Membaca Ritme Ular Tangga – Pahami Permainannya

February 16, 2019

Ilustrasi Ular Tangga
(Picture by : Flickr)
Semoga dapat angka 2 supaya langsung masuk finish…” ujarnya seraya mengocok dadu. Terlihat dari raut wajahnya yang usil sedikit cemas karena sepanjang permainan ular tangga, ia selalu saja terpeleset di angka yang sama, 98 – bukannya dapat 2 angka supaya sampai finish, tapi malah kembali turun lagi karena justru dapat angka yang berlebihan. Apes. Dan kali ini, ia belum beruntung. Padahal permainan sudah berjalan hampir satu jam lebih.

***

Siapa yang tak kenal dengan permainan ular tangga? Adalah permainan yang berasal dari India, dikenal dengan Vaikuntapaali. Mulanya, Vainkuntapaali hadir di India pada abad ke-13 untuk mengajarkan moralitas dan spiritualitas. Hal ini jelas tergambar pada papan permainan ular tangga yang menampilkan tangga dan ular. Saint Gyandev adalah orang dibalik munculnya Vainkuntapaali. Sebagai permainan ular tangga versi India, pada zaman dahulu juga memiliki makna yang erat dengan ajaran Hindu. Vainkuntapaali berkaitan dengan filosofi Jain, dalam keyakinan Hindu melingkupi karma dan kama atau takdir dan keinginan. Oleh karena itu permainan ini dulunya dimainkan anak-anak untuk mengajarkan beragam nilai kebajikan dalam kehidupan. Permainan yang tampaknya sederhana ini, nyatanya mampu menanamkan nilai-nilai kebersyukuran, empati, sikap optimis dan kesabaran. 



Di Benua Biru, permainan ini pertama kali resmi diperkenalkan di Inggris pada 1892 dengan nama Snake and Ladders. Makna-makna dalam setiap kotaknya pun berangsur juga digubah menurut nilai-nilai Victorian (Ratu Victoria 1837-1901). Berbeda lagi dengan di Amerika, di Negeri Paman Sam, permainan Ular Tangga tidak lagi identik dengan penggambaran ajaran Hindu, namun The American merubah permainan Ular Tangga dengan menggantinya menjadi perosotan dan tangga – yang dikenal dengan nama Chutes and Ladders. Meski simbolnya berubah, namun nilai-nilai filosofis tetap ada. Masih juga berkaitan dengan moralitas, dan dilambangkan dengan papan permainan yang terdapat 100 kotak dan masing-masing kotaknya punya makna tersendiri. Namun, bagaimanakah caranya?


***
The Ladders of Salvation, melambangkan tangga yang membawa pemain melejit ke atas. Sebuah simbol atas pencapaian yang baik, rejeki, kesenangan, hingga apapun yang di persepsikan secara umum sebagai perolehan baik. Pada kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk memahami makna bersyukur. Juga turut berbahagia ketika lawan bermain mendapatkan kebahagiaan, apresiasi, kerendahan hati namun juga tetap dengan sikap waspada. 

The Snakes of Destiny, merupakan saat dimana salah satu pemain merosot karena bertemu dengan sang ular. Cobalah sesekali perhatikan dinamika yang terjadi, apakah pemain yang lain menghibur, memberikan semangat atau justru sebaliknya? Berbahagia di atas penderitaan yang lain? Well, It just a game. Jadi, tidak ada salahnya memberi penhiburan sembari menyemangati lawan bermain juga sedang terkena jebakan ular ini. kesempatan ini juga dapat memberi penerapan nilai, bagaimana bersikap sabar namun tetap optimis saat menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan. Karena harapan selalu ada, dan masih ada banyak tangga lain yang menunggu setelahnya.

The Bacoker, seperti yang telah diketahui tentang peraturan bermain Ular Tangga secara umum, membacok berarti membuat salah satu pemain kembali ke titik awal (start). Ketika yang sudah ada yang menempati di satu posisi, dan lalu secara kebetulan ada yang menempati di posisi yang sama – maka yang pertama harus mengalah, mengulang kembali dari start. Menyakitkan, sih. Namun hal ini bukan bersifat sengaja karena jumlah langkah yang ada di dadu mengharuskan salah satu didepak ke titik awal. Fenomena ini paling menarik, karena adanya interaksi saling tikung dan terluka. Seni berdialektika-lah yang akhirnya dibutuhkan disini. Bagaimana tata krama si-pengambil-posisi dari tindakan dan ucapannya ke si-diambil-posisi. Dan bagaimana juga si-diambil-posisi merelakan posisinya dan berjuang lagi dari awal. Situasi seperti ini terasa mengharukan, manakala si-pengambil-posisi mengatakan “Aduh.. Kayaknya kamu mesti back to start, deh....” dan kemudian dibalas pasrah dengan si diambil posisi “Iyaa, aku ikhlas kok”. 

***
Dalam permainan Ular Tangga, konon ular lebih banyak dibanding tangga. Lalu apa artinya? Bahwa manusia lebih mudah ketika melakukan kejahatan atau keburukan ketimbang melakukan hal-hal yang baik. Maka dari itu dalam hidup selalu ada hal-hal negatif yang terkutuk. Selalu ada hasutan bagi manusia untuk melakukan keburukan, dan tergantung bagaimana kuatnya uman manusia agar tidak tergoda dan tetap berbuat kebaikan. 

Menurut Johan Huizinga - seorang sejarawan Belanda yang mendalami kajian khusus mengenai hakikat manusia dalam kehidupan. Pada dasarnya manusia adalah Homo Ludens (makhluk yang bermain) disamping Homo Faber (makhluk yang bekerja), Homo Sapiens (makhluk yang berpikir), dan Homo Economicus (makhluk mencari nafkah). Karena manusia juga membutuhkan permainan sebagai hal yang dapat menyalurkan hasrat mereka, hasrat untuk berekspresi, berinteraksi dan beraksi hingga menjadi pemenang.

Dengan bermain ular tangga, juga memberikan manfaat antaralain kemampuan dalam mengendalikan serta mengelola emosi. Tentu hal ini sangat baik bagi perkembangan Emotional Quantitation, khususnya bagi anak-anak dan remaja. Kecerdasan emosional dapat memampukan mereka sebagai manusia untuk dapat menerima, mengelola, menilai hingga mengontrol emosi diri sendiri saat berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Saat pemain mendapatkan cobaan berupa The Snake of Destiny, maka akan terlihat apakah dari segi emosi ia mampu untuk mengelola emosinya dengan baik, mampu tenang dan optimis, atau justru kesal, emosi, mengeluh hingga pesimis. Sebaliknya, saat pemain mendapatkan angina segar berupa The Ladders of Salvation dapat dilihat dari kerendahan hati si pemain, dengan tidak menunjukkan kebesarannya.

Karena seringkali ketika seseorang sedang berada di posisi puncak, maka sifat sombong akan cenderung muncul. Jangan salah, ular tangga juga dapat menumbuhkan watak pantang menyerah pada para pemain, untuk tetap optimis, selalu berusaha dalam mencapai impian.

Unpredictable, begitulah kekurangan dalam permainan ini. Karena langkah semata-mata hanyalah tergantung dari seberapa banyak angka di dadu. Dan juga hanya sedikit orang yang mampu berstrategi dalam melempar dadu untuk mendapatkan angka yang diinginkannya. Permainan ini seperti hidup yang begitu lucu, saat kau berharap banyak maka kau tak akan mendapatkan apapun. Sebaliknya, saat harapan itu telah kau pendam dalam-dalam, justru hidup memberikan kejutan yang menyenangkan.

***
Satu jam lebih sepuluh menit, waktu menunjukkan pukul 23.50. Dan lalu ia bersorak kegirangan, tanda menang. Setelah satu jam lebih, akhirnya muncul juga satu pemenang. Permainan masih belum berakhir, ia meminta lagi. Bukan untuk kembali menang, tapi ia ingin melihat saya juga melakukan selebrasi yang sama. “Mau request lagu apa nih?” tanyanya sembari menunggu saya mengocok dadu.

Sejam kemudian, saya berada di posisi 99 – sambil mengocok dadu kami saling menebak, “Dapat berapa kira-kira?”. “Satu, dong. Jangan dua” jawab saya. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan - saya teringat kata-kata Dewi Lestari dalam cerpen berjudul Mencari Herman. Lagi-lagi, dia hanya tesenyum simpul. Siapa yang menyangka, usai dikocok angka dadu yang keluar adalah satu. Dan kali ini keberuntungan berpihak. Kembali saya yang bersorak kegirangan. Dia bahagia, meskipun kantuk menyergap. Seperti itulah ritme Ular Tangga seharunya, saling memberi semangat – memberi kesempatan. Bukan malah menutup peluang, karena kebaikan selalu menemukan jalan.

***

We spent the late nights
Making things right, between us
But now It's all good baby
Roll that backwood baby
And play me close



(Maroon 5 - Girls Like You)

You Might Also Like

0 comments