Light, Will Guide You Home
March 20, 2019
***
Mengenal Light dalam hidup adalah sebuah berkat, dan mungkin juga bagi sebagian orang yang mengenal baik dirinya. Pembawaannya sehari-hari tidak pernah menampakkan kalau dia memiliki apa yang tidak dimiliki oleh orang lain. Seperti misalnya sensitifitas dalam memandang sesuatu, kritis saat melihat hal-hal yang tidak adil, ketulusan tanpa batas bahkan hingga mencintai tanpa mengharap pamrih; seolah semua tertanam baik dalam dirinya. Saya termasuk beruntung dapat menyadari hal itu ada pada dia, karena tidak semua orang menyadari akan potensi yang tersembunyi. Hal-hal baik, yang tentu bersifat intangible. Pernah suatu kali saya menegurnya karena kadang-kadang dunia tidak ramah dengan kebaikannya, “Light, tidak apa-apa sesekali kamu bertindak tidak baik dengan orang yang tidak cukup baik untukmu. Ada beberapa orang mungkin hanya ingin dekat karena kebaikanmu, bukan karena kamu”, dan dengan santai dia menjawab “Ya, itu urusan mereka. Karena jika mereka baik, aku tentu baik. Jika mereka tak baik, aku akan tetap baik. Meskipun tidak ada yang mengajari”. Kalau Light sudah berkata begitu, saya bisa apa lagi; toh ini kan prinsip hidupnya. Sebagai kawan, tentunya saya hanya bisa memberi masukkan. Light dengan segala kecuekannya, tidak pernah ambil pusing perkara sedang dimanfaatkan atau tidak. Yang terpenting dalam hidupnya, adalah tentang menjadi perpanjangan tangan bagi siapapun yang membutuhkan. Dan rupanya ia melakukan itu bukan tanpa alasan.
Saya paham, Light terbiasa tinggal sendiri (kedua saudarinya sudah lebih dulu dipanggil Tuhan saat mereka masih sangat kecil, sementara orang-tuanya memiliki kesibukan masing-masing) sehingga mau tidak mau segala hal harus bisa dikerjakan dengan mandiri. Dalam hal ini saya akui, dia cukup tangguh untuk dapat mengatasi. Walaupun ada hal-hal yang tidak bisa dinilai semata dengan mata telanjang. Light dengan kesendiriannya, kadangkala agak sulit menerima kehadiran orang asing untuk masuk dalam kehidupan internal. Ia terlalu takut untuk merasa hilang saat sudah terpenuhi. Sekalipun dalam keseharian Light selalu terbuka pada setiap orang. Mengingat pekerjaannya memaksa dia untuk bersikap supel dan adaptatif. Saya melihat dia sebagai pribadi yang fleksibel, yang berada di tengah-tengah, atau populer dengan istilah Ambivert (walaupun dalam hal ini ia mengelak, dan lebih mengakui kalau dia sebenarnya Introvert). Light suka berteman, dan ia tidak suka kesepian. Namun ada kalanya ia juga butuh waktu untuk dirinya, dan ia menyukai ketenangan. Light pandai bergaul dan membawa diri, sekalipun kadang-kadang merasa diri asing.
Sampai suatu hari, Light mendapat tugas dari lembaga tempat ia bekerja untuk menjadi host-family bagi beberapa mahasiswa asing yang akan studi di Indonesia. Tentu saja Light dengan senang hati menerima tugas itu. Di hari kedatangan para tamu, hampir tengah malam Light mengendarai mobilnya ke airport. Dia tak ingin membuat orang menunggu, hingga akhirnya Light mendapati bahwa keluarga baru yang akan tinggal bersama-sama dengannya selama beberapa hari berjumlah tiga orang. Tentu bukan jumlah yang banyak jika dilihat dari kuantitasnya, namun bayangkan jika segala keperluan sebelum studi adalah Light yang harus membantu untuk mempersiapkan. Bayangkan mereka yang belum tahu kultur Indonesia dengan baik dan Light yang harus memberi pengertian sedikit-sedikit untuk adaptasi. Dan bayangkan segala keribetan yang akan dihadapinya ketika harus pandai membagi waktu antara bekerja sembari menjadi penjaga bagi ketiga stranger itu. Membayangkannya saja sudah membuat saya lelah, namun berbeda dengan Light.
Ketika tidak sengaja bertemu di toko buku pagi itu beberapa waktu lalu, sekalipun wajahnya terlihat lelah namun tidak dengan sorot matanya. Ia banyak bercerita tentang pengalaman seru selama ketiga orang asing itu tinggal bersamanya. Tentang bagaimana mereka makan di warung kaki lima yang terasa asing bagi ketiga stranger itu, tentang bagaimana Light mengajak untuk masak di dapur hanya untuk membuat Indomie dan sambal terasi, tentang bagaimana saat salah satu dari mereka sedang sakit karena homesick dan juga stress dengan susahnya komunikasi bahasa lokal ditambah lagi lalu-lintas di tanah air yang semrawut, tentang bagaimana ia seringkali tidur larut namun langsung terjaga di pagi hari tanpa rasa kantuk dan bersiap untuk memasak sarapan, dan juga tentang bagaimana mereka tertawa-tawa hingga membuat perut sakit. “Sampai berapa lama mereka akan tinggal bersamamu?” saya bertanya saat kami akan berpisah. “Entah, lah.” Katanya. “Tapi aku ingin selama-lamanya..” lanjutnya lagi sambil bergurau. Saya memperhatikan, hari itu sorot matanya berbeda. Cahaya yang dulu pernah redup kini kembali bersinar. Saya sudah lama tidak melihatnya sebahagia itu. Walaupun terlihat bergurau saya tau itu adalah ungkapan hatinya, Light bukanlah orang yang pandai berbohong. Saya cukup lama untuk mengenal Light dengan baik. Walaupun terlihat supel, namun dia bukanlah tipikal orang yang ‘mudah’ dengan orang baru, apalagi memperbolehkan mereka untuk ‘masuk’ dalam kehidupannya, yang kadangkala terasa rumit. Sebelum kami benar-benar berpisah karena pekerjaan, sempat saya menanyakan sesuatu dengannya, “Light, mungkin tidak, kalau mereka baik kepadamu karena merasa bergantung? Maksudku, selama ini kan kamu yang banyak membantu mereka. Jadi, mereka akan tetap baik sampai urusan mereka benar-benar tuntas. Bukan bermaksud negatif, hanya saja aku takut kau kehilangan cahaya lagi saat mereka nanti sudah tidak bersamamu…”, seperti biasa Light hanya tersenyum dan memberikan salam perpisahan dengan hangat. Hari itu adalah hari terakhir saya melihat binar bahagia dalam matanya.
Sampai suatu hari, Light mendapat tugas dari lembaga tempat ia bekerja untuk menjadi host-family bagi beberapa mahasiswa asing yang akan studi di Indonesia. Tentu saja Light dengan senang hati menerima tugas itu. Di hari kedatangan para tamu, hampir tengah malam Light mengendarai mobilnya ke airport. Dia tak ingin membuat orang menunggu, hingga akhirnya Light mendapati bahwa keluarga baru yang akan tinggal bersama-sama dengannya selama beberapa hari berjumlah tiga orang. Tentu bukan jumlah yang banyak jika dilihat dari kuantitasnya, namun bayangkan jika segala keperluan sebelum studi adalah Light yang harus membantu untuk mempersiapkan. Bayangkan mereka yang belum tahu kultur Indonesia dengan baik dan Light yang harus memberi pengertian sedikit-sedikit untuk adaptasi. Dan bayangkan segala keribetan yang akan dihadapinya ketika harus pandai membagi waktu antara bekerja sembari menjadi penjaga bagi ketiga stranger itu. Membayangkannya saja sudah membuat saya lelah, namun berbeda dengan Light.
Ketika tidak sengaja bertemu di toko buku pagi itu beberapa waktu lalu, sekalipun wajahnya terlihat lelah namun tidak dengan sorot matanya. Ia banyak bercerita tentang pengalaman seru selama ketiga orang asing itu tinggal bersamanya. Tentang bagaimana mereka makan di warung kaki lima yang terasa asing bagi ketiga stranger itu, tentang bagaimana Light mengajak untuk masak di dapur hanya untuk membuat Indomie dan sambal terasi, tentang bagaimana saat salah satu dari mereka sedang sakit karena homesick dan juga stress dengan susahnya komunikasi bahasa lokal ditambah lagi lalu-lintas di tanah air yang semrawut, tentang bagaimana ia seringkali tidur larut namun langsung terjaga di pagi hari tanpa rasa kantuk dan bersiap untuk memasak sarapan, dan juga tentang bagaimana mereka tertawa-tawa hingga membuat perut sakit. “Sampai berapa lama mereka akan tinggal bersamamu?” saya bertanya saat kami akan berpisah. “Entah, lah.” Katanya. “Tapi aku ingin selama-lamanya..” lanjutnya lagi sambil bergurau. Saya memperhatikan, hari itu sorot matanya berbeda. Cahaya yang dulu pernah redup kini kembali bersinar. Saya sudah lama tidak melihatnya sebahagia itu. Walaupun terlihat bergurau saya tau itu adalah ungkapan hatinya, Light bukanlah orang yang pandai berbohong. Saya cukup lama untuk mengenal Light dengan baik. Walaupun terlihat supel, namun dia bukanlah tipikal orang yang ‘mudah’ dengan orang baru, apalagi memperbolehkan mereka untuk ‘masuk’ dalam kehidupannya, yang kadangkala terasa rumit. Sebelum kami benar-benar berpisah karena pekerjaan, sempat saya menanyakan sesuatu dengannya, “Light, mungkin tidak, kalau mereka baik kepadamu karena merasa bergantung? Maksudku, selama ini kan kamu yang banyak membantu mereka. Jadi, mereka akan tetap baik sampai urusan mereka benar-benar tuntas. Bukan bermaksud negatif, hanya saja aku takut kau kehilangan cahaya lagi saat mereka nanti sudah tidak bersamamu…”, seperti biasa Light hanya tersenyum dan memberikan salam perpisahan dengan hangat. Hari itu adalah hari terakhir saya melihat binar bahagia dalam matanya.
***
Kurang lebih dua bulan mereka tinggal bersama-sama sampai akhirnya ketiga orang asing itu menemukan tempat tinggal permanen untuk masa studi mereka di Indonesia. Walaupun mungkin ingin, jelas tidak mungkin mereka tinggal bersama Light hingga waktu studi usai. Light telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, sesuai dengan pesan yang diamanatkan kepadanya. Dirinya bahkan tidak hanya memenuhi kewajibannya sebagai host-family saja, namun dengan percuma ia memberikan segenap hatinya untuk mengasihi mereka. Usai mereka tidak tinggal bersama lagi, Light kembali kepada kehidupan normal-nya. Sesekali saya dan Light bertukar kabar via WhatsApp jika tidak memungkinkan untuk bertemu. Namun satu yang saya ingat saat tadi malam kami berkomunikasi menggunakan videocall, tawanya tak lagi lepas, dan sorot matanya memancarkan kehilangan. Mungkin Light tahu, walaupun mereka masih bisa bertemu sesekali dan menghabiskan waktu bersama-sama, saat tugasnya sudah usai tentu tidak lagi ada yang sama seperti sebelumnya. Perlahan-lahan, saya memahami apa yang dirasakan Light. Walaupun tanggung jawab itu memiliki konsekuensi sendiri, dan beberapa tugas yang diamanatkan kepadanya tidaklah mudah. Sebagai manusia normal, pastilah merasa senang dan lega ketika beban itu sudah terlepas. Namun Light berbeda, karena baginya tidak selamanya saat tugas telah selesai membawa kelegaan, atau mungkin justru sebaliknya; ada yang hilang.
![]() |
| (Picture by : Pinterest) |
***
Kisah dari Light sendiri membuktikan tentang bagaimana semesta dapat merubah air muka seseorang dalam waktu sekejap. Berkat Light juga, sedikit-sedikit saya mulai paham, tentang bagaimana dia terkoneksi dengan sangat baik. Tentang bagaimana dia mencoba untuk mengasihi tanpa pamrih. Tentang bagaimana ia mencoba melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak ia sukai, demi menaklukan luka-luka yang telah lama bersarang dalam hati dan pikirannya. Walaupun memang, saya paham betul apa yang Light lakukan semata untuk menutupi kerapuhan hatinya sendiri. Oleh karena itu; "Light, teruslah menjadi cahaya yang menuntun setiap orang menemukan rumahnya. Walaupun mungkin sesekali kau juga butuh ‘lentera’ untuk menerangi jalanmu sendiri."
![]() |
| (Picture by : Pinterest) |
Light will guide you home,
And Ignite your bone
And I’ll try to fix you
(Fix You – Coldplay)



0 comments