Cerita Film

Persinggahan dan Perpisahan : Bukan Panduan

March 19, 2024

Dulu sekali, saya pernah menonton film genre komedi-romantis, berjudul You’re The Apple of My Eye, sebuah film ringan dengan kisah yang dalam. Meski berakhir bahagia, namun ada kesedihan dibaliknya. Dan, saya juga termasuk yang jarang menangis ketika menonton film drama, tapi entah kenapa pada film tersebut, saya mudah menjadi sedih, tak lama kemudian air mata membasahi pipi. Terkadang, menjadi heran karena perasaan sedih itu muncul begitu saja, atau mungkin sebuah pertanda. Entahlah. Karena, tidak lama setelah itu; apa yang terjadi pada film tersebut – menjadi pengalaman yang saya alami secara nyata, pada awal-awal masa kuliah. Waktu berlalu, dan manusia bertumbuh. Kita menjadi peka, lalu belajar merasa, atas perasaan-perasaan yang pernah ada atau dianggap tiada.

***

Mempelajari film secara otodidak, terutama kajian budaya dalam film, atau mengkaji film-film yang terutama dokumenter, membuat saya menjadi kurang menyukai genre fantasi, baik fantasi romantis maupun dalam genre lain. Karena fantasi jelas menciptakan ilusi, yang membuat kita menjadi lelah untuk kembali ke dunia nyata.

Lagi-lagi, prolog film dibuka dengan latar belakang kota Yogyakarta, yang konon katanya; adalah kota pelajar. Film menjadi erat bertalian dengan sastra, karena seperti tidak menemukan jawaban dari judul yang ditawarkan. Jika memang berpisah adalah ujung dari kisah mereka dalam dilm, lantas; bagaimana sesungguhnya panduan untuk mempersiapkan perpisahan itu?

Yogyakarta dikenal dengan kota romantis, tak jarang menjadi persinggahan bagi mereka yang konon katanya mencari ketenangan atas hidup. Menjauhi riuh, dan hiruk-pikuk. Sementara, Yogyakarta sendiri menjadi jawaban atas pencarian mereka. Memang benar, riuh menjadi tidak terdengar, namun berisik dalam pikiran. Pertemuan-pertemuan di Jogja – begitu nickname dari Yogyakarta; khas dengan kesederhanaannya. Yang meski terasa biasa saja, namun dapat menjadi kisah romantis yang menghangatkan rasa. Kita telah terbiasa dengan konstruksi dan narasi yang membentuk kota Jogja dengan cara meromantisasi kisah-kisah yang terbangun didalamnya. Padahal, seyogyanya, belum tentu kita sendiri mampu bertahan dengan kondisi demikian. Akan tetapi, setidaknya; hal tersebut yang ingin ditunjukkan dalam film berjudul “Panduan Mempersiapkan Perpisahan” – sebuah romansa visual terbaru oleh Adriyanto Dewo yang diadaptasi dari sebuah buku dengan judul Eminus Delore.

Adalah Bara (Daffa Wardhana), seorang penulis fiksi dan puisi, yang bertemu dengan Demi (Lutesha). Pertemuan tanpa sengaja, berawal dengan sederhana yang dimulai dengan obrolan kecil usai mengikuti diskusi seni pada sebuah pameran di galeri. Dari pertemuan (seolah) tidak sengaja itu, membawa pada pertemuan-pertemuan tidak sengaja setelahnya, dan lalu menimbulkan kedekatan dalam relasi keduanya. Demi terlihat lebih ekspresif dan berani, berasal dari Jakarta, dan ia berjanji kepada Bara; ketika setiap kali ia ke Jogja, akan selalu mengunjungi Bara – ditempat yang sama. Janjinya ditepati, untuk selalu bertemu. Akan tetapi, karena Demi sendiri masih labil, dan masih belum tahu, apa yang ia mau, sehingga mulai ingkar atas apa yang dikatakan. Waktu-waktu berlalu, dan relasi terjalin tanpa ada kesepakatan. Setiap kali Demi ke Jogja, ia tidak pernah menetap lama. Tanpa rencana, ia meninggalkan Bara tanpa alasan, datang sesuka hati – pergi sesuka hati. Young, wild and free – adalah Demi. Kontradiktif dengan sikap bara, ia menahan perasaan rindu, yang kemudian acapkali berubah jadi kesal, karena ketidak-jelasan relasi antar mereka. Hingga ia bertanya, apa status yang terbangun antar mereka sebenarnya?

Seperti kisah dalam buku, film ini juga terbagi menjadi tiga babak – yang terasa hambar. Bertemu, bersama dan berpisah. Pemisahan ini, Nampak seperti penonton yang diajak untuk merasakan emosi yang berbeda di setiap babaknya. Perasaan getir, perasaan membuncah, dan kebingungan dalam menjalani relasi romantis yang dapat dieksplorasi lebih dalam. Namun, bagi saya film ini kurang greget dalam menghadirkan rupa emosi tersebut. Hanya perasaan hambar (dan agak kesal karena subjektif – terhadap lakon perempuannya). Sedari awal hingga akhir film ini terasa begitu suram, dan hampa. Ditambah lagi dengan durasi yang singkat, membuat film ini terasa terburu-buru, seperti hanya ingin menunjukkan sisi patah dari sebuah hubungan, tanpa ada usaha untuk menambahkan porsi yang mesra dan romantis dalam hubungan kedua karakternya, sehingga momen berpisah akan terasa lebih menyesakkan bagi para penontonnya.

Poin (yang dianggap) Penting : Hubungan tanpa kepastian, yang semestinya dapat dieksplorasi lebih dalam lagi

Dipertemukan dengan Bara yang pasif namun mengharapkan kepastian. Sebenarnya saya kurang setuju dengan konsep pasif yang melekat pada Bara, karena pada potongan film, terdapat adegan dimana Bara menanyakan tentang kepastian hubungan mereka. Namun, karena Demi telah memasang label bebas yang melekat pada dirinya, sehingga ia nampak enggan untuk melanggar batas tersebut. Memang masih terlihat bahwa, Bara banyak memiliki harapan, namun enggan berusaha untuk mewujudkannya. Sebagaimana banyak laki-laki pada umumnya, yang cenderung ingin menguasai dan memiliki, bukan berusaha sabar dan memahami. 

Andaikata film ini dapat menyampaikan pesan dengan mengeksplorasi permasalahan dengan lebih dalam, saya yakin kesan hambar dan kosong tidak terlalu tampak. Sehingga sangat disayangkan bahwa film ini hanya melemparkan permasalahan tersebut ke permukaan, lantas membiarkannya tergeletak tanpa dikulik lebih dalam. Meski, menjadikan Yogyakarya sebagai latar bercerita, adalah pilihan tepat. 

Oleh karena itu,

Sebagaimana premis utama, yang menjadikan Jogja sebagai setting latar film ini bermula, karena seakan Jogja dapat menjadi simbol atas keterwakilan nasib pada karakter Bara, yang hanya dijadikan tempat singgah sebentar, bukan menjadi tempat tinggal. Sebagaimana para pendatang yang ketika berlibur atau bersekolah, memutuskan untuk pergi ke Jogja, dalam beberapa lama – kemudian kembali lagi ke tempat semula. Yang, meski sebentar; namun Jogja tetap memberikan kesan yang spesial bagi para yang pernah singgah. Terlepas dari kebobrokan sistem sosial dan pemerintahannya, Jogja hanya terasa istimewa bagi mereka yang tidak pernah menetap lama, terlebih mencari tahu apa penyakit yang bersarang dalam tubuhnya.

Perkiraan saya mengenai judul “Panduan” untuk Mempersiapkan Perpusahan, tidaklah benar-benar menghadirkan panduan secara literal, yaitu langkah dan contoh nyata untuk antisipasi dan upaya bersiap akan perpisahan. Namun yang terkisah, justru sekedar kisah patah hati yang dapat menjadi bahan pembelajaran, agar kita tidak mengalaminya. Maka, apabila tidak ingin hubunganmu cepat berpisah, maka jangan seperti Bara, yang banyak mau tapi tak ada usaha. Pun, sebaliknya; jangan seperti Demi yang datang dan pergi, dengan seenaknya.




#BuahPikir

Identitas Perempuan dalam Narasi Sebuah Negara

March 08, 2024

Keterangan : Kongres Perempuan Indonesia, sumber foto : VOI.ID

Merayakan hari perempuan sedunia yang rutin diadakan setiap tanggal 08 Maret di setiap tahunnya, bukan hanya tentang perempuan yang berdaya dalam narasi semata, tetapi juga sebagai aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari, secara khusus di Indonesia. Sebuah negara yang masih belajar berjalan, di tengah gempuran kapital secara implisit. Mengapa implisit? Karena yang tercatat adalah negara Indonesia menganut sistem ekonomi kerakyatan, namun pada kenyataannya sistem ekonomi kapital lebih mendominasi. Dalam dinamika sebuah negara, perempuan menjadi simbol keberlangsungan negara untuk tetap eksis, karena peran  untuk melahirkan generasi selanjutnya.

Pada perkembangan lebih jauh, perempuan yang tadinya hanya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan domestik sebagai sebuah kewajiban, kini semakin bergeser. Nilai berubah, dan perempuan dianggap berhasil ketika bekerja; sementara pekerjaan pada umumnya hanya dilihat sebatas yang memiliki nilai tukar materi dan bersifat transaksional, dalam hal ini adalah uang. Di sisi lain, perempuan yang bekerja tanpa memiliki nilai tukar, maka tidak dianggap sebagai perempuan yang berhasil. Hidup dalam negara yang berjalan dalam sistem ekonomi kapitalisme, hal tersebut semakin diamini, karena dalam sistem kapitalis yang dianggap bekerja adalah yang ‘dinilai’ karena ‘dianggap’ produktif. Sementara, kerja-kerja produktif ini seringkali diasosiasikan dengan pekerjaan laki-laki, atau pekerjaan dengan jabatan tertentu, seperti pilot, guru, perawat, tentara, dokter, dan lain sebagainya.  Sementara pekerjaan yang dianggap tidak memberikan kontribusi secara langsung terhadap ekonomi, dianggap reproduktif, dan diasosiasikan sebagai pekerjaan domestik, umumnya : pekerja lepas, sukarelawan dan pekerja rumah tangga.

Berangkat dari pemisahan kerja dalam kapitalisme mengenai kerja produktif dan kerja reproduktif, kemudian menimbulkan pelbagai masalah - terutama dalam pemikiran feminis; dimana pemisahan kerja tersebut banyak mengubah hidup masyarakat terutama kehidupan perempuan, karena dianggap sebagai pihak yang terdampak paling besar dari pemisahan makna tersebut. 

Kapitalisme dan Komodifikasi Perempuan

Jika menilik lebih jeli, banyak kerja-kerja domestik dan dikerjakan oleh perempuan yang memberikan kontribusi langsung terhadap roda perekonomian sebuah negara, namun dianggap bukan sebagai kerja produktif, sehingga hal tersebut hanya dilihat sebagai kerja-kerja yang dilupakan oleh kapitalisme, anggapan bahwa pekerjaan yang dimarjinalkan masih menjadi label yang paling kuat. Kita bisa melihat sebagai contoh, pekerjaan dalam bidang yang terinformalisasi seperti agrikultur, tidak terlalu dianggap penting dalam perhitungan ekonomi, sementara pekerjaan tersebut berkontribusi langsung terhadap perputaran roda ekonomi, dan di dalamnya banyak perempuan yang terlibat secara langsung. Seiring dengan berkembangnya neoliberalisme, dimana proteksi sosial bagi perempuan kian memudar, hingga akhirnya perempuan tidak memiliki pilihan selain terlibat dalam pasar tenaga kerja. Resiko yang ditanggung menjadi polemik yang tidak berhenti, karena pada akhirnya harus ada yang dikorbankan; intensitas yang terbangun antara ia dengan lingkungan sekitarnya, dalam hal ini keluarga. Perempuan seakan menjadi teralienasi dalam peran natural serta eksistensi sebagai manusia.

Angka perempuan untuk mengenyam pendidikan memang sudah semakin banyak, akan tetapi perempuan yang berdaya dengan kesadaran yang dimiliki tidak sebanyak yang sekedar mendapatkan pendidikan. Hal tersebut tidak bisa sepenuhnya salah, karena sistem yang telah mengakar pada akhirnya membuat perempuan menjadi ikut berenang dalam arus yang sudah diatur dan terstruktur. Bukan tidak mungkin jika melawan arus, namun siapkah jika harus menjadi anomali diantara yang lain? Mirisnya, nilai-nilai tersebut justru telah tertanam sejak dalam bangku sekolah. Perbedaan sistem pendidikan antar satu sekolah dengan yang lain, ada yang ditentukan oleh besarnya nominal biaya yang dibayarkan. Semakin mahal biaya pendidikan sekolah dasar hingga menengah atas, maka semakin banyak akses ilmu dan kesempatan menjadi manusia dengan corak yang beragam, dalam hal ini akses perempuan terhadap ilmu pengetahuan dan kesempatan mengampu jabatan kian beragam. Kategorisasi yang telah terkotak-kotakan ini berlanjut hingga ke jenjang universitas. Kemampuan berpikir kreatif dan kritis mahasiswa menjadi kian tergerus karena mereka hanya diarahkan untuk nantinya bekerja dengan sistem yang telah ditentukan dan ditanamkan dalam diri mereka sebagai sebuah sistem yang ideal. Dengan kata lain, program dalam kampus misalnya; cukup sukses untuk mengurangi sikap kritis terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitar, karena laporan MBKM ini sangat banyak secara administratif dan rasa-rasanya sangat birokratis, kurang lebih sama dengan program-program yang diajukan oleh universitas sebelumnya. Jika bagi perempuan, mengenyam pendidikan tinggi merupakan salah satu previlese, semestinya juga dibarengi dengan kesadaran bahwa masih banyak permasalahan konkrit yang perlu diselesaikan diluar kategorisasi yang telah tertanam dalam pendidikan.

Normalisasi Bekerja di Bawah Tekanan

Kapitalisme mengalienasikan manusia dari hakikatnya, sebagai makhluk sosial, dan perempuan menjadi bagian di dalamnya. Implisitas penindasan terhadap perempuan merupakan peristiwa sejarah, dan masih terulang hingga saat ini; selama patriarki dan kapitalisme masih berkuasa, dan kesadaran akan menjadi setara belum ada. Setiap kita akan menjadi antitesis yang lain, karena memiliki perbedaan pola pikir dan sudut pandang, melihat dan menerima keragaman untuk diakumulasikan dalam sebuah pemikiran demi kemajuan kemanusiaan bersama, tentu bukanlah perkara mudah. Penting untuk menyadari bahwa segala permasalahan sepele yang dihadapi oleh perempuan sehari-hari dalam dunia kerja, seperti : cuti haid, cuti melahirkan, istirahat makan, waktu ke toilet, yang dibatasi – namun tidak dapat dilawan, semata bukan karena ketidakmampuan sebagai pekerja yang bertanggung-jawab, bukan pula arena tuntutan tempat bekerja yang seringkali tutup mata dengan segala realitas sosial, namun ada sesuatu yang lebih besar lagi, yaitu sistem yang memaksa untuk mengikuti aturan main, dan kita didalamnya tidak pernah memiliki kesempatan untuk menolak. Sebuah mekanisme “paksaan” yang selalu bisa diterima secara moral dan hukum, kemudian dianggap sebagai sesuatu yang normal. Sistem yang tanpa disadari selalu menciptakan sebuah kondisi pengangguran jika tidak mengikuti sistem yang dianggap ideal. Lantas bagaimana? Tentu tidak banyak tempat bekerja yang dengan sadar, paham akan kebutuhan perempuan, namun kesadaran diperlukan untuk mengenali secara cermat sistem seperti apa yang sedang berjalan dalam dunia dimana kita semua berkecimpung didalamnya. Kesadaran yang diperlukan bahwa, sebuah sistem yang besar, dalam hal ini badan usaha; tidak akan dapat berjalan dengan baik, bilamana tidak ada yang menggerakan sistem mekanis dalam perputaran produksi tersebut. Jika demikian yang masih terjadi, maka selamanya perempuan tidak akan pernah menjadi setara, kala sistem kapitalisme masih berjaya.

Lantas apa lagi yang diharapkan? Bukan bekerja yang tidak menyenangkan, akan tetapi sistem yang tercipta dalam tiap-tiap lini pekerjaan yang tidak memanusiakan. Bagaimana mungkin, ketika setiap kita yang bekerja, tidak memiliki opsi lain untuk terus hidup, apalagi hingga memiliki pandangan soal kehidupan yang harmoni. Ketika merasa terpuruk karena tuntutan kerja yang kian tinggi dan beban dibawah tekanan, tentu yang diperlukan setalahnya adalah hiburan, karena dunia kita diciptakan seperti itu. Hakikatnya, bekerja adalah untuk pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan diri sendiri dan kepentingan bersama. Waktu yang terus berjalan dan seakan terbuang sia-sia karena menjadi mesin dalam ruang kerja, dan kemudian akhirnya muncul pertanyaan reflektif : Untuk apa terus hidup?

Narasi Kesejahteraan Seharusnya Menjadi Aksi Nyata Perubahan

Pekerjaan mungkin tidak selalu terkait dengan masalah kesehatan mental, namun bukan berarti tidak ada relasinya. Kemampuan tiap-tiap individu dalam sistem yang diterapkan di dunia kerja, sangat berdampak pada keterasingan. Hal tersebut menyangkut kemampuannya memenuhi kebutuhan hidup, ketakutan akan kehilangan sumber penghidupan, bahkan hingga kecurigaan berdasar terhadap mereka yang memiliki “kemampuan kerja” yang lebih menyejahterakan (O’Grady, 2014). Gangguan kesehatan mental yang kian merayap dalam senyap seakan seperti gunung es yang makin lama makin masif. Layanan untuk mendukung keseimbangan hidup juga menjadi bagian dari komersialisasi sistem kapitalistik yang terbangun, bahwa semakin professional jasa yang ditawarkan, artinya akan semakin banyak dana yang mesti disiapkan. Pemerintah sebagai abdi negara, juga semestinya tidak boleh menutup mata dengan masalah ketimpangan struktural yang hingga kini masih terjadi dalam berbagai lini. Menjadi sejahtera bukan perkara hanya bisa makan dengan gratis, namun juga memiliki harapan untuk hari-hari pada kehidupan selanjutnya. Kritik dari publik bukan sebagai lukisan indah yang hanya menghiasi opini surat kabar sebagai media bahwa masih ada yang memiliki nalar kritis, namun tidak ada respon lebih lanjut sebagai aksi nyata demi kebijakan dan perubahan yang lebih baik.