Work

Starbucks - Drama Dualisme Kapitalis

December 12, 2017

Ketika mulai penat memasuki tahapan skripsi, satu-satunya yang membuat mood saya kembali baik, dengan menghabiskan (hampir) seharian penuh di Starbucks. Bukan karena hedon, tapi karena berusaha menyelesaikan pekerjaan dalam waktu sesingkat mungkin, diperlukan mood yang baik. Dan Starbucks mampu memenuhinya. Beruntung pada waktu itu Starbucks sedang ada Raspberry Promo selama Oktober, tentu kesempatan yang tidak disia-siakan. Ada alasan banyak orang (termasuk juga saya) untuk datang ke kedai kopi milik Starbucks; bukan karena rasa kopinya yang enak, bukan pula karena para partners yang ramah. Sejujurnya hanya ingin menikmati ambience minum kopi yang juga dirasakan oleh banyaknya Starbucks-holic di seluruh penjuru dunia. Menulis – entah itu skripsi, papper, jurnal, artikel hingga laporan – ditemani dengan segelas kopi panas serta alunan musik bergenre jazz-broadway, membuat diri ini hanyut dalam nuansa classy. Memang bukan kelas borjuis atas sih, tapi setidaknya merasa seperti NewYorker, kelas Amerika.

Rupa-rupanya Starbucks ini telah menjadi langgam Amerika, yang mencerminkan standar, nilai serta citarasa khas Amerika yang diperkenalkan ke seluruh dunia melalui medium kopi. Tidak bisa dipungkiri, sejak didirikan tahun 1971 di Pike Place Market – Seattle, Starbucks terus-menerus membangun kesadaran banyak masyarakat sebagai ikon Amerika. Berawal dari toko penjualan biji kopi, Starbucks merambah lebih luas lagi dengan menjadi produsen kopi nomor satu kala itu. Merajai retail-retail kedai kopi di sudut-sudut kota tersibuk di Amerika. Juga produsen bagi toko buku, toko musik hingga movie-box. Sebelum akhirnya kembali concern ke bisnis inti, kopi. Starbucks pandai mencuri pasar, advertising yang ditawarkan tidak melulu berupa barang yang dijual. Namun disisipkan menjadi ikon gaya hidup khas Holywood (banyak terlihat di film-film Hollywood, genre drama yang mengupas kehidupan masyarakat urban). Bersama dengan Apple, McDonald’s, Coca-cola, MTV, dan banyak ikon lain, Starbucks seakan mampu tampil sebagai langgam yang mencerminkan kultur Amerika yang mendunia.

***

Dalam sebuah buku berjudul Everything But The Coffee, Learning About America from Starbucks, Bryant Simon memiliki pendapat yang boleh jadi mencengangkan. Pada masa millennium ini, Amerika tidak lagi dicerminkan oleh General Motors – yang pada masa lampau menjadi lambang supremasi ekonomi. Kini Starbucks telah menggesernya sebagai ikon perekonomian Amerika. Ada semacam adagium yang terlampau diyakini, ketika General Motors mengalami down, maka bisa dipastikan Amerika sedang down. Namun kini adagium itu beralih menjadi milik Starbucks. Bahkan seorang Alice Cooper dalam interview di majalah Esquire menyatakan dengan tegas, “It used to be said, as General Motors goes, so goes America, now its, as Starbucks goes, so goes America”. Boleh jadi adagium itu benar, karena tepat satu tahun sebelum Amerika masuk dalam resesi besar di tahun 2008, Starbucks telah lebih dulu memberi tanda. Perusahaan yang dipimpin oleh Howard Schultz sepanjang tahun 2006 hingga 2009 telah menutup ratusan kedai kopi di Amerika dan merumahkan ribuan staff – hal yang baru terjadi setelah lima belas tahun mengalami pertumbuhan yang tidak berhenti. Perlu dicermati, bahwa apa yang terjadi di Starbucks juga terjadi kepada Amerika pada tahun-tahun itu. Maka rasa-rasanya tidak berlebihan jika ada kesimpulan kalau Starbucks kini telah menjadi langgam baru kapitalisme Amerika Serikat. Kira-kira apa yang membuat perusahaan dengan ikon Siren ini bisa menggeser posisi General Motors sebagai ikon kapitalisme Amerika?

Pertama. Starbucks melakukan pemasaran berbudaya, civilized marketing. Starbucks dalam mengenalkan produknya hingga diterima oleh seluruh masyarakat Amerika Serikat hingga seluruh dunia, karena melakukan pemasaran bersama dengan Hollywood. Coba perhatikan, bukan dengan iklan di televisi atau muncul dalam medium-medium pemasaran konvensional seperti print ads yang tersebar mulai dari departement store hingga airports, juga bukan dalam laman-laman internet dan halaman-halaman majalah saja, tetapi ia juga muncul dalam film. Gaya pemasaran Starbucks ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan Apple – sama-sama menjual American lifestyle, berkelas namun pas! Dalam film I Am Sam, yang pernah masuk dalam film nominasi Oscar – Sean Penn yang memerankan Sam Dowson. Dalam film tersebut, sosok Sam Dowson dengan kelainan down-syndrom yang dimilikinya, masih dapat bekerja serta membesarkan anak kecil di tempat yang paling ramah terhadap disabilitas, dimana lagi kalau bukan Starbucks. Tidak hanya film I Am Sam saja, Starbucks juga muncul dalam serial Sex and The City, dan beberapa di episode-episode The Simpson. Bahkan terlepas dari adanya pengaruh Hollywood, Starbucks seringkali muncul dalam ribuan foto selebriti Hollywood, sebutlah Harry Style, Ben Afflecks, Collin Egglesfield, Miley Cyrus hingga Britney Spears – yang dengan bangga memegang cup Starbucks sembari berjalan santai di trotoar kota yang anti-lobang-lobang-club.
Ben Affleck sipping out of a Starbucks iced cup labelled for Spencer
(Picture by : sprudge.com)
Harry Styles waktu buka jastip Starbucks 😜
(Picture by : Pinterest)

Kedua, Starbucks tidak hanya menjual kopi. Beyond Coffee, It sells lifestyle. Perlu dicermati, bahwa Starbucks juga menjual gaya hidup kelas menengah American yang pada saat itu tengah booming di Amerika (mungkin juga di dunia). Kelas menengah ini rata-rata memiliki pendidikan tinggi – sebagian besar adalah lulusan universitas, dan memiliki pendapatan tahunan yang cukup besar, sekitar 56.000 US$. Manusia-manusia yang tidak pernah puas, begitulah orang-orang Amerika berpikir. Banyak dari mereka yang terjangkit sebuah sindrom bernama Post Need Worlds. Sebuah istilah yang diperkenalkan oleh Juliet Schor untuk menggambarkan keadaan dimana warga middle-up di Amerika – setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, seperti rumah, makanan, pendidikan, mereka menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar dibutuhkan (Schor, 1999). Inilah celah cerdik yang kemudian digunakan oleh Starbucks, karena ia berhasil mengisi momen itu. Bahkan Starbucks membangun mindset – Successful people go to Starbucks, hingga Your third place between work and home. Dan itu berhasil. Selain mengajak banyak orang sukses untuk bertandang, Starbucks juga menawarkan rumah yang nyaman bagi mereka yang penat beraktifitas antara rumah dan kantor.
Starbucks with Its great location!
(Picture by : WeHeartIt)

Ketiga, Starbucks meneguhkan diri sebagai ethical company. Mulai dari fairtrade hingga yang baru-baru ini dilansir oleh TIME, antiracial company. Starbucks secara berkelanjutan mengedukasi customer akan pentingnya sebuah nilai dari Starbucks – yang more than just a coffee. Hingga majalah TIME pernah melansir sebuah rencana etis yang sedang dijalankan oleh Starbucks. Selain ingin meneguhkan diri sebagai perusahaan yang peduli terhadap nasib petani-petani kopi di negara-negara berkembang melalui skema fairtrade, Starbucks juga ingin meneguhkan diri sebagai kampiun dalam hal mempekerjakan para veteran perang, perusahaan yang antirasisme dan perusahaan yang peduli akan pendidikan. Di balik hingar-bingar kritik yang merujuk pada Starbucks – termasuk sikapnya terhadap kaum LGBT yang masih ditentang oleh sebagian besar orang – serta kepastian janji untuk terealisasikan, Starbucks seakan mengerti tentang laporan dari Luxury Institute bahwa banyak penduduk di Amerika dengan wealthy and well educated mindset menginginkan sebuah perusahaan yang berperilaku etis, menjalankan tanggung jawabnya terhadap isu-isu sosial. Bahkan Starbucks selalu mengkampanyekan hasil kerja-nyata bahwa sumber biji kopinya berasal dari perdagangan yang etis. Seperti yang baru-baru ini dilakukan di Sumatera, Indonesia. And, Yes! Starbucks sekali lagi sukses dengan fulfillment tersebut.

***

So, here I am. Saya mencoba menjaga kewarasan saat bekerja sebagai partime-partner Starbucks di sela-sela tahun terakhir menjadi mahasiswa, dengan menulis – masih dengan apron hijau yang belum dilepas usai masuk closing-shift. Karena saat saya mencoba merenung kembali atas fenomena apa yang terjadi selama bekerja di Starbucks, menulis adalah pilihan yang paling masuk akal. Dalam sesapan terakhir jatah Partner Beverage hari ini, saya memiliki anggapan bahwa, tidak hanya di Amerika saja gaya hidup yang ditawarkan oleh Starbucks. Indonesia dengan masyarakat yang masih bertumbuh dan mencari, berhasil digaet oleh Starbucks, merengsak masuk ke dalam pola pikir dan keinginan setiap orang, terutama kaum urban. Well, memang ada banyak anggapan kalau Starbucks itu kedai kopi yang gak rasa kopi, atau ada juga yang berpendapat kalau lebih enak kedai-kedai kopi lokal Indonesia yang-bukan-Starbucks. But once again, they come to Starbucks not only for buy coffee, but lifestyle – the American lifestyle.
***

Seperti buah Simmalakama – Kapitalisme banyak dibenci, banyak juga dicari.

Store closed at 01.15 am
and I'm still waiting for my Grab Car 

Cerpen

Man Like You, Man For Others

April 07, 2017


Pengakuan dosa sebenarnya tidak jauh berbeda dengan dating bersama dengan sang kekasih. Ketika kau pernah mencintainya, maka kau akan merindukannya. Ketika kau dengan sengaja melupakannya, ia akan terus ada dalam kenangan. Karena sejatinya sang kekasih sendiri mengajarkan di setiap percobaan untuk melupakan adalah cara lain untuk mengingat. Begitu pun dalam Pengakuan Dosa, ketika kau sudah intens melakukannya dalam rutinitas keimananmu, maka kau akan merasa kurang ketika tidak melakukannya.

Memang sih, mengakukan sebuah dosa, meruntuhkan ego-ego dalam bilik pengakuan tidak akan memberikan kemapanan ekonomis secara langsung, namun ia memperkaya keimananmu. Dia tidak menghujat kekayaan, namun dia memberikan makna agar bagaimana diri ini mampu bersikap atas kekayaan. Materi tentunya dibutuhkan dalam menyambung hidup, namun untuk merayakan hidup – diperlukan sikap hidup yang baru, dengan meninggalkan dosa-dosa di masa lalu adalah sebuah pencapaian atas kesiapan diri menjalani hidup baru. Ada sebuah cerita pendek, bertemakan sakramen tobat dan hidup selibat. Mungkin kisah dalam cerita pendek ini juga mewakili pengalaman beberapa orang, atau setidaknya juga menyadarkan banyak orang tentang bagaimana pentingnya sebuah pengakuan dosa untuk meringankan beberapa beban yang mungkin mengganjal dalam hidup.

***
Sebuah kapel di stasi paroki yang terletak di pedalaman Waghette, secara rutin mengadakan Pengakuan Dosa yang dilaksanakan setiap Jumat seusai jalan salib. Banyak sekali umat dari berbagai kalangan datang ketempat ini. Namun dari sekian banyak yang kuamati, rupa-rupanya sedikit sekali sebagai pendatang, mungkin aku hanya satu-satunya. Kedatanganku ketempat ini bukan tanpa sengaja, tugas-tugas kemanusiaan yang pada akhirnya memberiku kesempatan untuk merayakan perayaan Paskah kali pertama disini, beberapa hari lagi. Minimnya pelayanan pastoral serta kerinduan akan ekaristi ditengah kekosongan santapan rohani, akhirnya membawaku secara rutin mengikuti perayaan ekaristi setiap diadakan di stasi – tidak juga rutin setiap minggunya. Bahkan, saat ritual masa pra-Paskah, termasuk jalan salib dan pengakuan dosa juga tak pernah alpa kuikuti. Apa yang membuatku hingga persisten seperti ini?
Udara di bilik kecil berukuran tak lebih dari dua meter persegi itu terasa seperti jarum. Kecil dan menusuk, menyakiti permukaan kulit yang lemah dan mudah tersayat. Berkali, rintihan kecil bergema dalam hati, ia menangis diam-diam sebelum akhirnya seseorang yang panas dikening namun dingin dikenang masuk ke dalam bilik yang tepat berada di sebelah bilikku.



Detak jantung semakin berdebar tak karuan, telapak tangan juga basah karena keringat – dan gugup. Dalam bilik ini aku harus kuat, selain mempersiapkan hati, juga rasa-rasanya lutut ini semakin terasa kram, serasa tak sanggup menopang tubuhku yang mulai limbung. Cepat kuusap air mata yang sudah terlanjur menetes tipis.


“Bisa kita mulai?” Suara bass-nya kembali mengawali pertemuan kami entah kali keberapa. Pria di bilik sebelah memecah keheningan. Kedua bilik kami hanya dipisahkan sebuah sekat, dan terhubung oleh jendela kassa dan lubang kecil yang memungkinkan suara lirihku terdengar olehnya.

“Iya, RD” Jawabku setengah berbisik. Rasa sesak kembali merambat tiap kali mengucap panggilan itu dalam bibir. RD, Reverendus Dominus – panggilan untuk seorang imam diosesan.

“Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.”

Prosesi Pengakuan Dosa dibuka dengan tanda salib. Kugerakkan jemariku seturut perkataannya. Ke dahi, berlanjut ke dada dan berakhir di kedua bahu. Seusainya, kembali kueratkan jejemariku di atas tumpuan tangan sekat kayu. Seketika itu, rasanya ingin lari dan tenggelam dalam dosa ini lebih lama tanpa perlu mengakuinya. Gemuruh seakan memenuhi dada dan kepala. Tapi aku ingin konsisten, sekaranglah saatnya. Melepaskan segala kegetiran yang telah lama bersarang. Waktu terus berjalan, ia tak dapat melarutkan perasaan berdosa ini.

“Bapa, berkatilah saya orang berdosa,” aku berkata lirih. Pria itu mulai mengucapkan berkatnya, yang tentu ia hafal di luar kepala.

“Sekarang, akuilah dosa anda.”

Kalimat itu begitu mudah saja meluncur dari mulutnya. Tentu aku tahu, apa yang harus kulakukan setelah ini, mengaku. Namun mulut ini tiba-tiba saja terkunci. Semacam ada tenaga dari dalam jiwa yang memaksa logika untuk berhenti saja disini. Maafkan aku Tuhan, perasaan ini terlampau kuat dan ini sesungguhnya menyakitkan.

Beruntung sore itu, umat tidak banyak yang mengaku dosa. Mungkin karena hujan. Menit-menit berlalu tanpa ada suara yang keluar dari bibirku. Desau napas memenuhi udara, dan pria di balik bilik ini masih menunggu dengan tenang. Usia berbanding terbalik dengan pengalaman yang matang, mungkin menjadi alasan kenapa ia mampu bersabar menanggapi keluh-kesah umat, yang barangkali absurd sepertiku.

Waktu terus berjalan, detik berlalu tanpa henti. Dan aku masih saja bungkam. Dalam hati masih memberontak, pergumulan belum usai meski sudah berada di posisi-siap-mengaku seperti ini, dan semakin mengutuki kelemahan diri sendiri.

“Jika kamu belum siap mengaku, tidak apa-apa. Kamu bisa kembali lagi besok.”

Aku terkesiap. Besok? Bagaimana ceritanya. Tentu akan lebih rumit, karena besok tidak ada jadwal pengakuan. Yang berarti harus membuat janji. Apa aku sanggup kembali ke bilik ini besok, atau hanya untuk mengulang perasaan menyiksa yang sama seperti ini lagi? Dadaku semakin berdebar tak karuan, sebelum akhirnya kutemukan kesadaranku lagi.

“Bagaimana?” lanjut pemilik suara bass itu, ia kembali bertanya, atau sekedar memastikan. Aku menelan ludah, keringat semakin mengucur di pelipis dan ubun-ubun. Rambut panjang yang tergerai asal-asalan, terasa semakin lepek.

Aku merasa semakin gugup. Hari esok masih ada, dan waktu masih memperbolehkanku untuk berdosa lebih lama bersamaan dengan perasaan ini, yang terus akan tumbuh hingga menutupi keinginan untuk bertobat. Aku memang harus melakukan ini, sekarang.

Berdehem, dan menelan ludah. Hatiku masih ada sedikit usaha untuk berhenti, namun logika kembali mengambil kendali. “S-saya... saya akan mengaku sekarang”



Pria itu tidak lagi berkata-kata, ia kembali tenang dalam keheningan. memberi ruang untuk diri ini mengaku. Entah sudah kali berapa aku kembali menelan ludah, berusaha untuk menenangkan hatiku yang kini tersumpal dan siap dicacah.

“Pengakuan dosa terakhir saya....” diam sebentar, coba mengingat kapan terakhir kali berada dalam ruang pengakuan dengan perasaan yang jauh berbeda dengan sekarang. Karena dulu dosaku hanyalah dosa-dosa minor yang mungkin sering kulakukan dalam keseharian. “Setahun yang lalu, saat masa pra-Paskah.”

“S-saya.... ingin mengakui dosa saya, sejak saat itu....”Lagi, terdiam. Namun suara hati kembali berkata. Beranikan dirimu, Sukma. Katakan sekarang.

“Bapa, saya tahu.... ini konyol.. umur saya masih muda, jalan 23 tahun. Masih pantas dipanggil gadis, atau anak muda. Masih menikmati cinta yang menggebu. Namun pada kenyataannya, usia saya ini tidak selaras dengan jiwa yang ada dalam diri saya.” Aku kembali meremas tanganku semakin erat, hingga kuku-kuku membekas di kulit. “Terlahir dari keluarga broken, dan tidak memiliki saudara kandung membuat hidup saya kesepian.. papa dan mama dengan kesibukannya masing-masing, teman banyak namun silih berganti, datang dan pergi. Membuat saya mencari sosok pelindung, laki-laki yang mampu memberikan perhatian tulus dan rasa nyaman. Hal yang tak pernah saya dapatkan sepanjang hidup saya.”

“Beberapa kali saya pernah dekat dengan laki-laki, rata-rata usianya lebih tua beberapa tahun dari saya. Kami hanya sebatas dekat, dan tidak lebih. Mereka tidak pernah benar-benar mampu menyentuh hati saya, karena sesungguhnya saya hanyalah tempat pelarian sementara. Karena mereka hanya memandang sebatas hal-hal yang ternilai secara fisik dan material. Saya sadar, bukan itu yang sebenarnya saya butuhkan, saya langsung memutuskan hubungan saat mereka mulai minta yang macam-macam. Untuk sekian lama saya masih mencari, sampai lelah dan pasrah dengan keadaan. Atau mungkin memang takdir membuat saya untuk mampu berdiri sendiri. Hingga saya akhirnya menemukan sosok yang saya damba, itu....” Aku menahan napas, menggigit bibir. Rasa-rasanya tak ingin lagi kulanjutkan. “....Ada pada diri seorang imam yang sekarang berada di hadapan saya.”

Udara dalam bilik rasa-rasanya semakin pengap. Dada semakin terasa sesak. Aku tahu pria ini mungkin juga merasakan hal yang sama, usai mendengar pengakuanku itu. Namun karena belum selesai, pria itu tidak mengatakan apapun untuk menyela. Ia masih setia.

“Setelah pergumulan yang panjang, menentang kata hati. Menyalahkan diri sendiri, namun perasaan tetap tak mampu disangkal. S-saya.... saya jatuh hati pada imam itu, Bapa. Bagi saya ini lebih menyakitkan daripada sekedar jatuh cinta..”



Dalam prosesi ini aku mengaku pada Tuhan, berbicara padaNya di tempat ini. Pria itu bukanlah orang yang akan mengampuniku, karena ia hanyalah perantara yang Tuhan tunjuk sebagai tempat kami mengaku. “Bapa, maafkan dosa saya ini. Saya tahu, ini tidak wajar..”

Tangisku ingin kembali pecah, air mata ini sudah menggenang di pelupuk. Dengan berbicara lebih lama lagi, aku tahu kalau pengakuan ini akan berakhir menjadi tangis sesenggukkan. Namun sebenarnya aku masih belum selesai, dan aku tahu kalau dia – si pria itu ingin mendengar pengakuanku lebih banyak lagi.

Kami saling mengenal, sekitar satu setengah yang lalu. Studi di kampus yang sama, dengan jurusan berbeda. Seringkali berjumpa dalam kegiatan kemahasiswaan. Jika tidak mengenakan jubah, ia tidak terlihat sebagai imam kebanyakan. Usianya yang masih belia untuk ukuran imam muda, baru akan memasuki 27, dengan tampilan seperti para urban-millenial. Baru setelah mereka tahu bahwa sosok itu adalah imam, dan lalu banyak yang menyayangkan atas pilihan hidup untuk mengabdi kepada Tuhan. Imam ini benar-benar seorang imam, karena ia tidak memiliki keinginan apapun selain kecintaan terhadap Tuhan dan ekaristi, ia tidak hanya dimiliki oleh gereja, namun juga banyak orang, para umat. Hingga kesempatan membawa kami lagi, secara tidak sengaja bertugas di pedalaman. Selama beberapa minggu. Aku merasakan wajahku menghangat, air mata meleleh. Mengingat bagaimana sosok pria itu kembali membuat berdebar dalam benakku. Telah lama kusimpan perasaan ini seorang diri, hingga akhirnya aku berani membuat pengakuan. Justru pengakuan langsung dengan-Nya, yang terjadi diluar rutinitas kami.

“Tapi yang membuat saya jatuh hati padanya, bukan karena apa yang telihat oleh mata pada sosoknya. Melainkan, karena hatinya yang penuh belas kasih pada-Mu, yang membuat perasaan ini semakin terasa tak wajar. Saya paham, segala kebaikan yang dia berikan pada umatnya, terutama saya - hanyalah semata-mata pelayanan, tanggung jawabnya sebagai imam. Namun afeksinya, bagaimana cara dia berbicara pada saya, bagaimana dia memperlakukan saya, seolah-olah saya adalah manusia yang bernilai, memiliki arti. Segala bentuk perhatiannya, baik yang tersentuh secara fisik maupun tidak. Dan semuanya.... adalah hal yang saya dambakan selama ini”

Dan lalu, tangis itu telah benar-benar pecah “Bapa.. maafkan saya atas perasaan ini. Saya telah berharap terlalu banyak pada sosok yang seharusnya tidak boleh saya inginkan. Saya berdosa, Bapa.. Sungguh berdosa. S-saya…. Saya ingin menuntaskan perasaan saya, ampuni saya, Bapa.” Tangisan kembali menguasai, tak dapat lagi dibendung. Hingga akhirnya aku menutup pengakuan ini dengan suara terbata-bata.

“Bapa.. saya menyesali, semua dosa-dosa saya. Dengan hormat, saya mohon ampun dan penintensi yang setimpal..”

Cukup lama, tak ada lagi suara dalam bilik ini. hanya sisa suara sesenggukan tangisku. Pria itu juga tak bersuara, hingga tangisku sedikit mereda. Ia mulai berbicara, kata-kata yang muncul benar-benar di luar dugaanku. “Sukma…” ia menyebut namaku. “Mencintai bukanlah sebuah dosa. Pada siapapun cinta itu berlabuh, dalam bentuk apapun cinta itu ditunjukkan, dan bagaimana cinta itu tercipta. Cinta tak pernah berdosa.” Pria di balik bilik itu, mengulurkan tangannya dari sela sekat kayu, tanpa suara – memintaku untuk menyambutnya. Dan aku melakukannya apa yang ia minta, tanpa berpikir dua kali.

“Terimakasih telah mencintai saya, Sukma” Pria itu menggenggam tangaku erat, sangat erat namun hangat. Tak ada nada risih, antipati ataupun marah. Justru aku menemukan adanya pengertian dan kenyamanan yang tak pernah kubayangkan, sebelumnya.

“Sukma, saya juga mengasihimu, mencintaimu. Karena saya selalu mengagungkan cinta sebagai sesuatu yang berharga.” Hatiku dipenuhi rasa bahagia, aku tahu cinta yang dia maksudkan bukanlah perasaan yang sama seperti yang aku rasakan. Mendengarkan ia berkata seperti itu, membuat perasaan ini jauh lebih baik.


“Saya tahu ini akan berat untukmu, tapi jangan buang cintamu pada saya. Karena saya tidak ingin dibenci oleh umat saya sendiri.” Pria dibalik bilik itu seperti tertawa kecil. Tawa kecilnya berhasil memaksakan sebuah senyuman yang menyungging di wajahku. “Pandanglah cinta yang kamu berikan pada saya dengan cara yang berbeda, itu saja sudah lebih dari cukup. Terkadang, cinta hanyalah sebuah teori yang masing-masing manusia mencoba untuk mendefinisikannya sendiri, dan kemudian ia terjebak dalam pengertian itu. Cinta bukanlah hanya tentang definisi atau semata ungkapan, namun juga dapat berupa tindakan. Cinta bisa berarti banyak hal, yang kamu sendiri tidak akan pernah tahu, ia berasal dari mana dan akan menciptakan kondisi yang seperti apa. Maka, Sukma.. penuhilah dirimu dengan cinta, dan rasakan seluruh dunia menjadi jauh lebih baik karena cinta yang berbeda-beda akan datang silih berganti untuk memenuhi dirimu.”

Hening meraba suasana, namun genggaman tangan pria itu masih erat kurasakan; mengingatkanku bahwa aku masih harus mendengarkan kata-katanya, “Sekali lagi, terimakasih, Sukma. Terimakasih telah mencintai saya. Tetaplah berpegang teguh pada Tuhan, karena masa depan itu misteri. Jangan berusaha meramal, ataupun mereka-reka. Biarlah hidup penuh dengan petualangan, tetaplah hadapi dengan senyuman dan nikmati hidup ini. Sukma, saya tahu ini tidak mudah bagimu, namun kamu juga harus memiliki keyakinan, dan percayalah karena Ia telah menyiapkan partner seimbang bagimu. Dan saat kau telah menemukannya, tetaplah mengucap syukur dan ingatlah hari ini, saat ini..”

Setelah berkata demikian, Pria itu melepas genggaman tangannya. Lalu menutup prosesi dengan tanda salib tanpa memberikan penitensi apapun padaku. Ia belum keluar dari bilik, masih menungguiku yang kembali menangis. Namun kali ini, aku menangis bukan lagi karena merasa begitu berdosa. Namun aku menangis karena aku merasa begitu dikasihi, dicintai oleh sosok yang aku tahu, ia tak sanggup dimiliki. Mengetahui bahwa aku juga dicintai, itu sudah lebih dari cukup. Mempunyai cinta, tak berarti memiliki yang dicintai.
***

Kerangka cerita pendek ini saya tulis dalam kereta saat perjalanan, waktu itu tujuan saya ke Bandung tahun 2016 untuk merayakan Paskah bersama dengan seorang suster – beliau paruh baya, yang sudah seperti ibu sendiri. Cerita yang masih belum tuntas, belum ada alur dan dialog lengkapnya. Kemudian setelah dibiarkan agak lama, saya menyelesaikan usai berdiskusi bersama beberapa kawan yang pernah menulis paper dan mendalami tentang konsep dan nilai-nilai dalam Sakramen Tobat, dan juga terselip inspirasi kisah dari beberapa kawan karib. Mengambil sudut pandang orang pertama, untuk semakin mendekatkan secara emosional antara pembaca dengan si tokoh utama, bagaimana pergumulan Sukma. Dari yang ragu untuk melakukan pengakuan hingga menjadi yakin untuk tidak membawa bebannya seorang diri serta mau berpasrah kepada Tuhan. Ini adalah kisah fiksi yang menyoroti tentang pupusnya kisah cinta seorang gadis karena seringkali ditinggalkan, dipandang sebelah mata, hingga akhirnya menemukan sosok yang tepat - namun sayangnya justru hal tersebut ada dalam diri kaum selibat. Jelas-jelas hal itu mustahil untuk dimilikinnya, karena selibat berarti tidak menikah. Bukan ide cerita yang baru, terkesan klasik malah. Namun yang menjadi menarik adalah, usai pencariannya yang cukup lama kenapa Sukma justru jatuh hati pada seorang imam? Tidak adakah awam yang mampu menyentuh inti jiwanya? 

Selama ini sebagai awam kita seringkali melihat selibat hanya dari cangkang luar, tanpa tau apa yang sebenarnya menjadi tujuan mereka menjalani hidup religius. Menjadi selibat dalam tradisi gereja, adalah mereka yang menerima sakramen imamat yang berarti tidak menikah dan juga tidak melakukan prokreasi dalam kehidupan. Dalam gereja Katolik Roma, sebenarnya peraturan tentang kaum selibat (terutama tentang kaul kemurnian – tidak menikah) bukanlah dogma yang tak bisa diubah, hanya saja ini merupakan sebuah tradisi yang sudah lebih dari belasan abad. 



Dalam beberapa dekade terakhir, telah banyak tekanan pada Vatikan untuk lebih dinamis dan memperbolehkan para imam untuk menikah (selibat opsional). Dengan adanya pilihan itu, diklaim juga akan bisa menambah jumlah panggilan untuk menjadi imam di banyak wilayah, terutama yang kekurangan pemimpin umat lantaran enggan menjadi imam sebab tidak diperkenankan menikah dan larangan untuk berhubungan seksual. Disini, Paus Fransiskus mampu mengambil sikap. Dengan adanya berbagai tekanan yang terjadi, terutama tekanan untuk memperbolehkan imam menikah; Vatikan dengan tegas menolak aksi ini dengan alasan bahwa, selibat adalah anugerah bagi gereja. Sebuah hadiah, keistimewaan. Dalam ajaran katolik, gereja mengajarkan bahwa seorang imam harus mendedikasikan dirinya secara total untuk panggilannya, dan mengambil gereja sebagai istri untuk memenuhi misi sebagai imam. Menjadi selibat adalah pilihan, dan bukan keharusan – oleh karenanya, frustasi seksual yang menjadi inti dari banyaknya skandal yang dilakukan oleh kaum selibat, bukanlah alasan yang kuat untuk menjadikan selibat opsional. Karena hal tersebut adalah masalah psikologis pribadi, akibat pengolahan emosional yang kurang matang. Karenanya, para imam katolik yang memilih hidup selibat harus mentaati aturan hidup sebagai religius meskipun (mungkin) pintu perubahan dapat terbuka kapan saja. 

Dan saya sebenarnya sepakat, dengan ketegasan Vatikan. Karena bukan tidak mungkin ketika para imam memiliki keluarga, ia bukanlah lagi bagian dari selibat murni. Kerahasiaan dosa yang dikeluhkan oleh umat tidak lagi terjaga dengan baik. Sesungguhnya para imam yang memilih selibat, berkarisma dan menarik – karena terikat. Segala sesuatu yang terikat umumnya memang terlihat menarik, sebab ia menjadi tak mudah untuk dimiliki. Biar bagaimanapun, imam juga manusia. Pada saat-saat tertentu mereka juga bisa merasa kesepian, membutuhkan belaian kasih sayang. Sebagaimana yang pernah dilakukan seorang ibu kepada anaknya. Biasanya para imam ini melakukan sublimasi sebagai pengganti kerinduan mereka akan hal-hal yang dirasa wajar jika dilakukan oleh kaum awam. Bagaimana caranya? Ya dengan mencintai gadis-gadis tanpa harus menyentuh secara fisik apalagi memiliki #Eaaa.

Kalau saja selibat opsional benar-benar dilegalkan, ada kemungkinan semakin sedikit umat yang secara sadar melakukan Pengakuan Dosa. Jelas, rasa percaya dan rasa aman terhadap imam berkurang. Jika imam diperbolehkan menikah, keluh-kesah umat yang mengakukan dosanya juga (pasti) akan dibagikan dalam internal keluarga. Tidak ada lagi kerahasiaan dan nilai kesakralan jelas berkurang. Bukan tak mungkin umat gereja Katolik enggan melakukan prosesi pengakuan dosa karena adanya pandangan subjektif tentang citra imam yang memilih untuk selibat opsional karena perilaku yang kurang baik.

Perlu adanya upaya lebih untuk menanamkan nilai-nilai kepercayaan oleh gereja, terhadap umatnya agar tetap memelihara iman dan tidak meninggalkan tradisi Pertobatan, ya dengan tidak melegalkan selibat opsional. Sementara, bagi umat - untuk menyingkirkan apriori tentang kaum selibat yang diluar ekspektasi sehingga membuat enggan melakukan Pengakuan Dosa, tentu diperlukan juga kedewasaan iman agar tidak meninggalkan nilai-nilai esensi dalam pertobatan yang mestinya tetap dilakukan, dengan rutin melakukan pengakuan dosa itu sendiri. Karena sejatinya mengaku dosa adalah salah satu cara untuk meninggalkan beban masa lalu. Tentang bagaimana menaruh kepercayaan terhadap Tuhan melalui janji kemurnian seorang imam, yang memiliki hak untuk memberikan indulgensi dan memberikan penintensi serta menyimpan berbagai kisah pengakuan dari umatnya seorang diri. 


Saat-saat dimana para imam mampu dengan berbesar hati, mencintai tanpa harus memiliki sesungguhnya yang mereka lakukan bukanlah wasting time atau wacana tanpa aksi. Karena  mencintai sendiri adalah sebuah aksi. Lagipula, kekasih bayangan para imam ini tidaklah materialistis. Bagaimana tidak, sudah syukur masih diperhatikan, diberi cinta oleh mereka, mau minta yang lain lagi? Juga, para perempuan yang mendamba belaian kasih para selibat, umumnya mereka sudah selesai dengan diri sendiri sehingga tidak mengharap apa-apa lagi, selain kemurnian hati.


***

Hapuskan semua khayalan
Lenyapkan satu harapan
Kemana lagi harus mencari
...
Kini hanya rasa rindu
Merasuk di dada
Serasa sukma melayang pergi
Terbawa arus kasih membara

(Anggun - Mimpi)

Cerita Film

Bukan Review Film Beauty and The Beast

March 21, 2017






Sore tadi, saya menonton film terbaru dari Disney yang diangkat dari cerita dongeng sepanjang masa, Beauty and The Beast. Beberapa waktu terakhir, Disney nampaknya mulai aktif untuk me-remake dongeng-dongen klasik dalam bentuk live-action. Sebelumnya sudah ada Maleficent dan Cinderella. Mungkin setelah Beauty and The Beast ini akan banyak dongeng Disney lain yang akan diangkat ke layar lebar, kita tunggu saja. Layaknya dongeng Disney dengan akhir cerita bahagia, film ini pun begitu. Bahkan jauh sebelum menonton, saya sudah menebak akhir dari cerita ini. Lalu, apa yang membuat saya penasaran hingga akhirnya keluar studio dengan decak kagum?


***

Mengambil setting tempat di Prancis, kisah Beauty and The Beast ini diawali dengan kisah Pangeran yang mengusir seorang wanita paruh baya yang meminta tolong untuk singgah di istana dengan memberikan setangkai mawar merah sebagai imbalan. Namun sang pangeran menolak dan membuat wanita paruh baya (yang ternyata penyihir) itu geram. Sang pangeran dikutuk menjadi buruk rupa oleh wanita itu. Habis sih penyihirnya perempuan, kan perempuan mudah dendam. Terkutuk, deh 😆 Tidak lupa para pelayan juga terkena kutukan dan ditambah lagi ingatan masyarakat yang mulai dihilangkan, membuat eksistensi pangeran dan kerajaan nan megah ikut menghilang. Sama seperti kisah aslinya, kutukan ini memiliki batas waktu dalam bentuk kelopak bunga mawar yang disimpan di tempat khusus. Kutukan itu akan hilang jika pangeran menemukan cinta sejatinya sebelum kelopak mawar terakhir terjatuh. Namun jika tidak, maka pangeran dan para pelayan akan menjadi makhluk buruk rupa serta seisi istana akan menjadi kelam selama-lamanya. Rasanya, kalau bukan dongeng, menemukan perempuan yang mencintai si buruk rupa dengan tulus terdengar mustahil, ya?

Jauh dari istana, di sebuah desa hiduplah Belle. Perempuan cantik, baik hati, cerdas, namun banyak dijauhi oleh orang-orang sekitar. Karena apa? Karena dia lain daripada yang lain. Karena dia cerdas. Dan juga karena dia dinilai berbahaya (akan dibahas setelah ini). Ibunya telah lama meninggal, sehingga kesehariannya diisi dengan membaca buku, serta mengurus keperluan harian antara dia dan Maurice, ayahnya. Sebagai seorang inventor, Maurice setiap hari harus pergi ke pasar yang terletak di kota untuk menjual barang-barang temuannya. Hingga suatu ketika ketika ingin kembali ke rumah, ia tersesat di hutan. Ada badai besar yang terjadi di Bulan Juni. Rasa-rasanya aneh karena biasanya tidak pernah ada badai pada pertengahan musim panas.

Karena badai terlalu besar, jelas hal itu tidak memungkinkannya untuk kembali ke rumah secepat mungkin. Bersama dengan kudanya, Phillipe – Maurice memberanikan diri untuk masuk dan menghangatkan tubuhnya di sebuah bangunan, yang ia sendiri tidak tahu kalau itu istana. Semakin ia berjalan ke dalam, semakin ia tak menemukan siapapun kecuali benda-benda mati yang aneh karena dapat berbicara. Maurice mengurungkan niatnya untuk bermalam, ia memutuskan untuk pulang. Ketika akan berkuda untuk pulang, ia melihat pohon mawar merah dengan kuntum yang banyak. Ia akhirnya teringat dengan keinginan Belle yang ingin sekuntum mawar merah. Sang puteri jarang meminta, ada baiknya permintaan kali ini aku penuhi, toh hanya setangkai bunga mawar, batinnya.

Rupanya justru setangkai mawar itu awal dari petaka bagi Maurice. Sosok Beast kemudian datang dan menyerang Maurice hingga tak sadar diri. Melihat keadaan semakin genting, sang kuda, Phillipe bergegas pulang ke desa untuk memberitahu Belle tentang kejadian yang menimpa Maurice. Dengan cepat Belle bergegas ke istana untuk menjemput Maurice. Sesampainya di istana, Belle mencari Maurice yang dikurung dalam penjara istana oleh Beast. Mendengar ada suara asing, Beast menghampiri Belle dan Maurice. Ketika Beast mendekat, Belle sempat terkejut, namun ia melawan ketakutannya kepada Beast dan meminta agar ia dapat menggantikan posisi ayahnya yang dikurung.

Berhasil bebas, Maurice bergegas menuju desa dan meminta bantuan Gaston (yang notabene naksir berat dengan Belle karena kecantikannya). Gaston yang licik, awalnya tidak percaya dengan cerita Maurice karena menganggap Istana Beast hanyalah mitos belaka. Namun karena ingin mengambil hati Maurice, ia mengabulkan permohonan itu. Rupanya, jalan menuju istana tidak seperti apa yang dibayangkan. Gaston menganggap cerita Maurice bohong, dan tanpa basa-basi ia meninggalkan Maurice di dalam hutan.

Hari demi hari berlalu. Belle mulai beradaptasi dengan kehidupannya yang baru. Ia yang tengah berada dalam penjara, dibantu oleh lilin yang bernama Lumiere dan jam yang bernama Cogsworth untuk keluar dari sel penjara dan tidur di kamar tamu. Lumiere, Cogsworth bersama dengan Mrs. Potts, Chip dan penghuni istana lainnya merasa yakin bahwa Belle adalah sosok cinta sejati yang dicari oleh Beast selama ini. Mereka pun melakukan berbagai cara untuk mendekatkan keduanya. Usaha mereka membuahkan hasil, sikap Beast kepada Belle kian melunak, begitu pula sebaliknya. Keduanya semakin dekat dan menemukan kecocokan karena Beast dan Belle sama-sama memiliki hobi yang sama, membaca buku. Belle pun terpukau dengan perpustakaan dengan buku yang lengkap berada di istana, juga dengan kecerdasan yang dimiliki Beast. Emang dimana-mana lelaki cerdas bikin melting, sih. Hingga akhirnya ia menemukan jawaban, penyebab kematian sang ibu karena wabah penyakit.

Suatu hari Belle mendapat kabar bahwa ayahnya jatuh sakit, salah satu penyebabnya karena disiksa oleh Gaston dan kawanannya karena dianggap berbohong. Meski dalam hatinya tidak ingin pergi dari istana, karena ia mulai jatuh hati dengan Beast. Namun Belle terpaksa harus pergi menjenguk sang ayah, dan Beast memberikan izin; dengan satu syarat Belle harus kembali. Belle pun menyanggupi keinginan Beast.

Kekacauan dimulai. Gaston yang mengetahui bahwa peluangnya untuk mendapatkan Belle semakin tipis, mulai menghasut warga desa untuk membakar istana Beast. Dia menyebarkan isu, kalau Beast berbahaya jika tidak segera dihabisi. Warga desa yang mudah dihasut dengan menerima berita bohong, langsung setuju tanpa mengetahui kebenarannya. Suasana semakin genting karena nyawa Beast terancam, sementara bunga mawar merah yang menjadi indikator kutukan tinggal kuntum terakhir.

***

Ada banyak hal menarik yang dicermati dalam film ini, terlepas dari isu LGBT yang masih banyak mengundang perdebatan. I don’t care, because LGBT is personal option on their mind. Sementara saya lebih concern dengan korelasi antara Belle dengan pandangan komunal masyarakat desa dalam menilai Beast.

Banyak dari kita yang tidak sadar kalau terkadang dalam hidup sehari-hari pun, apa yang kita alami ternyata tidak jauh-jauh dari dongeng, dalam case ini Beauty and The Beast. Sosok Belle dengan anugerah kecantikan serta tubuh yang proposional, tentu menjadi daya tarik tersendiri. Ia sudah masuk standart kecantikan pada umumnya. Tidak heran banyak yang tergila-gila pada Belle, termasuk Gaston. Namun, selain banyak disukai oleh lelaki di desa dengan penilaian cangkang luarnya saja, sosok Belle rupanya juga banyak dihindari. Karena Belle lain. Kebanyakan gadis-gadis remaja seusia Belle pada masa itu, hanya memperhatikan luarnya saja. Mereka sibuk memikat hati pada lelaki hanya dengan kecantikan yang tampak. Sementara Belle, selain sempurna secara fisik; ia juga cerdas. Belle suka membaca, ia tidak mudah terpengaruh, kritis terhadap hal-hal yang kurang baik disekitarnya, ia terbiasa untuk mandiri dan juga memiliki pendirian. Serta upaya-upaya Belle untuk membawa perubahan (terbukti ia mulai menciptakan mesin cuci sederhana untuk mempermudah keseharian para perempuan, dan mengajari anak-anak untuk bisa membaca), rupanya banyak ditentang oleh sebagian masyarakat karena dinilai membahayakan. Jaman itu, patriarki masih sangat kental. Sebenarnya juga hingga sekarang sih. Sehingga ketika ada sosok perempuan seperti Belle, rasa-rasanya cukup membuat khawatir kaum laki-laki yang mendominasi di kawasan desa tersebut.

Tanpa sadar, kita pun sebenarnya juga hidup secara komunal dalam lingkaran masyarakat dengan pola pikir yang sempit. Ada pula yang terbiasa hidup secara homogen sehingga dengan mudah mengkotak-kotakkan kaum lain yang berbeda dengan dirinya. Sebagian besar dari mereka bukan bodoh, hanya saja kurang humanis, dan tentunya tidak realistis. Banyak diantara mereka yang masih belum siap dengan perubahan dan perbedaan. Ada pula yang dengan ketakutan tersendiri, sehingga menghasut yang lain agar seragam. Agar pola pikirnya yang kerdil tidak hanya dimiliki seorang diri.

Dalam film juga diceritakan sosok Beast yang buruk rupa. We see about nowadays and future, not about Beast’s past. Masyarakat yang belum mengenal secara intensif siapa Beast sebenarnya sudah memberi label bahwa dia adalah sosok yang membahayakan. Padahal bertemu saja belum pernah, lalu bagaimana bisa mereka men-judge? Rupa-rupanya, konsep bahwa Beast berbahaya itulah yang ditanamkan oleh Gaston kepada mereka untuk memudahkan aksi-nya menyingkirkan Beast demi mendapatkan Belle. Hadeuw. Masyarakat desa yang mudah terhasut, dengan beringas ingin memusnahkan Beast, tanpa tau dia siapa dan alasannya mengapa. The power of communal still exist – yang masih mirip dengan sebuah dalil : Kebohongan yang terus menerus dikatakan, maka lama-kelamaan akan menjadi sebuah kebenaran. Hal ini ternyata sudah pernah terjadi di beberapa negara besar. Sementara dalam kehidupan sehari-hari, kita juga banyak dihadapkan pada kasus penghakiman terhadap Beast.

Seringkali kita menilai segala sesuatu hanya dari katanya, kelihatannya, dan kayaknya. Misalnya seperti ini, ada orang-tua yang melarang anaknya untuk berteman dengan kaum tertentu, ketika si anak bertanya kepada orang-tua alasannya apa, jawabannya tidak jelas dan spesifik. Masih ngambang, dengan alasan bertubi-tubi : katanya dan kelihatannya. Padahal sebenarnya yang terjadi lebih luas dari yang katanya dan kelihatannya. Itu hanya sebagian contoh kecil saja, bagaimana dengan hal-hal yang mayor? Bahkan fenomena yang lebih krusial? Dalam bidang politik misalnya? Alangkah berbahaya-nya jika pola pikir masyarakat terus kerdil, mengesampingkan nalar kritis serta hati nurani.

Dan, hanya orang-orang seperti Belle yang mampu melihat sisi lain yang istimewa dari sebuah fenomena dalam hidup. Seperti melihat sisi lain dari Beast. Karena pada dasarnya memang sulit untuk merubah pola pikir manusia yang terbiasa hidup dalam zona-nyaman, serta hidup secara homogen. Dan apa perlunya untuk merubah? Ya agar nantinya tidak lagi menilai dari kelihatannya dan katanya. Jika dicermati, film ini bukan hanya melulu tentang kisah cinta antara Belle dan Beast, namun juga mengajarkan tentang kepekaan nurani, penerimaan diri, ketulusan serta nalar secara kritis untuk dapat melihat serta menilai sesuatu bukan hanya dari cangkang luarnya saja, namun juga apa yang tersimpan di dalamnya.

***

Tentu film ini memiliki akhir yang tidak berbeda dengan yang asli. Belle kembali ke istana, ia meneteskan air mata bagi Beast yang sudah sekarat. Tepat saat kelopak bunga mawar terakhir terjatuh. Kutukan berakhir. Beast kembali menjadi pangeran tampan. Perkakas yang dapat berbicara di istana kembali menjadi manusia. Pernikahan berlangsung dengan meriah, dan Belle diangkat menjadi permaisuri. Mereka tinggal di istana. And of course, they life happily ever after, seperti dongeng-dongeng yang sering kita dengar.

Karena happily ever after hanya ada dalam kisah dongeng semata.

Poem

Hening

February 25, 2017

(Picture by : Pinterest)


Senja memudar.

Heningmu menginfeksi semesta, dan membuat enggan bercerita.
Jiwamu sengaja kau ulur, menjauh tanpa tau untuk merengkuh siapa.
Sekalipun ragamu masih bisa kurengkuh.
Aku paham.
Tidak apa-apa.

Kau lamat-lamat menyimpan dukamu, membungkusnya dengan ayu.

Bukan aku tidak mau tahu.
Hanya saja, kau tidak pernah tahu, kalau aku selalu menahan rindu.

Bukan berarti aku tidak membutuhkanmu, hanya terngiang pesan terakhirmu.

Aku paham.
Kegetiran yang selalu membuatmu kembali
Ke pelukan ibu tempat kau merasa nyaman
Tanpa ada yang mengganggu barang satu.
Padahal kau hanya perlu sadar.

Masih ada mereka untukmu.
Masih ada aku jika kau perlu.
Dan sepertinya, kau masih nyaman dengan sendirimu itu.

Heningmu meruntuhkan tembok pertahananku.
Dengan atau tanpa suara, pun.
Sebenarnya aku sudah tau.
Kau bukan tak mampu, hanya tak mau.
Hingga akhirnya aku terbungkus rasa hampa.
Tiada yang dapat merubah heningmu.

Tanpa kau suarakan, sebenarnya aku sudah tau.
Ada pilu.
Aku mendengar keluhmu, kesalmu.
Dalam heningmu.
Dan yang terakhir, adalah bisikan sendu.
Namun kau masih saja berkeras, mempertahankan heningmu.
Tergambar sempurna, sekalipun tak pernah kau jabarkan.

Bagaimana mungkin kau jadikan ragamu sebagai batas dari lahirnya rasa?
Bukankah rasa adalah embrio bagi lahirnya sebuah jiwa?
Tanpa kau tahu.
Dalam heningmu, aku mendengar banyak bisikan.
Heningmu bersuara.
Tidak jelas, tapi jelas-jelas aku merasa.

Kalutmu yang samar meruntuhkan ruang rindu.
Tanpa perlu banyak waktu, serta memberitahuku dengan caranya sendiri.

Kemarilah.
Mari kuuraikan satu-satu.
Menghilangkan rona sendu itu.
Kuusap hangat jemarimu yang mulai membeku.
Kueratkan dalam sandaran pundakku.

Kemarilah.
Tanpa perlu kau hitung waktu, hingga kau dan aku bersama menghembuskan nafas, lega.
Bukan lagi hampa.
Telan dalam-dalam hampa itu.
Simpan rapat-rapat, kemudian hanyutkan dalam erat.

Sekalipun hening tak pernah bisa kau runtuhkan dengan apa.

Kemarilah, jangan berpaling, dan jangan diam saja.
Sadarlah.
Dan tertawalah.

Karena suatu saat nanti kau akan tersadar.
Bahwa kau adalah alasan, mengapa tawa mereka tetap ada.


(2013)

Life

Merajut Mimpi

February 24, 2017

Adakah kesadaran kalau setiap kita sebenarnya dimampukan untuk dapat belajar dari hal-hal kecil, bahkan dari sesuatu yang terkadang kita anggap remeh. Percaya? Di jaman serba canggih, serba cepat dan serba modern ini; omong kosong sekali kalau kebanyakan orang lebih mementingkan Emotional Quotient (kecerdasan secara emosi yang lebih sering disingkat EQ) dibandingkan Intelligence Quotient (kecerdasan secara intelektual yang lebih sering disingkat IQ). Mereka yang memiliki IQ dibawah standar bakalan jauh tertinggal, atau bahkan ditinggal. Padahal banyak dari mereka yang memiliki EQ tinggi, adalah yang dapat merubah dunia menjadi lebih ramah.

***

Cerita ini berawal dari percakapan suatu pagi antara saya dan ibu. Ketika itu kami sedang menonton acara berita di salah satu stasiun swasta yang sedang melaporkan berita mudik. Kemudian, saya berceletuk, "Asik kali ya jadi reporter... Atau wartawan? Ngomong-ngomong lebih cocok mana, reporter atau wartawan?". Pertanyaan saya sebenarnya hanya untuk main-main, tidak untuk serius. Tapi ternyata saya mendapat jawaban yang cukup menohok di siang harinya. Waktu itu saya sedang membaca buku di ruang tamu, lalu ibu mendekati saya yang sedang larut dalam membaca. Tanpa basa-basi, dia langsung bertanya, "Sebenarnya cita-cita kamu itu jadi apa sih?"

Pertanyaan simpel namun tak sesimpel jawabannya. Ibu saya bukan tipikal orang yang bisa diberikan jawaban main-main. Waktu itu saya hanya diam. Kalau dibilang tidak punya cita-cita, ya memang saat itu masih meraba-raba. Bukan juga artinya tidak memiliki, lebih tepatnya belum memiliki. Saya sekarang tidak se-optimis waktu kecil dulu, yang memandang dunia tidak dengan kerumitan di belakangnya. Dulu sekali sewaktu kecil, setiap ditanya apa cita-cita saya dengan ringan saya menjawab "Ingin jadi Bos!". Naif memang, anak umur 3 tahun tahu apa soal Bos. Lucu juga sih. Mulai beranjak masuk sekolah, cita-cita saya berubah menjadi Diplomat. Dan terus bertahan hingga masa SMA. Saya yang dulu masih dibalut dengan konsep idealis, yang perlahan bergeser dengan dinamika kehidupan yang membuat saya menjadi manusia lebih menerima, dan menjalani konsep Let It flow

Kembali ke pertanyaan Ibu, bisa saja saya hanya bilang, ingin kerja di organisasi dunia tapi sebagai volunteer, atau bekerja di suatu Non-Government Organization milik asing. Lemme explain little bit, seiring bertambahnya usia tentu ada banyak perubahan yang terjadi dalam hidup seseorang. Kebetulan saya tumbuh di lingkungan pekerja tetap, dengan jenis pekerjaan pasti. Dalam keluarga besar saya, semisal ada yang sudah bekerja di sebuah NGO dan sekalipun orang tersebut sudah memiliki tabungan yang mencukupi, pekerjaan tersebut masih dianggap belum mapan bagi sebagian orangnya. Dan sekalipun pekerjaan-pekerjaan tersebut justru banyak menyentuh hal-hal yang krusial dalam hidup dan juga membawa perubahan bagi kaum minoritas, namun tetap saja kesannya tidak banyak menghasilkan. Sebaliknya, banyak yang meremehkan, bahkan menentang. 

Padahal, apa ada yang salah? Bekerja tidak hanya sekedar memasukkan lamaran, interview, diterima dan mendapat gaji untuk melanjutkan kewajiban dalam hidup. Lebih dari itu, bekerja adalah panggilan hidup kita untuk ingin seperti apa. Bagus kalau masih bisa bekerja sesuai dengan hobi dan passion, tapi hanya sedikit orang yang beruntung seperti itu. Bekerja dalam kultur masyarakat di Indonesia juga menentukan status sosial seseorang. Mereka menjadi terseok saat dunia menganggap pekerjaannya dalam kasta rendah. Padahal bagi saya selama itu baik dan tidak membebani orang lain, apa salahnya?

Sejak kaum materialis berkuasa; pekerjaan, gaya hidup, prestise, dan nilai, kini menjadi nomor satu bagi setiap orang. Bahkan karena terlena dengan gaya hidup, mereka akan berusaha mengambil hak yang bukan seharusnya. Bisa dikatakan sedikit angkuh, memang benar. Setiap orang pasti memiliki cita-cita yang baik, dan saya termasuk di salah satunya. Sebagai anak satu-satunya dan menjadi tumpuan hidup keluarga kedepannya, tentu angan itu selalu saya ukir dalam-dalam di setiap doa dan tekad. Namun disisi lain saya juga tidak mau gegabah untuk menjadi ini, atau harus menjadi itu. Saya hanya tidak mau berharap lebih, tidak mau bermimpi terlalu tinggi yang saat sudah terlalu optimis kemudian gagal karena terbuai dengan mimpi. Dan saya tidak mau itu terjadi (lagi).

***

Bagi saya, cukup bersyukur untuk dapat mengenyam pendidikan secara layak di salah satu universitas favorit, sekalipun banyak rintangan dan hambatan untuk mencapai satu tujuan. Saya masih punya keinginan, masih ingin lulus dengan hasil yang maksimal. Setelah itu? Banyak konsep-konsep masa depan yang mengantri, mulai dari melanjutkan pendidikan master (yang entah dimana), menjadi bagian sebuah Non-Government Organization di Ubud yang bergerak dalam bidang teknologi, menjadi pengajar muda (yang bukan Indonesia Mengajar ðŸ˜œ), memiliki sebuah kedai kopi yang menjadi wadah diskusi- pertunjukan seni- atau co-working space, atau harus hidup monoton bekerja di kantor yang jarang diberi kebebasan mengekslorasi? Entahlah. Saya cuma tidak ingin di monopoli dengan waktu lagi, apalagi terbuai dengan tawaran-tawaran duniawi, seperti konsep Hidup untuk bekerja, bukan bekerja untuk hidup. Tidak perlu melimpah, yang penting cukup. Be a good woman, for the others. Dream, try, pray, believe, and make It happen.

(Picture by : Pinterest)

Ps. Tulisan tahun 2013, kemudian dilengkapi sebagian diakhir.

Birthday Greeting

Janji Allah Kepada Nabi Elia

February 13, 2017

Menarik saat membaca kisah para nabi dalam Alkitab. Selain imajinasi menjadi lebih kreatif karena berusaha memvisualkan apa yang tertulis, kita juga semakin kritis atas banyaknya tafsiran yang mungkin memiliki banyak arti yang berbeda. Kisah saat Nabi Elia berdoa sehingga turun hujan merupakan salah satu mukjizat besar yang ditulis dalam kisah-kisah nabi di Alkitab. Saya bukanlah penafsir Kitab Suci yang baik, belajar secara khusus saja belum pernah kok. Namun saya suka membaca kisah-kisah dan mukjizat yang terselenggara atas kehendak Ilahi. Seperti yang kita tahu, Elia yang seorang nabi juga adalah manusia biasa, sama seperti kita pada umumnya. Lalu, jika hanya manusia biasa bagaimana mungkin ada mukjizat yang mampu dilakukannya? Adakah yang dirahasiakan oleh nabi Elia kala itu?

Jika dicermati, kisah hidup Elia bisa dibilang menyedihkan. Dia diberikan tugas mulia oleh Tuhan, bukannya semakin mudah; justru tugas tersebut membawanya terbelenggu dalam pelarian dari Raja Ahab yang (waktu itu diceritakan) sangat jahat. Oleh karena itu, keselamatan hidup Elia benar-benar hanya bergantung sepenuhnya pada perlindungan Tuhan. Hal inilah yang mendasari Elia untuk terus berjalan dalam ketaatan.

***

Tidak hanya saat meminta hujan turun, Nabi Elia juga pernah memohon api yang diturunkan dari surga. Pada jaman itu, tanda jika persembahan diterima oleh Tuhan adalah dengan terbakarnya persembahan di atas mezbah. Meskipun mungkin ada kegetiran dalam hatinya, namun ia tanpa ragu dan berani untuk berdoa agar korban yang dipersembahkan diterima oleh Tuhan.

“Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: ‘Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini’. Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya.” - 1 Raja-raja 18: 36 & 38

Bukan tanpa resiko, Nabi Elia melakukan hal tersebut dengan ancaman akan dihabisi oleh Raja Ahab. Tanpa gentar, Elia dengan gagah berani menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya.

(Picture by : jw.org)


Nabi Elia juga berani menantang Raja Ahab untuk mengumpulkan semua nabi-nabi Baal di Gunung Karmel. Bukan rasa takut yang datang, justru dengan penuh keberanian, Nabi Elia membuktikan kuasa Tuhan melalui persembahan korban bakaran di atas dua belas batu yang disusunnya. Kepercayaan serta ketaatan Nabi Elia akan kebesaran Tuhan yang membuat doanya dikabulkan. Mukjizat itu juga dipakai olehnya untuk memberitakan kebesaran Tuhan, sekaligus mempermalukan nabi-nabi Baal dan Raja Ahab.

***

Seorang insinyur bangunan pernah berseloroh, “Akan lebih mudah membangun baru daripada merenovasi bangunan yang sudah banyak kerusakan”. Jika insinyur hanya terpaku dalam satu objek yaitu bangunan, bagaimana dengan objek yang lebih banyak lagi, dunia misalnya? Membangun baru sebuah dunia akan lebih mudah dibandingkan dengan membenahi dunia yang sudah banyak kerusakan. Namun, Elia toh nyatanya mampu mengembalikan dunia kepada Tuhan. Dalam doa yang dipanjatkan, Elia memanggil api dari surga untuk menyambar habis korban bakaran yang dipersembahkan bagi Allah. Hal itu pun bisa menjadi bukti bahwa tidak ada Tuhan lain yang lebih besar dari Allah yang ia imani. Doa Elia yang berbuah mukjizat ini hanyala salah satu dari rencana Tuhan untuk mengembalikan dunia (melalui Elia) ke dalam kedaulatan-Nya.

***

Manusiawi memang ketika menginginkan sesuatu dan dalam penantian tak segera menemukan tanda-tanda baik, kemudian menyerah. Namun hal tersebut tak berlaku bagi Elia. Dia berdoa supaya kekeringan terjadi, dan hal itupun terjadi. Tidak berhenti sampai situ, Elia harus kembali mengakhiri kekeringan dengan mendatangkan hujan. Berkali-kali Elia berdoa agar Tuhan mendatangkan hujan, namun berkali-kali pula Tuhan belum menjawab. Doa yang belum terjawab itu tidak juga membuatnya jadi putus asa, karena Elia terus meminta hingga mendapatkan jawaban pada doa yang ke tujuh kalinya. Apakah jawaban yang diberikan Tuhan sesuai dengan ekspektasinya? Ternyata jawaban Tuhan atas doa Elia tidak serta-merta langsung menurunkan hujan sesuai dengan keinginannya. Elia tidak kecewa, justru sebaliknya. Dia meyakini bahwa awan-awan kecil di langit merupakan tanda bahwa Tuhan Allah mulai menjawab doa-nya secara perlahan-lahan. Hingga tidak lama kemudian, Allah menggenapi doa Elia dengan mengirimkan hujan untuk membasahi seluruh tanah kering itu.

***

Tindakan doa dari Nabi Elia ini, menjadikan pelajaran bahwa ketika sebagai manusia biasa – dan kita berdoa untuk menyampaikan semua keinginan dan pergumulan dengan setia, maka Tuhan pun akan menepati janjiNya. Sebagai manusia biasa, sebenarnya Elia bisa saja mendesak Tuhan untuk sesegera mungkin menjawab doa-doanya sesegera mungkin. Namun dia tidak melakukan hal gegabah itu. Tindakan Elia dalam berdoa semakin mengenalkan manusia biasa terhadap karakter Tuhan yang sesungguhnya.

***

“Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.” – Yakobus 5: 17-18


Patung Nabi Elia di Muharaqa, Gunung Karmel, Israel
(Picture by : Pinterest)
Rencana Tuhan memang seringkali penuh misteri. Kita tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya menjadi kehendakNya. Rasa kecewa demi kecewa seringkali membuat saya skeptis akan kekuasaanNya. Tapi hal ini tidak berlaku baginya, karena dia menekuni teladan Nabi Elia dengan baik dan bersungguh-sunguh. Sesuai doa yang diberikan saat dia lahir ke dunia : Ellijah sesuai dengan nama yang diberikan kepadanya : Eliyeda - Albertus Eliyeda. 

Karena barang bisa lenyap oleh waktu, namun tulisan akan tetap selalu. Ayah, Selamat Ulang Tahun. Juga selamat menikmati waktu untuk beberapa hari ini di tempat favoritmu, Pulau Dewata.