Cara Mencintai dari yang Maya

April 21, 2016

Saat tahun-tahun awal kuliah, saya menghindari membaca hal-hal yang berat diluar kebutuhan akademis di kampus, karena bacaan untuk sehari-hari demi memenuhi tugas-tugas kuliah saja sudah amat berat. Karya-karya dari Ayu Utami, adalah termasuk list bacaan berat versi saya kala itu. Bahkan, yang pernah saya baca sebatas tulisan lepas yang banyak menyangkut soal spiritualitas dan juga beberapa buku yang tidak berseri seperti Simple Miracle. Pernah saat sebelum kuliah saya diberi hadiah buku oleh Kakung Yu (adiknya Alm. Eyang Kakung) yang memiliki hobi membaca. Waktu itu yang diberi adalah buku Ayu Utami dengan judul Lalita. Saya hanya membaca sekilas dan tidak lagi tertarik. Hanya itu, dan tidak lebih. Tetap saya membaca buku dengan genre sastra, tap dari penulis lain yang tidak terlalu berat. 

Waktu berjalan pada akhirnya, di tahun 2016 saya mendapatkan masalah yang cukup berat, hingga membuat nurani saya menggunggat tentang definisi keadilan. Pembicaraan yang mendalam dengan seorang kawan karib yang telah seperti saudara sendiri, Meike – yang pada akhirnya mengenalkan saya untuk perlahan-lahan memahami gaya penulisan Ayu Utami. Petualangan perdana dimulai dari buku Eks Parasit Lajang dan Maya (yang ternyata menjadi bagian dari Seri Bilangan Fu). Tidak seberat yang saya kira dan orang-orang pikir tentang buku-buku Ayu Utami, terutama yang termasuk Seri Bilangan Fu, yang ternyata setelah membaca Maya, saya tidak sabar untuk melahap habis membaca seri-seri yang lain juga. Namun diantara keseluruham karya Ayu Utami, hingga beberapa waktu kemudian, saya masih terlalu jatuh hati dengan kisah dalam novel Maya. 
***

Saat membaca Maya untuk kali pertama, saya menggambarkannya sebagai kisah tentang kesedihan. Kesedihan Yasmin yang kehilangan kekasih. Kesedihan Saman yang telah memilih salib yang salah bagi Upi yang dikasihinya. Kesedihan Maya, wanita mulia yang terjebak dalam raga buruk rupa. Hingga kesedihan negeri yang berlarut-larut dicengkeram oleh tirani. 
Dibandingkan karya-karya Ayu Utami yang lain, Maya menyeret lebih jauh pada rasa melankoli hingga halaman-halaman selanjutnya. Rasa penasaran saya terhadap Novel Maya ini juga terjawab setelah ia menjadi jembatan kisah yang menghubungkan antara Seri Bilangan Fu dengan Dwlogi Saman-Larung. 

Novel Maya, mencoba menyembuhkan luka atas rindu Yasmin pada Saman. Didorong oleh rasa cinta pada kekasihnya – yang ia sebut sebagai cinta seorang wanita pada lelaki yang terluka, Yasmin yang tidak dapat mengurai teka-teki surat tersebut memutuskan untuk berkonsultasi pada seorang guru kebatinan, yakni Suhubudi. Ia lakukan dengan agak terpaksa sebab sesungguhnya ia seorang yang sangat rasional. 

Barangkali semakin ia meragu ketika tiba di padepokan Suhubudi, sebuah komplek pemukiman, yang baginya terasa aneh. Pada bagian terdalamnya, orang tidak boleh bercakap-cakap dengan suara, ia hanya bisa berkata-kata dengan tulisan pada secarik kertas yang dibakar setelah usai perbincangan. Di bagian lain kompleks tersebut, Yasmin merasa berada pada suatu ruang dengan dimensi waktu yang beririsan dan berkelindan; kini dan lampau. Semakin janggal lagi saat ia disuguhi sebuah pertunjukan tari bayang-bayang yang sesungguhnya indah dan mengharukan, tapi membuat ketegangan dan rasa mual akibat jeri tertahan di balik pusar setelah ia tahu para penari yang mementaskannya: segerombol makhluk cebol menjijikkan, manusia berkulit sisik, raksasa-raksasi poleng, serta sosok-sosok dengan rupa mengerikan lainnya. Tidakkah ia telah masuk ke sebuah kerajaan siluman? 

Namun, kesedihan dan keputusasaan akan nasib sang kekasih telah meneguhkan hatinya. Bukankah dulu Saman pun pernah bertandang ke situ untuk belajar spiritualitas pertanian -kelak ia menjalani hidup bersama kaum petani karet, sebuah momen yang mengubah hidupnya. 

Yasmin dalam perjalanannya samar-samar ia terbukakan kepada sesuatu yang lain, yaitu cinta. Ia mulai merasakan cinta dalam bentuk yang lain terhadap Saman yang mengejawentah secara indah melalui rasa yang manunggal; ia dan Saman. Rasa tersebut menumbuhkan pula cintanya pada Maya, makhluk cebol albino yang menarikan Sita dalam sendratari Ramayan prakarsa Suhubudi. Sita dalam ideal keindahan yang sama sekali berbeda, namun berhasil dibawakan begitu indah sebab Maya menarikannya sebagai jiwa yang mengatasi raga. 

Setelah lewat masa ngerinya, Yasmin mulai dapat merasakan kasih yang mengharukan bagi Maya, yaitu kaum yang tersisih oleh ketidakadilan. Ia mencintai Maya seperti Saman mencintai Upi, gadis gila berwajah ikan yang Saman coba ringankan penderitaannya. Gadis yang membuatnya gigih memberdayakan petani karet di sebuah kota kecil di pedalaman Sumatera. Gadis yang baginya ia ingin berbuat baik tapi itu pun masih salah. 

Memang bahwa Yasmin dan Saman bisa digantikan oleh tokoh yang sama sekali baru. Tapi pada akhir cerita ketika sang maya mengungkapkan wujudnya, takdir Yasmin yang pada dasarnya juga tak lebih dan tak kurang dari maya itu tidak bisa dianggap pilihan sepele. Kita tak bisa membungkam, bahwa pahit dan manis itu dalam bayang-bayang semu itu diam-diam melahirkan seorang Samantha. 

Keterkaitan antara semua teka-teki itu, berangkat dari surat yang juga berisikan sebuah batu – verbal yang kemudian menjelma concise, namun pada saat yang sama, verbal itu juga digantungi tanda tanya, sementara yang concise justru menjadi retoris, dan lagi-lagi, Maya. Tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa yang dimunculkan dalam novel ini pun mengandung mayanya sendiri: tokoh-tokoh dengan tinggi badan tidak genap, ibu yang putih tanpa suara, wayang manusia, Lara Jonggrang, termasuk batu supersemar yang bergerak di pasaran diam-diam. Akhirnya maya harus bertemu nyata untuk menjadi lengkap, namun bukan seperti ketidaktahuan yang akhirnya harus menuju pada ke-mengetahui-an, Maya tak harus menjelnya Nyata. Maya adalah dalam dirinya sendiri sempurna berdampingan dengan nyata. 
*** 

Ayu Utami memang membangun melankoli melalui kisah-kisah yang ditautkan dengan kondisi bangsa pada masa itu : Yasmin berpisah dengan Saman karena kekasihnya tertangkap aparat hendak membantu pelarian tiga aktivis mahasiswa yang dianggap kiri karena menyuarakan keadilan bagi rakyat kecil; tuduhan komunis selalu jadi andalan rezim untuk membungkam sesiapa yang dianggap melawannya. Saman harus berpisah dengan Upi sebab gadis itu terkurung dalam “sangkar emas”-nya saat perkampungan petani karet tempatnya tinggal dibakar oleh oknum yang ingin memapras perkebunan karet dan menggantinya dengan kelapa sawit yang lebih laku di pasaran; demi kemajuan ekonomi dan pembangunan. Parang Jati harus merasakan pedih manakala menyaksikan Paklik Bandowo, pesuruh ayahnya yang setia, dipenggal tangan kanannya atas tuduhan membangkang terhadap program swasembada pangan yang digagas pemerintah. Padahal ia hanya seorang abdi yang ingin menunjukkan bakti terhadap ndoro-nya dengan turut menanam padi purba dari jaman Majapahit, bukannya padi hibrida lekas panen seperti yang diinstruksikan pemerintah. Tuyul dan gerombolan manusia aneh lain yang dipelihara Suhubudi di padepokannya merasa sedih sebab mereka telah dikalahkan. Saluran benih mereka telah dimatikan melalui vasektomi agar tidak berbuah. Waktu itu, pemerintah gencar mempromosikan program Keluarga Berencana (KB). Segerombolan manusia siluman tentu tidak masuk dalam apa yang direncanakan tersebut, maka harus disingkirkan, atau paling tidak dicegah supaya tidak beranak-pinak lebih banyak lagi. Biar populasi mereka hilang dengan sendirinya. 

Sejarah dan spiritualitas kritis telah menjadi pilihan Ayu Utami dalam menggarap seri Bilangan Fu. Orde Baru masih menjadi garapan Ayu yang mengajak pembaca lagi-lagi untuk tidak gampang terpesona oleh lupa. Bersama dengan itu, kelupaan dijajarkan dengan ketidaktahuan, dan keduanya tak sama, tidak pernah sama. Maya adalah sebuah novel yang menyorot satu sisi penting, jangan lupa dan bernostalgia dengan romansa dan hadapilah. 

Perhatikan cara Ayu Utami berkisah sekaligus mengkritisi. Menghibur sekaligus memperkaya. Lebih penting lagi, ia tahu betul bagaimana menggulirkan cerita dengan baik sehingga pembaca tinggal hanyut saja bersama jalinan kisah yang ia rangkai. Tuturan yang apik menurut ukuran saya memang adalah kekuatan utama Ayu Utami. Dalam setiap bukunya, Ayu Utami selalu memadukan ramuan cerita yang berbobot dan tema beragam dengan diksi yang menarik serta penuturan yang runtut dan jernih. Tema-tema yang berat seperti politik, sejarah, spiritualitas, seksualitas, dan lain sebagainya – ia kemas dengan manis dalam cerita fiksi romantis. Itulah yang membuat saya jatuh cinta dengan penulis satu ini. Saya memang tak pernah suka bacaan yang terlalu kaku dan ruwet, tapi kali ini adalah pengecualian. 

Cara Ayu Utami yang memilih ending yang legawa, menentramkan terasa sangat berbeda dengan Bilangan Fu yang muncul di tengah kelompok radikal atas nama agama yang membuatnya tetap relevan. Tapi lagi-lagi buku Ayu Utami memang bukan untuk dibaca sebagai kesimpulan. Novel-novel Ayu Utami selalu tentang proses dan menghidupinya agar tak jatuh di jurang yang sama, untuk itu Maya berhasil meringkus dengan cermat. 

Sekalipun, bagi saya pribadi Maya tetap menyisakan ketidakpuasan. Lebih tepatnya rasa penasaran pada sejumput teka-teki yang masih belum terang pada akhir cerita. Biar bagaimanapun, toh semua karya Ayu Utami selalu terikat dengan benang merah tema yang sama: kemanusiaan dan keluasan pikiran.

You Might Also Like

0 comments