Merajut Mimpi
February 24, 2017
Adakah kesadaran kalau setiap kita sebenarnya dimampukan untuk dapat belajar dari hal-hal kecil, bahkan dari sesuatu yang terkadang kita anggap remeh. Percaya? Di jaman serba canggih, serba cepat dan serba modern ini; omong kosong sekali kalau kebanyakan orang lebih mementingkan Emotional Quotient (kecerdasan secara emosi yang lebih sering disingkat EQ) dibandingkan Intelligence Quotient (kecerdasan secara intelektual yang lebih sering disingkat IQ). Mereka yang memiliki IQ dibawah standar bakalan jauh tertinggal, atau bahkan ditinggal. Padahal banyak dari mereka yang memiliki EQ tinggi, adalah yang dapat merubah dunia menjadi lebih ramah.
***
Cerita ini berawal dari percakapan suatu pagi antara saya dan ibu. Ketika itu kami sedang menonton acara berita di salah satu stasiun swasta yang sedang melaporkan berita mudik. Kemudian, saya berceletuk, "Asik kali ya jadi reporter... Atau wartawan? Ngomong-ngomong lebih cocok mana, reporter atau wartawan?". Pertanyaan saya sebenarnya hanya untuk main-main, tidak untuk serius. Tapi ternyata saya mendapat jawaban yang cukup menohok di siang harinya. Waktu itu saya sedang membaca buku di ruang tamu, lalu ibu mendekati saya yang sedang larut dalam membaca. Tanpa basa-basi, dia langsung bertanya, "Sebenarnya cita-cita kamu itu jadi apa sih?"
Pertanyaan simpel namun tak sesimpel jawabannya. Ibu saya bukan tipikal orang yang bisa diberikan jawaban main-main. Waktu itu saya hanya diam. Kalau dibilang tidak punya cita-cita, ya memang saat itu masih meraba-raba. Bukan juga artinya tidak memiliki, lebih tepatnya belum memiliki. Saya sekarang tidak se-optimis waktu kecil dulu, yang memandang dunia tidak dengan kerumitan di belakangnya. Dulu sekali sewaktu kecil, setiap ditanya apa cita-cita saya dengan ringan saya menjawab "Ingin jadi Bos!". Naif memang, anak umur 3 tahun tahu apa soal Bos. Lucu juga sih. Mulai beranjak masuk sekolah, cita-cita saya berubah menjadi Diplomat. Dan terus bertahan hingga masa SMA. Saya yang dulu masih dibalut dengan konsep idealis, yang perlahan bergeser dengan dinamika kehidupan yang membuat saya menjadi manusia lebih menerima, dan menjalani konsep Let It flow.
Kembali ke pertanyaan Ibu, bisa saja saya hanya bilang, ingin kerja di organisasi dunia tapi sebagai volunteer, atau bekerja di suatu Non-Government Organization milik asing. Lemme explain little bit, seiring bertambahnya usia tentu ada banyak perubahan yang terjadi dalam hidup seseorang. Kebetulan saya tumbuh di lingkungan pekerja tetap, dengan jenis pekerjaan pasti. Dalam keluarga besar saya, semisal ada yang sudah bekerja di sebuah NGO dan sekalipun orang tersebut sudah memiliki tabungan yang mencukupi, pekerjaan tersebut masih dianggap belum mapan bagi sebagian orangnya. Dan sekalipun pekerjaan-pekerjaan tersebut justru banyak menyentuh hal-hal yang krusial dalam hidup dan juga membawa perubahan bagi kaum minoritas, namun tetap saja kesannya tidak banyak menghasilkan. Sebaliknya, banyak yang meremehkan, bahkan menentang.
Padahal, apa ada yang salah? Bekerja tidak hanya sekedar memasukkan lamaran, interview, diterima dan mendapat gaji untuk melanjutkan kewajiban dalam hidup. Lebih dari itu, bekerja adalah panggilan hidup kita untuk ingin seperti apa. Bagus kalau masih bisa bekerja sesuai dengan hobi dan passion, tapi hanya sedikit orang yang beruntung seperti itu. Bekerja dalam kultur masyarakat di Indonesia juga menentukan status sosial seseorang. Mereka menjadi terseok saat dunia menganggap pekerjaannya dalam kasta rendah. Padahal bagi saya selama itu baik dan tidak membebani orang lain, apa salahnya?
Sejak kaum materialis berkuasa; pekerjaan, gaya hidup, prestise, dan nilai, kini menjadi nomor satu bagi setiap orang. Bahkan karena terlena dengan gaya hidup, mereka akan berusaha mengambil hak yang bukan seharusnya. Bisa dikatakan sedikit angkuh, memang benar. Setiap orang pasti memiliki cita-cita yang baik, dan saya termasuk di salah satunya. Sebagai anak satu-satunya dan menjadi tumpuan hidup keluarga kedepannya, tentu angan itu selalu saya ukir dalam-dalam di setiap doa dan tekad. Namun disisi lain saya juga tidak mau gegabah untuk menjadi ini, atau harus menjadi itu. Saya hanya tidak mau berharap lebih, tidak mau bermimpi terlalu tinggi yang saat sudah terlalu optimis kemudian gagal karena terbuai dengan mimpi. Dan saya tidak mau itu terjadi (lagi).
***
Bagi saya, cukup bersyukur untuk dapat mengenyam pendidikan secara layak di salah satu universitas favorit, sekalipun banyak rintangan dan hambatan untuk mencapai satu tujuan. Saya masih punya keinginan, masih ingin lulus dengan hasil yang maksimal. Setelah itu? Banyak konsep-konsep masa depan yang mengantri, mulai dari melanjutkan pendidikan master (yang entah dimana), menjadi bagian sebuah Non-Government Organization di Ubud yang bergerak dalam bidang teknologi, menjadi pengajar muda (yang bukan Indonesia Mengajar 😜), memiliki sebuah kedai kopi yang menjadi wadah diskusi- pertunjukan seni- atau co-working space, atau harus hidup monoton bekerja di kantor yang jarang diberi kebebasan mengekslorasi? Entahlah. Saya cuma tidak ingin di monopoli dengan waktu lagi, apalagi terbuai dengan tawaran-tawaran duniawi, seperti konsep Hidup untuk bekerja, bukan bekerja untuk hidup. Tidak perlu melimpah, yang penting cukup. Be a good woman, for the others. Dream, try, pray, believe, and make It happen.
Ps. Tulisan tahun 2013, kemudian dilengkapi sebagian diakhir.


0 comments