Standar Ganda Moralitas, Subjektif atau Objektif, Progresif atau Konservatif?
June 30, 2024![]() |
| Sumber Gambar : usatoday.com |
Siapakah kita hingga layak menghakimi? Tuhan-pun mengampuni atas kesalahan umatNya. Namun bagaimana jika tanya tak kunjung menemukan jawab? Tulisan yang sebatas coretan iseng atas kegelisahan yang masif terjadi belakangan ini. Mengapa bagi sebagian orang, gaya hidup open-relationship dianggap unlogic sementara kohabitasi seakan dinormalisasi, dan mungkin saja menjadi candu dengan dalih penjajakan sebelum memasuki jenjang yang lebih serius. Ketidaktahuan yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya ini tidak hadir untuk bisa digeneralisir, sebab belum tentu semua pandangan bisa menerima. Oleh karena itu, mencoba untuk melihat dari sudut pandang kritis terhadap paham liberal yang lekat dengan konsep kohabitasi. Buku karya David Allen berjudul Make Love Not War, sebagai pemantik atas rasa penasaran mengenai gaya hidup liberal yang kian menyebar secara random dalam kehidupan.
Kohabitasi Sebagai Bentuk Pembebasan Nilai Seksual Konservatif
Revolusi seksual adalah akar dari gaya hidup kohabitasi. Dikenal sebagai sebuah gerakan sosial yang menentang nilai-nilai tradisional terkait seksualitas dan relasi interpersonal di sepanjang belahan Amerika Serikat dari tahun 1960-an hingga 1980-an. Pembebasan secara seksual ini juga meliputi peningkatan penerimaan seks diluar hubungan monogami heteroseksual tradisional (terutama pernikahan), menormalisasi seksualitas alternatif seperti premarital-sex, hingga legalisasi aborsi. Revolusi seksual kemudian memuat unsur sekulerasi dan individualisasi yang paling kuat, sehingga melemahkan nilai-nilai agama hingga keluarga dalam bentuk sebuah institusi, karena agama sebetulnya yang menjadi lem untuk melindungi institusi keluarga. Kemudian, kohabitasi menjadi sebuah gaya hidup yang mulai muncul sekitar tahun 1960-an ketika terjadi revolusi seksual, sebagai sebuah bentuk protes dari kelompok anak muda pada saat itu (generasi Baby Boomers) terhadap kebijakan negara dan perpolitikan Barat yang terkesan sangat kaku dan menuntut mereka untuk terlibat dalam Perang Dingin. Bentuk protes yang ditunjukkan dengan lelahnya mereka usai melewati perang, hingga muncul anggapan bahwa Perang Dingin adalah sesuatu yang tidak lagi penting, siapa negara hingga mengatur keluarga dalam urusan prokreasi demi melanjutkan pembangunan demografis dan kepentingan ekonomi? Maka gerakan Make Love Not War, adalah bentuk protes terhadap negara yang berlanjut pada institusi sosial lain, termasuk pada institusi pernikahan. Hal ini menjadi puncak manifestasi dari pemikiran liberalisasi seksualitas dan postmodern di peradaban Barat, begitu kurang lebih kata Foucault.
Kohabitasi lekat dalam sebuah pemahaman untuk hidup bersama antara laki-laki dan perempuan sebelum terikat dalam institusi pernikahan. Sebuah pilihan yang dinormalisasikan, sebab menjadi sebuah proses uji-coba atau sebuah konsensus bersama untuk tidak masuk dalam hubungan yang permanen secara legal. Sebelum adanya revolusi seksual, kehidupan masyarakat di Barat masih mengikuti nilai-nilai keluarga dan pernikahan secara konvensional (heteronomatif laki-laki dan perempuan). Namun setelah terjadi revolusi seksual, tren kohabitasi seakan menjadi sebuah fenomena yang dinormalisasi hingga kemudian berlanjut pada relasi-relasi lain yang sifatnya terbuka, open-relationship misalnya. Liberalisasi seksualitas, nyatanya menyebabkan semakin cairnya sebuah komitmen, seks menjadi sebuah komoditas yang dapat ditukar, negosiasi tanpa sebuah hubungan komitmen yang permanen “hingga maut memisahkan”. Bagaimana mungkin, jika mereka yang menganggap diri konservatif memilih untuk hidup dengan cara liberal?
Melihat jauh ke belakang, di Barat sendiri sekulerisme tidak terjadi karena sains, sebab sains tidak menggantikan agama hingga kehidupan keluarga. Terbukti ketika revolusi industri dan perkembangan ekonomi; ilmuwan seperti John Locke, Issac Newton dan Blaise Pascal yang masih menjunjung nilai agama hingga nilai-nilai dalam keluarga yang konvensional. Lebih lanjut, sekulerisme Prancis yang menggantikan otoritas agama sebagaimana yang dilakukan oleh Auguste Comte karena terjadinya pergolakan politik di negara yang dulunya kental dengan absolutisme agama. Sekulerisme dan proses individualisasi yang melatarbelakangi gaya hidup kohabitasi berakar dari revolusi seksual. Sebab, selama ratusan tahun berkembangnya sains dan teknologi, toh nyatanya tidak menggeser nilai agama dan keluarga konvensional. Kemudian, dalam kurun waktu 1960-an hingga 1970-an, revolusi seksual dan teknologi yang menghasilkan alat kontrasepsi telah berhasil mendekonstruksi institusi keluarga dan nilai agama yang menopangnya. Sebab satu-satunya institusi yang melarang premarital-sex dan menopang kehidupan keluarga sampai kepada tatanan yang paling personal dan seksual adalah agama. Jika keluarga saja bisa mengalami dekonstruksi, demikian juga dengan nilai agama. Karena selain agama, institusi sosial manakah yang dapat memberi legitimasi bahwa kehidupan seksual haruslah berkomitmen?
Kohabitasi memang bukan sesuatu yang bermasalah sebab masih memungkinkan adanya sebuah komitmen antar laki-laki dan perempuan (sebelum ditemukan legalitas dalam upacara pernikahan). Akan tetapi, konotasi di balik kata kohabitasi dalam gaya hidup masyarakat Barat menunjukkan makna yang lebih dalam bahwa kehidupan pernikahan sudah tidak lagi diikat dalam sebuah komitmen yang sama dengan sebelumnya, dan relasi antarindividu dibangun berdasarkan dua elemen: (1) preferensi individu (suka atau tidak suka), dan (2) konsensus (kesepakatan untuk hidup bersama). Sekali lagi, preferensi dan konsensus - itu menunjukkan bahwa proses pertukaran tubuh (sexual intercourse) tidak lagi menjadi sebuah momen untuk membangun relasi yang permanen, tetapi hanyalah sebuah performa atau seleksi yang perlu dilakukan secara terus-menerus tanpa henti untuk menjual tubuh(ku) dan membeli rekognisi dari partner(ku) - itu pun belum tentu dapat dijamin akan bebas dari rasa bosan hingga muncul ketidakpuasan; itulah sebabnya kohabitasi merupakan jalan keluar yang cukup direkomendasikan bagi mereka yang menganut paham : young wild and free.
Normalisasi Praktik Kohabitasi, Siapa yang Dirugikan?
True freedom can only be found in commitment; I don't have to act or perform in certain ways or in astonishing ways to please my partner. I am already accepted as I am. Di tengah permasalahan seperti ini, orang mengalami kepasrahan. Daripada sulit mendapatkan kualitas relasi yang utuh dalam komitmen yang permanen yang juga menyebabkan kesulitan, maka dari situ mulai mucul sebuah relasi pernikahan dalam sebuah hubungan transaksional yang impermanen namun dikompensasikan dalam kuantitas yang lebih banyak, dan juga dianggap tidak menyakitkan. Kohabitasi dianggap sebagai salah satu jalan keluar yang dapat mencegah terjadinya individu terlarut dalam hubungan pernikahan yang kompleks tanpa adanya aturan yang mengikat secara utuh.
Berbeda dengan generasi tua yang memandangnya sebagai sebuah pergeseran ke arah negatif, generasi muda cenderung menganggap pola hidup bersama justru menunjukkan pandangan mereka tentang perkawinan sebagai sesuatu yang sakral dan serius. Perkawinan yang terjadi antara dua orang dangan latar belakang dan kebiasaan yang berbeda bukanlah sesuatu yang mudah karena harus ada proses sebelumnya yang membuat mereka berdua bisa saling memahami dan mengerti satu sama lain. Hidup bersama memungkinkan mereka mengenal pasangan lebih dalam sehingga ketika mereka menikah tidak terlalu sulit untuk melakukan adaptasi. Ada kecenderungan bahwa keputusan hidup bersama sebagai dalih atas latihan awal sebelum memasuki jenjang pernikahan, dianggap sebagai sebuah pembenaran. Bagi generasi milenial, pernikahan bukan sebatas tanda tangan di atas akte perkawinan, namun lebih dari itu sebuah bentuk komitmen hidup bersama sampai akhir hayat. Bisa jadi maraknya kasus kawin cerai menjadi pertimbangan generasi milenial untuk tidak menikah muda, mengingat bahwa perkawinan bukan sesuatu yang sepele sehingga ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Beberapa riset mengenai kohabitasi yang marak terjadi di kalangan generasi muda di Indonesia, menghasilkan temuan bahwa mereka memilih untuk kohabitasi sebagai keputusan hidup bersama dengan pacar sebagai bagian dari belajar menikah, sebab dalam masa hidup bersama; mereka bersepakat melakukan pembagian tugas yang dibayangkan di masa depan. Anggapan bahwa kesadaran ini menarik karena secara tidak langsung merupakan pemikiran yang transformatif sekaligus anti-tesis terhadap adat dan tradisi di masa lalu. Mirisnya, bahwa kohabitas telah menjadi fenomena yang biasa, secara khusus di kalangan anak muda yang berpikiran kosmopolit, seperti perantau yang ‘jauh’ dari keluarga. Bahkan, ada yang mengamini bahwa kohabitasi lebih baik daripada open-relationship, sebab bisa menekan resiko penyakit kelamin seperti HIV/AIDS, sebab aktivitas seksual dalam praktik kohabitasi hanya dilakukan dengan pasangan sendiri. Tentu, selalu akan ada pembenaran-pembenaran yang dilontarkan, jika hal tersebut menyangkut hal-hal privat secara personal yang menyangkut pilihan secara subjektif, tanpa pikir panjang.
Kohabitasi vs Ideologi dan Sebuah Kontradiksi
Pada tahun 1984 silam, Kelompok Dasakung melakukan riset angket mengenai premarital-sex di Yogyakarta. Hingga ditemukan, bahwa suara terbanyak mengangkat ada tiga motif yang melatarbelakangi aktivitas kohabitasi, yaitu: Pertama, adanya pergeseran di dalam memaknai hakikat perkawinan. Kedua, adanya anggapan bahwa cinta, seks, dan pernikahan adalah urusan pribadi. Ketiga, tidak ada sanksi hukum yang tegas terhadap pelaku kohabitasi, ditambah lagi kesulitan ekonomi menjadi salah satu alasan bahwa dengan hidup bersama maka bisa memangkas pegeluaran yang tadinya dilakukan sendiri-sendiri menjadi dibagi dua. Pilihan yang diputuskan di awal seringkali tidak dibarengi dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk di akhir, sebab dalam berinteraksi manusia selalu mempertimbangkan cost (biaya atau pengorbanan) dengan reward (penghargaan atau manfaat) yang diperoleh dari interaksi tersebut. Jika cost tidak sesuai dengan reward-nya, maka salah satu pihak yang mengalami disertasi seperti ini akan merasa kesal dan menghentikan interaksinya, sehingga hubungan sosialnya akan mengalami kegagalan. Teori Pertukaran yang dikemukakan oleh Homans dimana ia mencoba menjelaskan perilaku sosial mendasar dilihat dari sudut hadiah dan biaya. Kohabitasi tetaplah menjadi akar yang meresahkan jika tidak didasari oleh konsep yang matang, sebab kohabitasi bisa tumbuh sebagai perbuatan yang menyimpang dari nilai-nilai ang eksis dalam kehidupan sehari-hari, sehingga justru bisa menjadikan runtuh. Bagaimana bisa terjadi? Melihat dari sudut pandang moral, dalam praktiknya; kohabitasi bisa menjadi faktor kriminogen terjadinya tindak pidana, seperti tindak kekerasan baik fisik maupun psikis, traumatik hingga depresi hingga aborsi. Siapakah yang akan bertanggung-jawab ketika hal tersebut terjadi?
Coba perhatikan baik-baik bagaimana generasi muda Indonesia sangat mudah terpapar dan menyedot nilai-nilai global tanpa mengkritisinya terlebih dahulu. Lalu, bagaimana dengan masyarakat Barat mengalami kesulitan dan mengakui bahwa revolusi seksual telah menyebabkan banyak kesulitan dalam berelasi dan membangun komunitas keluarga? Tanpa pernah berpikir, mengapa kita harus mengikuti langkah mereka. Meski tidak berarti bahwa fanatisme agama adalah jawaban yang tepat untuk menjawab tantangan globalisasi. Agama bukanlah sebuah jawaban yang memuaskan jika pada akhirnya agama diperalat, hingga membawa Indonesia pada situasi sosial-politik seperti Arab Spring. Religiusitas bukanlah kesakralan, sebab kesakralan berbicara soal relasi dan keutuhan dalam berkomitmen dan menghargai komitmen dalam kehidupan berkeluarga. Nyatanya berdasarkan bukti statistik dan analisis sosiologis, masyarakat Barat telah gagal dalam mempertahankan peradaban mereka oleh sebab revolusi seksual dan gaya hidup yang melemahkan institusi pernikahan. Apabila institusi keluarga mengalami pelemahan secara masif, maka dalam waktu 30–50 tahun (1 hingga 2 generasi), masyarakat akan mengalami kemunduran, hingga kepercayaan atau modal sosial akan menurun dan individu akan tidak lagi memiliki dorongan untuk berelasi secara serius. Kesakralan komitmen hanya berdasar tuntutan sosial, bukan lagi kesadaran secara personal.
Jika pada sebuah negara yang berdiri dengan konsep dan ideologi yang matang maka dapat berjalan dengan baik; mungkin akan goyah jika pelakunya tidak lagi sejalan dengan dasar yang ditanamkan. Namun bagaimana menjalankan praktik relasi yang berseberangan dengan nilai hidup yang tertanam secara ideologis? Tanpa adanya antisipasi, kohabitasi seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Maka akan menjadi aneh jika dalam praktik kohabitasi dianggap normal, sementara tren lain seperti LGBTQ, Open-relationship seperti cela. Karena sesungguhnya kesemuanya itu adalah praktik hidup liberal, lawan dari dari bentuk relasi dalam ideologi yang konservatif.







