Cerita Buku

Cara Mencintai dari yang Maya

April 21, 2016

Saat tahun-tahun awal kuliah, saya menghindari membaca hal-hal yang berat diluar kebutuhan akademis di kampus, karena bacaan untuk sehari-hari demi memenuhi tugas-tugas kuliah saja sudah amat berat. Karya-karya dari Ayu Utami, adalah termasuk list bacaan berat versi saya kala itu. Bahkan, yang pernah saya baca sebatas tulisan lepas yang banyak menyangkut soal spiritualitas dan juga beberapa buku yang tidak berseri seperti Simple Miracle. Pernah saat sebelum kuliah saya diberi hadiah buku oleh Kakung Yu (adiknya Alm. Eyang Kakung) yang memiliki hobi membaca. Waktu itu yang diberi adalah buku Ayu Utami dengan judul Lalita. Saya hanya membaca sekilas dan tidak lagi tertarik. Hanya itu, dan tidak lebih. Tetap saya membaca buku dengan genre sastra, tap dari penulis lain yang tidak terlalu berat. 

Waktu berjalan pada akhirnya, di tahun 2016 saya mendapatkan masalah yang cukup berat, hingga membuat nurani saya menggunggat tentang definisi keadilan. Pembicaraan yang mendalam dengan seorang kawan karib yang telah seperti saudara sendiri, Meike – yang pada akhirnya mengenalkan saya untuk perlahan-lahan memahami gaya penulisan Ayu Utami. Petualangan perdana dimulai dari buku Eks Parasit Lajang dan Maya (yang ternyata menjadi bagian dari Seri Bilangan Fu). Tidak seberat yang saya kira dan orang-orang pikir tentang buku-buku Ayu Utami, terutama yang termasuk Seri Bilangan Fu, yang ternyata setelah membaca Maya, saya tidak sabar untuk melahap habis membaca seri-seri yang lain juga. Namun diantara keseluruham karya Ayu Utami, hingga beberapa waktu kemudian, saya masih terlalu jatuh hati dengan kisah dalam novel Maya. 
***

Saat membaca Maya untuk kali pertama, saya menggambarkannya sebagai kisah tentang kesedihan. Kesedihan Yasmin yang kehilangan kekasih. Kesedihan Saman yang telah memilih salib yang salah bagi Upi yang dikasihinya. Kesedihan Maya, wanita mulia yang terjebak dalam raga buruk rupa. Hingga kesedihan negeri yang berlarut-larut dicengkeram oleh tirani. 
Dibandingkan karya-karya Ayu Utami yang lain, Maya menyeret lebih jauh pada rasa melankoli hingga halaman-halaman selanjutnya. Rasa penasaran saya terhadap Novel Maya ini juga terjawab setelah ia menjadi jembatan kisah yang menghubungkan antara Seri Bilangan Fu dengan Dwlogi Saman-Larung. 

Novel Maya, mencoba menyembuhkan luka atas rindu Yasmin pada Saman. Didorong oleh rasa cinta pada kekasihnya – yang ia sebut sebagai cinta seorang wanita pada lelaki yang terluka, Yasmin yang tidak dapat mengurai teka-teki surat tersebut memutuskan untuk berkonsultasi pada seorang guru kebatinan, yakni Suhubudi. Ia lakukan dengan agak terpaksa sebab sesungguhnya ia seorang yang sangat rasional. 

Barangkali semakin ia meragu ketika tiba di padepokan Suhubudi, sebuah komplek pemukiman, yang baginya terasa aneh. Pada bagian terdalamnya, orang tidak boleh bercakap-cakap dengan suara, ia hanya bisa berkata-kata dengan tulisan pada secarik kertas yang dibakar setelah usai perbincangan. Di bagian lain kompleks tersebut, Yasmin merasa berada pada suatu ruang dengan dimensi waktu yang beririsan dan berkelindan; kini dan lampau. Semakin janggal lagi saat ia disuguhi sebuah pertunjukan tari bayang-bayang yang sesungguhnya indah dan mengharukan, tapi membuat ketegangan dan rasa mual akibat jeri tertahan di balik pusar setelah ia tahu para penari yang mementaskannya: segerombol makhluk cebol menjijikkan, manusia berkulit sisik, raksasa-raksasi poleng, serta sosok-sosok dengan rupa mengerikan lainnya. Tidakkah ia telah masuk ke sebuah kerajaan siluman? 

Namun, kesedihan dan keputusasaan akan nasib sang kekasih telah meneguhkan hatinya. Bukankah dulu Saman pun pernah bertandang ke situ untuk belajar spiritualitas pertanian -kelak ia menjalani hidup bersama kaum petani karet, sebuah momen yang mengubah hidupnya. 

Yasmin dalam perjalanannya samar-samar ia terbukakan kepada sesuatu yang lain, yaitu cinta. Ia mulai merasakan cinta dalam bentuk yang lain terhadap Saman yang mengejawentah secara indah melalui rasa yang manunggal; ia dan Saman. Rasa tersebut menumbuhkan pula cintanya pada Maya, makhluk cebol albino yang menarikan Sita dalam sendratari Ramayan prakarsa Suhubudi. Sita dalam ideal keindahan yang sama sekali berbeda, namun berhasil dibawakan begitu indah sebab Maya menarikannya sebagai jiwa yang mengatasi raga. 

Setelah lewat masa ngerinya, Yasmin mulai dapat merasakan kasih yang mengharukan bagi Maya, yaitu kaum yang tersisih oleh ketidakadilan. Ia mencintai Maya seperti Saman mencintai Upi, gadis gila berwajah ikan yang Saman coba ringankan penderitaannya. Gadis yang membuatnya gigih memberdayakan petani karet di sebuah kota kecil di pedalaman Sumatera. Gadis yang baginya ia ingin berbuat baik tapi itu pun masih salah. 

Memang bahwa Yasmin dan Saman bisa digantikan oleh tokoh yang sama sekali baru. Tapi pada akhir cerita ketika sang maya mengungkapkan wujudnya, takdir Yasmin yang pada dasarnya juga tak lebih dan tak kurang dari maya itu tidak bisa dianggap pilihan sepele. Kita tak bisa membungkam, bahwa pahit dan manis itu dalam bayang-bayang semu itu diam-diam melahirkan seorang Samantha. 

Keterkaitan antara semua teka-teki itu, berangkat dari surat yang juga berisikan sebuah batu – verbal yang kemudian menjelma concise, namun pada saat yang sama, verbal itu juga digantungi tanda tanya, sementara yang concise justru menjadi retoris, dan lagi-lagi, Maya. Tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa yang dimunculkan dalam novel ini pun mengandung mayanya sendiri: tokoh-tokoh dengan tinggi badan tidak genap, ibu yang putih tanpa suara, wayang manusia, Lara Jonggrang, termasuk batu supersemar yang bergerak di pasaran diam-diam. Akhirnya maya harus bertemu nyata untuk menjadi lengkap, namun bukan seperti ketidaktahuan yang akhirnya harus menuju pada ke-mengetahui-an, Maya tak harus menjelnya Nyata. Maya adalah dalam dirinya sendiri sempurna berdampingan dengan nyata. 
*** 

Ayu Utami memang membangun melankoli melalui kisah-kisah yang ditautkan dengan kondisi bangsa pada masa itu : Yasmin berpisah dengan Saman karena kekasihnya tertangkap aparat hendak membantu pelarian tiga aktivis mahasiswa yang dianggap kiri karena menyuarakan keadilan bagi rakyat kecil; tuduhan komunis selalu jadi andalan rezim untuk membungkam sesiapa yang dianggap melawannya. Saman harus berpisah dengan Upi sebab gadis itu terkurung dalam “sangkar emas”-nya saat perkampungan petani karet tempatnya tinggal dibakar oleh oknum yang ingin memapras perkebunan karet dan menggantinya dengan kelapa sawit yang lebih laku di pasaran; demi kemajuan ekonomi dan pembangunan. Parang Jati harus merasakan pedih manakala menyaksikan Paklik Bandowo, pesuruh ayahnya yang setia, dipenggal tangan kanannya atas tuduhan membangkang terhadap program swasembada pangan yang digagas pemerintah. Padahal ia hanya seorang abdi yang ingin menunjukkan bakti terhadap ndoro-nya dengan turut menanam padi purba dari jaman Majapahit, bukannya padi hibrida lekas panen seperti yang diinstruksikan pemerintah. Tuyul dan gerombolan manusia aneh lain yang dipelihara Suhubudi di padepokannya merasa sedih sebab mereka telah dikalahkan. Saluran benih mereka telah dimatikan melalui vasektomi agar tidak berbuah. Waktu itu, pemerintah gencar mempromosikan program Keluarga Berencana (KB). Segerombolan manusia siluman tentu tidak masuk dalam apa yang direncanakan tersebut, maka harus disingkirkan, atau paling tidak dicegah supaya tidak beranak-pinak lebih banyak lagi. Biar populasi mereka hilang dengan sendirinya. 

Sejarah dan spiritualitas kritis telah menjadi pilihan Ayu Utami dalam menggarap seri Bilangan Fu. Orde Baru masih menjadi garapan Ayu yang mengajak pembaca lagi-lagi untuk tidak gampang terpesona oleh lupa. Bersama dengan itu, kelupaan dijajarkan dengan ketidaktahuan, dan keduanya tak sama, tidak pernah sama. Maya adalah sebuah novel yang menyorot satu sisi penting, jangan lupa dan bernostalgia dengan romansa dan hadapilah. 

Perhatikan cara Ayu Utami berkisah sekaligus mengkritisi. Menghibur sekaligus memperkaya. Lebih penting lagi, ia tahu betul bagaimana menggulirkan cerita dengan baik sehingga pembaca tinggal hanyut saja bersama jalinan kisah yang ia rangkai. Tuturan yang apik menurut ukuran saya memang adalah kekuatan utama Ayu Utami. Dalam setiap bukunya, Ayu Utami selalu memadukan ramuan cerita yang berbobot dan tema beragam dengan diksi yang menarik serta penuturan yang runtut dan jernih. Tema-tema yang berat seperti politik, sejarah, spiritualitas, seksualitas, dan lain sebagainya – ia kemas dengan manis dalam cerita fiksi romantis. Itulah yang membuat saya jatuh cinta dengan penulis satu ini. Saya memang tak pernah suka bacaan yang terlalu kaku dan ruwet, tapi kali ini adalah pengecualian. 

Cara Ayu Utami yang memilih ending yang legawa, menentramkan terasa sangat berbeda dengan Bilangan Fu yang muncul di tengah kelompok radikal atas nama agama yang membuatnya tetap relevan. Tapi lagi-lagi buku Ayu Utami memang bukan untuk dibaca sebagai kesimpulan. Novel-novel Ayu Utami selalu tentang proses dan menghidupinya agar tak jatuh di jurang yang sama, untuk itu Maya berhasil meringkus dengan cermat. 

Sekalipun, bagi saya pribadi Maya tetap menyisakan ketidakpuasan. Lebih tepatnya rasa penasaran pada sejumput teka-teki yang masih belum terang pada akhir cerita. Biar bagaimanapun, toh semua karya Ayu Utami selalu terikat dengan benang merah tema yang sama: kemanusiaan dan keluasan pikiran.

Episteme

Bisma dan Kisah Cintanya yang Rumit

April 07, 2016

Menjelang semester-semester akhir masa perkuliahan, saya masih mengambil beberapa mata kuliah untuk hiburan. Mungkin terdengar tidak biasa. Buat apa? Kredit SKS sudah mencukupi; dan saya juga sudah memasuki tahap pertengahan skripsi. Mengambil mata kuliah sudah tidak lagi penting. Apalagi mata kuliah yang saya ambil ini sebenarnya lintas fokus - Religi dan Budaya. Tidak wajib. Sementara fokus saya sendiri adalah IPTEK. Tapi sejujurnya, saya suka mengambil mata kuliah dimana saya bisa belajar banyak disana, bukan yang melulu berpikir. Filsafat Wayang, itu nama mata kuliahnya.

Dunia pewayangan memang dekat dengan sejarah lampau dan masa kini Indonesia, lebih lagi bagi masyarakat Jawa dan Bali. Tidak hanya menyajikan kisah yang menarik, ada banyak ajaran tentang kehidupan. Di sisi lain, pertunjukan Wayang juga tidak bisa dianggap angin lalu karena di dalam pementasan banyak terdapat nilai-nilai estetika yang tinggi dalam sebuah lakon drama; kesenian yang tertuang dalam sastra, suara, karawitan hingga seni rupa. Sangat disayangkan, kekayaan filsafat yang ada di dalam Wayang ini belum ada yang secara sistematis mampu dibedah secara substansial. Akibatnya, sebagian besar dunia akademisi seolah memandang sebelah mata filsafat yang terkandung dalam wayang. Kearifan lokal nusantara yang kalah dengan hegemoni filsafat barat yang telah lama diajarkan dalam bangku kuliah.

Apa yang akan saya pelajari dalam mata kuliah ini? Apakah saya akan diajari mendalang? Haha tentu saja tidak! Dalam bahasa Jawa, kata Wayang berarti Bayangan. Sementara ditinjau dari aspek filosofis, Wayang dapat diartikan sebagai bayangan atau cerminan seluruh sifat-sifat yang ada dalam diri manusia. Kebacikan dan kebathilan. Seperti Mahabarata misalnya; terdapat dua versi kisah. Mahabarata versi India dengan Mahabarat versi Jawa. Keduanya terdapat lakon yang hampir sebagian besar sama, sekalipun nantinya akan terdapat beberapa perbedaan kisah karena penyesuaian dengan kultur masing-masing.

Dari sekian banyak ilmu dan penuturan kisah tentang Wayang saat kuliah, ada satu cerita menarik tentang hidup selibat yang diambil dari Mahabarata. Kisah ini jarang sekali menjadi tema pementasan wayang di nusantara. Baiklah kukisahkan ulang kepadamu tentang Resi Bisma, sebagaimana yang tertulis dalam Kitab Bhismaparva.

***

Sebelum menjadi Bisma ia masih bernama Dewabrata, memiliki arti keturunan Barata yang luhur. Bisma merupakan putra dari Raja Hastina yang saat itu dipimpin oleh Prabu Santanu, ia merupakan buah cinta sang raja dengan Dewi Gangga. Dikisahkan saat lahir, sang ibu moksa ke alam baka meninggalkan Dewabrata yang masih bayi. Hal ini terjadi karena Prabu Santanu melanggar janji kepada Gangga. Mulanya, Gangga meminta agar apapun yang dia lakukan kepada anaknya kelak, Prabu Santanu tidak boleh melarang. Saat Gangga melahirkan anak pertama hingga ketujuh, ia langsung membunuhnya di sungai. Hingga akhirnya saat anak kedelapan lahir – si Dewabrata, Prabu Santanu melarang Gangga membunuh Dewabrata. Gangga tidak pernah mengungkapkan alasannya membunuh ketujuh anaknya, hingga akhirnya ia menjelaskan alasannya ia membunuh ketujuh anaknya sebagai penebusan terhadap kutukan Resi WasisthaHanya saja Gangga baru memberi penjelasan usai Prabu Santanu melarangnya. Teringat akan janjinya yang dulu, dan ia merasa Prabu Santanu tidak bisa menepati janji; maka ia pergi meninggalkan sang Raja beserta Dewabrata kecil.

Tak bisa lama-lama ditinggal, akhirnya Prabu Santanu mencari wanita yang mau diperistri dan bersedia menyusui Dewabrata. Pencariannya berakhir hingga ia pergi ke Negara Wirata, dan bertemu dengan Dewi Setyawati. Sang Prabu ingin mengambil Setyawati sebagai permaisuri, sekalipun ia telah bersuamikan Parasara serta telah memiliki satu anak, Resi Byasa. Hanya saja, untuk dipersunting; Setyawati mengajukan persyaratan bahwa kelak anak-anaknya yang berhak untuk menjadi raja di Hastina. Awalnya, Prabu Santanu jelas menolak, karena ia telah menetapkan bahwa titisan raja akan diberikan kepada Dewabrata, sang putra mahkota. Namun sepanjang perjalanan ia terus teringat Setyawati dan akhirnya menjadi sakit. Prabu Santanu kembali bertemu dengan Setyawati. Juga karena Dewabrata yang tidak tega melihat sang ayah jatuh sakit, Dewabrata meminta ayahnya untuk segera mempersunting Setyawati. Tak lama setelah itu, Setyawati melahirkan Citrānggada dan Wicitrawirya yang menjadi saudara tiri dari Dewabrata.

Sebagai penerus tahta, Prabu Santanu menaruh harapan banyak kepada puteranya. Maka ketika masih muda, Dewabrata dikirim untuk berguru pada ksatria-ksatria dan resi-resi ternama untuk belajar ilmu ketatanegaraan, rohani, militer dan kanuragan. Dia berguru pada Resi Bhraspati. Resi Sukra, Resi Markandya, dan Resi Wasista. Dewabrata pun tumbuh menjadi seorang lelaki yang sakti dan berilmu tinggi.

***

Hingga pada suatu hari, tibalah waktu dimana Dewabrata akan diangkat menjadi Raja Hastina menggantikan sang ayah Prabu Santanu. Setyawati yang mengetahui rencana tersebut, kemudian membawa serta Citrānggada dan Wicitrawirya dan berbicara pada Prabu Santanu. “Prabu, ingatkah dulu siapa yang menolongmu saat terluka di hutan? Akulah orangnya” belum sempat Prabu Santanu menjawab, istrinya kembali menyambung, “Dan anak yang kubawa ini adalah putramu. Bukankah dulu engkau pernah berkata, ‘mintalah apapun, pasti akan kupenuhi’.”. “Lalu sekarang apa pintamu?” balas Prabu Santanu. “Pintaku, jadikan dia Raja Hastina” Setyawati membalas dengan pasti, dan setengah memaksa.
***

Samar-samar Dewabrata mendengar percakapan itu. Ia sadar bahwa Ayahnya tidak dapat memungkiri janjinya. Maka dengan lapang dada, Dewabrata menyerahkan takhta Hastina pada adik tirinya. Belum puas sampai disitu, Setyawati berkata lagi “Aku mempercayai ketulusan Dewabrata untuk memberikan takhta Hastina kepada puteraku, namun bagaimana dengan keturunannya nanti? Akankah anak-anaknya akan menjadi Raja juga?” (pertanyaan Setyawati yang lebih mirip pernyataan memang membuat gemas siapapun yang membaca). Ia bertanya dihadapan sang raja dan Dewabrata.

***

Sebagai seorang anak yang berbakti, Dewabrata telah bersedia melepaskan mahkota kerajaan untuk adiknya. Tetapi Prabu Santanu juga mengkhawatirkan akan terjadi pertentangan antara keturunan Dewabrata dengan keturunan adiknya yang kelak menjadi raja. Kebijaksanaan melingkupi Dewabrata kala itu. Karena cintanya kepada kerajaan dan sang Ayah, Dewabrata bersumpah untuk tidak menikah hingga akhir hayatnya mati. Sumpah yang dikenal Brahmacarin. Melihat ketulusan Dewabrata, sang ayah menganugerahinya suatu mantra Aji Swacandomarono, yaitu suatu aji-aji dimana ia hanya bisa mati atas kemauannya sendiri serta bisa memilih hari kematiannya. Juga dengan kesaktian yang dimiliki, banyak yang akan bertekuk lutut kepadanya. Sumpah yang dengan berani diucapkan Dewabrata itu tentu membuat gempar kerajaan hingga menyebar dengan cepat sampai luar Kerajaan Hastina. Dan sejak saat itu ia dikenal dengan nama Bisma yang berarti menggemparkan. Kelak, sumpah itu pula yang akan disesalinya kemudian. Karena bukan hanya karena selibat seumur hidup saja, namun justru karena keturunan Dewi Setyawati lah yang menyeret Hastina pada suatu perang saudara yang besar, Bharatayuda.

***

Waktu berlalu, hingga pada suatu hari ada sayembara di Kerajaan Kasi untuk mendapatkan tiga putri dari kerajaan. Sudah menjadi tradisi, bahwa kerajaan Kasi akan memberikan putrinya kepada pangeran keturunan Kuru. Namun, saat Wicitrawirya mewarisi takhta Hastinapura, tradisi itu tidak dilaksanakan. Hingga kemudian raja dari Kerajaan Kasi mengadakan sayembara dan yang berhasil memenangkan sayembara tersebut kelak akan berjodoh dengan ketiga puterinya. Siapa yang tidak tergiur dengan sayembara tersebut, tentu ada banyak yang mengikuti, namun banyak juga yang gagal akibat sulitnya memenangkan sayembara. Bisma mendengar sayembara itu dan tergeraklah hatinya. Ia percaya diri dengan kekuatan juga kesaktian yang dimiliki. Sebenarnya tujuan Bisma adalah untuk membawa ketiga puteri itu untuk diperistri sang adik yang telah menjadi Raja Hastina. Perkiraanya tidak meleset, Bisma berhasil mengalahkan semua peserta yang ada, termasuk Raja Salwa; yang sebenarnya sudah dipilih Amba untuk menjadi suaminya. Namun hal itu tidak diketahui Bisma, dan Amba pun tidak berani untuk mengatakannya. 

Bisma membawa Amba, beserta dengan kedua adiknya Ambika dan Ambalika untuk dibawa ke Hastinapura dan menikah dengan sang Raja. Ambika menikah dengan Citrānggada dan Ambalika akhirnya menikah dengan Wicitrawirya, namun tidak dengan Amba. Hatinya sudah tertambat kepada Salwa, dan ia pun mejelaskan bahwa sebenarnya ia sudah memilih Salwa untuk menjadi suaminya. Sementara sang adik yang telah menjadi raja, merasa bahwa tidak baik menikah dengan wanita yang sudah terlanjur mencintai orang lain, hingga akhirnya ia mengizinkan Amba untuk pergi menghadap Salwa. Merasa lega, Amba kemudian pergi menghadap Salwa. Namun apa yang ia dapatkan ternyata tidak sama dengan yang menjadi harapannya. Salwa menolak Amba. Ia enggan menikahi wanita yang telah direbut darinya, bahkan Salwa merasa justru Bisma yang pantas menikah dengan Amba, karena Bisma yang berhasil mengalahkan dirinya. 

Dengan rasa malu dan kecewa, Amba kembali ke Hastinapura untuk minta dinikahkan dengan Bisma. Sayang seribu sayang Bisma juga menolak. Bukan tanpa alasan, janji untuk selibat tidak menikah seumur hidup membuat dia harus menolak Amba. Bukan main betapa hancur perasaan Amba kala itu. Amarah dan kecewa bercampur menjadi satu, hingga tangisnya pecah.

***

Bisma menenangkan gadis yang menangis dihadapannya ini dengan penuh kelembutan. Ia sayang pada Amba, juga kasihan padanya. Namun ia juga tidak bisa berkata apa-apa. Air mata Amba telah membuatnya menangis, namun air mata yang ia tangiskan sendiri tidak keluar karena terdapat dalam hatinya. Ia menyesal karena kehidupan wanita ini telah hancur karena dirinya. Ia berkata lembut Amba “Aku turut bersedih atas semua yang telah terjadi. Aku tidak bisa menikahimu. Kau tahu bahwa aku telah bersumpah untuk menjadi seorang brahmacarin sepanjang hidupku. Bagaimana aku bisa menikahimu? Tolong hilangkan pikiran itu dari pikiranmu. Itu tidak mungkin. Seandainya engkau memberitahu aku, bahwa kau telah memilih suamimu – si Salwa, hal ini tidak akan terjadi. Tetapi seseorang tidak bisa mengendalikan nasib. Kau tidak pernah bisa menjadi pengantin wanitaku. Aku tidak bisa membantumu mengatasi keadaan yang sulit ini. Aku pasti akan menikahimu, jika segalanya berbeda. Tetapi sekarang, aku terikat sumpahku. Aku tidak bisa membantumu seperti yang engkau inginkan.” dan Bisma pergi dari hadapannya. Usai Bisma pergi, Amba merasa hidupnya tidak lagi berarti. Perlahan muncul kebencian terhadap Bisma. Batas yang tipis antara benci, kecewa dan patah hati. Rasa cinta Amba yang sebenarnya terpendam yang tak mampu tersalurkan karena luapan amarah yang begitu besar.

***

Amba memutuskan untuk melakukan pengembaraan. Ia pergi ke lembah, gunung, hingga ke hutan-hutan.
 Ketika berada di dalam hutan, Amba bertemu dengan Resi Hotrawahana, kakeknya. Amba bercerita apa yang terjadi pada dirinya. Setelah mendengar masalah sang cucu, resi Hotrawahana meminta bantuan Rama Bargawa, guru Bisma untuk membujuk Bisma agar menikah dengan Amba. Namun, bujukan Parasurama juga terus ditolak oleh Bisma, hingga sang guru marah dan menantang untuk bertarung. Pertarungan antara guru dan murid itu berlangsung sengit, dan baru diakhiri setelah para dewa menengahi permasalah tersebut.

Tidak menemukan titik terang, Amba kembali pergi berkelana dan bertapa. Ia memuja para dewa, memohon agar bisa melihat Bisma mati. Melihat ketekunannya, Sangmuka muncul dan memberi kalung bunga kepada Amba. Putera Dewa Sangkara itu berkata, bahwa orang yang memakai kalung bunga tersebut yang akan menjadi pembunuh Bisma. Setelah mendapat kalung bunga dari Sangmuka, Amba berkelana mencari ksatria yang bersedia memakai kalung bunganya. Tidak ada seorang pun yang mau memakai kalung bunga itu, sekalipun pemberian dewa. Mereka tahu, bahwa yang dihadapi adalah Bisma. Hingga sampailah Amba di Kerajaan Panchala, ia bertemu dengan sang raja yang bernama Drupada. Rupanya Drupada juga takut jika harus melawan Bisma. Tidak tahan lagi, Amba mencapai puncak amarahnya dan melemparkan kalung bunga itu ke tiang balai pertemuan Raja Drupada.
Ada dua versi kematian Amba. Pertama, karena panah Bisma. Kedua, karena ia membakar diri.
(Picture by : google.com)
Dengan penuh rasa kebencian terhadap Bisma, Amba kembali melakukan tapa. Dalam pikirannya, Amba hanya ingin melihat Bisma mati. Seperti tak pernah lelah, Amba selalu memohon tanpa henti. Sang Dewa melihat kegigihan Amba, Dewa Sangkara kembali muncul dan berkata bahwa Amba akan reinkarnasi sebagai pembunuh Bisma nantinya. Usai mendengar pemberitahuan itu, Amba membuat api unggun, lalu membakar dirinya sendiri. Amba menjemput kematiannya sendiri untuk dapat terlahir kembali. 

***

Kabar kematian Amba sampai juga di telinga Bisma. Semakin bertambah kalut perasaan Bisma mengetahui Amba yang ia cintai telah tiada. Bisma diselimuti perasaan bersalah karena telah memberikan harapan palsu pada Amba dan membuat seumur hidupnya menjadi kacau hingga kematiannya. Namun apalah daya seorang Bisma, sekalipun ia kuat dan sakti; namun ia tetaplah ksatria yang harus setia dengan sumpahnya. Sementara Prabu Santanu turun tahta sebagai raja, ia memutuskan menjadi pertapa dan tahta digantikan oleh anaknya. Sayangnya kedua anak Prabu Santanu kemudian meninggal secara berurutan, sehingga tahta kerajaan Hastina dan Ambika serta Ambalika (janda dari Citrānggada dan Wicitrawirya) diserahkan pada Byasa, putra Setyawati dari suami pertama. Byasa-lah yang kemudian menurunkan Pandu dan Drestarata, orangtua Pandawa dan Korawa.

Seperti janji Dewa kepadanya, roh Amba menitis kepada Srikandi. Ia terlahir kembali sebagai anak Raja Drupada dari kerajaan Panchala. Kelak dialah yang akan membunuh Bisma dalam perang Bharatayuda. Di masa kelahirannya yang baru Srikandi adalah istri Arjuna, penengah Pandawa. Meskipun ia seorang wanita tetapi ia terampil dalam ilmu keprajuritan terutama ilmu memanah yang diajarkan Arjuna kepadanya. Srikandi-lah yang bersedia mengambil dan memakai kalung bunga Dewa Sangkara, dan itu berarti dia juga yang akan menjadi penyebab gugurnya Bisma.

***

Demi tanggung jawab untuk membela Hastina, Bisma tampil saat perang Bharatayuda. Ia menepati janjinya untuk melindungi Kerajaan Hastina, terlepas dari siapa yang menjadi rajanya. Bahkan saat perang, Bisma menjadi panglima Kurawa, walau di dalam hatinya Bisma tidak pernah setuju pada perbuatan dan tindakan para Kurawa. Bisma yang semakin menua namun kesaktiannya tak terkalahkan. Semua panah, pedang hingga tombak tidak ada yang mampu menembus tubuhnya. Senjata-senjata itu rontok seperti rambut yang berjatuhan. Bahkan dengan mudah, ia berhasil mengalahkan Seta ditepi Sungai Gangga, serta mengangkat dan melempar tubuh Drestajumna keluar dari pagar garis medan pertempuran.

Pada Malam harinya, Kresna yang sudah kehabisan akal mengajak Arjuna mengunjungi tenda Resi Bisma. Berkat Aji Halimunan yang juga dimiliki oleh Arjuna, keduanya berhasil memasuki tenda Resi Bisma tanpa diketahui oleh para pengawal Kurawa. Kresna membujuk Bisma untuk mengalah, namun Bisma hanya tersenyum. Walaupun sebenarnya Bisma menyadari bahwa jika Hastina dibawah kepemimpinan Pandawa dan penerusnya, maka Kerajaan Hastina akan mendapat kejayaan. Bisma juga mengakui Laksmana Mandarakomara, anak dari Suyudana, sebagai seorang yang tidak pantas menjadi raja. Bisma yang sadar akan kesaktiannya, juga menyadari bahwa dia jugalah yang menjadi hambatan besar bagi Pandawa untuk meraih kemenangan.

Kedatangan Kresna dan Arjuna malam itu tampaknya membuat Bisma tersentuh. Pernyataan Kresna yang menyatakan selama ini Bisma tidak adil, karena hanya menjadi pelindung para Kurawa dan melalaikan para Pandawa. Bisma juga dinilai tidak membela sama sekali saat Pandawa terusir dari negerinya, juga saat Drupadi, istri Yudistira mendapat penghinaan dari orang-orang Kurawa. Meskipun terus mengelak, sebenarnya dalam hati Bisma mengakui bahwa dia telah menelantarkan para Pandawa. Akhirnya, Bisma memberi petunjuk bahwa dia pantang menyerang seorang perempuan. Jadi, lanjut Bisma lagi, tampilkanlah seorang perempuan untuk melawan dan menjadi perisai bagi Arjuna.

Keesokan hari, memasuki hari ke-10 Perang Bharatayuda. Kresna menampilkan Srikandi, istri Arjuna. Srikandi bertugas untuk mendampingi sang suami menghadapi Bisma. Pertimbangannya, karena Srikandi telah mahir menggunakan panah. Kutukan Amba akhirnya memang menjadi kenyataan. Saat perang akbar di Kurusetra, Srikandi turut terjun ke medan laga. Ia berhadapan dengan Bisma, itulah kali pertama Srikandi berhadapan dengan sangat dekat dengan Bisma, yang sudah terlihat menua. Srikandi berkali-kali dipukul oleh Bisma, namun tidak membalas sedikitpun. Srikandi merasa seperti pernah mengenal Bisma. Disaat yang bersamaan, saat memandang Srikandi yang masih muda, dirinya merasa seperti berhadapan dengan Amba. Ia kembali mendekat, dan terkejut saat menyadari sepenuhnya, Srikandi adalah titisan Amba. Dalam pandangannya, sekejap yang terlihat dalam Srikandi adalah wajah Amba seutuhnya. 

Bisma kemudian teringat pada saat memberitahu Kresna dan Arjuna semalam, namun ia tidak menyangka bahwa yang akan tampil adalah seorang titisan Amba. Bisma melihat jiwa Amba berada pada raga Srikandi, pada saat itulah ia menyadari bahwa waktunya telah tiba, Amba telah datang menjemputnya. Dalam hatinya ia terus bertanya dengan kalut, masih dengan perasaan bersalahnya “Ambaa... kekasihku, engkaukah itu?”. Bisma berdiam diri, lama teringat dalam lamunannya di masa lalu, saat Amba dengan manja memeluk dan memohon kepada Bisma. Keelokan Amba yang masih terasa mempesona baginya.

Melihat Bisma sedang tidak dalam situasi kondusif, Kresna langsung memerintahkan Srikandi untuk memanah Bisma. Dengan berkalung bunga yang dulu diberikan oleh Dewa, segera Srikandi meluncurkan panah kepada Bisma. Anak panah yang melesat dengan kekuatan tinggi dengan cepat langsung mengenai dada Bisma. Setelahnya dengan cepat Arjuna membantu Srikandi melayangkan serbuan anak panah yang lain hingga Bisma terjatuh ke bumi, di Tegal Kurusetra. Jatuhnya Bisma seolah pertanda bahwa sumpahnya telah tercabut. Bisma merasakan bahwa inilah saatnya ia terlepas dari tanggung jawab sumpahnya sendiri, dan ia bisa menjalin kisah kasih yang sempat tertunda di kehidupan selanjutnya.

Sekalipun tubuh Bisma dipenuhi oleh panah-panah yang menancap, ia tidak segera mati. Dengan Aji Swacandomarono yang dimiliki, Bisma masih mempunyai kesaktian untuk menentukan kapan kematiannya. Para Pandawa, Kurawa serta para pini sepuh mendatangi Bisma, ia berkata butuh bantal untuk menyangga kepalanya; Suyudana segera menyuruh para Kurawa mengambil bantal yang empuk dan indah, berupa tilam bersulam emas dari Istana Hastina. Tapi Bisma menolaknya seraya memanggil Arjuna, tentu Arjuna mengerti apa yang diinginkan Bisma. Arjuna segera melepaskan tiga buah anak panah yang menancap di tanah sedemikian rupa yang membentuk penyangga kepala bagi Bisma. Sedangkan Werkudara memberikan perisai-perisai perajurit yang telah gugur untuk menyelimuti Bisma. Pandawa juga membuatkan penutup kelambu untuk menghormati Bisma. Lagi, Bisma kemudian meminta minum, Suyudana segera menyuruh para Kurawa menyediakan minuman dari buah-buahan yang lezat. Namun Bisma kembali menolak, dan meminta Arjuna menyediakan minuman baginya; lagi, Arjuna paham apa yang diinginkan Bisma, maka ia mengambil satu anak panah lagi dan dengan mantranya panah itu dilepas ke tanah, hingga dari tempat panah yang menancap itu muncul semburan air yang menyiram wajah Bisma. Usai terpuaskan dahaganya, semburan air itu pun berhenti. Bisma kembali berkata bahwa ia ingin menyaksikan Bharatayuda hingga akhir. Medan pertempuran pun digeser agar tidak mengganggu Bisma. Perang Bharatayuda dilanjutkan.

***

Delapan hari berselang usai Bisma tumbang, Perang Bharatayuda dinyatakan usai, di hari ke-18. Pandawa muncul sebagai pemenang. Para Pandawa kembali mengunjungi Bisma. Di saat-saat terakhir, Bisma bahkan sempat berpesan kepada Yudistira untuk tidak mengesampingkan kepentingan negara demi kepentingan lainnya. Sekalipun itu demi kepentingan suatu sumpah yang suci.

Di akhir perang Bharatayuda, Srikandi dibunuh oleh Aswatama yang diam-diam menyusup saat ia tertidur lelap di tenda peristirahatan. Roh Srikandi kembali dalam wujud Amba yang telah menanti Bisma. Sesaat setelah Srikandi meninggal dan rohnya kembali bereinkarnasi menjadi Amba, sesaat itu pula Bisma tiada. Bisma telah menuntaskan pertandingan dengan baik, dan ia menghembuskan napas terakhirnya saat Uttarayana.

Perang Baratayudha
(Picture by : Wikipedia)
Dukacita sekejap menjelma jadi sukacita, Bisma meninggalkan raga dengan tersenyum. Bisma dan Amba bersama-sama menuju kehidupan selanjutnya. Mereka bahagia meski tak lagi berada di dunia, roh keduanya pergi dengan damai. Selama masa hidupnya Bisma bergelar resi, ia ahli dalam segala modus peperangan hingga disegani oleh Pandawa dan Korawa. Sekalipun tahta sebagai raja tidak disandangnya, namun Bisma totalitas sebagai penjaga bagi Hastina. Kerajaan yang sempat mengalami masa kelam karena dipimpin oleh para raja yang gila kekuasaan, dapat diselamatkan oleh Bisma. Hingga Kerajaan Hastina disegani oleh negara lain karena kecakapannya dalam berperang. Bisma gugur tanpa mengingkari sumpah sebagai ksatria sejati.

***

Tidak seperti roman yang terdapat dalam epos pewayangan secara umum, Rama-Shinta yang terkenal dalam kisah Ramayan misalnya – kisah kasih tak biasa antara Bisma dan Amba ini sebetulnya menarik. Ada beberapa kajian yang dalam. Bisma terlahir sebagai seorang laki-laki, pada masa itu – mampu meruntuhkan ego-nya untuk tidak gila kekuasaan dan perempuan demi kedamaian keluarga, dan terutama demi kebaikan sang ayah. Dalam kondisi genting, bisa saja dia menarik kembali sumpahnya. Untuk dapat hidup seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa. Tidak perlu juga mempersulit keadaan dengan menyiksa perasaan Amba. Melihat dari kegalauan yang dirasakan Bisma, sebenarnya di lubuk hati terdalam; Bisma tidak punya alasan untuk tidak mencintai Amba. Seorang putri raja yang cantik, anggun, setia, konsisten, segalanya. Namun sebagai kesatria yang telah terikat sumpah, Bisma juga harus memenuhi dharmanya untuk tidak melanggar sumpah. Cinta yang universal memang seringkali sulit diterapkan. Ada banyak bentuk cinta yang bisa dipelajari. Cinta kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada keluarga, kepada sahabat, kepada pasangan. Sekarang tinggal bagaimana meletakkan semua cinta tersebut dalam urutan yang tepat sesuai dengan peran dan kehidupan.

Rupanya hal cinta ini bukan persoalan yang remeh-temeh dan menye-menye. Ini krusial, kalau saja disadari. Sebab cinta dan benci bisa menjadi energi yang luar biasa untuk mewujudkan sebuah keinginan. Seperti keinginan Amba untuk membunuh Bisma, karena luapan cinta yang terlalu penuh dan akhirnya berubah menjadi benci. Amba bisa bersikap seperti itu karena keinginannya yang begitu besar untuk balas dendam, akibat perbuatan Bisma yang terikat sumpah sehingga tidak bisa menikahinya. Tapi juga bisa diartikan karena cintanya yang begitu besar kepada Bisma sehingga dia ingin sekali menjadi orang yang bisa membebaskan Bisma dari hukuman kehidupan dunia sehingga bisa kembali ke asalnya sebagai Vasu. Batas tipis di antara cinta dan benci membuat keduanya sesuatu yang hampir sama, something in between, hanya soal sudut pandang saja.

Perkara cinta itu rumit, dia bagian dari rasa yang tidak bisa tersentuh secara ragawi. Rasa, tak terlihat, namun berimplikasi. Rasa, ia terus tumbuh, dan membahayakan. Seandainya tanpa rasa cinta, Amba tak perlu kabur kesana-kemari hingga mengembara kemana-mana. Juga Bisma tak perlu menyesali dirinya atas sumpah Brahmacarin yang berlaku seumur hidup. Cinta adalah sesuatu yang tidak sistematis. Idealnya ia bebas, tidak terikat sistem. Manusia-lah yang membuat cinta menjadi rumit. Ia berjalan diluar rencana, tanpa prediksi. Muncul begitu saja, dan terasa sulit untuk dikendalikan. Ia berjalan tanpa pedoman, sesuka hati. Diantara segala kerumitannya, dunia tanpa cinta juga terasa hampa. Karena ia indah, membawa bahagia (meski terkadang malapetaka), dan penuh warna.

***

Belajar filsafat wayang sebahagia itu rupanya. 
Meski untuk paham lebih dalam tentang elegi antara Bisma dan Amba semenyedihkan itu pula.




Ps. Mungkin kisah Bisma ini baik dipentaskan pada Pesta Tahbisan seorang imam. Ups!