Nosce Te Ipsum
Lucia. Katanya aku lahir saat hujan deras, tepat di hari perayaan St. Lucia. Mungkin itu juga alasan kenapa aku mudah merasai elegi dan enggan berada dalam kegelapan.
Yerinta. Tapi akrab dengan panggilan Yeri. Sampai menjelang pertengahan remaja banyak yang mengira sosok ini adalah lelaki saat belum bertemu dan lalu terkecoh ketika sudah bertatap muka. Yang terdengar seringkali berbeda. Tapi rupa-rupanya, meskipun terlahir sebagai perempuan, sisi maskulin masih juga dominan. Kemudian mulai dipanggil dengan lengkap, Yerinta – menjelang dewasa. Banyak juga yang bilang terdengar lebih hangat, dan lebih perempuan. Dulunya saat penuh cinta, nama ini diambil dari separuh dari Ayah dan dari Ibu. Dan lalu, kaki ini menjadi pendek, karena saat mereka merenggang, hanya diri ini yang bisa kembali merekatkan.
Destishinta. Tadinya berarti Desember Tiga-Belas, supaya selalu ingat ketika menyapa dunia kali pertama saat hari ke-tigabelas di bulan ke-duabelas. Namun semakin beranjak dewasa, akhirnya mereka paham, kalau akronim itu lebih dekat dengan kata Destination – tempat tujuan akhir. Lekat dengan eksplorasi dan petualangan. Terbukti semakin bertumbuh, semakin suka mencari tempat tujuan baru. Bisa juga diartikan sebagai tujuan aku dilahirkan, bahwa semesta mentakdirkan sesuatu ada tujuannya.
Bahasa Latin yang bertalian dengan Filsafat, nampaknya jadi alasan kenapa akhirnya aku memutuskan untuk mempelajari Ilmu Filsafat di Universitas Gadjah Mada, dan tidak pernah jemu pada pengetahuan setelahnya. Antusias dengan sejarah dan heritage. Suka sekali jalan-jalan, memotret, sesekali memperhatikan manusia. Bahagia saat menyesap kopi dan membaca buku setiap hari. Sering tenggelam dalam nuansa vintage dan klasik. Olahraga dan bermain dengan anjing adalah ritual yang tidak boleh alpa. Punya mimpi suatu hari nanti, tidak ada lagi hewan terlantar dan disakiti. Karena mereka ada, bernyawa, berjiwa – sama seperti kita.
I’m not beautiful queen, or genius scientist. But I’ve a wide heart, for I share. Whenever, forever. Sometimes I feel, I was born to be left. But, As I growing older, and the old experiences build some sceptical things inside mind. When human just do good because they need, not want, nothing to loose. A thin boundary, something in between, as generally. It’s too bad. (delucius - 2019)
e | hello.timeaftertime@gmail.com
