25

December 13, 2019

Seorang penulis Amerika bernama Ralph Waldo Emerson pernah menulis "It's not the lenght of life but the depth of life", yang berarti hidup ini bukan persoalan seberapa lama, tetapi seberapa dalam. Kata-kata itu memang sungguh memiliki arti yang mendalam, kedalamam hidup itu mampu terwujud ketika hidup kita dapat memberikan kontribusi bagi kehidupan, minimal sekeliling kita. 

Dalam hidup juga, pertama-tama kita tumbuh. Saat proses bertumbuh, tentu kita butuh diberi pupuk, dipelihara. Setelah bertumbuh dengan baik, pertumbuhan itu membuahkan bunga yang telah berkembang, dan disanalah ia menjadi indah. Mewangi dan disukai. Perkembangan seperti ini tentu saja merupakan rahmat dari Tuhan. Namun bagaimana saat segalanya telah berjalan diluar jalur? Sementara hidup terus berjalan, tahun akan tetap bertambah dan pengartian akan sesuatu juga berubah seiring bertambahnya pengetahuan serta banyaknya pengalaman. 
*** 

Dan tidak terasa, telah satu hari ini tepat seperempat abad menjalani perjalanan di dunia. Bagaimana kini kau merawat kebahagiaan, setelah bertahun-tahun merasakan kebas yang amat-sangat?

Ketika mendapatkan ucapan pada hari ulang tahun, terbersit pikiran dalam diri sebuah makna usia, bahwa hari demi hari, waktu kita berlari tanpa henti. Bahkan, tanpa kompromi meninggalkan kita. Tempus fugit. Bagaimana kau merayakan pertambahan usiamu? 

Setiap orang akan memperingati hari kelahirannya dengan cara yang berbeda. Ada yang melakukannya dengan diam-diam, ada yang merayakan dengan sederhana, bahkan ada pula yang merayakan dalam hiruk-pikuk pesta. Dalam artikel Birthday Traditions from Around the World yang dimuat dalam northseattle.edu dikatakan bahwa tradisi pesta ulang tahun dilakukan pertama kali oleh orang-orang Eropa. Tujuan perayaan ketika itu adalah untuk melindungi orang yang berulang tahun dari ancaman roh-roh jahat. 
Masyarakat Eropa percaya bahwa roh-roh jahat sangat senang dan tertarik pada orang yang sedang berulang tahun. Sehingga untuk melindungi mereka dari bahaya, orang yang berulang tahun akan mengundang teman-teman, keluarga dan kerabat terdekat untuk memberikan doa yang baik serta ucapan kepada orang yang berulang tahun. Pergeseran budaya tersebut semakin meluas ke banyak negara, dari yang awalnya hanya dilakukan untuk raja untuk menangkal kemalangan yang akan terjadi, menjadi pesta yang dirayakan oleh berbagai kalangan dengan lintas usia. 

Seiring dengan berkembangnya zaman, perayaan ulang tahun juga banyak mengalami perubahan makna. Seperti kue ulang tahun yang dulunya selalu ada di setiap perayaan pesta ulang tahun kemudian digantikan dengan makanan atau hal lainnya yang disesuaikan dengan budaya di setiap negara, di Indonesia misalnya - dalam kebiasaan masyarakat Jawa, kue seringkali digantikan dengan tumpeng nasi kuning atau tumpeng gethuk.
Bagaimana keluarga kami merayakan anggota keluarga yang sedang berulang-tahun? Saya termasuk anak hibrida yang bertumbuh dalam lingkungan heterogen. Ayah seorang Dayak asli, sementara Ibu seorang Jawa namun tumbuh dan besar di Kalimantan. Sementara keduanya kemudian bertemu di Yogyakarta, menikah dan menetap di kota ini, hingga saya lahir. Tidak pernah ada perayaan khusus dalam unsur kultur tertentu, baik ayah dan ibu mendidik dengan cara yang nonpartisan, tidak cenderung ke siapa-siapa. Sekalipun pada penerapannya, seringkali terjadi over-parenting yang menyebabkan pribadi ini menjadi terlalu hati-hati.

Ketika angka kian bertambah, bagi saya perayaan tidak lagi menjadi hal yang menyenangkan saat memasuki usia yang baru. Rasa-rasa penasaran tentang siapa yang akan memberikan hadiah atau ucapan seperti tidak lagi menjadi kejutan. Entah kenapa dalam kurun beberapa tahun terakhir, moment pertambahan usia tidak lagi terasa istimewa. Tidak banyak yang saya harapkan terlebih ketika mulai memasuki masa life-quarter crisis, karena telah banyak kepahitan yang kemudian membuat perasaan-perasaan itu menjadi perlahan-lahan hambar. 
*** 

Sedikit bercerita kembali dengan angka. Terlahir dan bertumbuh dalam kebudayaan Jawa yang kental sedari kecil, mau tidak mau turut serta memahami istilah bahasa di kota Yogyakarta yang masih sarat dengan ragam filosofisnya. Dalam Bahasa Jawa saja misalnya, angka kepala dua menggunakan istilah Likur. Semisal Selikur (21), Rolikur (22), Telulikur (23), dan seterusnya hingga angka Tiga Puluh. Namun, saat jatuh pada angka 25, penyebutannya tak lantas menjadi Limolikur. Melainkan, Selawe.

Konon, penyebutan Selawe tersebut memiliki makna tersendiri. Selawe diartikan sebagai Seneng-senenge Lanang lan Wedok, atau dalam Bahasa Indonesiannya : Sedang suka-sukanya seorang laki-laki dan perempuan. Benarkah begitu? 

Bisa jadi. Filosofi yang tersimpan di dalamnya sesungguhnya (hanya) tentang pernikahan. Umumnya, seorang laki-laki atau perempuan Jawa akan melangsungkan pernikahan saat berumur 25 tahun. Karena pada saat usia inilah seorang Jawa dinilai sudah matang dan siap untuk membina Rumah Tangga. Namun bagaimana jika tidak terkait dengan hal pernikahan, apakah usia dapat menjadi titik tolak kematangan emosi seseorang? 
*** 

Lantas apa saja yang telah kuperbuat selama 25 tahun ini? Entah. Saya sendiri tidak yakin apakah selama ini saya telah hidup dalam kesadaran yang utuh.

Benar bahwa kehidupan adalah proses pencarian dan idealnya manusia menemukan kedamaian dengan hatinya sendiri. Tetapi dalam proses mencapai hal itu, kita masih perlu memilih dan memilah, kapan saat yang tepat mendengarkan suara dari dalam diri dan kapan saat yang tepat mengikuti pendapat orang lain. Dalam hidup yang semakin rumit ini, kita membutuhkan keseimbangan. Sangat disayangkan saat keseimbangan itu telah hilang dari sosok diri seseorang. Bahwa ternyata masih ada banyak hal yang sesungguhnya belum kita ketahui, hingga orang lain yang menjadi cermin. Karena saat melihat kedalam cermin, rupanya bukan hanya tentang hal-hal yang baik dan menarik, namun juga mampu melihat keropeng-keropeng yang melekat dalam segala keindahan itu.

Keseimbangan. Itu yang telah lama hilang, hingga hidup ini rasanya semakin timpang, sering oleng dan kurang sadar. Terlalu sibuk merenung, tidak terasa waktu telah bergeser 18 menit sejak memasuki tanggal 13. Satu pesan masuk, pesan pertama. Kata demi kata yang terangkai dengan amat sederhana, namun mampu mengukir senyum hingga tak mampu lagi mengucap, antara ingin menangis sekaligus terlalu bahagia. Happy birthday, Vivas ad multos annos, ad summam senectutem. Dominus Vobiscum. Pembicaraan setelahnya tidak jauh-jauh tentang lagu Coldplay yang baru saja rilis dan cerita ringan lainnya.

Keinginan paling sederhana sekalipun, jika semesta belum menghendaki rasanya akan sulit untuk terwujud. Biar bagaimana juga, hidup terus berjalan, sesuai atau tidak dengan yang kita harapkan. Untuk itulah, saya juga ingin mengucap syukur atas anugerah di petualangan hidup yang baru ini.
Terimakasih untuk masih ada dalam ingatan. Terimakasih untuk membuat jiwa ini kembali tumbuh perlahan-lahan. Terimakasih pula untuk terus saling mendaraskan dalam doa. Terimakasih telah membuat 25 ini menjadi indah. Dan, terimakasih untuk pernah ada.


nb. si jubilaris mendapatkan hadiahnya : jalan-jalan. hanya hal sesederhana itu untuk membuatnya bahagia.

You Might Also Like

0 comments