Semper Ridens
April 02, 2019
Baru-baru ini, di Yogyakarta situasi intoleransi sedang memanas. Hal ini bermula dari kasus ditolaknya seorang warga non-muslim yang menempati rumah kontrakan di Dusun Karet, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul. Usai kasusnya menjadi viral, tentu problematika ini kian menjadi sorotan, khususnya tentang toleransi umat beragama di Yogyakarta yang kembali dipertanyakan. Semacam hukum alam, yang lemah akan kalah. Keputusan membuat dia harus angkat kaki dari tempat tinggalnya. Para pemegang kekuasaan banyak yang tak mau campur tangan. Seperti biasa, cari aman. Dan itulah yang akhirnya terjadi. Dengan dalil kesepakatan bersama, mereka pun bersama-sama cuci tangan terhadap kotoran yang mereka buat sendiri. Manusia yang berbahaya, manusia yang bertindak tanpa nurani dan logika. Mementingkan ego semata. Kasus intoleransi ini semakin memanas di tahun politik, terlebih jumlah rasio masyarakat yang close-minded dengan yang open-minded masih belum sebanding. Banyak orang yang masih suka mencari aman, dan menutup mata terhadap kaum-kaum minoritas. Dan rasa-rasanya ini mengingatkan saya terhadap salah satu kisah seorang Santo, yang jarang mendapat sorotan namun teladannya meninggalkan laku hidup yang manis untuk dikenang.
***
Orang kudus dari Belgia ini pernah mengatakan, “Jika aku tidak menjadi kudus ketika aku masih muda, maka aku tidak akan pernah menjadi kudus.” Kata-kata itu terinspirasi saat membaca kisah hidup Aloysius; yang kemudian sungguh-sungguh terjadi dalam hidupnya. Sebab ia meninggal pada usia yang masih muda, dan ia berhasil mencapai harapannya untuk menjadi seorang yang kudus.
Yohanes Berchmans lahir di kota Diest, Belgia Tengah pada tanggal 13 Maret 1599. Sebagai seorang anak laki-laki, ia amat dekat dengan sang ibunda. Namun sama dengan anak seusianya yang juga suka bergabung dengan teman-teman sebaya untuk memainkan kisah-kisah dari Kitab Suci. Berchmans kecil sangat pandai memainkan adegan Daniel membela Susanna yang tidak berdosa. Ketika memasuki usia tiga-belas tahun, ia ingin bersekolah menjadi seorang imam.
Hanya saja keinginannya berbenturan dengan kondisi keluarganya, kala itu sang ayah – yang seorang tukang sepatu – membutuhkan bantuannya untuk ikut menunjang kebutuhan ekonomi keluarga. Selain itu, ayah Berchmans bercita-cita anak sulungnya kelak menjadi orang yang berpangkat tinggi dan masyhur namanya.
Mendengar keputusan ayahnya, ia diam tertegun sambil merenungkan nasibnya di kemudian hari. Dalam sikapnya yang tenang laksana air jernih tak beriak, Berchmans tetap memiliki cita-cita untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Berchmans lalu memutuskan untuk melanjutkan studinya atas tanggungan pribadi dan berjanji untuk makan roti kering saja dan hidup sederhana, asal cita-citanya tercapai. Lambat laun ayah Berchmans mulai menerima. Bak gayung bersambut, sembari mengikuti pelajaran di sebuah kolese umum, Berchmans juga bekerja sebagai pelayan di Gereja Katedral untuk memperoleh nafkah. Di gereja itu, Pater Emerich sering mengajak Berchmans ke biara juga pastoran; sesekali Pater Emerich mengajarinya Bahasa Latin. Berkat kecerdasan serta kemauannya yang keras, Berchmans selalu lulus dalam ujian dengan nilai yang gemilang, ia bahkan selalu menjadi juara kelas. Teman-temannya sangat baik dan sayang padanya karena tabiatnya yang tenang dan periang. Sampai-sampai Berchmans mendapat julukan Frater Hilaris – frater yang ceria. Oleh karenanya, Berchmans memiliki motto : Semper Ridens – senantiasa tersenyum, tentulah cocok dengan sifatnya yang periang.
Tiga tahun kemudian, Berchmans muda bergabung dengan Serikat Yesus. Ia berdoa, belajar dengan tekun dan dengan bersemangat memainkan peran-peran dalam drama religius. Sebagai novis, Berchmans juga sangat mengagumkan. Hidup asketik dan tulisan-tulisan rohaninya sangat mendalam, sempurna. Meskipun semasa hidupnya Berchmans tidak pernah melakukan perbuatan-perbuatan besar yang mengagumkan, namun ia melakukan semua pekerjaan-pekerjaan kecil dengan baik, mulai dari melayani makan hingga menyalin catatam pelajaran. Oleh karenanya, Berchmans mempunyai semboyan “Berilah perhatian besar pada hal-hal kecil”. Hingga menginjak tahun terakhir studi – tahun retorika – Berchmans pindah ke Kolese Yesuit di Malines pada tahun 1615. Salah satu hal yang menarik bagi Berchmans hingga ke Malines adalah semangat perjuangan serta kemartiran para Misionaris Yesuit di Inggris. Setahun kemudian ia kembali dikirim ke Roma untuk melanjutkan studi di sana. Hingga kemudian ia mulai menulis surat untuk dikirimkan kepada orang tuanya. “Dengan rendah hati, aku berdoa untuk ayah dan ibu. Dan dengan segenap kasih-sayangku dan cintaku.” Dan lalu ditutup dengan “Saya ucapkan selamat datang dan selamat tinggal kepada kalian, karena kalian mempersembahkan kembali aku – puteramu, kepada Tuhan. Dia yang telah memberikan aku kepada kalian”. Bukan tanpa alasan, ia menulis surat saat mulai jatuh sakit. Ketika itu tidak ada dokter yang dapat menemukan penyakit yang dideritanya. Berchmans yang kala itu msih berusia 22 tahun, tahu bahwa ia akan segera meninggal. Tetapi Berchmans tetap riang gembira seperti sediakala. Bahkan saat dokter memerintahkan agar keningnya dikompres dengan anggur, Berchmans masih sempat berkelakar: “Untung saja penyakit yang begitu mahal ini tidak akan berlangsung lama.” Dan Tuhan memberinya waktu tiga tahun untuk mencapai apa yang diidamkannya, hidup menjadi calon misionaris – sekalipun tidak berlangsung lama. Dua hari sebelum pesta Santa Maria diangkat ke Surga – yang jatuh di setiap 15 Agustus – pada tanggal 13 Agustus 1621, Berchmans meninggal dunia dalam usia 22 tahun.
Yohanes Berchmans tidak tercatat memiliki prestasi yang luar biasa. Selama hidupnya juga tidak ditemukan jejak dalam membuat mukjizat yang mencolok. Anehnya, mukjizat-mukjizatnya justru terjadi setelah kematiannya. Dia hanya membuat kebaikan semata, namun kesopanan, dan kesetiaan yang merupakan bagian penting dari kekudusan-Nya.
Meskipun Berchmans meninggal dalam usia yang begitu muda, namun ia dinyatakan kudus oleh Gereja karena ia menyempurnakan diri dengan melaksanakan tugas-tugas harian dengan sangat baik. Berchmans berhasil mencapai cita-citanya: menjadi seorang biarawan yang tekun melaksanakan tugas-tugas yang sederhana dengan sempurna penuh tanggung jawab, riang dan senang hati demi cinta akan Tuhan. Melalui laku hidup serta mukjizat yang banyak terjadi usai ia meninggal, Berchmans menjadi contoh teladan dan pelindung para pelajar.
![]() |
| Prayer Card of St. John Berchmans (Picture by : Pinterest ) |
Setelah meneliti beberapa mukjizat yang terjadi dengan perantaraan Yohanes Berchmans; dua setengah abad kemudian Yohanes Berchmans dinyatakan sebagai yang terberkati (Beato) oleh Paus Pius IX pada tanggal 28 Mei 1865; dan dinyatakan Kudus pada tanggal 15 January 1888 oleh paus Leo XIII.
***
Yohanes Berchmans, sebagai seorang Jesuit seringkali disandingkan dengan kedua Jesuit lain yang juga menjadi teladan dan meninggal di usia yang muda – Stanislaus Kostka dan Aloysius Gonzaga. Sementara, bagi saya pribadi, Yohanes Berchmans ini agak berbeda dengan kedua Jesuit itu. Kenapa?
Pertama, tentang latar belakang keluarga. Seperti yang kita ketahui, bahwa Berchmans hidup ditengah-tengah keluarga yang sangat sederhana. Bahkan untuk bertahan hidup, ia pun sempat mengorbankan keinginannya. Sulung dari lima bersaudara ini hanyalah anak seorang tukang sepatu, yang kala itu termasuk sebagai pekerjaan buruh kasar. Namun penyelenggaraan Ilahi untuk memanggilnya menjadi seorang misionaris tidak berhenti sampai disitu walaupun banyak rintangan pada awalnya. Berkat kemampuan serta kemauan yang keras, Berchmans mampu membuktikan bahwa tidak ada hal yang mustahil. Bahwa dengan hal-hal yang kecil, nyatanya juga bisa menjadi besar. Jika dibandingkan dengan Stanislaus Kostka dengan semboyan andalannya, Ad Maiora Natus Sum – aku lahir untuk hal-hal yang luhur, atau Aloysius Gonzaga dengan prinsip It’s better to be child of God than King of the world. Prinsip hidup yang dianut tentu tidak salah, karena dipengaruhi oleh lingkungan serta masa lalu. Keduanya sama-sama terlahir sebagai bangsawan dan prajurit, walaupun pada akhirnya memutuskan menjadi selibat dengan mengikrarkan diri sebagai Jesuit, namun sisa-sisa arogansi nampaknya masih terasa dalam diri Kostka maupun Gonzaga.
Kedua, tujuan hidup. Sebenarnya ini bukan kapasitas saya untuk memberikan penilaian siapa yang lebih baik dan siapa yang lebih buruk diantara ketiganya. Hanya saja disini saya ingin memperlihatkan betapa berbedanya Berchmans. Sekalipun ia seorang Jesuit, nama Yohanes Berchmans jarang digunakan sebagai identitas Jesuit. Tidak seperti ikon Jesuit yang lain - Ignatius Loyola, Stanislaus Kostka, Aloysius Gonzaga, Petrus Kanisius hingga Robertus Bellarminus; yang namanya seringkali sebagai identitas peninggalan besar karya Jesuit di seluruh dunia (terutama Indonesia). Sejauh yang saya ketahui, penggunaan Yohanes Berchmans sebagai pelindung digunakan sebagai nama salah satu PDKK di Jakarta dan salah satu kapel kecil dalam wilayah Paroki Keluarga Kudus Banteng – Yogyakarta. Satu-satunya penggunaan nama Yohanes Berchmans di Indonesia sebagai pelindung lembaga Katolik yang cukup besar, baru digunakan oleh Seminari menengah di Mataloko, Flores. Dengan teladan dan semboyan hidup yang dimiliki, rasa-rasanya kita perlu banyak belajar dari Berchmans untuk tetap memberi perhatian besar pada hal-hal kecil namun dengan tetap senantiasa tersenyum. Semper Ridens. Seperti moto yang terus melekat pada dirinya, tujuan Berchmans untuk menjadi Jesuit bukan untuk menjadi besar atau agung. Namun untuk senantiasa peduli terhadap hal-hal yang minor, dan meneladani nilai-nilai hidup Berchmans rasa-rasanya sangatlah penting terutama dalam banyak hal kontekstual yang terjadi dewasa ini.
***
Kembali kepada fenomena intoleransi yang baru saja terjadi, kalau saja mayoritas masyarakat memiliki pola pikir yang terbuka, multikulturalis serta sekularis – mungkin permasalahan sepele, hingga melibatkan para stakeholder pun tak perlu terjadi. Toh dengan keterlibatan banyak pihak, nyatanya tidak menyelesaikan problem. Seperti benang kusut, belum ada titik temu. Hidup ini sebenarnya mudah, jikalau kita mampu berserah. Kadang-kadang manusia sendiri yang membuatnya menjadi rumit, hingga akhirnya mempersulit keadaan dan diri sendiri. Bermuram menjadi pilihan, dan bersyukur lebih banyak ditinggalkan.
Cobalah sesekali, lebih banyak mengucap syukur, dan tersenyum hingga akhirnya kau bisa merenungkan. Sudah seberapa Semper Ridens-kah kau dalam hidup?
***
Semper ridens, semper splendidus, semper amans – for those who happen not to be latin scholar let me translate : always smiling, always sparkling, always loving.


0 comments