You Never Walk Alone
March 03, 2019
Ada banyak alasan kenapa banyak orang ingin pergi ke Inggris. Jika termasuk golongan shopaholic, biasanya akan pergi ke London. Jika ingin menikmati sisi Inggris yang lain, yang lebih klasik (padahal hampir semua tempat terkesan klasik) biasanya akan singgah ke Edinburg (aka Inggris coret, sudah masuk Skotlandia). Sementara jika ingin mendatangi stadion tim bola kesayangan, biasanya pergi ke lokasi masing-masing stadion berasal yang tersebar di banyak kota, seperti Manchester, Liverpool, Southampton, Birmingham, dan sebagian untungnya masih berada di London (juga). Kalau saya sendiri, selain karena klub-klub bola legendaris, alasan saya ingin ke Inggris karena ingin napak tilas film Harry Potter, nongkrong depan Buckingham Palace (kali aja Pangeran William sedang mencari nanny baru buat George), pergi ke Westminster Abbey dan Cathedral Cantebury, mengunjungi Toko Buku Shakespeare, dan menghabiskan waktu dengan bolak-balik menyeberangi zebra-cross di Abbey Road tempat The Beatles foto untuk cover albumnya. Dan saya juga ada janji untuk mengunjungi salah satu kawan saya di Bournemouth; janji itu sejak tahun 2009 yang lalu - dan mungkin juga karena sudah terlalu lama, dia menjadi lupa dengan janji itu. Kabar terbaru darinya, kini ia telah menikah dan memiliki satu anak yang menggemaskan. Kalau saja pergi kesana bisa ditembus dengan Pintu Kemana Saja milik Doraemon, mungkin sudah sejak lama janji itu dituntaskan. Dan tentu saja tidak lupa untuk mencoba beberapa coffe-shop lokal (kalau beruntung) sambil menikmati saat salju turun. Perfect! Perlu konsistensi, niat yang kuat serta bekal yang cukup jika ingin benar-benar menapaki negeri Ratu Elizabeth.
***
Sebelum benar-benar ke Inggris untuk jalan-jalan studi dan menonton bola secara langsung, baiklah malam ini pemanasan dulu dengan menonton pertandingan Liverpool vs Everton yang digelar di Goodison Park (stadion milik Everton). Well, sejak kecil saya suka menonton bola, waktu TK saya selalu menunggu kapan Liga Italia bertanding. Kemudian saat SD kelas 2, pertama kali menonton Piala Dunia, berlanjut hingga kelas 6 SD – apalagi saat itu Piala Dunia berlokasi di Jerman. Sementara, tim andalan tetap si Three Lion alias England.
Kesukaan menonton bola semakin terpupuk saat SMP, dimana beberapa teman di sekolah juga menyukai klub yang sama, Chelsea. Salah satu teman saya adalah A salah satunya. Alasan kami menyukai Chelsea FC karena jagoan A, si Andriy Shevchencko yang seorang pemain dari Timnas Ukraina dan jagoan sata; Frank Lampard seorang pemain dari Timnas Inggris bermain di Chelsea.
Jadilah setiap ada match Chelsea, kami selalu heboh berkabar-kabar via telpon rumah. Waktu itu kami masih belum ada aplikasi chatting yang canggih seperti sekarang, dan tidak memungkinkan untuk Nobar, berbeda dengan sekarang.
Selain Chelsea, klub lain yang juga tak alpa untuk menonton adalah Liverpool. Bukan tanpa alasan, jagoan saya saat itu Steven Gerard masih menjadi kapten andalan Liverpool! Sampai-sampai saya memberi nama Ikan Cupang dengan Gerard. Sayangnya saat SMA, kebiasaan menonton bola sudah mulai jarang. Selain karena tinggal di asrama yang akses untuk menonton terbatas, teman-teman sepermainan juga tidak ada yang suka Sepak Bola, sehingga obrolan pun beralih ke topik lain.
Kesukaan menonton bola semakin terpupuk saat SMP, dimana beberapa teman di sekolah juga menyukai klub yang sama, Chelsea. Salah satu teman saya adalah A salah satunya. Alasan kami menyukai Chelsea FC karena jagoan A, si Andriy Shevchencko yang seorang pemain dari Timnas Ukraina dan jagoan sata; Frank Lampard seorang pemain dari Timnas Inggris bermain di Chelsea.
Jadilah setiap ada match Chelsea, kami selalu heboh berkabar-kabar via telpon rumah. Waktu itu kami masih belum ada aplikasi chatting yang canggih seperti sekarang, dan tidak memungkinkan untuk Nobar, berbeda dengan sekarang.
Selain Chelsea, klub lain yang juga tak alpa untuk menonton adalah Liverpool. Bukan tanpa alasan, jagoan saya saat itu Steven Gerard masih menjadi kapten andalan Liverpool! Sampai-sampai saya memberi nama Ikan Cupang dengan Gerard. Sayangnya saat SMA, kebiasaan menonton bola sudah mulai jarang. Selain karena tinggal di asrama yang akses untuk menonton terbatas, teman-teman sepermainan juga tidak ada yang suka Sepak Bola, sehingga obrolan pun beralih ke topik lain.
Kembali ke pertandingan Liverpool, malam ini salah satu kawan saya mengajak untuk menonton bola. Tadinya kami tidak berencana untuk Nobar. Waktu sudah hampir larut, namun ajakan menonton bola tentu tidak akan di sia-siakan begitu saja. Rasanya senang, ketika akhirnya bisa bernostalgia, menonton bola lagi dan tidak sendirian. Usai membereskan tugas-tugas, saya menyiapkan beberapa potus untuk teman nonton agar tidak ngantuk.
Pertandingan yang digelar di Stadion Goodison Park milik Everton. Stadion tersebut hanya berjarak beberapa meter saja dari Anfield, stadion milik Liverpool. Hooligan di Inggris memang cukup berbahaya, dan sorak-sorai mereka yang terselubung diantara banyaknya penonton tidak pernah sepi.
Babak pertama berlangsung dengan skor seri, nampaknya Liverpool malam itu kurang prima dalam laga melawan Everton. Meskipun dalam penguasaan bola Liverpool lebih dominan, namun banyak tendangan meleset juga pertahanannya yang kurang. Ini belum final, namun saya gemas sendiri melihat pertandingan Liverpool melawan Everton. Macam mampu tapi tak mau. Kawan saya yang Liverpudlian sejati terlihat kurang semangat, berkali-kali berdecak kecewa dan membuatnya ingin menyudahi acara menonton malam itu. Padahal babak pertama belum habis. Entah karena mulai mengantuk atau kurang greget karena jagoannya tidak sesuai ekspektasi. Saya tahu dia ingin pergi tidur lebih dulu, tapi saya tahan. Belajar konsisten, cegah saya. Iya, konsisten.
Pertandingan yang digelar di Stadion Goodison Park milik Everton. Stadion tersebut hanya berjarak beberapa meter saja dari Anfield, stadion milik Liverpool. Hooligan di Inggris memang cukup berbahaya, dan sorak-sorai mereka yang terselubung diantara banyaknya penonton tidak pernah sepi.
Babak pertama berlangsung dengan skor seri, nampaknya Liverpool malam itu kurang prima dalam laga melawan Everton. Meskipun dalam penguasaan bola Liverpool lebih dominan, namun banyak tendangan meleset juga pertahanannya yang kurang. Ini belum final, namun saya gemas sendiri melihat pertandingan Liverpool melawan Everton. Macam mampu tapi tak mau. Kawan saya yang Liverpudlian sejati terlihat kurang semangat, berkali-kali berdecak kecewa dan membuatnya ingin menyudahi acara menonton malam itu. Padahal babak pertama belum habis. Entah karena mulai mengantuk atau kurang greget karena jagoannya tidak sesuai ekspektasi. Saya tahu dia ingin pergi tidur lebih dulu, tapi saya tahan. Belajar konsisten, cegah saya. Iya, konsisten.
***
Sejak kecil saya dilatih untuk belajar konsisten. Namun rasanya susah juga ya menjadi konsisten di tengah-tengah dunia yang tidak pasti ini. Untuk menerapkan ke-konsisten-an ini tidak semudah teorinya, ada banyak sekali distraksi yang menjadi halangan saat ingin menerapkan nilai-nilai konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya seperti : Sejak awal tahun 2019 saya memiliki resolusi untuk konsisten menulis catatan harian, alasan yang pertama untuk terapi, alasan kedua untuk melatih memori, dan alasan ketiga untuk kepentingan motorik. Namun untuk tetap konsisten menulis, ada saja yang menjadi penghalang. Entah karena jadwal harian yang padat, terlanjur mengantuk, atau bahkan lupa menyediakan waktu untuk menulis.
Sebenarnya niat ada, hanya saja untuk eksekusi seringkali menjadi terhambat. Rupa-rupanya, walaupun sudah mulai diterapkan sedari kecil untuk konsisten dalam pelaksanaan masih seringkali alpa. Tahun 2019 sudah mulai memasuki bulan ke-tiga, namun saya tidak ingin kalah dengan hantu kemalasan. Berkali-kali saya bingung atau enggan menulis (entah apa), berkali-kali pula hambatan itu saya lawan. Kalau saya tidak bisa konsisten dengan diri sendiri, bagaimana saya bisa konsisten dengan orang lain? Dan bagaimana pula orang lain bisa konsisten dengan saya?
***
Waktu menunjukkan pukul 01.00 dinihari. Pertandingan usai, dan dia berhasil menyelesaikan nobar meskipun berakhir dengan kecewa. Sekalipun Liverpool dan Everton seri (skor 0-0), toh si Liverpool ini aman, tetap berada di puncak klasemen kok. Woles aja! Kawan saya tidur dengan perasaan datar dan ngantuk (mungkin juga kesal karena saya menahan untuk menyelesaikan hingga akhir ☺️). Namun ada perasaan lega. Lega karena akhirnya bisa menyelesaikan aktivitas yang jarang saya lakukan dengan tuntas. Lega karena sedikit-sedikit mulai bisa konsisten dengan diri sendiri. Juga lega karena bisa menerapkan nilai konsistensi bagi orang lain supaya menyelesaikan apa yang telah dimulainya. Seperti slogan Liverpool, You Never Walk Alone. Kamu tidak akan berjalan sendiri, ketika akan melakukan hal-hal yang baik. termasuk dalam mencoba konsisten ini.
Konsistensi mudah diucapkan namun sulit dilaksanakan.
***
![]() |
| Steven Gerrad inside Anfield, Liverpool (Picture by : Pinterest) |
When you walk through a storm, hold your head up high
And don’t be afraid of the dark
At the end of the storm, there’s a golden sky
And the sweet, silver song of a lark
Walk on through the wind
Walk on through the rain
Though your dreams be tossed and blown
Walk on, walk on
With hope in your heart
And you’ll never walk alone


0 comments