Menjalankan Perjalanan
March 06, 2019![]() |
| Buat naik kereta ini gak lewat peron 9 ¾ kok! |
Sebutlah diri ini melankolis. Tidak pula berusaha meromantisir keadaan, namun bagi saya tidak ada yang lebih romantis dibanding perjalanan dengan menggunakan kereta api. Terdengar hiperbolis, tapi begitulah yang terasa. Jika diberikan pilihan dalam perjalanan, saya akan memilih menggunakan kereta api dibanding moda transportasi yang lain selama itu memungkinkan. Saya senang menikmati moment dimana saat kereta api singgah di stasiun setiap kota. Masing-masing stasiun memiliki gaya yang berbeda, meskipun hampir sama. Sisa-sisa kolonial memang selalu menyisakan hal-hal yang menarik.
***
Hingga cerita ini ditulis, saya masih menyimpan satu impian untuk menelusuri beberapa kota yang ada di Pulau Jawa dari barat hingga ujung timur, dengan kereta api. Seperti dari Jakarta hingga Banyuwangi, misalnya. Karena selama ini hanya dapat terealisasi sebagian saja, seperti trip backpacker beberapa tahun lalu dari Jakarta hingga Surabaya dan berakhir di Malang. Waktu itu pun menggunakan kereta eksekutif malam, untuk menekan budget hotel. Kurang bisa menikmati perjalanan, karena otomatis waktu dihabiskan untuk tidur. Waktu itu adalah 12 jam terlama saya menggunakan kereta api.
Angan saya kembali liar. Saya mengingat jelas bagaimana dalam perjalanan itu saya bisa menggali banyak hal sembari menikmati romantisme ber-kereta api. Bagaimana menyusuri satu-persatu kota dan tempat wisata di Jawa (jalur kereta api masih sebatas Pulau Jawa dan Pulau Sumatera saja). Belajar banyak tentang jejak sejarah masa lalu, kearifan lokal dan budaya setempat, hingga kuliner autentik. Karena padatnya kegiatan dan minimnya kesempatan untuk mendatangi kota demi kota dalam satu perjalanan sekaligus, maka saat ini saya hanya bisa melakukannya sepotong demi sepotong.
***
Beberapa kawan pernah berkata, “Naik kereta itu lama, buang-buang waktu. Selisih harga dengan pesawat juga gak jauh, kok”. Iya, ini bukan soal nilai sebuah harga, namun nilai sebuah perjalanan. Kawan saya tidak salah. Selorohannya dia juga menjadi alasan bagi saya untuk memilih moda transportasi lain, pesawat misalnya, sebagai alternatif bila tujuan tidak terjangkau oleh kereta api. Misal harus menyeberang pulau, atau ke beberapa tempat di timur Indonesia yang hanya terjangkau oleh pesawat ATR. Namun ada yang tak bisa saya dapatkan bila menggunakan pesawat, sebuah romansa, begitulah saya menyebutnya. Hal yang tidak mungkin saya rasakan ketika tubuh yang senantiasa terikat dengan sabuk pengaman. Hal yang tak mungkin saya rasakan dalam kabin bertekanan tinggi, dan juga tidak memungkinkan untuk berjalan-jalan di aisle kabin pesawat layaknya ketika naik kereta api. Ditambah lagi jika terjadi turbulensi di ketinggian puluhan ribu kaki yang kadangkala membuat saya cemas.
***
Bagi saya perjalanan sejatinya tidak hanya tentang raga yang berpindah. Namun juga perjalanan jiwa. Di dalam gerbong kereta api yang panjang, saya mampu menikmati waktu yang mungkin dirasakan orang lain justru terlalu lama dan buang-buang waktu. Dengan jendela yang lebar, saya bisa menikmati kehidupan di banyak tempat yang dilewati. Rumah-rumah warga pinggiran rel, hamparan sawah, jembatan tinggi, gunung, suasana pedesaan, kandang hewan-hewan ternak, orang-orang yang mengantri di palang sampai kereta selesai melintas, hingga interaksi antar penduduk lokal. Pada setiap hal yang saya lihat dan rasakan, seringkali ini menjadi bahan renungan yang dalam dan panjang hingga bermuara pada sebuah kesadaran untuk banyak berbenah dan bersyukur.
***
Hari ini saya kembali naik kereta. Saya tidak sendiri, kami pergi bertiga. Bukan trip jarak jauh. Hanya sekedar mengisi hari-hari terakhir bersama-sama ditengah padatnya aktivitas lalu. Sebentar untuk dapat sejenak lari dari kepenatan. Sekejap namun meninggalkan kesan. Efek bangun terlalu pagi dan harus menyiapkan sarapan dan bekal sebelum berangkat membuat mata saya menjadi berat saat kereta mulai berjalan, pukul 05.30. Langit cerah, dan udara masih bersih. Tapi rasa kantuk yang tak tertahankan membuat saya lebih banyak diam. Padahal seperti biasanya saya lebih suka menikmati perjalanan dibandingkan tidur. Saya menyandarkan kepala di dekat jendela kereta yang lebar. Tak berapa lama seseorang mencegah. “Nanti lehermu sakit”, ujarnya. “Disini aja” lanjutnya kemudian. Dia menawarkan bahu. Saya mengelak, walaupun akhirnya pasrah mengiyakan. Tidak ada pilihan, bersandar di jendela juga sama artinya membuat tidur semakin tidak berkualitas. Ragu-ragu membalas, “Memang boleh?” sembari menahan rasa kantuk. “Why not?”, jawabnya lagi. Balasan tidak lagi berupa ucapan namun dengan kepala yang langsung bersandar, dan langsung lelap tak lama kemudian. Sementara dalam ketidak-sadaran saat tertidur, jiwa ini sesungguhnya sedang mengembara. Pijakan terasa bimbang, mencari-cari tanda dalam labirin hati seseorang. Labirin hatinya, hati tempat saya menyandarkan banyak persoalan dalam hidup, hati yang tenang. Menjalankan sebuah perjalanan kali ini membuat jiwa saya tersesat. Bukan karena apa-apa. Mungkin karena saya sudah lama tidak merasakan perasaan itu. Sudah lama tidak dibegitukan.
***
“Maaf saya kelamaan. Kamu pasti pegal ya? Maaf banget..” ujar saya berkali-kali. Saya tidak tahu sudah berapa jam saya pulas. Rasa kantuk akibat tidur dua jam kemarin malam itu memang sangat hebat. Sebelum mulai benar-benar tersadar, saya sempat mencuri pandang sebentar. Dia membuka ponsel, membuka folder. Dan ada beberapa foto yang dibuka. Foto seorang bocah. Anak kecil dengan tawa yang lepas. Ada juga yang masih bayi merah, sedang menangis. Wajah-wajah tanpa dosa sambil memegang kentang goreng. Ada beberapa, bocah yang sama dalam gaya yang berbeda-beda. Menyadari saya mulai akan bangun, dia cepat menutup ponsel. Tapi saya sempat melihat. Anak kecil dalam foto itu, potret saya di masa lalu.
***



0 comments