The Girl and Her Vanilla Twilight
March 27, 2019![]() |
| Picture by : Doc Pribadi |
Beberapa hari yang lalu, saat menaiki anak tangga di Perpustakaan Pusat Kampus, saya bertemu dengan salah satu senior sewaktu kuliah dulu. Rencana awal saya yang ingin ke ruang arsip, kemudian menjadi tertunda. Sengaja ditunda sih, lebih tepatnya, Karena tidak juga terlalu urgen, juga tidak diburu waktu. Kami berbicara sebentar sebelum kaki kami melangkah ke kafetaria. Ada beberapa hal yang ingin diceritakan kepada saya. Dan karena kami memang sudah lama tidak bertemu, jadilah saya sengaja menyisihkan waktu sekedar mendengar sisipan kisah-kisah menarik yang biasa dia ceritakan. Cukup banyak ragam kisah yang kami bagikan saat itu. Dan seperti biasanya ritual pagi, saya memesan segelas Cappucino tanpa gula sementara dia memilih Orange Juice. Dari banyaknya cerita yang ia tuturkan, saya tertarik dengan salah satu kisahnya tentang sosok si Vanilla Twilight.
Di suatu sore yang cukup cerah di musim penghujan, dia mendapat tawaran untuk jogging. Melakukan olahraga saat sore hari memang kegemarannya. Agak lama berpikir untuk meng-iya-kan, sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk mengambil tawaran itu. Alasan pertama, karena dia sudah lama tidak melihat langit cerah di sore menjelang senja. Dan alasan kedua, tentu saja – karena yang mengajak adalah orang yang spesial baginya. Seseorang yang berhasil membuat ia melafalkan nama si lelaki berkali-kali. Seseorang yang berhasil mengukir senyum di wajahnya. Seseorang yang selalu membuat sendu menjadi semakin rindu. Seseorang yang mampu merubah air mukanya dari mendung menjadi terang.
***
Selain julukan bagi sebuah warna langit berwarna ungu campur orange cerah di ujung senja, rupa-rupanya Vanila Twilight ini juga merupakan salah satu lagu yang dipopulerkan oleh Owl City sekitar tahun 2009. Liriknya yang romantis namun tidak picisan membuat para penggemar seperti terbuai. Adam Young, vokalis Owl City memang pandai meramu lirik sehingga menjadi sebuah lagu yang mengendapkan kehangatan di setiap hati para pendengarnya. Vanilla Twilight sendiri berkisah tentang kerinduan. Kisah seseorang yang ditinggal pergi kekasih. Waktu berlalu namun dia masih merasa sangat kesepian dalam hidup dan berharap sang kekasih kembali berada didekatnya. Lalu apa hubungannya dengan lagu Vanilla Twilight dengan senja berwarna Vanilla Twilight? Karena di masa lalunya, dia dan sang kekasih sering memandangi langit senja, berwarna Vanilla Twilight. Namun setelah kekasihnya tiada, dia pun tetap melakukannya seorang diri untuk bernostalgia. Karena bagi dia, hanya itu yang bisa dilakukan agar tidak merasa kesepian, dan juga agar dia tetap merasa dekat dengan keberadaan sang kekasih. Sampai akhirnya dia menyadari kalau harapannya agar sang kekasih kembali, sia-sia. Dia bertekat untuk melupakan segala kehidupan masa lalu mereka, namun hal itu rupanya sulit untuk melupakan kekasih yang dicintainya. Tak heran Vanilla Twilight meinggalkan pesan yang dalam, membuat terngiang siapapun yang mendengarkan.
***
Kadang saya suka bingung sama si senior ini. Kalau memang lelaki itu spesial kenapa harus berpikir-pikir untuk mengiyakan? Kalau memang lelaki itu memiliki tempat di hati-nya, kenapa harus bersikap pasif? Dan kenapa tidak berinisiatif lebih dulu. Bukannya sekarang ini sudah jamannya emansipasi? Toh bukannya itu bagus, bukannya kesempatan tidak datang dua kali? Kata-kata itu hanya mengendap dalam pikiran, tak berani saya tanyakan. Saya masih meraba-raba.
Berkali-kali dia berusaha menghindar, namun berkali-kali juga gagal. Dia seperti tak mampu membiaskan dirinya jauh dari lelaki itu. Dia sudah terbiasa ada bersama-sama. “Sebenarnya kamu tidak perlu begitu, sih. Nikmati saja prosesnya,” ujar saya sok bijak. “Toh nanti itu juga yang akan membuatmu dewasa, dan belajar” saya berusaha memberi masukkan. Rupanya, si senior ini orang yang pemalu sekaligus penakut, dan dia baru mengakui di akhir cerita.
Dua hal itu yang tak pernah saya sadari sebelumnya, juga sebenarnya dia tidak memiliki alasan untuk menjadi begitu. Dia malu karena dia sadar diri bukan siapa-siapa. Dia takut terlalu hanyut dan terjatuh. Dia telah menaruh hati terlalu dalam bagi lelaki itu, walaupun dia tahu cepat atau lambat mereka bersama-sama, lelaki itu tetap tak bisa dimilikinya. Dia takut ketika ada yang tak lagi sama, dia kembali kalut. Dia tahu, dia mulai mencintai lelaki itu, mungkin lebih. Dia jatuh hati. Dan sepertinya lelaki itu juga merasakan rasa yang sama. Berhasrat, meski hanya tersirat.
***
Dengan mata berbinar, dia bercerita tentang indahnya sore itu. Ya memang sih, cinta terkadang buta; kalau hati sedang berbunga-bunga, badai taufan pun dibilang indah. Tentang bagaimana mereka bercakap sepanjang jalan, dari berangkat hingga pulang. Tentang bagaimana dia selalu dibuat tertawa oleh kisah-kisah lucu lelakinya. Tentang bagaimana mereka saling merangkul disaat dia dan lelakinya sedang bersenda-gurau. Tentang bagaimana lelakinya membuat ia merasa aman saat berjalan menuju gelapnya petang. Tentang bagaimana lelakinya membuat dia nyaman dalam eratnya genggaman tangan. Dan tentang bagaimana ia ingin membekukan waktu, saat ia dan lelakinya seolah-olah menyatu.
Saya tahu dia sedang kasmaran. Namun saya jarang menemukan ketika dia bercerita dengan sangat dalam. Saya menikmati setiap bait kisahnya, dan disitu saya melihat kegalauan dalam matanya. Dia menikmati tapi juga takut kehilangan. Dia teramat bahagia namun juga berduka. Walaupun dia paham, adakalanya mencintai juga sesekali membebaskan. Asumsi saya, nampaknya dia masih perlu belajar untuk itu, karena belum siap kehilangan.
***
Ada hal yang enggan saya utarakan, "Lantas kalau mereka sudah merasa nyaman, kenapa tidak bisa lebih dari teman?" Namun rasa-rasanya pertanyaan itu konyol, dan saya tidak mau memperkeruh suasana. Karena saya rasa, hanya mereka berdua yang tahu alasannya. Kendatipun berselimut kalut, dia telah menemukan si Vanilla Twilight-nya. Dia dapat merengkuh barang sesaat. Si lelaki Vanilla Twilight, seperti rasa Vanilla yang manis. Dan karena Vanilla cenderung manis, biasanya hal-hal yang manis hanya bertahan sekejap.
Dalam hati saya berdoa, semoga anggapan itu tidak benar. Karena hatinya seluas samudera. Karena dia terlalu baik untuk didera. Semoga kisahnya abadi berhenti dalam indahnya balutan Vanilla Twilight di waktu senja, dan semoga bukan sebaliknya.
Karena sejujurnya lelaki itu orang yang paling beruntung, dicintai oleh sosok perempuan dengan sebegitu dalam.
***
The silence isn’t so bad
‘Till I look at my hand and feel sad
‘Cause the spaces between my fingers
Are right where yours fit perfectly
(Vanilla Twilight - Owl City)


0 comments