Cerita Lagu

Menikmati Adu Rayu - yang Tak Sekedar Lagu

March 27, 2019





Baru saja menapaki Yogyakarta, sekembali saya dari tanah leluhur – seketika ada WhatsApp masuk dari seorang kawan yang mengirimkan satu link dari sebuah lagu kolaborasi dari Tulus, Glenn dan Yovie berjudul Adu Rayu, versi movie-clipnya. Belum sempat saya membuka, lalu pesan muncul dibawahnya lagi. Kamu pasti suka. Karena ceritanya kamu banget! Baru sempat membuka di bagian awal, dan lalu dalam hati saya terheran-heran. Penilaian kamu-banget versi kawan saya itu yang seperti apa? Yang kerja di tengah hutan, yang moody-an, atau yang gimana? Ahh daripada berspekulasi, sembari menunggu bagasi keluar saya teruskan nonton movie-clip ini, dan tak menghiraukan pesan lanjutan darinya.

Usai menontonnya secara tuntas, saya lantas membalas pesannya – masih dengan WhatsApp, karena belum bertemu secara langsung. Ini heboh banget kenapa sih? Ucapan saya kali pertama membalas pesannya, dan langsung dijawab dengan cercaan macam-macam. Ternyata oh ternyata, visualisasi dalam Adu Rayu ini tak sekedar clip lagu pada umumnya, namun justru mirip seperti mini-movie clip. Kualitasnya sudah setara dengan film pendek. Dan pemerannya? Tentu saja yang dipilih juga telah menjadi bintang layar lebar dengan jam terbang yang tinggi. Kini saya tahu kenapa kawan saya ini sangat antusias menunjukkan segera kepada saya.

***

Diawali dengan dialog Asti (Velove Vexia) dan Indra (Chicco Jerico) di awal (saat long intro), Asti harus pergi saat perayaan anniversary mereka karena urusan pekerjaan, ditentang keras oleh Indra yang menganggap Asti sudah tidak peduli dengan hubungan mereka. Movie-clip Adu Rayu menyajikan alur cerita yang melibatkan dilemma Asti saat mulai bertemu dengan Nico (Nicholas Saputra) ditengah konflik hubungan asmara dengan pasangannya, Indra. Ohh, tentu sangatlah jelas jika Asti menjadi goyah si orang ketiga tersebut adalah pria dengan tatapan matanya tajam menusuk namun mendinginkan hati. Belum lagi sosoknya yang tenang dan pandai memahami Asti tanpa banyak menuntut. Bahasa pertengkaran yang kerap terjadi antara Asti-Indra dan bahasa-bahasa tubuh yang diperlihatkan Asti-Nico dalam movie-clip bercerita tanpa banyak kata, seakan menghidupkan visualisasi dari audio Adu Rayu.

Setelah lagu mulai berjalan hingga kembali mengulang prelude, di menit 3.30 terlihat pertemuan Asti dan Nico yang terjadi di tengah jembatan gantung dan bersalaman. Disadari atau tidak, kultur orang-orang yang terbiasa bekerja di lapangan – entah di tengah hutan, atau dimanapun, pasti bersalaman. Seperti sudah menjadi kebiasaan. Saya memahami kultur ini karena ada seorang kawan yang bekerja di Taman Nasional, ia bercerita demikian. Dan saya pun kerap mengalami ketika beberapa kali mengambil data di lapangan untuk keperluan riset. Kebiasaan-kebiasaan kecil, namun tak luput menjadi detail dalam pembuatan movie-clip Adu Rayu ini, juga patut diacungi jempol bagi tim riset dibalik pembuatannya. Dalam movie-clip, ketika sedang memasang kamera trap dan mengolah data dengan latar tempat dan petunjuk; nampaknya Nico menjadi rimbawan di Tangkahan Ecotourism, yang masuk dalam wilayah Taman Nasional Gunung Leuser di Sumatera Utara, tempat penangkaran Gajah Sumatera.

Seakan dapat membaca peluang pasar, Glenn – Tulus – serta Yovie menyuguhkan lagu cinta dengan tema yang dekat dengan anak muda, oleh karenanya perkenalan lagunya pun haruslah istimewa. Dipopulerkan lewat kanal youtube dengan sajian yang pas, tidak hanya bermain dengan lirik namun juga visual yang menyentuh dengan dalam. Jauh berbeda dengan klip-klip lagu jaman saya masih SD dulu. Maka tak salah, jika ada yang menyebut ini sebagai movie-clip karena memang dibuat seperti film lengkap dengan dialognya, seolah ingin menawarkan hal baru di industri musik.

Saya perlu akui, alur dalam movie-clip Adu Rayu juga sukses bikin para perempuan berimajinasi merasa hidup seperti dalam movie-clip. Tepatnya merasa seperti Asti yang terjebak dalam kemelut cinta memilih Indra atau Nico. Kisah drama bisa dibilang berhasil jika meninggalkan dampak emosional dalam kehidupan audiens. Ketika audiens melihat, dan menghayati sungguh-sungguh – sesuatu yang dilihat, lantas di akhir merasa : astaga ini aku banget - seolah-olah yang terjadi di dalam layar tersebut dibuat unutk menyentil diri sendiri saja. Haha, padahal kan kita-kita ini para audiens bukan siapa-siapa.

Dan pastinya, audiens melupakan satu hal. Bukan hanya satu atau dua orang saja yang merasakan apa yang terjadi dalam movie-clip itu. Ada banyak sekali orang-orang di luar sana yang juga perasaannya terwakilkan dalam lagu ini (jadi kita-kita ini gak usah ngerasa sok istimewa dulu lah, ya). Kok bisa? Ya karena konseptor dalam movie-clip ini pastinya sudah lebih dini melakukan riset, dan akan menjadi percuma kan kalau ternyata garapannya; yang sudah susah-susah dibikin hanya berdampak pada beberapa orang saja. Lantaran sudah riset itu, sehingga banyak orang yang sudah melihat movie-clip Adu Rayu merasa terhubung, ikut merasakan sisi emosional yang tergambar dalam movie-clip tersebut dan as you know, baper beneran deh.

Mungkin sebaiknya kita-kita ini juga menyadari, bahwa ada kehidupan yang sebenarnya tidak seindah cerita yang dibikin sutradara movie-clip Adu Rayu. Karena Sang Sutradara manusia – Tuhan – pada kenyataannya telah membuat kisah yang lebih kompleks dengan segala teka-teki-Nya. Dalam kisah di movie-clip misal, ada hal-hal yang memang dengan sengaja dilebih-lebihkan untuk memunculkan efek lebih dramatis dibandingkan realitasnya. Toh kehidupan tidak semudah itu kan, Ferguso. Kecuali kau memang dilahirkan untuk senantiasa beruntung hingga ajal menjemput, ya. Meski lagi-lagi, tidak sedikit pula situasi dan kondisi yang terjadi di movie-clip, terasa begitu nyata seolah ada dalam kehidupan kita, walau hanya sekian detik.

Saya teringat kata-kata Sudjiwo Tejo, “Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa, tapi tidak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa”. Asti dan Nico, adalah dua insan yang dipertemukan dengan tidak sengaja melalui sebuah tugas instansinya masing-masing. Asti dengan cincin yang telah melingkar di jari manis, tidak berencana untuk jatuh cinta dengan Nico. Namun seiring berjalannya tugas mereka, keseharian bertemu, kewajiban Nico mendampingi Asti untuk menjamin tidak terjadi apa-apa dengannya saat berada didalam rimba. Rupanya apa yang dilakukan oleh Nico, tidak hanya semata melindungi – namun juga turut memekarkan bunga-bunga cinta dalam pertahanan diri Asti. Terlebih dirinya sedang menghadapi kemelut dengan Indra. Sama halnya saat emosi kita ikut terbawa sampai ngilu-ngilu sendiri melihat konflik yang tergambar dalam movie-clip Adu Rayu, yang berarti cukup sukses memberikan efek dramatis meski hanya dalam durasi 5 menit 57 detik.

Lantas, jika sebuah cerita dalam movie-clip yang dilihat berhasil membuat kita terbawa dengan suasananya, atau istilah kekiniannya baper – bahkan hingga berimajinasi kalau-kalau diri ini adalah tokoh dalam cerita tersebut, maka teori disposisi dapat menjelaskan hal yang lain. Pasalnya, teori disposisi sendiri, memberikan penjelasan tentang kekuatan karakter dalam cerita tesebut, yang kemudian akan mempengaruhi respon emosional dari penonton.

Kemudian mulai lagi, jiwa berandai-andai manusia yang kembali membayangkan, apa yang bakal kita lakukan untuk menghadapi kegalauan tersebut – seandainya menjadi sosok Asti, Indra atau Nico. Lebih jauh lagi, siapa yang nantinya bakal menjadi pilihan. Padahal nih ya, kalau saja pikiran kita-kita sebagai para penonton – yang bukan siapa-siapa ini – kembali ke dunia nyata, kalau saja kaki kita bersedia menginjak bumi lagi, kita ini siapa sih? Kok merasa harus memilih dan merasa menjadi sosok yang dicintai oleh mereka-mereka yang sebenarnya adalah people we can’t have?

Nggak usah deh dilihat-lihat lagi, dari lirik dan visualisasi awal memang terlihat jelas kalau movie-clip ini memang bikin baper, tentang bagaimana riuhnya pikiran-pikiran Asti yang mempertimbangkan Indra atau Nico. Disisi lain juga, Nico dengan tatapan khasnya yang tajam, pembawaannya yang cool dan juga tanpa banyak bicara – masih juga tak mampu menyembunyikan riuh pikirannya. Saya sih mencoba memahami, dalam kisah ini Nico yang seorang rimbawan sedang melakukan Adu Rayu dengan Indra – yang jelas-jelas tunangan Asti, terlebih mereka tinggal sekota. Kemudahan akses Indra, semakin mudah membuat Nico meragu dan merasa pesimis. Bagaimana tidak, bertugas di tengah rimba, yang kalau ingin berkirim kabar saja harus pindah-pindah tempat mencari sinyal, atau bahkan harus ke desa terdekat. Kalau sedang tidak dalam tugas, bisa menghubungi sedikit agak lama atau curi-curi waktu barang sebentar ke kota. 

Ending divisualisasikan dengan adanya harapan. Barangkali, Nico juga sesekali berharap – Asti kembali bertugas lagi ke Tangkahan Ecotourism, entah mengambil data atau mengerjakan yang lain. Agar mereka kembali bertemu. Selain terus berpegang pada harapan, jika ragu dan pesimistis tak lagi bisa dibendung dan juga tak sanggup melakukan apapun, cara terakhir berdoalah.

***

Mungkin akan lain ceritanya kalau si orang ketiga itu,
tidak se-cool dan setampan Nicholas Saputra.
Mungkin akan lain ceritanya kalau si orang ketiga itu,
tidak se-asyik dia yang pandai untuk bercerita Sejarah dan Bahasa.
Mungkin sesekali kita tak ingin mengikuti lelucon-Nya,
karena IA sang empunya takdir, dan manusia bisa apa.

Life

The Girl and Her Vanilla Twilight

March 27, 2019




Picture by : Doc Pribadi



Beberapa hari yang lalu, saat menaiki anak tangga di Perpustakaan Pusat Kampus, saya bertemu dengan salah satu senior sewaktu kuliah dulu. Rencana awal saya yang ingin ke ruang arsip, kemudian menjadi tertunda. Sengaja ditunda sih, lebih tepatnya, Karena tidak juga terlalu urgen, juga tidak diburu waktu. Kami berbicara sebentar sebelum kaki kami melangkah ke kafetaria. Ada beberapa hal yang ingin diceritakan kepada saya. Dan karena kami memang sudah lama tidak bertemu, jadilah saya sengaja menyisihkan waktu sekedar mendengar sisipan kisah-kisah menarik yang biasa dia ceritakan. Cukup banyak ragam kisah yang kami bagikan saat itu. Dan seperti biasanya ritual pagi, saya memesan segelas Cappucino tanpa gula sementara dia memilih Orange Juice. Dari banyaknya cerita yang ia tuturkan, saya tertarik dengan salah satu kisahnya tentang sosok si Vanilla Twilight.

Di suatu sore yang cukup cerah di musim penghujan, dia mendapat tawaran untuk jogging. Melakukan olahraga saat sore hari memang kegemarannya. Agak lama berpikir untuk meng-iya-kan, sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk mengambil tawaran itu. Alasan pertama, karena dia sudah lama tidak melihat langit cerah di sore menjelang senja. Dan alasan kedua, tentu saja – karena yang mengajak adalah orang yang spesial baginya. Seseorang yang berhasil membuat ia melafalkan nama si lelaki berkali-kali. Seseorang yang berhasil mengukir senyum di wajahnya. Seseorang yang selalu membuat sendu menjadi semakin rindu. Seseorang yang mampu merubah air mukanya dari mendung menjadi terang.

***

Selain julukan bagi sebuah warna langit berwarna ungu campur orange cerah di ujung senja, rupa-rupanya Vanila Twilight ini juga merupakan salah satu lagu yang dipopulerkan oleh Owl City sekitar tahun 2009. Liriknya yang romantis namun tidak picisan membuat para penggemar seperti terbuai. Adam Young, vokalis Owl City memang pandai meramu lirik sehingga menjadi sebuah lagu yang mengendapkan kehangatan di setiap hati para pendengarnya. Vanilla Twilight sendiri berkisah tentang kerinduan. Kisah seseorang yang ditinggal pergi kekasih. Waktu berlalu namun dia masih merasa sangat kesepian dalam hidup dan berharap sang kekasih kembali berada didekatnya. Lalu apa hubungannya dengan lagu Vanilla Twilight dengan senja berwarna Vanilla Twilight? Karena di masa lalunya, dia dan sang kekasih sering memandangi langit senja, berwarna Vanilla Twilight. Namun setelah kekasihnya tiada, dia pun tetap melakukannya seorang diri untuk bernostalgia. Karena bagi dia, hanya itu yang bisa dilakukan agar tidak merasa kesepian, dan juga agar dia tetap merasa dekat dengan keberadaan sang kekasih. Sampai akhirnya dia menyadari kalau harapannya agar sang kekasih kembali, sia-sia. Dia bertekat untuk melupakan segala kehidupan masa lalu mereka, namun hal itu rupanya sulit untuk melupakan kekasih yang dicintainya. Tak heran Vanilla Twilight meinggalkan pesan yang dalam, membuat terngiang siapapun yang mendengarkan.

***

Kadang saya suka bingung sama si senior ini. Kalau memang lelaki itu spesial kenapa harus berpikir-pikir untuk mengiyakan? Kalau memang lelaki itu memiliki tempat di hati-nya, kenapa harus bersikap pasif? Dan kenapa tidak berinisiatif lebih dulu. Bukannya sekarang ini sudah jamannya emansipasi? Toh bukannya itu bagus, bukannya kesempatan tidak datang dua kali? Kata-kata itu hanya mengendap dalam pikiran, tak berani saya tanyakan. Saya masih meraba-raba.

Berkali-kali dia berusaha menghindar, namun berkali-kali juga gagal. Dia seperti tak mampu membiaskan dirinya jauh dari lelaki itu. Dia sudah terbiasa ada bersama-sama. “Sebenarnya kamu tidak perlu begitu, sih. Nikmati saja prosesnya,” ujar saya sok bijak. “Toh nanti itu juga yang akan membuatmu dewasa, dan belajar” saya berusaha memberi masukkan. Rupanya, si senior ini orang yang pemalu sekaligus penakut, dan dia baru mengakui di akhir cerita. 

Dua hal itu yang tak pernah saya sadari sebelumnya, juga sebenarnya dia tidak memiliki alasan untuk menjadi begitu. Dia malu karena dia sadar diri bukan siapa-siapa. Dia takut terlalu hanyut dan terjatuh. Dia telah menaruh hati terlalu dalam bagi lelaki itu, walaupun dia tahu cepat atau lambat mereka bersama-sama, lelaki itu tetap tak bisa dimilikinya. Dia takut ketika ada yang tak lagi sama, dia kembali kalut. Dia tahu, dia mulai mencintai lelaki itu, mungkin lebih. Dia jatuh hati. Dan sepertinya lelaki itu juga merasakan rasa yang sama. Berhasrat, meski hanya tersirat.

*** 

Dengan mata berbinar, dia bercerita tentang indahnya sore itu. Ya memang sih, cinta terkadang buta; kalau hati sedang berbunga-bunga, badai taufan pun dibilang indah. Tentang bagaimana mereka bercakap sepanjang jalan, dari berangkat hingga pulang. Tentang bagaimana dia selalu dibuat tertawa oleh kisah-kisah lucu lelakinya. Tentang bagaimana mereka saling merangkul disaat dia dan lelakinya sedang bersenda-gurau. Tentang bagaimana lelakinya membuat ia merasa aman saat berjalan menuju gelapnya petang. Tentang bagaimana lelakinya membuat dia nyaman dalam eratnya genggaman tangan. Dan tentang bagaimana ia ingin membekukan waktu, saat ia dan lelakinya seolah-olah menyatu. 

Saya tahu dia sedang kasmaran. Namun saya jarang menemukan ketika dia bercerita dengan sangat dalam. Saya menikmati setiap bait kisahnya, dan disitu saya melihat kegalauan dalam matanya. Dia menikmati tapi juga takut kehilangan. Dia teramat bahagia namun juga berduka. Walaupun dia paham, adakalanya mencintai juga sesekali membebaskan. Asumsi saya, nampaknya dia masih perlu belajar untuk itu, karena belum siap kehilangan. 

*** 

Ada hal yang enggan saya utarakan, "Lantas kalau mereka sudah merasa nyaman, kenapa tidak bisa lebih dari teman?" Namun rasa-rasanya pertanyaan itu konyol, dan saya tidak mau memperkeruh suasana. Karena saya rasa, hanya mereka berdua yang tahu alasannya. Kendatipun berselimut kalut, dia telah menemukan si Vanilla Twilight-nya. Dia dapat merengkuh barang sesaat. Si lelaki Vanilla Twilight, seperti rasa Vanilla yang manis. Dan karena Vanilla cenderung manis, biasanya hal-hal yang manis hanya bertahan sekejap.

Dalam hati saya berdoa, semoga anggapan itu tidak benar. Karena hatinya seluas samudera. Karena dia terlalu baik untuk didera. Semoga kisahnya abadi berhenti dalam indahnya balutan Vanilla Twilight di waktu senja, dan semoga bukan sebaliknya. 

Karena sejujurnya lelaki itu orang yang paling beruntung, dicintai oleh sosok perempuan dengan sebegitu dalam.

*** 

The silence isn’t so bad
‘Till I look at my hand and feel sad
‘Cause the spaces between my fingers 
Are right where yours fit perfectly
(Vanilla Twilight - Owl City)

Life

Light, Will Guide You Home

March 20, 2019


Pernahkah kau penasaran tentang bagaimana semesta bekerja? Pernahkah kau merasa ada yang berubah dalam kehidupanmu hanya dalam waktu sekejap? Tadinya saya adalah orang yang tidak mudah percaya, sampai suatu sore salah satu teman karib, (sebutlah namanya Light) bercerita kepada saya tentang hal-hal yang merubah kehidupannya, dan tentunya saya melihat adanya binar-binar kebahagiaan dalam mata yang hidup saat dia bercerita. Sejak saat itu, mungkin ada baiknya saya mulai percaya bahwa kadang-kadang perubahan bisa datang kapan saja, dan tanpa pernah diduga.

***

Mengenal Light dalam hidup adalah sebuah berkat, dan mungkin juga bagi sebagian orang yang mengenal baik dirinya. Pembawaannya sehari-hari tidak pernah menampakkan kalau dia memiliki apa yang tidak dimiliki oleh orang lain. Seperti misalnya sensitifitas dalam memandang sesuatu, kritis saat melihat hal-hal yang tidak adil, ketulusan tanpa batas bahkan hingga mencintai tanpa mengharap pamrih; seolah semua tertanam baik dalam dirinya. Saya termasuk beruntung dapat menyadari hal itu ada pada dia, karena tidak semua orang menyadari akan potensi yang tersembunyi. Hal-hal baik, yang tentu bersifat intangible. Pernah suatu kali saya menegurnya karena kadang-kadang dunia tidak ramah dengan kebaikannya, “Light, tidak apa-apa sesekali kamu bertindak tidak baik dengan orang yang tidak cukup baik untukmu. Ada beberapa orang mungkin hanya ingin dekat karena kebaikanmu, bukan karena kamu”, dan dengan santai dia menjawab “Ya, itu urusan mereka. Karena jika mereka baik, aku tentu baik. Jika mereka tak baik, aku akan tetap baik. Meskipun tidak ada yang mengajari”. Kalau Light sudah berkata begitu, saya bisa apa lagi; toh ini kan prinsip hidupnya. Sebagai kawan, tentunya saya hanya bisa memberi masukkan. Light dengan segala kecuekannya, tidak pernah ambil pusing perkara sedang dimanfaatkan atau tidak. Yang terpenting dalam hidupnya, adalah tentang menjadi perpanjangan tangan bagi siapapun yang membutuhkan. Dan rupanya ia melakukan itu bukan tanpa alasan.

Saya paham, Light terbiasa tinggal sendiri (kedua saudarinya sudah lebih dulu dipanggil Tuhan saat mereka masih sangat kecil, sementara orang-tuanya memiliki kesibukan masing-masing) sehingga mau tidak mau segala hal harus bisa dikerjakan dengan mandiri. Dalam hal ini saya akui, dia cukup tangguh untuk dapat mengatasi. Walaupun ada hal-hal yang tidak bisa dinilai semata dengan mata telanjang. Light dengan kesendiriannya, kadangkala agak sulit menerima kehadiran orang asing untuk masuk dalam kehidupan internal. Ia terlalu takut untuk merasa hilang saat sudah terpenuhi. Sekalipun dalam keseharian Light selalu terbuka pada setiap orang. Mengingat pekerjaannya memaksa dia untuk bersikap supel dan adaptatif. Saya melihat dia sebagai pribadi yang fleksibel,  yang berada di tengah-tengah, atau populer dengan istilah Ambivert (walaupun dalam hal ini ia mengelak, dan lebih mengakui kalau dia sebenarnya Introvert). Light suka berteman, dan ia tidak suka kesepian. Namun ada kalanya ia juga butuh waktu untuk dirinya, dan ia menyukai ketenangan. Light pandai bergaul dan membawa diri, sekalipun kadang-kadang merasa diri asing.

Sampai suatu hari, Light mendapat tugas dari lembaga tempat ia bekerja untuk menjadi host-family bagi beberapa mahasiswa asing yang akan studi di Indonesia. Tentu saja Light dengan senang hati menerima tugas itu. Di hari kedatangan para tamu, hampir tengah malam Light mengendarai mobilnya ke airport. Dia tak ingin membuat orang menunggu, hingga akhirnya Light mendapati bahwa keluarga baru yang akan tinggal bersama-sama dengannya selama beberapa hari berjumlah tiga orang. Tentu bukan jumlah yang banyak jika dilihat dari kuantitasnya, namun bayangkan jika segala keperluan sebelum studi adalah Light yang harus membantu untuk mempersiapkan. Bayangkan mereka yang belum tahu kultur Indonesia dengan baik dan Light yang harus memberi pengertian sedikit-sedikit untuk adaptasi. Dan bayangkan segala keribetan yang akan dihadapinya ketika harus pandai membagi waktu antara bekerja sembari menjadi penjaga bagi ketiga stranger itu. Membayangkannya saja sudah membuat saya lelah, namun berbeda dengan Light.

Ketika tidak sengaja bertemu di toko buku pagi itu beberapa waktu lalu, sekalipun wajahnya terlihat lelah namun tidak dengan sorot matanya. Ia banyak bercerita tentang pengalaman seru selama ketiga orang asing itu tinggal bersamanya. Tentang bagaimana mereka makan di warung  kaki lima yang terasa asing bagi ketiga stranger itu, tentang bagaimana Light mengajak untuk masak di dapur hanya untuk membuat Indomie dan sambal terasi, tentang bagaimana saat salah satu dari mereka sedang sakit karena homesick dan juga stress dengan susahnya komunikasi bahasa lokal ditambah lagi lalu-lintas di tanah air yang semrawut, tentang bagaimana ia seringkali tidur larut namun langsung terjaga di pagi hari tanpa rasa kantuk dan bersiap untuk memasak sarapan, dan juga tentang bagaimana mereka tertawa-tawa hingga membuat perut sakit. “Sampai berapa lama mereka akan tinggal bersamamu?” saya bertanya saat kami akan berpisah. “Entah, lah.” Katanya. “Tapi aku ingin selama-lamanya..” lanjutnya lagi sambil bergurau. Saya memperhatikan, hari itu sorot matanya berbeda. Cahaya yang dulu pernah redup kini kembali bersinar. Saya sudah lama tidak melihatnya sebahagia itu. Walaupun terlihat bergurau saya tau itu adalah ungkapan hatinya, Light bukanlah orang yang pandai berbohong. Saya cukup lama untuk mengenal Light dengan baik. Walaupun terlihat supel, namun dia bukanlah tipikal orang yang ‘mudah’ dengan orang baru, apalagi memperbolehkan mereka untuk ‘masuk’ dalam kehidupannya, yang kadangkala terasa rumit. Sebelum kami benar-benar berpisah karena pekerjaan, sempat saya menanyakan sesuatu dengannya, “Light, mungkin tidak, kalau mereka baik kepadamu karena merasa bergantung? Maksudku, selama ini kan kamu yang banyak membantu mereka. Jadi, mereka akan tetap baik sampai urusan mereka benar-benar tuntas. Bukan bermaksud negatif, hanya saja aku takut kau kehilangan cahaya lagi saat mereka nanti sudah tidak bersamamu…”, seperti biasa Light hanya tersenyum dan memberikan salam perpisahan dengan hangat. Hari itu adalah hari terakhir saya melihat binar bahagia dalam matanya.

***

Kurang lebih dua bulan mereka tinggal bersama-sama sampai akhirnya ketiga orang asing itu menemukan tempat tinggal permanen untuk masa studi mereka di Indonesia. Walaupun mungkin ingin, jelas tidak mungkin mereka tinggal bersama Light hingga waktu studi usai. Light telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, sesuai dengan pesan yang diamanatkan kepadanya. Dirinya bahkan tidak hanya memenuhi kewajibannya sebagai host-family saja, namun dengan percuma ia memberikan segenap hatinya untuk mengasihi mereka. Usai mereka tidak tinggal bersama lagi, Light kembali kepada kehidupan normal-nya. Sesekali saya dan Light bertukar kabar via WhatsApp jika tidak memungkinkan untuk bertemu. Namun satu yang saya ingat saat tadi malam kami berkomunikasi menggunakan videocall, tawanya tak lagi lepas, dan sorot matanya memancarkan kehilangan. Mungkin Light tahu, walaupun mereka masih bisa bertemu sesekali dan menghabiskan waktu bersama-sama, saat tugasnya sudah usai tentu tidak lagi ada yang sama seperti sebelumnya. Perlahan-lahan, saya memahami apa yang dirasakan Light. Walaupun tanggung jawab itu memiliki konsekuensi sendiri, dan beberapa tugas yang diamanatkan kepadanya tidaklah mudah. Sebagai manusia normal, pastilah merasa senang dan lega ketika beban itu sudah terlepas. Namun Light berbeda, karena baginya tidak selamanya saat tugas telah selesai membawa kelegaan, atau mungkin justru sebaliknya; ada yang hilang.


(Picture by : Pinterest)
***

Kisah dari Light sendiri membuktikan tentang bagaimana semesta dapat merubah air muka seseorang dalam waktu sekejap. Berkat Light juga, sedikit-sedikit saya mulai paham, tentang bagaimana dia terkoneksi dengan sangat baik. Tentang bagaimana dia mencoba untuk mengasihi tanpa pamrih. Tentang bagaimana ia mencoba melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak ia sukai, demi menaklukan luka-luka yang telah lama bersarang dalam hati dan pikirannya. Walaupun memang, saya paham betul apa yang Light lakukan semata untuk menutupi kerapuhan hatinya sendiri. Oleh karena itu; "Light, teruslah menjadi cahaya yang menuntun setiap orang menemukan rumahnya. Walaupun mungkin sesekali kau juga butuh ‘lentera’ untuk menerangi jalanmu sendiri."

(Picture by : Pinterest)

Light will guide you home,
And Ignite your bone
And I’ll try to fix you
(Fix You – Coldplay)

Reflection

We Are Only A Moment

March 08, 2019

He Wa Poto Noa Tatou merupakan salah satu kalimat dalam bahasa Maori. Bahasa lokal Negeri Kiwi ini memang masih dipakai dalam beberapa wilayah di Selandia baru, selain bahasa utamanya Bahasa Inggris. Ungkapan tersebut kurang lebih artinya We Are Only A Moment, atau dalam Bahasa sendiri berarti Kita Hanya Sementara. Tidak ada yang abadi, seperti halnya euforia dan elegi. Euforia tentu bertalian erat dengan elegi. Keduanya seperti sisi mata uang yang selalu datang bergantian. Jika euforia datang lebih dulu, maka elegi akan menyusul di belakangnya. Begitupula sebaliknya, jika elegi datang lebih dulu maka euforia akan menyusul setelahnya. Sebagai manusia biasa yang tidak punya kuasa apa-apa, tentu kita tidak memiliki kekuatan untuk menahan agar elegi tidak perlu datang dan membiarkan euforia ada untuk terus menyelimuti. Kalau memang benar begitu, rasanya kok egois. Walaupun, ya realistis saja; siapa sih yang tidak ingin terus menerus merasa bahagia? We Are Only A Moment, hanya sementara – tidak ada standart pasti berapa lama, namun juga sama artinya dengan tidak ada yang abadi. Sementara, hanya titipan. Sementara, kepunyaan tapi bukan kepemilikkan. Kalau sudah begini, sebagai manusia normal biasanya sisi egois saya menjadi lebih dominan. Egois dalam arti, ingin euforia saja. Tidak ingin elegi. Karena euforia berarti Only a Moment, hanya sementara – atau kasarnya lagi siap ada yang hilang, karena momentum yang sudah lewat.

***

Deru mesin pesawat di pagi yang lembab itu kembali mengingatkan saya bahwa sebanyak apapun euforia yang datang dalam satu moment tanpa batasan waktu, tentu akan ditutup sempurna dengan elegi. Kebetulan elegi ini datang tanpa permisi di pagi hari. Elegi yang sudah berusaha ditahan dari hari-hari sebelumnya. Dan pada akhirnya, memang elegi dan euforia berjalan bergantian. Tidak saling bersama. Karena memang hidup demikian adanya. Because we are only a moment. A month. A short moment.

***
Picture by : Pinterest


I tried and tried to let you know
I love you, but I'm letting go
It may not last, but I don't know

(Nothing Last Forever – Maroon 5)

Cerpen

Menjalankan Perjalanan

March 06, 2019

Buat naik kereta ini gak lewat peron 9 ¾ kok!

Sebutlah diri ini melankolis. Tidak pula berusaha meromantisir keadaan, namun bagi saya tidak ada yang lebih romantis dibanding perjalanan dengan menggunakan kereta api. Terdengar hiperbolis, tapi begitulah yang terasa. Jika diberikan pilihan dalam perjalanan, saya akan memilih menggunakan kereta api dibanding moda transportasi yang lain selama itu memungkinkan. Saya senang menikmati moment dimana saat kereta api singgah di stasiun setiap kota. Masing-masing stasiun memiliki gaya yang berbeda, meskipun hampir sama. Sisa-sisa kolonial memang selalu menyisakan hal-hal yang menarik.


***

Hingga cerita ini ditulis, saya masih menyimpan satu impian untuk menelusuri beberapa kota yang ada di Pulau Jawa dari barat hingga ujung timur, dengan kereta api. Seperti dari Jakarta hingga Banyuwangi, misalnya. Karena selama ini hanya dapat terealisasi sebagian saja, seperti trip backpacker beberapa tahun lalu dari Jakarta hingga Surabaya dan berakhir di Malang. Waktu itu pun menggunakan kereta eksekutif malam, untuk menekan budget hotel. Kurang bisa menikmati perjalanan, karena otomatis waktu dihabiskan untuk tidur. Waktu itu adalah 12 jam terlama saya menggunakan kereta api.

Angan saya kembali liar. Saya mengingat jelas bagaimana dalam perjalanan itu saya bisa menggali banyak hal sembari menikmati romantisme ber-kereta api. Bagaimana menyusuri satu-persatu kota dan tempat wisata di Jawa (jalur kereta api masih sebatas Pulau Jawa dan Pulau Sumatera saja). Belajar banyak tentang jejak sejarah masa lalu, kearifan lokal dan budaya setempat, hingga kuliner autentik. Karena padatnya kegiatan dan minimnya kesempatan untuk mendatangi kota demi kota dalam satu perjalanan sekaligus, maka saat ini saya hanya bisa melakukannya sepotong demi sepotong.

***

Beberapa kawan pernah berkata, “Naik kereta itu lama, buang-buang waktu. Selisih harga dengan pesawat juga gak jauh, kok”. Iya, ini bukan soal nilai sebuah harga, namun nilai sebuah perjalanan. Kawan saya tidak salah. Selorohannya dia juga menjadi alasan bagi saya untuk memilih moda transportasi lain, pesawat misalnya, sebagai alternatif bila tujuan tidak terjangkau oleh kereta api. Misal harus menyeberang pulau, atau ke beberapa tempat di timur Indonesia yang hanya terjangkau oleh pesawat ATR. Namun ada yang tak bisa saya dapatkan bila menggunakan pesawat, sebuah romansa, begitulah saya menyebutnya. Hal yang tidak mungkin saya rasakan ketika tubuh yang senantiasa terikat dengan sabuk pengaman. Hal yang tak mungkin saya rasakan dalam kabin bertekanan tinggi, dan juga tidak memungkinkan untuk berjalan-jalan di aisle kabin pesawat layaknya ketika naik kereta api. Ditambah lagi jika terjadi turbulensi di ketinggian puluhan ribu kaki yang kadangkala membuat saya cemas.

***

Bagi saya perjalanan sejatinya tidak hanya tentang raga yang berpindah. Namun juga perjalanan jiwa. Di dalam gerbong kereta api yang panjang, saya mampu menikmati waktu yang mungkin dirasakan orang lain justru terlalu lama dan buang-buang waktu. Dengan jendela yang lebar, saya bisa menikmati kehidupan di banyak tempat yang dilewati. Rumah-rumah warga pinggiran rel, hamparan sawah, jembatan tinggi, gunung, suasana pedesaan, kandang hewan-hewan ternak, orang-orang yang mengantri di palang sampai kereta selesai melintas, hingga interaksi antar penduduk lokal. Pada setiap hal yang saya lihat dan rasakan, seringkali ini menjadi bahan renungan yang dalam dan panjang hingga bermuara pada sebuah kesadaran untuk banyak berbenah dan bersyukur.

***

Hari ini saya kembali naik kereta. Saya tidak sendiri, kami pergi bertiga. Bukan trip jarak jauh. Hanya sekedar mengisi hari-hari terakhir bersama-sama ditengah padatnya aktivitas lalu. Sebentar untuk dapat sejenak lari dari kepenatan. Sekejap namun meninggalkan kesan. Efek bangun terlalu pagi dan harus menyiapkan sarapan dan bekal sebelum berangkat membuat mata saya menjadi berat saat kereta mulai berjalan, pukul 05.30. Langit cerah, dan udara masih bersih. Tapi rasa kantuk yang tak tertahankan membuat saya lebih banyak diam. Padahal seperti biasanya saya lebih suka menikmati perjalanan dibandingkan tidur. Saya menyandarkan kepala di dekat jendela kereta yang lebar. Tak berapa lama seseorang mencegah. “Nanti lehermu sakit”, ujarnya. “Disini aja” lanjutnya kemudian. Dia menawarkan bahu. Saya mengelak, walaupun akhirnya pasrah mengiyakan. Tidak ada pilihan, bersandar di jendela juga sama artinya membuat tidur semakin tidak berkualitas. Ragu-ragu membalas, “Memang boleh?” sembari menahan rasa kantuk. “Why not?”, jawabnya lagi. Balasan tidak lagi berupa ucapan namun dengan kepala yang langsung bersandar, dan langsung lelap tak lama kemudian. Sementara dalam ketidak-sadaran saat tertidur, jiwa ini sesungguhnya sedang mengembara. Pijakan terasa bimbang, mencari-cari tanda dalam labirin hati seseorang. Labirin hatinya, hati tempat saya menyandarkan banyak persoalan dalam hidup, hati yang tenang. Menjalankan sebuah perjalanan kali ini membuat jiwa saya tersesat. Bukan karena apa-apa. Mungkin karena saya sudah lama tidak merasakan perasaan itu. Sudah lama tidak dibegitukan.

***

“Maaf saya kelamaan. Kamu pasti pegal ya? Maaf banget..” ujar saya berkali-kali. Saya tidak tahu sudah berapa jam saya pulas. Rasa kantuk akibat tidur dua jam kemarin malam itu memang sangat hebat. Sebelum mulai benar-benar tersadar, saya sempat mencuri pandang sebentar. Dia membuka ponsel, membuka folder. Dan ada beberapa foto yang dibuka. Foto seorang bocah. Anak kecil dengan tawa yang lepas. Ada juga yang masih bayi merah, sedang menangis. Wajah-wajah tanpa dosa sambil memegang kentang goreng. Ada beberapa, bocah yang sama dalam gaya yang berbeda-beda. Menyadari saya mulai akan bangun, dia cepat menutup ponsel. Tapi saya sempat melihat. Anak kecil dalam foto itu, potret saya di masa lalu.

***

Kereta masih melaju, perlahan-lahan. Belum sampai tujuan. Sebaiknya tiba sesegera mungkin dan akhiri drama pagi yang sialan ini. Jika kamu tidak bisa membantu saya mencari jalan, tolong jangan membuat saya tersesat lagi, ya?


(Picture by : Flickr)

Episteme

Gemini dan Hal-hal yang Tak Sempat Diutarakan

March 04, 2019

Sejak pertengahan SD hingga SMP dulu, setiap membeli majalah mingguan, sudah pasti rubrik pertama yang dilihat adalah bagian Astrologi. Lucu rasanya ketika mencocok-cocokkan antara ramalan yang tertulis dalam rubrik tersebut hingga kemudian mencoba dipas-paskan dengan realitas selama kurun waktu sesuai yang tertulis. Walaupun pada masa itu juga tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang tertulis, rasa-rasanya seperti ada kebahagiaan tersendiri saat membaca ada beberapa hal yang cocok. Kemudian sibuk berseloroh dengan sesama kawan yang sama-sama suka membaca rubrik Astrologi. Baru setelah menyelesaikan per-astrologi-an itu, menghabiskan rubrik cerpen dan yang terakhir tips-tips. Majalah tentu sudah habis sebelum edisi yang akan datang terbit, dan lalu dengan sisa penasaran menerka-nerka apa yang kira-kira tertulis di rubrik Astrologi edisi selanjutnya. Pengalaman tersebut saya alami sekitar tahun 2006, jaman itu konten belum sebanyak sekarang, dan tidak banyak pilihan selain membaca dari sumber majalah.

***

Kurang lebih satu dasawarsa lebih berlalu, dan perkembangan informasi menjadi sangat pesat. Rubrik Astrologi tidak lagi dinanti setiap seminggu sekali karena kemudahan untuk mengakses bisa kapan saja dengan membuka website. Konten-konten mulai banyak menulis yang berbau Astrologi dan bahkan ada pula yang dikoneksikan dengan kebutuhan konseling. Memang bisa? Seiring dengan kesibukan yang bertumbuh bersama sikap skeptis, tentu saya tidak lagi terlalu excited saat membuka konten ramalan bintang. Bagaimana bisa, di dunia ini tentu ada banyak orang dengan zodiak yang sama, mana mungkin memiliki peruntungan dan kesialan yang sama dalam satu minggu? Belum lagi ramalan bisa berbeda-beda dari satu sumber dengan sumber yang lain. Belum lagi perbedaan tanggal lahir masing-masing orang, bagaimana mungkin bisa diseragamkan dalam naungan rasi bintang yang sama? Kenyataannya, ada banyak kebetulan yang tidak sengaja terjadi.

***

Mempelajari secara otodidak bidang Astronomi sekaligus Astrologi rasanya unik. Apalagi ditambah dengan cerita tentang mitologi Yunani. Ini konyol memang, tapi saya menyukainya. Diantara kedua-belas (dan sekarang menjadi tiga belas?) rasi bintang yang aman-tenteram, Gemini seringkali diberi label paling absurd. Terlebih dengan simbol si kembar – (dua – ganda), tentu semakin banyak menambah spekulasi terkait Gemini.
(Picture by : Pinterest)
Tidak dipungkiri sih, beberapa Geminian (sebutan bagi mereka yang bernaung di bawah rasi bintang Gemini) yang pernah saya kenal senang menjadi pusat perhatian. Kepercayaan diri dan aura superstar yang ada dalam dirinya memang cocok dengan pembawaan yang supel dan baik kepada semua orang. Para Geminian ini sekalipun dikenal sangat moody, juga selalu ingin membuat orang-orang terdekatnya selalu merasa nyaman. Hati-hati lho, nanti nyaman dikit sayang. Ada salah satu teman dekat saya yang pernah dekat dengan si Gemini, sudah pendekatan berbulan-bulan eh ternyata si Gemini malah dengan yang lain ('kan mendung belum tentu hujan). Ada juga teman yang lain lagi, punya pasangan dibawah naungan Gemini, eh ternyata si pasangan hobinya tebar pesona. Dan banyak teman-teman terdekat saya sesekali bercerita; “Hati-hati dengan si Geminian, mereka bisa punya dua kepribadian”. “Mood-nya gampang berubah, dan juga dia cepat bosan”. “Jangan mudah percaya dengan si Gemini-Gemini itu, karena mereka tidak konsisten dengan apa yang dikatakan”. “Bisa saja si Gemini mengatakan hal yang sebenarnya bukan yang ingin dikatakan. Bisa saja dia berlagak suka padahal enggak”. “Pokoknya jangan percaya sebelum si Gemini bilang serius” Dan banyak lagi. Hingga akhirnya saya sampai pada satu titik menyimpulkan, diantara sekian banyaknya Gemini yang pernah saya kenal, atau minimal pernah diceritakan – mereka adalah player. Sorry Geminian, but I’d say this. Bagaimana tidak? Dari sebagian besar contoh konkrit yang saya tahu, hampir semuanya memiliki tabiat sama. Seolah membuat saya secara tidak sadar membentuk hipotesis seperti itu.

***

Saya tidak akan bercerita tentang sejarah Astrologi dan bedanya apa dengan Astronomi, silahkan cari dari sumber buku atau website yang lain. Lantas, kenapa banyak yang percaya dengan Astrologi? Semacam banyak yang sesuai. Dalam psikologi, hal ini yang disebut dengan Validasi Subjektif. Fenomena yang terjadi dalam kasus Validasi Subjektif bisa terjadi saat ada dua peristiwa yang tidak terkait dianggap berhubungan karena ekpektasi menuntut adanya hubungan antara dua peristiwa. Bisa dibilang, diri kita sendiri yang membuat hubungan antara persepsi kepribadian diri dengan isi horoskop. Konsep Validasi Subjektif diuji pertama kali oleh Bertram R. Forer, seorang psikolog yang yang memberikan tes kepribadian kepada siswa-siswa dalam sebuah kelas. Setelah itu hasil tes yang berupa analisis kepribadian dibagikan kepada setiap siswa. Forer berkata kepada siswanya kalau masing-masing dari mereka memiliki hasil analisis yang unik, dan tentunya berbeda satu dengan yang lain. Kemudian para siswa diminta untuk memberikan skor terhadap analisis kepribadian yang mereka terima; skala 0 (sangat buruk) hingga 5 (sangat baik) – berdasarkan kesesuaian dengan diri mereka. Setelah dikumpulkan, rata-rata skor penilaian siswa satu kelas terhadap hasil analisis yang diberikan adalah 4,26 – yang berarti sekitar 80% akurat. Bagaimana bisa analisis yang sama dianggap akurat oleh banyak orang?

(Picture by : curiousuty.com)

Kalimat-kalimat yang tertulis di atas umum sekali, terkesan vague, dan bisa jadi berlaku bagi siapa saja. Pernyataan yang disebut dengan Barnum Statement. Hal inilah yang kemudian berlaku pada Astrologi atau yang populer dengan ramalan zodiak (yang pada dasarnya kedua hal tersebut berbeda jauh). Jika dicermati, dalam rubrik Astrologi sendiri, sebenarnya kata-kata yang dituliskan samar dan tidak spesifik. Sehingga bisa mengena untuk siapa saja. 

Ada juga eksperimen lain yang dilakukan oleh Michael Gauquelin seorang astrolog Prancis. Gauquelin ingin menguji profesi Astrologi secara ilmiah. Sehingga ia menawarkan ramalan horoskop individual secara gratis untuk setiap pembaca sebuah majalah, dan meminta feedback dari mereka tentang seberapa akurat analisis individualnya. Triknya sama dengan eksperimen Forer, ia menggunakan ramalan horoskop yang sama persis ke ribuan pembaca dengan horoskop yang berbeda-beda. Lalu bagaimana hasilnya? 94% pembaca menjawab bahwa ramalannya akurat dan mendalam. Apa yang dilakukan Michael Gauquelin juga merupakan contoh dari Validasi Subjektif. Dimana audiens hanya fokus pada bagian yang benar dari sejumlah analisis umum. Para astrolog ini kemudian mengandalkan kemampuan manusia untuk lebih mengingat yang hits dan melupakan ramalan yang meleset (selective bias). Karena bisa saja kalau ada prediksi yang akurat, hanya sebuah kebetulan.

Sama halnya dengan ramalan kejadian yang akan terjadi. Jika ramalan tidak terjadi, ya pasti si pembaca akan santai-santai saja. Sebaliknya, jika ramalan ternyata benar terjadi, pasti dibarengi dengan respon “Wah, bener banget! Kok bisa pas sih ini ramalannya.”. Efek ini akhirnya terus terakumulasi dari waktu ke waktu, dan membuat Astrologi menjadi dipercaya dan senantiasa berjaya.

***

Bisa dibilang Astrologi adalah sistem yang primitif. Apakah masih relevan jika masih digunakana hingga saat ini? Jawabannya adalah kondisional. Selama kita masih bisa memilah mana yang baik dan sebaliknya. Sebenarnya bahaya dari Astrologi sendiri adalah efek yang dapat mempromosikan perihal uncritical thinking. Semakin sesuatu tersebut mengajari orang untuk dengan mudah menerima cerita anekdot disertai informasi yang dipilih secara cherry-picking (pilih yang mendukung, eliminasi yang tidak mendukung), maka akan semakin sulit juga sesuatu tersebut mengajarkan orang untuk berpikir jernih dan kritis. Ketika manusia sudah tidak mampu berpikir jernih dan kritis, maka kemampuan sebagai manusia yang mandiri akan terkisis. Lebih parahnya lagi, golongan manusia-manusia tersebut akan dengan mudah dijejali oleh banyak hal yang kebenarannya belum jelas, serta lebih mudah untuk dipengaruhi, disetir, oleh orang lain. Ya mungkin Astrologi tidak sepenuhnya valid. Tapi santai lah, dibuat fun aja. Gak ada salahnya, kok. Kalau tidak begitu kan, industri kreatif dan advertising tidak berlaku lagi, hahaha! Lihat saja beberapa artikel sarkastik tentang si Gemini di Mojok.co. Karena didaulat sebagai makhluk menyebalkan, maka Gemini menjadi highlight pada beberapa artikel di Mojok.co. Dengan begitu, semakin banyak yang penasaran dan ingin membaca artikel tersebut.

***

Kembali kepada Gemini, kenapa sebagian besar para Geminian menarik? Ya mungkin karena kebetulan aja para Geminian itu mendapat anugerah yang lebih secara personal, good-looking, smart, bukan karena zodiak mereka Gemini. Lantas kenapa Gemini yang jadi contoh? Kebetulan aja mereka pas Gemini. Kalangan si pemimpin, si pusat perhatian, si misterius, si perfeksionis dan si menarik hati banyak orang. Kenapa harus Gemini? Ya karena Gemini aja. Berdasarkan penjelasan ilmiah tentang Astrologi, apakah statement awal saya tentang para Geminian ini jadi berubah? I just try to thinking as clearly. But, believe me. Geminian or not – Player always be play.

(Picture by : Pinterest)

***

Like a lion you ran, a goddess you rolled
Like an eagle you circled, in perfect purple
This particular diamond was extra special
And though you might be gone, and the world may not know
Still I see you, celestial
(Everglow - Coldplay)

Life

You Never Walk Alone

March 03, 2019

Ada banyak alasan kenapa banyak orang ingin pergi ke Inggris. Jika termasuk golongan shopaholic, biasanya akan pergi ke London. Jika ingin menikmati sisi Inggris yang lain, yang lebih klasik (padahal hampir semua tempat terkesan klasik) biasanya akan singgah ke Edinburg (aka Inggris coret, sudah masuk Skotlandia). Sementara jika ingin mendatangi stadion tim bola kesayangan, biasanya pergi ke lokasi masing-masing stadion berasal yang tersebar di banyak kota, seperti Manchester, Liverpool, Southampton, Birmingham, dan sebagian untungnya masih berada di London (juga). Kalau saya sendiri, selain karena klub-klub bola legendaris, alasan saya ingin ke Inggris karena ingin napak tilas film Harry Potter, nongkrong depan Buckingham Palace (kali aja Pangeran William sedang mencari nanny baru buat George), pergi ke Westminster Abbey dan Cathedral Cantebury, mengunjungi Toko Buku Shakespeare, dan menghabiskan waktu dengan bolak-balik menyeberangi zebra-cross di Abbey Road tempat The Beatles foto untuk cover albumnya. Dan saya juga ada janji untuk mengunjungi salah satu kawan saya di Bournemouth; janji itu sejak tahun 2009 yang lalu - dan mungkin juga karena sudah terlalu lama, dia menjadi lupa dengan janji itu. Kabar terbaru darinya, kini ia telah menikah dan memiliki satu anak yang menggemaskan. Kalau saja pergi kesana bisa ditembus dengan Pintu Kemana Saja milik Doraemon, mungkin sudah sejak lama janji itu dituntaskan. Dan tentu saja tidak lupa untuk mencoba beberapa coffe-shop lokal (kalau beruntung) sambil menikmati saat salju turun. Perfect! Perlu konsistensi, niat yang kuat serta bekal yang cukup jika ingin benar-benar menapaki negeri Ratu Elizabeth.

***
Sebelum benar-benar ke Inggris untuk jalan-jalan studi dan menonton bola secara langsung, baiklah malam ini pemanasan dulu dengan menonton pertandingan Liverpool vs Everton yang digelar di Goodison Park (stadion milik Everton). Well, sejak kecil saya suka menonton bola, waktu TK saya selalu menunggu kapan Liga Italia bertanding. Kemudian saat SD kelas 2, pertama kali menonton Piala Dunia, berlanjut hingga kelas 6 SD – apalagi saat itu Piala Dunia berlokasi di Jerman. Sementara, tim andalan tetap si Three Lion alias England.
Kesukaan menonton bola semakin terpupuk saat SMP, dimana beberapa teman di sekolah juga menyukai klub yang sama, Chelsea. Salah satu teman saya adalah A salah satunya. Alasan kami menyukai Chelsea FC karena jagoan A, si Andriy Shevchencko yang seorang pemain dari Timnas Ukraina dan jagoan sata; Frank Lampard seorang pemain dari Timnas Inggris bermain di Chelsea.
Jadilah setiap ada match Chelsea, kami selalu heboh berkabar-kabar via telpon rumah. Waktu itu kami masih belum ada aplikasi chatting yang canggih seperti sekarang, dan tidak memungkinkan untuk Nobar, berbeda dengan sekarang.
Selain Chelsea, klub lain yang juga tak alpa untuk menonton adalah Liverpool. Bukan tanpa alasan, jagoan saya saat itu Steven Gerard masih menjadi kapten andalan Liverpool! Sampai-sampai saya memberi nama Ikan Cupang dengan Gerard. Sayangnya saat SMA, kebiasaan menonton bola sudah mulai jarang. Selain karena tinggal di asrama yang akses untuk menonton terbatas, teman-teman sepermainan juga tidak ada yang suka Sepak Bola, sehingga obrolan pun beralih ke topik lain.

Kembali ke pertandingan Liverpool, malam ini salah satu kawan saya mengajak untuk menonton bola. Tadinya kami tidak berencana untuk Nobar. Waktu sudah hampir larut, namun ajakan menonton bola tentu tidak akan di sia-siakan begitu saja. Rasanya senang, ketika akhirnya bisa bernostalgia, menonton bola lagi dan tidak sendirian. Usai membereskan tugas-tugas, saya menyiapkan beberapa potus untuk teman nonton agar tidak ngantuk.

Pertandingan yang digelar di Stadion Goodison Park milik Everton. Stadion tersebut hanya berjarak beberapa meter saja dari Anfield, stadion milik Liverpool. Hooligan di Inggris memang cukup berbahaya, dan sorak-sorai mereka yang terselubung diantara banyaknya penonton tidak pernah sepi.
Babak pertama berlangsung dengan skor seri, nampaknya Liverpool malam itu kurang prima dalam laga melawan Everton. Meskipun dalam penguasaan bola Liverpool lebih dominan, namun banyak tendangan meleset juga pertahanannya yang kurang. Ini belum final, namun saya gemas sendiri melihat pertandingan Liverpool melawan Everton. Macam mampu tapi tak mau. Kawan saya yang Liverpudlian sejati terlihat kurang semangat, berkali-kali berdecak kecewa dan membuatnya ingin menyudahi acara menonton malam itu. Padahal babak pertama belum habis. Entah karena mulai mengantuk atau kurang greget karena jagoannya tidak sesuai ekspektasi. Saya tahu dia ingin pergi tidur lebih dulu, tapi saya tahan. Belajar konsisten, cegah saya. Iya, konsisten.

***

Sejak kecil saya dilatih untuk belajar konsisten. Namun rasanya susah juga ya menjadi konsisten di tengah-tengah dunia yang tidak pasti ini. Untuk menerapkan ke-konsisten-an ini tidak semudah teorinya, ada banyak sekali distraksi yang menjadi halangan saat ingin menerapkan nilai-nilai konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya seperti : Sejak awal tahun 2019 saya memiliki resolusi untuk konsisten menulis catatan harian, alasan yang pertama untuk terapi, alasan kedua untuk melatih memori, dan alasan ketiga untuk kepentingan motorik. Namun untuk tetap konsisten menulis, ada saja yang menjadi penghalang. Entah karena jadwal harian yang padat, terlanjur mengantuk, atau bahkan lupa menyediakan waktu untuk menulis.

Sebenarnya niat ada, hanya saja untuk eksekusi seringkali menjadi terhambat. Rupa-rupanya, walaupun sudah mulai diterapkan sedari kecil untuk konsisten dalam pelaksanaan masih seringkali alpa. Tahun 2019 sudah mulai memasuki bulan ke-tiga, namun saya tidak ingin kalah dengan hantu kemalasan. Berkali-kali saya bingung atau enggan menulis (entah apa), berkali-kali pula hambatan itu saya lawan. Kalau saya tidak bisa konsisten dengan diri sendiri, bagaimana saya bisa konsisten dengan orang lain? Dan bagaimana pula orang lain bisa konsisten dengan saya?
***

Waktu menunjukkan pukul 01.00 dinihari. Pertandingan usai, dan dia berhasil menyelesaikan nobar meskipun berakhir dengan kecewa. Sekalipun Liverpool dan Everton seri (skor 0-0), toh si Liverpool ini aman, tetap berada di puncak klasemen kok. Woles aja! Kawan saya tidur dengan perasaan datar dan ngantuk (mungkin juga kesal karena saya menahan untuk menyelesaikan hingga akhir ☺️). Namun ada perasaan lega. Lega karena akhirnya bisa menyelesaikan aktivitas yang jarang saya lakukan dengan tuntas. Lega karena sedikit-sedikit mulai bisa konsisten dengan diri sendiri. Juga lega karena bisa menerapkan nilai konsistensi bagi orang lain supaya menyelesaikan apa yang telah dimulainya. Seperti slogan Liverpool, You Never Walk Alone. Kamu tidak akan berjalan sendiri, ketika akan melakukan hal-hal yang baik. termasuk dalam mencoba konsisten ini.

Konsistensi mudah diucapkan namun sulit dilaksanakan.

***
Steven Gerrad inside Anfield, Liverpool
(Picture by : Pinterest)

When you walk through a storm, hold your head up high
And don’t be afraid of the dark
At the end of the storm, there’s a golden sky
And the sweet, silver song of a lark

Walk on through the wind
Walk on through the rain
Though your dreams be tossed and blown
Walk on, walk on

With hope in your heart
And you’ll never walk alone