentuh inti, maka hal itu yang akan sulit membuatmu berpaling. Karena yang kau cintai adalah kedalamannya, hal yang tak semua orang mampu melihat atau mampu merasakannya. Namun kau mempunyai alasan kuat untuk tetap bertahan. Seperti, kau jatuh hati karena tutur-katanya yang tenang namun berisi, kau jatuh hati karena sosoknya yang kritis dalam memandang problem esensial, kau jatuh hati karena ia adalah seorang yang mampu membuatmu merasa aman – melindungimu tanpa banyak berbicara, kau jatuh hati karena segala jenis pembicaraan antara kalian selalu menyenangkan meski sesekali juga membuat kesal, kau jatuh hati karena dia unik, kau jatuh hati karena dia cerdas, kau jatuh hati karena dia, atau kau jatuh hati karena segala yang melekat padanya? Dan sayangnya, dia yang membuatmu jatuh hati, juga dikagumi bahkan dicintai oleh banyak orang. Dia yang membuatmu jatuh hati, ternyata bukan sosok yang mudah kau gapai. Kau bisa mempunyainya, namun tak sanggup memilikinya.

Kau tau dia tak bisa mencintaimu, namun dia membutuhkanmu. Dan itu sudah membuatmu merasa senang. Nothing to loose, bukan hanya cinta yang buta – jatuh hati juga bisa sebodoh itu. Apakah hati yang sebagian besarnya sudah kuserahkan? Baiknya kubiarkan atau kujemput pulang? Sungguh, rupanya ini bukan perkara mudah untukku. 

Rindu ini sudah mengenyam sedemikian panjang, hatiku sudah tenggelam demikian dalam. Di Depan altar, air mata mulai menitik satu-persatu – tapi Kau pasti juga tahu, sakit di dadaku ada seribu. Kembali lagi di pagi itu, aku menyentuhkan lutut pada lantai, menyatukan tangan dalam banyaknya pergumulan, partikel-partikel permohonan. Menanti jawaban untuk segala risau yang kupanggul sejak lama. Meski telah kucoba pahami, menjadi muridNya berarti turut serta memanggul salib, dan itu jelas tidak pernah mudah. 

Usai sekian lamanya menunggu, aku tetap membuka hatiku lebar-lebar, menungguMu berkenan memberikan obat penawar, untuk segala luka dan sakit yang demikian tajam. Pada akhirnya, akan lebih mudah saat kau hanya sekedar mencintai yang kelihatan. Karena yang terlihat lebih mudah sirna, namun yang tersimpan tak lekang oleh masa. Seperti elegi, mencintai dia yang kurang mencintaimu, rasanya melelahkan sekali. Dan celakanya, hanya dia yang mampu memenuhi keinginanmu sekaligus meruntuhkan ekspektasimu.
***
  Melihat altar, mendaraskan permohonan yang tak pernah mampu orang lain pahami. Memeluk duri-duri kehidupan, yang nyatanya menyakitkan dirimu sendiri.