Everyday Life - Little Things in Between Jordania and Another Tour Around Asia
November 22, 2019
Hari itu, saya mendapatkan jadwal masuk kantor pagi (fyi, saya bekerja di sektor public-service, sehingga ada sistem shift dalam jadwal masuk), dan saat pulang di sore hari, saya tidak pulang sendiri seperti biasa, karena teman saya berjanji untuk menjemput sekaligus ingin mengambil beberapa barangnya yang tertinggal di rumah beberapa hari yang lalu.
Beruntung, sore itu cerah. Seakan langit mampu membaca isi hati saat itu, hahaha. Sebelum menuju rumah, ia sempat menawarkan untuk mampir makan dulu di kedai makan langganan dekat kantor kami masing-masing. “Tumben, ngajakin mampir sini dulu” saya nyeletuk sambil meniup-niup teh panas agar segera dapat diminum, “Agar tidak kelaparan dan merepotkanmu sesampai di rumah nanti” Katanya. “Baiklah” jawab saya singkat, tanpa basa-basi dan langsung menyantap hidangan makanan di depan, yang tidak ringan tidak juga berat. Usai makan, dan menaiki kendaraan, ia sempat nyeletuk “Kamu tau gak, tadi ini aku habis dari Jordania....” katanya dengan semangat ’45. Saya hanya menanggapnya bercanda, dan kemudian melanjutkan perjalanan pulang. “Beneraaaaan..... kamu gak percaya banget sih sama aku” sambungnya lagi.
Siapa yang menyangka, sesampainya di rumah, sore itu pertama kalinya kami bersama-sama menonton live-streaming band favorit kami, Coldplay.
***
Masih terpukau dan diluar bayangan bahwa band sekelas Coldplay akan menggelar konser live-streaming perdana di tempat yang tidak pernah banyak orang bayangkan – Amman, Jordania. Pemilihan lokasi itu bukan tanpa alasan, Coldplay memilih situs bersejarah Citadel sebagai saksi perjalanan karier bermusik, karena mereka beranggapan bahwa tempat itu memiliki nilai-nilai seni dan budaya yang kental.
Ada satu pendapat salah satu personil Coldplay yang menurut saya “I Couldn’t asking for more”-lah ya istilahnya. Saat itu Chris Martin, sang vokalis bertutur bahwasannya saat ini senjata perang tidak lagi melulu menggunakan senapan atau alat peledak lainnya, namun juga bisa menggunakan musik. What. Wagelaseeeeh, kalo ini! Pernyataannya, meskipun tetap membuat saya overwhelmed, tapi saya tidak kaget-kaget amat, pasalnya usai berpisah dari Gwyneth, Chris ini memang sering menggunakan musik sebagai senjata untuk memerangi kesedihan akibat perpisahannya itu.
Di konser perdana virtualnya ini, Coldplay berkolaborasi dengan YouTube Originals, untuk menyuguhkan dua pertunjukan. Dan hari ini (Jumat, 22 November 2019) — adalah hari dimana mereka secara resmi merilis si album terbaru, Everyday Life.
Untuk penampilan pertama mereka di Yordania, Coldplay menggambarkan album baru mereka dengan konser Sunrise yang dimulai pukul 04:00 GMT (11:00 WIB) dan disusul konser Sunset pada 14:00 GMT (21:00 WIB). Dalam penampilannya, Coldplay membagi peluncuran album kedelapannya tersebut menjadi dua sesi, yakni sesi Sunrise dan Sunset, yang mana album tersebut memang terbagi menjadi dua bagian.
Pemilihan waktu yang juga menjadi dasar pembagian side dalam satu format album, merupakan ide yang briliant. Sunrise dan Sunset adalah bagian dari satu hari yang dimana waktunya tidak berdurasi panjang, seperti Siang dan Malam. Namun, Sunrise dan Sunset mengantarkan keindahan yang singkat, juga sebagai penanda waktu yang mengantarkan kita untuk masuk dalam tahap selanjutnya. Sebagaimana Sunrise datang mengawali sepanjang siang hingga mengantarkan kepada Sunset yang menyiapkan kita untuk bertemu malam yang kelam.
Kita dapat menikmati konser Live-Streaming itu langsung di You Tube, seperti yang pernah mereka katakan saat menggelar Press-Conference yang juga digelar dengan ide yang unik. “Dua siaran langsung ini adalah impian kami sejak kami pertama kali mulai mengerjakan album ini,” jelas Coldplay dalam rilisan pers. “Ini agak mustahil dan sedikit menakutkan, seperti semua impian terbaik yang ada. YouTube adalah tempat yang sempurna untuk itu.”
***
Saya pribadi seperti bisa membaca keinginan Coldplay yang ingin menunjukan kegelisahan nurani, dengan menampilkan dua sisi yang saling berbeda namun berada dalam satu poros yang sama, keindahan dan kengerian dalam satu titik kehidupan.
Jika kita telah melihat indahnya dunia dengan segala warnanya pada album “A Head Full of Dreams” pada tahun 2015. Melalui album “Everyday Life”, Coldplay akan menunjukan kita sisi kengerian dan dan keindahan dalam kehidupan melalui perpaduan simponi dan lirik pada setiap track yang bermakna. Dan saat lagu-lagu ini didengarkan dengan jeli, maka kita akan mendengar berbagai lagu yang bercerita tentang kepercayaan, isu ras, perang, bencana yang terjadi karena hubungan manusia dengan orang di sekitarnya. Serta bagaimana kita-semua seharusnya bersikap menghadapi segala perbedaan tersebut.
Saat penampilannya di waktu subuh, Coldplay menyajikan delapan lagu untuk sesi Sunrise, di antaranya adalah “Daddy”, “Church”, “WOTW/POTP”, “Trouble in Town”, “Broken”, “Arabesque”, dan ditutup dengan “When I Need a Friend”. Sebagai track pembuka, Sunrise menyuguhkan kita sebuah instrumen orkestra yang didominasi dengan penampilan violin solo dengan nada otentik ala Timur Tengah.
Bagian album berikutnya, “Sunset”, dibuka dengan track “Guns”. Dengan aransemen musik gitar akustik yang teknikal dan up beat, Chris Martin menyanyikan lirik yang menggambarkan obsesi orang Amerika dengan senjata api yang telah memakan banyak korban dan menimbulkan kekacauan. Tidak berselang lama, lagu dilanjutkan dengan track “Orphan” yang terinspirasi dari perang saudara di Suriah, khususnya pada peristiwa Damascus Bombing pada tahun 2018. Gaya ‘casual’ juga terdengar kembali pada track “Cry, Cry, Cry” yang berkolaborasi dengan Jacob Collier. Begitu pula pada track “Old Friends” dengan musik gitar akustik dan lirik tentang kerinduan pada teman lama. Mendekati akhir album, “Children of Adam” merupakan track instrumental yang dipadukan dengan puisi dengan judul yang serupa, karya pujangga asal Persia, Saadi Shirazi.
Konser Live-Streaming malam itu ditutup dengan lagu “Everyday Life” yang menjadi kesimpulan dari pesan yang ingin Coldplay sampaikan pada dunia melalui album mereka. Dengan konten lagu yang penuh dengan ironi dan kegetiran, Coldplay dengan mudah merangkumnya dalam sebuah aransemen musik yang ceria. Bunyi bom yang mengerikan dijadikan salah satu referensi track di album ini. Perpaduan unsur etnik dan chord-chord yang menciptakan melodi yang baru dan segar.
Secara keseluruhan, Everyday Life merupakan konsep album yang terdengar seperti kehidupan sehari-hari. Setiap track dalam album ini menyampaikan berbagai pesan seputar kepercayaan, perang, isu rasial, dan bagaimana kita seharusnya bersikap menghadapi segala perbedaan tersebut. Dalam album ini, seakan Coldplay menyampaikan untuk kita, bahwa kita bisa mendegarkan kehidupan sehari-hari, dimana orang berdoa memuji Tuhan sesuai kepercayaan masing-masing, jalanan dengan anak-anak bermain dan berlarian, suara hujan, ocehan kebencian dan perdamaian, semuanya terasa hidup melalui lagu-lagu dengan aransemen yang otentik dan efek-efek suara dari kehidupan sehari-hari.
Sehari sebelum mereka menggelar Konser Live-Streaming, Christ Martin mengatakan bahwa mereka belum menjadwalkan tur untuk album ini, hingga mereka meyakini bahwa konser-tur mereka bermanfaat untuk lingkungan sekitar.
***
Diadakan atau tidak, tetap sama-sama tidak akan melihat live-konsernya. Khayalan untuk menonton konser Live Coldplay tidak akan pernah kesampaian.
Pertama, karena saya pasti tidak akan bisa sepenuhnya menikmati jalannya konser mengingat akan banyak sekali orang-orang yang datang memenuhi stadium. Ekspektasi saat sebelum di lokasi konser dengan setelah tiba di lokasi konser akan berbeda, karena saya pernah merasakannya, dan akan pikir-pikir lagi saat ingin menonton konser secar Live.
Kedua, kalaupun saya mampu bertahan menonton dalam kebisingan, saya tidak ingin menonton sendirian, dan pastinya teman saya yang bersama-sama menonton Live-Streaming konser saat ini, tidak bisa menemani karena keterbatasan waktu juga kesempatan.
Jadi, saya harus cukup berpuas diri untuk dapat menonton konser Coldplay sebatas Live-Streaming di channel You Tube, saat ini, bersama teman saya, sambil menikmati beberapa potong Pie Susu dan kopi panas yang kian menghangat, sembari melihat matahari di Jordania yang kembali ke peraduan, perlahan-lahan.
Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, apakah kamu percaya bahwa itu tidak bermakna?
***
Saya berani taruhan bahwa antara Coldplay dan Paus Fransiskus tidak sedang membuat janji untuk sama-sama berkunjung ke wilayah Asia dengan satu misi, kemanusiaan.
Di saat Coldplay melakukan konser secara live-streaming di Amman-Jordania, tepat saat Paus Fransiskus melakukan kunjungan ke Thailand. Kedatangan Paus Fransiskus di Thailand, merupakan kunjungan ketiga di Benua Asia.
Namun selama Bapa Suci menjabat sejak 2013 silam, bisa dikatakan ini adalah kunjungan Paus pertama selama hampir 40 tahun terakhir yang mengunjungi negara Asia Tenggara (setelah Pontiff terakhir yang berkunjung adalah mendiang Paus Yohanes Paulus pada 1984). Kekaguman Paus Fransiskus mengenai negara Thailand kali ini, salah satunya adalah sebagai negara yang multietnis. Bukan tanpa makna, kedatangan Paus asal Argentina terang saja menimbulkan kegairahan secara spiritual bagi kalangan umat Katolik di Thailand, hingga mereka memadati jalanan. Sesungguhnya, baik Paus Fransiskus dan Coldplay sama-sama membawa satu misi bagi animo masyarakat yang sama, yang dalam lingkup tentang harapan dan perdamaian.
![]() |
| Paus saat bertemu dengan saudara sepupunya Sr. Ana - seorang biarawati misionaris yang mendapatkan tugas perutusan di Thailand. (Picture by : Doc Jawa Pos) |
Diantara hingar-bingar tentang kunjungan kepausan di Thailand, ada yang membuat diri ini semakin berdecak kagum tentang sosok yang brilian namun tetap rendah hati, adalah latar belakang masa kecil Paus Fransiskus. Tidak banyak yang tahu tentang masa kecilnya, dan karena saya selalu merasa tergelitik dengan masa kecil seseorang, ada beberapa artikel yang saya baca kemudian rangkum dalam sebuah catatan kecil. Salah satunya yang menarik adalah tentang relasi Paus Fransiskus dengan salah seorang saudari-sepupunya yang menjadi biarawati - bernama Ana Rosa Sivori. Suster Ana adalah seorang biarawati misionaris di Thailand yang telah bertugas selama 54 tahun silam. Pertemuan itu menjelma seperti reuni kecil sebuah keluarga yang telah lama tidak lagi berjumpa. Meskipun terpisah jarak dan kesibukan yang cukup jauh, relasi itu selalu terhubung dengan komunikasi cara lama yang masih eksis hingga saat ini - dengan berkirim surat, bukan dengan email sebagaimana umumnya orang-orang jaman sekarang berkomunikasi. Jorge, begitulah nama kecil Paus Fransiskus. Saat pertemuan di Thailand, rupanya Suster Ana juga masih menggunakan sapaan akrab disaat Paus Fransiskus baru saja turun dari pesawat, “Hola Jorge. Como estas? Que lindo que estas aqui en Tailandia!” yang berarti : Halo Jorge. Apa Kabar? Ini sangat mengagumkan bahwa sekarang kau berada di Thailand.
Perjalanan misi dari Vatikan – dan konser perdana di Amman – kedatangan di Thailand – dan kemudian berakhir di Japan, dua sosok yang berbeda, dengan satu misi yang sama, Perdamaian – bukankah ini rangkaian dari suatu kebetulan?
***
Menyenangkan bukan, saat misi-mu untuk kebaikan orang lain diterima dengan baik, serta saat kedatanganmu di tanah yang sama sekali asing disambut dengan hangat?
Tapi ada juga baiknya, sebelum kau berbuat kebaikan untuk orang lain, berbuatlah baik setidaknya untuk dirimu sendiri. Sebelum kau menyebarkan pesan damai untuk orang lain, berdamailah terlebih dahulu dengan dirimu sendiri.


0 comments