Reflection

Melihat Altar

June 08, 2019

Picture by : Pinterest

Pagi masih ranum dengan geliat. Embun menempel pada dedaunan, kabut tipis menyelimuti semesta. Memasuki musim kemarau, justru dinginnya udara saat pagi hari semakin menusuk pori-pori kulit hingga menggigil. Sabtu pertama di bulan Juni, aku pergi misa harian pagi. Pagi-pagi sekali, juga tidak dengan siapa-siapa. Bukan seperti misa besar di hari Minggu biasa. Dalam kalender liturgi, biasa dikenal dengan perayaan Sabtu Imam, atau Sabtu Pertama setelah Jumat Pertama di setiap bulannya. Biasanya, Gereja Katolik juga rutin mengadakan intensi secara khusus untuk mendoakan para selibat. Tidak banyak yang tahu, jika di Sabtu pertama ini ada sebuah Devosi Sabtu Pertama atau dikenal juga dengan Devosi Penampakan Bunda Maria di Fatima.
***
Misa hari itu ditutup dengan Imam yang mencium altar. Mencium altar adalah salah satu keindahan tradisi dalam Gereja Katolik. Tradisi ini berkembang dari kebiasaan orang-orang pada masa lampau, yang masih memandang tindakan mencium sebagai lambang hormat. Di dalamnya juga berkembang kebiasaan untuk mencium benda-benda yang mengandung makna Ilahi. Altar adalah salah satu dari benda yang mengandung makna Ilahi ini. di atas altar, Kristus dapat hadir ditengah-tengah kita dalam rupa roti dan anggur. Biasanya altar juga diberkati secara khusus oleh uskup dengan minyak suci, pada saat peresmian gereja atau kapel baru. Altar juga merupakan simbol dari Kristus sendiri, sang Batu Penjuru Gereja. Bahkan di dalam beberapa kesempatan, sebelum memberkati umat di penghujung misa, imam terlebih dahulu mencium altar. Hal ini secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa berkat yang ia berikan tidak datang dari dirinya, namun dari Kristus melalui perantaranya. Ada pula altar yang ditemukan di beberapa gereja, sebuah relikui dari orang-orang kudus, yang dimasukkan ke dalam altar tersebut. Ketika Imam mencium altar, ia juga sedang mencium relikui itu. Ritual ini, bukan berarti sebagai manusia, kita mengagungkan altar sebagai benda yang fana. Melainkan, hanya sebagai tanda hormat dan syukur kepada Kristus yang hadir di atas altar. 

Masih juga bertahan di dalam satu kapel milik kampus yang cukup tua di kota ini. Kapel kecil, namun selalu memanggilku untuk kembali. Baik perayaan besar atau sekedar Minggu biasa, saat penat di kantor atau ingin berdoa aku memilih untuk mendaraskannya disini. Halamannya rindang. Pohon yang mungkin usianya sudah puluhan atau ratusan tahun, menambah teduhnya suasana kapel. Diri ini seperti merasuk entah reinkarnasi jiwa siapa, tapi aku selalu suka memandangi interior Art-Deco, ditambah lagi jendela berhias kaca patri berwarna-warni dengan gambar Orang-orang Kudus. Dan kapel disini memiliki keseluruhan itu, paduan atmosfer yang aku suka. 

Sengaja aku datang untuk menikmati pergi ibadah tidak dengan buru-buru. Hari itu kebetulan sedang libur, juga karena ada beberapa hal yang mengganggu pikiran. Duduk diam di bangku kapel, seusai misa pagi selesai, aku menunggu semua riuh hilang. Pelan-pelan ruangan mulai lapang, satu-persatu umat mulai meninggalkan kapel, kembali melaju pada aktivitas sehari-hari. Aku merasa senang dan tenang, masih ada waktu beberapa menit sendirian. Maka, aku turun perlahan dari balkon tempatku menghabiskan sepanjang misa, kudekati altar. Kuluruskan pandangan, dan padaMu yang masih berdiam disana. Pelan dan perlahan, aku menggumamkan pertanyaan yang terus-menerus bergolak di hati dan pikiran.
***
Belakangan ini seringkali aku menguraikan konsep kedalaman juga makna sebuah rasa. Dan sepertinya aku terjebak pada kenyataan bahwa takdir hidup yang kebetulan tidaklah mudah. Karena lebih tidak mudah saat jatuh hati pada sebuah jiwa dibandingkan tubuh semata. Tidak mudah, jatuh hati pada apa yang tersimpan didalamnya. Intangible. Perkara jatuh hati pada sebuah jiwa adalah hal yang sulit kuhindari. Dan ketika sudah menyentuh inti, maka hal itu yang akan sulit membuatmu berpaling. Karena yang kau cintai adalah kedalamannya, hal yang tak semua orang mampu melihat atau mampu merasakannya. Namun kau mempunyai alasan kuat untuk tetap bertahan. Seperti, kau jatuh hati karena tutur-katanya yang tenang namun berisi, kau jatuh hati karena sosoknya yang kritis dalam memandang problem esensial, kau jatuh hati karena ia adalah seorang yang mampu membuatmu merasa aman – melindungimu tanpa banyak berbicara, kau jatuh hati karena segala jenis pembicaraan antara kalian selalu menyenangkan meski sesekali juga membuat kesal, kau jatuh hati karena dia unik, kau jatuh hati karena dia cerdas, kau jatuh hati karena dia, atau kau jatuh hati karena segala yang melekat padanya? Dan sayangnya, dia yang membuatmu jatuh hati, juga dikagumi bahkan dicintai oleh banyak orang. Dia yang membuatmu jatuh hati, ternyata bukan sosok yang mudah kau gapai. Kau bisa mempunyainya, namun tak sanggup memilikinya.

Kau tau dia tak bisa mencintaimu, namun dia membutuhkanmu. Dan itu sudah membuatmu merasa senang. Nothing to loose, bukan hanya cinta yang buta – jatuh hati juga bisa sebodoh itu. Apakah hati yang sebagian besarnya sudah kuserahkan? Baiknya kubiarkan atau kujemput pulang? Sungguh, rupanya ini bukan perkara mudah untukku. 

Rindu ini sudah mengenyam sedemikian panjang, hatiku sudah tenggelam demikian dalam. Di Depan altar, air mata mulai menitik satu-persatu – tapi Kau pasti juga tahu, sakit di dadaku ada seribu. Kembali lagi di pagi itu, aku menyentuhkan lutut pada lantai, menyatukan tangan dalam banyaknya pergumulan, partikel-partikel permohonan. Menanti jawaban untuk segala risau yang kupanggul sejak lama. Meski telah kucoba pahami, menjadi muridNya berarti turut serta memanggul salib, dan itu jelas tidak pernah mudah. 

Usai sekian lamanya menunggu, aku tetap membuka hatiku lebar-lebar, menungguMu berkenan memberikan obat penawar, untuk segala luka dan sakit yang demikian tajam. Pada akhirnya, akan lebih mudah saat kau hanya sekedar mencintai yang kelihatan. Karena yang terlihat lebih mudah sirna, namun yang tersimpan tak lekang oleh masa. Seperti elegi, mencintai dia yang kurang mencintaimu, rasanya melelahkan sekali. Dan celakanya, hanya dia yang mampu memenuhi keinginanmu sekaligus meruntuhkan ekspektasimu.
***
  Melihat altar, mendaraskan permohonan yang tak pernah mampu orang lain pahami. Memeluk duri-duri kehidupan, yang nyatanya menyakitkan dirimu sendiri.