Cerita Film

Trilogi Fifty Shades : Ketika Moral Menjadi Relatif

July 27, 2020

Film yang diangkat berdasarkan kisah dari Novel karya El James – The Fifty Shades Trilogy, sekalipun sudah tidak marak diperbincangkan lagi (terang saja, rilis tahun berapa saya baru tertarik menonton sekarang), yang bergenre romantis 21+ dan berbalut sadomasokis. Diawali dari seri pertama, Fifty Shades of Grey, kemudian di dua tahun berikutnya muncul Fifty Shades Darker dan seri terkahir Fifty Shades Freed sebagai penutup menyusul satu tahun setelahnya. 

Setelah menonton secara marathon, menurut saya film ini cukup istimewa. Bukan dari aspek adegan dewasanya, namun dari alur cerita dengan ending yang membuat bertanya-tanya, serta aspek perdebatan moral yang banyak terdapat pada film tersebut.

Cerita berawal tentang kisah romantis antara Christian Grey dan Ana Steele, sejak tatapan pertama Ana yang terjatuh ketika hendak mewawancarai Christian. Kala itu Ana mewakili temannya yang mendapat tugas bertemu dengan Christian, seorang tokoh muda dengan banyak perusahaan, amat-sangat kaya dan dikenal sebagai milyader muda. Dan jelas-jelas, kisah seperti ini sangat tidak mungkin di dunia nyata, sodara-sodara.

Tatapan pertama itulah yang menudian turun ke hati, dan turun lagi ke bawahnya hati. Dimanakah itu? Ya dimana lagi, apalagi kebiasaan budaya barat kalau sudah bilang I Love You, hmmm tiada lain dan tiada bukan : I wanna sleep with you. Film sejenis ini tentunya tidak akan lolos masuk bioskop tanah air, karena apa? tentunya adegan panas yang banyak mewarnai film ini. bahkan di Turki sendiri, kabarnya film ini disensor hingga 45 menit. Lucu juga sih, lalu apa yang ditonton kalau begitu ya.

***

Setelah pertemuan pertama itu, Christian Grey yang mengidap kelaiann seksual, yang selalu ingin bercinta dengan kekerasan – hingga ia memiliki Pain Room, merasa jatuh cinta dengan Ana Steele. Baginya, Ana berbeda dengan gadis biasa (selera Christian memang cukup unik, ia selalu menyebut lain, karena tidak pernah mau pada tipe wanita biasa). Mata Christian tidak pernah salah, pemeran Ana memang pada dasarnya sangat cantik, yang menjadi daya pikat tersendiri pada film tersebut. Selain cantik, ia juga terlihat sederhana. Yaa, sederhana ala bule gimana sih? Kuliah di jurusan Sastra, dan setiap hari sembari bekerja part-time di toko perkakas. Kecantikannya pun tidak pudar. Bayangkan kalau disini, pasti si Ana ini sudah banyak debu hitam menempel dan bajunya bau thinner.

Seiring berjalannya waktu, Christian kian mengenal Ana yang ternyata, masih perawan. Tentu ia cukup terkejut, karena di Barat biasanya usia-usia kuliah pada umumnya sudah tidak perawan lagi. Rupanya, ada satu syarat yang diajukan oleh Christian, setiap kalo hendak bercinta dengan wanita yang diinginkannya, yang menurut Christian sudah sekitar 15 wanita yang dia ajak ke “Pain Room” untuk aktivitas seksualnya, harus menandatangani semacam kontrak. Hal ini juga berlaku terhadap Ana. Tanpa segan, Christian memberikan kontrak untuk ditandatangani oleh Ana. Disiru juga dijelaskan dengan rinci mengenai kesepakatan-kesepakatan juga batasan-batasan yang disetujui atau ditolak dari tingkat aktivitas seksual antara Christian dan Ana. Setelah cukup lama Ana membaca dan menimbang, Ana menangis. Ia sesungguhnya memiliki otoritas untuk menolak, namun sudah terlanjur terjebak. Ana telah tertarik dan terikat hatinya pada Christian, pria ganteng juga mapan yang memiliki kelainan. Sebelum kontrak sempat ditanda-tangani, nyatanya hubungan mereka tetap berjalan, dan aktivitas bercinta berjalan terus.

Christian Grey sendiri adalah seseorang yang mengidap kelainan Sadomasokis, karena trauma dengan masa kecilnya. Ia menceritakan itu secara terbuka dengan Ana, bahwa masa kecilnya sangat tragis : Ibu kandungnya seorang pelacur, dan ia sering melihat aktivitas seksual yang dilakukan ibunya. Saat ibunya meninggal hingga tiga hari kemudian bari ditemukan, ia berada disana. Setelah ia diadopsi oleh keluarga dokter, yang menjadikannya sukses hingga sekarang, perjalanannya tidak semulus itu. Kawan ibunya, justru yang mengajarinya bagaimana bercinta menggunakan alat-alat mulai dari ikatan, gantung, cambuk dan banyak hal menyakitkan lainnya.

Salah satu ungkapan Christian Grey, yang sampai saat ini saya masih bertanya-tanya apa maksud dari pertanyaan itu. Bahwa, dalam pikirannya selalu berkelebat lima puluh bayangan atau fifty shades, hingga kemudian itu menjadi judul buku dan film. Pernyataan itu terungkap begitu saja yang membuat penonton harus berpikir keras apa maksud dari pernyataan itu setelah ia menceritakan mengenai latar belakangnya. Hal itu sama sekali tidak ada jawaban atas maksud dari pernyataan itu.

Diantara banyaknya adegan di film Fifty Shades of Grey, saya selalu menyukai beberapa scene saat mereka berbincang di dapur. Aneh, ya? Hehehe.
(Picture by : Pinterest)

***

Dari aspek moral, tentu ada banyak orang yang mengkritik dari aktivitas kampanye kekerasan seksual-nya, padahal sesungguhnya bukan itu. Bagi saya, kisah yang tertuang dalam film ini sesungguhnya sedang mengkampanyekan relativisme moral dengan sangat menarik. Masalah diterima atau tidaknya, itu terserah dengan para pemirsa. Trilogi ini bermain di area moral hedonisme ala relativisme. Bahwa moral adalah tergantung dari persepsi masing-masing orang, dan kesepakatan antara dua orang atau lebih. Tidak ada standar moral yang baku, moral bisa dinegosiasikan. Sebatas kedua orang sepakan untuk melakukan hal-hal yang di luar norma masyarakat, dan kenapa tidak. Sekali lagi, bagi saya, kisah trilogi sungguh menarik dari aspek ini.

Ada sisi filosofis yang dikemas dan sengaja (bagi yang menyadari) dikampanyekan pada dunia - terlepas dari salah satu atau tidaknya kampanye moral tersebut, karena pasti film-film Barat ketika mengkampanyekan suatu aliran filsafat seringkali unik. Karena sesungguhnya moral dalam Filsafat Barat itu sifatnya sangat subjektif, kebenaran bukan berada di luar sana, tetapi diciptakan oleh masing-masing orang. Persepsi kebenaran antara masing-masing selalu berbeda, juga relativisme yang sangat kuat bertanggar dalam pola Filsafat Barat.

Sadar atau tidak, film ini adalah wakil dari hegemoni relativisme moral yang memang menjadi landasan utama dari gerakan modernisme yang dipelopori sejak era Descartes, lalu dikenal dengan Cartessian, hingga menjadi Post-Moderenisme yang mengusung semangat sama dengan model yang baru.


Tertarik untuk menontonnya? Buku dan film ini sama-sama menarik, juga cukup menghibur. Hanya saja, saya tidak menyarankan bagi yang sekedar melihat dari satu aspek, ya.

Cerita Buku

15 Juli 2020

July 15, 2020

 


Bacaan ini telah berulang-ulang kali dibaca, namun menjadi spesial dan penting karena mengawali hari dimana cuti penuh di acc bersamaan dengan Washington di steril, thank you the 1989-man.

Life

Hello Dunia, Selamat Malam Minggu!

July 05, 2020

Hello dunia, selamat Malam Minggu!
Beri malam yang tak terlupakan.
Menyentuhmu dengan kata indah,
Wangi aroma intim berdua.



Namun, berdua hanyalah sebuah lirik lagu, karena pada kenyataannya, Malam Minggu kali ini saya bukan menghabiskan berdua, namun ber-empat, kemudian berkembang menjadi ber-sebelas. Sudah siap untuk bertanding Sepak Bola, seandainya kami ini adalah laki-laki semua.

***
Aturan jam belajar masyarakat di sudut kota Yogyakarta
Picture by : Facebook


Berpuluh-puluh tahun lalu, Yogyakarta adalah Kota Pelajar. Benar-benar kota dengan banyak pelajar, kualitas sekolah yang baik, pendidikan dengan tidak menyelipkan konsep radikal, minim hiburan dan tanpa embel-embel beragam seperti sekarang. Bahkan, pada setiap gang-gang kecil perkampungan di tengah kota, sering ditemukan tulisan : Jam Belajar Masyarakat 18.00-21.00, yang berarti pada pukul yang telah ditentukan ada kerjasama yang baik antara orang tua dengan anak-anak yang masih memiliki kewajiban untuk belajar, baik dari tingkat SD hingga Perguruan Tinggi. Suasana lingkungan yang tenang, karena televisi hanya dinyalakan pelan-pelan, dan tidak boleh ada keributan. Yogyakarta belum banyak terkontaminasi dengan godaan gaya hidup hedon, bisnis berkembang hanya dalam skala kecil, dan kesederhanaan masih menjadi prinsip. Hiburan paling maksimal menonton bioskop yang dikelola oleh pemilik lokal, bukan kapitalis. Mall hanya ada 2, Malioboro Mall dan Galeria dengan kapasitas orang yang tak seberapa, pun isinya masih didominasi dengan produk dalam negeri, bukan import dengan harga selangit. Kendaraan masih jarang-jarang, membuat polusi kota tidak parah, dan Malam Minggu menjadi terasa istimewa, karena saatnya penduduk kota melepas lelah, baik berekreasi dengan keluarga, atau para pemuda yang sedang apel ke kos-kosan atau rumah sang kekasih. Mereka hanya keluar saat Malam Minggu saja, sehingga momen tersebut menjadi terasa spesial dibandingkan dengan malam-malam di hari lainnya. Tidak ada pekerjaan yang menuntut untuk dikerjakan pada akhir pekan, apalagi masuk bekerja saat tanggal merah.

Tapi itu dulu, sebelum Yogyakarta dipenuhi oleh kantor-kantor leasing, dan sebelum sistem pekerjaan menggunakan kultur outsourcing. Kendati demikian, sebutan Kota Pelajar tetap melekat, dengan imbuhan plus-plus. Sekarang, Yogyakarta telah banyak berubah, bisnis latah mulai menjamur dimana-mana, tugas-tugas bagi pelajar lebih variatif, sehingga pukul 18.00-21.00 tidak akan pernah cukup, tuntutan di sekolah juga sangat ketat yang mengharuskan mereka mengikuti kelas tambahan Bimbel untuk dapat mencapai target, pelanggaran lalu lintas yang dilakukan pelajar semakin meningkat karena mereka nekat membawa kendaraan tanpa SIM serta fasilitas kendaraan umum semakin redup, keramaian hampir dengan mudah ditemui di setiap sudut kota, bukan lagi terkonsentrasi di pusat kota, konsep Jam Belajar Masyarakat mulai ditinggalkan, dan Malam Minggu tak lagi spesial, karena masyarakat bisa dengan bebas memilih hari apa mereka akan keluar, tak harus Malam Minggu. Lantaran hari libur tak melulu pada saat Sabtu dan Minggu, juga semakin banyak tekanan yang mau tak mau memaksa orang-orang untuk mencari hiburan keluar agar tetap merasa waras. Tidak berhenti sampai disana, pelaku bisnis dengan sistem Kapitalis semakin mendominasi, Mall besar dengan skala Plaza kian bertambah, produk yang ditawarkan tak lagi ramah di kantong, diskon-diskon setiap hari kian merajalela hingga budaya konsumtif semakin berkembang. Bisnis semakin banyak, tapi juga tak membuat perekonomian skala besar pada masyarakat meningkat. Upah pekerja masih dibawah standar hidup yang layak, sementara kebutuhan hidup sehari-hari kian bervariasi, pusat studi berkurang, beberapa toko buku lawas telah banyak yang tutup. Sebutan Kota Pelajar seakan tinggal sebagai kenangan, karena toh nyatanya saat ini, sekalipun makin banyak pelajar yang berdatangan ke Yogyakarta untuk menempuh studi, namun tidak sebanding dengan atmosfir yang ditawarkan. Kota pelajar seakan hanya sebagai sebutan, namun tidak mencerminkan masyarakat dengan intelektuaslitas sepadan. Pelajar pun hanya status, bukan kewajiban sebagai pembelajar yang sadar akan kewajibannya.
***

Konsumtif dan hang-out, sesungguhnya bukan begitu cara pelajar menikmati hidup, namun kenangan akan kebiasaan Malam Minggu pada jaman dahulu akan tetap melekat pada ingatan saya. Sekalipun sudah berpuluh-puluh tahun saya alpa untuk merayakan euforia Malam Minggu diluar. Kalau tidak salah, terakhir kali saya bersenang-senang saat Malam Minggu pada waktu SMP kelas 2. Waktu itu ada Kakak Sepupu yang datang berlibur ke rumah, dan mengajak saya jalan-jalan untuk menonton di Bioskop dan makan AW setelahnya. Kenangan itu menguap begitu saja mengingat setelahnya saya sempat tinggal di Asrama saat SMA, agak sulit rasanya bermalam-minggu diluar, karena izin diperketat oleh Suster Asrama, dan saya meilih untuk menghabiskan dengan membaca buku, ditambah lagi tidak ada yang berinisiatif mengajak saya jalan-jalan dong, hehehe. Memasuki masa kuliah, saya hampir tidak pernah menikmati Malam Minggu sebagai waktu yang spesial untuk dinikmati diluar, waktu itu tahun berjalan pada 2012 keatas, dan jika ingin keluar tidak harus pada Malam Minggu. Ditambah teman-teman dekat saya semasa kuliah dulu adalah orang-orang yang tidak suka jalan-jalan alias mager, lalu biasanya malam-malam Minggu kami dihiasi dengan nonton film, entah itu kami menonton beramai-ramai di tempat tinggal mereka ataupun dirumah saya. Tren ke bioskop mulai ditinggalkan, karena tiket pada akhir pekan menjadi naik dua kali lipat. Jaman telah bergeser, budaya berubah, sekalipun saya merindukan cerita Malam Minggu yang bahkan tidak pernah saya alami lebih dahulu. Bagaimana mungkin merindukan sesuatu yang bahkan tidak pernah dinikmati sebelumnya?
***

Semesta sedang baik, kerinduan saya terjawab, meski tidak cepat. Ketika rencana belum berjalan, salah seorang kawan saya main kerumah, dan ia bertanya mengenai jadwal bekerja saya di minggu ini. Saya menjelaskan bahwa di hari Jumat dan Sabtu kebetulan masuk pagi, sehingga sore telah pulang, dan Minggu saya libur. Spontan ia berkata, “Ya udah, nanti Sabtu Malam kita jalan-jalan ya”. Ia menyebutnya Sabtu Malam, bukan Malam Minggu seperti yang biasa saya sebut.

Saking senangnya, perut saya sampai sakit membayangkan kapan waktu itu tiba, hingga pada Sabtu sore seusai kerja, saya langsung bergegas pulang kerumah, mandi dan lalu bersiap-siap. Karena beberapa jam sebelumnya, kami sepakat untuk pergi pada pukul 7 malam.
***

Barangkali, bagi sebagian orang yang terbiasa menghabiskan waktu-waktunya bersama dengan pasangan atau sekedar hang-out bersama teman-teman saat Malam Minggu atau malam-malam lainnya, bisa jadi hal itu menjadi peristiwa biasa saja. Namun, bagi saya yang jarang atau tidak pernah merasakan euforia saat merayakan Malam Minggu, tentu menjadi istimewa dan meninggalkan kesan yang cukup dalam, apalagi saya jarang diperhitungkan untuk menjadi bagian dari sebuah kelompok.

Sekitar 10 menit berlalu dari pukul 7 malam, dua motor datang. Dua kawan saya masuk, mengenalkan satu orang yang baru saja saya kenal untuk bergabung bersama menghabiskan malam nanti. Setelah insiden ban kempes, dan tertawa-tawa sepanjang jalan seperti orang gila, kami berhenti pada satu Warung Kaki Lima yang menjual Sate Madura di sekitaran Bundaran UGM. Tidak lama usai duduk, makanan datang. Mulanya kami berempat, sehingga makanan dipesan empat porsi, dua porsi Sate Ayam bagi yang bertubuh gempal dan dua porsi Sate Kambing bagi yang kekurangan darah. Cukup lama menghabiskan Sate dengan porsi yang lumayan, kami melanjutkan perjalanan menuju Tugu untuk bertemu dengan teman-teman yang lain.

Pemberlakuan New-Normal di Kota Yogyakarta seakan sulit untuk dikendalikan, melihat populasi masyarakat yang kian bertambah terutama pendatang. Ada yang bisa mematuhi aturan dengan baik, namun banyak juga yang melanggar. Kami duduk-duduk di sekitaran Tugu sambil melihat kendaraan lalu-lalang. Melihat perilaku orang-orang yang sungguh sangat beragam. Selama 25 tahun hidup dan besar di kota ini, saat itu adalah pengalaman perdana bagi saya menikmati Tugu dengan nongkrong di pinggirannya. Saya banyak diam dan merenung, teringat kecemasan saya saat berangkat dan mendengar suara Anjing yang seperti disakiti, dan kemudian mulai berpikir bagaimana caranya meringkus pelaku jagal anjing di Yogyakarta yang saya curigai berada di sekitaran wilayah rumah, mengingat regulasi hukum apalagi di Indonesia masih sangat lemah. Membela serta menjadi aktivis Hewan, seakan menjadi hal yang lucu. Para penjagal, sebagai dalih, mereka kebanyakan menggunakan pledoi mata pencaharian sebagai upaya lolos dari jerat hukum, padahal banyak pilihan pekerjaan yang bisa memenuhi jika memang ingin berusaha dengan baik.

Pikiran saya memang abstrak. Belum selesai dengan satu pikiran, tetiba langsung ingat dengan berita tadi siang yang baru saya baca, mengenai kasus Felix K Nesi. Lamunan saya menjadi pecah tatkala kawan saya memulai topik pembicaraan.

Saya dan kawan saya - sesungguhnya kami tidak pernah suka keramaian, namun sesekali kami juga mencoba berada di tengah keramaian untuk mencari suasana yang berbeda. Seringkali, dalam keramaian sekalipun, kami tetap sibuk dengan pikiran masing-masing. Rupanya jarak telah merubah banyak hal, minimnya pertemuan serta hampir tidak pernah berkomunikasi toh membuat kami kikuk untuk memulai cerita baru. Kami menyadari, telah banyak yang terlewatkan. Dan saya sesungguhnya merindukan obrolan yang dalam, seperti berbulan-bulan yang lalu. “Bagaimana tanggapanmu tentang kasus Felix?”. Pikiran kami terhubung, kendati sebelumnya tidak ada pembicaraan soal itu, dalam diam, yang kami pikirkan rupanya sama.
***

Berita tentang penangkapan Felix oleh aparat Polsek Insana bukan tanpa alasan, penangkapan itu akibat ulahnya yang telah naik pitam hingga menghantam kaca mobil dan kaca jendela rumah pastoran dengan helm miliknya. Kasus ini mendapat perhatian khusus, dan saya mencoba memahami masalah Felix dengan netral. Saya mencoba mengungkapkan kepada kawan saya, “Menurut saya apa yang ia lakukan benar, secara opini ya. Padangan serta perjuangan, dan apa yang berusaha ia tuliskan, cukup berani dan frontal. Jarang ada orang yang berani buka-bukaan tentang Agama, apalagi yang ia anut. Saya bahkan tidak yakin, jika seorang santri akan dengan vulgar menceritakan tentang Kyai-nya, seandainya ada sesuatu yang perlu dikritisi. Ya, sedikit orang yang memiliki keberanian untuk itu. Namun, saya juga akui ia cacat dalam tindakan etis, karena terbukti tindakannya tidak dapat lagi dikontrol hingga berujung pada efek menghancurkan dan merusak.” Saya diam, lama tidak berdiskusi kata-kata saya menjadi tidak beraturan. Lalu saya kembali bertanya, “Kau masih ingat kan tentang ajaran Kausalitas Aristoteles? Dalam memahami tindakan manusia, Aristoteles membagi ada empat sebab, yakni Sebab Formal, Sebab Material, Sebab Efisien. Dan satu lagi, hmm Sebab Final ya. Nah, jika kita melihat kasus Felix dan merujuk pada pandangan Aristoteles, saya mengatakan bahwa Felix ditahan karena Sebab Material yaitu memecahkan kaca, dan bukan Sebab Final membela yang benar. Selanjutnya, apabila ia dilaporkan oleh Komunitas Pastoran SMK Bintauni karena aksi brutalnya (Sebab Material) itu benar, namun jika ia dilaporkan karena membela yang benar (Sebab Final) maka itu salah. Persoalannya saat ini, saya merasa bahwa publik seolah-olah digiring unutk melihat Sebab Material, padahal sebenarnya mereka melaporkan dengan alasan Sebab Final. Asumsi saya ya, dan itu yang menjadi riskan. Karena seseorang tidak hanya bertindak benar, tetapi juga bisa baik. Sementara kau tahu itu, niat baik tidak boleh menghalalakan segala cara, atau bisa dibilang maksudnya baik tetapi caranya yang salah”. Dia masih belum menanggapi, mungkin sibuk berpikir, atau menyiapkan jawaban. “Ya tapi, kau juga tahu sendiri kan, Gereja itu kan sarat akan konsep Pengampunan, tapi cara dia melihat kemudian menghakimi itu, yang bikin saya..... ah sudah, lah!” Tutupnya. Ia seakan enggan melanjutkan diskusi singkat tersebut.

Hingga saat kami masih berbincang lebih lanjut mengenai kasus Felix, masih belum ada klarifikasi dari pihak Keuskupan terkait kasus Felix yang menyoroti kesalahan si Romo ini. Sudah sejak dulu, kasus yang menyoroti tentang Gereja, seringkali ditutup rapat-rapat, dan hanya orang-orang internal yang tahu. Bukannya berusaha menjelaskan, kebanyakan malah mengarang cerita lain untuk menutupi fakta sebenarnya. Gereja seakan memiliki rahasianya sendiri, hanya kurang dari 10% diketahui secara umum, mungkin tersimpan rapi dalam arsip Vatikan.
Tetapi saya coba kembali netral dalam melihat kasus ini, sebenarnya Felix juga harus tahu bahwa setiap Keuskupan di mana pun itu, memiliki solusi praktis-pastoral terhadap Imam yang bermasalah. Solusi tersebut bisa menjadi bahan pertimbangan oleh pihak Keuskupan dengan matang, bahkan mungkin sebelum dipikirkan oleh Felix. Ya, memang akan ada perbedaan cara bertindak aktivis dengan kaum rohaniwan. Jika aktivis bertindak cepat cenderung lugas, dan sebaliknya rohaniwan seringkali bertindak dengan banyak pertimbangan, seringkali lamban. Semoga mereka – para Imam-imam ini, paham akan makna Iman tanpa perbuatan adalah mati. Hemat saya, tidak ada gunannya juga Felix berusaha menyinggung, baik kepada pelaku si Romo A, Monseigneur, Romo Kepala, atau siapapun itu, karena Felix tidak bisa memaksakan keinginannya jika ia belum memahami sebab-akibat yang hanya diketahui oleh orang dalam.
Ketiadaan transparasi mungkin menjadi bahan evaluasi kedepannya agar kasus serupa tidak terjadi. Di sini, saya tidak bermaksud menyudutkan Felix ataupun pihak Gereja dan Komunitas Pastoran, namun seandainya Felix bisa bertindak dengan lebih etis, semisal menulis surat terbuka kepada Keuskupan, atau dengan cara-cara yang lebih elegan, mungkin kasus ini tidak akan mencoreng suatu kaum secara garis besar. Dan seandainya pihak Gereja atau Pastoran berani mengambil langkah praktis secara taktis, amarah Felix tidak akan meluap dengan sebegitu hebatnya.

Kedua belah pihak memiliki kesalahan dengan porsinya masing-masing. Saya rasa, Felix sebagai seorang penulis tentu paham bagaimana menggunakan media yang baik, bukan dengan kekerasan untuk menyatakan kegundahannya sekalipun hal tersebut juga mewakili suara sebagian besar umat yang kian cemas dengan perilaku penyimpangan para pastor. Tindakan anarkis yang dilakukan, bukannya akan mendapat simpati untuk menyatakan kegundahan namun justru suaranya mulai patah dan tak lagi dihiraukan.
***

Malam semakin tinggi, namun perjalanan masih berlanjut. Setelah dari Tugu, kami masih akan pergi menikmati malamnya Malioboro serta menyusuri jalan-jalan kecil khas Yogyakarta di sekitaran Ndalem Benteng – yang terasa kental dengan teduh-tenang budaya Jawa. Perhentian terakhir di Alun-alun Selatan, beberapa dari kami mencoba peruntungan dengan berjalan diantara Beringin Kembar. Konon, jika bisa melewati jalan diantara kedua Beringin dengan lurus, maka keinginannya akan terkabul – namun jika keinginan itu tidak dibarengi dengan niat yang tulus, maka jalan akan menjadi belok, dan keinginan tidak akan terkabul. Saya menghargai mitos yang berkembang, namun saya enggan sepenuhnya percaya.

Setelah cukup lama beberapa dari kami mencoba peruntungan untuk berjalan lurus diantara Beringin Kembar, dan tidak ada yang berhasil – kami bergerak untuk pulang. Embun mulai terasa, dingin dan lembab. Angin bertiup semilir serta lampu kota masih menyala dengan temaram. Kendaraan melaju perlahan, dan jalanan tidak lagi padat. Satu persatu dari kami mulai berpencar, menuju rumah masing-masing.

Keinginan duniawi seakan tidak pernah habis, dan waktu tak akan cukup. Hampir tujuh jam kami menghabiskan Malam Minggu, hingga sangkala telah berganti menjadi dini hari. Masa seakan menjadi cepat berlalu saat dinikmati dengan sukacita, saya sempat mengeluhkan kepada kawan saya “Kenapa jam berjalan cepat saat sedang berjalan-jalan, sementara akan terasa lama saat bekerja?” Sambil tetap fokus mengendarai motor, ia hanya tersenyum. “Siapa yang tidak suka pesiar” jawabnya singkat. Mungkin ia malas menanggapi jokes receh yang saya buat.

Mendekati rumah, rasanya semakin ingin membekukan waktu, atau memutar kembali. Malam Minggu perdana saya setelah sekian lama telah habis masanya, dan sisanya tersimpan erat dalam labirin ingatan bernama kenangan.

Dogmate

Telah 12 Tahun Berlalu

July 01, 2020

Tidak ada yang lebih menyedihkan ketimbang kehilangan seekor anjing yang telah menemanimu selama bertahun-tahun.

Tanpa terasa 2020 mulai memasuki pertengahan dan telah 12 tahun berlalu sejak Koko menghilang dari rumah. Kepergiannya menyisakan tanda tanya, karena selama ia berada dirumah, Koko seakan paham betul jalan pulang saat ia jalan-jalan keluar, dan selama ia masih tinggal dirumah pula – Koko tak pernah pergi dalam waktu yang lama, atau tersesat. Sudah terlalu lama, dan rasa kehilangan itu masih saja membekas.
***

Ingatanku tentangnya hanya sepotong-sepotong, karena memoriku semasa SD tidak terdokumentasi dengan baik, tapi kenangannya bagi kami, terutama aku tak pernah terhapus oleh waktu. Kembali di tahun 2000 dan waktu itu aku masih duduk di kelas 1 SD.

Anjing itu bernama Koko. Keputusanku memberi nama Koko agar panggilannya mirip dengan salah satu pensil warna yang baru kubeli, Kiko. Koko diberikan oleh seorang Pastor paruh baya dari Atambua yang sedang studi lanjut di Yogyakarta, ia datang saat usianya kurang lebih 2 atau 3 bulan, juga tidak tahu pasti kapan tanggal lahirnya. Berbeda dengan anjingku sekarang, Owen dan Washington – yang aku mengetahui pasti asal usul serta tanggal lahirnya. Entah darimana Pastor itu mendapatkan Koko, yang jelas beliau memberiku anjing untuk teman, karena Pastor itu tahu aku sendirian dan menyukai anjing.

Pertemuan pertamaku dengan Koko terjadi saat aku pulang sekolah. Masa itu, rute dari sekolah sampai rumah bisa melewati jalan tembus melalui kebun belakang dan masuk lewat pintu belakang rumah (keadaan lingkungan masih belum banyak rumah tetangga seperti sekarang). Selagi aku dibukakan pagar, Koko duduk di sebelah tempat cuci dan kran di halaman belakang, ia bersembunyi di baliknya. Melihat ada seekor anjing disana, aku menjerit kegirangan. Namun sekalipun kali pertama aku melihatnya dekat sumber air, Koko tidak pernah suka air. Ia selalu menolak kalau mau dimandikan, dan anehnya tak kutemukan ada kutu yang menempel pada tubuhnya. Hari pertama bertemu dengannya waktu itu, ia masih belum bernama.

Bersama dengan Koko aku menghabiskan masa SD-ku dengan penuh kenangan. Karena hanya sedikit hal yang menggembirakan selama aku di sekolah, sehingga Koko membuat hari-hariku menjadi menyenangkan ketika berada dirumah. Ada juga teman-temanku yang bisa akrab untuk ikut bermain dengannya. Kala itu adalah masa dimana belum banyak indoktrinasi radikal bagi anak-anak, seperti dilarang mendekati anjing dengan alasan najis. Bahkan, beberapa teman SD-ku yang beragama muslim suka bermain dengan Koko saat pulang sekolah melewati rumahku. Koko seakan tahu, ia tidak pernah menjilati mereka, hanya membaui dan sebelum akhirnya main bersama-sama. Koko senang kalau ada yang mengajaknya bermain, ekornya tak berhenti berkibas-kibas, juga pada waktu itu belum ada anjing lain selain dia di Kebun belakang rumah. Aku tidak khawatir mengenalkan Koko kepada teman-temanku karena Koko juga sangat jinak dan bersahabat, stabil serta tidak banyak tingkah.

Memelihara Koko yang notabene adalah anjing kampung, membuatku agak curiga kalau dia sebenarnya bukan murni Ras Kampung, namun sejenis Mongrel (campuran dari beberapa ras atau mix-breed). Karena dari postur tubuhnya mirip seperti anjing yang bertubuh pendek dan agak panjang, bulunya lebat dan ada beberapa corak, namun wajahnya seperti anjing kampung pada umumnya. Sejak dulu aku tidak pernah mempermasalahkan dari Ras apa anjingku berasal, karena semua anjing layak untuk mendapat tempat dan dicintai oleh manusia.
Selain itu, Koko juga sangat sopan. Kalau ia sedang diluar rumah lalu disuruh masuk sementara banyak orang dirumah, maka ia akan berjalan sangat pelan sambil menunduk-nunduk. Rasanya baru sekali itu aku memiliki anjing dengan kesopanan yang luar biasa tanpa dilatih.
Soal makanan, Koko tidak pernah rewel, karena ia memakan apapun yang diberikan. Sayangnya saat itu aku belum terlalu paham bagaimana memberi makan anjing yang baik, seperti sekarang. Cara Koko makan juga teratur, dia hanya memakan yang diberikan kepadanya, tidak juga mencomot-comot punya yang lain (waktu itu usianya sudah sekitar 3 atau 4 tahun, dan Koko sudah tidak sendiri lagi karena ada beberapa Anjing yang juga dipelihara di Kebun). Apabila makanan yang diberikan panas, ia akan menunggu sampai sedikit menghangat, dan mulai makan perlahan-lahan dari pinggir, hingga habis. Bersih tak bersisa. Setelahnya ia minum, lalu duduk-duduk atau bermain dengan anjing yang lain.

Ritual harian Koko adalah jalan-jalan pagi untuk buang air kecil atau poop di luar rumah (biasanya ia melakukannya untuk menandai jejaknya) atau di kebun sekitaran rumah. Kalau sedang tidak diantar oleh Ayah atau Ibu, Koko mengantarkanku sampai ujung jalan, dan terkadang sampai mendekati gerbang sekolah, lalu ia kembali. Koko adalah anjing yang cerdas, ia tak pernah lupa jalan pulang ke rumah.
***

Koko bertumbuh dengan sangat prima, ia jarang membuat ulah menjengkelkan (pengecualian untuk tingkahnya yang enggan mandi). Sepanjang ingatanku, ia tidak pernah sakit. Bahkan karena aku berpikir ia adalah anjing yang baik dan cerdas, tak mungkin sampai hilang atau diracun orang. Namun saat itu aku terlalu naif, kebersamaanku dengan Koko tidak bisa berlanjut lebih lama lagi, karena tibalah saat dimana Koko hilang.

Waktu itu di tahun 2008 dan aku lupa tepatnya bulan apa. Kebetulan di rumah sedang kedatangan banyak tamu yang menginap selama beberapa hari. Pintu gerbang kebun belakang terbuka dan ia keluar seperti biasanya. Saat itu, aku terlalu larut dalam keramaian rumah. Kesadaranku tentang Koko yang masih belum pulang juga tidak penuh, hingga esoknya saat aku menyadari ia tak lagi ada.

Ketika mulai sadar bahwa Koko tak terlihat di kebun, aku sangat cemas. Bertanya kepada tetangga sekitar juga tidak membuahkan hasil.
Tangisku pecah, mataku sembab dan rasanya enggan pergi ke sekolah. Mood-ku menjadi benar-benar buruk, dan semangat seolah menguap. Beberapa hari mencari Koko yang hilang, juga masih menunggu keajaiban Koko datang lagi. Mengingat Koko tidak menggunakan identitas apapun, seperti kalung atau tag nama - tanda ia Anjing berpemilik.

Satu hari, dua hari, tiga hari, dan seterusnya - dan hari-hari pun berlalu. Hingga akhirnya aku tahu, Koko tak pernah kembali. 
***

Kehilangan karena kematian itu menyedihkan. Namun, kehilangan tanpa petunjuk yang jelas, bagiku jauh lebih menciptakan kepedihan. Kita tidak pernah tahu, di sisa akhir hidupnya apakah ia tetap hidup layak sebagaimana mestinya hingga maut menjemput, apakah ia bahagia ataukah sebaliknya, apakah ia merasa ketakutan karena bertemu dengan orang yang ingin menyakitinya, apakah ia dipelihara oleh orang lain dengan baik atau ia mati dibunuh dengan keji untuk dimakan. Pertanyaan yang bertaut jadi satu dengan penyesalan karena tidak mampu menjaganya dengan baik, seolah menyisakan trauma tentang kehilangan yang masih kubawa hingga kini. Bagi sebagian orang, Koko mungkin hanyalah seekor anjing peliharaan, tapi bagiku ia lebih dari itu.
***

Sebuah tulisan di Psychology Today, seorang Psikiater Ralph Ryback mengatakan, wajar belaka jika kehilangan hewan peliharaan dapat menyebabkan kesedihan. Kematian hewan peliharaan bahkan dapat menjadi pengalaman yang sangat traumatis dan menciptakan perasaan hampa. Mengapa demikian? Pasalnya, usia rata-rata hewan peliharaan seperti Anjing atau Kucing bisa mencapai belasan tahun. Selama itu pula, si pemilik memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk memasukkan hewan peliharaan sepenuhnya ke dalam kehidupan mereka. Rasa kehilangan juga dipicu sifat istimewa hewan peliharaan, seperti anjing misalnya – dikenal sebagai hewan yang setia, dan dalam banyak kasus anjing bahkan mampu bertindak sebagai penyelamat manusia.

“Rutinitas pagi hari Anda mungkin tak utuh lagi tanpa bermain lempar tangkap atau jalan-jalan bersama anjing Anda atau berpelukan hangat dengan kucing Anda”

Sebagai manusia, kita seringkali memproyeksikan pikiran, emosi serta ide-ide kepada hewan peliharaan. Masih kuingat, saat setelah selesai Ujian Nasional tingkat SD dan kemudian libur lama, aku menjadi lebih sering menghabiskan waktu di kebun belakang sambil bercerita dengan Koko. Tidak hanya dengan Koko saja, karena ada juga beberapa Anjing lain, Brownies, Kimi, Simon, Poli, dan Bonel.
Bukan juga karena adanya kedekatan emosionalku yang lebih kepada Koko, lantas mengecualikan yang lain - hingga kemudian menjadi tolak ukur siapa yang lebih disayangi dan lalu yang lain menjadi tidak diperhatikan. Tentunya, aku menyayangi semua anjing-anjingku dengan prinsip sama rata sama rasa. Namun, Koko ini, bisa jadi karena ia telah lebih lama bersama-sama. Sehingga jalinan itu terasa lebih matang.

Percayakah kau, terkadang ada kalanya hewan peliharaan bisa mewakili atau bahkan menggantikan kehadiran posisi anggota atau kerabat lain yang dibutuhkan, dalam jangka waktu yang cukup lama. Dalam kasusku waktu itu, aku yang seorang anak tunggal dan tidak memiliki teman bermain di rumah, dan pada akhirnya memiliki seekor Koko. Sehingga Koko dapat dengan baik mengisi ruang kosong yang selalu sunyi itu. Sekalipun ia hanya seekor anjing.

Ada satu riset di tahun 2002 oleh beberapa orang dan Shelley Stoker salah satunya, yang baru-baru ini selesai kubaca dengan judul “Death of a Companion Cat or Dog and Human Bereavement: Psychology Variables”. Dalam riset tersebut mereka menyimpulkan bahwa depresi kematian, depresi umum dan sikap positif serta kemelekatan pada hewan peliharaan berbanding lurus dengan kesedihan yang lebih besar setelah kematian hewan peliharaan. Sehingga, ya memang benar adanya, dalam beberapa kasus, kehilangan hewan peliharaan membuat sebagian orang dapat merasakan kesedihan luar biasa, sebagaimana ketika mereka kehilangan orang terdekat dalam hidup kita. Sama juga halnya seperti kesedihan yang dirasakan ketika kehilangan anjing karena berbagai situasi, yang setara dengan tingkat kesedihan ketika kehilangan seseorang yang dicintai.
Kendati demikian, tidak lantas semua menjadi sama. Ada pula beberapa pemilik hewan lainnya yang juga bisa merasakan kesedihan dalam taraf yang tidak terlalu parah. Kuakui, memang ketergantungan secara emosi memang dapat berakibat fatal, sekalipun bagi sebagian orang hal-hal yang tidak remeh semacam itu hanya sebagai bahan tertawaan.

Namun juga sangat disayangkan bahwa dalam budaya kita di Indonesia saat ini, belum ada buku panduan, ritual, atau bahkan konseling pendampingan spiritual ataupun hal semacamnya, yang dapat membantu kita menghadapi masa-masa yang sulit ketika hewan peliharaan kita telah tiada, baik tiada karena kematian atau karena kehilangan yang tak lagi ditemukan.

Kebingungan ini yang pada akhirnya membuat kita menjadi malu untuk menunjukkan perasaan sedih. Padahal, ketika banyak orang sudah mulai menyadari betapa kuatnya ikatan antara manusia dengan anjingnya, kesedihan serta kedukaan yang dialami akan lebih bisa diterima oleh masyarakat secara luas.
***

Masih tertinggal rasa sesak saat ada perasaan bahwa aku dulu kurang baik menjaganya. Sekalipun terkadang, ada banyak hal diluar kendali kita sebagai manusia. Perasaan semacam menyalahkan diri sendiri juga masih muncul sesekali, serta anggapan seandainya aku dulu lebih protektif, sebagaimana aku menjaga Owen dan Washington saat ini.
Koko hidup bersama-sama keluarga kami selama kurang lebih 8 tahun, waktu yang cukup lama namun terasa sangat singkat. Ia dengan setia menemani masa-masa SD-ku, juga mengisi banyak kenangan dalam keseharianku. Hingga aku memasuki SMP, ia masih ada, meski tidak lagi mengantarkan ke sekolah karena jarak yang jauh, kendati ia masih menungguku di pagar belakang rumah saat aku pulang sekolah. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, Koko tidak lagi menunggu sampai aku menyelesaikan sisa waktuku di SMP. Bahkan sebelum aku lulus dan melanjutkan ke tingkat SMA, Koko telah pergi.

Hingga kini, aku masih bisa merasakan bulunya yang cenderung agak tebal, sedikit kaku dan keras ketika aku mengelusnya. Bagaimana ia selalu menunduk-nunduk bahagia bersamaan aku memeluk erat lehernya. 
Koko - usia sekitar 2 tahun (circa 2002)
(Picture by : Yerinta)
Koko, si anjing yang sopan dan sangat bersahabat – semoga kita bertemu kembali di kehidupan setelah ini ya, sekalipun aku tak pernah tahu bagaimana akhir kisah hidupmu. Dan pada akhirnya, aku harus mampu untuk percaya bahwa engkau telah hidup dalam keabadian surgawi. Bermainlah dengan damai bersama dengan yang lain, dan tetaplah berteman baik dengan Brownies and The Gank, sebagaimana kalian dulu saat masih bersama-sama di kebun belakang rumah. Kenangan itu akan selalu abadi, aku merindukanmu Koko.