Janji Allah Kepada Nabi Elia
February 13, 2017
Menarik saat membaca kisah para nabi dalam Alkitab. Selain imajinasi menjadi lebih kreatif karena berusaha memvisualkan apa yang tertulis, kita juga semakin kritis atas banyaknya tafsiran yang mungkin memiliki banyak arti yang berbeda. Kisah saat Nabi Elia berdoa sehingga turun hujan merupakan salah satu mukjizat besar yang ditulis dalam kisah-kisah nabi di Alkitab. Saya bukanlah penafsir Kitab Suci yang baik, belajar secara khusus saja belum pernah kok. Namun saya suka membaca kisah-kisah dan mukjizat yang terselenggara atas kehendak Ilahi. Seperti yang kita tahu, Elia yang seorang nabi juga adalah manusia biasa, sama seperti kita pada umumnya. Lalu, jika hanya manusia biasa bagaimana mungkin ada mukjizat yang mampu dilakukannya? Adakah yang dirahasiakan oleh nabi Elia kala itu?
Jika dicermati, kisah hidup Elia bisa dibilang menyedihkan. Dia diberikan tugas mulia oleh Tuhan, bukannya semakin mudah; justru tugas tersebut membawanya terbelenggu dalam pelarian dari Raja Ahab yang (waktu itu diceritakan) sangat jahat. Oleh karena itu, keselamatan hidup Elia benar-benar hanya bergantung sepenuhnya pada perlindungan Tuhan. Hal inilah yang mendasari Elia untuk terus berjalan dalam ketaatan.
***
Tidak hanya saat meminta hujan turun, Nabi Elia juga pernah memohon api yang diturunkan dari surga. Pada jaman itu, tanda jika persembahan diterima oleh Tuhan adalah dengan terbakarnya persembahan di atas mezbah. Meskipun mungkin ada kegetiran dalam hatinya, namun ia tanpa ragu dan berani untuk berdoa agar korban yang dipersembahkan diterima oleh Tuhan.
“Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: ‘Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini’. Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya.” - 1 Raja-raja 18: 36 & 38
Bukan tanpa resiko, Nabi Elia melakukan hal tersebut dengan ancaman akan dihabisi oleh Raja Ahab. Tanpa gentar, Elia dengan gagah berani menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya.
Nabi Elia juga berani menantang Raja Ahab untuk mengumpulkan semua nabi-nabi Baal di Gunung Karmel. Bukan rasa takut yang datang, justru dengan penuh keberanian, Nabi Elia membuktikan kuasa Tuhan melalui persembahan korban bakaran di atas dua belas batu yang disusunnya. Kepercayaan serta ketaatan Nabi Elia akan kebesaran Tuhan yang membuat doanya dikabulkan. Mukjizat itu juga dipakai olehnya untuk memberitakan kebesaran Tuhan, sekaligus mempermalukan nabi-nabi Baal dan Raja Ahab.
***
Seorang insinyur bangunan pernah berseloroh, “Akan lebih mudah membangun baru daripada merenovasi bangunan yang sudah banyak kerusakan”. Jika insinyur hanya terpaku dalam satu objek yaitu bangunan, bagaimana dengan objek yang lebih banyak lagi, dunia misalnya? Membangun baru sebuah dunia akan lebih mudah dibandingkan dengan membenahi dunia yang sudah banyak kerusakan. Namun, Elia toh nyatanya mampu mengembalikan dunia kepada Tuhan. Dalam doa yang dipanjatkan, Elia memanggil api dari surga untuk menyambar habis korban bakaran yang dipersembahkan bagi Allah. Hal itu pun bisa menjadi bukti bahwa tidak ada Tuhan lain yang lebih besar dari Allah yang ia imani. Doa Elia yang berbuah mukjizat ini hanyala salah satu dari rencana Tuhan untuk mengembalikan dunia (melalui Elia) ke dalam kedaulatan-Nya.
***
Manusiawi memang ketika menginginkan sesuatu dan dalam penantian tak segera menemukan tanda-tanda baik, kemudian menyerah. Namun hal tersebut tak berlaku bagi Elia. Dia berdoa supaya kekeringan terjadi, dan hal itupun terjadi. Tidak berhenti sampai situ, Elia harus kembali mengakhiri kekeringan dengan mendatangkan hujan. Berkali-kali Elia berdoa agar Tuhan mendatangkan hujan, namun berkali-kali pula Tuhan belum menjawab. Doa yang belum terjawab itu tidak juga membuatnya jadi putus asa, karena Elia terus meminta hingga mendapatkan jawaban pada doa yang ke tujuh kalinya. Apakah jawaban yang diberikan Tuhan sesuai dengan ekspektasinya? Ternyata jawaban Tuhan atas doa Elia tidak serta-merta langsung menurunkan hujan sesuai dengan keinginannya. Elia tidak kecewa, justru sebaliknya. Dia meyakini bahwa awan-awan kecil di langit merupakan tanda bahwa Tuhan Allah mulai menjawab doa-nya secara perlahan-lahan. Hingga tidak lama kemudian, Allah menggenapi doa Elia dengan mengirimkan hujan untuk membasahi seluruh tanah kering itu.
***
Tindakan doa dari Nabi Elia ini, menjadikan pelajaran bahwa ketika sebagai manusia biasa – dan kita berdoa untuk menyampaikan semua keinginan dan pergumulan dengan setia, maka Tuhan pun akan menepati janjiNya. Sebagai manusia biasa, sebenarnya Elia bisa saja mendesak Tuhan untuk sesegera mungkin menjawab doa-doanya sesegera mungkin. Namun dia tidak melakukan hal gegabah itu. Tindakan Elia dalam berdoa semakin mengenalkan manusia biasa terhadap karakter Tuhan yang sesungguhnya.
***
“Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.” – Yakobus 5: 17-18
![]() |
| Patung Nabi Elia di Muharaqa, Gunung Karmel, Israel (Picture by : Pinterest) |
Karena barang bisa lenyap oleh waktu, namun tulisan akan tetap selalu. Ayah, Selamat Ulang Tahun. Juga selamat menikmati waktu untuk beberapa hari ini di tempat favoritmu, Pulau Dewata.



0 comments