26 : Gaudete et Exultate

December 13, 2020

Hari Minggu Adven ketiga juga biasa disebut dengan Hari Minggu Gaudete, yang berarti bersukacitalah! Sementara itu, makna Adven dalam arti harfiah adalah : kita menanti. Padahal setiap insan juga kebanyakan pasti tahu, menanti bukanlah pekerjaan yang mudah, tanpa kepastian dan kerap kali membosankan. Begitulah keluhan oleh sebagian besar orang-orang yang kerap kali bergulat dengan penantian. Belum lagi sesuatu hal yang dinanti lama tidak muncul, maka kembali timbul perasaan cemas, gelisah tak karuan hingga menjadi jenuh. Terlebih saat penantian itu tidak datang, lantas kita menjadi kecewa, tak ayal muncul amarah.

Sehingga, disinilah makna Adven menjadi semakin dalam untuk dapat memaknai tentang penantian. Tanda-tanda simbolik dalam Korona Adven sedikit banyak membantu kita untuk dapat merefleksikan apa yang menjadi pergumulan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga hal tersebut menjadi penting, karena warna merah muda yang melambangkan sukacita dalam penantian.

Corona Advent
(Picture by : Pinterest.com/iStockphoto

Lantas mengapa Gaudete identik dilambangkan dengan warna merah muda? Karena itu adalah salah satu cara Gereja Katolik dalam mewartakan iman – dengan menggunakan simbol-simbol, dan menggunakan warna termasuk didalamnya. Warna merah muda menghadirkan suasana sukacita, kegembiraan dan kebahagiaan. Dalam perayaan Ekaristi pada Minggu Gaudete pula, biasanya para Imam menggunakan Kasula berwarna merah muda.

Teks introit (antifon saat misa) dalam Minggu Gaudete serta warna merah muda, yang (sering) digunakan ini menunjukkan adanya harmoni dan kesatuan dalam liturgi untuk membangkitkan suasana sukacita di hati umat beriman. Tetapi, mungkin dalam hati juga saya bertanya, “Bukankah sesungguhnya dalam masa Advent (ataupun Prapaskah); suasana yang lebih kental sebenarnya adalah suasana elegi, pertobatan, penantian atau harapan?”.

Hal ini yang kemudian juga perlu adanya perhatian, bahwa benar suasana elegi, pertobatan hingga penantian (atau rasa penyesalan akan dosa) memberikan nuansa yang agak suram. Lantas, warna merah muda ini seakan juga berkata kepada kita, “Cobalah lihat, sebentar lagi Tuhan akan datang ke dunia, Ia menyelamatkan dunia dan membebaskan kita dari segala dosa-dosa. Tuhan memang akan datang, tetapi belum – jadi, dalam masa penantian ini, pada hari Minggu Gaudete mengajak untuk bersukacita, sukacita yang meluap-luap, karena ia masih bercampur dengan kesedihan”.

Penggunaan warna merah muda ini, juga bertujuan untuk sedikit meringankan suasana yang terlihat suram dan muram, bahwa sekalipun ada penyesalan untuk dosa-dosa kita, namun janganlah putus asa (kira-kira begitulah teori yang saya pahami, kendati prakteknya masih tertatih-tatih). Juga, warna merah muda dalam simbolis Adven ini juga seakan ingin memberikan dorongan kepada kita agar terus melanjutkan pertobatan manusia untuk tetap memiliki harapan, sekaligus jangan terlalu banyak berharap.

Sukacita sendiri juga akan tercipta saat kita sungguh memberi waktu dan tempat untuk menyambutNya. Saat kita sungguh memiliki iman bahwa Dialah yang memang kita nantikan; saat kita memiliki cinta yang tak kenal gelisah, saat kita memiliki pengharapan yang tak tergoyahkan. Agar cintaNya tidak berujung kecewa, tetapi berbuah perjumpaan yang menggetarkan jiwa. Juga agar karyaNya yang ajaib tidak menjadi sia-sia, tetapi membawa keselamatan dan sukacita yang sempurna.

Itulah sebabnya, persiapan diri kita menjadi perlu secara mutlak. Iman, harapan, dan kasih yang mesti diperbaharui untuk menyambut Sang Juruselamat. Kesalahan serta dosa-dosa yang mesti kita buang jauh-jauh. Segala tindakan baik yang mesti kita lahirkan dalam keseharian hidup, agar sebagai manusia yang juga sungguh menjadi berbahagia. Bukan menjadi sangsi dan terus menolak. Kedalaman akan pemahaman akan Iman dan penantian ini susah-susah gampang, sebagai manusia terasa tidak sanggup, dan kelihatannya sederhana tapi nyatanya kompleks juga, ya?

***

Saat pergantian hari, saya berusaha memahami makna dari Gaudete itu sendiri. Bagi saya terasa amat spesial, dan mungkin tidak akan terjadi lagi dengan sukacita yang sama. Di tahun ini, saat perayaan hari Minggu Gaudete yang juga bersamaan dengan tradisi Terang dalam perayaan Santa Lucia (di Swedia); yang mana ia adalah Santa Pelindung saya. Momen yang bagi saya mungkin akan menjadi langka, saat keduanya bertemu pada satu momen spesial di hari dan waktu yang sama.

Last but not least, menandai tentang perjalanan hidup seseorang di pertambahan usianya yang telah memasuki tahun ke- 26. Bukan lagi angka yang kecil, begitu pula dengan tanggung jawab yang mesti dibawanya. Tidak ada yang mudah, namun setidaknya ia berusaha untuk menjalankan sebaik-baiknya dengan segala kemampuan yang ia miliki. Ia tidak suka keramaian, karena sedari lahir telah disambut dengan guyuran hujan, cahaya temaram dengan langit yang syahdu. Maka ia hanya ingin merayakan dalam doa, beserta ucapan syukur sederhana bersama dengan orang-orang terkasih, juga kekasih hatinya. Seperti mimpi indah sekejap yang mustahil kembali terulang, karena waktu, momen, dan kesempatan tidak pernah datang dua kali.

So, let her say her thankful with those words : The moments – and every memory with you, are golds; no matter how pain It was. For every love, attention, pray, affection, support and everything I can’t write right now, whatever happen It was – thank you for being the wick to my candle. Welcome, 26 – this might not be easy, but It’ll be worth It.

You Might Also Like

0 comments