Magnum Opus

Setelah berselang kurang lebih tujuh tahun, akhirnya berani mengakui bahwa saya pernah menulis buku. Sebuah perayaan monumental ketika memasuki usia ke-17, tahap remaja pertengahan. Jika kebanyakan remaja berusia 17 tahun menyambut awal kedewasaan dengan sweet-seventeen party, hal ini akan berbeda jauh dengan apa yang saya lakukan. Selain karena kondisi dan kesempatan yang tidak memungkinkan, saya tidak ingin merayakan dalam euforia yang sementara. Sesekali saya juga ingin membuat sesuatu yang baru, yang bisa diingat, bisa disimpan, bisa digenggam. Sebuah buku.
Semangat yang berapi-api ketika menulis dan menyelesaikannya, ternyata tidak dibarengi dengan apresiasi terhadap diri sendiri setelah membaca kembali dan menyadari bahwa jiwa dan pikiran ini tumbuh dengan begitu cepat, kemudian menganggap, tulisan ini kenapa begitu. Padahal begitu-begitu juga itu karya seni, dan layaknya di apresiasi. Dan di usia itu, menulis dengan konten yang reflektif, rasa-rasanya seperti bukan berada pada tataran usianya. Si 'anak pertama' ini, mungkin kurang saya akui meskipun banyak yang memberi apresiasi. Entah itu pujian atau hanya kasihan, tapi baiklah itu menjadi cambuk semangat bahwa di usia yang semakin matang akan melahirkan karya-karya yang baru lagi.


Terimakasih untuk foto bukunya, juga apresiasi dan kejahilannya. Ini berarti. Dan tentu aku sangat suka 😊
Selamat menikmati!