Gemini dan Hal-hal yang Tak Sempat Diutarakan

March 04, 2019

Sejak pertengahan SD hingga SMP dulu, setiap membeli majalah mingguan, sudah pasti rubrik pertama yang dilihat adalah bagian Astrologi. Lucu rasanya ketika mencocok-cocokkan antara ramalan yang tertulis dalam rubrik tersebut hingga kemudian mencoba dipas-paskan dengan realitas selama kurun waktu sesuai yang tertulis. Walaupun pada masa itu juga tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang tertulis, rasa-rasanya seperti ada kebahagiaan tersendiri saat membaca ada beberapa hal yang cocok. Kemudian sibuk berseloroh dengan sesama kawan yang sama-sama suka membaca rubrik Astrologi. Baru setelah menyelesaikan per-astrologi-an itu, menghabiskan rubrik cerpen dan yang terakhir tips-tips. Majalah tentu sudah habis sebelum edisi yang akan datang terbit, dan lalu dengan sisa penasaran menerka-nerka apa yang kira-kira tertulis di rubrik Astrologi edisi selanjutnya. Pengalaman tersebut saya alami sekitar tahun 2006, jaman itu konten belum sebanyak sekarang, dan tidak banyak pilihan selain membaca dari sumber majalah.

***

Kurang lebih satu dasawarsa lebih berlalu, dan perkembangan informasi menjadi sangat pesat. Rubrik Astrologi tidak lagi dinanti setiap seminggu sekali karena kemudahan untuk mengakses bisa kapan saja dengan membuka website. Konten-konten mulai banyak menulis yang berbau Astrologi dan bahkan ada pula yang dikoneksikan dengan kebutuhan konseling. Memang bisa? Seiring dengan kesibukan yang bertumbuh bersama sikap skeptis, tentu saya tidak lagi terlalu excited saat membuka konten ramalan bintang. Bagaimana bisa, di dunia ini tentu ada banyak orang dengan zodiak yang sama, mana mungkin memiliki peruntungan dan kesialan yang sama dalam satu minggu? Belum lagi ramalan bisa berbeda-beda dari satu sumber dengan sumber yang lain. Belum lagi perbedaan tanggal lahir masing-masing orang, bagaimana mungkin bisa diseragamkan dalam naungan rasi bintang yang sama? Kenyataannya, ada banyak kebetulan yang tidak sengaja terjadi.

***

Mempelajari secara otodidak bidang Astronomi sekaligus Astrologi rasanya unik. Apalagi ditambah dengan cerita tentang mitologi Yunani. Ini konyol memang, tapi saya menyukainya. Diantara kedua-belas (dan sekarang menjadi tiga belas?) rasi bintang yang aman-tenteram, Gemini seringkali diberi label paling absurd. Terlebih dengan simbol si kembar – (dua – ganda), tentu semakin banyak menambah spekulasi terkait Gemini.
(Picture by : Pinterest)
Tidak dipungkiri sih, beberapa Geminian (sebutan bagi mereka yang bernaung di bawah rasi bintang Gemini) yang pernah saya kenal senang menjadi pusat perhatian. Kepercayaan diri dan aura superstar yang ada dalam dirinya memang cocok dengan pembawaan yang supel dan baik kepada semua orang. Para Geminian ini sekalipun dikenal sangat moody, juga selalu ingin membuat orang-orang terdekatnya selalu merasa nyaman. Hati-hati lho, nanti nyaman dikit sayang. Ada salah satu teman dekat saya yang pernah dekat dengan si Gemini, sudah pendekatan berbulan-bulan eh ternyata si Gemini malah dengan yang lain ('kan mendung belum tentu hujan). Ada juga teman yang lain lagi, punya pasangan dibawah naungan Gemini, eh ternyata si pasangan hobinya tebar pesona. Dan banyak teman-teman terdekat saya sesekali bercerita; “Hati-hati dengan si Geminian, mereka bisa punya dua kepribadian”. “Mood-nya gampang berubah, dan juga dia cepat bosan”. “Jangan mudah percaya dengan si Gemini-Gemini itu, karena mereka tidak konsisten dengan apa yang dikatakan”. “Bisa saja si Gemini mengatakan hal yang sebenarnya bukan yang ingin dikatakan. Bisa saja dia berlagak suka padahal enggak”. “Pokoknya jangan percaya sebelum si Gemini bilang serius” Dan banyak lagi. Hingga akhirnya saya sampai pada satu titik menyimpulkan, diantara sekian banyaknya Gemini yang pernah saya kenal, atau minimal pernah diceritakan – mereka adalah player. Sorry Geminian, but I’d say this. Bagaimana tidak? Dari sebagian besar contoh konkrit yang saya tahu, hampir semuanya memiliki tabiat sama. Seolah membuat saya secara tidak sadar membentuk hipotesis seperti itu.

***

Saya tidak akan bercerita tentang sejarah Astrologi dan bedanya apa dengan Astronomi, silahkan cari dari sumber buku atau website yang lain. Lantas, kenapa banyak yang percaya dengan Astrologi? Semacam banyak yang sesuai. Dalam psikologi, hal ini yang disebut dengan Validasi Subjektif. Fenomena yang terjadi dalam kasus Validasi Subjektif bisa terjadi saat ada dua peristiwa yang tidak terkait dianggap berhubungan karena ekpektasi menuntut adanya hubungan antara dua peristiwa. Bisa dibilang, diri kita sendiri yang membuat hubungan antara persepsi kepribadian diri dengan isi horoskop. Konsep Validasi Subjektif diuji pertama kali oleh Bertram R. Forer, seorang psikolog yang yang memberikan tes kepribadian kepada siswa-siswa dalam sebuah kelas. Setelah itu hasil tes yang berupa analisis kepribadian dibagikan kepada setiap siswa. Forer berkata kepada siswanya kalau masing-masing dari mereka memiliki hasil analisis yang unik, dan tentunya berbeda satu dengan yang lain. Kemudian para siswa diminta untuk memberikan skor terhadap analisis kepribadian yang mereka terima; skala 0 (sangat buruk) hingga 5 (sangat baik) – berdasarkan kesesuaian dengan diri mereka. Setelah dikumpulkan, rata-rata skor penilaian siswa satu kelas terhadap hasil analisis yang diberikan adalah 4,26 – yang berarti sekitar 80% akurat. Bagaimana bisa analisis yang sama dianggap akurat oleh banyak orang?

(Picture by : curiousuty.com)

Kalimat-kalimat yang tertulis di atas umum sekali, terkesan vague, dan bisa jadi berlaku bagi siapa saja. Pernyataan yang disebut dengan Barnum Statement. Hal inilah yang kemudian berlaku pada Astrologi atau yang populer dengan ramalan zodiak (yang pada dasarnya kedua hal tersebut berbeda jauh). Jika dicermati, dalam rubrik Astrologi sendiri, sebenarnya kata-kata yang dituliskan samar dan tidak spesifik. Sehingga bisa mengena untuk siapa saja. 

Ada juga eksperimen lain yang dilakukan oleh Michael Gauquelin seorang astrolog Prancis. Gauquelin ingin menguji profesi Astrologi secara ilmiah. Sehingga ia menawarkan ramalan horoskop individual secara gratis untuk setiap pembaca sebuah majalah, dan meminta feedback dari mereka tentang seberapa akurat analisis individualnya. Triknya sama dengan eksperimen Forer, ia menggunakan ramalan horoskop yang sama persis ke ribuan pembaca dengan horoskop yang berbeda-beda. Lalu bagaimana hasilnya? 94% pembaca menjawab bahwa ramalannya akurat dan mendalam. Apa yang dilakukan Michael Gauquelin juga merupakan contoh dari Validasi Subjektif. Dimana audiens hanya fokus pada bagian yang benar dari sejumlah analisis umum. Para astrolog ini kemudian mengandalkan kemampuan manusia untuk lebih mengingat yang hits dan melupakan ramalan yang meleset (selective bias). Karena bisa saja kalau ada prediksi yang akurat, hanya sebuah kebetulan.

Sama halnya dengan ramalan kejadian yang akan terjadi. Jika ramalan tidak terjadi, ya pasti si pembaca akan santai-santai saja. Sebaliknya, jika ramalan ternyata benar terjadi, pasti dibarengi dengan respon “Wah, bener banget! Kok bisa pas sih ini ramalannya.”. Efek ini akhirnya terus terakumulasi dari waktu ke waktu, dan membuat Astrologi menjadi dipercaya dan senantiasa berjaya.

***

Bisa dibilang Astrologi adalah sistem yang primitif. Apakah masih relevan jika masih digunakana hingga saat ini? Jawabannya adalah kondisional. Selama kita masih bisa memilah mana yang baik dan sebaliknya. Sebenarnya bahaya dari Astrologi sendiri adalah efek yang dapat mempromosikan perihal uncritical thinking. Semakin sesuatu tersebut mengajari orang untuk dengan mudah menerima cerita anekdot disertai informasi yang dipilih secara cherry-picking (pilih yang mendukung, eliminasi yang tidak mendukung), maka akan semakin sulit juga sesuatu tersebut mengajarkan orang untuk berpikir jernih dan kritis. Ketika manusia sudah tidak mampu berpikir jernih dan kritis, maka kemampuan sebagai manusia yang mandiri akan terkisis. Lebih parahnya lagi, golongan manusia-manusia tersebut akan dengan mudah dijejali oleh banyak hal yang kebenarannya belum jelas, serta lebih mudah untuk dipengaruhi, disetir, oleh orang lain. Ya mungkin Astrologi tidak sepenuhnya valid. Tapi santai lah, dibuat fun aja. Gak ada salahnya, kok. Kalau tidak begitu kan, industri kreatif dan advertising tidak berlaku lagi, hahaha! Lihat saja beberapa artikel sarkastik tentang si Gemini di Mojok.co. Karena didaulat sebagai makhluk menyebalkan, maka Gemini menjadi highlight pada beberapa artikel di Mojok.co. Dengan begitu, semakin banyak yang penasaran dan ingin membaca artikel tersebut.

***

Kembali kepada Gemini, kenapa sebagian besar para Geminian menarik? Ya mungkin karena kebetulan aja para Geminian itu mendapat anugerah yang lebih secara personal, good-looking, smart, bukan karena zodiak mereka Gemini. Lantas kenapa Gemini yang jadi contoh? Kebetulan aja mereka pas Gemini. Kalangan si pemimpin, si pusat perhatian, si misterius, si perfeksionis dan si menarik hati banyak orang. Kenapa harus Gemini? Ya karena Gemini aja. Berdasarkan penjelasan ilmiah tentang Astrologi, apakah statement awal saya tentang para Geminian ini jadi berubah? I just try to thinking as clearly. But, believe me. Geminian or not – Player always be play.

(Picture by : Pinterest)

***

Like a lion you ran, a goddess you rolled
Like an eagle you circled, in perfect purple
This particular diamond was extra special
And though you might be gone, and the world may not know
Still I see you, celestial
(Everglow - Coldplay)

You Might Also Like

0 comments