Batas Tipis
February 14, 2020Love-hate-love relationship, begitulah kebanyakan orang-orang menyebutkannya. Benci tapi cinta, atau sebaliknya; adalah dua kutub saling berlawanan, sebuah perasaan yang membingungkan. Hingga terkadang kita tidak dapat membedakan, dimana batas yang membuat keduanya kian terlihat bias.
Neurosains memberi pencerahan akan perasaan tersebut. Dua rasa itu memang berbeda, namun perbedaannya ternyata tipis. Adalah Semir Zaki, seorang Neurobiologist dari Universitas College London, yang telah menghabiskan waktu kurang lebih satu dekade untuk meneliti tentang asal-usul rasa cinta dan benci. Pada percobaannya, sang peneliti mencoba mencari bagian otak (dengan metode MRI) yang mana menjadi aktif saat subjek diberikan foto orang yang ia benci, bersamaan dengan itu pula; beberapa bagian otak juga menjadi aktif saat perasaan cinta muncul. Sehingga tidak heran, saat cinta dan benci diujicobakan, dan melihat reaksi yang muncul - bedanya tipis sekali.
Kendati perbedaannya tipis, namun keduanya memiliki pembeda yang cukup mencolok. Pada saat perasaan cinta muncul, bagian otak yang bekerja saat menghakimi seseorang tampak tidak aktif, sementara saat perasaan benci muncul, maka bagian otak tersebut akan aktif untuk mengevaluasi dan memprediksi tingkah lakunya.
***
Terlepas dari faktor-faktor yang terjadi diluar kendali kita, di dalam kehidupan nyata; ada berbagai hal yang perlu kita pelajari. Pelajaran tersebut biasanya kita dapatkan dari hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita. Sedangkan, setiap hubungan yang terjalin, bukanlah suatu hal yang terjadi secara tiba-tiba, adanya sebab-akibat, tabur-tuai, atau biasa kita dengar dengan istilah karma.
Setiap orang yang ada dalam perjalanan hidup, baik yang kita cintai atau kita benci; pasti secara tidak langsung ingin mengajarkan sesuatu kepada kita. Bayangkan jika kita justru menjadi terjerumus untuk terus menghakimi hingga membenci orang tersebut sekalipun sebelumnya justru rasa cinta yang banyak melingkupi karena banyak hal-hal menyenangkan terjadi.
Perasaan cinta yang berlebihan seringkali membuat manusia menjadi irasional, kurang adanya perhitungan; bukannya memberdayakan tetapi malah merugikan. Begitu pula dengan perasaan benci. Kebencian menjadi sangat fatal apabila berhubungan dengan yang terkait penurunan Serotonin dan peningkatan Kyuronic; kebencian berlebihan bisa bersifat Patologis. Karena, dampak peningkatan Serotonin dan Kyuronic dalam jumlah besar adalah depresi dan kecemasan, hingga muncul pembelaan ego yang menyebabkan rasa kebencian semakin meningkat. Kebencian juga dapat memicu stress dan depresi sebab menurunkan level Dopamine dan Endorfin yang berefek melegakan dan membahagiakan. Fatalnya, kebencian ekstrem bahkan bisa menimbulkan penyakit, mulai dari diare, ginjal, hingga penyakit degeneratif seperti Parkinson.
![]() |
| Ilustrasi Yin dan Yang versi Wild Bear Picture by : reddit.com |
Nyatanya, seberapapun mengesalkan dunia dan membuatmu marah, tidak ada cara lain untuk membuatmu tetap waras selain, maafkanlah. Tidak perlu hanya saat berlebaran 'kan, kita saling mengampuni? Karena itu adalah tugas berat yang harus dilakukan seumur hidup. Sebagaimana yang telah diajarkan, "Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih dan saling mengampuni - sebagaimana Allah didalam Kristus telah mengampuni kamu". Selamat hari kasih sayang.


0 comments