Jalan yang Jauh, (namun) Tak Bisa Pulang

February 05, 2024



Mengalami kembali nonton film Eksil (2022) di bioskop pada awal tahun 2024 ini, bukanlah kali pertama. Jauh sebelumnya, saya sudah menonton di ruang arsip film pada sebuah yayasan, dimana saya pernah terlibat dalam kegiatan mereka, karena lolos sebagai peserta Open-Thesis pada tahun 2023 lalu yang diadakan oleh JAFF-Archive, di bawah naungan JAFF. Tentu, akan berbeda rasanya, ketika menonton dengan layar dan sound seadanya, dengan layar proper dan sound yang memang disiapkan dengan baik. Meski pesan yang tertanam tetaplah sama, namun efek visual semakin menambah haru dan memacu nurani untuk tidak hanya diam. Bagaimana saya bisa mencuri start untuk menonton Eksil? Tak lain dan tak bukan, karena pada kegiatan Open-Thesis, riset tentang film dokumenter yang saya geluti mengenai arsip film-film bertemakan Lekra. Meski Eksil tidak keseluruhan mengenai Lekra, namun tetap saja memiliki irisan.

Menit-menit pertama film Eksil ini dibuka dengan sebuah bait puisi. “Kuburan kami ada yang berbatu nisan, ada yang tanpa batu pengenal, ada pula yang hilang lenyap ditelan hujan. Dan semua ini pun wajah negeri Indonesia.” — yang ditulis oleh Chalik Hamid, salah satu di antara sepuluh eksil yang kisahnya diangkat dalam dokumenter ini. Durasi film selama 122 menit, yang terasa sungguh singkat namun dapat membawa pemahaman yang mendalam tentang betapa pedihnya kerinduan mereka terhadap rumah. Dengan terpaksa, mereka memutuskan untuk menjadi warga negara di tempat yang mereka tinggali, demi rasa aman. Trauma kolektif mereka di masa lalu yang telah tertanam, seakan tak lagi bisa hilang. Para eksil yang semula dikirim untuk membangun dan memajukan bangsa yang baru saja berdiri, “berakhir mati” baik secara raga, maupun jiwa - tanpa ada rekonsiliasi serius dari bangsa itu sendiri. 

Di Pertengahan film, semakin menguatkan pandangan bahwa betapa negeri ini banyak berhutang kepada permata bangsa yang dipaksa menjadi asing karena keluar dari tanah airnya sendiri. Tidak hanya pengasingan yang menjadi sorotan, namun juga pembungkaman intelektualitas yang mengakibatkan pergesekan antara mahasiswa kiri dan mahasiswa kanan. Posisi mereka yang saling berbenturan ideologi, dan berjauhan menyeberangi antar benua, menjadikan kisah-kisah para eksil ini hanya terlihat samar, selebihnya tidak terdengar sama sekali sampai ke negeri ini.

Kesan yang mendalam pada eksil bernama Pak Samardji justru meninggalkan kesedihan bagi saya. Masing-masing dari mereka, merawat dengan tekun dalam setiap ingatan yang berhubungan dengan Indonesia, maupun ingatan-ingatan kelam tentang kawan-kawan seperjuangannya dalam arsip-arsip yang dikumpulkan, baik dalam map-dokumen, jurnal, hingga buku. Perpustakaan pribadi yang nyaris memiliki 3000 koleksi dalam rak maupun kontainer plastik, termasuk koleksi buku Pramoedya Ananta Toer yang sebagian dilarang terbit di Indonesia pada masanya. Dokumentasi dalam arsip yang tersimpan dengan sangat baik. Bahkan, sebuah yayasan bernama Yayasan Perhimpunan Dokumentasi Indonesia telah berhasil diinisiasinya, hingga tutup usianya. Kepergian para tokoh penting ini kian terasa pilu, mengingat mereka berpulang tanpa permintaan maaf serta harapan pengakuan yang terhormat sebagaimana mestinya sebuah bangsa yang baik melakukannya; hanya sekedar angin lalu.

Kritik pedas yang disampaikan dengan penuh kelembutan, film ini seakan mencoba mengungkap kenyataan keras yang tidak tercatat dalam sejarah bangsa. Film Eksil memberikan peluang untuk membuka kembali laci sejarah, menggali lebih dalam ke dalam peristiwa yang membentuk takdir para individu. Sebagai penonton, kita seakan diingatkan bahwa : selama ingatan kelam masa lalu menghantui, semangat untuk meraih kebenaran dan keadilan harus terus berkobar. Perjalanan Lola Amaria sebagai sutradara selama risetnya kurang lebih 10 tahun, jelas dibuat untuk menyuguhkan fragmen-fragmen yang disenyapkan dan dianggap hilang. Di akhir film, satu-persatu narasumber yang terlibat dalam film ini; dikisahkan telah wafat – sebelum film Eksil ini ditayangkan. Harapan bahwa eksistensinya dapat membuka mata banyak orang untuk tidak lagi terperangkap dalam bayang-bayang kelam dan kisah-kisah sejarah yang salah arah, menemukan titik terang.

Dan lalu, usai menonton kisah pilu dalam film ini, salahkan jika saya tidak perlu lagi mempertanyakan kebenaran sejarah? Film ini bukan propaganda sebagaimana film-film sebagai media pada masa Orde Baru. Karena sudah jelas sejarah yang tersebar adalah narasi yang bias. Lalu apa lagi? Memang sudah saatnya kita semakin sadar untuk membuka mata lebih lebar untuk mencari tahu apa yang perlu diketahui agar tidak tersesat dalam sejarah bangsa kita sendiri.


Nb. Jika dalam hidupmu, hanya diberi satu kali kesempatan untuk menonton film. Jangan lewatkan film ini, karena jangan sampai penyesalan terjadi dua kali.

Nb. 2 - mereka yang patut dikenangAlm. Asahan Aidit, Alm. Chalik Hamid, Alm. Djumaini Kartaprawira, Alm. Kuslan Budiman, Alm. Sardjio Mintardjo, Alm. Sarmadji, Hartoni Ubes, I Gede Arka, Tom Iljas, Waruno Mahdi, Herutjagio Mintardjo, Nurkasih Mintardjo

You Might Also Like

0 comments