![]() |
| (Picture by : Pinterest) |
Ada satu catatan awal untuk dua kategori yang mana Liga Inggris termasuk di dalamnya. Pertama, sifat event adalah behind closed door (etdaaah kaya lagu apa ini ya) dan disiarkan melalui televisi. Dan yang kedua, harus bisa mengurangi kontak fisik dalam skala besar. Jadi, untuk pertandingan final ini, artinya semua digelar tanpa penonton. Model pertandingan seperti ini semacam doa-doa yang sering diaminkan oleh fans berat Liga Inggris dan tidak dapat nonton langsung di stadion, karena kini memiliki posisi yang sama.
***
Sejak kompetisi Liga Inggris dihentikan karena pandemik Covid-19, saya sudah menegaskan (menegaskan ke siapa) kalau gelar juara diberikan saja kepada Liverpool. Toh, mereka juga sudah unggul 25 poin, melihat hitungan saecara matematis dan performa kala itu. Liverpool sudah lebih dari unggul dan layak menjadi juara. Intinya perdebatan tentang pantas atau tidak menjadi juara itu tidak ada lagi maknanya.
Namun segala perjuangan dan penantian itu tidak lagi sia-sia. Setelah 30 tahun, melewati tiga dekade, dan juara liga nomor 3 untuk Jurgen Klopp, akhirnya tahun ini Liverpool menyandang kembali status juara terbaik : Juara Liga Inggris. Angka 3 ini juga mewakili entitas terbaik bernama Liverpool, yaitu fokus, konsistensi dan determinasi.
Tidak ada kata selain layak untuk Liverpool pada musim ini. Mereka mampu menjadi juara paling cepat dalam sejarah liga Inggris. Unggul lebih dari 20 poin dari peringkat kedua, Manchester City. Seharusnya, The Reds ini sudah memastikan status juara, jauh hari jika tidak ada pandemik yang melanda dunia. Fenomena menggemaskan, yang sempat melahirkan ketidakjelasan dan membuat tipis harapan bagi Liverpool untuk memutus puasa gelar selama 30 tahun. Lebih buruk lagi, ketika pandemik Covid-19 terlihat tidak bisa diatasi, kompetisi Liga Inggris diwacanakan akan dibatalkan, null dan void. Jika keputusan itu yang diambil, saya rasa para Liverpudlian akan menjadi fans paling menderita di muka bumi. Karena tak ada yang lebih menderita kan, daripada kemenangan sudah dalam genggaman tapi tanpa alasan lalu lepas begitu saja?
Belajar dari kemenangan Liverpool, resep menjadi juara bisa disaring menjadi dua aspek : kerja keras dan konsisten. Entah itu tim yang sepak bola bermain dengan indah atau bermain dengan pragmatis, tetap ujung-ujungnya adalah konsisten. Sejarah sudah menjadi bukti, cara bermain saja tidak menentukan nasib juara, karena semuanya kembali ke : “Seberapa konsisten kah kamu?”
Kerjasama terjalin dengan amat sangat baik antara Jurgen Klopp dan skuat Liverpool lainnya. Pemain dan pelatih menjadi satu entitas saja dengan pemahaman yang sama, yaitu untuk menang harus melakukannya bersama-sama. Ikatan dan berbagai kekecewaan yang menumpuk itu menjadi bahan bakar bagi skuat The Reds dan melahirkan konsistensi. Mereka belajar kalau kehilangan ritme dalam sebuah momen berarti kegagalan di akhir musim. Sebuah tim yang paling sulit dikalahkan adalah mereka yang konsisten. Setidaknya, begitulah faktanya.
Kata terakhir untuk menggenapi status juara Liverpool adalah determinasi. Dan satu kata ini, bisa diterjemahkan ke dalam banyak aspek yang disempurnakan oleh The Reds. Determinasi terlihat di atas lapangan. Terutama ketika Liverpool harus berjuang sampai detik terakhir untuk mengakhir sebuah pertandingan dengan kemenangan. Namun, determinasi paling paripurna terlihat di balik layar.
***
Jurgen Klopp, semacam memahami kalau cara bermainnya yang dinarasikan dengan heavy-metal itu tidak akan sukses di Liga Inggris. Perlahan, seiring waktu, ia mengubah pendekatan menjadi cara bermain yang bisa dinarasikan menjadi rock-ballad. Terkontrol, terencana.
Meskipun tidak semua laga saya menonton dengan penuh (terpotong waktu bekerja dan lain-lain) saya rasa, Liverpool belajar banyak hal baru dan berhasil ditambahkan ke cara bermain mereka. Dari gegenpress yang menguras energi, menjadi possession football ketika dibutuhkan. Dari skema pakem 4-3-3 berkembang lebih fleksibel menjadi 4-2-3-1 atau 4-4-2. Semuanya adalah wujud determinasi untuk sukses, determinasi untuk terus belajar.
“Kami berhasil menjadi juara bersama-sama. Atmosfer di dalam dan luar klub sangat membantu. Level intensitas, bahkan semua orang di sini menghidupi sepak bola. Adalah para pemain yang datang yang berjasa. Kami bisa memenanginya bersama-sama. Bermain di Liga Inggris itu sangat sulit. Bisa menjadi juara di kompetisi ini hanya jika kamu konsisten.”
Kata “konsisten” muncul lagi. Memang, konsistensi akan selalu mengiringi determinasi. Lewat kalimat itu, kita tahu Jurgen Klopp dan semua entitas di Liverpool berhasil melebur menjadi satu. Manajemen, pelatih, staf, pemain, dan fans. Semuanya menjadi satu. Terutama manajemen dan pelatih yang punya satu rasa. Manajemen dan pelatih punya determinasi yang sama, untuk menjadi yang terbaik. Keduanya saling percaya dan tidak melangkahi kewenangan masing-masing. Sisi teknis adalah wewenang Jurgen Klopp dan ranah itu tidak dijamah oleh manajemen. Ada berapa klub gagal yang manajemen dan pelatihnya tidak bisa menjadi satu entitas? Musim ini ada banyak.
***
Jurgen Klopp sepertinya tahu betul cara bagaimana mengasihi Liverpool. Ia menunjukkanya lewat cara memimpin. Lima poin penting seorang pemimpin, ia pegang betul demi meladeni proses pendewasaan yang berulang-ulang ini.
Pertama, Jurgen Klopp menginjeksikan rasa percaya diri.
Manusia menguasai sebuah bidang, tapi tidak untuk bidang lain. Ia boleh andal untuk satu hal, tapi harus bisa membiarkan orang lain menuntunnya untuk hal lain. Tanpa kepercayaan diri yang besar, manusia akan minder ketika ia diberi arahan oleh orang yang lebih ahli. Padahal, dirinya tidak menguasai bidang yang dimaksud.
“Itulah wujud kepemimpinan. Kamu dikelilingi orang-orang pintar dengan pengetahuan yang lebih baik ketimbang dirimu. Kami tidak boleh bertingkah tahu semua hal dan kamu harus selalu siap untuk mengakui bahwa kamu tidak tahu akan sesuatu.”
Liverpool hidup dalam konteks kepemimpinan itu. Sebagai sebuah jaringan, para pemain menyokong pemain lain dengan kemampuannya. Masing-masing punya andil, punya peran, untuk menyusun sebuah tim menjadi satu kesatuan.
Kedua, kesederhanaan.
Jurgen Klopp adalah pelatih yang “terlihat santai”. Ia tidak akan memaksa pemain baru Liverpool untuk langsung tahu semuanya. Ia memberi mereka kebebasan “untuk bermain”, baru kemudian secara perlahan, dituntun dengan informasi. Lewat cara pendekatan sederhana itu, pemain tidak menjadi kerbau yang dicucuk hidungnya. Mereka yang bermain di atas lapangan. Tanpa kebebasan, para pemain justru tidak berkembang. Para pemain berpikir secara bebas di atas lapangan. Namun, mereka tetap bisa memahami ide dari pelatih. Ingat, tidak ada yang enak dari sesuatu yang dipaksa.
Ketiga, energi.
Setiap gol Liverpool adalah perayaan untuk Jurgen Klopp. Mengapa ia selalu menunjukkan energi sebesar itu?
“Ada dua alasan mengapa saya begitu penuh semangat di sisi lapangan. Pertama, itu memang karakter saya, meskipun saat ini saya lebih kalem ketimbang dulu. Kedua, saya ini seperti energi cadangan untuk para pemain.”
Liverpool bermain dengan intensitas tinggi hampir di setiap pertandingan. Ada kalanya pemain kehabisan energi dan kehilangan konsentrasi. Saat itu terjadi, pelatih asal Jerman itu akan selalu ada untuk “menendang bokong” setiap pemain, memberi lecutan semangan untuk berlari sekali lagi.
Keempat, membina hubungan yang sehat.
“Sebagai sebuah tim sepak bola, kami harus bekerja dengan kedekatan yang terjaga. Setiap pemain tahu nama dari setiap pegawai di Melwood. Bukan hanya saya yang harus bisa membangun atmosfer positif, tapi setiap dari kami punya tanggung jawab yang sama. Kami menang bersama-sama.”
Hubungan yang sehat itu terlihat di atas lapangan. Trio Sadio Mane-Mo Salah-Roberto Firmino yang memiliki hubungan telepatik. Dua bek sayap, Trent Alexander-Arnold dan Andrew Robertson paham dengan kebiasaan masing-masing. Keduanya tahu kapan harus bertahan untuk membiarkan sisi lain menyerang, dan demikian juga sebaliknya.
“Para pemain mau berpuasa tentu boleh saja. Saya menghormati agama mereka. Toh mereka tetap bisa bermain luar biasa, terlepas dari mereka puasa atau tidak. Ada masanya ketika Mane atau Salah datang terlambat karena mereka harus salat dulu. Ada banyak hal yang lebih penting ketimbang sepak bola.”
Menghormati agama orang itu lain itu (seharusnya) urusan sepele. Nah, memahami orang lain sebagai manusia dengan segala konsep hidupnya, adalah puncak dari kedewasaan seseorang. Dan Jurgen Klopp telah memahami hal itu dengan sangat baik.
Kelima, memimpin dengan memberi contoh.
Pesepak bola adalah kumpulan orang dewasa. Dan dewasa itu, bukan perkara soal usia. Dewasa adalah tahu tanggung jawab dan menghargai keberadaan orang lain. Sebagai pemimpin, Jurgen Klopp tidak butuh “cambuk” untuk menggerakkan para pemain. “Sebagai pemimpin, kamu tidak harus menjadi yang datang pertama dan pulang paling akhir. Namun, kamu harus bisa memberi contoh.”
“Saya akan selalu berusaha untuk sukses. Saya hidup 100 persen untuk para pemain, bersama para pemain, melakukan yang kami bisa untuk klub. Ini bukan filosofi. Ini adalah cara hidup!”
Lewat berbagai masa pendewasaan dan tumpukan kekecewaan, Liverpool sepenuhnya menjadi entitas terbaik bersama Jurgen Klopp. Ini adalah resep untuk menjadi juara.
***
Kalau mau yang ideal, seharusnya tidak ada wabah, dan tidak ada jeda kompetisi. Suporter memenuhi setiap rongga stadion, lenguhan kecewa dan sorakan gembira mereka asli bukan rekaan, emosi mereka spontan, bukan pula rekaman. Gemuruh nyanyian mereka melobangi langit di atas Anfield, tinju Klopp mencipta listrik dan menyengat tak hanya 54 ribu kopites, tapi juga jutaan pendukung Liverpool di seluruh dunia. Dan perayaan ini semestinya terjadi sebulan lebih awal.
Tapi, sudahlah. Tak ada pilihan, pengandaian, atau hal-hal ideal bagi tim yang 30 tahun menderita. Gelar juara itu akhirnya tiba, penderitaan itu menemukan obat pereda. Penantian itu ternyata punya akhir. Jadi, apa pun bentuknya, bagaimana pun caranya, kapan pun waktu tibanya, mari disambut saja dan nikmati selagi bisa. Jika gembira, bahagia, terharu, keranjingan, atau diksi-diksi meluap-luap yang lain tetap tak mewakili, maka mari kita sebut saja dengan lebih sederhana: lega. Dan, saya kira, itu adalah perasaan paling indah di sepakbola.
Di akhir kesimpulan, Liverpool dan Jurgen Klopp, sang Kapten dan semua pemain yang akan berbahagia. Juga semua rival Liga Inggris tidak bisa berkata apa-apa selain memberi selamat karena mereka memang layak. Selamat, ya Liverpool, menjadi juara itu enak sekali rasanya. Terutama gelar juara yang datang setelah melewati penderitaan dan masa pendewasaan. Congratulation, remember that You Never Walk Alone.
![]() |
| Liverpool The Champion Premier League 19/20 ( Picture by : bbc.co.uk ) |
***
(Though I might fail) knowing I might fail
But still I am hoping for the best
(In my dreams) and in my dreams
Onto my chest
She'll bring the colors and say
“I wandered the whole wide world
But baby, you're the best”
Champion of The World - Coldplay
Ps. Kemenangan ini semacam hadiah yang sengaja Tuhan siapkan tepat saat Liverpool menunggu 30 tahun.



