Dilema Ave Maryam : Menahan Sesak di Hati atau Bertahan Pada Janji
April 11, 2019
Kenapa Ave Maryam? Sementara yang selama ini awam didengar adalah Ave Maria. Karena ini bukanlah film biografi tentang Bunda Maria, namun film drama fiksi yang mengisahkan seorang biarawati bernama Maryam. Dengan setting tempat sebuah Biara di Semarang pada tahun 1998 dan mengangkat isu sensitif di Indonesia kedalam sebuah film tidaklah mudah. Robby Ertanto Soedikam sebagai sutradara nampaknya sengaja membuat film yang mengajak penonton untuk berpikir. Dilihat dari judul saja, ada hal yang tampak tak biasa. Dalam agama Katolik, Ave Maria sering dilantunkan sebagai sebuah lagu pujian, namun dalam film ini sebutan Maria diganti dengan Maryam - nama yang tak asing lagi bagi kaum muslim. Film Ave Maryam ini memilih lokasi syuting bertema vintage dengan banyaknya unsur arsitektur gaya Art-Deco yang sangat estetik. Cerita dimulai dengan menggambarkan kehidupan Suster Maryam (Maudy Koesnaedy) yang mengabadikan diri untuk mengurus biarawati lansia. Menjadi seorang biarawati merupakan sebuah janji atas kaul ketaatan dan kesucian. Begitupun dengan Suster Maryam, ia berusaha menepati semuanya. Namun pertemuan tidak sengaja dengan Romo Yosef awal mula segala pergumulan itu muncul.
Sosok Suster Maryam yang cenderung pendiam digambarkan sebagai seorang yang sesungguhnya berpikir bebas dan mencari arti kebahagiaan dalam hidupnya. Hal ini digambarkan melalui adegan Suster Maryam yang hobi membaca juga menyimpan sebuah buku dengan judul dan gambar sampul yang tidak biasa. Keseharian Suster Maryam yang positif seperti memandikan lansia, beribadah di gereja, membuat penonton menanti konflik yang akan dihadapinya. Kita dibuat menganalisa pesan yang disampaikan melalui permainan mimik wajah yang sangat kuat.
Rutinitas Suster Maryam yang terasa datar berubah ketika Romo Yosef (Chicco Jerikho) hadir bersama Suster Monic (Tutie Kirana) – seorang suster sepuh yang berjasa dalam membesarkan Romo Yosef. Dengan kedatangan Suster Monik di biara – dan dalam keadaan sakit, tentu membuat hidup Suster Maryam tidak mudah. Apalagi tanggung-jawabnya besar dalam mengurus segala keperluan Suster Monik. Merasa bertanggung jawab, Romo Yosef yang memiliki karisma tidak tinggal diam. Sebagai seorang imam katolik, sosok Romo Yosef tidak seperti orang-orang yang menyandang status pastor yang pernah Suster Maryam kenal. Romo Yosef memiliki sisi-sisi kehidupan yang tak pernah ia temukan sebelumnya. Kepiawaian dalam bermain musik, hanyalah salah satu hal yang mengejutkan Suster Maryam tentang Romo Yosef. Selanjutnya, muncul pertanyaan-pertanyaan kecil nan esensial yang terlintas dalam pikiran Suster Maryam. Mungkinkah dirinya sedang jatuh hati?
***
Kehadiran Romo Yosef di biara, tentu membuat perubahan pula pada Suster Maryam. Ia seringkali lalai dalam menyelesaikan tugas-tugas utama. Melihat adanya perubahan yang tidak biasa di biara, Suster Monik yang rapuh namun berpengalaman itu, mencoba menasehati Romo Yosef. Sedih. Sebagai pengayom yang lebih senior, Suster Monik juga bukan malaikat, ia pun tak sanggup mencegah apa yang seharusnya tidak terjadi dalam tradisi biara. Keliaran perasaan antara Suster Maryam dan Romo Yosef mulai diuji, karena ternyata mereka bukan semata sebagai pelayan Tuhan, namun juga sebagai manusia. Ada deviasi dari akar pemahaman publik mengenai pelayan Tuhan yang selama ini dikenal suci. Dan fakta itu entah sebuah pembenaran atau sebuah excuse, bahwa biarawan-biarawati juga manusia?
Konflik klimaks terjadi saat Suster Maryam dan Romo Yosef terlibat cinta terlarang. Sutradara menyorot pintu mobil tempat Maryam duduk dibiarkan terbuka, seolah menandakan penyerahan diri atau terbukanya hati Maryam kepada pria yang dicintai. Tanda pintu mobil terbuka sebagai simbol memang menimbulkan interpretasi yang berbeda bagi masing-masing penonton. Juga kepiawaian sang sutradara yang tidak secara gamblang menampakkan adegan erotis secara visual, justru semakin bermakna karena cukup bermain dengan simbol. Beberapa adegan bahkan berhasil memberi sugesti kepada penonton kalau scene itu memiliki makna erotis, yang bagi saya justru terasa lebih elegan dan mendalam, tidak picisan. Misalnya, saat disorot buku yang dibaca Maryam dengan sampul bergambar bagian bawah tubuh perempuan telanjang - scene yang memberi kesan sensual muncul pada awal film dimulai. Juga Chicco Jerikho dalam memerankan tokoh Romo Yosef penuh totalitas. Penampilannya sengaja dibuat penuh pesona. Dalam film ini, karakter yang diperankan Chicco Jerikho muncul disaat derasnya hujan turun dengan baju basah. Ditambah lagi Romo Yosef ini punya skill bermusik yang tinggi dan berwajah tampan. Ketika sedang latihan bermusik, ia lebih sering terlihat berkeringat. Pria terlihat seksi saat sedang bergairah dan berkeringat, dan film Ave Maryam mampu menangkap simbol maskulinitas Romo Yosef dalam adegan itu.
Pergulatan batin antara prinsip yang harus dipegang dan mengikuti kata hati untuk kebahagiaan juga terbalut dengan baik saat bagian mereka pergi ke pantai. Setelahnya, baik Suster Maryam maupun Romo Yosef merasa kacau usai apa yang telah mereka lakukan berdua. Bagaimanapun juga mereka masih terikat kaul. Taat pada aturan, nyatanya adalah hal yang paling berat untuk dilakukan. Ini berlaku bagi siapa pun juga, termasuk bagi para selibat yang sedang bertugas. Ada janji-janji pada Tuhan yang harus dijaga dan tepati. Namun, tak semuanya bisa diselami oleh hati dan pikiran masing-masing.
Film Ave Maryam dinilai cukup kontroversi bukan karena adanya adegan seks vulgar yang diterka beberapa orang. Justru film ini tidak menayangkan secara gamblang adegan mainstream semacam itu. Kontroversi ini justru datang dari tema film, kisah cinta pastor dan suster yang sering terjadi dalam kehidupan namun tidak sampai diangkat menjadi sebuah cerita. Tema yang sangat langka untuk difilmkan, mungkin malah agak tabu. Meski ceritanya penuh resiko, pesan film ini membuka mata kita sebagai manusia yang memang tidak luput dari dosa, tapi juga punya rasa cinta dan kasih sayang.
Pemandangan kreatif – interaksi antara Maryam-Yosef, turut memperlihatkan bagaimana film acap kali dapat bertindak sebagai media ekspresi perasaan yang sukar diutarakan. Sayangnya dinamika itu berakhir dini, tepat saat situasi makin menarik dan intensitas emosional mencapai titik tertinggi. Intensitas pertemuan keduanya dapat tampil dengan apik lewat beberapa kencan kucing-kucingan yang tak jarang menggelitik karena kecanggungan mereka. Ini juga berkulminasi dengan adegan yang saya yakin tak muncul saat tayang di bioskop secara komersil. Sangatlah disayangkan ketika scene yang cukup penting di pantai disensor oleh LSF. Padahal, menurut subyektif saya, scene tersebut justru menjadi klimaks cerita dalam film Ave Maryam.
***
Tak seperti drama fiksi yang menampilkan kisah cinta, dalam Ave Maryam terbalut kisah romansa yang tidak picisan. Butuh waktu sampai Ave Maryam benar-benar menemukan pijakan, tepatnya saat romansa Suster Maryam dan Romo Yosef mulai bersemi. Kehadiran Romo Yosef yang dengan berani mengajak Suster Maryam melihat hal baru hingga menyentuh inti hati. Status sebagai kaum selibat membuat keduanya hanya sanggup bermain-main dengan perasaan. Janjinya kepada Tuhan masih lebih berat untuk diingkari. Dilema Suster Maryam tersampaikan berkat kepiawaian Maudy berekspresi ketika tuturan verbal ditekan seminimal mungkin. Aksi Chicco pun asyik disimak sebagai sosok Romo Yosef yang aktif nan bersahabat hingga sanggup menembus benteng hati Suster Maryam.
Dialog serta backsound yang minim dalam film ini, seperti ciri khas film festival pada umumnya. Namun penonton dibuat menikmati dengan detail suara langkah kaki, derit pintu yang dibuka hingga suara yang dihasilkan dari objek yang ada. Dialog film Ave Maryam yang begitu baku dan terkesan kaku tak terlalu mengganggu untuk dinikmati. Sekalinya para aktor dalam film berlakon, tak ada kata mubazir yang keluar, bernas – sedikit bicara tapi penuh makna. Pengambilan gambar yang apik dengan tone film yang memberi kesan klasik begitu terasa.
Film dengan durasi awal 85 menit (yang kemudian dipangkas 12 menit, hingga hanya tersisa 73 menit) menghabiskan mayoritas paruh pertama membagi fokus ruang personal tokoh utama dengan hal lain. Termasuk paparan tentang seorang biarawati senior – Suster Monic, yang memiliki intensitas relasi dengan Romo Yosef, di mana paparan ini nyaris terasa sebagai Red Herring. Tema Ave Maryam ini juga mengangkat tokoh utama sebagai sosok religius yang mengambil sumpah suci – kaul, namun nyatanya tokoh itu tidak semurni yang diharapkan. Tentulah para penonton, khususnya yang mengidolakan sosok biarawati – ingin melihat perjuangan Suster Maryam, dengan segala kesulitan yang dialami dalam upaya menekan banyak godaan duniawi yang lambat-laun menghilangkan nilai kesucian itu. Penangkalan akan godaan, hanya muncul satu adegan singkat kala Suster Maryam membaca buku dengan cover erotis – tanpa menampakkan bagaimana proses pikir juga proses rasa yang dialami oleh Suster Maryam. Serta bagaimana tahapan stimulus-respon yang dilaluinya. Karena buku hanya dibaca sebentar, ditutup dan lalu rutinitas biasa berlanjut. Demikian juga Romo Yosef yang sempat dideskripsikan ingin menghadirkan perubahan. Kita melihatnya menyetel musik, mengajar orkestra dan menari bersama para biarawati, tapi tidak dengan pemikiran dan ideologinya. Serupa Maryam, cuma terselip sebuah momen pendek jelang akhir tatkala ia mempertanyakan konsep dosa.
Penyelesaian sengaja dibuat open-ending setelah pengakuan dosa suster Maryam yang menangis tersedu-sedu di ruang pengakuan dosa di gereja, dia siap dihukum. Uniknya, pastor yang bertugas memberi pengakuan kepada Suster Maryam adalah Romo Yosef sendiri. Konyol, kan? Sebuah satire yang elok. Akhirnya suster Maryam dihadapkan oleh dua pilihan : bertahan pada kaul-nya atau memilih Romo Yosef. Jika lebih berat pada pilihan kedua, berarti Suster Maryam dan Romo Yosef harus melepaskan status selibat-nya dengan mengundurkan diri sebagai biarawati dan biarawan.
***
Sedari awal pembuatan film pada 2016 lalu, film ini memang fokus kepada festival film dan bukan untuk tujuan komersial. Setelah bertualang di beberapa festival film seperti Hanoi International Film Festival 2018, Hong Kong Asian Film Festival 2018, The Cape Town International Film Market and Festival 2018, Jogja-Netpac Asia Film Festival ke-13 dan Netpac-Geber Awards, untuk memenuhi animo dan rasa penasaran publik – Ave Maryam akhirnya tayang secara komersil di bioskop pada April 2019. Ditayangkan dalam masa pra-Paskah, ada banyak pertimbangan yang pada akhirnya membuat tim sepakat merilis di moment ini. Tentu juga sudah siap dengan segala konsekuensi, terutama film bernuansa religius tayang di saat tahun panas politik (padahal jelas-jelas tidak ada korelasinya, bagi yang paham aja sih 😅). Ave Maryam tak diragukan adalah suguhan dalam negeri tercantik yang saya tonton setahun belakangan ini. Pemakaian static shot memberi kesempatan bersinar untuk desain artistik buatan Allan Sebastian, color grading menawan, sampai sinematografi Ical Tanjung yang jeli memainkan pencahayaan plus memilih sudut cantik dibantu mise-en-scène presisi. Pun para penonton, punya waktu lebih untuk menyerap pencapaian elemen-elemen artistik dalam film. Ave Maryam mungkin belum menghadirkan kedalaman eksplorasi berani, tapi setidaknya tampak segar ketimbang banyak film lokal lain seperti yang diharapkan.
***
Penuh pesan yang terselip melalui berbagai adegan dan dialog pemerannya, Ave Maryam memiliki aktor yang dapat menyampaikan emosinya secara total dengan pengambilan gambar yang epik. Terlepas dari kontroversial kisah yang diangkat, film Ave Maryam ingin mengajarkan kita tentang cinta, kejujuran, toleransi dan pengabdian pada kemanusiaan.
Banyak sekali kiasan yang khas akan teman katolisitas dalam film ini, yang bukan hanya sebatas indah namun juga sarat makna. Seperti ungkapan Suster Maryam “Aku ingin melihat lautan tapi tidak mau terperangkap dalam ombak”, menunjukkan bahwa dalam kesetiaan dan ketaatan dalam kaul, namun hati kecilnya sesekali juga ingin lepas. Ave Maryam juga menyampaikan berbagai pesan yang sangat menyentil melalui dialog para pemain yang bak pantun berbalas melalui kalimat bijak. Salah satu kalimat yang terngiang-ngiang adalah saat Suster Monic mengatakan, “Jika surga belum pasti untuk saya, untuk apa aku mengurusi nerakamu?” juga kalimat “Rahasiakan ibadahmu sebagaimana kamu merahasiakan aib-aibmu”. Karena sesungguhnya pergumulan hidup, hanya diri kita dan Tuhan yang tahu.
***
Dan tiba-tiba saja nyanyian itu kembali terngiang “...aku masih disini untuk setia...”

0 comments