Cerita Lagu

Everyday Life - Little Things in Between Jordania and Another Tour Around Asia

November 22, 2019

Hari itu, saya mendapatkan jadwal masuk kantor pagi (fyi, saya bekerja di sektor public-service, sehingga ada sistem shift dalam jadwal masuk), dan saat pulang di sore hari, saya tidak pulang sendiri seperti biasa, karena teman saya berjanji untuk menjemput sekaligus ingin mengambil beberapa barangnya yang tertinggal di rumah beberapa hari yang lalu.

Beruntung, sore itu cerah. Seakan langit mampu membaca isi hati saat itu, hahaha. Sebelum menuju rumah, ia sempat menawarkan untuk mampir makan dulu di kedai makan langganan dekat kantor kami masing-masing. “Tumben, ngajakin mampir sini dulu” saya nyeletuk sambil meniup-niup teh panas agar segera dapat diminum, “Agar tidak kelaparan dan merepotkanmu sesampai di rumah nanti” Katanya. “Baiklah” jawab saya singkat, tanpa basa-basi dan langsung menyantap hidangan makanan di depan, yang tidak ringan tidak juga berat. Usai makan, dan menaiki kendaraan, ia sempat nyeletuk “Kamu tau gak, tadi ini aku habis dari Jordania....” katanya dengan semangat ’45. Saya hanya menanggapnya bercanda, dan kemudian melanjutkan perjalanan pulang. “Beneraaaaan..... kamu gak percaya banget sih sama aku” sambungnya lagi. 

Siapa yang menyangka, sesampainya di rumah, sore itu pertama kalinya kami bersama-sama menonton live-streaming band favorit kami, Coldplay. 
*** 

Masih terpukau dan diluar bayangan bahwa band sekelas Coldplay akan menggelar konser live-streaming perdana di tempat yang tidak pernah banyak orang bayangkan – Amman, Jordania. Pemilihan lokasi itu bukan tanpa alasan, Coldplay memilih situs bersejarah Citadel sebagai saksi perjalanan karier bermusik, karena mereka beranggapan bahwa tempat itu memiliki nilai-nilai seni dan budaya yang kental. 

Ada satu pendapat salah satu personil Coldplay yang menurut saya “I Couldn’t asking for more”-lah ya istilahnya. Saat itu Chris Martin, sang vokalis bertutur bahwasannya saat ini senjata perang tidak lagi melulu menggunakan senapan atau alat peledak lainnya, namun juga bisa menggunakan musik. What. Wagelaseeeeh, kalo ini! Pernyataannya, meskipun tetap membuat saya overwhelmed, tapi saya tidak kaget-kaget amat, pasalnya usai berpisah dari Gwyneth, Chris ini memang sering menggunakan musik sebagai senjata untuk memerangi kesedihan akibat perpisahannya itu.

Di konser perdana virtualnya ini, Coldplay berkolaborasi dengan YouTube Originals, untuk menyuguhkan dua pertunjukan. Dan hari ini (Jumat, 22 November 2019) — adalah hari dimana mereka secara resmi merilis si album terbaru, Everyday Life.
Untuk penampilan pertama mereka di Yordania, Coldplay  menggambarkan album baru mereka dengan konser Sunrise yang dimulai pukul 04:00 GMT (11:00 WIB) dan disusul konser Sunset pada 14:00 GMT (21:00 WIB). Dalam penampilannya, Coldplay membagi peluncuran album kedelapannya tersebut menjadi dua sesi, yakni sesi Sunrise dan Sunset, yang mana album tersebut memang terbagi menjadi dua bagian.
Pemilihan waktu yang juga menjadi dasar pembagian side dalam satu format album, merupakan ide yang briliant. Sunrise dan Sunset adalah bagian dari satu hari yang dimana waktunya tidak berdurasi panjang, seperti Siang dan Malam. Namun, Sunrise dan Sunset mengantarkan keindahan yang singkat, juga sebagai penanda waktu yang mengantarkan kita untuk masuk dalam tahap selanjutnya. Sebagaimana Sunrise datang mengawali sepanjang siang hingga mengantarkan kepada Sunset yang menyiapkan kita untuk bertemu malam yang kelam. 

Kita dapat menikmati konser Live-Streaming itu langsung di You Tube, seperti yang pernah mereka katakan saat menggelar Press-Conference yang juga digelar dengan ide yang unik. “Dua siaran langsung ini adalah impian kami sejak kami pertama kali mulai mengerjakan album ini,” jelas Coldplay dalam rilisan pers. “Ini agak mustahil dan sedikit menakutkan, seperti semua impian terbaik yang ada. YouTube adalah tempat yang sempurna untuk itu.” 
***

Saya pribadi seperti bisa membaca keinginan Coldplay yang ingin menunjukan kegelisahan nurani, dengan menampilkan dua sisi yang saling berbeda namun berada dalam satu poros yang sama, keindahan dan kengerian dalam satu titik kehidupan.
Jika kita telah melihat indahnya dunia dengan segala warnanya pada album “A Head Full of Dreams” pada tahun 2015. Melalui album “Everyday Life”, Coldplay akan menunjukan kita sisi kengerian dan dan keindahan dalam kehidupan melalui perpaduan simponi dan lirik pada setiap track yang bermakna. Dan saat lagu-lagu ini didengarkan dengan jeli, maka kita akan mendengar berbagai lagu yang bercerita tentang kepercayaan, isu ras, perang, bencana yang terjadi karena hubungan manusia dengan orang di sekitarnya. Serta bagaimana kita-semua seharusnya bersikap menghadapi segala perbedaan tersebut. 

Saat penampilannya di waktu subuh, Coldplay menyajikan delapan lagu untuk sesi Sunrise, di antaranya adalah “Daddy”, “Church”, “WOTW/POTP”, “Trouble in Town”, “Broken”, “Arabesque”, dan ditutup dengan “When I Need a Friend”. Sebagai track pembuka, Sunrise menyuguhkan kita sebuah instrumen orkestra yang didominasi dengan penampilan violin solo dengan nada otentik ala Timur Tengah. 

Bagian album berikutnya, “Sunset”, dibuka dengan track “Guns”. Dengan aransemen musik gitar akustik yang teknikal dan up beat, Chris Martin menyanyikan lirik yang menggambarkan obsesi orang Amerika dengan senjata api yang telah memakan banyak korban dan menimbulkan kekacauan. Tidak berselang lama, lagu dilanjutkan dengan track “Orphan” yang terinspirasi dari perang saudara di Suriah, khususnya pada peristiwa Damascus Bombing pada tahun 2018. Gaya ‘casual’ juga terdengar kembali pada track “Cry, Cry, Cry” yang berkolaborasi dengan Jacob Collier. Begitu pula pada track “Old Friends” dengan musik gitar akustik dan lirik tentang kerinduan pada teman lama. Mendekati akhir album, “Children of Adam” merupakan track instrumental yang dipadukan dengan puisi dengan judul yang serupa, karya pujangga asal Persia, Saadi Shirazi.

Konser Live-Streaming malam itu ditutup dengan lagu “Everyday Life” yang menjadi kesimpulan dari pesan yang ingin Coldplay sampaikan pada dunia melalui album mereka. Dengan konten lagu yang penuh dengan ironi dan kegetiran, Coldplay dengan mudah merangkumnya dalam sebuah aransemen musik yang ceria. Bunyi bom yang mengerikan dijadikan salah satu referensi track di album ini. Perpaduan unsur etnik dan chord-chord yang menciptakan melodi yang baru dan segar. 

Secara keseluruhan, Everyday Life merupakan konsep album yang terdengar seperti kehidupan sehari-hari. Setiap track dalam album ini menyampaikan berbagai pesan seputar kepercayaan, perang, isu rasial, dan bagaimana kita seharusnya bersikap menghadapi segala perbedaan tersebut. Dalam album ini, seakan Coldplay menyampaikan untuk kita, bahwa kita bisa mendegarkan kehidupan sehari-hari, dimana orang berdoa memuji Tuhan sesuai kepercayaan masing-masing, jalanan dengan anak-anak bermain dan berlarian, suara hujan, ocehan kebencian dan perdamaian, semuanya terasa hidup melalui lagu-lagu dengan aransemen yang otentik dan efek-efek suara dari kehidupan sehari-hari. 

Sehari sebelum mereka menggelar Konser Live-Streaming, Christ Martin mengatakan bahwa mereka belum menjadwalkan tur untuk album ini, hingga mereka meyakini bahwa konser-tur mereka bermanfaat untuk lingkungan sekitar. 
*** 

Diadakan atau tidak, tetap sama-sama tidak akan melihat live-konsernya. Khayalan untuk menonton konser Live Coldplay tidak akan pernah kesampaian.
Pertama, karena saya pasti tidak akan bisa sepenuhnya menikmati jalannya konser mengingat akan banyak sekali orang-orang yang datang memenuhi stadium. Ekspektasi saat sebelum di lokasi konser dengan setelah tiba di lokasi konser akan berbeda, karena saya pernah merasakannya, dan akan pikir-pikir lagi saat ingin menonton konser secar Live.
Kedua, kalaupun saya mampu bertahan menonton dalam kebisingan, saya tidak ingin menonton sendirian, dan pastinya teman saya yang bersama-sama menonton Live-Streaming konser saat ini, tidak bisa menemani karena keterbatasan waktu juga kesempatan.
Jadi, saya harus cukup berpuas diri untuk dapat menonton konser Coldplay sebatas Live-Streaming di channel You Tube, saat ini, bersama teman saya, sambil menikmati beberapa potong Pie Susu dan kopi panas yang kian menghangat, sembari melihat matahari di Jordania yang kembali ke peraduan, perlahan-lahan. 

Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, apakah kamu percaya bahwa itu tidak bermakna? 
*** 

Saya berani taruhan bahwa antara Coldplay dan Paus Fransiskus tidak sedang membuat janji untuk sama-sama berkunjung ke wilayah Asia dengan satu misi, kemanusiaan

Di saat Coldplay melakukan konser secara live-streaming di Amman-Jordania, tepat saat Paus Fransiskus melakukan kunjungan ke Thailand. Kedatangan Paus Fransiskus di Thailand, merupakan kunjungan ketiga di Benua Asia.
Namun selama Bapa Suci menjabat sejak 2013 silam, bisa dikatakan ini adalah kunjungan Paus pertama selama hampir 40 tahun terakhir yang mengunjungi negara Asia Tenggara (setelah Pontiff terakhir yang berkunjung adalah mendiang Paus Yohanes Paulus pada 1984). Kekaguman Paus Fransiskus mengenai negara Thailand kali ini, salah satunya adalah sebagai negara yang multietnis. Bukan tanpa makna, kedatangan Paus asal Argentina terang saja menimbulkan kegairahan secara spiritual bagi kalangan umat Katolik di Thailand, hingga mereka memadati jalanan. Sesungguhnya, baik Paus Fransiskus dan Coldplay sama-sama membawa satu misi bagi animo masyarakat yang sama, yang dalam lingkup tentang harapan dan perdamaian. 
Paus saat bertemu dengan saudara sepupunya Sr. Ana - seorang biarawati misionaris
yang mendapatkan tugas perutusan di Thailand.
(Picture by : Doc Jawa Pos)

Diantara hingar-bingar tentang kunjungan kepausan di Thailand, ada yang membuat diri ini semakin berdecak kagum tentang sosok yang brilian namun tetap rendah hati, adalah latar belakang masa kecil Paus Fransiskus. Tidak banyak yang tahu tentang masa kecilnya, dan karena saya selalu merasa tergelitik dengan masa kecil seseorang, ada beberapa artikel yang saya baca kemudian rangkum dalam sebuah catatan kecil. Salah satunya yang menarik adalah tentang relasi Paus Fransiskus dengan salah seorang saudari-sepupunya yang menjadi biarawati - bernama Ana Rosa Sivori. Suster Ana adalah seorang biarawati misionaris di Thailand yang telah bertugas selama 54 tahun silam. Pertemuan itu menjelma seperti reuni kecil sebuah keluarga yang telah lama tidak lagi berjumpa. Meskipun terpisah jarak dan kesibukan yang cukup jauh, relasi itu selalu terhubung dengan komunikasi cara lama yang masih eksis hingga saat ini - dengan berkirim surat, bukan dengan email sebagaimana umumnya orang-orang jaman sekarang berkomunikasi. Jorge, begitulah nama kecil Paus Fransiskus. Saat pertemuan di Thailand, rupanya Suster Ana juga masih menggunakan sapaan akrab disaat Paus Fransiskus baru saja turun dari pesawat, “Hola Jorge. Como estas? Que lindo que estas aqui en Tailandia!” yang berarti : Halo Jorge. Apa Kabar? Ini sangat mengagumkan bahwa sekarang kau berada di Thailand. 

Perjalanan misi dari Vatikan – dan konser perdana di Amman – kedatangan di Thailand – dan kemudian berakhir di Japan, dua sosok yang berbeda, dengan satu misi yang sama, Perdamaian – bukankah ini rangkaian dari suatu kebetulan? 
*** 

Menyenangkan bukan, saat misi-mu untuk kebaikan orang lain diterima dengan baik, serta saat kedatanganmu di tanah yang sama sekali asing disambut dengan hangat? 

Tapi ada juga baiknya, sebelum kau berbuat kebaikan untuk orang lain, berbuatlah baik setidaknya untuk dirimu sendiri. Sebelum kau menyebarkan pesan damai untuk orang lain, berdamailah terlebih dahulu dengan dirimu sendiri.

Cerita Film

Omelet di Pagi Hari dan Teman Imaji dalam Sunday at Tiffany’s

November 02, 2019

Hari itu datang juga. Di Minggu pagi yang hangat dan malas. Ada yang masih enggan beranjak dari kamar, semalam masih dipakai untuk transit sementara, sehingga sang empunya harus mengungsi. Dengan masih setengah mengantuk aku menuruni tangga perlahan-lahan sembari mengumpulkan kesadaran. Ingin membersihkan sisa pesta semalam, pesta perpisahan – pesta kepindahan. Jarak memang tidaklah jauh, namun rutinitas akan semakin menjarakkan itu. Beberapa telah kembali, seseorang masih di sini.
“Tadi mereka sudah berangkat” katanya.
Iya, ia tahu karena membuka-tutupkan pagar. Lalu kemudian berencana untuk ikut berangkat, dengan menitipkan kunci di bawah kursi. Tapi mendengar suara air di toilet lantai atas, membuatnya urung dan memilih untuk duduk, menunggu hingga seseorang lain turun.
Kaki telah menginjak anak tangga terakhir, langkah berlanjut menuju dapur. Sengaja aku tidak menoleh kepadanya, atau menahan seperti biasanya. Namun ia mampu membaca sendu.
“Aku pamit pulang, ya” ujarnya perlahan.
“Pulang, lah” kataku datar.
Ia tahu, ada yang keberatan. Meskipun dalam diamku juga tak pernah kutampakkan.
Senyumnya tipis, namun kutahu itu merekah.

Kaki melangkah pelan, masih dengan tujuan utama, menuju dapur. Membuka jendela, membiarkan udara pagi masuk. Sinar matahari juga sedang hangat.
Tidak juga kudengar suara-suara hendak beranjak. Ia masih duduk di kursi yang sama, dekat dengan ruang makan. Dari dapur, agak kukeraskan suara “Tidak jadi pulang?” aku menengok sebentar, pertanyaan sekaligus harapan yang terjadi adalah sebaliknya. Nampaknya ia tahu yang aku inginkan pagi itu. “Buatkan saya sarapan dulu, langkahnya mendekatiku”.
Aku gemas, sekaligus puas. Ia tahu yang aku mau, waktu.
Ego ini masih juga tinggi, “Buat sendiri, saya baru akan membuatkanmu setelah urusan makanan kedua anjingku selesai.”. Ia tahu sedang dikerjai dengan seseorang yang lebih muda, jiwa patriarkalnya kembali muncul. Tidak senang, namun juga menikmati. Ia membuatku geli hingga akhirnya aku mengalah dan membiarkannya kembali duduk manis di meja makan sementara aku kembali ke dapur.

Tanpa ada persiapan apapun. Stok makanan di kulkas juga menipis, kali ini harapan terakhir adalah lemari kayu penyimpan makanan kaleng. Ada tuna kaleng, beberapa gram oregano dan basil. Bingung hendak diapakan bahan-bahan setengah matang ini. Langkah kemudian kembali ke kulkas. Beruntung masih ada ada tiga butir telur dan keju mozzarela juga kentang. “Omelette saja, ya?” kataku dari dapur, meminta persetujuan kalau-kalau ia ingin yang lain. “Omellete, apa itu?”, jawabnya polos. Seketika aku ingin tertawa, nadanya sengaja dibuat seperti keponakannya yang baru saja belajar berbicara. Enggan menjelaskan, “Telur Dadar!” kataku kemudian.


Egg Omelette
( picture by : Pinterest )

***
Aroma butter mewangi ke ruang makan, sudah dengan kopi hangat yang baru saja selesai diseduh. Seperti anak kecil yang menantikan hadiah, ia tak sabar menyantap sarapan Omellete perdana-nya. Jiwa kanak-kanak kami kembali muncul. Bagaikan dua sisi mata uang, masing-masing dari kami selalu menunjukkan kemampuan dan kedewasaan saat bertemu dengan banyak orang, namun saat semesta hanya dimiliki berdua, rasa-rasanya baik aku ataupun dia lebih nyaman dengan bersikap biasa-biasa saja, layaknya anak-anak. Bagai Jane dan Michael dalam Sunday at Tiffany’s. Sebuah film dengan genre drama yang diangkat dari sebuah Novel. Bisa dibilang usia film ini telah cukup lama yang rilis di akhir tahun 2010, tentu dengan nuansa Natal yang kental.
***
Sunday at Tiffanys’s bercerita tentang kehidupan Jane Claremont (Alyssa Milano) yang tergila-gila dengan teman imajinernya. Banyak yang cemas, termasuk Ibunya Vivian Claremont (Stockard Channing). Sang ibu bahkan sering mengirim putrinya untuk terapi karena kecemasannya. ia cemas anaknya mengalami ganngguan psikis akibat perceraiannya yang pahit.  Perceraian yang merenggut semua harapan dan cinta. Sementara Jane sendiri kurang kasih sayang dari ibunya dan ia haus akan perhatian karena kesibukan Vivian sebagai produser Broadway. Lagipula, Vivian menghabiskan terlalu banyak waktu dengan pekerjaan dan kesibukan bersama dengan suami barunya.
Di sela kesepiannya, Jane bertemu dengan Michael (Eric Winter) — sang kawan imajinernyaa. Michael kecil dengan optimismenya mencoba meyakinkan Jane bahwa cinta sejati ada. Fyi, believe or not, dalam film tersebut menceritakan bahwa Michael adalah seorang teman imajiner yang secara acak ditugaskan untuk anak-anak yang merasa kesepian seperti Jane. Namun sayangnya tidak ada satupun orang dewasa yang sanggup melihat keberadaan Michael. Dan teman imajiner itu akan pergi dan menghilang setelah anak yang ia temani telah berusia sembilan tahun.
Malam Natal tiba, yang sekaligus merupakan ulang tahun Jane ke-9. Ibunya membawa Jane ke Toko Tiffany di Kota New York untuk membelikan hadiah untuk Jane. Sementara Ibunya berkeliling, Jane mencoba mengambil sebuah cincin berlian berwarna kuning, dan Michael – yang kala itu juga ikut pergi – mengatakan bahwa Jane telah beranjak dewasa karena sebentar lagi memasuki usia 9 tahun, dan ia akan meninggalkan dia pada pukul 5.15, tepat saat waktu kelahirannya. Jane yang masih belum mengerti apa-apa yang dikatakan oleh Michael, memohonnya untuk tetap tinggal bersamanya. Tetapi Michael tetap berangkat, dan Jane kecil hancur.

Scene saat Jane dan Michael masih kecil
(Picture by : IMDB)

Dua puluh tahun berselang. Jane kecil itu telah dewasa. Ia telah menjalin kasih dengan Hugh Morrison (Ivan Sergel), mereka telah bertunangan. Hugh merupakan seorang aktor televisi terkenal, egois dan juga selalu mementingkan urusan pribadi serta karir. Berbeda dengan Michael yang dulu selalu ada untuknya dan mengerti apa yang Jane inginkan. Kepergian Michael membawa luka dalam bagi Jane, sehingga ia mengikuti langkah-langkah ibunya dulu untuk menjadi manajer teater untuk membantu debut teater Hugh –tunangannya.
Suatu hari, seorang lelaki dewasa bernama Michael (kembali) muncul pada saat musim dingin, mengatakan padanya bahwa ia adalah kawan imajinernya di masa lalu. Awalnya, Jane sempat tidak percaya, dan Jane berpikir bahwa Michael dewasa ini adalah seorang penguntit dan penipu – yang mungkin menginginkan peran dalam sebuah drama yang akan ia kerjakan. Hingga kemudian Michael meyakinkan identitasnya dengan menceritakan semua hal-hal tentang masa lalu-nya. Jane akhirnya  tidak bisa memungkiri bahwa Michael adalah kawan imajinernya di masa lalu, satu yang berbeda adalah – kini Michael bisa dilihat oleh orang lain, bukan hanya oleh Jane saja.
Keduanya kembali bertukar cerita, hingga Michael terkejut karena Jane telah banyak berubah. Jane tidak lagi mengejar cita-citanya pada waktu kecil dulu – untuk menjadi seorang penulis. Namun Jane justru meyakinkan Michael bahwa ia telah dewasa dan melepaskan beberapa impiannya di masa kecil. Jane kembali sibuk dengan pekerjaannya dan proses rencana pernikahannya yang melelahkan. Dan sebagaimana Michael kecil yang selalu mendampingi Jane – Michael dewasa kini tidak bisa pergi lagi sampai ia membantu Jane dengan apa yang seharusnya Jane inginkan.
Pada suatu hari, Michael membuntuti Jane yang sedang dinner bersama Hugh. Tanpa basa-basi, Michael langsung ikut bergabung dengan Jane dan Hugh tanpa dipersilahkan. Mereka bertiga, berbincang-bincang tentang hubungan Jane dan Michael di masa kecil dulu. Tak lupa Michael menghadirkan pertanyaan-pertanyaan kecil kepada Hugh, tentang makanan favorit Jane misalnya. Pertanyaan-pertanyaan itu bagi Hugh, adalah pertanyaan bodoh dan tidak penting. Saat dimana Hugh tidak bisa menjawab, maka Michael menyimpulkan bahwa Jane dan Hugh tidak mengenal pribadi satu sama lain dengan baik, dan juga kurang serasi sebagai calon pengantin. Setelah makan malam mereka usai, Michael lagi-lagi mengikuti Jane ke rumahnya, dan ia kembali merasakan hal yang berbeda.
Jika saat mereka kecil dulu, Jane dan Michael tidur bersama – maka, sekarang Michael harus tidur di kursi sofa. Malam berikutnya, Michael ikut bergabung di pentas panggung Hugh dan Vivian. Sang Ibu – Vivian, sempat merasa ngeri, saat Michael memperkenalkan dirinya sebagai kawan imajiner Jane pada waktu kecil dulu, terlebih saat Michael juga mengatakan bahwa dia selalu berusaha untuk melindungi Jane dengan kasih sayangnya yang besar. Michael merasa bahwa Jane telah menjadi pahit atas segala apa yang menimpanya dulu. Michael pun kemudian memberikan pelukan yang tulus kepada Vivian di akhir pertemuannya.
Di luar dugaan, Jane mulai meragukan pilihannya bersama dengan Hugh, terlebih saat persiapan pernikahan, karena yang ia tahu tentang Hugh haruslah sempurna. Jane mulai bimbang, karena dalam kekalutannya Michael selalu hadir, selayaknya saat ia kecil dulu – termasuk saat Jane memilih gaun pengantin yang sempurna dengan bantuan Michael. Jane kembali dilemma, di saat itulah, Jane kemudian memberitahu Michael bahwa dirinya telah melakukan kesalahan, dan bahwa ia dan Michael tidak  akan pernah bisa menjalin relasi dalam bentuk apapun lagi, karena mereka sudah mulai asyik mengulang kejadia-kejadian semasa kecil dan telah lebih dekat kembali dari sebelumnya. Jane mengatakan kepada Michael bahwa selama ini mereka telah bersenang-senang bersama, namun Jane kini bukan lagi gadis kecil yang dulu pernah ia kenal, dan dengan berat hati Jane dan Michael harus saling pergi. Bukan tanpa alasan, permintaan Jane ini bermula ketika suatu malam Hugh memasuki apartemen Jane, dan menyela mereka saat Jane dan Michael asyik bermain perang bantal, hingga keduanya membuat Hugh cemburu. Hugh akhirnya menuntut Jane agar mengakhiri kontak dengan Michael.
Jane hidup dalam dilema, setelah kembali ke kehidupannya dengan Hugh, Jane semakin yakin bahwa dia tidak mencintai Hugh – terlebih Hugh terlalu egois dengan dirinya sendiri. Sementara Hugh pergi syuting film, di Los Angeles, Jane menghubungi Michael yang kini bekerja di sebuah restoran. Jane dan Michael menyambung relasi antara keduanya, dan menghabiskan malam pertama mereka bersama-sama dengan sangat erat. Saat Jane mengatakan ia telah kembali bahagia, Michael mengatakan bahwa ia harus pergi, lagi. Kembali patah hati, Jane meyakinkan bahwa dia tidak akan berpikir dua kali untuk mengingat kenangan bersama dengan Michael, jika saat itu Michael memang benar-benar harus pergi.


Waktu terus berjalan hingga tiba waktu dimana pesta pernikahan Jane dan Hugh dimulai. Namun siapa yang menyangka bahwa Jane memilih untuk pergi meninggalkan Hugh ditengah acara pernikahannya karena ia masih jatuh cinta dengan Michael. Waktu hampir menunjukkan pukul 5.15 saat malam Natal, dan Jane berlari ke Tiffany untuk menemukan Michael. Jane melakukan tepat pada waktunya, dan mengakui cintanya kepada Michael. Tetapi Michael justru mengatakan bahwa ia harus pergi – sungguh amat menyedihkan bagi Jane yang telah kesekian kali ditinggalkan oleh Michael.

Sampai akhirnya Jane keluar toko dengan perasaan patah hati, namun kemudian Michael kembali muncul dan mengakui cintanya untuk Jane. Michael dengan jujur berkata bahwa ia membutuhkan Jane, dan ia memberikan cincin berlian kuning impian Jane – persis seperti keinginannya saat waktu kecil dulu.
***
Mungkin akan banyak yang bingung dengan plot film Sunday at Tiffany’s yang terkesan khayal, karena menggunakan alur cerita yang seperti time-travel. Meskipun bisa dibilang ulasan itu hanyalah secuil gambaran tentang film Sunday at Tiffany’s. Sekilas, warna ceritanya mirip dengan film The Lake House. Plot cerita yang menguji logika kita dengan permainan setting waktu. Sementara Sunday at Tiffany’s ini merupakan sebuah film drama percintaan yang mungkin jarang dilihat sebelumnya.

Bermula dari novel dengan genre roman yang ditulis oleh James Patterson dan Gabrielle Charbonet ini memang terkesan klasik, dan sedikit usang. Hingga kemudian rasa kagum kian bertambah dengan kisah cintanya yang tidak biasa dan akhirnya menyukai bentuk lain kisahnya yang tertuang dalam film. Bagaimana tentang perjuangan cinta sejati dicerminkan melalui perjuangan di kedua belah pihak, Jane dan Michael – bukan hanya salah satunya saja. Bagaimana Jane rela membatalkan pernikahannya demi Michael, dan juga bagaimana Michael rela untuk tidak lagi bisa kembali ke dunia dimana ia berasal demi Jane. Tentang bagaimana mereka bedua, Jane dan Michael denga jujur dan tanpa malu bertingkah seperti layaknya anak-anak demi sebuah kebahagiaan yang hakiki. Tidak ketinggalan ada satu hal lagi, satu hal yang pernah diajarkan oleh Michael kepada Jane, tentang bagaimana peraturan dibuat hanya untuk dilanggar. Tentu masih ingat kan, hal itu dikatakan oleh Michael ketika Jane ragu untuk melakukan sesuatu yang membahagiakan, namun sekaligus juga melanggar.

Film ini terlalu keren! Kalau saja seandainya semua orang tidak perlu sok dewasa dan egois, kebahagiaan tidak akan sulit didapatkan, meski terkadang harus melanggar peraturan. Sebagai penutup, ada tambahan sebuah kutipan indah dari seorang filsuf bernama Arthur Schopenhauer, bahwa “Agar hidup bahagia, maka hiduplah seperti kanak-kanak”
***

Kami pagi itu bagaikan Jane dan Michael, yang bersukacita ketika  menemukan kebahagiaan di masa kecil. Namun saat telah mendapatkan bahagia itu juga sekaligus harus melepas dengan pergi satu sama lain.
Omelette telah hampir habis. Ia meminta nasi, masih lapar katanya. Ia mengakui perutnya sangat Indonesia sekali. Sementara pagi itu sarapan ala western. “Bukan seperti itu cara makan Omelette” kataku enggan mengambilkan nasi, “Oatmeal aja, ya”.. “Sama-sama bikin kenyang, kok”, ujarku meyakinkan.
Ia tidak menjawab, namun juga tidak menolak. Saat itu kami sama-sama kehabisan bahan pembicaraan. Aku kembali ke dapur, memasak Oatmeal, sembari menunggu matang demi memecah rasa sepi, aku menyalakan musik. Lagu Coldplay yang terbaru, mengalun pelan. Pintu belakang masih terbuka, si Putih tidak biasanya menyalak galak padanya. Bercandaan yang tidak lucu beberapa bulan lalu, rupanya masih terekam dengan jelas. Nampaknya sulit sekali menghilangkan kesalah-pahaman, antara manusia dengan hewan satu ini. Ia merasa takut sekaligus rindu, bermain-main dengan si Putih yang sesungguhnya menggemaskan, “It’s okay.. that’s okay, I’m okay....” katanya sembari mengikuti alunan lagu yang baru selesai terputar itu. Tanpa kusadari ia menggumam, “Saya tahu Putih, memang sulit rasanya tidak bisa berbicara langsung, ingin bicara tapi tak bisa...” suaranya yang biasa cenderung bass dan dominan, kini terdengar samar-samar. Saat aku memintanya untuk mengulang untuk memperjelas, ia enggan. Berbicara dengan si Putih yang aku tahu sesungguhnya itu bukan untuk si Putih.
Intimasi yang tidak intens itu pada akhirnya harus disudahi. Kesadaran akan rutinitas yang membuat masing-masing diri untuk beranjak, bahwa saat itu kami memang tidak sedang hidup dalam imajinasi. Ia sesungguhnya ada, dan nyata. Bukan hanya ada dalam imaji semata. Ia ada dan nyata, namun seringkali imaji ini sendiri yang membuat ia terasa maya.