Berkali Konflik Gajah dengan Manusia, Mampukah Ekososialisme Menjadi Solusi Atas Ekosida?
February 29, 2024![]() |
| Keterangan : Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatrensis) - sumber foto : Antara News |
Menanggapi konflik yang berkali terjadi antara manusia dengan gajah, seakan tidak menemukan titik temu. Perilaku eksploitatif sumber daya alam telah membawa dampak pada krisis lingkungan dengan resiko yang tinggi bagi keseimbangan ekosistem. Gejala ini telah terjadi dan meluas, tidak saja dalam konteks domestik, namun juga dalam skala yang lebih luas bahkan global. Baru-baru ini, konflik yang terjadi antara pekerja perusahaan sawit dengan Gajah Sumatera yang disebabkan karena lahan sawit yang rusak akibat sekelompok gajah yang melintas, menjadi tanda bagi kita semua untuk semakin sadar terhadap permasalahan-permasalahan yang tumpul ke atas. Masalah ini bukan kali pertama, namun telah kesekian dan kemungkinan akan kembali terjadi.
Secara historis, kesadaran tentang perkembangan kondisi lingkungan hidup secara global telah muncul kurang lebih 50 tahun yang lalu, bahkan era dalam membangun komitmen dan kepedulian lingkungan secara global memiliki tonggak bersejarah melalui konferensi Stockholm pada tahun 1972. Setelahnya, berbagai konferensi lantas diadakan sebagai bagian dari evaluasi internasional terhadap pengelolaan lingkungan hidup, diantaranya melalui konferensi Nairobi pada tahun 1982, KTT Bumi tahun1992, World Summit in Sustainable Development tahun 2002, hingga isu lingkungan dan perubahan iklim juga menjadi salah satu agenda dalam KTT G-20 di Indonesia. Namun, sejauh mana wacana kesadaran dan narasi yang terbentuk menjadi aksi nyata dalam perubahan kesadaran dan gerakan akan lingkungan yang setara?
Superioritas Manusia dan Akar Keserakahan
Sejarah panjang perkembangan manusia dalam kemunculan evolusi, pada akhirnya bisa menjadi faktor terpenting dalam kemunculan konsep antroposentrisme atau humanosentrisme, dimana manusia memposisikan diri sebagai spesies terkuat atau dengan kata lain supremasi manusia atas alam sekitar. Paradigma ini, alam (atau apapun di luar manusia) tentu menjadi subordinasi dari manusia; hal tersebut menjadi sesuatu yang dianggap benar ketika alam mesti diatur dan direkayasa sedemikian rupa untuk menunjang proses kehidupan manusia. Revolusi industri di Inggris, membangun perkembangan teknologi dan pengetahuan dan perkembangan masyarakat dalam perspektif Marxian. Hal tersebut dibangun dengan logika yang sama, yaitu : penekanan penuh terhadap produksi untuk kebutuhan manusia, sembari terus menjalankan proses akumulasi kapital. Konfirmasi atas hancurnya alam itu sendiri melalui perlbagai pembangunan masif industri seperti perkebunan yang mengalienasi hewan lain dari habitat asalnya (dalam kasus ini adalah gajah) serta ekosistem di sampingnya, termasuk manusia itu sendiri.
Narasi Pokok dalam Ekososialisme
Dalam salah satu esai berjudul What is Ecosocialism? yang ditulis oleh Michael Lowy, seorang sosiolog Marxist asal Brazil, mengungkap secara paradigmatik ekososialisme adalah : “… a current of ecological thought and action that appropriates the fundamental gains of Marxism while shaking off its productivity dross” atau yang ketika diartikan merupakan sebuah tradisi dari pemikiran dan tindakan ekologikal yang menyesuaikan kemajuan fundamental marxisme, sembari melempar jauh tradisi produktifisme-nya. Berangkat dari penafsiran tersebut, maka bisa dilihat bahwasanya ekososialisme yang mendasarkan diri kepada Marxisme tentunya memiliki spirit yang sama, yakni melawan kapitalisme yang merusak tatanan sosial serta alam. An Ideology that sees productivity in itself as the highest good, akan menafikan permasalahan ekologis, karena dengan sendirinya rasionalitas dari produktivisme itu akan selalu bertentangan dengan rasionalitas logis untuk memproteksi alam.
Berkaitan dengan nilai tukar suatu komoditas dalam perspektif kapitalisme, James O’Connor dalam esainya pada buku Natural Causes; menunjukan bahwa ekososialis akan cenderung menggunakan teori dan gerakan yang berusaha untuk mensubordinasikan nilai tukar ke nilai guna dengan cara mengorganisasikan produksi sebagai fungsi dari kebutuhan sosial dan kebutuhan untuk proteksi terhadap lingkungan. Karena memiliki semangat sosialisme marxian, ekososialisme kemudian memiliki cita-cita terhadap sebuah masyarakat yang memiliki kepemilikan kolektif terhadap alat produksi dan kesetaraan sosial yang demokratis, sehingga masyarakat ekologis mampu menjaga kelestarian yang bersifat ekologis.
Organisasi ekososialis dunia, dalam Deklarasi Belem (yang ditandatangani pada KTT Amazon tahun 2023); menggambarkan bahwa ekososialisme berbasiskan kepada ekonomi non-moneter karena memiliki keadilan sosial serta keseimbangan ekologi. Ekososialisme muncul sebagai respon atas sosialisme produktivis serta ekologi pasar pada abad ke-20. Oleh karena itu, sosialisme dalam cita-cita marxian dengan meredefinisi tujuan serta memasukkan bingkai ekologis dan juga demokrasi yang pasrtisipatoris. Selanjutnya, dalam langkah praksis; ekososialisme akan menjalankan perubahan sosial dengan langkah revolusioner dengan cara : mengadakan pembatasan terhadap pertumbuhan industrial yang merusak sembari mentransformasi kebutuhan manusia untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan dengan tidak konsumeris, dan hal yang sejalan dengan ekonomi yang memiliki nilai guna bagi keberlangsungan hidup individu dan masyarakat – bukan sekedar berbasiskan pada nilai tukar.
Lantas, Siapa yang Akan Bergerak?
Gerakan dengan corak ekososialisme di Indonesia, nampaknya memiliki kesamaan tujuan yang sama, yaitu menentang sistem kapitalisme, dimana melakukan penghisapan terhadap buruh dan pengrusakan terhadap alam. Oleh karenanya, selama hal tersebut masih berjalan, maka artinya tidak akan ada ketercapaian ruang hidup dengan tujuan yang sama, yakni : ruang sosial yang egaliter, demokratis, serta harmonis terhadap alamnya. Bagaimana keberlanjutan mengenai kehidupan dapat terus berjalan bilamana tidak ada perjuangan mengenai visi tentang masyarakat yang harmonis dengan alam berdasarkan perspektif bahwa : spesies lain dan ekosistem alam merupakan mitra dalam takdir yang sama?
Potret kehancuran alam di Indonesia kian parah. Belum lama ini penghancuran serta pembabatan hutan dengan cara dibakar, mengakibatkan bencana nasional, yaitu : kabut asap dan banjir di Sumatera, serta konflik antara Gajah dam manusia yang disebabkan oleh kerusakan lahan akibat alih fungsi dari hutan menjadi perkebunan. Bencana tersebut tentu mengurangi kualitas lingkungan hidup, selain juga tentu memakan korban karena dampak yang dihasilkannya. Legitimasi pemerintah atas corak pembangunan kapitalistik sudah tidak perlu lagi dipertanyakan. Karena bercorak kapitalistik, maka logika yang dengan pasti dibangun adalah akumulasi kapital sebesar-besarnya serta kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi. Privatisasi serta ekspliotasi seakan telah menjadi bahan bakar yang lumrah dalam era pertumbuhan kapital.
Pembangunan berkelanjutan namun tetap mementingkan perkembangan dari potensi rakyat, nampaknya menjadi ilusi belaka. Hal yang terjadi, justru : pembangunan eksploitatif dengan meghisap segala sumber daya yang ada untuk kemudian dijadikan komoditas. Jika hal tersebut telah terjadi sebegitu masifnya, maka daripada itu; penting kiranya jika memulai untuk mendekonstruksi ulang paradigma lama secara radiks, untuk melihat alam dan manusia itu sendiri. Juga sembari menyadari diri sendiri bahwa sistem kapitalisme di titik ini telah merampas ruang-ruang kehidupan manusia beserta alam, pada sisi lainnya. Hingga, ekososialisme menjadi penting untuk diselami, dalam lautan paradigma serta praksisnya.
nb. #BuahPikir yang secara random ditulis ditengah malam kala mata tak mampu terlelap


0 comments