Poem

Ritual

February 24, 2019

(Picture by : Freepic) 
"...you're my favourite morning, 
that someday I'll be missing..."


-
nb. "kau punya kata-kata ini, asik"

Episteme

Membaca Ritme Ular Tangga – Pahami Permainannya

February 16, 2019

Ilustrasi Ular Tangga
(Picture by : Flickr)
Semoga dapat angka 2 supaya langsung masuk finish…” ujarnya seraya mengocok dadu. Terlihat dari raut wajahnya yang usil sedikit cemas karena sepanjang permainan ular tangga, ia selalu saja terpeleset di angka yang sama, 98 – bukannya dapat 2 angka supaya sampai finish, tapi malah kembali turun lagi karena justru dapat angka yang berlebihan. Apes. Dan kali ini, ia belum beruntung. Padahal permainan sudah berjalan hampir satu jam lebih.

***

Siapa yang tak kenal dengan permainan ular tangga? Adalah permainan yang berasal dari India, dikenal dengan Vaikuntapaali. Mulanya, Vainkuntapaali hadir di India pada abad ke-13 untuk mengajarkan moralitas dan spiritualitas. Hal ini jelas tergambar pada papan permainan ular tangga yang menampilkan tangga dan ular. Saint Gyandev adalah orang dibalik munculnya Vainkuntapaali. Sebagai permainan ular tangga versi India, pada zaman dahulu juga memiliki makna yang erat dengan ajaran Hindu. Vainkuntapaali berkaitan dengan filosofi Jain, dalam keyakinan Hindu melingkupi karma dan kama atau takdir dan keinginan. Oleh karena itu permainan ini dulunya dimainkan anak-anak untuk mengajarkan beragam nilai kebajikan dalam kehidupan. Permainan yang tampaknya sederhana ini, nyatanya mampu menanamkan nilai-nilai kebersyukuran, empati, sikap optimis dan kesabaran. 



Di Benua Biru, permainan ini pertama kali resmi diperkenalkan di Inggris pada 1892 dengan nama Snake and Ladders. Makna-makna dalam setiap kotaknya pun berangsur juga digubah menurut nilai-nilai Victorian (Ratu Victoria 1837-1901). Berbeda lagi dengan di Amerika, di Negeri Paman Sam, permainan Ular Tangga tidak lagi identik dengan penggambaran ajaran Hindu, namun The American merubah permainan Ular Tangga dengan menggantinya menjadi perosotan dan tangga – yang dikenal dengan nama Chutes and Ladders. Meski simbolnya berubah, namun nilai-nilai filosofis tetap ada. Masih juga berkaitan dengan moralitas, dan dilambangkan dengan papan permainan yang terdapat 100 kotak dan masing-masing kotaknya punya makna tersendiri. Namun, bagaimanakah caranya?


***
The Ladders of Salvation, melambangkan tangga yang membawa pemain melejit ke atas. Sebuah simbol atas pencapaian yang baik, rejeki, kesenangan, hingga apapun yang di persepsikan secara umum sebagai perolehan baik. Pada kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk memahami makna bersyukur. Juga turut berbahagia ketika lawan bermain mendapatkan kebahagiaan, apresiasi, kerendahan hati namun juga tetap dengan sikap waspada. 

The Snakes of Destiny, merupakan saat dimana salah satu pemain merosot karena bertemu dengan sang ular. Cobalah sesekali perhatikan dinamika yang terjadi, apakah pemain yang lain menghibur, memberikan semangat atau justru sebaliknya? Berbahagia di atas penderitaan yang lain? Well, It just a game. Jadi, tidak ada salahnya memberi penhiburan sembari menyemangati lawan bermain juga sedang terkena jebakan ular ini. kesempatan ini juga dapat memberi penerapan nilai, bagaimana bersikap sabar namun tetap optimis saat menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan. Karena harapan selalu ada, dan masih ada banyak tangga lain yang menunggu setelahnya.

The Bacoker, seperti yang telah diketahui tentang peraturan bermain Ular Tangga secara umum, membacok berarti membuat salah satu pemain kembali ke titik awal (start). Ketika yang sudah ada yang menempati di satu posisi, dan lalu secara kebetulan ada yang menempati di posisi yang sama – maka yang pertama harus mengalah, mengulang kembali dari start. Menyakitkan, sih. Namun hal ini bukan bersifat sengaja karena jumlah langkah yang ada di dadu mengharuskan salah satu didepak ke titik awal. Fenomena ini paling menarik, karena adanya interaksi saling tikung dan terluka. Seni berdialektika-lah yang akhirnya dibutuhkan disini. Bagaimana tata krama si-pengambil-posisi dari tindakan dan ucapannya ke si-diambil-posisi. Dan bagaimana juga si-diambil-posisi merelakan posisinya dan berjuang lagi dari awal. Situasi seperti ini terasa mengharukan, manakala si-pengambil-posisi mengatakan “Aduh.. Kayaknya kamu mesti back to start, deh....” dan kemudian dibalas pasrah dengan si diambil posisi “Iyaa, aku ikhlas kok”. 

***
Dalam permainan Ular Tangga, konon ular lebih banyak dibanding tangga. Lalu apa artinya? Bahwa manusia lebih mudah ketika melakukan kejahatan atau keburukan ketimbang melakukan hal-hal yang baik. Maka dari itu dalam hidup selalu ada hal-hal negatif yang terkutuk. Selalu ada hasutan bagi manusia untuk melakukan keburukan, dan tergantung bagaimana kuatnya uman manusia agar tidak tergoda dan tetap berbuat kebaikan. 

Menurut Johan Huizinga - seorang sejarawan Belanda yang mendalami kajian khusus mengenai hakikat manusia dalam kehidupan. Pada dasarnya manusia adalah Homo Ludens (makhluk yang bermain) disamping Homo Faber (makhluk yang bekerja), Homo Sapiens (makhluk yang berpikir), dan Homo Economicus (makhluk mencari nafkah). Karena manusia juga membutuhkan permainan sebagai hal yang dapat menyalurkan hasrat mereka, hasrat untuk berekspresi, berinteraksi dan beraksi hingga menjadi pemenang.

Dengan bermain ular tangga, juga memberikan manfaat antaralain kemampuan dalam mengendalikan serta mengelola emosi. Tentu hal ini sangat baik bagi perkembangan Emotional Quantitation, khususnya bagi anak-anak dan remaja. Kecerdasan emosional dapat memampukan mereka sebagai manusia untuk dapat menerima, mengelola, menilai hingga mengontrol emosi diri sendiri saat berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Saat pemain mendapatkan cobaan berupa The Snake of Destiny, maka akan terlihat apakah dari segi emosi ia mampu untuk mengelola emosinya dengan baik, mampu tenang dan optimis, atau justru kesal, emosi, mengeluh hingga pesimis. Sebaliknya, saat pemain mendapatkan angina segar berupa The Ladders of Salvation dapat dilihat dari kerendahan hati si pemain, dengan tidak menunjukkan kebesarannya.

Karena seringkali ketika seseorang sedang berada di posisi puncak, maka sifat sombong akan cenderung muncul. Jangan salah, ular tangga juga dapat menumbuhkan watak pantang menyerah pada para pemain, untuk tetap optimis, selalu berusaha dalam mencapai impian.

Unpredictable, begitulah kekurangan dalam permainan ini. Karena langkah semata-mata hanyalah tergantung dari seberapa banyak angka di dadu. Dan juga hanya sedikit orang yang mampu berstrategi dalam melempar dadu untuk mendapatkan angka yang diinginkannya. Permainan ini seperti hidup yang begitu lucu, saat kau berharap banyak maka kau tak akan mendapatkan apapun. Sebaliknya, saat harapan itu telah kau pendam dalam-dalam, justru hidup memberikan kejutan yang menyenangkan.

***
Satu jam lebih sepuluh menit, waktu menunjukkan pukul 23.50. Dan lalu ia bersorak kegirangan, tanda menang. Setelah satu jam lebih, akhirnya muncul juga satu pemenang. Permainan masih belum berakhir, ia meminta lagi. Bukan untuk kembali menang, tapi ia ingin melihat saya juga melakukan selebrasi yang sama. “Mau request lagu apa nih?” tanyanya sembari menunggu saya mengocok dadu.

Sejam kemudian, saya berada di posisi 99 – sambil mengocok dadu kami saling menebak, “Dapat berapa kira-kira?”. “Satu, dong. Jangan dua” jawab saya. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan - saya teringat kata-kata Dewi Lestari dalam cerpen berjudul Mencari Herman. Lagi-lagi, dia hanya tesenyum simpul. Siapa yang menyangka, usai dikocok angka dadu yang keluar adalah satu. Dan kali ini keberuntungan berpihak. Kembali saya yang bersorak kegirangan. Dia bahagia, meskipun kantuk menyergap. Seperti itulah ritme Ular Tangga seharunya, saling memberi semangat – memberi kesempatan. Bukan malah menutup peluang, karena kebaikan selalu menemukan jalan.

***

We spent the late nights
Making things right, between us
But now It's all good baby
Roll that backwood baby
And play me close



(Maroon 5 - Girls Like You)

Poem

A Little Word for Valentine

February 14, 2019

A Girl walking between her loneliness
(Picture by : Pinterest)

some are loved easily

some aren’t 

even need an extra effort 
to be loved heartily 

because sometimes 
the kindest, not be the best 

but born to be unloved, 
not a choice at all 
but fate


(2019)

Life

More Than Eleven Minutes

February 09, 2019

Kemarin pagi usai hujan dan masih ada sisa sedikit kabut tipis, kami bercengkerama di beranda depan sembari masing-masing menyeruput segelas kopi. Bedanya punya saya kopi susu tanpa gula dan miliknya adalah kopi hitam dengan sedikit gula. Banyak sekali hal menarik yang menjadi topik pembicaraan kami, mulai dari pelajaran jaman sekolah dulu hingga keseruan saat membahas tentang pertandingan olahraga. Jika sudah asyik bercerita, seakan tidak pernah kehabisan topik. Saya akui, kawan saya yang satu ini adalah orang yang pandai bertutur. Ia memiliki aura yang dapat secara persuasif menarik lawan bicaranya menjadi tenggelam dalam kisah-kisah sederhananya namun dapat tergambar dengan indah. Selain Timnas Inggris dan Coldplay, fanatisme kami yang lain adalah tidak menyukai hitungan. Sebaliknya, kami pengamat dan pengeksplorasi yang baik, kami menyukai belajar bahasa baru, hal-hal yang berbau humaniora, sehingga beberapa obrolan menjadi tidak membosankan. Namun di antara banyaknya topik, yang menarik adalah tentang buku harian.

***

Awalnya saya yang memulai cerita kalau sedari kecil saya menyukai membeli buku harian, dan lalu seringkali dibawa kemana-mana lengkap dengan gembok mini (yang sebetulnya tidak ada fungsi, hahaha). Namun kebiasaan itu seiring menghilang semenjak saya menemukan bahwa buku harian yang sangat pribadi itu dibaca oleh orang-orang terdekat saya dan kemudian malah meledek apa yang menjadi pergumulan saya kala itu. Sejak saat itu saya berhenti menulis, secara rutin.

Memang dasarnya suka menulis, jeda untuk tidak menulis pun tak berlangsung lama. Peralihan dari sekolah dasar menuju SMP, saya kembali menulis. Kali ini karena sudah mempunyai kamar sendiri, saya lebih leluasa karena bisa menjaga privasi. Lucunya saya selalu merasa kalau tulisan dalam buku harian itu tidak cukup baik dan seringkali melankolis. Sehingga saya membuat ritual di setiap pergantian tahun untuk mem-bubur-kertaskan buku-buku harian itu untuk dibuat menjadi sebuah karya seni yang lain. Aneh, ya?

***

Berbeda dengan kawan saya. Dia tetap rutin menulis, tanpa jeda. Beberapa tulisan sejak pertama menulis di bangku sekolah pun masih ada yang disimpan. Katanya, dengan menulis membantu dia untuk mengungkapkan apa yang tidak bisa diucapkan. Saya masih heran, karena kalau memang benar begitu, semakin abstrak-lah tebakan saya selama ini. Kembali saya meyakinkan “Sampai sekarang? Masih?”, “Ya.” Jawabnya singkat. Sebetulnya apa yang kawan saya lakukan ini ada benarnya. Dengan menulis, segala bentuk emosi yang tak terungkapkan melalui tindakan maupun ucapan bisa tersalurkan dengan baik. Sekalipun tidak total karena belum tentu si objek paham apa yang menjadi keinginan si subjek. Gimana mau paham, sampai aja enggak. Kan bukan cenayang. Dengan menyimpan tulisan di masa lalu, juga bisa menjadi peta sekaligus pengingat tentang transformasi diri sendiri dan perubahan-perubahan apa saja yang terjadi.


(Picture by : WeHeartIt)
Percakapan tentang Buku Harian di pagi hari itu lantas mengingatkan saya dengan salah satu novel karya Paulo Coelho yang berjudul Eleven Minutes. Forget those erotic chapter, because I always remember is what Maria did. Dalam kisahnya di Eleven Minutes, sosok Maria yang menjadi tokoh utama senantiasa menulis buku harian di setiap akhir bab buku tersebut (sudut pandang orang ketiga, namun bagian saat menulis buku harian menjadi sudut pandang orang pertama). Menariknya lagi, apa yang dituliskan Maria terkesan reflektif dari hari ke hari. Bahkan tokoh Maria (di bab terakhir) pada akhirnya menyadari kalau dirinya semakin bijak dibandingkan saat kali pertama menulis buku harian. Kami sepakat untuk sama-sama menyukai bagian pada konsep buku harian dalam Eleven Minutes tersebut.

***

Selama ini ada dua buku best-seller yang pernah saya baca menggunakan angka sebelas. Yang pertama Critical Eleven karya Ika Natassa dan yang kedua adalah Eleven Minutes karya Paulo Coelho. Jika dalam Critical Eleven, Ika Natassa menceritakan tentang waktu krusial dalam penerbangan adalah tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing. Berbeda dengan Eleven Minutes, Paulo bercerita tentang bagaimana sebelas menit (tanpa ada pemisahan waktu) dapat meleburkan raga dan rasa antara laki-laki dan perempuan. Tentang bagaimana sebelas menit seakan-akan menjadi abadi, dan bagaimana sebelas menit mampu merubah Maria yang tak percaya dengan cinta menjadikannya mampu untuk berserah seutuhnya.

***

Gerimis kembali datang dan kopi mulai dingin, namun belum juga habis. Seperti terbuai dengan waktu dan zona nyaman, menikmati kopi di kala cuaca dingin memang menyenangkan. Rasa asam lebih dominan dibandingkan pahit yang tersisa di bagian akhir kopi seakan memiliki sensasi yang nikmat. Kisah tak lagi diteruskan. Sementara berusaha menguraikan benang-benang kusut yang bersarang dalam benak.


(Picture by : Pinterest)
Rasa-rasanya kami kembali mulai sibuk dengan pikiran masing-masing.
Rasa-rasanya sebelas menit tak akan pernah cukup untuk kami bertukar kisah.
Rasa-rasanya ....... (kadangkala baik untuk tak perlu merasakan apa yang semestinya tak perlu dirasa, bukan?)

YNWA

Sebuah Perayaan

February 09, 2019

(Picture by : DailyPost)

On the edge of the field looking you from the distance, you sweat but still sweet, and secretly I sang by the whispered.....

"Look at the stars,
Look how they shine for you,
And all the things that you do..."


....... precisely when your goal made the supporter scream so loud


Cerita Lagu

Tentang Jatuh Hati

February 07, 2019


ada ruang hatiku yang kau temukan
sempat aku lupakan kini kau sentuh
aku bukan jatuh cinta,
namun aku jatuh hati

Konsep dituangkan dalam lagu Jatuh Hati yang ditulis dan dinyanyikan oleh Raisa populer sekitar tahun 2016 dan tidak butuh waktu lama untuk membuat orang-orang juga menjadi jatuh hati terhadap lagu ini, saya termasuk di dalamnya. Selain piawai memikat dengan kecantikan alami yang dimiliki, Raisa juga membuktikan kalau ia tidak hanya bisa menyanyi dan aji mumpung, namun juga turut serta dalam proses kreatif pembuatan lagu, yang kali ini menjadi bagian dari album Handmade. Dalam tour albumnya Raisa pernah menjelaskan perbedaan antara Jatuh Hati dan Jatuh Cinta, dan saya sepaham. 

***

Kata-kata dalam lagu Jatuh Hati, sedikit banyak kembali mengingatkan pada si pemilik mata tajam. Menatapnya lekat-lekat seakan membawa asa ini kepada samudera luas penuh tanya. Kedalaman pikirannya, masih saja membuat kejutan atas ide-ide hingga laku hidup yang seringkali tak biasa. Seringkali terasa tidak menyenangkan, namun ternyata selalu membuat ingin kembali dan kembali menemukan labirin menuju kedalaman pikirannya. Diri ini masih juga menjadi penikmat atas setiap tuturan yang berdasar dari spontanitas pikiran, yang pada akhirnya berlabuh pada kekaguman yang dalam.

ku terpikat pada tuturmu
aku tersihir jiwamu

Salahkan semesta mengatur pertemuan yang tidak disengaja? Waktu seperti ingin mempermainkan seberapa dalam rasa dapat melebur. Bagai menemukan pensil warna di saat hari-hari hanya berupa tabula rasa. Lama juga berdiam dalam keabu-abuan, hingga lupa bahwa sesungguhnya hidup masih menyimpan banyak warna. Saat kehadirannya menyapa, mengajari untuk menikmati setiap alur kehidupan, perlahan-lahan tapi pasti, menikmati segala sisi yang mengendap dalam diri, mengolah rasa dengan sepenuh hati, dalam pikiran sendiri.

terkagum pada pandangmu
caramu melihat dunia

Tentu, ia masih manusia, bukan penyihir yang mampu merubah banyak hal dengan kekuatan magisnya. Itulah sebabnya acapkali masih berbuat kesalahan. Namun ia sanggup membuat diri ini menikmati hal-hal sederhana, sesederhana genggaman tangan pertanda aman, sesederhana melihat senja di peraduan. Sampai-sampai ada makna yang berubah tentang senja. Karena senja bukanlah perpisahan, bukan juga ucapan selamat tinggal yang patut ditangisi. Namun senja kini berubah makna menjadi, sampai jumpa esok hari, dengan sesuatu yang baru lagi. Iya, senja bukan lagi tentang elegi.

kuharap kau tahu bahwa ku
terinspirasi hatimu

Dan lalu, rasa nyaman lambat laun menjadi candu. Tanpa sadar lidah ini seringkali dengan candang membicarakannya dengan Tuhan. Di setiap waktu, bahkan dalam doa-doa di sisa malam. Karena hanya kepadaNya, diri ini mampu berterus-terang. Menitipkan banyak harapan, walaupun tahu bahwa terkadang asa itu sia-sia. Juga, tak selalu dirinya menjadi alasan untuk tersenyum hingga pecahnya tawa. Seringkali pula ada luka yang digoreskan tanpa sadar. Tanda ia masih manusia, manusiawi pernah membuat dosa. Kadang-kadang Tuhan itu lucu, IA mendekatkan kita dengan orang-orang yang berada dalam satu frekuensi. Didekatkan, bukan disatukan. Banyak persamaan, sekalipun tidak keseluruhan. Hingga pemahaman ini menyimpulkan, bersamanya memiliki apa yang dibutuhkan, bukan diinginkan. Sebab diri ini hanya butuh dilengkapi, dan ia mampu melengkapi tanpa memiliki.

ku tak harus memilikimu
tapi bolehkah ku selalu didekatmu

Jatuh cinta tidak pernah sedalam dan seikhlas itu. Ia posesif, ingin memiliki, ingin menguasai. Ada pembatasan setelahnya. Jarang sekali terjadi kesetaraan. Namun jatuh hati rasa-rasanya lebih menjiwai. Lalu muncul penyesalan, bahwa rasa kadang-kadang tak sanggup dikontrol. Karena rasa itu telah sampai pada sebuah titik, rasa ketika sudah jatuh hati. Pada cara pandangnya, cara menikmati dunia. Jika memiliki bukan lagi keinginan, bisakah hal itu dibuat lebih sederhana? Sesederhana intensitas untuk berada didekatnya, menikmati segala kejutan lain dalam hidup, yang mungkin Tuhan sediakan.

katanya cinta memang banyak bentuknya
yang kutahu pasti, sungguh aku jatuh hati

Dan kenyataannya ia hanya mampu di genggam dalam doa. Tidak nampak, namun terasa abadi. Seiring dengan banyaknya afeksi yang tercurah padanya, jelas-jelas diri ini berada semakin jauh dari circle. Sosok yang semakin tak sanggup untuk digapai. Karena bersamanya telah membuat sukma ini menjadi lebih hidup, menjadi mampu menikmati kehidupan, juga mampu menemukan jawaban atas segala pertanyaan klise yang muncul dalam keseharian.

***

Karena jatuh hati bukan tentang yang kelihatan, tapi tentang kedalaman.
Karena kau adalah ketidakmungkinan yang selalu disemogakan.