Hello Dunia, Selamat Malam Minggu!
July 05, 2020
Hello dunia, selamat Malam Minggu!
Beri malam yang tak terlupakan.
Menyentuhmu dengan kata indah,
Wangi aroma intim berdua.
Beri malam yang tak terlupakan.
Menyentuhmu dengan kata indah,
Wangi aroma intim berdua.
Namun, berdua hanyalah sebuah lirik lagu, karena pada kenyataannya, Malam Minggu kali ini saya bukan menghabiskan berdua, namun ber-empat, kemudian berkembang menjadi ber-sebelas. Sudah siap untuk bertanding Sepak Bola, seandainya kami ini adalah laki-laki semua.
***
Berpuluh-puluh tahun lalu, Yogyakarta adalah Kota Pelajar. Benar-benar kota dengan banyak pelajar, kualitas sekolah yang baik, pendidikan dengan tidak menyelipkan konsep radikal, minim hiburan dan tanpa embel-embel beragam seperti sekarang. Bahkan, pada setiap gang-gang kecil perkampungan di tengah kota, sering ditemukan tulisan : Jam Belajar Masyarakat 18.00-21.00, yang berarti pada pukul yang telah ditentukan ada kerjasama yang baik antara orang tua dengan anak-anak yang masih memiliki kewajiban untuk belajar, baik dari tingkat SD hingga Perguruan Tinggi. Suasana lingkungan yang tenang, karena televisi hanya dinyalakan pelan-pelan, dan tidak boleh ada keributan. Yogyakarta belum banyak terkontaminasi dengan godaan gaya hidup hedon, bisnis berkembang hanya dalam skala kecil, dan kesederhanaan masih menjadi prinsip. Hiburan paling maksimal menonton bioskop yang dikelola oleh pemilik lokal, bukan kapitalis. Mall hanya ada 2, Malioboro Mall dan Galeria dengan kapasitas orang yang tak seberapa, pun isinya masih didominasi dengan produk dalam negeri, bukan import dengan harga selangit. Kendaraan masih jarang-jarang, membuat polusi kota tidak parah, dan Malam Minggu menjadi terasa istimewa, karena saatnya penduduk kota melepas lelah, baik berekreasi dengan keluarga, atau para pemuda yang sedang apel ke kos-kosan atau rumah sang kekasih. Mereka hanya keluar saat Malam Minggu saja, sehingga momen tersebut menjadi terasa spesial dibandingkan dengan malam-malam di hari lainnya. Tidak ada pekerjaan yang menuntut untuk dikerjakan pada akhir pekan, apalagi masuk bekerja saat tanggal merah.
Tapi itu dulu, sebelum Yogyakarta dipenuhi oleh kantor-kantor leasing, dan sebelum sistem pekerjaan menggunakan kultur outsourcing. Kendati demikian, sebutan Kota Pelajar tetap melekat, dengan imbuhan plus-plus. Sekarang, Yogyakarta telah banyak berubah, bisnis latah mulai menjamur dimana-mana, tugas-tugas bagi pelajar lebih variatif, sehingga pukul 18.00-21.00 tidak akan pernah cukup, tuntutan di sekolah juga sangat ketat yang mengharuskan mereka mengikuti kelas tambahan Bimbel untuk dapat mencapai target, pelanggaran lalu lintas yang dilakukan pelajar semakin meningkat karena mereka nekat membawa kendaraan tanpa SIM serta fasilitas kendaraan umum semakin redup, keramaian hampir dengan mudah ditemui di setiap sudut kota, bukan lagi terkonsentrasi di pusat kota, konsep Jam Belajar Masyarakat mulai ditinggalkan, dan Malam Minggu tak lagi spesial, karena masyarakat bisa dengan bebas memilih hari apa mereka akan keluar, tak harus Malam Minggu. Lantaran hari libur tak melulu pada saat Sabtu dan Minggu, juga semakin banyak tekanan yang mau tak mau memaksa orang-orang untuk mencari hiburan keluar agar tetap merasa waras. Tidak berhenti sampai disana, pelaku bisnis dengan sistem Kapitalis semakin mendominasi, Mall besar dengan skala Plaza kian bertambah, produk yang ditawarkan tak lagi ramah di kantong, diskon-diskon setiap hari kian merajalela hingga budaya konsumtif semakin berkembang. Bisnis semakin banyak, tapi juga tak membuat perekonomian skala besar pada masyarakat meningkat. Upah pekerja masih dibawah standar hidup yang layak, sementara kebutuhan hidup sehari-hari kian bervariasi, pusat studi berkurang, beberapa toko buku lawas telah banyak yang tutup. Sebutan Kota Pelajar seakan tinggal sebagai kenangan, karena toh nyatanya saat ini, sekalipun makin banyak pelajar yang berdatangan ke Yogyakarta untuk menempuh studi, namun tidak sebanding dengan atmosfir yang ditawarkan. Kota pelajar seakan hanya sebagai sebutan, namun tidak mencerminkan masyarakat dengan intelektuaslitas sepadan. Pelajar pun hanya status, bukan kewajiban sebagai pembelajar yang sadar akan kewajibannya.
***
Konsumtif dan hang-out, sesungguhnya bukan begitu cara pelajar menikmati hidup, namun kenangan akan kebiasaan Malam Minggu pada jaman dahulu akan tetap melekat pada ingatan saya. Sekalipun sudah berpuluh-puluh tahun saya alpa untuk merayakan euforia Malam Minggu diluar. Kalau tidak salah, terakhir kali saya bersenang-senang saat Malam Minggu pada waktu SMP kelas 2. Waktu itu ada Kakak Sepupu yang datang berlibur ke rumah, dan mengajak saya jalan-jalan untuk menonton di Bioskop dan makan AW setelahnya. Kenangan itu menguap begitu saja mengingat setelahnya saya sempat tinggal di Asrama saat SMA, agak sulit rasanya bermalam-minggu diluar, karena izin diperketat oleh Suster Asrama, dan saya meilih untuk menghabiskan dengan membaca buku, ditambah lagi tidak ada yang berinisiatif mengajak saya jalan-jalan dong, hehehe. Memasuki masa kuliah, saya hampir tidak pernah menikmati Malam Minggu sebagai waktu yang spesial untuk dinikmati diluar, waktu itu tahun berjalan pada 2012 keatas, dan jika ingin keluar tidak harus pada Malam Minggu. Ditambah teman-teman dekat saya semasa kuliah dulu adalah orang-orang yang tidak suka jalan-jalan alias mager, lalu biasanya malam-malam Minggu kami dihiasi dengan nonton film, entah itu kami menonton beramai-ramai di tempat tinggal mereka ataupun dirumah saya. Tren ke bioskop mulai ditinggalkan, karena tiket pada akhir pekan menjadi naik dua kali lipat. Jaman telah bergeser, budaya berubah, sekalipun saya merindukan cerita Malam Minggu yang bahkan tidak pernah saya alami lebih dahulu. Bagaimana mungkin merindukan sesuatu yang bahkan tidak pernah dinikmati sebelumnya?
***
Semesta sedang baik, kerinduan saya terjawab, meski tidak cepat. Ketika rencana belum berjalan, salah seorang kawan saya main kerumah, dan ia bertanya mengenai jadwal bekerja saya di minggu ini. Saya menjelaskan bahwa di hari Jumat dan Sabtu kebetulan masuk pagi, sehingga sore telah pulang, dan Minggu saya libur. Spontan ia berkata, “Ya udah, nanti Sabtu Malam kita jalan-jalan ya”. Ia menyebutnya Sabtu Malam, bukan Malam Minggu seperti yang biasa saya sebut.
Saking senangnya, perut saya sampai sakit membayangkan kapan waktu itu tiba, hingga pada Sabtu sore seusai kerja, saya langsung bergegas pulang kerumah, mandi dan lalu bersiap-siap. Karena beberapa jam sebelumnya, kami sepakat untuk pergi pada pukul 7 malam.
***
Barangkali, bagi sebagian orang yang terbiasa menghabiskan waktu-waktunya bersama dengan pasangan atau sekedar hang-out bersama teman-teman saat Malam Minggu atau malam-malam lainnya, bisa jadi hal itu menjadi peristiwa biasa saja. Namun, bagi saya yang jarang atau tidak pernah merasakan euforia saat merayakan Malam Minggu, tentu menjadi istimewa dan meninggalkan kesan yang cukup dalam, apalagi saya jarang diperhitungkan untuk menjadi bagian dari sebuah kelompok.
Sekitar 10 menit berlalu dari pukul 7 malam, dua motor datang. Dua kawan saya masuk, mengenalkan satu orang yang baru saja saya kenal untuk bergabung bersama menghabiskan malam nanti. Setelah insiden ban kempes, dan tertawa-tawa sepanjang jalan seperti orang gila, kami berhenti pada satu Warung Kaki Lima yang menjual Sate Madura di sekitaran Bundaran UGM. Tidak lama usai duduk, makanan datang. Mulanya kami berempat, sehingga makanan dipesan empat porsi, dua porsi Sate Ayam bagi yang bertubuh gempal dan dua porsi Sate Kambing bagi yang kekurangan darah. Cukup lama menghabiskan Sate dengan porsi yang lumayan, kami melanjutkan perjalanan menuju Tugu untuk bertemu dengan teman-teman yang lain.
Pemberlakuan New-Normal di Kota Yogyakarta seakan sulit untuk dikendalikan, melihat populasi masyarakat yang kian bertambah terutama pendatang. Ada yang bisa mematuhi aturan dengan baik, namun banyak juga yang melanggar. Kami duduk-duduk di sekitaran Tugu sambil melihat kendaraan lalu-lalang. Melihat perilaku orang-orang yang sungguh sangat beragam. Selama 25 tahun hidup dan besar di kota ini, saat itu adalah pengalaman perdana bagi saya menikmati Tugu dengan nongkrong di pinggirannya. Saya banyak diam dan merenung, teringat kecemasan saya saat berangkat dan mendengar suara Anjing yang seperti disakiti, dan kemudian mulai berpikir bagaimana caranya meringkus pelaku jagal anjing di Yogyakarta yang saya curigai berada di sekitaran wilayah rumah, mengingat regulasi hukum apalagi di Indonesia masih sangat lemah. Membela serta menjadi aktivis Hewan, seakan menjadi hal yang lucu. Para penjagal, sebagai dalih, mereka kebanyakan menggunakan pledoi mata pencaharian sebagai upaya lolos dari jerat hukum, padahal banyak pilihan pekerjaan yang bisa memenuhi jika memang ingin berusaha dengan baik.
Pikiran saya memang abstrak. Belum selesai dengan satu pikiran, tetiba langsung ingat dengan berita tadi siang yang baru saya baca, mengenai kasus Felix K Nesi. Lamunan saya menjadi pecah tatkala kawan saya memulai topik pembicaraan.
Saya dan kawan saya - sesungguhnya kami tidak pernah suka keramaian, namun sesekali kami juga mencoba berada di tengah keramaian untuk mencari suasana yang berbeda. Seringkali, dalam keramaian sekalipun, kami tetap sibuk dengan pikiran masing-masing. Rupanya jarak telah merubah banyak hal, minimnya pertemuan serta hampir tidak pernah berkomunikasi toh membuat kami kikuk untuk memulai cerita baru. Kami menyadari, telah banyak yang terlewatkan. Dan saya sesungguhnya merindukan obrolan yang dalam, seperti berbulan-bulan yang lalu. “Bagaimana tanggapanmu tentang kasus Felix?”. Pikiran kami terhubung, kendati sebelumnya tidak ada pembicaraan soal itu, dalam diam, yang kami pikirkan rupanya sama.
***
Berita tentang penangkapan Felix oleh aparat Polsek Insana bukan tanpa alasan, penangkapan itu akibat ulahnya yang telah naik pitam hingga menghantam kaca mobil dan kaca jendela rumah pastoran dengan helm miliknya. Kasus ini mendapat perhatian khusus, dan saya mencoba memahami masalah Felix dengan netral. Saya mencoba mengungkapkan kepada kawan saya, “Menurut saya apa yang ia lakukan benar, secara opini ya. Padangan serta perjuangan, dan apa yang berusaha ia tuliskan, cukup berani dan frontal. Jarang ada orang yang berani buka-bukaan tentang Agama, apalagi yang ia anut. Saya bahkan tidak yakin, jika seorang santri akan dengan vulgar menceritakan tentang Kyai-nya, seandainya ada sesuatu yang perlu dikritisi. Ya, sedikit orang yang memiliki keberanian untuk itu. Namun, saya juga akui ia cacat dalam tindakan etis, karena terbukti tindakannya tidak dapat lagi dikontrol hingga berujung pada efek menghancurkan dan merusak.” Saya diam, lama tidak berdiskusi kata-kata saya menjadi tidak beraturan. Lalu saya kembali bertanya, “Kau masih ingat kan tentang ajaran Kausalitas Aristoteles? Dalam memahami tindakan manusia, Aristoteles membagi ada empat sebab, yakni Sebab Formal, Sebab Material, Sebab Efisien. Dan satu lagi, hmm Sebab Final ya. Nah, jika kita melihat kasus Felix dan merujuk pada pandangan Aristoteles, saya mengatakan bahwa Felix ditahan karena Sebab Material yaitu memecahkan kaca, dan bukan Sebab Final membela yang benar. Selanjutnya, apabila ia dilaporkan oleh Komunitas Pastoran SMK Bintauni karena aksi brutalnya (Sebab Material) itu benar, namun jika ia dilaporkan karena membela yang benar (Sebab Final) maka itu salah. Persoalannya saat ini, saya merasa bahwa publik seolah-olah digiring unutk melihat Sebab Material, padahal sebenarnya mereka melaporkan dengan alasan Sebab Final. Asumsi saya ya, dan itu yang menjadi riskan. Karena seseorang tidak hanya bertindak benar, tetapi juga bisa baik. Sementara kau tahu itu, niat baik tidak boleh menghalalakan segala cara, atau bisa dibilang maksudnya baik tetapi caranya yang salah”. Dia masih belum menanggapi, mungkin sibuk berpikir, atau menyiapkan jawaban. “Ya tapi, kau juga tahu sendiri kan, Gereja itu kan sarat akan konsep Pengampunan, tapi cara dia melihat kemudian menghakimi itu, yang bikin saya..... ah sudah, lah!” Tutupnya. Ia seakan enggan melanjutkan diskusi singkat tersebut.
Hingga saat kami masih berbincang lebih lanjut mengenai kasus Felix, masih belum ada klarifikasi dari pihak Keuskupan terkait kasus Felix yang menyoroti kesalahan si Romo ini. Sudah sejak dulu, kasus yang menyoroti tentang Gereja, seringkali ditutup rapat-rapat, dan hanya orang-orang internal yang tahu. Bukannya berusaha menjelaskan, kebanyakan malah mengarang cerita lain untuk menutupi fakta sebenarnya. Gereja seakan memiliki rahasianya sendiri, hanya kurang dari 10% diketahui secara umum, mungkin tersimpan rapi dalam arsip Vatikan.
Tetapi saya coba kembali netral dalam melihat kasus ini, sebenarnya Felix juga harus tahu bahwa setiap Keuskupan di mana pun itu, memiliki solusi praktis-pastoral terhadap Imam yang bermasalah. Solusi tersebut bisa menjadi bahan pertimbangan oleh pihak Keuskupan dengan matang, bahkan mungkin sebelum dipikirkan oleh Felix. Ya, memang akan ada perbedaan cara bertindak aktivis dengan kaum rohaniwan. Jika aktivis bertindak cepat cenderung lugas, dan sebaliknya rohaniwan seringkali bertindak dengan banyak pertimbangan, seringkali lamban. Semoga mereka – para Imam-imam ini, paham akan makna Iman tanpa perbuatan adalah mati. Hemat saya, tidak ada gunannya juga Felix berusaha menyinggung, baik kepada pelaku si Romo A, Monseigneur, Romo Kepala, atau siapapun itu, karena Felix tidak bisa memaksakan keinginannya jika ia belum memahami sebab-akibat yang hanya diketahui oleh orang dalam.
Ketiadaan transparasi mungkin menjadi bahan evaluasi kedepannya agar kasus serupa tidak terjadi. Di sini, saya tidak bermaksud menyudutkan Felix ataupun pihak Gereja dan Komunitas Pastoran, namun seandainya Felix bisa bertindak dengan lebih etis, semisal menulis surat terbuka kepada Keuskupan, atau dengan cara-cara yang lebih elegan, mungkin kasus ini tidak akan mencoreng suatu kaum secara garis besar. Dan seandainya pihak Gereja atau Pastoran berani mengambil langkah praktis secara taktis, amarah Felix tidak akan meluap dengan sebegitu hebatnya.
Kedua belah pihak memiliki kesalahan dengan porsinya masing-masing. Saya rasa, Felix sebagai seorang penulis tentu paham bagaimana menggunakan media yang baik, bukan dengan kekerasan untuk menyatakan kegundahannya sekalipun hal tersebut juga mewakili suara sebagian besar umat yang kian cemas dengan perilaku penyimpangan para pastor. Tindakan anarkis yang dilakukan, bukannya akan mendapat simpati untuk menyatakan kegundahan namun justru suaranya mulai patah dan tak lagi dihiraukan.
***
Malam semakin tinggi, namun perjalanan masih berlanjut. Setelah dari Tugu, kami masih akan pergi menikmati malamnya Malioboro serta menyusuri jalan-jalan kecil khas Yogyakarta di sekitaran Ndalem Benteng – yang terasa kental dengan teduh-tenang budaya Jawa. Perhentian terakhir di Alun-alun Selatan, beberapa dari kami mencoba peruntungan dengan berjalan diantara Beringin Kembar. Konon, jika bisa melewati jalan diantara kedua Beringin dengan lurus, maka keinginannya akan terkabul – namun jika keinginan itu tidak dibarengi dengan niat yang tulus, maka jalan akan menjadi belok, dan keinginan tidak akan terkabul. Saya menghargai mitos yang berkembang, namun saya enggan sepenuhnya percaya.
Setelah cukup lama beberapa dari kami mencoba peruntungan untuk berjalan lurus diantara Beringin Kembar, dan tidak ada yang berhasil – kami bergerak untuk pulang. Embun mulai terasa, dingin dan lembab. Angin bertiup semilir serta lampu kota masih menyala dengan temaram. Kendaraan melaju perlahan, dan jalanan tidak lagi padat. Satu persatu dari kami mulai berpencar, menuju rumah masing-masing.
Keinginan duniawi seakan tidak pernah habis, dan waktu tak akan cukup. Hampir tujuh jam kami menghabiskan Malam Minggu, hingga sangkala telah berganti menjadi dini hari. Masa seakan menjadi cepat berlalu saat dinikmati dengan sukacita, saya sempat mengeluhkan kepada kawan saya “Kenapa jam berjalan cepat saat sedang berjalan-jalan, sementara akan terasa lama saat bekerja?” Sambil tetap fokus mengendarai motor, ia hanya tersenyum. “Siapa yang tidak suka pesiar” jawabnya singkat. Mungkin ia malas menanggapi jokes receh yang saya buat.
Mendekati rumah, rasanya semakin ingin membekukan waktu, atau memutar kembali. Malam Minggu perdana saya setelah sekian lama telah habis masanya, dan sisanya tersimpan erat dalam labirin ingatan bernama kenangan.


0 comments