Menikmati Adu Rayu - yang Tak Sekedar Lagu

March 27, 2019





Baru saja menapaki Yogyakarta, sekembali saya dari tanah leluhur – seketika ada WhatsApp masuk dari seorang kawan yang mengirimkan satu link dari sebuah lagu kolaborasi dari Tulus, Glenn dan Yovie berjudul Adu Rayu, versi movie-clipnya. Belum sempat saya membuka, lalu pesan muncul dibawahnya lagi. Kamu pasti suka. Karena ceritanya kamu banget! Baru sempat membuka di bagian awal, dan lalu dalam hati saya terheran-heran. Penilaian kamu-banget versi kawan saya itu yang seperti apa? Yang kerja di tengah hutan, yang moody-an, atau yang gimana? Ahh daripada berspekulasi, sembari menunggu bagasi keluar saya teruskan nonton movie-clip ini, dan tak menghiraukan pesan lanjutan darinya.

Usai menontonnya secara tuntas, saya lantas membalas pesannya – masih dengan WhatsApp, karena belum bertemu secara langsung. Ini heboh banget kenapa sih? Ucapan saya kali pertama membalas pesannya, dan langsung dijawab dengan cercaan macam-macam. Ternyata oh ternyata, visualisasi dalam Adu Rayu ini tak sekedar clip lagu pada umumnya, namun justru mirip seperti mini-movie clip. Kualitasnya sudah setara dengan film pendek. Dan pemerannya? Tentu saja yang dipilih juga telah menjadi bintang layar lebar dengan jam terbang yang tinggi. Kini saya tahu kenapa kawan saya ini sangat antusias menunjukkan segera kepada saya.

***

Diawali dengan dialog Asti (Velove Vexia) dan Indra (Chicco Jerico) di awal (saat long intro), Asti harus pergi saat perayaan anniversary mereka karena urusan pekerjaan, ditentang keras oleh Indra yang menganggap Asti sudah tidak peduli dengan hubungan mereka. Movie-clip Adu Rayu menyajikan alur cerita yang melibatkan dilemma Asti saat mulai bertemu dengan Nico (Nicholas Saputra) ditengah konflik hubungan asmara dengan pasangannya, Indra. Ohh, tentu sangatlah jelas jika Asti menjadi goyah si orang ketiga tersebut adalah pria dengan tatapan matanya tajam menusuk namun mendinginkan hati. Belum lagi sosoknya yang tenang dan pandai memahami Asti tanpa banyak menuntut. Bahasa pertengkaran yang kerap terjadi antara Asti-Indra dan bahasa-bahasa tubuh yang diperlihatkan Asti-Nico dalam movie-clip bercerita tanpa banyak kata, seakan menghidupkan visualisasi dari audio Adu Rayu.

Setelah lagu mulai berjalan hingga kembali mengulang prelude, di menit 3.30 terlihat pertemuan Asti dan Nico yang terjadi di tengah jembatan gantung dan bersalaman. Disadari atau tidak, kultur orang-orang yang terbiasa bekerja di lapangan – entah di tengah hutan, atau dimanapun, pasti bersalaman. Seperti sudah menjadi kebiasaan. Saya memahami kultur ini karena ada seorang kawan yang bekerja di Taman Nasional, ia bercerita demikian. Dan saya pun kerap mengalami ketika beberapa kali mengambil data di lapangan untuk keperluan riset. Kebiasaan-kebiasaan kecil, namun tak luput menjadi detail dalam pembuatan movie-clip Adu Rayu ini, juga patut diacungi jempol bagi tim riset dibalik pembuatannya. Dalam movie-clip, ketika sedang memasang kamera trap dan mengolah data dengan latar tempat dan petunjuk; nampaknya Nico menjadi rimbawan di Tangkahan Ecotourism, yang masuk dalam wilayah Taman Nasional Gunung Leuser di Sumatera Utara, tempat penangkaran Gajah Sumatera.

Seakan dapat membaca peluang pasar, Glenn – Tulus – serta Yovie menyuguhkan lagu cinta dengan tema yang dekat dengan anak muda, oleh karenanya perkenalan lagunya pun haruslah istimewa. Dipopulerkan lewat kanal youtube dengan sajian yang pas, tidak hanya bermain dengan lirik namun juga visual yang menyentuh dengan dalam. Jauh berbeda dengan klip-klip lagu jaman saya masih SD dulu. Maka tak salah, jika ada yang menyebut ini sebagai movie-clip karena memang dibuat seperti film lengkap dengan dialognya, seolah ingin menawarkan hal baru di industri musik.

Saya perlu akui, alur dalam movie-clip Adu Rayu juga sukses bikin para perempuan berimajinasi merasa hidup seperti dalam movie-clip. Tepatnya merasa seperti Asti yang terjebak dalam kemelut cinta memilih Indra atau Nico. Kisah drama bisa dibilang berhasil jika meninggalkan dampak emosional dalam kehidupan audiens. Ketika audiens melihat, dan menghayati sungguh-sungguh – sesuatu yang dilihat, lantas di akhir merasa : astaga ini aku banget - seolah-olah yang terjadi di dalam layar tersebut dibuat unutk menyentil diri sendiri saja. Haha, padahal kan kita-kita ini para audiens bukan siapa-siapa.

Dan pastinya, audiens melupakan satu hal. Bukan hanya satu atau dua orang saja yang merasakan apa yang terjadi dalam movie-clip itu. Ada banyak sekali orang-orang di luar sana yang juga perasaannya terwakilkan dalam lagu ini (jadi kita-kita ini gak usah ngerasa sok istimewa dulu lah, ya). Kok bisa? Ya karena konseptor dalam movie-clip ini pastinya sudah lebih dini melakukan riset, dan akan menjadi percuma kan kalau ternyata garapannya; yang sudah susah-susah dibikin hanya berdampak pada beberapa orang saja. Lantaran sudah riset itu, sehingga banyak orang yang sudah melihat movie-clip Adu Rayu merasa terhubung, ikut merasakan sisi emosional yang tergambar dalam movie-clip tersebut dan as you know, baper beneran deh.

Mungkin sebaiknya kita-kita ini juga menyadari, bahwa ada kehidupan yang sebenarnya tidak seindah cerita yang dibikin sutradara movie-clip Adu Rayu. Karena Sang Sutradara manusia – Tuhan – pada kenyataannya telah membuat kisah yang lebih kompleks dengan segala teka-teki-Nya. Dalam kisah di movie-clip misal, ada hal-hal yang memang dengan sengaja dilebih-lebihkan untuk memunculkan efek lebih dramatis dibandingkan realitasnya. Toh kehidupan tidak semudah itu kan, Ferguso. Kecuali kau memang dilahirkan untuk senantiasa beruntung hingga ajal menjemput, ya. Meski lagi-lagi, tidak sedikit pula situasi dan kondisi yang terjadi di movie-clip, terasa begitu nyata seolah ada dalam kehidupan kita, walau hanya sekian detik.

Saya teringat kata-kata Sudjiwo Tejo, “Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa, tapi tidak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa”. Asti dan Nico, adalah dua insan yang dipertemukan dengan tidak sengaja melalui sebuah tugas instansinya masing-masing. Asti dengan cincin yang telah melingkar di jari manis, tidak berencana untuk jatuh cinta dengan Nico. Namun seiring berjalannya tugas mereka, keseharian bertemu, kewajiban Nico mendampingi Asti untuk menjamin tidak terjadi apa-apa dengannya saat berada didalam rimba. Rupanya apa yang dilakukan oleh Nico, tidak hanya semata melindungi – namun juga turut memekarkan bunga-bunga cinta dalam pertahanan diri Asti. Terlebih dirinya sedang menghadapi kemelut dengan Indra. Sama halnya saat emosi kita ikut terbawa sampai ngilu-ngilu sendiri melihat konflik yang tergambar dalam movie-clip Adu Rayu, yang berarti cukup sukses memberikan efek dramatis meski hanya dalam durasi 5 menit 57 detik.

Lantas, jika sebuah cerita dalam movie-clip yang dilihat berhasil membuat kita terbawa dengan suasananya, atau istilah kekiniannya baper – bahkan hingga berimajinasi kalau-kalau diri ini adalah tokoh dalam cerita tersebut, maka teori disposisi dapat menjelaskan hal yang lain. Pasalnya, teori disposisi sendiri, memberikan penjelasan tentang kekuatan karakter dalam cerita tesebut, yang kemudian akan mempengaruhi respon emosional dari penonton.

Kemudian mulai lagi, jiwa berandai-andai manusia yang kembali membayangkan, apa yang bakal kita lakukan untuk menghadapi kegalauan tersebut – seandainya menjadi sosok Asti, Indra atau Nico. Lebih jauh lagi, siapa yang nantinya bakal menjadi pilihan. Padahal nih ya, kalau saja pikiran kita-kita sebagai para penonton – yang bukan siapa-siapa ini – kembali ke dunia nyata, kalau saja kaki kita bersedia menginjak bumi lagi, kita ini siapa sih? Kok merasa harus memilih dan merasa menjadi sosok yang dicintai oleh mereka-mereka yang sebenarnya adalah people we can’t have?

Nggak usah deh dilihat-lihat lagi, dari lirik dan visualisasi awal memang terlihat jelas kalau movie-clip ini memang bikin baper, tentang bagaimana riuhnya pikiran-pikiran Asti yang mempertimbangkan Indra atau Nico. Disisi lain juga, Nico dengan tatapan khasnya yang tajam, pembawaannya yang cool dan juga tanpa banyak bicara – masih juga tak mampu menyembunyikan riuh pikirannya. Saya sih mencoba memahami, dalam kisah ini Nico yang seorang rimbawan sedang melakukan Adu Rayu dengan Indra – yang jelas-jelas tunangan Asti, terlebih mereka tinggal sekota. Kemudahan akses Indra, semakin mudah membuat Nico meragu dan merasa pesimis. Bagaimana tidak, bertugas di tengah rimba, yang kalau ingin berkirim kabar saja harus pindah-pindah tempat mencari sinyal, atau bahkan harus ke desa terdekat. Kalau sedang tidak dalam tugas, bisa menghubungi sedikit agak lama atau curi-curi waktu barang sebentar ke kota. 

Ending divisualisasikan dengan adanya harapan. Barangkali, Nico juga sesekali berharap – Asti kembali bertugas lagi ke Tangkahan Ecotourism, entah mengambil data atau mengerjakan yang lain. Agar mereka kembali bertemu. Selain terus berpegang pada harapan, jika ragu dan pesimistis tak lagi bisa dibendung dan juga tak sanggup melakukan apapun, cara terakhir berdoalah.

***

Mungkin akan lain ceritanya kalau si orang ketiga itu,
tidak se-cool dan setampan Nicholas Saputra.
Mungkin akan lain ceritanya kalau si orang ketiga itu,
tidak se-asyik dia yang pandai untuk bercerita Sejarah dan Bahasa.
Mungkin sesekali kita tak ingin mengikuti lelucon-Nya,
karena IA sang empunya takdir, dan manusia bisa apa.

You Might Also Like

0 comments