Doa

Keajaiban Kecil

August 20, 2022

"Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban, untuk semuanya bertemu yang dibutuhkan cuma waktu" — Partikel (Supernova Series)


Lalu muncul sebuah pertanyaan tentang bagaimana dan mengapa yang mulai terjawab satu-persatu. Tabir yang tertutup selama sewindu mulai terbuka perlahan-lahan. Serpihan memori menguap melalui kisah yang perlahan tertuang ke langit. Mata hati telah melihat dengan sungguh-sungguh betapa kelamnya malam namun gemerlap lampu kian kerlap di pusat kota.

Aku pesimis tentang masa depan, aku tidak pernah berharap banyak lagi pada suatu hubungan, apalagi pernikahan”, ujarku membuatnya ternganga, Realistis, pragmatis sekaligus melankolis. Namun itulah kenyataannya.

Kami berkisah tentang banyak hal, apa yang menjadi mimpi, apa yang telah terjadi pada kami masing-masing di sela sewindu tanpa jeda, juga tanpa sua.

Petang itu adalah kali kesekian kami kembali bertemu. Usai satu sore ia datang setelah 8 tahun yang lalu, dan kisah-kisah elegi yang ditukarkan serta sepotong permintaan maaf yang bahkan aku tak tahu-menahu untuk apa. Maaf untuk segalanya yang telah terlewat, pintanya.

Sebagian ingatan menjadi usang seiring berjalannya waktu. Untuk beberapa saat aku mengizinkan diriku untuk memeluk diri sendiri sampai tiba saatnya kembali lega.

Ada pergumulan dan ada luka yang terobati. Ada perdamaian dan ada kehangatan yang menyelimuti hati. Manusia memiliki kemampuan untuk bergerak, dan ia juga berhak memiliki kekuatan untuk bangkit. Meski masih sulit rasanya, untuk menjadi ikhlas atas peristiwa lalu yang telah terjadi.

Perjuangan ini baru dimulai. Setiap prosesnya mengijinkan untuk bertumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang kita yakini. Namun, sesuatu hal yang dimulai dengan setulus jiwa, dan sepenuh hati, membawa kita kepada kepuasan hakiki bahwa apa yang sedang kita persiapkan, (semoga) tidak pernah sia-sia.

Tatapnya dalam, persis seperti awal kami bertemu di bawah tangga kampus. Perubahan yang tampak nyata adalah emosinya semakin teratur, namun kasihnya masih tetap sama. Dalam hati kini, kembali mengamini bahwa semoga kalimat yang terucap sebelum percakapan yang dalam tadi, dipatahkan oleh semesta.

nb.
Sebagai penanda : untukmu, si keajaiban kecil. Terima kasih telah mematahkan kesedihan dan menumbuhkan harapan baru. Semoga luka menjadi padam, dan perjalanan tak lagi kelam. Mari merajut kisah baru, bertumbuh dengan waktu, berkembang tanpa jemu.