No String Attached

December 31, 2020

Kesengajaan saya iseng menulis di penghujung tahun 2020 ini, berawal dari ketidak-sengajaan menonton sebuah film dengan genre drama yang cukup populer pada tahun 2011 berjudul No String Attached. Kali ini saya tidak sepenuhnya ingin mengulas perihal film tersebut, meski ada beberapa hal yang mungkin akan sedikit menyerempet. Kisah oleh beberapa kawan, dan diperkuat dengan adanya film yang pernah mengangkat tema ini, menciptakan sebuah keyakinan bahwa sebenarnya diluar sana mungkin juga masih banyak yang penasaran dengan konsep relasi dengan model seperti si-No String Attached itu. Rasa penasaran ingin mendengarkan, kisah yang terjalin sembunyi-sembunyi, keingin-tahuan yang jelas-jelas terlihat, sampai perilaku yang terkesan menghakimi, “Itu seriusan? Kok mau sih digituin”.

Sekali lagi, tidak semua relasi berjalan ideal seperti nilai-nilai yang kebanyakan masyarakat anut; pun tidak ada juga yang mau terjebak dalam situasi tidak dikehendaki, ‘kan? Namun skenario Ilahi, siapa yang dapat paham. Pada akhirnya, argumen moral kembali dikesampingkan, karena hidup ini pada dasarnya bisa dilabeli dengan beberapa hashtag seperti #YaudahGakPapa dan #CukupTauAja. Bagi yang belum pernah, belum tahu atau menolak paham, untuk menjalani relasi yang tidak biasa, tidak perlu lah menilai berdasarkan kompas moral yang secara umum digunakan. Semuanya memang terkesan tidak masuk akal, tidak etis, dan tidak-tidak lainnya; sampai benar-benar terjadi, dan menjalaninya sendiri.

Begitupula dengan No String Attached ini.

Bagi yang belum pernah menjalani relasi model begini, saya hanya ingin bilang – konsep yang dituangkan dalam film berjudul sama, No String Attached sesungguhnya hanyalah isapan jempol belaka. Hahaha. Betul kan? Oke, yang pertama-tama, kau dan partnermu tentu bukanlah aktor/aktris seperti Ashton Kutcher dan Natalie Portman. Nilai ketampanan dan kecantikan yang berbeda dari standar masyarakat pada umumnya. Bahkan, lebih clueless, kalau tidak mau dibilang polos atau naif. Pun, mesti disadari dan dipersiapkan, karena tidak akan ada happy-end, berbeda dengan yang diceritakan dalam film nya sendiri yang sudah tentu berakhir baik (dan bahagia). Sejauh yang saya tahu, belum ada. Atau mungkin memang masih perlu diuji oleh waktu. Entahlah. Turunkan ekpektasi, dan kembalilah kepada realitas.

Bukan salah filmnya, karena fungsi film sebagai media, memang menyederhanakan segala masalah. Sesungguhnya, dalam realitas persoalan hati (dan juga hingga seks) tidak pernah semudah itu. Tentu saja, ada yang dirisikokan dalam No String Attached. Tidak usah muluk-muluk dulu dalam hal-hal altruistik seperti persahabatan atau hubungan baik, No String Attached bagi perempuan malah merisikokan tingkat kewarasan si perempuan itu sendiri.
***

Dalam beberapa artikel kesehatan dan seksualitas yang pernah saya baca, katanya bahwa orgasme sebenarnya juga bisa memberikan kenyamanan psikologis (only sex can provide). Terdapat cara kerja hormon yang memengaruhi kinerja emosi dan, hmmm – sebaiknya memang akui saja, perempuan itu makhluk yang serba terintegrasi. Lantas, lama-lama cinta dan hasrat tidak bisa dipisahkan, hingga akhirnya terjadilah baper – bawa perasaan. Mulailah mengirim pesan, membuat tulisan, mengumbar perasaan, atau apapun itu. Kemudian menjadi resah ketika lama tidak berhubungan, hingga sejuta kecemasan yang sebetulnya tidak perlu. Iya, tidak perlu – andaikan bisa begitu.

Katakan perempuan itu tangguh, dan lebih bisa menahan diri. Tapi soal perasaan, siapa yang bisa kompromi? Jangan pernah meng-overestimate kemampuan dalam diri perempuan untuk bisa jadi cold-hearted bitch yang bisa bercinta semaunya layaknya laki-laki (kecuali dinginnya Summer dalam cerita 500 Days of Summer). Perempuan memang tidak dirancang seperti itu. Fisik, emosi dan psikologi perempuan; semua berjalin berkelindan, memaksakan diri kuat menahan, dan relasi semacam No String Attached hanya akan membuat perempuan akan berakhir seperti lirik lagu Adele – All I Ask, take me by the hand while we do what lovers do, It matters how this ends, ‘Cause what If I never love again?. Begitulah kira-kira. Cliché? Yes, karena rasanya seperti tidak mungkin tidak dapat jatuh cinta lagi setelah menjadi nyaman dalam relasi No String Attached ini, atau ada kemungkinan hanya sekedar sisa-sisa ampas perasaan karena yang terdalam telah diberikan.

Mau bagaimana juga memang begitu adanya. Perempuan seringkali menukar hasrat dengan cinta, tanpa mereka sadar. Berpikir ia sanggup menjalani relasi No String Attached, sekedar sebagai have-fun, pelipur lara, atau sebagai mekanisme pelepasan hasrat yang membuncah, namun berakhir dengan ingin menghabiskan waktu bersama selama mungkin.
Jauh di lubuk hati, sesungguhnya No String Attached ini tidak ada ujungnya, but savor It while It last. Menukar kebahagiaan sesaat dengan emosional roller-coaster beberapa hari, seperti nampak tidak sepadan memang. Apalagi bagi si bucin, yang merindukan kasih sayang. Meski, lagi-lagi, tidak ada salahnya mencoba, ya kalau siap – dan berani.
***

Chaos yang terjadi saat dalam relasi No String Attached
mulai melibatkan perasaan, sementara di sisi lain
tidak boleh ada perasaan yang masuk ke dalamnya.
(Picture by : Pinterest)

Tepikan sejenak perspektif lain, mari kita melihat dari sudut pandang perempuan terlebih dahulu. Kesalahan perempuan saat menjalani relasi No String Attached adalah berpikir rasa nyaman yang dia rasakan juga dirasakan laki-laki. But, you know what? And poor you, the answer is, No. Yup! Bagi laki-laki, pelepasan ya pelepasan saja. Dari sebagian besar kawan lelaki yang pernah berkisah soal ini, No String Attached kan seperti ingin pup, kalau sudah dikeluarkan selesai. Tidak ingin lagi, benar-benar selesai. Tuntas!

Masih pandangan dari perspektif perempuan – yang banyak melihat laki-laki, pada umumnya memang mempunyai langkah-langkah terstruktur, sistematif meski tidak massif untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Ada yang mulai terpikat ketika si perempuan berkebaya saat wisuda dan mencoba peruntungannya pedekate beberapa tahun setelahnya, ada yang memberanikan diri NSA-an saat kuliah sampai mencoba lagi saat sudah kembali bekerja, ada yang berakhir dengan #CukupTahuAja, ada juga yang “I had a huge crush on you, because you’re attractive” atau malah sampai “I love you”, tapi.. hanya sekedar kata-kata dan tidak ada lanjutannnya.

Bonding time yang dibutuhkan perempuan dengan berkomunikasi dengan Video call, WhatsApp atau berkirim pesan. Sementara laki-laki sebaliknya – karena hanya ingin saja, praktis dan logis, ataukah sesuka hati rupa-rupanya terlihat berbeda tipis. Bukan karena ingin sesuatu yang lebih, atau merasakan hal yang sama selayaknya perempuan rasakan.
Saat perasaan baper kembali muncul, dan lalu dibicarakan pada akhirnya hanya untuk mengakui bahwa si lelaki tiba-tiba (teryata) juga punya perasaan dan tidak bisa menghadapi luapan emosi hingga memilih mengakhiri No String Attached. Menjadi Cold feet - dan lari saat benteng emosinya bocor tipis. Tidak siap, dan tidak bisa menghadapi emosi sendiri, karena yah niatan awal kan memang having-fun. Tidak sanggup menghadapi kemungkinan bahwa yang dia inginkan ternyata bukan cuma penyaluran semata, dan ada yang lebih. Tentu tidak mau direpotkan dengan pertanyaan semacam, “Ini cinta atau nafsu sih?” atau “Kamu sayang aku nggak?”.

Laki-laki, mereka bisa saja memiliki si perempuan secara utuh, lengkap dengan segala demons-nya. Namun tujuan awal memang bukan untuk itu. Bukan untuk berhadapan dengan perempuan itu secara utuh. Malas repot karena, yah kalau bisa beli pecel lele, ngapain pelihara lele, ‘kan? Begitu kira-kira kasarnya.
***

Sementara itu, perempuan seringkali salah paham, ia merasa yang dibutuhkan lelaki itu hanyalah diyakinkan. Analogi terbalik rupanya. Dengan lebih banyak afeksi dan sentuhan, maka akan lebih banyak cinta. Padahal, yang dibutuhkan lelaki dalam konteks relasi No String Attached ini, ya kadang memang cuma keintiman secara fisik. Kebutuhan emosional dan psikologis bisa dia dapatkan lagi dari yang lain. Terlatih untuk menjadi pemain yang ulung. Hebatnya, laki-laki memang bisa mempunyai kemampuan pemisah setegas itu. Kemampuan yang kadangkala tidak dimiliki perempuan. Iya, sebagai sesama perempuan; saya akui, seringkali perempuan masih kalah dalam hal tersebut, lagi-lagi karena perempuan memang berbeda.

Dalam sebuah relasi No String Attached ini, semakin cepat perempuan menerima bahwa sentuhan juga bisa membuatnya sehat secara emosional, maka semakin baik. Bukan sebaliknya. Kalau sinyal bahaya sudah bunyi, lari dengan segera. Kalau si partner hanya membuat merasa hampa atau sudah tidak merasakan apa-apa lagi, berarti sudah tidak ada kenyamanan emosional dan psikologis, apalagi kalau malah sampai membuat stress hingga depresi. 

Idealnya, perempuan juga harus tahu, kapan berhenti, kapan menolak ketika pertukarannya sudah tidak seimbang. Saat sudah tidak terasa menyenangkan lagi, artinya alasan utama melakukan itu sudah hilang. Lantas mengapa bertahan? Karena, jika ia menyayangi – tidak mungkin ia akan membiarkanmu seperti itu. Tapi ya begitulah, seringkali memang berhenti dan pergi itu lebih sulit daripada bertahan. Butuh berliter air mata untuk akhirnya sampai di kesimpulan, #YaudahGakPapa atau #CukupTauAja.

But anyway, sama seperti setiap pola relasi normal lainnya, No String Attached unik sebetulnya. Asalkan, kuat-kuat hati saja. Saya bukan yang sepenuhnya menentang, bukan pula lalu kemudian mendukung. I stand in between. Meski seringkali, No String Attached lebih menjurus ke toxic-relationship. Karena dalam relasi No String Attached sendiri, makin dihindari, makin penasaran. Percuma bilang, api itu panas saat panasnya tak bisa dirasakan; sebaik apapun orang menceritakan.

Andaikata, perempuan jadi lebih mengetahui diri sendiri, tahu apa yang dimau dan tahu apa yang tidak dimaui. Andaikan mampu. Tapi ya itu tadi, kembali ke persoalan, kuat dan siap tidak dalam menghadapi segala konsekuensi emosionalnya? Jelas, bukan persoalan yang mudah. Karena, No String Attached bukan untuk semua orang, juga tidak semua orang bisa menerima dengan sudut pandang terbuka. 

No String Attached, bukan tentang menerima apa adanya tanpa adanya embel apa-apa. Meski, konon itulah wujud relasi yang paling murni. Saya sendiri tidak terlalu yakin. Buktinya, dalam relasi yang tidak boleh melibatkan perasaan sekalipun, perempuan pada umumnya juga secara spontan tetap membuat alasan-alasan logis mengapa perempuan mampu menaruh rasa pada partnernya. Mengapa pula para perempuan itu perlu alasan-alasan logis? Agar lebih mudah dalam mengelola rasa. Juga agar lebih rasional menghadapi perasaan yang terlanjur dalam. Meski lagi-lagi akan sulit kalau sudah bicara tentang perasaan, karena logika-logika seringkali menjadi buntu.

Jangan pernah berlebihan menilai kapasitas emosional diri untuk bisa tidak mampu merasa, atau seolah-olah tidak peduli. No String Attached, tidak sesimpel itu. Pertanyaannya, sanggupkah perempuan menahan, dan bertahan – saat pada akhirnya ternyata kau telah jatuh dalam hangatnya pelukan?

mereka yang bilang perempuan itu kompleks,
padahal hanya ini yang ia butuh : ketulusan & kasih sayang
(Picture by : Pinterest)


You Might Also Like

0 comments