![]() |
| Rumah Pengasingan Bung Karno, kini menjadi museum (Picture by : Yerinta) |
Ketidak-sengajaan saya membaca buku kala itu semacam pertanda (atau bukan) suatu hari nanti akan bisa napak tilas secara langsung. Siapa pula yang menyangka jika hari ini saya menuju Ende dengan penerbangan dari Denpasar. Bukan sekedar liburan (berharapnya, sih), tapi ada beberapa pekerjaan dan yang utama menyisihkan waktu mengunjungi ayah yang sedang bertugas di Mataloko. Iya, Mataloko, yang dibilang Alpen-nya Flores.
***
Ende adalah sebuah kota kecil di dekat laut. Meski begitu, kota Ende tidaklah datar. Banyak naikan-dan turunan yang menemani sepanjang jalan. Terik. Begitulah kesan pertama saat menginjakkan kaki di Bandara Hasan Aroeboesman. Meski dekat dengan banyak peristiwa sejarah, juga banyak peninggalan bersejarah; rasanya ingin cepat-cepat menyudahi tugas-tugas di Ende. Panas membuat imajinasi saya berhenti, dan otak hanya berpikir bagaimana menurunkan suhu dalam tubuh. Beruntung, pekerjaan selesai dalam waktu sesingkat mungkin. Usai dari Percetakan Arnoldus – nanti akan dituliskan secara khusus tentang megahnya percetakan ini – segera saya menuju mobil yang mengantarkan ke Mataloko. Here I Come!
Perjalanan dari Ende ke Mataloko dengan jalan darat menggunakan mobil memakan waktu kurang lebih 3 jam, kecepatan normal. Melalui jalur selatan, via jalan Trans Flores. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki ke Flores, sendirian pula. Hanya bertemu dengan beberapa kolega di Ende yang memandu saat di percetakan, dan setelah itu kembali sendiri melanjutkan perjalanan.
Bagaimana Mataloko? Hingga ½ perjalanan menuju kesana, saya masih belum ada bayangan selain yang katanya dingin dan berkabut. Rasa-rasanya lama sekali menunggu sampai, jalanan yang sepi penuh kelok, udara bersih dan bus kayu (truk sebenarnya, tapi penduduk sekitar menyebutnya bus kayu karena sebagai moda transportasi utama) seringkali berpapasan dengan anak-anak yang naik di atasnya. Kali pertama saya melihat, agak heran campur ngeri. Jalanan di Flores banyak yang berkelok, dan beberapa langsung jurang. Melihat keanehan dalam mimik saya, dan lalu pak supir tertawa “Disini biasa begitu nona. Nanti ada banyak lagi.” dan memang benar sih, sepanjang jalan bukan hanya satu dua, tapi beberapa. Lama-kelamaan saya terbiasa juga.
***
Perjalanan dari Ende ke Mataloko dengan jalan darat menggunakan mobil memakan waktu kurang lebih 3 jam, kecepatan normal. Melalui jalur selatan, via jalan Trans Flores. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki ke Flores, sendirian pula. Hanya bertemu dengan beberapa kolega di Ende yang memandu saat di percetakan, dan setelah itu kembali sendiri melanjutkan perjalanan.
Bagaimana Mataloko? Hingga ½ perjalanan menuju kesana, saya masih belum ada bayangan selain yang katanya dingin dan berkabut. Rasa-rasanya lama sekali menunggu sampai, jalanan yang sepi penuh kelok, udara bersih dan bus kayu (truk sebenarnya, tapi penduduk sekitar menyebutnya bus kayu karena sebagai moda transportasi utama) seringkali berpapasan dengan anak-anak yang naik di atasnya. Kali pertama saya melihat, agak heran campur ngeri. Jalanan di Flores banyak yang berkelok, dan beberapa langsung jurang. Melihat keanehan dalam mimik saya, dan lalu pak supir tertawa “Disini biasa begitu nona. Nanti ada banyak lagi.” dan memang benar sih, sepanjang jalan bukan hanya satu dua, tapi beberapa. Lama-kelamaan saya terbiasa juga.
![]() |
| On The Way Mataloko, mulai kabut. (Picture by : Yerinta) |
Sepanjang perjalanan, ada beberapa hal yang unik, dan baru pertama saya jumpai. Kepercayaan dan kekeluargaan disini terlihat masih sangat kental, mobil ini sempat berhenti – entah didaerah mana – dan pak supir meghampiri seorang remaja yang sudah duduk di undakan batu untuk mengambil barang, katanya untuk diantarkan. Tanpa alamat juga tanpa resi atau barcode untuk melacak barang. Gimana ceritanya engga nyasar? Kalau di Jawa sepertinya hal-hal begini sudah hilang sebelum sampai. Ada juga, ketika di dekat pasar (mungkin masih di wilayah Boawae?) ada dua perempuan paruh baya (disini biasa dipanggil mama) menunggu di pinggir jalan untuk menumpang, seperti menunggu colt kalau di kota-kota. Tapi pak supir ini tak mau dibayar, katanya karena sejalan, jadi tidak rugi juga. Wah hebat.
Memasuki daerah Todabelu yang semakin dekat dengan tujuan - Kemah Tabor Mataloko, langit mulai gelap. Tidak ada aktivitas di jalan-jalan, rumah warga yang terlihat berjauhan juga terlihat tidak banyak ada aktivitas. Udara semakin dingin, beruntungnya tidak ada kabut yang menghalangi jalan. Sekitar pukul 19.30 malam, mobil sampai di tempat tujuan. Memasuki halaman yang disambut dengan cemara tinggi-tinggi dan bulat, ikon khas Kemah Tabor. Cahaya temaram, sunyi, langit bertabur bintang. Malam itu saya tidak takut gelap. Usai berterimakasih dengan pak supir, kaki berjalan masuk, masih asing karena tidak tahu harus ke arah mana. Hingga akhirnya ada seorang bruder yang bertugas jaga dan memberikan kunci serta mengantarkan ke koridor tempat tinggal ayah. Saya disediakan kamar, persis sebelah kamar tugas ayah. Setelah itu baru Pater, pengelola Kemah Tabor datang menyambut untuk bergabung makan malam.
Tak butuh waktu lama. Detik itu saya tahu – kali ini saya telah jatuh cinta. Bukan dengan orang, tapi dengan suasana dan tak harus kota. Lalu, ada kejutan apa lagi setelah ini?
***
![]() |
| Ini kabut di Mataloko, bukan lokasi main Baseball Edward cs di Twillight 😝 (Picture by : Yerinta) |
Tak butuh waktu lama. Detik itu saya tahu – kali ini saya telah jatuh cinta. Bukan dengan orang, tapi dengan suasana dan tak harus kota. Lalu, ada kejutan apa lagi setelah ini?




