More Than Eleven Minutes
February 09, 2019
Kemarin pagi usai hujan dan masih ada sisa sedikit kabut tipis, kami bercengkerama di beranda depan sembari masing-masing menyeruput segelas kopi. Bedanya punya saya kopi susu tanpa gula dan miliknya adalah kopi hitam dengan sedikit gula. Banyak sekali hal menarik yang menjadi topik pembicaraan kami, mulai dari pelajaran jaman sekolah dulu hingga keseruan saat membahas tentang pertandingan olahraga. Jika sudah asyik bercerita, seakan tidak pernah kehabisan topik. Saya akui, kawan saya yang satu ini adalah orang yang pandai bertutur. Ia memiliki aura yang dapat secara persuasif menarik lawan bicaranya menjadi tenggelam dalam kisah-kisah sederhananya namun dapat tergambar dengan indah. Selain Timnas Inggris dan Coldplay, fanatisme kami yang lain adalah tidak menyukai hitungan. Sebaliknya, kami pengamat dan pengeksplorasi yang baik, kami menyukai belajar bahasa baru, hal-hal yang berbau humaniora, sehingga beberapa obrolan menjadi tidak membosankan. Namun di antara banyaknya topik, yang menarik adalah tentang buku harian.
***
Awalnya saya yang memulai cerita kalau sedari kecil saya menyukai membeli buku harian, dan lalu seringkali dibawa kemana-mana lengkap dengan gembok mini (yang sebetulnya tidak ada fungsi, hahaha). Namun kebiasaan itu seiring menghilang semenjak saya menemukan bahwa buku harian yang sangat pribadi itu dibaca oleh orang-orang terdekat saya dan kemudian malah meledek apa yang menjadi pergumulan saya kala itu. Sejak saat itu saya berhenti menulis, secara rutin.
Memang dasarnya suka menulis, jeda untuk tidak menulis pun tak berlangsung lama. Peralihan dari sekolah dasar menuju SMP, saya kembali menulis. Kali ini karena sudah mempunyai kamar sendiri, saya lebih leluasa karena bisa menjaga privasi. Lucunya saya selalu merasa kalau tulisan dalam buku harian itu tidak cukup baik dan seringkali melankolis. Sehingga saya membuat ritual di setiap pergantian tahun untuk mem-bubur-kertaskan buku-buku harian itu untuk dibuat menjadi sebuah karya seni yang lain. Aneh, ya?
***
Berbeda dengan kawan saya. Dia tetap rutin menulis, tanpa jeda. Beberapa tulisan sejak pertama menulis di bangku sekolah pun masih ada yang disimpan. Katanya, dengan menulis membantu dia untuk mengungkapkan apa yang tidak bisa diucapkan. Saya masih heran, karena kalau memang benar begitu, semakin abstrak-lah tebakan saya selama ini. Kembali saya meyakinkan “Sampai sekarang? Masih?”, “Ya.” Jawabnya singkat. Sebetulnya apa yang kawan saya lakukan ini ada benarnya. Dengan menulis, segala bentuk emosi yang tak terungkapkan melalui tindakan maupun ucapan bisa tersalurkan dengan baik. Sekalipun tidak total karena belum tentu si objek paham apa yang menjadi keinginan si subjek. Gimana mau paham, sampai aja enggak. Kan bukan cenayang. Dengan menyimpan tulisan di masa lalu, juga bisa menjadi peta sekaligus pengingat tentang transformasi diri sendiri dan perubahan-perubahan apa saja yang terjadi.
Percakapan tentang Buku Harian di pagi hari itu lantas mengingatkan saya dengan salah satu novel karya Paulo Coelho yang berjudul Eleven Minutes. Forget those erotic chapter, because I always remember is what Maria did. Dalam kisahnya di Eleven Minutes, sosok Maria yang menjadi tokoh utama senantiasa menulis buku harian di setiap akhir bab buku tersebut (sudut pandang orang ketiga, namun bagian saat menulis buku harian menjadi sudut pandang orang pertama). Menariknya lagi, apa yang dituliskan Maria terkesan reflektif dari hari ke hari. Bahkan tokoh Maria (di bab terakhir) pada akhirnya menyadari kalau dirinya semakin bijak dibandingkan saat kali pertama menulis buku harian. Kami sepakat untuk sama-sama menyukai bagian pada konsep buku harian dalam Eleven Minutes tersebut.
***
Selama ini ada dua buku best-seller yang pernah saya baca menggunakan angka sebelas. Yang pertama Critical Eleven karya Ika Natassa dan yang kedua adalah Eleven Minutes karya Paulo Coelho. Jika dalam Critical Eleven, Ika Natassa menceritakan tentang waktu krusial dalam penerbangan adalah tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing. Berbeda dengan Eleven Minutes, Paulo bercerita tentang bagaimana sebelas menit (tanpa ada pemisahan waktu) dapat meleburkan raga dan rasa antara laki-laki dan perempuan. Tentang bagaimana sebelas menit seakan-akan menjadi abadi, dan bagaimana sebelas menit mampu merubah Maria yang tak percaya dengan cinta menjadikannya mampu untuk berserah seutuhnya.
***
Gerimis kembali datang dan kopi mulai dingin, namun belum juga habis. Seperti terbuai dengan waktu dan zona nyaman, menikmati kopi di kala cuaca dingin memang menyenangkan. Rasa asam lebih dominan dibandingkan pahit yang tersisa di bagian akhir kopi seakan memiliki sensasi yang nikmat. Kisah tak lagi diteruskan. Sementara berusaha menguraikan benang-benang kusut yang bersarang dalam benak.
Rasa-rasanya kami kembali mulai sibuk dengan pikiran masing-masing.
Rasa-rasanya sebelas menit tak akan pernah cukup untuk kami bertukar kisah.
Rasa-rasanya ....... (kadangkala baik untuk tak perlu merasakan apa yang semestinya tak perlu dirasa, bukan?)



0 comments