Telah 12 Tahun Berlalu

July 01, 2020

Tidak ada yang lebih menyedihkan ketimbang kehilangan seekor anjing yang telah menemanimu selama bertahun-tahun.

Tanpa terasa 2020 mulai memasuki pertengahan dan telah 12 tahun berlalu sejak Koko menghilang dari rumah. Kepergiannya menyisakan tanda tanya, karena selama ia berada dirumah, Koko seakan paham betul jalan pulang saat ia jalan-jalan keluar, dan selama ia masih tinggal dirumah pula – Koko tak pernah pergi dalam waktu yang lama, atau tersesat. Sudah terlalu lama, dan rasa kehilangan itu masih saja membekas.
***

Ingatanku tentangnya hanya sepotong-sepotong, karena memoriku semasa SD tidak terdokumentasi dengan baik, tapi kenangannya bagi kami, terutama aku tak pernah terhapus oleh waktu. Kembali di tahun 2000 dan waktu itu aku masih duduk di kelas 1 SD.

Anjing itu bernama Koko. Keputusanku memberi nama Koko agar panggilannya mirip dengan salah satu pensil warna yang baru kubeli, Kiko. Koko diberikan oleh seorang Pastor paruh baya dari Atambua yang sedang studi lanjut di Yogyakarta, ia datang saat usianya kurang lebih 2 atau 3 bulan, juga tidak tahu pasti kapan tanggal lahirnya. Berbeda dengan anjingku sekarang, Owen dan Washington – yang aku mengetahui pasti asal usul serta tanggal lahirnya. Entah darimana Pastor itu mendapatkan Koko, yang jelas beliau memberiku anjing untuk teman, karena Pastor itu tahu aku sendirian dan menyukai anjing.

Pertemuan pertamaku dengan Koko terjadi saat aku pulang sekolah. Masa itu, rute dari sekolah sampai rumah bisa melewati jalan tembus melalui kebun belakang dan masuk lewat pintu belakang rumah (keadaan lingkungan masih belum banyak rumah tetangga seperti sekarang). Selagi aku dibukakan pagar, Koko duduk di sebelah tempat cuci dan kran di halaman belakang, ia bersembunyi di baliknya. Melihat ada seekor anjing disana, aku menjerit kegirangan. Namun sekalipun kali pertama aku melihatnya dekat sumber air, Koko tidak pernah suka air. Ia selalu menolak kalau mau dimandikan, dan anehnya tak kutemukan ada kutu yang menempel pada tubuhnya. Hari pertama bertemu dengannya waktu itu, ia masih belum bernama.

Bersama dengan Koko aku menghabiskan masa SD-ku dengan penuh kenangan. Karena hanya sedikit hal yang menggembirakan selama aku di sekolah, sehingga Koko membuat hari-hariku menjadi menyenangkan ketika berada dirumah. Ada juga teman-temanku yang bisa akrab untuk ikut bermain dengannya. Kala itu adalah masa dimana belum banyak indoktrinasi radikal bagi anak-anak, seperti dilarang mendekati anjing dengan alasan najis. Bahkan, beberapa teman SD-ku yang beragama muslim suka bermain dengan Koko saat pulang sekolah melewati rumahku. Koko seakan tahu, ia tidak pernah menjilati mereka, hanya membaui dan sebelum akhirnya main bersama-sama. Koko senang kalau ada yang mengajaknya bermain, ekornya tak berhenti berkibas-kibas, juga pada waktu itu belum ada anjing lain selain dia di Kebun belakang rumah. Aku tidak khawatir mengenalkan Koko kepada teman-temanku karena Koko juga sangat jinak dan bersahabat, stabil serta tidak banyak tingkah.

Memelihara Koko yang notabene adalah anjing kampung, membuatku agak curiga kalau dia sebenarnya bukan murni Ras Kampung, namun sejenis Mongrel (campuran dari beberapa ras atau mix-breed). Karena dari postur tubuhnya mirip seperti anjing yang bertubuh pendek dan agak panjang, bulunya lebat dan ada beberapa corak, namun wajahnya seperti anjing kampung pada umumnya. Sejak dulu aku tidak pernah mempermasalahkan dari Ras apa anjingku berasal, karena semua anjing layak untuk mendapat tempat dan dicintai oleh manusia.
Selain itu, Koko juga sangat sopan. Kalau ia sedang diluar rumah lalu disuruh masuk sementara banyak orang dirumah, maka ia akan berjalan sangat pelan sambil menunduk-nunduk. Rasanya baru sekali itu aku memiliki anjing dengan kesopanan yang luar biasa tanpa dilatih.
Soal makanan, Koko tidak pernah rewel, karena ia memakan apapun yang diberikan. Sayangnya saat itu aku belum terlalu paham bagaimana memberi makan anjing yang baik, seperti sekarang. Cara Koko makan juga teratur, dia hanya memakan yang diberikan kepadanya, tidak juga mencomot-comot punya yang lain (waktu itu usianya sudah sekitar 3 atau 4 tahun, dan Koko sudah tidak sendiri lagi karena ada beberapa Anjing yang juga dipelihara di Kebun). Apabila makanan yang diberikan panas, ia akan menunggu sampai sedikit menghangat, dan mulai makan perlahan-lahan dari pinggir, hingga habis. Bersih tak bersisa. Setelahnya ia minum, lalu duduk-duduk atau bermain dengan anjing yang lain.

Ritual harian Koko adalah jalan-jalan pagi untuk buang air kecil atau poop di luar rumah (biasanya ia melakukannya untuk menandai jejaknya) atau di kebun sekitaran rumah. Kalau sedang tidak diantar oleh Ayah atau Ibu, Koko mengantarkanku sampai ujung jalan, dan terkadang sampai mendekati gerbang sekolah, lalu ia kembali. Koko adalah anjing yang cerdas, ia tak pernah lupa jalan pulang ke rumah.
***

Koko bertumbuh dengan sangat prima, ia jarang membuat ulah menjengkelkan (pengecualian untuk tingkahnya yang enggan mandi). Sepanjang ingatanku, ia tidak pernah sakit. Bahkan karena aku berpikir ia adalah anjing yang baik dan cerdas, tak mungkin sampai hilang atau diracun orang. Namun saat itu aku terlalu naif, kebersamaanku dengan Koko tidak bisa berlanjut lebih lama lagi, karena tibalah saat dimana Koko hilang.

Waktu itu di tahun 2008 dan aku lupa tepatnya bulan apa. Kebetulan di rumah sedang kedatangan banyak tamu yang menginap selama beberapa hari. Pintu gerbang kebun belakang terbuka dan ia keluar seperti biasanya. Saat itu, aku terlalu larut dalam keramaian rumah. Kesadaranku tentang Koko yang masih belum pulang juga tidak penuh, hingga esoknya saat aku menyadari ia tak lagi ada.

Ketika mulai sadar bahwa Koko tak terlihat di kebun, aku sangat cemas. Bertanya kepada tetangga sekitar juga tidak membuahkan hasil.
Tangisku pecah, mataku sembab dan rasanya enggan pergi ke sekolah. Mood-ku menjadi benar-benar buruk, dan semangat seolah menguap. Beberapa hari mencari Koko yang hilang, juga masih menunggu keajaiban Koko datang lagi. Mengingat Koko tidak menggunakan identitas apapun, seperti kalung atau tag nama - tanda ia Anjing berpemilik.

Satu hari, dua hari, tiga hari, dan seterusnya - dan hari-hari pun berlalu. Hingga akhirnya aku tahu, Koko tak pernah kembali. 
***

Kehilangan karena kematian itu menyedihkan. Namun, kehilangan tanpa petunjuk yang jelas, bagiku jauh lebih menciptakan kepedihan. Kita tidak pernah tahu, di sisa akhir hidupnya apakah ia tetap hidup layak sebagaimana mestinya hingga maut menjemput, apakah ia bahagia ataukah sebaliknya, apakah ia merasa ketakutan karena bertemu dengan orang yang ingin menyakitinya, apakah ia dipelihara oleh orang lain dengan baik atau ia mati dibunuh dengan keji untuk dimakan. Pertanyaan yang bertaut jadi satu dengan penyesalan karena tidak mampu menjaganya dengan baik, seolah menyisakan trauma tentang kehilangan yang masih kubawa hingga kini. Bagi sebagian orang, Koko mungkin hanyalah seekor anjing peliharaan, tapi bagiku ia lebih dari itu.
***

Sebuah tulisan di Psychology Today, seorang Psikiater Ralph Ryback mengatakan, wajar belaka jika kehilangan hewan peliharaan dapat menyebabkan kesedihan. Kematian hewan peliharaan bahkan dapat menjadi pengalaman yang sangat traumatis dan menciptakan perasaan hampa. Mengapa demikian? Pasalnya, usia rata-rata hewan peliharaan seperti Anjing atau Kucing bisa mencapai belasan tahun. Selama itu pula, si pemilik memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk memasukkan hewan peliharaan sepenuhnya ke dalam kehidupan mereka. Rasa kehilangan juga dipicu sifat istimewa hewan peliharaan, seperti anjing misalnya – dikenal sebagai hewan yang setia, dan dalam banyak kasus anjing bahkan mampu bertindak sebagai penyelamat manusia.

“Rutinitas pagi hari Anda mungkin tak utuh lagi tanpa bermain lempar tangkap atau jalan-jalan bersama anjing Anda atau berpelukan hangat dengan kucing Anda”

Sebagai manusia, kita seringkali memproyeksikan pikiran, emosi serta ide-ide kepada hewan peliharaan. Masih kuingat, saat setelah selesai Ujian Nasional tingkat SD dan kemudian libur lama, aku menjadi lebih sering menghabiskan waktu di kebun belakang sambil bercerita dengan Koko. Tidak hanya dengan Koko saja, karena ada juga beberapa Anjing lain, Brownies, Kimi, Simon, Poli, dan Bonel.
Bukan juga karena adanya kedekatan emosionalku yang lebih kepada Koko, lantas mengecualikan yang lain - hingga kemudian menjadi tolak ukur siapa yang lebih disayangi dan lalu yang lain menjadi tidak diperhatikan. Tentunya, aku menyayangi semua anjing-anjingku dengan prinsip sama rata sama rasa. Namun, Koko ini, bisa jadi karena ia telah lebih lama bersama-sama. Sehingga jalinan itu terasa lebih matang.

Percayakah kau, terkadang ada kalanya hewan peliharaan bisa mewakili atau bahkan menggantikan kehadiran posisi anggota atau kerabat lain yang dibutuhkan, dalam jangka waktu yang cukup lama. Dalam kasusku waktu itu, aku yang seorang anak tunggal dan tidak memiliki teman bermain di rumah, dan pada akhirnya memiliki seekor Koko. Sehingga Koko dapat dengan baik mengisi ruang kosong yang selalu sunyi itu. Sekalipun ia hanya seekor anjing.

Ada satu riset di tahun 2002 oleh beberapa orang dan Shelley Stoker salah satunya, yang baru-baru ini selesai kubaca dengan judul “Death of a Companion Cat or Dog and Human Bereavement: Psychology Variables”. Dalam riset tersebut mereka menyimpulkan bahwa depresi kematian, depresi umum dan sikap positif serta kemelekatan pada hewan peliharaan berbanding lurus dengan kesedihan yang lebih besar setelah kematian hewan peliharaan. Sehingga, ya memang benar adanya, dalam beberapa kasus, kehilangan hewan peliharaan membuat sebagian orang dapat merasakan kesedihan luar biasa, sebagaimana ketika mereka kehilangan orang terdekat dalam hidup kita. Sama juga halnya seperti kesedihan yang dirasakan ketika kehilangan anjing karena berbagai situasi, yang setara dengan tingkat kesedihan ketika kehilangan seseorang yang dicintai.
Kendati demikian, tidak lantas semua menjadi sama. Ada pula beberapa pemilik hewan lainnya yang juga bisa merasakan kesedihan dalam taraf yang tidak terlalu parah. Kuakui, memang ketergantungan secara emosi memang dapat berakibat fatal, sekalipun bagi sebagian orang hal-hal yang tidak remeh semacam itu hanya sebagai bahan tertawaan.

Namun juga sangat disayangkan bahwa dalam budaya kita di Indonesia saat ini, belum ada buku panduan, ritual, atau bahkan konseling pendampingan spiritual ataupun hal semacamnya, yang dapat membantu kita menghadapi masa-masa yang sulit ketika hewan peliharaan kita telah tiada, baik tiada karena kematian atau karena kehilangan yang tak lagi ditemukan.

Kebingungan ini yang pada akhirnya membuat kita menjadi malu untuk menunjukkan perasaan sedih. Padahal, ketika banyak orang sudah mulai menyadari betapa kuatnya ikatan antara manusia dengan anjingnya, kesedihan serta kedukaan yang dialami akan lebih bisa diterima oleh masyarakat secara luas.
***

Masih tertinggal rasa sesak saat ada perasaan bahwa aku dulu kurang baik menjaganya. Sekalipun terkadang, ada banyak hal diluar kendali kita sebagai manusia. Perasaan semacam menyalahkan diri sendiri juga masih muncul sesekali, serta anggapan seandainya aku dulu lebih protektif, sebagaimana aku menjaga Owen dan Washington saat ini.
Koko hidup bersama-sama keluarga kami selama kurang lebih 8 tahun, waktu yang cukup lama namun terasa sangat singkat. Ia dengan setia menemani masa-masa SD-ku, juga mengisi banyak kenangan dalam keseharianku. Hingga aku memasuki SMP, ia masih ada, meski tidak lagi mengantarkan ke sekolah karena jarak yang jauh, kendati ia masih menungguku di pagar belakang rumah saat aku pulang sekolah. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, Koko tidak lagi menunggu sampai aku menyelesaikan sisa waktuku di SMP. Bahkan sebelum aku lulus dan melanjutkan ke tingkat SMA, Koko telah pergi.

Hingga kini, aku masih bisa merasakan bulunya yang cenderung agak tebal, sedikit kaku dan keras ketika aku mengelusnya. Bagaimana ia selalu menunduk-nunduk bahagia bersamaan aku memeluk erat lehernya. 
Koko - usia sekitar 2 tahun (circa 2002)
(Picture by : Yerinta)
Koko, si anjing yang sopan dan sangat bersahabat – semoga kita bertemu kembali di kehidupan setelah ini ya, sekalipun aku tak pernah tahu bagaimana akhir kisah hidupmu. Dan pada akhirnya, aku harus mampu untuk percaya bahwa engkau telah hidup dalam keabadian surgawi. Bermainlah dengan damai bersama dengan yang lain, dan tetaplah berteman baik dengan Brownies and The Gank, sebagaimana kalian dulu saat masih bersama-sama di kebun belakang rumah. Kenangan itu akan selalu abadi, aku merindukanmu Koko.

You Might Also Like

0 comments