Film yang diangkat berdasarkan kisah dari Novel karya El James – The Fifty Shades Trilogy, sekalipun sudah tidak marak diperbincangkan lagi (terang saja, rilis tahun berapa saya baru tertarik menonton sekarang), yang bergenre romantis 21+ dan berbalut sadomasokis. Diawali dari seri pertama, Fifty Shades of Grey, kemudian di dua tahun berikutnya muncul Fifty Shades Darker dan seri terkahir Fifty Shades Freed sebagai penutup menyusul satu tahun setelahnya.
Setelah menonton secara marathon, menurut saya film ini cukup istimewa. Bukan dari aspek adegan dewasanya, namun dari alur cerita dengan ending yang membuat bertanya-tanya, serta aspek perdebatan moral yang banyak terdapat pada film tersebut.
Cerita berawal tentang kisah romantis antara Christian Grey dan Ana Steele, sejak tatapan pertama Ana yang terjatuh ketika hendak mewawancarai Christian. Kala itu Ana mewakili temannya yang mendapat tugas bertemu dengan Christian, seorang tokoh muda dengan banyak perusahaan, amat-sangat kaya dan dikenal sebagai milyader muda. Dan jelas-jelas, kisah seperti ini sangat tidak mungkin di dunia nyata, sodara-sodara.
Tatapan pertama itulah yang menudian turun ke hati, dan turun lagi ke bawahnya hati. Dimanakah itu? Ya dimana lagi, apalagi kebiasaan budaya barat kalau sudah bilang I Love You, hmmm tiada lain dan tiada bukan : I wanna sleep with you. Film sejenis ini tentunya tidak akan lolos masuk bioskop tanah air, karena apa? tentunya adegan panas yang banyak mewarnai film ini. bahkan di Turki sendiri, kabarnya film ini disensor hingga 45 menit. Lucu juga sih, lalu apa yang ditonton kalau begitu ya.
***
Setelah pertemuan pertama itu, Christian Grey yang mengidap kelaiann seksual, yang selalu ingin bercinta dengan kekerasan – hingga ia memiliki Pain Room, merasa jatuh cinta dengan Ana Steele. Baginya, Ana berbeda dengan gadis biasa (selera Christian memang cukup unik, ia selalu menyebut lain, karena tidak pernah mau pada tipe wanita biasa). Mata Christian tidak pernah salah, pemeran Ana memang pada dasarnya sangat cantik, yang menjadi daya pikat tersendiri pada film tersebut. Selain cantik, ia juga terlihat sederhana. Yaa, sederhana ala bule gimana sih? Kuliah di jurusan Sastra, dan setiap hari sembari bekerja part-time di toko perkakas. Kecantikannya pun tidak pudar. Bayangkan kalau disini, pasti si Ana ini sudah banyak debu hitam menempel dan bajunya bau thinner.
Seiring berjalannya waktu, Christian kian mengenal Ana yang ternyata, masih perawan. Tentu ia cukup terkejut, karena di Barat biasanya usia-usia kuliah pada umumnya sudah tidak perawan lagi. Rupanya, ada satu syarat yang diajukan oleh Christian, setiap kalo hendak bercinta dengan wanita yang diinginkannya, yang menurut Christian sudah sekitar 15 wanita yang dia ajak ke “Pain Room” untuk aktivitas seksualnya, harus menandatangani semacam kontrak. Hal ini juga berlaku terhadap Ana. Tanpa segan, Christian memberikan kontrak untuk ditandatangani oleh Ana. Disiru juga dijelaskan dengan rinci mengenai kesepakatan-kesepakatan juga batasan-batasan yang disetujui atau ditolak dari tingkat aktivitas seksual antara Christian dan Ana. Setelah cukup lama Ana membaca dan menimbang, Ana menangis. Ia sesungguhnya memiliki otoritas untuk menolak, namun sudah terlanjur terjebak. Ana telah tertarik dan terikat hatinya pada Christian, pria ganteng juga mapan yang memiliki kelainan. Sebelum kontrak sempat ditanda-tangani, nyatanya hubungan mereka tetap berjalan, dan aktivitas bercinta berjalan terus.
Christian Grey sendiri adalah seseorang yang mengidap kelainan Sadomasokis, karena trauma dengan masa kecilnya. Ia menceritakan itu secara terbuka dengan Ana, bahwa masa kecilnya sangat tragis : Ibu kandungnya seorang pelacur, dan ia sering melihat aktivitas seksual yang dilakukan ibunya. Saat ibunya meninggal hingga tiga hari kemudian bari ditemukan, ia berada disana. Setelah ia diadopsi oleh keluarga dokter, yang menjadikannya sukses hingga sekarang, perjalanannya tidak semulus itu. Kawan ibunya, justru yang mengajarinya bagaimana bercinta menggunakan alat-alat mulai dari ikatan, gantung, cambuk dan banyak hal menyakitkan lainnya.
Salah satu ungkapan Christian Grey, yang sampai saat ini saya masih bertanya-tanya apa maksud dari pertanyaan itu. Bahwa, dalam pikirannya selalu berkelebat lima puluh bayangan atau fifty shades, hingga kemudian itu menjadi judul buku dan film. Pernyataan itu terungkap begitu saja yang membuat penonton harus berpikir keras apa maksud dari pernyataan itu setelah ia menceritakan mengenai latar belakangnya. Hal itu sama sekali tidak ada jawaban atas maksud dari pernyataan itu.
![]() |
| Diantara banyaknya adegan di film Fifty Shades of Grey, saya selalu menyukai beberapa scene saat mereka berbincang di dapur. Aneh, ya? Hehehe. (Picture by : Pinterest) |
***
Dari aspek moral, tentu ada banyak orang yang mengkritik dari aktivitas kampanye kekerasan seksual-nya, padahal sesungguhnya bukan itu. Bagi saya, kisah yang tertuang dalam film ini sesungguhnya sedang mengkampanyekan relativisme moral dengan sangat menarik. Masalah diterima atau tidaknya, itu terserah dengan para pemirsa. Trilogi ini bermain di area moral hedonisme ala relativisme. Bahwa moral adalah tergantung dari persepsi masing-masing orang, dan kesepakatan antara dua orang atau lebih. Tidak ada standar moral yang baku, moral bisa dinegosiasikan. Sebatas kedua orang sepakan untuk melakukan hal-hal yang di luar norma masyarakat, dan kenapa tidak. Sekali lagi, bagi saya, kisah trilogi sungguh menarik dari aspek ini.
Ada sisi filosofis yang dikemas dan sengaja (bagi yang menyadari) dikampanyekan pada dunia - terlepas dari salah satu atau tidaknya kampanye moral tersebut, karena pasti film-film Barat ketika mengkampanyekan suatu aliran filsafat seringkali unik. Karena sesungguhnya moral dalam Filsafat Barat itu sifatnya sangat subjektif, kebenaran bukan berada di luar sana, tetapi diciptakan oleh masing-masing orang. Persepsi kebenaran antara masing-masing selalu berbeda, juga relativisme yang sangat kuat bertanggar dalam pola Filsafat Barat.
Sadar atau tidak, film ini adalah wakil dari hegemoni relativisme moral yang memang menjadi landasan utama dari gerakan modernisme yang dipelopori sejak era Descartes, lalu dikenal dengan Cartessian, hingga menjadi Post-Moderenisme yang mengusung semangat sama dengan model yang baru.
Tertarik untuk menontonnya? Buku dan film ini sama-sama menarik, juga cukup menghibur. Hanya saja, saya tidak menyarankan bagi yang sekedar melihat dari satu aspek, ya.




