Dogmate

See you again, Love!

May 08, 2020

Dari dulu saya tidak pernah menyukai kucing. Bagi saya, kucing itu hewan yang tidak setia, suka mengobrak-abrik sampah, buang kotoran sembarangan, dan banyak hal-hal menjengkelkan lainnya. Tidak menyukai, bukan berarti lantas menjadi benci, bukan juga jadi suka iseng atau menyakiti. Tapi membiarkan saja, serta tidak terlalu peduli. Sampai pada satu kejadian yang benar-benar merubah pola pikirku.


Sampai ada seekor kucing yang suka duduk di taman rumah. Kami di rumah memanggilnya Love, karena tidak ada identitas lain yang mencirikan tentang dia selain bulu warna putih dengan corak hitam dengan pola berbentuk hati. Love tidak nakal seperti kucing lain yang suka memberantaki sampah, pun tidak membuang kotoran di sembarang tempat sekitaran rumah. Ia suka datang saat sore hari, waktu dimana Ibu biasa menyirami tanaman, lalu ia bermain-main di taman. Begitu terus hampir setiap hari, hingga kemudian si Love ini pergi, lama. Tak pernah kembali lagi.


Hingga pada suatu hari, ada seekor kucing dengan muka dan sebagian tubuh yang dipenuhi luka Scabies. Saya menjadi iba, karena, tidak akan ada yang menyukai hewan liar yang sakit. Bagi sebagian besar orang, hewan yang sakit itu adalah parasit, dan tidak ada untungnya untuk memelihara atau mengobati mereka. Karena toh, mereka ini cuma binatang.
Pernah ada satu tetangga yang meihat saya memberi makan si kucing ini, lantas dia nyeletuk “Kucing kok jelek, dibuang aja itu..”. Saya eggan menanggapi daripada urusan bertambah panjang. Karena percuma, bagi saya hati dan ucapannya tidak lebih bagus dari apa yang kelihatan pada kucing ini, malah jauh lebih buruk. Mungkin si tetangga itu lupa, kalau bumi dihuni bukan hanya oleh manusia dengan hati tumpul seperti dia. 

Kembali kuperhatikan kucing ini, corak bulunya. Kucing ini, ternyata dia Love – yang dulu suka bermain-main di halaman rumah dan pernah menghilang beberapa saat. Kini ia kembali, namun dengan behaviour yang berbeda, cenderung pasif dan semacam trauma didekati manusia. 

Dan siapa yang peduli kepada Love soal isi perutnya, apakah ia telah makan atau belum, dimana ia akan berteduh saat hujan, dan apakah ia akan diganggu anak-anak kecil yang suka iseng? Saya pernah membaca beberapa artikel soal kucing, kalau ia akan ingat siapa yang memberi makan dan akan datang kesitu setiap kali akan makan. Wah, kesempatan untuk bisa mendekati si Love, pikir saya waktu itu. 
Saya mulai rutin memberinya makan, sekalipun ia enggan mendekat. Perlahan tapi pasti, ia mulai mau masuk halaman rumah. Lama kelamaan ia semacam memberi tanda kalau datang. Suaranya kecil, cenderung tenggelam. Kalau pas sedang dirumah, biasanya saya langsung keluar dan memberinya makan. Lucunya, saat saya sedang tidak di rumah, dia mulai mau menunggu di halaman sampai diberi makan.

Jika manusia sakit, ia bisa mengobati dirinya sendiri ke dokter, minimal ia bisa minta tolong untuk diobati guna mengurangi rasa sakitnya. Bagaimana dengan hewan? Apakah ia dapat mengobati sendiri, atau minimal minta tolong kalau ia merasa sakit. Hanya manusia dengan kepekaan hatinya yang dapat menjadi perpanjangan tangan untuk menolong mereka yang kurang beruntung.

Setidaknya itu yang kupikirkan saat itu, bagaimana saya bisa menolong kucing sakit ini sementara ia enggan dipegang, takut mendekat, dan saya juga tidak memiliki keberanian untuk memegang kucing. Saya mulai memutar otak, mencari cara dan bantuan untuk membawanya ke Klinik Hewan. Biarlah saya membantu biaya pengobatan atau transportasi, atau apapunlah itu - tapi untuk membawanya sendiri, masih belum mampu.
Akhirnya dengan sedikit narasi dan bercerita tentang kronologisnya, saya mulai berbagi cerita melalui Facebook, Twitter dan Instagram. Satu hari, dua hari, belum ada jawaban. Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, ada seorang pecinta kucing, yang juga terbiasa memelihara kucing yang berada di Bogor, Mesty namanya. Mbak Mesty ini terbiasa berdonasi untuk kucing-kucing terlantar, juga ternyata ia ingin mengadopsi Love jika memungkinkan untuk dibawa ke Bogor. Mbak Mesty juga bersedia menanggung pengobatan Love. Permasalahannya saya tidak bisa terus standby, sementara juga masih takut menangkap seorang diri. Kami bertukar informasi tentang si Love ini, hingga akhirnya ia menghubungkanku dengan aktivis yang juga pecinta hewan, bernama Icha. 

Bertemu dengan Mbak Icha ini membuatku banyak belajar, terutama tentang behaviour Kucing. Bahwa tidak semua Kucing itu itu parasit, dan cara untuk membuat agar tidak over-populasi adalah dengan steril. Sejak itu, saya jadi semakin aware tentang pro-steril, donasi, dan street-feeding. Mbak Icha juga rajin membuat katering makanan untuk kucing (yang bisa juga dikonsumsi oleh anjing) dengan bahan makanan yang sehat untuk porsi takaran sekali makan seekor kucing. Hasil dari penjualan biasanya untuk perawatan kucing yang dia adopsi karena ditelantarkan, atau street feeding kucing-kucing liar. 

Kasus Scabies pada Love ini cukup riskan, karena kalau terlambat maka Scabies akan semakin parah menyerang jaringan kulitnya. Juga akan berakibat fatal apabila sampai kucing lain juga ikut tertular. 

Bukan perkara mudah menangkap Love untuk bisa masuk ke dalam kandang. Kami butuh waktu berbulan-bulan hingga akhirnya pada satu kesempatan, Love berhasil dimasukkan ke dalam kandang. Benar-benar perjuangan yang bagi orang lain mungkin terasa konyol. Tapi, bagi saya yang baru perdana berurusan soal per-kucing-an ini, ada kepuasan tersendiri. 

Dengan Mbak Icha juga akhirnya saya berhasil membawa Love ke Klinik. Usai dari Klinik, dan setelah beberapa hari dirumah, Love dirawat perlahan-lahan oleh Mbak Icha yang telah paham soal behaviour Kucing. Love sudah mulai jinak serta mau didekati oleh manusia, meskipun masih juga pasif. Tidak hanya itu, usai suntik Scabies, Vaksin dan Steril, Love bertambah gemuk dan juga sehat. Ada rasa lega saat mengetahui, bahwa ia telah sembuh, dan Scabies itu telah benar-benar pergi. 
*** 

Kesibukan dan rutinitas masing-masing yang sama padatnya membuatku jadi jarang bertemu dengan Mbak Icha. Hingga akhirnya dia menikah, dan pindah tempat tinggal. Mbak Icha membawa serta Love ikut dengannya ke hunian yang baru bersama beberapa kucing peliharaan yang lain. 

Waktu berlalu dengan cepat. Rasanya baru kemarin ini ia bermain-main di taman, ia pergi, ia kembali dengan Scabiesnya, dan lalu ia berhasil ditangkap untuk diobati. Kini, mendengar kabar terbaru Love, membuat perasaan menjadi sesak. 

Mbak Icha bercerita, beberapa hari Love di tempat tinggal yang baru, dia kabur – dan tak pernah kembali lagi. Berusaha dicari pun tidak ketemu. Love memang termasuk kucing pasif yang sulit untuk adaptasi. Hati ini rasanya sedih sekali saat mengetahui kabar Love yang saat ini entah dimana. Tidak ada yang mudah dari melepaskan dan kehilangan. Lebih takut lagi karena ia kembali ke habitat yang sama sekali asing untuknya setelah lama beradaptasi tinggal di lingkungan rumah.

Tapi setidaknya, Love mengajari banyak hal, terutama tentang melawan ketakutan. Kini saya sudah tidak takut lagi saat berdekatan dengan Kucing, apalagi saat street-feeding. Hanya saja masih belum benar-benar berani memegang atau menggendong kucing. Benar memang adanya, jika kita memiliki suatu ketakutan, jangan terus terkungkung dalam rasa itu, namun berusahalah masuk dan mencari tahu apa yang membuat takut, untuk perlahan-lahan menanggalkan si hantu-jahat, dan terlahir menjadi pribadi yang baru. 
***

Sampai saat saya bercerita, saya masih belum menyukai kucing. Namun saya menyayangi mereka sebagaimana saya menyayangi anjing-anjing di rumah. Juga kebiasaan baru saya adalah membawa dry-food kemanapun pergi, kalau-kalau bertemu kucing atau anjing terlantar agar tidak mengobrak-abrik tempat sampah, dan menjadi sasaran amuk manusia. Tentu, sikap itu masih kurang. Saya sedang berupaya untuk dapat membuat gerakan pro-steril bagi kucing-kucing liar yang hidup di lingkungan sekitar. Biar bagaimanapun kucing juga makhluk hidup yang memiliki jiwa, bisa merasa lapar, dan memiliki perasaan – sama seperti manusia. 

Hewan hanya tidak memiliki akal-budi, yang menjadi pembeda dengan manusia. Sekedar mengira-ira, kalau toh mereka memiliki akal-budi, mungkin mereka juga akan berpikir bagaimana mencari makanan sendiri tanpa perlu meminta kepada manusia, kan? Karena sebagai hewan mereka hanya memiliki animal instinct – yang mereka pikirkan adalah bagaimana agar perutnya tetap kenyang. Sedangkan manusia? Manusia memiliki akal-budi, yang dapat menjadi filter perilaku tentang apa yang pantas dan tidak pantas dilakukan, tentang apa yang seharusnya dilakukan dan seharusnya dihindari. Selain itu juga, seringkali manusia alpa tentang sesuatu yang seharunya wajib dipunyai, sikap welas-asih.

"Dear Love, semoga kamu baik-baik selalu di habitatmu yang baru ya.
Semoga tidak ada kucing jahat yang mengganggumu,
juga manusia yang jahil kepadamu.
Semoga kamu mampu bertahan sekuat-kuatnya.
Sampai bertemu di kehidupan selanjutnya..."

(Picture by : Pinterest)

Birthday Greeting

The Words

May 01, 2020

" Noli timere , tantummodo crede!"

nb.
yang kemudian diucapkan saat angka pandemi Covid-19 sedang tinggi-tingginya, serta pembatasan sosial dilakukan dengan ketat. Namun waktu terus berlalu, dan pertambahan usia tak lagi dapat ditunggu. Meski hanya dengan sederhana, semoga engkau menikmati hari ini. Sehat selalu dan semoga terus menjadi terang bagiku. Happy grow a day older, Maria.