Omelet di Pagi Hari dan Teman Imaji dalam Sunday at Tiffany’s
November 02, 2019
Hari itu datang juga. Di Minggu pagi yang hangat dan malas. Ada yang masih enggan beranjak dari kamar, semalam masih dipakai untuk transit sementara, sehingga sang empunya harus mengungsi. Dengan masih setengah mengantuk aku menuruni tangga perlahan-lahan sembari mengumpulkan kesadaran. Ingin membersihkan sisa pesta semalam, pesta perpisahan – pesta kepindahan. Jarak memang tidaklah jauh, namun rutinitas akan semakin menjarakkan itu. Beberapa telah kembali, seseorang masih di sini.
“Tadi mereka sudah berangkat” katanya.
“Tadi mereka sudah berangkat” katanya.
Iya, ia tahu karena membuka-tutupkan pagar. Lalu kemudian berencana untuk ikut berangkat, dengan menitipkan kunci di bawah kursi. Tapi mendengar suara air di toilet lantai atas, membuatnya urung dan memilih untuk duduk, menunggu hingga seseorang lain turun.
Kaki telah menginjak anak tangga terakhir, langkah berlanjut menuju dapur. Sengaja aku tidak menoleh kepadanya, atau menahan seperti biasanya. Namun ia mampu membaca sendu.
“Aku pamit pulang, ya” ujarnya perlahan.
“Pulang, lah” kataku datar.
Ia tahu, ada yang keberatan. Meskipun dalam diamku juga tak pernah kutampakkan.
Senyumnya tipis, namun kutahu itu merekah.
Kaki melangkah pelan, masih dengan tujuan utama, menuju dapur. Membuka jendela, membiarkan udara pagi masuk. Sinar matahari juga sedang hangat.
Tidak juga kudengar suara-suara hendak beranjak. Ia masih duduk di kursi yang sama, dekat dengan ruang makan. Dari dapur, agak kukeraskan suara “Tidak jadi pulang?” aku menengok sebentar, pertanyaan sekaligus harapan yang terjadi adalah sebaliknya. Nampaknya ia tahu yang aku inginkan pagi itu. “Buatkan saya sarapan dulu, langkahnya mendekatiku”.
Aku gemas, sekaligus puas. Ia tahu yang aku mau, waktu.
Ego ini masih juga tinggi, “Buat sendiri, saya baru akan membuatkanmu setelah urusan makanan kedua anjingku selesai.”. Ia tahu sedang dikerjai dengan seseorang yang lebih muda, jiwa patriarkalnya kembali muncul. Tidak senang, namun juga menikmati. Ia membuatku geli hingga akhirnya aku mengalah dan membiarkannya kembali duduk manis di meja makan sementara aku kembali ke dapur.
Tanpa ada persiapan apapun. Stok makanan di kulkas juga menipis, kali ini harapan terakhir adalah lemari kayu penyimpan makanan kaleng. Ada tuna kaleng, beberapa gram oregano dan basil. Bingung hendak diapakan bahan-bahan setengah matang ini. Langkah kemudian kembali ke kulkas. Beruntung masih ada ada tiga butir telur dan keju mozzarela juga kentang. “Omelette saja, ya?” kataku dari dapur, meminta persetujuan kalau-kalau ia ingin yang lain. “Omellete, apa itu?”, jawabnya polos. Seketika aku ingin tertawa, nadanya sengaja dibuat seperti keponakannya yang baru saja belajar berbicara. Enggan menjelaskan, “Telur Dadar!” kataku kemudian.
![]() |
| Egg Omelette ( picture by : Pinterest ) |
***
Aroma butter mewangi ke ruang makan, sudah dengan kopi hangat yang baru saja selesai diseduh. Seperti anak kecil yang menantikan hadiah, ia tak sabar menyantap sarapan Omellete perdana-nya. Jiwa kanak-kanak kami kembali muncul. Bagaikan dua sisi mata uang, masing-masing dari kami selalu menunjukkan kemampuan dan kedewasaan saat bertemu dengan banyak orang, namun saat semesta hanya dimiliki berdua, rasa-rasanya baik aku ataupun dia lebih nyaman dengan bersikap biasa-biasa saja, layaknya anak-anak. Bagai Jane dan Michael dalam Sunday at Tiffany’s. Sebuah film dengan genre drama yang diangkat dari sebuah Novel. Bisa dibilang usia film ini telah cukup lama yang rilis di akhir tahun 2010, tentu dengan nuansa Natal yang kental.
***
Sunday at Tiffanys’s bercerita tentang kehidupan Jane Claremont (Alyssa Milano) yang tergila-gila dengan teman imajinernya. Banyak yang cemas, termasuk Ibunya Vivian Claremont (Stockard Channing). Sang ibu bahkan sering mengirim putrinya untuk terapi karena kecemasannya. ia cemas anaknya mengalami ganngguan psikis akibat perceraiannya yang pahit. Perceraian yang merenggut semua harapan dan cinta. Sementara Jane sendiri kurang kasih sayang dari ibunya dan ia haus akan perhatian karena kesibukan Vivian sebagai produser Broadway. Lagipula, Vivian menghabiskan terlalu banyak waktu dengan pekerjaan dan kesibukan bersama dengan suami barunya.
Di sela kesepiannya, Jane bertemu dengan Michael (Eric Winter) — sang kawan imajinernyaa. Michael kecil dengan optimismenya mencoba meyakinkan Jane bahwa cinta sejati ada. Fyi, believe or not, dalam film tersebut menceritakan bahwa Michael adalah seorang teman imajiner yang secara acak ditugaskan untuk anak-anak yang merasa kesepian seperti Jane. Namun sayangnya tidak ada satupun orang dewasa yang sanggup melihat keberadaan Michael. Dan teman imajiner itu akan pergi dan menghilang setelah anak yang ia temani telah berusia sembilan tahun.
Malam Natal tiba, yang sekaligus merupakan ulang tahun Jane ke-9. Ibunya membawa Jane ke Toko Tiffany di Kota New York untuk membelikan hadiah untuk Jane. Sementara Ibunya berkeliling, Jane mencoba mengambil sebuah cincin berlian berwarna kuning, dan Michael – yang kala itu juga ikut pergi – mengatakan bahwa Jane telah beranjak dewasa karena sebentar lagi memasuki usia 9 tahun, dan ia akan meninggalkan dia pada pukul 5.15, tepat saat waktu kelahirannya. Jane yang masih belum mengerti apa-apa yang dikatakan oleh Michael, memohonnya untuk tetap tinggal bersamanya. Tetapi Michael tetap berangkat, dan Jane kecil hancur.
![]() |
| Scene saat Jane dan Michael masih kecil (Picture by : IMDB) |
Dua puluh tahun berselang. Jane kecil itu telah dewasa. Ia telah menjalin kasih dengan Hugh Morrison (Ivan Sergel), mereka telah bertunangan. Hugh merupakan seorang aktor televisi terkenal, egois dan juga selalu mementingkan urusan pribadi serta karir. Berbeda dengan Michael yang dulu selalu ada untuknya dan mengerti apa yang Jane inginkan. Kepergian Michael membawa luka dalam bagi Jane, sehingga ia mengikuti langkah-langkah ibunya dulu untuk menjadi manajer teater untuk membantu debut teater Hugh –tunangannya.
Suatu hari, seorang lelaki dewasa bernama Michael (kembali) muncul pada saat musim dingin, mengatakan padanya bahwa ia adalah kawan imajinernya di masa lalu. Awalnya, Jane sempat tidak percaya, dan Jane berpikir bahwa Michael dewasa ini adalah seorang penguntit dan penipu – yang mungkin menginginkan peran dalam sebuah drama yang akan ia kerjakan. Hingga kemudian Michael meyakinkan identitasnya dengan menceritakan semua hal-hal tentang masa lalu-nya. Jane akhirnya tidak bisa memungkiri bahwa Michael adalah kawan imajinernya di masa lalu, satu yang berbeda adalah – kini Michael bisa dilihat oleh orang lain, bukan hanya oleh Jane saja.
Keduanya kembali bertukar cerita, hingga Michael terkejut karena Jane telah banyak berubah. Jane tidak lagi mengejar cita-citanya pada waktu kecil dulu – untuk menjadi seorang penulis. Namun Jane justru meyakinkan Michael bahwa ia telah dewasa dan melepaskan beberapa impiannya di masa kecil. Jane kembali sibuk dengan pekerjaannya dan proses rencana pernikahannya yang melelahkan. Dan sebagaimana Michael kecil yang selalu mendampingi Jane – Michael dewasa kini tidak bisa pergi lagi sampai ia membantu Jane dengan apa yang seharusnya Jane inginkan.
Pada suatu hari, Michael membuntuti Jane yang sedang dinner bersama Hugh. Tanpa basa-basi, Michael langsung ikut bergabung dengan Jane dan Hugh tanpa dipersilahkan. Mereka bertiga, berbincang-bincang tentang hubungan Jane dan Michael di masa kecil dulu. Tak lupa Michael menghadirkan pertanyaan-pertanyaan kecil kepada Hugh, tentang makanan favorit Jane misalnya. Pertanyaan-pertanyaan itu bagi Hugh, adalah pertanyaan bodoh dan tidak penting. Saat dimana Hugh tidak bisa menjawab, maka Michael menyimpulkan bahwa Jane dan Hugh tidak mengenal pribadi satu sama lain dengan baik, dan juga kurang serasi sebagai calon pengantin. Setelah makan malam mereka usai, Michael lagi-lagi mengikuti Jane ke rumahnya, dan ia kembali merasakan hal yang berbeda.
Jika saat mereka kecil dulu, Jane dan Michael tidur bersama – maka, sekarang Michael harus tidur di kursi sofa. Malam berikutnya, Michael ikut bergabung di pentas panggung Hugh dan Vivian. Sang Ibu – Vivian, sempat merasa ngeri, saat Michael memperkenalkan dirinya sebagai kawan imajiner Jane pada waktu kecil dulu, terlebih saat Michael juga mengatakan bahwa dia selalu berusaha untuk melindungi Jane dengan kasih sayangnya yang besar. Michael merasa bahwa Jane telah menjadi pahit atas segala apa yang menimpanya dulu. Michael pun kemudian memberikan pelukan yang tulus kepada Vivian di akhir pertemuannya.
Di luar dugaan, Jane mulai meragukan pilihannya bersama dengan Hugh, terlebih saat persiapan pernikahan, karena yang ia tahu tentang Hugh haruslah sempurna. Jane mulai bimbang, karena dalam kekalutannya Michael selalu hadir, selayaknya saat ia kecil dulu – termasuk saat Jane memilih gaun pengantin yang sempurna dengan bantuan Michael. Jane kembali dilemma, di saat itulah, Jane kemudian memberitahu Michael bahwa dirinya telah melakukan kesalahan, dan bahwa ia dan Michael tidak akan pernah bisa menjalin relasi dalam bentuk apapun lagi, karena mereka sudah mulai asyik mengulang kejadia-kejadian semasa kecil dan telah lebih dekat kembali dari sebelumnya. Jane mengatakan kepada Michael bahwa selama ini mereka telah bersenang-senang bersama, namun Jane kini bukan lagi gadis kecil yang dulu pernah ia kenal, dan dengan berat hati Jane dan Michael harus saling pergi. Bukan tanpa alasan, permintaan Jane ini bermula ketika suatu malam Hugh memasuki apartemen Jane, dan menyela mereka saat Jane dan Michael asyik bermain perang bantal, hingga keduanya membuat Hugh cemburu. Hugh akhirnya menuntut Jane agar mengakhiri kontak dengan Michael.
Jane hidup dalam dilema, setelah kembali ke kehidupannya dengan Hugh, Jane semakin yakin bahwa dia tidak mencintai Hugh – terlebih Hugh terlalu egois dengan dirinya sendiri. Sementara Hugh pergi syuting film, di Los Angeles, Jane menghubungi Michael yang kini bekerja di sebuah restoran. Jane dan Michael menyambung relasi antara keduanya, dan menghabiskan malam pertama mereka bersama-sama dengan sangat erat. Saat Jane mengatakan ia telah kembali bahagia, Michael mengatakan bahwa ia harus pergi, lagi. Kembali patah hati, Jane meyakinkan bahwa dia tidak akan berpikir dua kali untuk mengingat kenangan bersama dengan Michael, jika saat itu Michael memang benar-benar harus pergi.
Waktu terus berjalan hingga tiba waktu dimana pesta pernikahan Jane dan Hugh dimulai. Namun siapa yang menyangka bahwa Jane memilih untuk pergi meninggalkan Hugh ditengah acara pernikahannya karena ia masih jatuh cinta dengan Michael. Waktu hampir menunjukkan pukul 5.15 saat malam Natal, dan Jane berlari ke Tiffany untuk menemukan Michael. Jane melakukan tepat pada waktunya, dan mengakui cintanya kepada Michael. Tetapi Michael justru mengatakan bahwa ia harus pergi – sungguh amat menyedihkan bagi Jane yang telah kesekian kali ditinggalkan oleh Michael.
Sampai akhirnya Jane keluar toko dengan perasaan patah hati, namun kemudian Michael kembali muncul dan mengakui cintanya untuk Jane. Michael dengan jujur berkata bahwa ia membutuhkan Jane, dan ia memberikan cincin berlian kuning impian Jane – persis seperti keinginannya saat waktu kecil dulu.
Sampai akhirnya Jane keluar toko dengan perasaan patah hati, namun kemudian Michael kembali muncul dan mengakui cintanya untuk Jane. Michael dengan jujur berkata bahwa ia membutuhkan Jane, dan ia memberikan cincin berlian kuning impian Jane – persis seperti keinginannya saat waktu kecil dulu.
***
Mungkin akan banyak yang bingung dengan plot film Sunday at Tiffany’s yang terkesan khayal, karena menggunakan alur cerita yang seperti time-travel. Meskipun bisa dibilang ulasan itu hanyalah secuil gambaran tentang film Sunday at Tiffany’s. Sekilas, warna ceritanya mirip dengan film The Lake House. Plot cerita yang menguji logika kita dengan permainan setting waktu. Sementara Sunday at Tiffany’s ini merupakan sebuah film drama percintaan yang mungkin jarang dilihat sebelumnya.
Bermula dari novel dengan genre roman yang ditulis oleh James Patterson dan Gabrielle Charbonet ini memang terkesan klasik, dan sedikit usang. Hingga kemudian rasa kagum kian bertambah dengan kisah cintanya yang tidak biasa dan akhirnya menyukai bentuk lain kisahnya yang tertuang dalam film. Bagaimana tentang perjuangan cinta sejati dicerminkan melalui perjuangan di kedua belah pihak, Jane dan Michael – bukan hanya salah satunya saja. Bagaimana Jane rela membatalkan pernikahannya demi Michael, dan juga bagaimana Michael rela untuk tidak lagi bisa kembali ke dunia dimana ia berasal demi Jane. Tentang bagaimana mereka bedua, Jane dan Michael denga jujur dan tanpa malu bertingkah seperti layaknya anak-anak demi sebuah kebahagiaan yang hakiki. Tidak ketinggalan ada satu hal lagi, satu hal yang pernah diajarkan oleh Michael kepada Jane, tentang bagaimana peraturan dibuat hanya untuk dilanggar. Tentu masih ingat kan, hal itu dikatakan oleh Michael ketika Jane ragu untuk melakukan sesuatu yang membahagiakan, namun sekaligus juga melanggar.
Film ini terlalu keren! Kalau saja seandainya semua orang tidak perlu sok dewasa dan egois, kebahagiaan tidak akan sulit didapatkan, meski terkadang harus melanggar peraturan. Sebagai penutup, ada tambahan sebuah kutipan indah dari seorang filsuf bernama Arthur Schopenhauer, bahwa “Agar hidup bahagia, maka hiduplah seperti kanak-kanak”
***
Kami pagi itu bagaikan Jane dan Michael, yang bersukacita ketika menemukan kebahagiaan di masa kecil. Namun saat telah mendapatkan bahagia itu juga sekaligus harus melepas dengan pergi satu sama lain.
Omelette telah hampir habis. Ia meminta nasi, masih lapar katanya. Ia mengakui perutnya sangat Indonesia sekali. Sementara pagi itu sarapan ala western. “Bukan seperti itu cara makan Omelette” kataku enggan mengambilkan nasi, “Oatmeal aja, ya”.. “Sama-sama bikin kenyang, kok”, ujarku meyakinkan.
Ia tidak menjawab, namun juga tidak menolak. Saat itu kami sama-sama kehabisan bahan pembicaraan. Aku kembali ke dapur, memasak Oatmeal, sembari menunggu matang demi memecah rasa sepi, aku menyalakan musik. Lagu Coldplay yang terbaru, mengalun pelan. Pintu belakang masih terbuka, si Putih tidak biasanya menyalak galak padanya. Bercandaan yang tidak lucu beberapa bulan lalu, rupanya masih terekam dengan jelas. Nampaknya sulit sekali menghilangkan kesalah-pahaman, antara manusia dengan hewan satu ini. Ia merasa takut sekaligus rindu, bermain-main dengan si Putih yang sesungguhnya menggemaskan, “It’s okay.. that’s okay, I’m okay....” katanya sembari mengikuti alunan lagu yang baru selesai terputar itu. Tanpa kusadari ia menggumam, “Saya tahu Putih, memang sulit rasanya tidak bisa berbicara langsung, ingin bicara tapi tak bisa...” suaranya yang biasa cenderung bass dan dominan, kini terdengar samar-samar. Saat aku memintanya untuk mengulang untuk memperjelas, ia enggan. Berbicara dengan si Putih yang aku tahu sesungguhnya itu bukan untuk si Putih.
Intimasi yang tidak intens itu pada akhirnya harus disudahi. Kesadaran akan rutinitas yang membuat masing-masing diri untuk beranjak, bahwa saat itu kami memang tidak sedang hidup dalam imajinasi. Ia sesungguhnya ada, dan nyata. Bukan hanya ada dalam imaji semata. Ia ada dan nyata, namun seringkali imaji ini sendiri yang membuat ia terasa maya.



0 comments