Journey

Prelude Ende, Incognito Mataloko

November 02, 2016

Rumah Pengasingan Bung Karno, kini menjadi museum
(Picture by : Yerinta)
Teringat dengan buku Bung Karno Ata Ende yang pernah saya baca sekitar tahun 2014, untuk keperluan literatur terkait riset tentang Filsafat Ekonomi dan Pancasila, saya membayangkan betapa Bung Karno memiliki keterikatan dengan kota Ende, 4 tahun bukanlah waktu yang singkat. Apalagi waktu itu komunikasi dan informasi tidak secanggih sekarang. Tumbuh dan berkembang dalam moment dimana alat komunikasi sangat minim, rasa-rasanya lebih sarat makna. Maka apa yang dilakukan pada jaman dulu hingga meninggalkan jejak sejarah, pastilah begitu mendalam.

Ketidak-sengajaan saya membaca buku kala itu semacam pertanda (atau bukan) suatu hari nanti akan bisa napak tilas secara langsung. Siapa pula yang menyangka jika hari ini saya menuju Ende dengan penerbangan dari Denpasar. Bukan sekedar liburan (berharapnya, sih), tapi ada beberapa pekerjaan dan yang utama menyisihkan waktu mengunjungi ayah yang sedang bertugas di Mataloko. Iya, Mataloko, yang dibilang Alpen-nya Flores.

***

Ende adalah sebuah kota kecil di dekat laut. Meski begitu, kota Ende tidaklah datar. Banyak naikan-dan turunan yang menemani sepanjang jalan. Terik. Begitulah kesan pertama saat menginjakkan kaki di Bandara Hasan Aroeboesman. Meski dekat dengan banyak peristiwa sejarah, juga banyak peninggalan bersejarah; rasanya ingin cepat-cepat menyudahi tugas-tugas di Ende. Panas membuat imajinasi saya berhenti, dan otak hanya berpikir bagaimana menurunkan suhu dalam tubuh. Beruntung, pekerjaan selesai dalam waktu sesingkat mungkin. Usai dari Percetakan Arnoldus – nanti akan dituliskan secara khusus tentang megahnya percetakan ini – segera saya menuju mobil yang mengantarkan ke Mataloko. Here I Come!
***

Perjalanan dari Ende ke Mataloko dengan jalan darat menggunakan mobil memakan waktu kurang lebih 3 jam, kecepatan normal. Melalui jalur selatan, via jalan Trans Flores. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki ke Flores, sendirian pula. Hanya bertemu dengan beberapa kolega di Ende yang memandu saat di percetakan, dan setelah itu kembali sendiri melanjutkan perjalanan.

Bagaimana Mataloko? Hingga ½ perjalanan menuju kesana, saya masih belum ada bayangan selain yang katanya dingin dan berkabut. Rasa-rasanya lama sekali menunggu sampai, jalanan yang sepi penuh kelok, udara bersih dan bus kayu (truk sebenarnya, tapi penduduk sekitar menyebutnya bus kayu karena sebagai moda transportasi utama) seringkali berpapasan dengan anak-anak yang naik di atasnya. Kali pertama saya melihat, agak heran campur ngeri. Jalanan di Flores banyak yang berkelok, dan beberapa langsung jurang. Melihat keanehan dalam mimik saya, dan lalu pak supir tertawa “Disini biasa begitu nona. Nanti ada banyak lagi.” dan memang benar sih, sepanjang jalan bukan hanya satu dua, tapi beberapa. Lama-kelamaan saya terbiasa juga.

On The Way Mataloko, mulai kabut.
(Picture by : Yerinta)
Udara dingin mulai terasa (mungkin karena mulai sore) saat mobil memasuki wilayah Malanusa. Biasanya di Jawa, saya seringkali menutup kaca mobil saat perjalanan jarak jauh. Namun disini, mulai dari keluar kota Ende menuju Nangaroro hingga Mataloko, kaca mobil sengaja dibiarkan terbuka. Udara memang masih bersih dan sejuk. Dan saya sangat menikmati.

Sepanjang perjalanan, ada beberapa hal yang unik, dan baru pertama saya jumpai. Kepercayaan dan kekeluargaan disini terlihat masih sangat kental, mobil ini sempat berhenti – entah didaerah mana – dan pak supir meghampiri seorang remaja yang sudah duduk di undakan batu untuk mengambil barang, katanya untuk diantarkan. Tanpa alamat juga tanpa resi atau barcode untuk melacak barang. Gimana ceritanya engga nyasar? Kalau di Jawa sepertinya hal-hal begini sudah hilang sebelum sampai. Ada juga, ketika di dekat pasar (mungkin masih di wilayah Boawae?) ada dua perempuan paruh baya (disini biasa dipanggil mama) menunggu di pinggir jalan untuk menumpang, seperti menunggu colt kalau di kota-kota. Tapi pak supir ini tak mau dibayar, katanya karena sejalan, jadi tidak rugi juga. Wah hebat.
***
Ini kabut di Mataloko, bukan lokasi main Baseball Edward cs di Twillight 😝
(Picture by : Yerinta)
Memasuki daerah Todabelu yang semakin dekat dengan tujuan - Kemah Tabor Mataloko, langit mulai gelap. Tidak ada aktivitas di jalan-jalan, rumah warga yang terlihat berjauhan juga terlihat tidak banyak ada aktivitas. Udara semakin dingin, beruntungnya tidak ada kabut yang menghalangi jalan. Sekitar pukul 19.30 malam, mobil sampai di tempat tujuan. Memasuki halaman yang disambut dengan cemara tinggi-tinggi dan bulat, ikon khas Kemah Tabor. Cahaya temaram, sunyi, langit bertabur bintang. Malam itu saya tidak takut gelap. Usai berterimakasih dengan pak supir, kaki berjalan masuk, masih asing karena tidak tahu harus ke arah mana. Hingga akhirnya ada seorang bruder yang bertugas jaga dan memberikan kunci serta mengantarkan ke koridor tempat tinggal ayah. Saya disediakan kamar, persis sebelah kamar tugas ayah. Setelah itu baru Pater, pengelola Kemah Tabor datang menyambut untuk bergabung makan malam.

Tak butuh waktu lama. Detik itu saya tahu – kali ini saya telah jatuh cinta. Bukan dengan orang, tapi dengan suasana dan tak harus kota. Lalu, ada kejutan apa lagi setelah ini?

Journey

Mendadak Tamasya ke Toya Devasya

November 01, 2016

Demi menjaga kewarasan usai festival literasi yang menyita banyak pikiran dan tenaga, diri ini mengendapkan kebisingan dengan menepi ke sebuah kedai kopi. Bernama Seniman Coffee yang berada di Jalan Sriwedari, Ubud. Kafe ini sering dijadikan tempat kongkow bagi anak-anak festival, begitu kami menyebut. Hari itu saya bersama seorang kawan – yang panggilan kami bagai pinang dibelah dua. Janji sudah dibuat jam 9 pagi tadi, untuk menyelesaikan beberapa tugas dan pekerjaan. Celah waktu yang singkat saya enggan terlambat. Seniman Coffe ini bukan tempat pertama, sebelumnya kami sempat sarapan Nasi Campur di Babi Guling Gung Chung dilanjutkan dengan beberapa desert di Kakiang Bakery. Baru kemudian saat ingin ngopi, kami berpindah ke Seniman Coffee. Sudah tempat ketiga, dan pekerjaan belum juga selesai. Maksud hati menepi sejenak berubah jadi menumpuk penat. Lalu kawan saya spontan bilang, “Kalo siang gak beres-beres juga, ntar ke Kintamani aja yuk, ke air panas.” Saya masih dengan laptop, masih tak juga bergeming, kawan saya itu suka bercanda. Kemudian dia langsung menutup laptop dan mengambil kunci. “Ini seriusan? Belum kelar ini,” saya ragu. “Besok kan kamu sudah harus berangkat ke Bajawa. Habis nganter ke bandara paling besok aku hidden di kantor, nyelesaikan sisa kerjaan ini” balasnya lagi.

***

Dan memang kepergian tanpa rencana itu seringkali benar-benar terwujud tanpa wacana semata. Usai singgah sebentar ke homestay untuk mengambil beberapa keperluan saya, dan tempat tinggalnya untuk keperluan dia, kami nekat berangkat. Ini juga salah satu keuntungan tinggal di Bali, saat penat karena pekerjaan dan ingin menepi barang sejenak, banyak tempat-tempat menarik yang masih alami, seperti ke pantai, air terjun, perkebunan sayur atau bunga, danau, berendam air panas bahkan sekedar ke bukit-bukit menuju Pura. Objek-objek ini dikelola dengan baik, ditambah atmosfir yang mendukung. Maka tidak heran kalau saya masih percaya, the Island of God – ya karena hampir semua tempat, sesederhana apapun tetap indah, seperti diberkati Tuhan. Untuk menuju ke permandian air panas ini tidaklah terlalu jauh, kurang lebih 45 menit perjalanan santai. Masih banyak pepohonan rindang disepanjang jalan yang berkelok-kelok, menemani perjalanan kami menuju kesana. Hingga akhirnya terdapat petunjuk arah yang menunjukkan tempat tujuan.

***

Orang-orang biasa menyebutnya Toya Devasya. Berdekatan dengan si pionir, Toya Bungkah. Letaknya berada di dekat kaki Gunung Batur, atau berada di sebelah barat Danau Batur. Lokasi ini strategis, karena memang berada di bagian tengah Pulau Bali yang sebagian besar berupa dataran tinggi. Pilihan kabur ini tidak salah, karena secara kebetulan tempat ini memang pas untuk melepas lelah, sekedar bersantai sembari berendam di air panas alami ditengah sejuknya udara khas pegunungan Batur. Beruntung, hari itu bukan saat high-season atau weekend, even everyday is a holiday in Bali, tapi setidaknya suasana yang tidak begitu ramai membuat kami lebih bisa menikmati sensasi berendam dalam air panas. Sejauh mata memandang dari kolam, pemandian ini memberikan kenyamanan bagi para pengunjung untuk melakukan aktivitas berendam di kolam air panas. Ada banyak pilihan beragam jenis kolam dan ukuran, kali ini kami memilih kolam yang menghadap ke Danau Batur. Tak heran sih, kolam ini lebih banyak menjadi pilihan, karena dekat dengan kafe – akan memudahkan mereka yang ingin berendam sembari memesan minuman. Saya tipikal orang yang tidak bisa membawa makanan atau minuman dalam air, menikmati hangatnya air satu-satunya yang bisa dilakukan, dan lalu tercenung agak lama, sampai kawan saya bertanya, “Pernah dengar cerita tentang Kebo Iwa?”

***

Sambil menatap danau, kawan saya mulai bercerita. “Legenda Danau Batur tak lepas dari cerita tentang raksasa rakus yang bernama Kebo Iwa. Dulunya, Kebo Iwa ini baik, dia suka menolong penduduk desa dalam membangun rumah, mengangkat batu-batu yang besar, bahkan hingga menggali sumur. Tenaganya sangat besar, begitu pula porsi makannya. Sebagai imbalan, penduduk setempat secara rutin menyiapkan makanan karena Kebo Iwa memang suka makan banyak. Lama kelamaan, penduduk tidak bisa menyediakan makanan karena porsi yang semakin banyak. Maka mengamuklah Kebo Iwa, ia kemudian merusak apa saja yang ditemui, termasuk rumah penduduk, kebun hingga sawah. Hingga tibalah musim kemarau dan panen gagal. Penduduk semakin susah untuk mendapatkan makanan. Tentu berdampak kepada Kebo Iwa yang juga kelaparan. Lalu ia semakin merusak apa saja, termasuk Pura tempat ibadah. Tidak berhenti disitu, Kebo Iwa juga mengejar dan membunuh warga. Penduduk yang diliputi rasa takut kemudian muncul ide bagaimana caranya membunuh Kebo Iwa.

Penduduk yang dipimpin Kepala Desa mengadakan kesepakatan dengan Kebo Iwa. Isi kesepakatannya adalah apabila Kebo Iwa bisa memperbaiki rumah-rumah yang dirusak, maka akan disediakan makanan. Tak hanya rumah, tetapi jika Kebo Iwa bisa membuat sumur maka ia akan diberikan makanan dengan kuantitas yang lebih banyak lagi.

Mendengar hal tersebut, tentu saja Kebo Iwa setuju. Ia kemudian mulai menggali sumur besar. Sementara Kebo Iwa menggali, penduduk mengumpulkan batu kapur di pinggiran sumur. Meskipun Kebo Iwa sempat curiga soal batu-batu kapur itu, namun ia kembali fokus dengan yang dikerjakannya karena dijanjikan makanan yang lebih banyak. Kebo Iwa tetap menggali sumur sampai airnya keluar dan membanjiri tanah sekitarnya. Setelah pekerjaannya dirasa cukup banyak, Kebo Iwa istirahat dan menyantap makanan yang telah disediakan hingga mengantuk dan tertidur. Pada saat itulah, penduduk melemparkan batu-batu kapur ke arah Kebo Iwa yang terlelap, namun Kebo Iwa baru sadar saat air sudah tinggi. Kebo Iwa mati tenggelam, dan air itu akhirnya menjadi Danau Batur”.

***

Kawan saya selesai bercerita, dan saya baru dengar legenda itu. “Percaya dengan legenda itu?” ia meringis. “Keindahannya tak seperti yang kau khayalkan” Sambungnya lagi.

Kami memandang danau. Namun saya merasa menyatu dengan Danau Batur. Terlepas dari benar atau tidaknya, ada kisah dibalik keindahan Danau Batur. Ada nilai yang tidak sekedar tentang indahnya panorama serta ragam kuliner sekitar. Daya magis Danau Batur yang dikelilingi Gunung Batur dan Gunung Agung semakin menambah betah untuk berlama-lama berendam di Toya Devasya. Overjoyed. Secara teori, air hangat atau air panas lebih tahan dalam menyimpan kandungan padat dan tidak melarutkan. Tidak heran kalau sumber air panas, menyimpan berbagai kandungan mineral yang baik untuk kesehatan, terutama untuk kesehatan kulit. Masyarakat rupanya pandai melihat peluang, maka dibuatlah permandian air panas ini yang bertujuan untuk bisa mengembalikan tenaga para pendaki gunung manakala habis digunakan untuk trekking.

Keberuntungan semakin ditambah dengan langit biru yang cerah namun tidak terik, melembutkan hati untuk senantiasa bersyukur atas alam ciptaanNya sembari melihat jernihnya air danau. Tak lama saya terhenyak, dan menunjuk ke arah timur laut dari permandian. “Bagaimana caranya bisa kesana?” Ujaran yang akhirnya memecah lamunnya.

***

Itu Desa Trunyan. Kebanyakan wisatawan mengunjungi Desa Trunyan, sekedar ingin melihat mayat yang digeletakkan di bawah anyaman bambu dan ditaruh di bawah Pohon Taru Menyan. Tak ayal, pengunjung yang mendatangi Trunyan ini seringkali mendapatkan sensasi ngeri-ngeri-sedap saat melihat tengkorak berserakan di sekitar kuburan. Uniknya, jasad yang ditaruh di bawah pohon-pohon itu tidak mengeluarkan bau tak sedap. Padahal, sesungguhnya keunikan yang dimiliki oleh Trunyan karena masyarakat yang tinggal di sana adalah rumpun suku Bali Aga – subsuku yang menganggap diri mereka sebagai penduduk Bali yang asli. Karena di Bali ini ada dua suku, yaitu Bali Aga dan Bali Majapahit. Ia menceritakan lengkap dalam penjelasan sesingkat mungkin. Pemahaman khas anak desain, tidak bertele-tele, penuh visual, namun mampu terdeskripsi dengan baik. Nah, tentang ragam per-Bali-an dan suku-sukunya, akan saya kisahkan di lain post. Kenapa harus di lain post? Ya biar ber-series aja, kaya drakor 😛

Nampaknya si kawan ini bisa membaca raut wajah saya yang ingin bertualang kesana. Tanpa saya bercakap, dia kembali menjawab. “Iya deh, kedatanganmu kali lain kita pergi ke Desa Trunyan, ya.” Janji itu bak gayung bersambut. Saya suka jalan-jalan, begitupun dia – dan tentunya tawaran tidak akan ditolak. Hanya saja seringkali keinginan terkadang berbenturan dengan waktu, kesempatan juga biaya. Kalau saja tiket pesawat belum dipesan dan sewa tempat tinggal sudah diperpanjang, mungkin akan lebih mudah mendatangi Desa Trunyan entah besok atau lusa. Kalau saja kawan saya bisa membolos tanpa banyak ditanyai alasannya mungkin ia akan lebih banyak waktu yang meluang. Tapi pekerjaan, tidak bisa lagi ditunda. Unfortunately, later means never. Meski semesta enggan mewujudkan seperti keinginan. Komitmen bukan untuk main-main rupanya, meski janji terkadang mudah untuk diingkari. Karena setelah beberapa bulan usai keberangkatan saya dari Bali, ia pindah kerja di Ibukota.

Well, ada baiknya, manusia tidak berharap banyak. Sekalipun hanya tentang sebuah perjalanan.



Ps. Catatan perjalanan singkat ini sebelumnya baru tersimpan di agenda, sebelum akhirnya saya tuliskan dalam website.