Andai saja Cinta Mereka Setara, Maka "Past Lives" tidak akan Menjadi Hantu Dari Kehidupan di Masa Lalu

April 04, 2024

In-Yun adalah sebuah ungkapan dalam Bahasa Korea yang berarti : takdir – lebih tepatnya memiliki kaitan dengan relasi hingga pertemuan antar dua manusia dan reinkarnasi. Bisa jadi, konsep In-Yun ini juga memiliki irisan dengan tesis Erich Fromm mengenai cinta : “Love is the active concern for the life and the growth of that which we love. Where this active concern is lacking, there is no love”. Takdir pada sepasang insan, tanpa adanya cinta yang bertumbuh, maka tidak bisa disebut sebagai kekasih yang saling mencintai. Film Past Lives berbicara tentang takdir, kemudian membingkainya menjadi sepasang teman masa kecil yang masih berada di antara penerimaan dan penyangkalan akan sebuah ketetapan. Bagi mereka, takdir adalah Tuhan tak kasat-mata yang mempertemukan perpisahan melalui cara misteriusnya.

Adalah Nora (Greta Lee), Hae Sung (Teo Yoo) yang menjadi awal dari perjalanan drama Past Lives. Keduanya adalah sepasang teman masa kecil yang persahabatannya harus terhenti kala Nora memutuskan pindah dari Korea Selatan ke Kanada bersama dengan keluarganya saat berusia belia.

***

Kisah Nora dan Hae Sung, tak bisa sepenuhnya dibilang sebagai kisah kasih yang tak sampai. Hae Sung yang mencari Nora karena merindukannya (bahkan dalam kewajiban wajib militer) hingga sampai pada tahapan mencintai Nora, mencintai yang bukan iseng-iseng mencari. Sementara, Nora – mungkin hanya rindu pada kenangan akan dirinya dan Hae Sung di masa kecil dulu. Karena sebagian besar waktu masa kecil Nora, dimana ia tidak memiliki kawan dengan rasa “korea” yang sama. Pengalaman di negara lain dengan rasisme yang masih tinggi, ditambah keluarganya menjadi immigrant, menjadikan ia terasing untuk tumbuh menjadi perempuan dewasa yang tangguh, atraktif dan ambisius.

Berpindahnya pertemuan antara Nora dan Hae Sung dari sekadar “tidak sengaja” menuju rangkaian komunikasi intens adalah momen intim sederhana yang diracik dalam film. Rasa rindu Nora akan kebebasan berbicara dalam bahasa ibunya tak lagi mewujud di guratan pena, namun digantikan oleh sosok masa lalu yang berada di balik layar laptop. Tanpa sadar, obsesi kian membuncah dan hubungan mereka makin berkembang ke arah platonik. Tidak ada yang lebih sederhana, daripada cinta yang saling; bukan paling. Namun Nora dan Hae Sung tidak menemukan itu.

Tidak ada konsep untuk meyayangi satu sama lain, tanpa memiliki tendensi. Utopis bukan? Tambahkan jarak dan waktu sebagai bumbu, maka cinta akan mendapatkan lawan yang pantas, seharusnya. Dalam film, penonton tidak akan menemukan adegan tragis, saling memaki hingga menyakiti ketika berpisah. Ucapan lembut dan penerimaan, sebagai bentuk sarkas bahwa sebagaimana relasi yang baik bukan berjalan seperti itu. Pengalaman emosional ketika melihat adegan dalam film ini, rasanya ada emosi yang ditekan; ketika ditinggal pergi oleh seseorang yang dicintai, sepenuh hati. Unfinished Bussiness.

Cinta menyoal kepedulian yang aktif, terhadap hidup dan kemajuan subjek yang kita cintai. Tanpa itu, maka cinta tak pernah ada. Past Lives menggambarkan bahwa Nora dan Hae Sung yang tak pernah benar-benar saling hadir dalam tiap proses dan progress masing-masing, maka tak dapat dikatakan sebagai dua orang yang benar-benar saling cinta. Bertumbuh dan berkembang bersama, adalah unsur terpenting dalam cinta. Ketiadaan keduanya, jadi membuat apa yang mungkin disebut cinta, tak ubahnya ilusi konsep dan tipu daya nostalgia.  Kalaupun ternyata ada benih cinta antar keduanya – antara Nora dan Hae Sung - maka menjadi tidak setara. Nora dengan ambisinya, dan Hae Sung dengan impian masa kecilnya. Nora merindukan masa kecilnya yang sangat erat dengan jati dirinya; bukan Hae Sung, dan sebaliknya, Hae Sung merindukan Nora dengan segala yang melekat padanya.

Visualisasi yang terlihat dalam Past Lives adalah bentuk drama yang lebih menyoroti emosi daripada plot, kemudian film ini menjadi tantangan ketika terbiasa menonton genre drama yang lebih fokus pada plot daripada emosi karakternya. Karakter yang seharusnya menjadi antagonis, menjadi redam karena emosinya yang stabil, cara berbicaranya yang berbisik, dan pribadinya yang atraktif. Mungkin akan sangat mudah untuk membenci salah satu tokoh, ketika ada yang memang dibuat menjadi tempramen. Akan tetapi, fakta bahwa Hae Sung dan Arthur (suami Nora) divisualisasikan sebagai orang-orang yang pasrah, terhadap waktu dan terhadap cinta, membuat rasa sakit di Past Lives terasa seperti luka permanen di hati.

***

Past Lives tentu bukan film untuk semua orang. Tapi bagi penikmat film-film Wong Kar Wai (terutama In The Mood For Love), Past Lives akan menjadi tontonan yang menyegarkan. Rasa patah hati adalah perasaan yang paling dibenci, dalam kehidupan nyata. Namun, di tengah kegelapan sinema, mungkin tidak akan terlalu keberatan. Pesan film yang mengajak kita untuk berefleksi untuk bersiap dalam pelbagai patah hati yang akan datang. Andai ramalan bisa dipercaya, maka patahnya hati adalah keniscayaan yang diniscayakan. Dalam diam, coba renungkan hal itu bersama film yang juga memilih untuk diam. Namun, apakah diamnya Past Lives cocok untuk semua orang? Tidak selalu.

Bentuk pengalaman sinematik realistis inilah yang mengaburkan sekat antara penonton dan layar. Sosok Arthur yang hanya bisa diam dan melihat sang kekasih berbicara dengan sosok masa lalunya dalam bahasa yang tak ia pahami. Cinta yang tadinya adalah bahasa pendobrak tembok batasan, rupanya juga membangun batasan itu kembali tatkala ego menguasai. Bisa jadi, Arthur adalah gambaran dari kita; ketika hanya bisa diam melihat sesuatu yang terjadi diluar nilai-nilai yang dianut, namun hanya bisa diam karena terjebak oleh ilusi cinta.

Pada akhirnya teka-teki cinta ini memang tak menghasilkan pemenang dan pecundang. Meski, sebenarnya Arthur (suami Nora) boleh membusungkan dada karena ia yang terpilih sebagai pemberhentian terakhir. Tapi apakah pemberhentian terakhir karena cinta, atau karena ambisi “American Dreams” semata? Sementara Hae Sung, ia adalah bagian dari barisan orang-orang yang tetap harus melanjutkan hidup meski gagal mendekap apa yang diimpikannya. Hae Sung adalah kita semua : sebuah wujud nyata realitas hidup bagi orang-orang yang seringkali kalah, namun harus tetap melangkah.




You Might Also Like

0 comments